Senin, 22 Maret 2010

Berita Terorisme di Aceh dan OPINI yang Dibentuk Media

Setelah sebelumnya kita dicekoki dengan sajian drama Bank century dengan berbagai macam efek dramatisnya yang memenuhi hampir semua ruang berita di media massa indonesia. Hari-hari belakangan ini kita dibuat akrab dengan berita tentang keberadaan kelompok teroris di Aceh.

Menariknya berita teroris di Aceh itu ternyata bisa mengalihkan pandangan masyarakat dari kisah bail out Bank Century yang seolah tanpa tanding dalam menyedot animo masyarakat pada hari-hari sebelumnya.

Berkaitan dengan terungkapnya aktivitas pelatihan teroris di Aceh ini, banyak kalangan yang memuji kinerja polisi dengan keberhasilan pengungkapan yangb disusul dengan penangkapan anggota kelompok itu baik yang berada di Aceh ataupun di Pamulang. Tapi tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran kisah teroris di Aceh ini.

Mereka yang meragukan kisah teroris di Aceh ini menduga kalau kisah pelatihan teroris di Aceh ini sengaja diciptakan untuk mengalihkan berbagai isu besar sekaligus untuk memulihkan citra polisi yang babak belur.

Keraguan ini cukup beralasan, karena setelah citra Polri melambung tinggi seusai keberhasilan pengungkapan pelaku peledakan bom Mariott yang berpuncak pada kematian Noordin M. Top, buronan teroris no. 1 yang selama ini dicari-cari yang kemudian diikuti dengan penangkapan dan disusul dengan penembakan tokoh penting yang terkait dengan peledakan Bom Mariott. Tidak lama kemudian citra Polri terjun bebas ke titik terendah karena kasus perseteruan Cicak-Buaya yang membuat sebagian besar masyarakat menilai kalau kasus ini hanyalah rekayasa dari Polri.

Apalagi berita penyerbuan yang dilakukan Polri ke lokasi pelatihan teroris di Jantho itu waktunya hampir bersamaan dengan kasus penyerangan markas HMI oleh Polisi di Makassar serta terungkapnya rekayasa kasus kriminal yang melibatkan institusi Polri. Pada tanggal 8 maret 2009, Kompas, salah satu koran nasional yang paling berpengaruh di negeri ini bahkan pada hari yang sama menuliskan berita tentang keberhasilan Polri mengungkap jaringan teroris yang sedang membangun kekuatan di Aceh http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/08/03052428/ditemukan.senapan.di.pidie dan berita tentang rekayasa yang dilakukan Polri terhadap sebuah kasus http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/08/03205214/rekayasa.pidana.harus.distop.

Dari dulu saya suka membaca Kompas, karena selama ini saya melihat dalam memberitakan sesuatu, Kompas selalu tenang dan tidak meledak-ledak. Mereka juga biasanya mencoba mengulas setiap berita dari sebanyak mungkin celah informasi yang bisa digali dan selalu mencoba melihat dari berbagai sisi sebelum sebuah peristiwa mereka beritakan.

Karena karakternya yang seperti ini Kompas tidak jarang dianggap sebagai sebuah media yang tidak bisa menetukan sikap dan tidak punya pendirian.

Tapi karena selama kejadian di Aceh ini saya banyak berada di daerah Jawa Timur dan Bali, dimana tiras media cetak sangat dikuasai oleh Jawa Pos yang terbit di Surabaya. Sehingga hampir setiap hari, entah itu waktu makan siang atau berhenti di kios kecil saya selalu mendapati koran Jawa Pos yang tergeletak untuk dibaca. Sehingga saya pun tidak bisa mengelak dari memperbandingkan cara kedua koran ini dalam memberitakan peristiwa di Aceh, negeri kelahiran saya tersebut.

Dan dari apa yang saya baca, saya pun langsung bisa menilai kalau cara kedua media bertiras besar di Indonesia ini dalam memandang dan memberitakan keberadaan teroris di Aceh sangat berbeda.

