Selasa, 09 Desember 2008

Ketika Koki Digusur Tukang Sayur-Perenungan dari Sayed Mahdi

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirimi saya sebuah artikel yang cukup menarik. Teman saya itu mendapatkan artikel ini dari sebuah Blog dengan alamat http://idhamdeyas.blogspot.com/. Artikel ini menarik karena permasalahan yang diulas dalam artikel ini banyak berhubungan dengan permasalahan sosial yang terjadi di Aceh sekarang ini. Terutama berkaitan dengan penerapan Syari'at Islam yang ketat.

Di bawah ini saya posting artikel yang menurut saya sangat menarik itu. Selamat membaca dan semoga setelah membacanya pikiran kita bisa sedikit lebih terbuka.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com


Sayed Mahdi: Ketika para koki digusur tukang sayur

Sewaktu menghadiri shalat Jumat, saya sering mendengar khatib berkata: “sebagai umat Islam kita harus menuruti dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan dalam Alquran, dan menjauhi apa-apa yang dilarang di dalam Alquran agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa…” Ucapan ini memang mudah diucapkan, dan terkesan mudah pula dilakukan (bagi yang mau melakukan). Ketika kesekian kalinya saya mendengar ucapan ini, saya menjadi teringat satu problema dalam ilmu fiqih yang diangkat pertama kali oleh Imam Al-Syafi’i (w. 204 H/820 M) dalam kitabnya Al-Risalah. Berikut ini adalah kisahnya (biar menarik dibaca, kisah ini tidak lagi seharfiah redaksi aslinya) :

“Suatu ketika seorang laki-laki berangkat ke pasar. Ia berniat membeli budak. Ia kemudian membeli budak perempuan. Setelah budak itu menjadi miliknya, dan tinggal di rumahnya, ia pun berkali-kali melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan itu.

[Karena perbudakan sekarang menjadi sesuatu yang emoh untuk difikirkan, saya akan menjelaskan sedikit: di dalam fiqih Islam hubungan seksual antara laki-laki pemilik budak dengan budak perempuan tidak dilarang. Tidak ada akad nikah, pemberian mas kawin, atau prosesi apa pun sebelum hubungan seksual itu berlangsung. Jika budak perempuan itu hamil dan melahirkan anak, maka anak itu statusnya tetap budak, tetapi ibunya naik status sedikit menjadi ummu walad, tetapi masih tetap budak. ]

Setelah beberapa lama, si laki-laki menjadi tahu bahwa budak yang dibelinya ini adalah saudara perempuannya. Nah lho... Besar kemungkinan si laki-laki adalah mantan budak yang kini merdeka dan menjadi berkecukupan, dulu orangtuanya juga budak, saudara-saudarinya pun budak. Atau bisa jadi, budak perempuan ini seayah dengannya tapi lain ibu, dan karena berbagai hal yang tragis, si adik perempuan pun akhirnya menjadi budak dan diperjualbelikan. Terus jadi gimana masalah ini?
Kita lihat pokok masalahnya .....

Si laki-laki membeli budak perempuan dan kemudian melakukan hubungan seksual dengan budaknya itu. Keadaan ini dibolehkan oleh Alquran, malah dianggap baik-baik saja. Hasanah bi dzatiha. Alquran di dalam Surah Al Mukminun ayat 5 membolehkan perilaku seperti ini:

qad aflaha’l mu’minun
alladzina hum fi shalatihim khasyi’un
walladzinahum ’ani’l laghwi mu’ridhun
walladzinahum lizzakati fa’ilun
walladzinahum li furujihim hafizhun
illa ’ala ajwazihim aw ma malakat aymanuhum, fainnahum ghairu malumin
(Alquran Surah Al Mu’minun 1 – 5)

[sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
dan orang-orang yang menunaikan zakat
dan orang-orang yang menjaga penisnya
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela ]

Ketika lama kemudian si laki-laki menjadi tahu bahwa budak perempuan itu adalah adiknya, maka hubungan ini menjadi incest, dan sangat dilarang. Qabihah bi dzatiha. Haram tanpa kompromi, karena Alquran dalam Surah An-Nisa ayat 23 melarangnya:

Hurrimat ’alaikum ummahatukum, wa banatukum, wa akhawatukum, ....
(diharamkan bagi kamu sekalian untuk menikahi ibu-ibumu [maksudnya ibu kandung terus ke nenek terus ke atasnya nenek], anak-anak perempuanmu [anak terus ke cucu dan seterusnya], dan saudara-saudara perempuanmu ......... dst.)

Dalam kasus di atas, si perempuan adalah saudarinya dan sekaligus budaknya. Kebolehan melakukan hubungan seksual dengan budak yang ditetapkan dalam Surah Al Mu’minun ayat 1-5 menjadi tidak relevan. Surah An-Nisa ayat 23 harus dimenangkan. Kenapa harus dimenangkan? Bisa jadi hati nurani dan akal sehat si laki-laki yang berkata demikian. Atau bisa juga sebuah fatwa dari seorang ahli fiqih yang mengangkat dua kaidah fiqih seperti: dar`u’l mafasidi awla min jalbi’l mashalihi (menghilangkan keburukan lebih utama dari memperoleh kemaslahatan) dan fa idza ta’aradha mafsadatun wa mashlahatun quddima daf’ul mafsadati ghaliban (apabila bertemu keburukan dan kebaikan dalam satu masalah, maka utamakanlah menghilangkan keburukan).

Kaidah-kaidah fikih di atas saya kutip dari kitab berjudul al-Asybah wa'l-Nazhair karya Ibnu Nujaim (w. 970 H/ 1562 M). Kaidah-kaidah ini adalah hasil penalaran hukum para fuqaha dari berbagai dalil seperti Alquran, hadis Nabi Muhammad, fatwa-fatwa para mujtahid besar, dan hal-hal lain. Jika pun kaidah-kaidah ini dilepaskan dari sumber-sumber religius, sifatnya tetap rasional, karena dalam banyak kasus, bunyi kaidah-kaidah fiqih menjadi sama dengan maxim hukum berbahasa Latin yang berasal dari penalaran rasional, contohnya seperti al-hukmu yaduru ma’a ‘ilatihi wujudan wa ‘adaman (hukum itu akan terus berlaku bila reason-nya masih terus ditemukan dan berlangsung, dan hukum itu menjadi tidak berlaku lagi jika reason-nya tidak ada lagi) yang sama dengan mutata legis ratione mutatur et lex (the law is changed if the reason of law is changed).

Saya mengangkat kisah di atas agar kita memikirkan kembali bahwa Alquran dan hadis sesungguhnya adalah bahan mentah. Seorang ahli fiqih dapat diibaratkan seorang chef (koki profesional) yang mengolah bahan-bahan mentah tersebut. Kitab-kitab fiqih klasik yang ditulis oleh para fuqaha di masa lalu dapat diibaratkan dengan kumpulan resep-resep masakan yang telah mengolah banyak bahan mentah menjadi masakan yang lezat. Membuang semua resep-resep itu tidak menjamin hasil kerja koki di zaman sekarang lebih baik dari yang dihasilkan para koki di masa lalu.

Para fuqaha klasik dan kitab-kitab fiqih yang mereka hasilkan adalah pilar terakhir rasionalitas di dalam tradisi pemikiran Islam, setelah filsafat dan ilmu kalam. Tradisi fiqih adalah tradisi rasional, karena peran akal sehat menjadi sangat menonjol ketika berhadapan dengan dalil-dalil yang berbenturan dan ambigu. Kini pilar terakhir ini semakin lama semakin lenyap, perlahan-lahan hilang ditengah menjamurnya para ”koki” tanpa resep. Para ”koki” yang pada hakikatnya hanyalah ”tukang sayur”. Para "tukang sayur" ini memang mengetahui beragam jenis sayur mayur, ikan, dan bawang, tetapi tidak pernah belajar menjadi ”koki” dan menganggap tidak ada gunanya mempelajari apa yang ditulis oleh para 'koki". Kini mereka menggusur para ”koki”, dan mulai menyajikan bahan-bahan mentah tanpa diolah untuk sarapan hingga makan malam.

Para "koki" di masa lalu memang menghasilkan banyak perbedaan resep masakan, dan beberapa "chef" membentuk aliran cara memasak yang menjadi mazhab para "koki" yang hidup di era selanjutnya. tetapi para "tukang sayur" di masa kini gerah dengan banyaknya mazhab para koki di masa lalu, mereka lalu memaksakan makanan yang orisinal, tunggal tanpa perbedaan cara memasak, sesuatu yang otentik tanpa perubahan, tanpa perlu dimasak.

Para ”tukang sayur” ini bisa ditemukan di banyak tempat, dan runyamnya lagi para "tukang sayur" ini sekarang semakin banyak di Indonesia. Di Saudi Arabia para "tukang sayur" ini berkumpul di al-Lajnah al-Daimah li’l-Buhuts al-’Ilmiyyah wa’l ifta’ (The Permanent Council for Scientific Research and Legal Opinions), namanya aja yang wah..

Di Lajnah ini berkumpullah pemuka-pemuka Islam Wahabi, seperti 'Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1911-1999), sampai meninggalnya ia adalah mufti agung Kerajaan Saudi Arabia. Muhammad bin Shalih bin 'Utsaimin (1927 - .... ). Abdullah bin Jibrin (1930 - .... ); dan Shalih bin Fauzan yang juga memimpin al-Ma'had al-'Ali li'l Qudah (Supreme Judicial Council).

Sekarang coba kita perhatikan beberapa hasil fatwa kaum Wahabi ini :

PERTANYAAN 1
Saya ingin mengirimkan foto saya kepada istri, keluarga, dan teman-teman saya, karena sekarang saya berada di luar negeri. Apakah hal ini dibolehkan?