Kompas (dengan karakter khasnya yang kalem dan tidak meledak-ledak dan senantiasa berada di tengah) sebagaimana pada zaman Konflik dulu, sekarang pun menuliskan beritanya dengan cara pandang berimbang dan sangat menghindari label TERORIS ACEH dalam setiap berita yang mereka turunkan. Membaca berita tentang pelatihan teroris di Aceh melalui Kompas memberikan kesan bahwa media ini cukup memahami situasi perpolitikan dan dinamika sosial di Aceh dengan lebih baik.

Dalam memberitakan aktivitas terorisme di Aceh, Kompas terlihat sekali mencoba memahami masalah ini dari berbagai sisi dan mencoba menggali masalah dari nara sumber yang beragam. Dengan cara penggalian berita seperti ini Kompas bisa dengan gamblang memaparkan fakta bahwa kelompok teroris yang ada di Aceh bukanlah berakar di Aceh, melainkan 'barang impor dari Jawa'.

Untuk menegaskan cara pandang seperti ini, Kompas misalnya sejak Kamis, 18 Maret 2010 menurunkan artikel berseri tentang terorisme di Aceh yang berjumlah 4 seri. Oleh Kompas artikel pertama ini http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/18/02584924/menyiapkan.jihad.di.aceh diberi judul, 'Menyiapkan "Jihad" di Aceh'. Dalam artikel ini Kompas menceritakan kisah santri dari beberapa dayah di Aceh yang mendaftarkan diri dan ikut pelatihan militer yang diselenggarakan oleh FPI (Forum Pembela Islam) untuk berjihad ke Palestina.

Pandangan Kompas yang dengan tegas mengatakan bahwa aktivitas terorisme tidak berakar di Aceh tampak nyata pada artikel berikutnya yang diterbitkan pada hari Jumat, 19 Maret 2010 , Oleh Kompas artikel ini diberi judul "Bukan Peperangan Orang Aceh", pandangan ini semakin dipertegas pada artikel berikutnya http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/20/03292566/bukan.rumah.tandzim.al.qoidah yang diberi judul "Bukan Rumah Tandzim Al Qoidah" terbit pada Sabtu, 20 Maret 2010 dan puncaknya pada hari Minggu, 21 Maret 2010 dalam seri terakhir artikel ini http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/21/02463269/mengejar.mas-mas.di.aceh yang diberi judul "Mengejar "Mas-mas" di Aceh", meminjam judul sebuah film nasional yang dibintangi oleh Dwi Sasono, Kompas semakin jelas mengarahkan telunjuk ke Jawa sebagai biang kerok segala aktivitas terorsime yang ada di Aceh.

Sebaliknya Jawa Pos, yang merupakan surat kabar dengan tiras terbesar di bagian timur Jawa dan bagian tengah Indonesia. Dalam memberitakan aksi pelatihan teroris di Aceh, koran ini pun tetap konsisten mempertahankan sikap dan cara pandang yang sama seperti yang mereka tunjukkan pada masa konflik dulu. Membaca berita pelatihan terorisme di aceh melalui media ini memberi kesan bagi orang yang mengenal Aceh dengan baik kalau wartawan yang bekerja di media ini adalah wartawan amatiran yang lebih mementingkan sensasi dibanding esensi sebuah berita. Dalam kasus pelatihan kelompok teroris di Aceh ini misalnya, Jawa Pos, dengan serta merta dan penuh percaya diri melabeli kelompok tersebut sebagai TERORIS ACEH, seolah-olah perbuatan teror itu adalah identik dengan Aceh sehingga ideologi tersebut bisa dengan sendirinya tumbuh subur di Aceh.