JAWABAN (oleh komite ulama Lajnah dalam Fatawa al- Lajnah)
Nabi Muhammad di dalam hadisnya yang sahih telah melarang membuat gambar setiap makhluk yang bernyawa, baik manusia atau pun hewan. Oleh karena itu Anda tidak boleh mengirimkan foto diri Anda kepada istri Anda atau siapa pun.

PERTANYAAN 2
Apakah hukumnya jika seorang perempuan mengenakan beha (kutang atau bra) ?

JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa al- Lajnah)
Banyak perempuan yang memakai beha untuk mengangkat payudara mereka supaya mereka terlihat menarik dan lebih muda seperti seorang gadis. Memakai beha untuk tujuan ini hukumnya haram. Jika beha dipakai untuk mencegah rusaknya payudara maka ini dibolehkan, tetapi hanya sesuai kebutuhan saja.

PERTANYAAN 3
Apakah hukumnya Saudi Arabia membantu Amerika Serikat dan Inggris untuk berperang melawan Irak? (ini kasus Perang Teluk pertama sewaktu Bush senior jadi Presiden Amerika Serikat)

JAWABAN
Hukumnya adalah boleh (mubah). Alasannya karena (1) Saddam Husein telah menjadi kafir, jadi Saudi Arabia memerangi orang kafir dan bukan seorang Muslim (2) Mencari bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris adalah suatu hal yang mendesak (dharurah) (3) Tentara Amerika sama statusnya dengan tenaga kerja yang dibayar. Tentara Amerika bukanlah aliansi kita, tetapi kita mempekerjakan mereka untuk berada di pihak umat Islam untuk berperang melawan orang kafir (yaitu Saddam Hussein).

Tampaknya Lajnah ini mengurus banyak hal, dari beha hingga perang teluk. Yang menyedihkan adalah fatwa-fatwa itu tampak berasal dari kondisi absennya rasionalitas yang cukup akut. Lenyapnya akal sehat untuk jangka waktu yang cukup lama. Fatwa-fatwa di atas juga tidak menunjukkan adanya koherensi, tidak terlihat dipakainya metode penetapan hukum yang dikembangkan para fuqaha klasik, tidak ada pula pendekatan melalui kaidah-kaidah fikih, dan tidak ada usul fikih. Yang tersisa hanyalah wacana hukum yang otoritarian.

Pada tahun 1990-an dulu, K.H. Ali Yafie yang benar-benar memahami fikih, seorang "koki" dengan banyak jam terbang, mengangkat kaidah fikih: idza ta’aradha mafsadatani ru’iya a’zhamuhuma dhararan bi irtikabi akhaffihima (apabila bertemu dua keburukan, maka pertimbangkan mana yang paling besar dampak keburukannya, lalu pilihlah yang dampak keburukannya lebih kecil).

Kaidah fikih di atas ia jadikan justifikasi ketika ia berpendapat bahwa lokalisasi bagi para pekerja seks komersial (psk) lebih baik daripada membiarkan mereka mencari pelanggannya di mana-mana. Karena memang belum ada hukum yang jelas melarang prostitusi, dan prostitusi tampaknya tidak bisa dihentikan sebelum perekonomian, kesempatan pendidikan, dan kesempatan kerja menjadi lebih baik. Apa yang terjadi kemudian? K.H. Ali Yafie dengan segera dihujat dan dikecam oleh banyak ”tukang sayur”. Ia dituding sebagai kiai sesat, dan bermacam-macam julukan negatif lainnya. Padahal setahu saya, KH. Ali Yafie adalah sosok ulama sederhana yang berfikir dan bernalar dari sudut pandang ilmu fiqih.

Di Jakarta, saya pernah menghadiri ceramah seorang penceramah kondang yang sudah dianggap ulama oleh yang menganggap (mungkin tidak etis jika saya menyebut nama ”tukang sayur” ini). Di akhir ceramah, ada yang bertanya: ”Pak Ustadz, apakah hukumnya meng-qadha shalat”? (meng-qadha shalat adalah melakukan shalat fardhu sebagai ganti dari shalat fardhu yang tidak dilakukan pada suatu waktu). Pak Ustadz ini dengan yakin dan berwibawa langsung menjawab: ”di dalam Islam tidak ada yang namanya qadha shalat.” Jawaban yang luar biasa, karena setahu saya empat mazhab fiqih utama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanbaliyah) membolehkan qadha shalat kecuali mazhab Zahiriyah yang minoritas. Tapi sebenarnya bagi saya yang paling menarik adalah kata-kata "di dalam Islam......" Ini adalah jawaban standar para "tukang sayur". Dalam kitab-kitab fiqih klasik tidak pernah tertulis jawaban "di dalam Islam....." atau "menurut Islam....", yang ada hanyalah "di dalam mazhab Syafi'i..." atau "menurut pendapat yang berlaku di kalangan mazhab Hanafi....". Para fuqaha klasik ini rendah hati, mereka tidak pernah mengklaim. Tapi para "tukang sayur" ini benar-benar arogan. Ketika ia menyatakan "di dalam Islam..." atau "menurut Islam..." maka secara tidak langsung ia telah menggusur setiap narasi atau siapa saja yang tidak sependapat dengan dia dari ruang lingkup Islam." Menggusur... seperti Sutiyoso saja. Bayangin aja empat mazhab fikih besar koq digusur sehingga sekarang berada di luar Islam.

Ketika isu penolakan presiden perempuan menghangat, saya sempat dijadikan obyek indoktrinasi oleh seorang ”tukang sayur”. Ia berasal dari perkumpulan ’Jama’ah Tabligh’. (menurut seorang teman, cara dakwah door to door Jama’ah Tabligh ini mirip dengan ’Saksi Jehova’ dalam Kristen Protestan. Saya pikir asyik juga kalau bisa mempertemukan antara Jama’ah Tabligh dan Saksi Jehova, biar mereka saling mendakwahi, saling menggembalai. Minimal kalau difilmkan dengan kamera video digital bisa menang di Festival Film Indie di MTV).

"tukang sayur" dari Jama'ah Tabligh ini dengan segera mencecar saya, berikut dialognya, huruf kapital menandakan perkataan dari "tukang sayur".

”ANDA MUSLIM KAN, ANDA SETUJU KALAU PEREMPUAN JADI PRESIDEN?”

"setuju saja, asal dia mampu, memang kenapa?"

"LHO, ANDA INI GIMANA, ISLAM MENGHARAMKAN PRESIDEN PEREMPUAN.."

"kok Anda tahu Islam mengharamkan presiden perempuan?"

"ADA HADISNYA. NABI MUHAMMAD MELARANG PEMIMPIN PEREMPUAN, KALAU PEREMPUAN JADI PEMIMPIN MAKA RUSAKLAH NEGARA."

"Oo.. begitu ya. Jadi menurut Bapak bagaimana cara kita menjalankan hadis Nabi secara benar?"

"HARUS APA ADANYA, GIMANA DI DALAM HADIS YA YANG BEGITU ITU KITA JALANKAN, SAMI'NA WA ATHA'NA. SAYA DENGAR SAYA TAAT. GAK BOLEH DIUBAH-UBAH, JANGAN DI BOLAK-BALIK MAKNANYA!"

"oo.. jadi harus apa adanya?"

"IYALAH!"

"Bapak pernah tau gak ada hadis yang sama sahihnya dengan hadis pelarangan pemimpin perempuan?"

"APA TUH?"

"al-aimmah minal Quraisy, pemimpin itu haruslah berasal dari Suku Quraisy. Kalau menurut hadis ini hanya orang Arab dari suku Quraisy yang boleh jadi presiden. Laki-laki pun kalau bukan Suku Quraisy gak boleh jadi presiden di Indonesia Pak.. Kita harus impor dari Arab."

"YAAH, SITUASINYA KAN UDAH BEDA, KITA HARUS LIHAT KEADAANNYA SEKARANG DONG.."

"tapi tadi bapak bilang hadis harus dijalankan apa adanya, gak boleh dibolak-balik pemahamannya?"

"...?!?!"



Tahun 1999, di kampus IPB Bogor, dalam suatu kesempatan saya pernah iseng-iseng menghadiri tabligh akbar organisasi Hizbut Tahrir. Organisasi ”tukang sayur” internasional yang radikal. Salah seorang penceramah dengan gagah perkasa mengatakan ”nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi manusia bertentangan dengan Islam.” Para hadirin yang hampir semuanya adalah mahasiswa-mahasiswi IPB Bogor serentak merespons dengan teriakan ”Allahu Akbar”. Luar biasa, mahasiswa-mahasiswi sebuah institut negeri yang bergengsi dengan gampang diindoktrinasi dan dicuci otak oleh komplotan ”tukang sayur”. Hebatnya lagi "tukang sayur" itu tidak mengangkat dalil apa pun ketika ia mengatakan nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi manusia bertentangan dengan Islam, ia tidak mengutip Alquran dan hadis seperti lazimnya "tukang sayur profesional". Tampaknya ada spesies baru "tukang sayur" di IPB Bogor ini, spesies yang paling memprihatinkan.

Ketika acara di IPB itu selesai, saya keluar dari ruangan itu. Saya perhatikan mahasiswa IPB yang rata-rata berjenggot, memakai celana gantung (di atas mata kaki), yang mahasiswi terbungkus jilbab rapat, ada juga yang bercadar. Sebagian mereka memegang buku-buku. Saya melirik melihat judulnya, ada Statistik, Ekonomi Pertanian, Teori Ekonomi Mikro, Ekonomi Pembangunan, Ilmu Kimia, dan banyak lagi. Semuanya ilmu-ilmu yang dibangun di atas rasionalitas dan dipahami secara rasional. Tetapi dimana mereka menitipkan rasionalitas ketika menghadiri indoktrinasi para "tukang sayur" di ruangan tadi?

Para ”tukang sayur” dengan kemampuan retorika yang luar biasa akhirnya memang meraih banyak pendengar dan pengikut, lambat laun para ”tukang sayur” ini tampaknya akan menang perang dalam menggusur para ”koki”.

Saya jadi teringat sebuah hadis Nabi Muhammad yang pernah saya dengar di pesantren dulu (tapi sayangnya saya lupa redaksinya dan sampai sekarang belum ketemu perawinya), kurang lebih hadis itu artinya begini: "akan datang suatu zaman bagi umatku dimana pada masa itu banyak sekali pendakwah, dan sedikit ulama."

Hadis di atas itu sekarang saya pahami menjadi "akan datang suatu zaman bagi umatku dimana pada masa itu banyak sekali 'tukang sayur', dan sedikit sekali 'koki'."


wallahu a'lam bi'l shawab.

dari blog Sayed Mahdi: http://idhamdeyas.blogspot.com/

Idul Adha di Lampu'uk

Lampu'uk adalah sebuah kemukiman (kumpulan beberapa desa) yang cukup ramai, terletak 15 Kilometer dari Banda Aceh ke arah Meulaboh.

Dalam wilayah kemukiman ini terdapat salah satu pantai tercantik di Aceh. Pantai Lampu'uk yang terkenal dengan pasir putih dan ikan bakarnya. Mirip-mirip Jimbaran di Bali. Salah satu ujung pantai ini terhenti di sebuah bukit bernama Goh Leumo yang dalam bahasa Melayu berarti Punuk Sapi. Di ujung pantai yang terhenti di Goh Leumo ini terdapat salah satu tebing paling menarik untuk dipanjat karena di bagian atas tebing ini terdapat apa yang dalam istilah Rock Climbing disebut 'Over Hang' dan 'Roof' dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Kedua istilah yang saya sebutkan tadi digunakan untuk menggambarkan satu bagian tebing yang sebegitu curamnya sampai sudutnya mencuat ke luar, seperti menggantung dan sisi paling curam sebuah tebing yang saking curamnya sampai berbentuk seperti atap.

Dulu saat aku masih mahasiswa, aku sangat sering mengunjungi Lampu'uk. Entah itu untuk berenang di pantainya, belajar surfing, memanjat tebing bersama Rakai, seorang temanku di UKM PA Leuser, memperlancar bahasa Inggris dengan cara mengajak ngobrol cewek-cewek bule berbikini yang menginap di Joel Bungalow atau sekedar menikmati sunset sambil meniup 'didgeridoo'.

Kadang aku datang ke Lampu'uk di hari Jum'at. Kalau itu terjadi aku biasanya shalat Jum'at di mesjid Lampu'uk yang cukup besar dengan bentuk luar sekilas sangat mirip dengan mesjid Baiturrahman di pusat kota Banda Aceh.

Shalat Jum'at di Lampu'uk tidak boleh terlambat karena kalau terlambat kita tidak akan mendapatkan tempat di dalam mesjid yang cukup besar ini. Kemukiman Lampu'uk yang saat itu terdiri dari tiga desa memiliki penduduk tidak kurang dari 4000 orang yang hampir semua kaum laki-lakinya shalat jum'at di mesjid ini.

26 Desember 2004, Tsunami melanda Aceh. Lampu'uk yang terletak tepat di pinggir pantai ini adalah salah satu tempat yang paling parah dihantam tsunami. Aku lihat di televisi kemukiman Lampu'uk rata dengan tanah. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri tegak adalah mesjid tempat aku sering melakukan shalat Jum'at dulu. Mesjid ini juga sangat sering kulihat di berbagai koran, majalah atau karya fotografi yag menggambarkan ganasnya Tsunami.

4 tahun setelah Tsunami, aku kembali ke Lampu'uk. Penampilan fisik kemukiman ini sudah sangat jauh berbeda dengan yang pernah kuingat dulu. Tidak satupun rumah di pinggir jalan yang dulu kujadikan sebagai penanda lokasi yang masih berdiri. Sekarang seluruh rumah di Lampu'uk bentuknya seragam. Rumah-rumah itu adalah bantuan dari pemerintah Turki. Dibandingkan rumah-rumah bantuan di daerah lain. Rumah bantuan di Lampu'uk ini kondisinya terlihat jauh lebih baik. Satu-satunya yang tetap mengingatkanku pada suasana Lampu'uk lama adalah banyaknya sapi yang berkeliaran di jalanan yang jika kita tidak hati-hati mengemudi terutama di malam hari kita bisa tiba-tiba menabraknya.

Kemarin di malam menjelang hari raya Idul Adha, aku menginap di Lampu'uk di salah satu rumah bantuan Turki itu yang disewa oleh seorang temanku yang berasal dari Canada. Malam menjelang hari raya, hujan turun sangat deras. Sampai jam 6 pagi kulihat belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku sempat berpikir tidak akan pergi shalat Ied. Tapi kira-kira jam 7 hujan mereda meskipun masih turun rintik-rintik tapi tidak selebat sebelumnya dan akupun memutuskan untuk pergi Shalat Ied.

Shalat Ied untuk kemukiman Lampu'uk dilaksanakan di Mesjid Lampu'uk tempat aku sering shalat jum'at dulu. Biasanya Shalat Ied dilakukan di luar ruangan. Untuk kemukiman Lampu'uk dulunya Shalat Ied biasa dilakukan di lapangan bola Seri Musim. Di lapangan inilah Irwansyah, mantan pemain nasional sekaligus striker andalan Persiraja Banda Aceh yang hilang saat Tsunami belajar bermain bola. Kupikir kali ini Shalat Ied dilakukan di mesjid Lampu'uk karena alasan hujan. Bagiku sendiri berarti Shalat Ied di Lampu'uk ini akan menjadi Shalat Ied kedua yang aku lakukan di dalam ruangan setelah Shalat Ied hari raya Idul Fitri yang baru lalu aku laksanakan di mesjid desa Randu Agung di Banyuwangi.

Aku yang berangkat ke mesjid jam 7.30 sambil berpikir kalau aku pasti tidak akan mendapat tempat lagi dalam ruangan Mesjid. Aku bayangkan kalau Shalat Jum'at yang cuma dihadiri jama'ah laki-laki saja penuh sesak apalagi Shalat Ied yang dihadiri laki-laki dan perempuan. Karena merasa kemungkinan aku harus shalat di luar dengan resiko berbasah ria kalau hujan tiba-tiba turun, aku berangkat Shalat dengan mengenakan jacket parasut yang tahan air. Tapi saat tiba di mesjid aku mendapati jama'ah Shalat Ied yang datang belum terlalu ramai. Mesjid terisi belum sampai setengahnya padahal beberapa saat lagi Shalat Ied akan segera dimulai. Bentuk Mesjid ini secara garis besar masih persis sama seperti sebelum Tsunami dulu dengan penambahan beberapa dekorasi di sana sini.

Tidak berapa lama Shalat Ied langsung dimulai dengan jumlah jama'ah yang belum juga bertambah. Aku Shalat dengan menyimpan penasaran, apakah setelah tsunami, setelah Aceh diguyur uang milyaran dollar, didatangi ribuan pekerja asing yang membawa budaya baru semangat keislaman orang-orang Lampu'uk menjadi sebegitu rendahnya sampai-sampai Shalat Ied di mesjid inipun hanya didatangi sangat sedikit orang.

Selesai Shalat seperti biasa dilanjutkan dengan khotbah yang disampaikan dalam bahasa Aceh. Penghotbah yang tampil kali ini adalah seorang lulusan pesantren yang sepanjang khotbahnya memuji-muji kualitas seorang lulusan pesantren yang menganjurkan para jama'ah untuk memasukkan anaknya ke sekolah agama bukan sekolah umum. karena menurutnya dengan belajar di sekolah agama masa depan di akhirat kelak akan terjamin. Sepanjang khotbah aku masih penasaran dan tidak habis pikir kenapa jama'ah Shalat Ied di mesjid ini sangat sedikit.

Selesai Shalat, seluruh Jama'ah membentuk lingkaran dan saling bersalaman satu persatu. Semua wajah tampak begitu cerah dan gembira. Persis sama seperti suasana hari raya dimanapun yang pernah kualami entah itu di Indonesia ataupun di luar negeri. Aku yang tampak aneh sendiri dengan pakaian jacket parasut tahan air dan bercelana jeans langsung dikenali oleh penduduk Lampu'uk sebagai orang luar.

Dalam kumpulan jama'ah Shalat Ied di mesjid Lampu'uk ini aku melihat seorang jama'ah yang juga berpakaian tidak kalah anehnya dibandingkan aku, yang juga beda sendiri dibandingkan jama'ah yang lain. Bersorban ala Pangeran Diponegoro, mirip seperti patung ulama di depan kantor Kodim Banyuwangi, bedanya sorban si jama'ah ini berwarna abu-abu. Dia mengenakan jubah yang panjangnya sampai di atas mata kaki, juga berwarna abu-abu dengan wajah yang dihiasi jenggot beberapa lembar yang dipaksakan tumbuh panjang di dagunya. Saat giliranku bersalaman dengannya jama'ah bersorban yang juga seperti aku, sama-sama terlihat aneh dan mencolok dalam kumpulan jama'ah lain yang berkemeja dan bersarung ini memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis yang kutanggapi dengan senyuman sambil melanjutkan acara bersalaman dengan jama'ah yang lain.

Selesai bersalaman, seorang jama'ah yang berumur sekitar 60-an tahun yang bahan pakaiannya terlihat lebih berkualitas dibandingkan bahan pakaian jema'ah lain dan raut wajah yang tampak berwibawa mendekatiku. "Tinggal di mana dik?", tanyanya. Aku menjawab kalau aku tinggal di rumah temanku yang berasal dari Canada itu dan bapak itupun mengangguk. Lalu tanpa merasa perlu menanyakan nama dan asalku darimana bapak ini mengajakku untuk mampir ke rumahnya dan mengundangku makan di sana. Karena menurut beliau saat ini tidak ada warung yang buka, aku pasti akan kelaparan kalau berharap makan di warung. Bapak ini tahu persis kalau temanku itu tidak masak di rumahnya.

Alasan si bapak yang mengajakku dengan penuh ketulusan ini terlalu kuat untuk aku tolak dan akupun mengikuti si bapak ini ke rumahnya yang juga merupakan rumah bantuan dari pemerintah Turki dengan bendera Turki yang bergambar bulan bintang yang mirip seperti bendera GAM yang terbuah dari ukiran beton terpampang di dinding di atas pintu depan rumah. Tapi meskipun bentuk dasarnya sama rumah bapak ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan ruangannya juga sudah diperbesar di bagian belakang. Bentuk pagar, taman dan dekorasi dalam ruangan rumah bapak ini yang dihiasi lampu kristal dan gorden berbahan mahal menunjukkan kalau secara ekonomi si bapak ini relatif lebih berada dibandingkan rata-rata penduduk Lampu'uk lainnya.

Saat masuk ke dalam rumah, aku bersalaman dengan seluruh anggota keluarga bapak ini termasuk istri dan anak perempuannya. Sebelumnya aku sempat menduga kalau setelah penerapan Syari'at Islam ala wahabi, perempuan di Aceh juga tidak mau lagi bersalaman dengan laki-laki sebagaimana kebiasaan teman-temanku anggota PKS. Tapi ternyata tidak, orang Aceh di Lampu'uk ini masih tetap seperti dulu.

Kami duduk di ruang tamu sambil makan makanan kecil khas lebaran yang karena perbedaan status ekonomi, kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan kudapan khas lebaran yang dihidangkan padaku oleh penduduk desa Randu Agung saat lebaran Idul Fitri yang lalu. Bapak ini menceritakan kalau nyaris seluruh keluarganya habis hilang saat tsunami. Beliau sendiri selamat karena pada saat kejadian beliau yang masih berstatus pegawai Bank BRI sedang menghadiri acara pertandingan olahraga yang diselenggarakan oleh kantornya di kota Banda Aceh. Saat itu beliau menghadiri acara itu bersama istrinya dan anak perempuannya yang menyalamiku tadi. Dan sekarang hanya mereka bertigalah sisa keluarga beliau yang masih hidup. Semua anggota keluarga beliau yang lain hilang bersama tsunami. Tapi saat menceritakan ini seperti orang-orang Aceh lain yang pernah aku tanyai. Aku sama sekali tidak melihat ada gurat kesedihan di wajah bapak ini ketika menceritakan peristiwa itu.

Melalui bapak ini pula aku mengetahui alasan kenapa jama'ah Shalat Ied di mesjid tadi sangat sedikit. Menurut Bapak ini jama'ah Shalat Ied tadi sedikit karena memang penduduk Lampu'uk sekarang sudah sangat sedikit. Sebagai gambaran bapak ini mengatakan penduduk Desa Meunasah Bale, desa tempat beliau tinggal dulu sebelum Tsunami lebih dari 1200 orang tapi sekarang tidak sampai 300 orang. Desa sebelahnya Meunasah Baro dari sekitar 800-an orang sekarang tinggal sekitar 200-an. Ternyata itulah alasan sedikitnya jama'ah Shalat Ied tadi, bukan karena semangat keisalaman orang Lampu'uk yang sudah sedemikian rendah.

Kami berhenti mengobrol saat anak perempuan beliau masuk ke ruang tamu dan mengatakan makanan sudah siap dan mempersilahkan kami untuk makan. Akupun makan di sana dengan lauk daging olahan bumbu Aceh yang khas. Ditambah sebuah menu asing yang tidak pernah aku temui sebelumnya dalam menu di rumah-rumah orang Aceh. Sup Udang yang rasanya mirip Tom Yam Kung. Tapi Sup Udang bikinan anak perempuan bapak ini yang berumur sekitar 18 tahun yang memiliki wajah sekilas mirip Asmirandah, artis sinetron yang membintangi iklan Indosat ini jauh lebih enak, malah sejujurnya bagiku ini adalah Sup Udang terenak di dunia. Setidaknya sejauh yang pernah aku cicipi.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

Minggu, 07 Desember 2008

Bener Meriah dan Identitas Kegayoan yang Terbelah

Saat saya kembali ke Takengen, saya mendapati Aceh Tengah kabupaten tempat saya berasal kini telah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah yang beribukota Takengen dan kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong.

Ada satu kejanggalan yang saya rasakan berkenaan dengan keberadaan kabupaten baru yang bernama Bener Meriah ini. Kejanggalan itu saya rasakan baik saat saya berada di Aceh Tengah maupun di Bener Meriah sendiri. Saya merasakan ada suasana yang berbeda di Tanoh Gayo sekarang dibandingkan dengan ketika saya masih sering pulang dulu.
Dulu, sebelum ada Bener Meriah semua orang Gayo yang tinggal atau yang berasal dari seluruh wilayah kabupaten Aceh Tengah yang meliputi Kilometer 35 sampai Ise-ise, dari Rusip sampai Samarkilang. Semuanya memiliki kesadaran sebagai sebuah komunitas Gayo yang sama. Kalau sedang berada di luar Aceh Tengah, semua mengaku 'Urang Takengen'. dan diidentifikasi oleh orang luar Aceh Tengah sebagai ‘Orang Takengon’. Kesadaran inilah yang membentuk identitas kegayoan saya.

Sekarang, saya merasakan di antara masyarakat dua kabupaten ini mulai muncul semacam rasa keterpisahan secara sosiologis dan psikologis. Kesan yang saya tangkap, sekarang ini dalam diri orang Aceh Tengah dan Bener Meriah yang meskipun sama-sama orang Gayo tapi secara perlahan-lahan dalam individu Gayo yang tinggal di wilayah yang sekarang dipisahkan secara administratif ini mulai muncul kesadaran untuk mengasosiasikan identitas kelompok masing-masing sebagai 'kami' dan 'mereka'. Secara perlahan-lahan pula saya lihat sekarang sudah mulai muncul bibit-bibit rivalitas antara penduduk dua kabupaten ini. Salah satu indikasi dari munculnya fenomena ini bisa diperhatikan dalam kalimat-kalimat yang diucapkan para ceh didong jalu yang sekarang mendefinisikan ‘kami’ dan ‘kalian’ sekarang sudah dalam skala kabupaten bukan lagi kampung.

Sebelum Bener Meriah dimekarkan, sebenarnya sudah ada komunitas Gayo yang terlebih dahulu diasingkan dari komunitas besarnya dengan cara dipisahkan secara administratif. Mereka adalah Orang Gayo Lues dan Orang Gayo Serbejadi. Meskipun sama-sama Gayo dan berbicara dalam bahasa yang sama dengan saya dan orang-orang Gayo Aceh Tengah. Tapi kedua kelompok suku Gayo yang tinggal di luar wilayah administratif Kabupaten Aceh Tengah ini tidak termasuk kategori 'kami' dalam kesadaran kegayoan orang Gayo Aceh Tengah, termasuk saya. Padahal dalam tubuh saya sendiri mengalir darah keturunan Gayo Lues yang saya dapatkan dari Datu Anan (Ibu dari kakek) saya.

Dulu sekali sebenarnya Gayo Lues masuk dalam kategori ‘kami’. Tapi pembentukan Kabupaten Aceh Tenggara yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Tengah melalui UU 4/1974 yang dikeluarkan pada tanggal 4 Juni 1974. Telah mencabut kesadaran kegayoan Orang Gayo Aceh Tengah terhadap Gayo Lues. UU 4/1974 itu mencabut akar kegayoan saya dari tanah asal Datu Anan saya, tepat 20 hari sebelum saya lahir.

Saat Gayo Lues masih merupakan bagian dari Aceh Tengah dan Takengen menjadi ibu kotanya. Di Takengen banyak sekali komunitas pelajar asal Gayo Lues yang bersekolah. Pelajar asal Gayo Lues ini bahkan sampai punya satu asrama khusus berlokasi di Dedalu dekat rumah orang tua saya. Panti Asuhan Budi Luhur yang saat itu dikelola oleh almarhum kakek saya juga banyak dihuni oleh anak-anak yang berasal dari Gayo Lues.
Pada saat itu orang Gayo Aceh Tengah masih menganggap orang Gayo Lues sebagai 'kami'. Tidak seperti orang Gayo Serbejadi yang sejak awal kemerdekaan tinggal di wilayah administrasi kabupaten Aceh Timur yang cerita tentang keberadaan mereka nyaris seperti dongeng dalam sudut pandang orang-orang Gayo di Takengen.

Tapi sejak Gayo Lues dimasukkan ke dalam wilayah Aceh Tenggara, Orang Gayo Lues jadi jarang sekali berhubungan dengan Takengen.
Ketika saya lahir, Gayo Lues sudah bukan bagian dari kabupaten Aceh Tengah. Orang Gayo Lues yang bersekolah di Takengen meskipun ada tapi sudah sangat sedikit. Saat itu mereka lebih banyak yang bersekolah di Kuta Cane yang merupakan ibukota kabupaten Aceh Tenggara.
Kegiatan pertandingan olah raga, pentas seni Gayo, Didong dan aktivitas budaya apapun yang berkaitan dengan Gayo yang diselenggarakan di kabupaten Aceh Tengah sama sekali tidak pernah melibatkan Orang Gayo Lues. Akibatnya interaksi Orang Gayo Aceh Tengah dengan Orang Gayo Lues menjadi sangat jarang. Sehingga sedikit demi sedikit Gayo Lues menjelma menjadi identitas Gayo yang asing bagi kami orang Gayo Aceh Tengah. Begitu berjaraknya Gayo Aceh Tengah dan Gayo Lues, sampai-sampai Tari Saman Gayo yang merupakan kesenian khas Gayo yang banyak dimainkan oleh Orang Gayo Lues menjadi seni yang asing bagi kami orang Gayo Aceh Tengah. Demikian pula dengan Didong Jalu, kesenian yang sering kami mainkan di Aceh Tengah menjelma menjadi sebuah seni yang asing di mata orang Gayo Lues dan Serbejadi.

Memang ketika sedang berada di luar Tanoh Gayo. Orang Gayo Lues dan Orang Gayo asal Aceh Tengah merasa mereka adalah saudara. Tapi hubungan persaudaraan itu bisa dikatakan seperti hubungan antar sepupu. Bukan hubungan antar saudara kandung. Ada kedekatan tapi sekaligus ada jarak psikologis yang memisahkan kedua kelompok suku Gayo ini.

Contoh dari adanya jarak psikologis ini adalah ketika saya tinggal di Banda Aceh. Di kota ini saya banyak memiliki kenalan orang Gayo Lues. Tapi meskipun akrab, ketika berada di antara komunitas teman-teman asal Gayo Lues ini saya tidak merasa senyaman saat berada dalam komunitas Orang Gayo asal Aceh Tengah. Saat berada dalam komunitas Orang Gayo Lues ada banyak materi pembicaraan mereka yang tidak saya fahami yang membuat saya merasa sebagai orang luar. Pembicaraan yang membuat saya merasa sebagi orang asing itu biasanya berkaitan dengan daerah asal dengan segala permasalahannya. Entah itu pembicaraan tentang bupati, pacuan kuda atau kegiatan kesenian yang mereka lakukan, rencana kegiatan amal yang akan dilakukan saat liburan nanti dan sebagainya. Semua pembicaraan itu terdengar asing di telinga saya dan membuat saya merasa tidak berhak untuk melibatkan diri di dalamnya.

Hal seperti inilah yang sekarang mulai terjadi dalam hubungan antara Aceh Tengah dan Bener Meriah. Contohnya saya lihat ketika seorang adik sepupu saya ditabrak oleh seorang pengendara motor asal Simpang Tiga Redelong.

Dulu kalau kejadian seperti itu terjadi lalu kita tanyakan siapa pelakunya. Orang Takengen pasti menyebut 'Orang Simpang Tiga' yang secara psikologis dianggap sebagai 'kita'. Biasanya pula untuk menyelesaikan masalah seperti ini juga lebih mudah untuk dilakukan secara kekeluargaan. Berbeda misalnya jika pelakunya adalah orang 'Bireuen' yang dikategorikan sebagai ‘mereka’.

Tapi sekarang situasinya berbeda, orang Redelong yang menabraknya oleh adik sepupu saya disebut sebagai 'Orang Bener Meriah' yang oleh sepupu saya ini dipahami sebagai 'mereka'.

Munculnya perasaan sebagai 'kita' dan 'mereka' ini tidak hanya terjadi pada kalangan remaja seperti sepupu saya. Sentimen perpecahan semacam ini saya lihat mulai melanda semua kalangan.

Ketika berada di Takengen saya sempat mewawancarai seorang ulama berpengaruh yang sekarang menjabat ketua MPU Aceh Tengah. Beliau berasal dari Teritit, sekitar 10 Kilometer dari Takengen tapi sekarang setelah pemekaran masuk ke dalam wilayah Bener Meriah.
Wawancara itu saya lakukan di rumah beliau di Pasar Pagi.

Saat sedang mengobrol dengan saya, ulama yang sangat saya hormati ini menerima panggilan telepon dari seorang kerabat beliau di Jakarta. Dalam omongan via telepon yang mereka lakukan. Saya mendengar mereka berdua berbicara tentang penjualan tanah sebuah yayasan di Jakarta yang uangnya akan digunakan untuk membangun yayasan yang sama di Bener Meriah. Secara umum tidak ada yang terlalu istimewa dalam obrolan mereka. Tapi ada satu kalimat dalam obrolan mereka yang dilakukan dalam bahasa Gayo yang membuat saya yang Orang Gayo merasa bukan bagian dari mereka.

Saya tiba-tiba merasa menjadi orang asing. Ketika mendengar Tengku yang saya wawancarai ini berkata kepada lawan bicaranya. Yang artinya kurang lebih begini “Apa yang kamu lakukan itu baik sekali, karena memang siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk membangun daerah kita kalau bukan kita sendiri orang Bener Meriah”.

Saya merasa asing karena saya yang lahir di Takengen dengan Bapak yang berasal dari Isaq dan Ibu dari Temung Penanti yang kedua wilayahnya masuk dalam wilayah admistrasi kabupaten Aceh Tengah tidak termasuk dalam ‘kita’ yang mereka bicarakan. Saya yang bukan ‘Orang Bener Meriah’ tidak termasuk dalam kategori orang yang bisa diharapkan oleh ulama yang saya hormati ini untuk membangun daerah ‘kita’.

Apa yang bisa saya simpulkan dari percakapan antara Tengku yang saya hormati ini dengan kerabatnya di Jakarta yang berasal dari Teritit seperti yang saya ungkapkan di atas adalah; pemekaran sebuah wilayah Gayo tidak hanya membelah identitas kegayoan orang Gayo yang tinggal di wilayah yang dimekarkan. Tapi pemekaran wilayah juga ikut membelah identitas kegayoan Orang Gayo yang tinggal di luar Tanoh Gayo.

Sebagaimana dulunya Orang Gayo Deret dan Gayo Lut seperti saya mengasosiasikan diri sebagai Orang Takengen dan Orang Gayo Lues mengasosiasikan diri sebagai Orang Belang Kejeren. Tidak lama lagi orang Teritit sampai Tiga Lima akan menyebut diri mereka sebagai Orang Redelong.

Saya dan Orang Gayo Aceh Tengah lainnya akan tetap disebut dan mengaku sebagai Orang Takengen, tapi dengan kesadaran sebagai individu yang merupakan bagian dari komunitas besar Orang Takengen dengan jumlah anggota yang tinggal setengah dari populasi sebelumnya.


Wassalam

Win Wan Nur

Sabtu, 06 Desember 2008

Feodalisme, Montessori dan Punjabi

Jika para ekspat orang tua teman-teman anakku mengeluhkan mentalitas para pembantu Indonesia yang bekerja pada mereka. Hal sebaliknya terjadi pada keluarga kaya Indonesia baik itu orang kaya lama yang turun temurun bermental feodal atau orang kaya baru yang biasanya selalu ditindas dan dilecehkan kaget tiba-tiba jadi kaya. Dari banyak tipe orang kaya di Indonesia yang pernah saya temui, tipe terakhir ini biasanya adalah tipe yang paling menyebalkan. Karena biasanya sikap orang kaya tipe ini lebih feodal dari keluarga feodal yang memang sudah feodal turun temurun.

Dalam keluarga orang kaya bermental feodal, biasanya pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya kepada pembantu entah itu yang tidak berseragam atau yang berseragam yang merasa diri lebih keren dari teman sejawatnya serta lebih suka dijuluki dengan istilah berbahasa asing 'baby sitter'.

Anak orang kaya bermental feodal yang semasa kecil diasuh oleh pembantu ini biasanya kemudian tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang keras kepala dan egois. Anak-anak ini sampai dewasanya biasanya juga susah sekali mengaku salah apalagi meminta maaf. Sifat khas seperti ini muncul bukanlah karena kesalahan si anak tapi karena orang dewasa yang mengasuhnya. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini sejak kecil sebenarnya sedang dilatih untuk menjadi pribadi yang menyebalkan.

Metode latihannya misalkan jika si anak melakukan kesalahan. Orang dewasa yang ada di sekitar si anak tidak mengajarkannya untuk belajar dari kesalahan yang baru dia buat. Malah mencarikan kambing hitam buat disalahkan.

Contoh umum kejadian seperti ini yang saya lihat di setiap keluarga yang memiliki anak kecil. Paling gampang dilihat misalnya ketika seorang anak terjatuh di lantai akibat kesalahannya sendiri. Oleh orang dewasa di dekatnya yang biasanya pembantu, si anak bukannya diajari untuk berhati-hati dan menjadikan apa yang baru dialaminya sebagai pengalaman tapi malah lantainya yang dipukuli dan disalahkan. Begitu umumnya kejadian seperti ini di setiap keluarga Indonesia sampai-sampai seorang Anggun C. Sasmi, penyanyi internasional asal Indonesia yang sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeripun masih menerapkan metode pendidikan anak khas Indonesia ini pada anaknya. Jadi tidak usah heranlah jika sekarang orang Indonesia termasuk pejabat-pejabatnya susah sekali mengakui kesalahan dan selalu mencari kambing hitam atas semua kesalahan yang mereka buat.

Masalah lain yang sering dialami oleh anak-anak di rumah adalah Televisi. Saya membaca di berbagai media ada banyak orang tua yang mengeluh tentang kualitas acara televisi di Indonesia. Banyak yang mengeluh acara televisi merusak perkembangan anak dan lain sebagainya. Menyalahkan para Punjabi dan cukong-cukong India lain yang mencari nafkah dengan menjadi produser berbagai sinetron sebagai tidak nasionalis dan lain sebagainya.

Sekolah Montessori sangat tidak menganjurkan anak-anak yang berumur di bawah 6 tahun untuk menonton televisi meskipun itu acara yang ditonton itu adalah acara-acara TV yang mendidik semacam Sesame Street atau Little Einstein. Jika ini saja tidak dianjurkan apalagi game-game komputer semacam playstation tentu lebih tidak boleh lagi.

Alasan sekolah Montessori tidak menganjurkan menonton televisi bahkan untuk acara semacam Sesame Street dan Little Einstein adalah karena meskipun acara semacam itu mendidik, tapi menonton acara semacam itu membuat anak menjadi pasif. Tubuh mereka tidak bergerak, mereka tidak melatih perangkat motoriknya. Di samping itu efek buruk lain yang didapatkan anak-anak yang kecanduan televisi di usia yang terlalu dini ini adalah mereka memiliki kecenderungan mencampuradukkan kenyataan dan fiksi. Berlari, naik sepeda, melompat-lompat di atas tempat tidur atau Sofa jauh lebih bermanfaat bagi anak-anak dibandingkan menonton TV. Karena itulah sekarang TV di rumahku sama sekali tidak pernah lagi kami nyalakan.

Sebagai pengganti nonton TV, anakku yang tampaknya mewarisi bakat melukis dariku kubelikan kertas, spidol, cat air dan krayon. Sehingga sekarang melukis itulah aktivitas favoritnya. Setiap dia bosan melakukan aktivitas apapun, yang dia cari selau kertas dan spidol. Kemudian setiap sore anakku ditemani istriku main ke lapangan di kompleks perumahan tempat kami tinggal. Di sana istriku mengajarinya memanjat pohon mangga. Tiga kali seminggu di lapangan ini ada latihan Tae Kwon Do, jadi tiap kali di lapangan ini ada latihan anakku juga ikut-ikutan berlatih dengan anggota dojang lainnya.

Karena itu, berdasarkan alasan di atas. Menurutku keluhan dan tudingan para orang tua pada para produser sinetron berdarah India adalah keluhan dan tudingan yang sangat konyol dan salah alamat sebab solusi untuk semua keluhan mereka bukan berada di tangan para produser itu. Tapi ada di diri para orang tua itu sendiri. Solusinya sangat sederhana, matikan bahkan kalau perlu jual TV-nya. Habis Perkara.

Mungkin untuk melaksanakan solusi ini sulit pada awalnya. Anak-anak yang sudah terbiasa dengan televisi juga pasti akan protes. Tapi apa yang harus diketahui oleh semua orang tua di dunia, anak-anak adalah makhluk pembelajar terbaik di jagat raya. Ketika mereka melihat orang tuanya tidak pernah menonton TV dan konsisten dengan sikap itu. Kemudian anak-anak itu juga diberi alternatif aktivitas lain maka anak-anak itu pasti akan segera melupakan televisi.

Jadi kesimpulannya, kalau sekarang banyak anak-anak yang perilakunya jadi aneh dan menyimpang karena Televisi, salahkanlah orang tuanya bukan Punjabi, Parwez atau Soraya apalagi si Anak.

Wassalam

Win Wan Nur

Kamis, 04 Desember 2008

Montessori, Pendidikan Anak dan Pembantu Indonesia

Kemarin istriku yang baru pulang dari pertemuan di sekolah anakku menelponku untuk menceritakan hasil pertemuan tentang kemajuan yang dicapai oleh anak kami selama sekolah dan juga kendala-kendala yang dia hadapi. Pertemuan yang diikuti istriku ini adalah semacam acara pembagian rapor di sekolah-sekolah tradisional.

Di TK Montessori tempat anakku sekolah, mereka tidak mengenal yang namanya penilaian dan laporan tertulis apalagi pemberian rangking. TK dan SD Montessori tidak pernah mengklasifikasikan murid-muridnya ke dalam klasifikasi bodoh dan pintar. Di sekolah ini setiap anak diperlakukan sebagai pribadi yang unik yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itulah Montessori menganggap adalah tidak mungkin menilai kemampuan seorang anak dengan ukuran angka. Cara Montessori melaporkan perkembangan anak adalah dengan mengundang orang tua untuk menyaksikan aktivitas anak mereka di kelas selama setengah jam. Lalu kemudian apa yang disaksikan selama setengah jam itu didiskusikan dengan guru yang di Montessori disebut 'Direktris'.

Yang menjadi direktris di kelas rose, kelas anakku adalah Valda, gadis Amerika berumur 26 tahun. Di samping aku dan istriku, Valda yang cantik dan sangat ramah ini termasuk salah satu orang yang paling diidolakan oleh anakku. Kepada istriku Valda menceritakan kalau anakku memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal berkonsentrasi. Menurut Valda anakku mampu mengerjakan aktivitas yang dia suka sampai selesai tanpa terganggu oleh suara gaduh teman-temannya. Daya serap terhadap informasi baru juga sangat baik. Ada beberapa hal positif lain yang disebutkan Valda tentang anakku.

Anakku yang tanggal 7 Desember nanti akan tepat berumur 4 tahun sekarang sudah bisa menyiapkan semua kebutuhannya sendiri tanpa perlu dibantu oleh orang dewasa. Itu bisa terjadi karena di sekolah Montessori ini anak-anak diajarkan untuk mandiri. Di sini anak-anak dibiasakan memakai sepatu sendiri, selesai makan mencuci piring sendiri, bahkan beberapa anak yang mengompol di kelaspun diajarkan untuk mengepel lantai dan mencuci celana bekas ompolannya sendiri.

Di samping mengajarkan kemandirian, aktivitas seperti itu juga melatih keterampilan motorik anak. Karena memang anak-anak yang masih berumur tiga tahun ini dalam tahapan psikologi perkembangan dikatakan masih berada dalam masa peralihan dari tahap perkembangan 'sensori motorik' ke masa 'pra operasional'.

Berdasarkan hasil dari banyak riset, para ahli menyimpulkan bahwa mengarahkan anak-anak sangatlah mudah. Melatih anak-anak untuk bisa mandiri seperti yang dilakukan di sekolah Montessori juga sangat mudah, karena anak-anak pada umur-umur TK seperti anakku ini perilakunya masih sangat mudah dibentuk. Yang menjadi masalah terbesar dalam membentuk kemandirian anak selalu datang dari orang tua dan orang dewasa lain yang berada di sekitar si anak. Berdasarkan pengalaman Montessori yang sudah nyaris seabad eksistensinya mereka juga menemukan bahwa semua kegagalan yang dialami oleh anak dalam mengikuti metode Montessori selalu berasal dari orang tua.

Karena itulah sebelum menerima seorang murid di sekolah ini, fihak Montessori terlebih dahulu melakukan seleksi ketat. Yang mereka test dalam proses seleksi tersebut bukan si anak yang menjadi calon murid melainkan orang tuanya. Hanya anak dari orang tua yang memiliki kesepahaman dengan Montessori yang bisa diterima di sekolah ini. Seleksi semacam itu mereka lakukan supaya program yang mereka buat dapat berjalan optimal. Sebab kalau orang tua tidak memiliki cara pandang yang sama dengan Montessori dalam mendidik anak. Apa yang didapatkan anak di Montessori akan sia-sia karena di rumah anak-anak yang sudah diajari mandiri ini kembali dilayani, biasanya oleh pembantu. Lalu jika anak seperti ini ada di Montessori, kebiasaan dilayani yang dia dapatkan di rumah akan dia bawa ke sekolah dan anak inipun akan menularkan mentalitas feodalnya itu kepada anak-anak yang lain. Dan hancurlah semua program yang dibuat Montessori.

Masalahnya biaya pendidikan di Montessori yang terbilang cukup mahal membuat anak-anak yang mendaftar ke sana selalu berasal dari kalangan mampu. Yang menjadi masalah dengan orang-orang yang berasal dari kalangan ini, biasanya mereka selalu memiliki pembantu di rumah. Para pembantu itu bertugas mengurusi semua keperluan anggota keluarga tersebut, termasuk anak-anak Balita yang sedang berada dalam tahapan psikologis sensori motorik dan pra operasional. Padahal anak-anak seumuran itu seharusnya dibiarkan melakukan berbagai aktivitas motorik untuk melatih keterampilan geraknya. Tapi karena diumur-umur seperti itu anak-anak ini malah dilayani bagaikan raja dan ratu. Akibatnya kemandirian dan kemapuan motorik anak-anak itu tidak berkembang dan merekapun tumbuh menjadi anak manja.

Situasi yang dihadapi kaum kaya ini diperburuk oleh kenyataan bahwa mereka tinggal di Negara yang bernama Indonesia. Di negara ini sulit sekali mencari pembantu yang punya mental orang merdeka yang bisa memandang majikan di tempatnya bekerja sebagai manusia yang setara. Hal ini sangat sering dikeluhkan oleh para orang tua murid di Montessori yang saya kenal ketika kami mengobrol di setiap acara pertemuan orang tua.

Di Indonesia ini para pembantu, baik yang berseragam maupun tidak. Hampir bisa dikatakan seluruhnya bermental Abdi Dalem yang dalam hubungan profesionalnya ketika bekerja selalu menempatkan diri sebagai alas kaki tuannya. Padahal para orang tua anak-anak Montessori yang saya kenal rata-rata adalah para ekspat berjiwa humanis yang tidak pernah menganggap pembantu di rumah mereka sebagai orang yang derajatnya lebih rendah. Tapi masalahnya mentalitas menghamba di kalangan kaum pembantu di Indonesia ini memang sudah berurat dan berakar karena tradisi. Inilah yang dikeluhkan para orang tua teman-teman anakku. Mereka mengeluh karena mereka sangat menyadari kalau keberadaan pembantu model begini di sekitar anak-anak mereka yang sedang mencari bentuk jati diri, betul-betul merusak.

Wassalam

Win Wan Nur

Rabu, 03 Desember 2008

Takengen Setelah 10 Tahun

Dua hari setelah acara konferensi di Hermes Palace saya berangkat ke Takengen, kota kelahiran saya yang sudah cukup lama tidak pernah saya kunjungi.

Tidak banyak yang berubah dari Kota ini, kecuali jalan dua jalur dari Paya Tumpi menuju pusat kota ditambah dengan lampu lalu lintas di simpang empat dan simpang Polres. Selebihnya pusat Kota Takengen, secara fisik bisa dikatakan masih persis sama seperti saat saya masih SD dulu.

Di sekitar pasar pagi saya lihat rumah-rumahnya tetap rumah papan dua tingkat berbentuk ruko sebagaimana yang pernah saya ingat saat saya pertama kali bisa mengingat. Sedikit perubahan baru terasa saat saya melintas daerah sekitar pasar Inpres. Ada banyak bangunan ruko yang baru dibangun di sana ditambah dengan keberadaan sebuah restoran mahal berkelas nasional yang rasa makanannya sama sekali tidak jelas dan sama sekali tidak istimewa. Gurami Goreng Asam manis di Restoran ini rasanya hambar sehingga butuh sedikit perjuangan dan sedikit kenangan terhadap bayi kurang Gizi di NTB sana untuk bisa menghabiskannya. Jika rasa Gurami Asam manis di restoran ini saya bandingkan dengan rasa gulai bandeng di warung Yusra Baru di Simpang Lima. Perbandingannya seperti rasa gula jawa berbading rasa coklat bulat Home Made bersertifikat buatan Swiss yang berlapis lima dengan tiap lapis masing-masing memiliki variasi rasa yang berbeda.

Yang lain jika bisa dikatakan sebagai perubahan adalah penampilan mesjid raya Ruhama yang sekarang jadi terlihat aneh dengan kubah-kubah baru berwarna emas yang bukannya membuat mesjid ini tampak lebih indah justru sebaliknya membuatnya jadi terlihat norak dan 'nggak matching' dengan lingkungan sekitarnya.

Selain perubahan negatif pada penampilan Mesjid Ruhama, saya juga melihat sebuah perubahan lain pada wajah kota ini yang sangat saya sesalkan. Perubahan ini sangat saya sesalkan karena tidak seperti perubahan penampilan mesjid Ruhama yang suatu saat bisa saja diubah kembali jika Takengen beruntung dipimpin oleh Bupati yang punya cita rasa seni, perubahan yang satu ini adalah cacat permanen terhadap wajah cantik kota Takengen. Cacat permanen yang dibuat sendiri dengan sengaja dan berbiaya mahal pula.

Dulu Kota Takengen dikenal sebagai kota dataran tinggi yang indah, kota yang dikelingi gunung-gunung yang ditumbuhi hutan pinus alami yang keindahannya menyatu dengan lansekap kota ini. Salah satu di antara gunung-gunung yang menyatu membentuk kecantikan alami kota Takengen itu adalah Bur ni Pereben yang terletak tepat di belakang rumah saya. Gunung ini dulu pernah ditanami pohon pinus yang membentuk aksara yang akan terbaca sebagai kata GAYO. Tapi sayangnya pohon pinus yang membentuk kata GAYO itu tidak pernah besar karena selalu terbakar di musim kemarau.

Sekarang Bur ni Pereben, gunung yang merupakan salah satu latar belakang dan ciri utama kota Takengen ini terlihat jelek sekali. Bur ni Pereben terlihat jelek karena di gunung ini Pemerintah Aceh Tengah membangun jalan yang sama sekali tidak jelas peruntukannya. Jalan itu dibangun tepat di bagian tengah antara kaki dan puncak gunung ini, tepat menghadap Kota Takengen melintang dari Bale sampai ke ujung desa Dedalu. Jalan yang dibangun entah untuk manfaat apa ini membuat penampilan gunung cantik ini tampak cacat sehingga merusak seluruh aspek keindahan kota Takengen. Akibat dari cacat yang sengaja dibuat pada 'wajah' Bur ni Pereben ini, kota Takengon yang cantik sekarang terlihat seperti Luna Maya dengan codet besar melintang di pipi.

Di gunung lain yang letaknya tepat di seberang gunung ber'codet' ini. Di sisi lain danau Laut Tawar di daerah Kebayakan sekitar Mendale, tampak bendera merah putih ukuran besar yang sepertinya dibuat dari beton. Bendera ini dibuat dengan sangat baik dan dapat dilihat dari seluruh bagian Kota Tekengen.

Meskipun ada beberapa perubahan negatif pada fisik kota ini tapi perubahan-perubahan itu tidak cukup signifikan untuk sampai membuat saya merasa merasa asing sebagaimana yang terjadi pada saya ketika saya tiba di Banda Aceh, kota yang membesarkan saya menjadi manusia dewasa. Apa yang saya rasakan di Takengen terbalik dengan apa yang saya rasakan di Banda Aceh.

Di Banda Aceh saya merasa asing dengan tampilan baru kotanya tapi tidak dengan orang-orangnya. Saya tidak merasa asing karena ketika saya mulai berbicara dengan orang-orang Banda Aceh, saya langsung dapat merasakan semangat yang sama seperti yang saya rasakan dulu ketika saya masih menjadi penduduk resmi kota ini. Meskipun secara materi apa yang diomongkan sudah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu tapi saya dapat melebur dengan orang-orang Banda Aceh langsung pada saat itu juga, meskipun orang yang saya ajak mengobrol itu belum pernah saya kenal sebelumnya.

Berkebalikan dengan Takengen, saya merasa sangat familiar dengan tampilan fisik kotanya tapi langsung merasa asing ketika saya mulai berbicara dengan penduduk kota kelahiran saya ini. Ketika berbicara dalam bahasa Gayo dengan mereka, terutama dengan kalangan mudanya. Saya langsung merasakan ada perubahan yang asing dalam cara, nada bicara dan istilah-istilah yang mereka gunakan.

Saya yang terlahir dengan bahasa ibu 'Gayo' tentu saja sangat fasih berbahasa Gayo karena bahasa inilah bahasa yang pertama kali saya kenal dalam hidup saya. Tapi selama kurun waktu 10 tahun belakangan ini bahasa Gayo yang saya gunakan sama sekali tidak mengalami perkembangan, karena dalam kurun waktu itu bisa dikatakan saya terisolasi penuh dari komunitas utama penutur bahasa Gayo. Ketika sekarang, saya penutur asli bahasa Gayo yang mengenal bahasa Gayo versi lama tiba-tiba masuk kembali ke dalam komunitas utama penutur bahasa Gayo di Kota Takengen ini. Secara ajaib tiba-tiba saya merasa sedikit asing dengan bahasa ibu saya ketika bahasa itu dituturkan oleh orang Gayo lain yang menetap di tempat asli bahasa ini berkembang.

Saat berbicara dengan orang-orang Takengen saya menemukan banyak kata-kata janggal serapan dari bahasa Melayu versi Indonesia dalam kosa kata bahasa Gayo mereka, kosa kata yang dulu sama sekali tidak pernah saya kenal.

Kosa kata baru itu misalnya kata 'kayak e' yang merupakan terjemahan dari bahasa Indonesia 'sepertinya'. Dulu saat saya masih berada dalam komunitas ini, saya dan orang orang Gayo lainnya menggunakan kata 'nampak e' untuk terjemahan kata ini. Sebagaimana halnya ketika saya masih sering pulang ke Takengen dulu, sampai sekarangpun saya masih tetap menggunakan istilah 'nampak e' ketika konteks ini saya gunakan saat saya berbicara dalam bahasa Gayo dan semua orang gayo yang saya kenal juga menggunakan kata itu. Tapi sekarang, pilihan kata yang saya gunakan ini terdengar janggal di telinga orang Gayo yang tinggal di Takengen. Sayapun juga demikian, saya merasa janggal dengan kata baru yang mereka gunakan, yaitu 'kayak e' yang merupakan peng'gayo'an dari kata bahasa Melayu versi Indonesia 'Kayaknya'.

Masih banyak kosa kata baru lainnya yang sekarang umum mereka gunakan tapi dulu tidak pernah saya kenal. Kata-kata itu misalnya untuk mengatakan besarnya, sekarang beberapa orang Gayo yang saya temui mengatakan 'besar e', bukan lagi 'kul e' yang merupakan kosa kata asli bahasa Gayo. Demikian juga untuk pemakaian istilah dalam kata-kata lain seperti kata 'duduk' dan 'teman' misalnya. Sekarang anak muda di Takengen saya lihat cenderung lebih suka menggunakan kata serapan dari bahasa melayu tersebut ketimbang kosa kata asli bahasa Gayo 'kunul' dan 'pong'.

Kejanggalan lain yang saya rasakan ketika berada di Takengen adalah ketika saya menyaksikan pergaulan antara muda-mudi di kota ini. Saya amati kalau sekarang pergaulan antar jenis anak-anak muda Takengen sudah jauh lebih bebas dan terbuka dibandingkan pergaulan muda-mudi pada saat saya masih seumuran mereka dulu. Perbedaan itu tampak sangat mencolok ketika saya memperhatikan perilaku dan penampilan gadis-gadis muda kota Takengen. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan penampilan dan perilaku umum gadis-gadis muda di masa saya masih ABG dulu.

Ada dua perbedaan mencolok yang saya lihat; pertama dibandingkan dengan gadis-gadis muda pada masa saya, gadis-gadis muda Takengen sekarang terlihat jauh lebih tidak malu-malu menunjukkan kemesraan terhadap pasangan ABG mereka di depan umum, perilaku mereka sekilas sangat mirip seperti perilaku ABG-ABG dalam Sinetron yang diputar di berbagai saluran TV swasta. Perbedaan kedua, yang sangat jelas terlihat ada pada penampilan fisik. Tidak seperti gadis-gadis muda di masa saya ABG dulu yang rata-rata keindahan rambutnya bisa bebas kita nikmati, sekarang kepala gadis-gadis muda kota Takengen yang enerjik itu semuanya ditutupi jilbab atau kerudung.

Begitulah kesan awal kunjungan saya sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Takengen dan sekaligus penutur asli bahasa Gayo terhadap kota terbesar di tanah Gayo ini.

Wassalam

Win Wan Nur

Selasa, 25 November 2008

Represi Kultural, Minorities Within Minorities dan Isu ALA

Tanggal 19 November yang lalu, bertempat di Hotel Hermes Palace, saya mengikuti konferensi internasional yang diprakakarsai oleh Interpeace dan ASEM networks. Konferensi yang diberi tema “Locals, “Outsiders” and Conflict ini salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi baru dan analisa yang solid tentang bagaimana komunitas lokal dan komunitas pendatang mempengaruhi dinamika perdamaian dan konflik.

Berbeda dengan diskusi di acara peluncuran buku yang saya hadiri dua hari sebelumnya, dalam konferensi yang dihadiri oleh banyak ahli dari berbagai negara dengan membawa informasi dan pengalaman masing-masing dalam memetakan dan menangani konflik ini saya menemukan banyak informasi baru yang dapat digunakan untuk memetakan dan menemukan solusi yang tepat untuk menangani situasi perpolitikan Aceh saat ini.

Khusus untuk memahami permasalahan yang terjadi di kampung halaman saya berkaitan dengan isu ALA. Saya merasa sangat tertarik pada makalah dari dua pembicara dalam konferensi ini. Pertama makalah dari pembicara asal Aceh, Dr.Humam Hamid yang dan yang kedua adalah makalah dari pembicara asal Barcelona, Dr.Jordi Urgell.

Dalam makalahnya dia beri judul ‘Dynamics of Ethnic Relationships in Aceh’ Dr.Humam mengatakan bahwa berkembangnya isu diskriminasi etnis di Aceh belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah dan masyarakat Aceh pesisir yang merupakan etnis dominan di provinsi ini yang kurang menghormati budaya etnis minoritas yang juga merupakan penduduk asli provinsi Aceh.

Makalah Dr.Humam ini menarik bagi saya karena ide-ide yang ditulis Dr.Humam dalam makalahnya banyak yang sejalan dengan pandangan saya selama ini. Misalnya dalam berbagai tulisan yang saya post di blog saya www.winwannur.blogspot.com dan www.gayocare.blogspot.com, saya selalu membedakan antara Aceh sebagai sebuah wilayah dan Aceh sebagai sebuah etnis. Aceh sebagai etnis adalah Orang Aceh yang tinggal di pesisir, sedangkan Aceh sebagai sebuah wilayah adalah Aceh yang dihuni oleh 9 macam etnis penduduk asli.

Seperti yang sering saya nyatakan dalam berbagai tulisan saya. Dalam makalahnya Dr.Humam juga menjelaskan hal yang sama. Sayangnya menurut Dr.Humam kenyataan ini tidak disadari atau pura-pura tidak disadari oleh etnis Aceh dan juga pemerintah Aceh yang didominasi oleh orang Aceh yang berasal dari etnis Aceh.

Dalam kultur yang plural seperti di Aceh ini idealnya etnis-etnis minoritas yang juga merupakan penghuni asli wilayah Aceh diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri baik secara politik, ekonomi maupun budaya.

Saya sangat setuju dengan pandangan Dr.Humam karena kenyataannya dominasi suku Aceh dalam setiap aspek kehidupan di provinsi ini memang sangat terasa. Bahkan dalam hal berkesenianpun. Ketika orang Aceh memperkenalkan kesenian Aceh ke dunia luar, baik dalam maupun luar negeri. Yang selalu ditonjolkan adalah kesenian Aceh pesisir. Seolah-olah semua kesenian yang ada di Aceh ini hanyalah kesenian milik Aceh pesisir. Padahal kesenian etnis lain juga banyak yang tidak kalah menariknya. Misalnya dalam seni tari selain Seudati yang merupakan tari klasik Aceh pesisir dan berbagai tarian Aceh pesisir kreasi baru lainnya. Sebenarnya di Aceh ada banyak tarian klasik dari suku lain misalnya Saman Gayo, Tari Bines dan Tari Guel yang berasal dari Gayo. Saya yakin ada banyak tarian asli Aceh lain milik suku Tamiang, Singkil, Kluet, Aneuk Jamee dan lain-lain, tapi semua jarang sekali ditampilkan sehingga orang luar hanya mengenal kesenian Aceh hanyalah kesenian Aceh pesisir.

Orang Gayo yang merupakan etnis terbesar kedua di provinsi ini setelah ertnis Aceh seringkali merasa mereka direpresi oleh suku Aceh secara kultural. Banyak orang Gayo yang merasa eksistensi kultural mereka diabaikan oleh orang Aceh. Tapi di sisi lain orang Gayo melihat beberapa karya budaya mereka dibajak dan diakui sebagai karya budaya milik suku Aceh. Misalnya banyak seni tari Aceh kreasi baru sebenarnya adalah tarian modifikasi dari tarian klasik milik suku Gayo terutama tari Saman Gayo. Tapi oleh seniman yang menciptakannya tarian hasil modifikasi itu dinamai dengan berbagai nama khas Aceh pesisir tanpa sedikitpun menjelaskan bahwa tarian itu adalah hasil adaptasi dari tari Gayo klasik yang bernama tari Saman. Karena tidak ada penjelasan, para penonton yang menikmati tarian itu merasa seolah-olah bahwa tarian yang mereka saksikan dengan penuh kekaguman itu adalah tarian klasik Aceh pesisir. Ini sangat menyakitkan bagi orang Gayo.

Hal yang sama juga terjadi dengan karya seni bordir khas orang Gayo yang disebut Kerawang Gayo. Karya seni Kerawang Gayo ini adalah karya cipta kebanggaan orang Gayo. Motif-motif bordirannya yang khas dapat kita lihat dalam sertiap pakaian adat orang Gayo. Tapi ketika belakangan orang-orang Aceh pesisir mulai mempelajari teknik pembuatan kerawang dan mulai memproduksi kerajinan kerawang. Merekapun mulai memperkenalkannya karya seni ini sebagai Kerawang Aceh. Sama seperti dalam hal tarian dalam hal inipun orang Gayo yang minoritas merasa dirampok.

Kebetulan dalam konferensi ini panitia menghadirkan pertunjukan tarian Aceh sebagai selingan saat jeda menjelang coffee break pertama. Salah satu tari yang ditampilkan adalah tarian Aceh kreasi baru yang banyak menampilkan gerakan-gerakan Saman Gayo dalam koreografinya. Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, saat saya menanggapi pemaparan makalah Dr. Humam. Tarian yang ditampilkan ini langsung saya angkat sebagai salah satu contoh kurangnya penghormatan terhadap budaya minoritas.

Dalam forum yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara ini saya katakan bahwa tarian itu adalah salah satu bentuk pembajakan terhadap karya seni milik suku minoritas oleh suku mayoritas. Ketika menyebut kata pembajakan dalam forum ini saya menggunakan kata ‘hijack’ bukan ‘piracy’. Kata ini saya pilih karena saya menganggap kata ‘hijack’ lebih tepat untuk menggambarkan kasarnya aktivitas pembajakan kultural yang dilakukan oleh suku Aceh terhadap karya seni orang Gayo ini.

Pernyataan saya itu sepenuhnya diamini oleh Dr.Humam. Beliau sama sekali tidak menampik apa yang saya paparkan, malah beliau menambahkan kalau selama ini memang banyak hambatan kultural dan dominasi etnis Aceh pesisir yang membuat etnis-etnis minoritas di provinsi ini merasa asing di tanah mereka sendiri.

Setelah hal itu saya ungkapkan di forum ini, banyak peserta konferensi dari luar negeri yang mendekati saya untuk menanyakan lebih jauh tentang tari Saman Gayo yang gerakan-gerakannya dibajak oleh tari Aceh yang kami saksikan tadi dan dengan senang hati saya jelaskan. Sayangnya tidak semua konferensi internasional tentang Aceh atau pertunjukan seni Aceh dihadiri oleh orang Gayo.

Perasaan-perasan negatif yang dirasakan oleh etnis minoritas seperti ini, jika terus dibiarkan terjadi di provinsi yang pernah lama berada dalam situasi konflik ini tidak bisa tidak, pasti akan menghadirkan konflik baru antara mayoritas dengan minoritas. Bibit-bibit konflik ini sudah mulai disemai dengan cara mengeksploitir isu dominasi suku Aceh atas suku Gayo oleh orang-orang yang menamakan dirinya pejuang ALA.

Sebenarnya situasi seperti yang kita alami di Aceh sekarang ini adalah situasi yang jamak terjadi di wilayah dunia manapun yang pernah mengalami konflik vertikal.

Dr.Jordi Urgell dari School for a Culture of Peace, Autonomous University of Barcelona yang juga menjadi pembicara dalam konferensi yang saya hadiri ini. Dalam makalahnya yang dia beri judul ‘Minorities Within Minorities in South East Asia’, mengatakan bahwa dalam banyak konflik antara pusat yang mayoritas dengan daerah yang merupakan minoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak dari konflik itu terjadi disebabkan oleh cara pemerintah sebuah negara yang memperlakukan kelompok minoritas dengan cara pikir dan pola perlakuan ala kelompok mayoritas di negara tersebut.

Tapi ketika konflik terselesaikan dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas secara nasional. Hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang merupakan minoritas secara lokal (minorities within minorities). Konflik sering terjadi karena kelompok yang merupakan minoritas secara nasional yang kini menjadi mayoritas secara lokal melalui kekuasaan yang lebih besar yang baru mereka dapatkan memperlakukan minorities within minorities ini seperti mereka dulu diperlakukan oleh kelompok mayoritas nasional sehingga minorities within minorities merasa terancam eksistensinya.

Perlakuan ini misalnya bisa dilihat dari sikap Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh di depan publik yang sering tidak menunjukkan rasa hormat kepada suku-suku Aceh minoritas. Sikap itu mereka tunjukkan dengan perilaku berbahasa mereka yang hanya mau berbahasa Aceh kepada orang Aceh mana saja yang menjadi lawan bicara mereka, tidak peduli asal-usul sukunya.

Situasi seperti ini seringkali membuat minorities within minorities merasa lebih terjamin eksistensinya ketika kelompok yang minoritas secara nasional ini masih dalam posisi minoritas.

Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan dari bingkai ini.

Wassalam

Win Wan Nur