Oleh Jawa Pos, keterlibatan para pelaku teror dari Jawa tidak dipaparkan secara gamblang, kalaupun ada pemaparan tentang itu, maka yang diberitakan adalah dugaan atau analisa yang diungkapkan oleh pejabat yang memang harus berbicara seperti itu. Bukan sebuah berita yang didapat melalui investigasi atau pengamatan langsung wartawannya. Contoh berita seperti ini bisa dibaca pada berita yang dimuat Jawa Pos pada Minggu, 21 Maret 2010 http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=121661 yang diberi judul "Endus Teroris di Aceh sejak 2009". Dalam berita ini Jawa Pos mengutip ucapan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang mengungkapkan bahwa kasus ini bukan orisinil kasus Aceh. Cara pemberitaan seperti ini membuat siapapun yang tidak mengenal situasi Aceh dengan baik bisa dengan mudah berkesimpulan bahwa apa yang diungkapkan Irwandi ini adalah ucapan khas pejabat daerah untuk "buang badan" dari sebuah masalah yang terjadi di daerahnya.

Gaya pemberitaan yang sama juga bisa kita baca pada tulisan berikut http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=120701 yang diberi judul "Sel Teroris Aceh Rancang Aksi Baru", di sini Jawa Pos hanya memberitakan apa yang telah dilakukan polisi di Aceh, seperti menyita senjata dan pelanggaran undang-undang yang disangkakan kepada pelaku. kemudian nama-nama pelaku sendiri diberitakan dalam bentuk inisial. Jawa Pos sama sekali tidak menyinggung kalau para perancang aksi baru itu ada di pulau Jawa.

Gaya dan nada pemberitaan yang sama, bisa kita temui dalam pemberitaan media-media lain yang berafiliasi dengan Jawa Pos. Contohnya bisa kita lihat pada berita http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=32177 yang diberi judul "Penyuplai Senjata Teroris Aceh" yang dimuat oleh Metro Balikpapan yang merupakan Grup Jawa Pos dan juga pada berita http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=59643 yang diberi judul "Teroris Aceh untuk Dirikan Negara Islam" yang dimuat oleh www.jppn.com yang merupakan media online milik Jawa Pos.

Mungkin satu-satunya media dari Grup Jawa Pos yang memberitakan peristiwa pelatihan terorisme di Aceh ini dengan gaya yang berbeda hanya Harian "Rakyat Aceh", yang tentu saja tidak mungkin berani menurunkan berita dengan gaya seperti yang ditunjukkan oleh induknya, karena pasti akan langsung mengundang kemarahan Rakyat Aceh.

Cara pemberitaan terhadap Aceh yang seperti ini secara konsisten diterapkan oleh Jawa Pos sejak zaman konflik berkecamuk di Aceh dulu.

Dulu ketika saya baru datang ke Bali dan daerah timur Jawa saya sempat merasa tersinggung dan kesal melihat betapa dangkalnya orang-orang di daerah ini terhadap persoalan-persoalan yang ada di Aceh. Dulu waktu masih tinggal di Bali, saya sering merasa kesal dan tidak jarang tersinggung setiap kali shalat jum'at dan berbincang-bincang dengan sesama muslim (yang minoritas di tempat ini) yang berasal dari Jawa Timur, karena setiap kali saya mengatakan bahwa saya berasal dari Aceh, mereka selalu menyerang saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Yang paling membuat saya tersinggung adalah ketika ketika tsunami melanda Aceh beberapa waktu yang lalu. Saat itu, hampir semua muslim asal Jawa Timur yang saya temui di Bali mempercayai kalau tragedi itu terjadi karena orang Aceh durhaka terhadap pemerintah Indonesia.

Dulu saya tidak paham kenapa mereka bisa berpikir sedangkal ini, tapi ketika belakangan saya menyadari betapa kuatnya pengaruh Jawa Pos terhadap masyarakat di wilayah ini, sayapun jadi maklum.

Sikap seperti itu terjadi pada kelompok masyarakat ini karena memang demikianlah OPINI terhadap Aceh yang dibuat oleh media yang paling berpengaruh di kawasan ini.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali