Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu kunantikan dengan antusias kedatangannya. Bulan ini menjadi istimewa bagiku karena di bulan ini ada sebuah ibadah istimewa yang bernama Syiam atau PUASA.
Kaum Deist, atheis dan para penganut kepercayaan yang berbeda denganku mungkin merasa lucu melihat perilakuku ini. karena secara logika ibadah umat Islam ini yang menuntut umat yang meyakininya ini menahan lapar dan haus seharian ini adalah perilaku konyol dan sangat tidak masuk akal. Tapi bagiku yang terlahir dan dibesarkan dalam tradisi Islam, bulan ini memang selalu istimewa.
Ibadah ini menjadi istimewa bagiku bukan karena belakangan beberapa ahli beragama Islam yang membuat berbagai penelitian tentang ibadah ini yang hasilnya kemudian dipublikasasikan, yang katanya mereka berhasil membuktikan bahwa berpuasa baik untuk kesehatan.
Tapi ibadah ini menjadi istimewa bagiku karena karakter ibadah ini yang sepenuhnya memberikan hak untuk menilai benar tidaknya ibadah ini dijalankan kepada orang yang menjalankan ibadah ini sendiri, bukan orang lain. Yang tahu apakah ibadah itu benar dijalankan atau tidak hanya orang yang menjalankannya, bukan orang lain.
Kebaikan yang diurusi oleh orang berpuasa juga kebaikan untuk dirinya sendiri, bukan kebaikan untuk orang lain sehingga orang lain tidak perlu mengagumi.
Ini yang membuat ibadah ini berbeda dengan ibadah lainnya baik yang wajib seperti Shalat, Zakat, Haji maupun ibadah sunah semacam bersedekah shalat sunah dan juga membaca serta mengkaji Al Qur'an.
Berbeda dengan puasa, ibadah lain yang biasanya melibatkan orang lain, dalam pelaksanaannya membuat orang yang melakukan ibadah punya peluang untuk mendapat'tepuk tangan' dan 'kekaguman' atau sekedar pujian dari manusia lain. 'Tepuk tangan' dan 'Kekaguman' atau pujian dari manusia lain adalah tiga hal yang cenderung membuat orang yang menjadi sasaran tepuk tangan dan kekaguman itu sering tanpa sadar terjebak menjadi sombong, baik sombong yang bersifat aktif seperti sikap angkuh dan merasa paling hebat maupun sombong yang bersifat pasif yang membuat orang bersikap terlalu merendah untuk meninggikan mutu diri.
Aku menemui banyak sekali ahli ibadah, orang yang banyak melakukan shalat, banyak mengkaji dalil-dalil agama yang terjebak menjadi orang SOMBONG sehingga tidak lagi proporsional dalam menilai diri sendiri entah itu SOMBONG AKTIF yang menilai diri terlalu tinggi, atau menjadi SOMBONG PASIF yang membuat orang jenis ini terlalu amat sangat merendahkan diri sendiri. Ahli ibadah jenis ini biasanya adalah orang-orang yang merasa hidupnya begitu penuh dosa di masa lalu, karenanya hidupnya begitu tidak berharga dibandingkan nikmatnya akhirat yang abadi selamanya. Dengan cara pandang terhadap diri seperti itu, ahli ibadah tipe ini kadang tidak merasa ragu sedikitpun untuk menukar nyawanya demi menebus semua dosa masa lalu, untuk memastikan satu tempat di Sorga yang tak terpermanai indah dan nikmatnya, demi memastikan kalau saat di akhirat nanti akan ada 70 (atau 77) bidadari menyambutnya di gerbang taman firdaus.
Untuk ahli ibadah jenis kedua ini, aku teringat seorang temanku saat kuliah di ekstensi dulu. Dia tamatan Politeknik Lhokseumawe yang melanjutkan kuliah di program ekstensi untuk mendapatkan gelar sarjana.
Sebagaimana umumnya anak-anak Politeknik yang sudah selesai kuliahnya, temanku ini sering mendapat pekerjaan di berbagai proyek konstruksi, dari uang hasilnya bekerja itu teman saya ini bisa membeli berbagai perangkat hiburan semacam Televisi dan DVD Player, perangkat mewah yang tidak bisa dimiliki oleh kami-kami yang belum bekerja.
Temanku ini anaknya agak bandel, sebagaimana umumnya anak muda seumuran kami yang agak bandel dan tinggal di Banda Aceh, dia suka mengisap ganja dan juga senang menonton film dewasa. Saya yang beberapa kali berkunjung ke tempat kosnya di Kampung Keramat sering memanfaatkan fasilitas miliknya itu pernah menemukan berbagai jenis film dewasa dalam tumpukan VCD dan DVD yang dia punya, dengan bintang-bintang mulai dari Jeena Jameson sampai Asia Carrera, saat itu belum ada Maria Ozawa.
Karena agak bandel dan punya banyak relasi dari berbagai kalangan, sesekali teman saya ini berperan sebagai agen penjualan motor curian. Aku sendiri bergaul dengan dia sejauh pergaulan itu tidak melewati batas-batas yang aku buat sendiri.
Saat demo reformasi meledak, sebagaimana umumnya mahasiswa zaman itu akupun ikut-ikutan di dalamnya. Situasi keamanan di Banda Aceh jadi tidak menentu, program ekstensi yang kuliah malam dihentikan sementara. Sejak itu aku jadi tidak pernah lagi bertemu dengannya.
Ketika situasi keamanan membaik aku tidak pernah lagi kembali ke kampus untuk kuliah karena aku sudah mulai sibuk dengan bisnis dan pekerjaanku yang menuntut aku untuk sering berpergian keluar dari Banda Aceh.
Aku bertemu lagi dengannya sekitar tiga tahun setelah reformasi, rupanya saat itu dia sudah pindah ke Lamprit, beberapa lorong di belakang tempat tinggalku. Saat itu menjelang shalat ashar, aku duduk mengobrol sambil minum kopi di Kantin Selekta di simpang jalan Cumi-cumi. Kulihat temanku ini lewat di depan jalan utama Lamprit. Kulihat dia memakai sarung yang menutupi bagian bawah badannya sampai di atas tumit, dia mengenakan penutup kepala untuk shalat dan dagunya sudah ditumbuhi jenggot. Mengingat sosoknya yang kukenal sebelumnya, aku merasa aneh melihatnya dengan kostum dan penampilan seperti itu.
Tapi meskipun penampilannya sudah sangat berbeda dengan yang kukenal sebelumnya, wajahnya tetap sangat kukenal. Saat melihatnya aku langsung memanggilnya dan dia menoleh dan wajahnya terlihat gembira ketika melihatku 'assalammu'alaikum', katanya. Aku menjawab salamnya dengan perasaan aneh karena biasanya orang mengucapkan salam seperti itu padaku hanya anak-anak fosma atau orang-orang yang berbicara dalam pertemuan formal, sementara dengan teman-teman biasa termasuk dengan temanku ini, aku sama sekali tidak pernah bersikap formal seperti itu sebelumnya.
Selanjutnya karena aku sering nongkrong di Selekta dan diapun selalu shalat di Mesjid Lamprit, akupun makin sering bertemu dengannya. Kadang aku shalat maghrib di Mesjid Lamprit dan kami pulang bersama. Saat pulang bersama itu atau saat selesai shalat dan dia selesai melaksanakan shalat sunat muakkad, kami sering mengobrol. Saat itulah aku tahu kalau temanku ini sudah sangat berbeda dengan yang pernah kukenal sebelumnya.
Saat itu di keningnya sudah ada dua titik yang menghitam, wajahnya tampak selalu tersenyum dan dia selalu terlihat bahagia. Saat kuperhatikan ketika dia sedang shalat sunat langsung di atas lantai marmer Mesjid Lamprit, kulihat dia melakukannya dengan khusuk sekali.
Suatu saat ketika berbincang dengannya, dia mengatakan padaku betapa hidupnya saat ini begitu tenang. Dia mengatakan begitu menyesal dengan masa lalunya yang dia katakan sama sekali tidak berguna, dan hidupnyapun sama sekali tidak berharga dan kini masa lalu itu akan dia kubur dan akan dia tebus dengan penyerahan diri total pada yang kuasa. Supaya saat mati nanti, di akhirat dia bisa mendapatkan sorga yang tak terkatakan indah dan nikmatnya. Dia tak lupa pula menjelaskan padaku betapa singkat dan tidak berarti dan tidak berharganya hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi.
Ketika berbicara dengannya, aku seperti dipaksa untuk hanya menerima masukan satu arah darinya saja tanpa dia mau mendengarkan sama sekali pandangan berbeda yang aku sampaikan. Beberapa kali kulihat dia seperti merasa kasihan melihatku yang masih larut dalam urusan 'dunia' yang menurutnya sama sekali tidak ada nilainya.
Di waktu lain kulihat dia mengenakan kaos bergambar Osama Bin Laden yang ditulis dengan nama Usamah Bin Ladin " Win, ini pahlawan Islam", katanya padaku dengan sorot mata yang dingin sambil menunjukkan gambar pada T-shirt yang dia kenakan.
Sebenarnya aku ingin mendebat apa yang dia katakan tapi aku tahu dari pengalaman sebelumnya, itu hanya perbuatan sia-sia karena baginya apa yang dia ketahui sekarang adalah kebenaran satu-satunya dan tidak ada lagi kompromi dengan 'kebenaran' lainnya. Karena itulah meskipun dia beberapa kali mengajakku mengikuti pengajian yang dia ikuti, aku selalu menolaknya.
Banyak orang di lingkungan baru temanku ini yang memuji perubahan ke arah 'kebaikan' yang telah dia lakukan. Tapi aku sendiri tidak merasa nyaman dengan perubahannya itu. Karena bagiku, hidup sesingkat apapun itu, tetap adalah sesuatu yang sangat berharga. Bagiku waktu yang singkat waktu hidup itulah kesempatan kita untuk berbuat, menurunkan generasi yang lebih baik yang akan mengabadikan eksistensiku, baik generasi yang diturunkan secara genetik maupun generasi yang diturunkan secara 'pemikiran'. Meskipun di masa lalu banyak berbuat kesalahan, untuk memperbaikinya aku selalu ingin melakukannya di saat aku masih hidup pula.
Setelah aku benar-benar meninggalkan Banda Aceh secara permanen, aku tidak pernah lagi mendapat berita tentang temanku ini. Aku juga tidak mengetahui bagaimana kabarnya ketika tahun 2004 Tsunami meluluh lantakkan kota Banda Aceh tercinta.
Begitulah yang aku lihat ketika ibadah menjadi urusan orang luar untuk menilai baik buruknya, 'kebenaran'pun menjadi urusan penilaian orang luar pula. Ibadah yang seharusnya berdimensi spiritual, ibadah yang seharusnya merupakan hubungan antara makhluk dengan khaliknya dimodifikasi menjadi sebuah pemaksaan nilai 'kebenaran' dari manusia satu terhadap manusia lainnya.
Karakter ini yang tidak kulihat eksis dalam ibadah puasa, karena itulah bagiku Ramadhan selalu istimewa dan aku selalu antusias menantikan kedatangannya.
Wassalam
Win Wan Nur
Bersambung ke Bagian II
Selasa, 18 Agustus 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
Sorga dan Fasilitas Bintang Lima
Dalam waktu yang cukup lama, Sorga yang kubayangkan adalah sebuah tempat yang sedemikian indahnya, sebuah tempat dengan kenikmatan ragawi yang bisa didapatkan kapan saja.
Waktu kecil, entah itu di rumah, di sekolah atau di tempat mengaji. Orang tua,guru dan Teungku selalu menceritakanku tentang tempat ini, tiap orang menggambarkannya tidak persis sama, tergantung sedalam apa imajinasi mereka.
Gambaran standar tentang Sorga yang kudapatkan adalah sungai-sungai mengalir di bawahnya. Sungai-sungai itu tidak berisi air tapi madu, susu dan khamar (minuman keras), kata Teungku yang mengajarku mengaji Khamar di Sorga tidak sama dengan Khamar di dunia, Khamar di Sorga tidak membuat memabuk peminumnya. Masih menurut Teungku yang sama, madu di Sorga 1000 kali lebih manis daripada madu yang kukenal di dunia, susu di Surga 1000 kali lebih nikmat daripada susu yang pernah kukenal di dunia. Selain itu masih ada satu kenikmatan lagi yaitu ditemani oleh 70 bidadari yang kecantikannya melebihi perempuan paling cantik yang ada di dunia.
Sewaktu masih kecil, aku tidak memahami dimana letak 'Nikmat' 70 bidadari ini, tapi ketika aku mulai beranjak besar, meskipun belum pernah mencoba tapi aku dapat membayangkan dengan sempurna kenikmatan jenis terakhir ini. Akupun paham dengan baik ketika Zainuddin MZ, mubaligh terbesar di masa aku SMA menggambarkan kenikmatan terakhir ini dengan gaya dakwahnya yang khas "Bidadari itu tidak seperti perempuan di dunia yang berkurang kenikmatannya ketika sudah dipakai, bidadari itu perawan ketika dipakai, lalu setelah selesai dipakai kembali jadi perawan", begitu kata Zainuddin yang diikuti dengan tawa berderai para pendengarnya.
Kalau kita berbuat baik di dunia, kenikmatan Surga itu akan kita dapatkan abadi selamanya, sekali lagi ABADI SELAMANYA!
Ketika aku beranjak remaja saat aku tinggal di rumah Kos-an dengan uang kiriman terbatas, yang kalau mau makan enak harus mencari teratak pesta kawinan. Gambaran sorga dengan kenikmatan seperti yang digambarkan oleh Orang tua,guru dan Teungku mengajiku benar-benar ada dalam impian.
Ketika aku yang masih remaja yang masih sangat pemalu dan minderan tidak pernah berani mengungkapkan perasaan suka kepada perempuan yang kupuja, yang cuma bisa diam-diam mengagumi teman sekolahku atau teman kuliahku tanpa pernah berani mengungkapkan apa yang kurasakan, lalu ditawarkan untuk memiliki 70 bidadari yang wajahnya lebih cantik dari Nicole Kidman, Catherine Zeta-Jones, Dian Sastro bahkan Agnes Monica, dengan body yang lebih seksi dari Giselle Bundchen atau Anna Kournikova, tawaran seperti ini benar-benar menggoda.
Saat aku semakin dewasa, ketika aku mulai menjelajahi gunung-gunung, kedinginan di bawah tenda, makan dengan menu seadanya. Gambaran Sorga dengan segala fasilitasnya laksana sebuah kenikmatan yang tiada tara. Waktu aku menggelandang menjadi back packer kemana-mana, menginap dan makan di tempat yang semurah-murahnya. Ketika aku selama 4 bulan menjadi gelandangan dalam arti yang sebenarnya, aku pernah beberapa kali mengikuti tausyiah sehabis shalat maghrib di mesjid yang terletak tepat di depan Sentral Parkir Kuta, jantung pariwisata Bali.
Di Mesjid yang sering didatangi penceramah dari luar negeri dari tempat-tempat semacam Pakistan ini, kecuali aku sendiri, seisi Mesjid, baik Ustadz maupun jema'ahnya semua berpakaian senada bersorban dan berjubah dengan jenggot menggantung di dagu.
Dalam salah satu Tausyiah yang kuikuti, Ustadz yang berbicara menceritakan tentang keindahan dan kenikmatan Sorga itu. Selain tentu saja gambaran tentang 70 perawan yang akan menemani, yang paling kuingat dalam Tausyiah ini adalah waktu Ustadz ini mengatakan di Sorga itu kita melihat seekor burung yang indah terbang di angkasa, lalu kita tiba-tiba ingin merasakan nikmatnya dagingnya, maka saat itu juga daging burung itu yang sudah dimasak dengan bumbu yang paling lezat akan langsung tersedia di depan kita. Ucapan ustadz ini langsung disambut para hadirin dengan penuh takzim dan ucapan Allahu Akbar!
Mendengar itu, karena saat itu aku menggelandang di Bali yang dipenuhi dengan hotel-hotel dengan fasilitas terbaik di mana-mana, sorgapun kubayangkan laksana sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima.
Tahun 2004 aku menikah.
Di awal pernikahan kami, aku dan istriku memutuskan untuk tinggal di Bali. Dengan modal 12 juta di kantong, kami menyewa sebuah kamar di Legian dengan ukuran 2.5 X 3 meter dengan sewa 350 ribu sebulan dengan tempat tidur yang sebenarnya dirancang untuk muat satu orang saja. Istriku yang sebelum menikah tinggal di rumah dengan kamar ber-AC yang kamar mandinya saja lebih luas dibandingkan kamar kami ini dengan ranjang yang besar pula kini harus tinggal di tempat ini, tidur berimpitan di ranjang kecil denganku.
Dengan uang itu pula kami membeli motor Honda Supra Fit warna merah dengan cara kredit dengan uang muka 700 ribu. Istriku yang sebelumnya terbiasa menyetir mobil ber-AC kemana-mana, kini harus rela kemana-mana berpanas ria kubonceng dengan Supra Fit merah kami.
Sisa uang yang ada kami pakai untuk modal usaha untuk membuat sandal dan Sepatu yang kami promosikan melalui internet. Tapi sampai berbulan-bulan uang itu kami tidak mendapatkan orderan. Kamipun bertahan hidup dengan berhemat sehemat-hematnya, padahal saat itu istriku sedang hamil. Karena kami tidak punya dapur, kami selalu membeli makanan di luar. Supaya kami terus punya uang untuk membeli susu agar anakku yang masih dalam kandungan tidak kekurangan nutrisi kami menghemat makanan untukku, kami selalu membeli dua porsi nasi dengan hanya satu yang berisi lauk, ppada masa itu, lauk untukku adalah remah-remah gorengan yang kami minta dari tukang gorengan yang berjualan tidak jauh dari tempat kos kami.
Ketika perut istriku semakin membuncit kami belum juga mendapat orderan, uang semakin menipis, sementara kami harus membeli banyak keperluan untuk persiapan kelahiran anak kami. Tubuh istriku juga berubah, pakaian dalam yang dia kenakan tidak lagi muat sekarang, tapi kami tidak punya cukup uang untuk membeli pakaian dalam baru. Jadilah istriku menderita memakai pakaian dalam yang kesempitan. Begitu sulitnya keadaan kami saat itu sampai-sampai aku menjadi pelukis dadakan, menjual lukisan bunga kemboja yang kubuat seharga 20 ribu supaya kami tetap bisa makan. Kadang uang sudah habis tapi lukisan belum kering, istriku terpaksa mengipasinya dengan kipas angin kecil yang kami beli dengan penuh perjuangan.
Secara materi saat itu termasuk salah satu saat paling sulit dalam kehidupan rumah tangga kami, tapi di sisi lain justru saat itulah saat paling membahagiakan bagi kami. Saat itu kami begitu bebas merdeka, belum punya anak yang harus diurusi. Tiap sore aku mengajak istriku yang perutnya semakin membesar berjalan-jalan di lembutnya pasir Kuta sambil menunggu matahari tenggelam. Kami menghadiri setiap acara budaya, menonton konser gratis apapun yang ada diselenggarakan di Kuta dan kadang jam 3 malam saat kami tiba-tiba terbangun, aku mengajak istriku berjalan-jalan di Seminyak atau Legian, nongkrong di depan Mini Mart atau Circle K.
Situasi perekonomian kami membaik ketika kami mendapatkan seorang pelanggan asal Australia yang datang seperti jatuh dari langit. Dia mengetahui kami dari seorang temannya yang tidak puas dengan pekerjaan bos-ku sebelumnya. Bersama pelanggan bernama Karen inilah ekonomi keluarga kami membaik sampai kami terbilang cukup mapan dengan penghasilan 40 juta sebulan.
Bersamaan dengan bertambahnya orderan, akupun sudah bisa menyewa karyawan. Kami berdua tidak perlu lagi bekerja, tidak lama kemudian anak kamipun lahir. Kami pindah ke rumah sewaan yang sejuk dan terletak tepat di tengah sawah, tepat di depan pintu gerbang rumah kami di tengah sawah ada sebuah dangau tempat petani pemiliknya beristirahat dan menarik tali-tali yang menghubungkannya dengan berbagai alat yang berbunyi keras untuk menakut-nakuti burung saat padi mulai mengeluarkan bulirnya. Kami sering menghabiskan waktu di sana.
Saat itu adalah saat-saat paling sempurna dalam hidup kami. Karena tidak perlu bekerja, kami berdua menghabiskan waktu untuk mengurusi anak kami. Aku dan istriku bergantian memandikannya, pagi-pagi bangun tidur aku menjemurnya supaya vitamin D yang dibawa sinar matahari pagi menyerap ke dalam kulitnya. Saat seperti itulah kami merasa seperti hidup di Sorga
Keadaan itu berubah total ketika meledak Bom Bali II yang hampir bersamaan dengan Iraq yang di ekspansi Amerika, perekonomian dunia hancur. Kami yang memproduksi barang kebutuhan tertier jelas ditinggalkan pelanggan yang lebih mendahulukan belanja kebutuhan primer. Tidak terlalu lama dalam keadaan itu, aku jatuh sakit terserang demam berdarah, trombositku yang normalnya di atas 100 ribu jatuh tinggal 6000 saja. Semua uang yang kami punya habis untuk membayar biaya rumah sakit dan sampai setahun sesudahnya kami tidak punya pemasukan sama sekali. Perekonomian kami kembali ke titik NOL bahkan minus dan mau tidak mau akupun terpaksa BEKERJA.
Ketika aku akhirnya aku terpaksa bekerja, aku memilih bidang pekerjaan yang memungkinkanku menikmati segala keindahan dan kenikmatan dunia, pekerjaan yang kupilih memungkinkanku untuk mendatangi tempat-tempat terindah di negeri ini, menginap di hotel-hotel terbaik dengan fasilitas terbaik yang ada di tempat yang kudatangi.
Hampir setiap hari dalam pekerjaanku, aku disuguhi makanan karya juru masak terbaik yang bukan hanya lezat tapi disajikan dengan tampilan yang bercitarasa seni. Aku mulai terbiasa berlayar di kapal layar mewah dikelilingi dengan gadis-gadis cantik berbikini, makan di pesta barbecue dengan diiringi penyanyi berkostum bermuda, di tengah laut menyaksikan matahari tenggelam di langit cerah dengan diiringi lagu wild world yang dinyanyikan dengan irama reggae.
Orang yang melihat dari luar mungkin merasa seperti inilah kehidupan Sorga. Tapi aku yang mengalami merasakan kehidupan seperti ini hanya nikmat di awal-awalnya saja, setelah berbulan-bulan menjalani kehidupan seperti ini, ketika segala kenikmatan itu menjadi rutinitas pada masanya akhirnya aku merasa bosan juga.
Meski tetap menikmati empuknya kasur hotel bintang 5, tapi kadang-kadang aku juga merindukan suasana saat aku tidur beralaskan tanah, kedinginan diguyur hujan di bawah tenda. Saat menikmati masakan karya para chef jempolan itu kadang aku juga ingin kembali mencicipi masakan aneh, campuran nasi, kopi, gula dan kepala ikan asin bikinan Ogek teman satu tim-ku di EJSL 94 yang saking nikmatnya pernah membuat aku hampir berkelahi di Camp Kerling dengan Asep Bobby Janual Kapindi, temanku yang lain hanya karena aku merasa Bobby tidak adil dalam membagi porsinya.
November tahun lalu, aku benar-benar jenuh dengan segala 'kenikmatan' yang telah menjadi rutinitas itu dan akupun memutuskan untuk sejenak keluar dari situasi itu, menggelandang di Banda Aceh tidur dimana kusuka, menginap di rumah kawan mana saja yang bisa menyediakan tempat untuk tidur, tidur tanpa kasur di tempat Dawan atau kadang begadang semalaman di dot.com. Pulang dari sana baru aku bisa merasakan kembali nikmatnya fasilitas bintang 5.
Mengalami ini aku jadi membayangkan, kalau kenikmatan yang masih jauh dari gambaran sorga yang menjadi rutinitas selama beberapa bulan saja bisa demikian membosankannya, bagaimana rasanya merasakan kenikmatan seperti itu dengan dosis ribuan kali lebih tinggi dari itu dan abadi pula SELAMANYA, bukankah itu siksaan namanya?
Tahun ini juga demikian, sejak mei yang lalu aku tidak pernah berhenti bekerja, terus menjalani hidup dari satu fasilitas bintang 5 ke fasilitas bintang 5 lainnya, dan seperti tahun lalu juga, saat inipun rasa bosan sudah mulai menggoda.
Setelah berbulan-bulan menjalani rutinitas 'liburan' seperti itu, mendapatkan libur satu hari seperti hari ini rasanya benar-benar luar biasa.
Bangun tidur membaca Kompas yang sudah hadir sejak pagi buta, minum teh sambil berbincang dengan istriku, merasakan antusiasmenya ketika menceritakan kisah film 'Englishman in New York' yang baru dia tonton di tempatnya bekerja, benar-benar merupakan kenikmatan yang tiada tara, tidak bisa dibandingkan dengan segala kenikmatan bintang 5 yang ada di dunia.
Menyaksikan Mattane Lao anakku berkemas dan menyiapkan sarapan paginya, benar-benar merupakan pemandangan terindah yang pernah kusaksikan, jauh lebih indah dibanding pemandangan apapun yang pernah kusaksikan sebelumnya. Saat mengantarkannya ke sekolah, sepanjang jalan mendengarkan celotehan polos dari lidah cadelnya rasanya jauh lebih merdu daripada musik paling indah manapun yang pernah kudengar, kebahagiaan saat kulit wajahku menyentuh kulit halusnya saat aku mencium pipinya dan dia balik menciumku di depan pintu kelasnya sebelum dia disambut oleh Mary, guru kelasnya. Benar-benar merupakan kebahagiaan yang tidak bisa kubandingkan dengan kebahagiaan apapun juga.
Merasakan ini aku tiba-tiba teringat seorang temanku di Jakarta yang tidak pernah kekurangan duit dalam hidupnya, yang menyetir mercy kemana-mana. Dia bisa menginap di hotel terbaik manapun yang dia mau, bisa berganti teman tidur tiap malam dengan perempuan cantik manapun yang dia suka. Tapi kepadaku dia selalu bilang hidupnya kesepian dan hampa, padahal dia dikelilingi banyak orang yang memuja dan menghormatinya. Dia merasa seperti itu karena kulihat meskipun dia memiliki segala materi yang hanya bisa dicapai dalam mimpi oleh kebanyakan orang, tapi dia tidak memiliki orang yang bisa diberi dan memberikannya CINTA.
Karena itulah, seandainya oleh Tuhan yang kusembah aku ditakdirkan untuk masuk ke Sorganya. Kalau aku diberi izin untuk meminta, kepada Tuhan aku akan menolak diberi segala fasilitas bintang 5. Entah itu pemandangan indah, burung terbang yang berubah menjadi masakan terenak dengan bumbu terbaik yang tiba-tiba terhidang di meja, segala sungai entah itu madu, susu maupun khamar. Aku juga akan menolak diberikan 70 bidadari yang lebih cantik dibanding Nicole Kidman, Catherine Zeta-Jones, Dian Sastro bahkan Agnes Monica.
Kalau aku ditakdirkan masuk Sorga dan boleh meminta, aku akan minta Tuhan memberikan semua fasilitas kesenangan kaum hedonis itu kepada para ahli agama yang mendalami tafsir Kalamullah sampai ke semua detail kalimah dan sejarah turunnya, yang berjenggot dan berjubah yang memanggil akhwan dan akhwat sesamanya, yang bisa memastikan orang yang memiliki paham yang tidak sama dengan mereka akan mendapat azab dan masuk neraka. Kepada para 'mujahid' yang percaya saat mati akan mendapatkan segala fasilitas itu, yang bahkan demi memastikan bahwa di akhirat nanti dirinya akan mendapatkan fasilitas itu rela mengorbankan selembar nyawanya untuk membunuh dan menghancurkan sesamanya.
Kalau aku ditakdirkan masuk Sorga dan boleh meminta, aku akan bilang pada Tuhan, tidak perlu aku diberikan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan segala kenikmatan ala hedonis lainnya, untukku cukuplah Tuhan memberi limpahan RASA CINTA.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com
Waktu kecil, entah itu di rumah, di sekolah atau di tempat mengaji. Orang tua,guru dan Teungku selalu menceritakanku tentang tempat ini, tiap orang menggambarkannya tidak persis sama, tergantung sedalam apa imajinasi mereka.
Gambaran standar tentang Sorga yang kudapatkan adalah sungai-sungai mengalir di bawahnya. Sungai-sungai itu tidak berisi air tapi madu, susu dan khamar (minuman keras), kata Teungku yang mengajarku mengaji Khamar di Sorga tidak sama dengan Khamar di dunia, Khamar di Sorga tidak membuat memabuk peminumnya. Masih menurut Teungku yang sama, madu di Sorga 1000 kali lebih manis daripada madu yang kukenal di dunia, susu di Surga 1000 kali lebih nikmat daripada susu yang pernah kukenal di dunia. Selain itu masih ada satu kenikmatan lagi yaitu ditemani oleh 70 bidadari yang kecantikannya melebihi perempuan paling cantik yang ada di dunia.
Sewaktu masih kecil, aku tidak memahami dimana letak 'Nikmat' 70 bidadari ini, tapi ketika aku mulai beranjak besar, meskipun belum pernah mencoba tapi aku dapat membayangkan dengan sempurna kenikmatan jenis terakhir ini. Akupun paham dengan baik ketika Zainuddin MZ, mubaligh terbesar di masa aku SMA menggambarkan kenikmatan terakhir ini dengan gaya dakwahnya yang khas "Bidadari itu tidak seperti perempuan di dunia yang berkurang kenikmatannya ketika sudah dipakai, bidadari itu perawan ketika dipakai, lalu setelah selesai dipakai kembali jadi perawan", begitu kata Zainuddin yang diikuti dengan tawa berderai para pendengarnya.
Kalau kita berbuat baik di dunia, kenikmatan Surga itu akan kita dapatkan abadi selamanya, sekali lagi ABADI SELAMANYA!
Ketika aku beranjak remaja saat aku tinggal di rumah Kos-an dengan uang kiriman terbatas, yang kalau mau makan enak harus mencari teratak pesta kawinan. Gambaran sorga dengan kenikmatan seperti yang digambarkan oleh Orang tua,guru dan Teungku mengajiku benar-benar ada dalam impian.
Ketika aku yang masih remaja yang masih sangat pemalu dan minderan tidak pernah berani mengungkapkan perasaan suka kepada perempuan yang kupuja, yang cuma bisa diam-diam mengagumi teman sekolahku atau teman kuliahku tanpa pernah berani mengungkapkan apa yang kurasakan, lalu ditawarkan untuk memiliki 70 bidadari yang wajahnya lebih cantik dari Nicole Kidman, Catherine Zeta-Jones, Dian Sastro bahkan Agnes Monica, dengan body yang lebih seksi dari Giselle Bundchen atau Anna Kournikova, tawaran seperti ini benar-benar menggoda.
Saat aku semakin dewasa, ketika aku mulai menjelajahi gunung-gunung, kedinginan di bawah tenda, makan dengan menu seadanya. Gambaran Sorga dengan segala fasilitasnya laksana sebuah kenikmatan yang tiada tara. Waktu aku menggelandang menjadi back packer kemana-mana, menginap dan makan di tempat yang semurah-murahnya. Ketika aku selama 4 bulan menjadi gelandangan dalam arti yang sebenarnya, aku pernah beberapa kali mengikuti tausyiah sehabis shalat maghrib di mesjid yang terletak tepat di depan Sentral Parkir Kuta, jantung pariwisata Bali.
Di Mesjid yang sering didatangi penceramah dari luar negeri dari tempat-tempat semacam Pakistan ini, kecuali aku sendiri, seisi Mesjid, baik Ustadz maupun jema'ahnya semua berpakaian senada bersorban dan berjubah dengan jenggot menggantung di dagu.
Dalam salah satu Tausyiah yang kuikuti, Ustadz yang berbicara menceritakan tentang keindahan dan kenikmatan Sorga itu. Selain tentu saja gambaran tentang 70 perawan yang akan menemani, yang paling kuingat dalam Tausyiah ini adalah waktu Ustadz ini mengatakan di Sorga itu kita melihat seekor burung yang indah terbang di angkasa, lalu kita tiba-tiba ingin merasakan nikmatnya dagingnya, maka saat itu juga daging burung itu yang sudah dimasak dengan bumbu yang paling lezat akan langsung tersedia di depan kita. Ucapan ustadz ini langsung disambut para hadirin dengan penuh takzim dan ucapan Allahu Akbar!
Mendengar itu, karena saat itu aku menggelandang di Bali yang dipenuhi dengan hotel-hotel dengan fasilitas terbaik di mana-mana, sorgapun kubayangkan laksana sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima.
Tahun 2004 aku menikah.
Di awal pernikahan kami, aku dan istriku memutuskan untuk tinggal di Bali. Dengan modal 12 juta di kantong, kami menyewa sebuah kamar di Legian dengan ukuran 2.5 X 3 meter dengan sewa 350 ribu sebulan dengan tempat tidur yang sebenarnya dirancang untuk muat satu orang saja. Istriku yang sebelum menikah tinggal di rumah dengan kamar ber-AC yang kamar mandinya saja lebih luas dibandingkan kamar kami ini dengan ranjang yang besar pula kini harus tinggal di tempat ini, tidur berimpitan di ranjang kecil denganku.
Dengan uang itu pula kami membeli motor Honda Supra Fit warna merah dengan cara kredit dengan uang muka 700 ribu. Istriku yang sebelumnya terbiasa menyetir mobil ber-AC kemana-mana, kini harus rela kemana-mana berpanas ria kubonceng dengan Supra Fit merah kami.
Sisa uang yang ada kami pakai untuk modal usaha untuk membuat sandal dan Sepatu yang kami promosikan melalui internet. Tapi sampai berbulan-bulan uang itu kami tidak mendapatkan orderan. Kamipun bertahan hidup dengan berhemat sehemat-hematnya, padahal saat itu istriku sedang hamil. Karena kami tidak punya dapur, kami selalu membeli makanan di luar. Supaya kami terus punya uang untuk membeli susu agar anakku yang masih dalam kandungan tidak kekurangan nutrisi kami menghemat makanan untukku, kami selalu membeli dua porsi nasi dengan hanya satu yang berisi lauk, ppada masa itu, lauk untukku adalah remah-remah gorengan yang kami minta dari tukang gorengan yang berjualan tidak jauh dari tempat kos kami.
Ketika perut istriku semakin membuncit kami belum juga mendapat orderan, uang semakin menipis, sementara kami harus membeli banyak keperluan untuk persiapan kelahiran anak kami. Tubuh istriku juga berubah, pakaian dalam yang dia kenakan tidak lagi muat sekarang, tapi kami tidak punya cukup uang untuk membeli pakaian dalam baru. Jadilah istriku menderita memakai pakaian dalam yang kesempitan. Begitu sulitnya keadaan kami saat itu sampai-sampai aku menjadi pelukis dadakan, menjual lukisan bunga kemboja yang kubuat seharga 20 ribu supaya kami tetap bisa makan. Kadang uang sudah habis tapi lukisan belum kering, istriku terpaksa mengipasinya dengan kipas angin kecil yang kami beli dengan penuh perjuangan.
Secara materi saat itu termasuk salah satu saat paling sulit dalam kehidupan rumah tangga kami, tapi di sisi lain justru saat itulah saat paling membahagiakan bagi kami. Saat itu kami begitu bebas merdeka, belum punya anak yang harus diurusi. Tiap sore aku mengajak istriku yang perutnya semakin membesar berjalan-jalan di lembutnya pasir Kuta sambil menunggu matahari tenggelam. Kami menghadiri setiap acara budaya, menonton konser gratis apapun yang ada diselenggarakan di Kuta dan kadang jam 3 malam saat kami tiba-tiba terbangun, aku mengajak istriku berjalan-jalan di Seminyak atau Legian, nongkrong di depan Mini Mart atau Circle K.
Situasi perekonomian kami membaik ketika kami mendapatkan seorang pelanggan asal Australia yang datang seperti jatuh dari langit. Dia mengetahui kami dari seorang temannya yang tidak puas dengan pekerjaan bos-ku sebelumnya. Bersama pelanggan bernama Karen inilah ekonomi keluarga kami membaik sampai kami terbilang cukup mapan dengan penghasilan 40 juta sebulan.
Bersamaan dengan bertambahnya orderan, akupun sudah bisa menyewa karyawan. Kami berdua tidak perlu lagi bekerja, tidak lama kemudian anak kamipun lahir. Kami pindah ke rumah sewaan yang sejuk dan terletak tepat di tengah sawah, tepat di depan pintu gerbang rumah kami di tengah sawah ada sebuah dangau tempat petani pemiliknya beristirahat dan menarik tali-tali yang menghubungkannya dengan berbagai alat yang berbunyi keras untuk menakut-nakuti burung saat padi mulai mengeluarkan bulirnya. Kami sering menghabiskan waktu di sana.
Saat itu adalah saat-saat paling sempurna dalam hidup kami. Karena tidak perlu bekerja, kami berdua menghabiskan waktu untuk mengurusi anak kami. Aku dan istriku bergantian memandikannya, pagi-pagi bangun tidur aku menjemurnya supaya vitamin D yang dibawa sinar matahari pagi menyerap ke dalam kulitnya. Saat seperti itulah kami merasa seperti hidup di Sorga
Keadaan itu berubah total ketika meledak Bom Bali II yang hampir bersamaan dengan Iraq yang di ekspansi Amerika, perekonomian dunia hancur. Kami yang memproduksi barang kebutuhan tertier jelas ditinggalkan pelanggan yang lebih mendahulukan belanja kebutuhan primer. Tidak terlalu lama dalam keadaan itu, aku jatuh sakit terserang demam berdarah, trombositku yang normalnya di atas 100 ribu jatuh tinggal 6000 saja. Semua uang yang kami punya habis untuk membayar biaya rumah sakit dan sampai setahun sesudahnya kami tidak punya pemasukan sama sekali. Perekonomian kami kembali ke titik NOL bahkan minus dan mau tidak mau akupun terpaksa BEKERJA.
Ketika aku akhirnya aku terpaksa bekerja, aku memilih bidang pekerjaan yang memungkinkanku menikmati segala keindahan dan kenikmatan dunia, pekerjaan yang kupilih memungkinkanku untuk mendatangi tempat-tempat terindah di negeri ini, menginap di hotel-hotel terbaik dengan fasilitas terbaik yang ada di tempat yang kudatangi.
Hampir setiap hari dalam pekerjaanku, aku disuguhi makanan karya juru masak terbaik yang bukan hanya lezat tapi disajikan dengan tampilan yang bercitarasa seni. Aku mulai terbiasa berlayar di kapal layar mewah dikelilingi dengan gadis-gadis cantik berbikini, makan di pesta barbecue dengan diiringi penyanyi berkostum bermuda, di tengah laut menyaksikan matahari tenggelam di langit cerah dengan diiringi lagu wild world yang dinyanyikan dengan irama reggae.
Orang yang melihat dari luar mungkin merasa seperti inilah kehidupan Sorga. Tapi aku yang mengalami merasakan kehidupan seperti ini hanya nikmat di awal-awalnya saja, setelah berbulan-bulan menjalani kehidupan seperti ini, ketika segala kenikmatan itu menjadi rutinitas pada masanya akhirnya aku merasa bosan juga.
Meski tetap menikmati empuknya kasur hotel bintang 5, tapi kadang-kadang aku juga merindukan suasana saat aku tidur beralaskan tanah, kedinginan diguyur hujan di bawah tenda. Saat menikmati masakan karya para chef jempolan itu kadang aku juga ingin kembali mencicipi masakan aneh, campuran nasi, kopi, gula dan kepala ikan asin bikinan Ogek teman satu tim-ku di EJSL 94 yang saking nikmatnya pernah membuat aku hampir berkelahi di Camp Kerling dengan Asep Bobby Janual Kapindi, temanku yang lain hanya karena aku merasa Bobby tidak adil dalam membagi porsinya.
November tahun lalu, aku benar-benar jenuh dengan segala 'kenikmatan' yang telah menjadi rutinitas itu dan akupun memutuskan untuk sejenak keluar dari situasi itu, menggelandang di Banda Aceh tidur dimana kusuka, menginap di rumah kawan mana saja yang bisa menyediakan tempat untuk tidur, tidur tanpa kasur di tempat Dawan atau kadang begadang semalaman di dot.com. Pulang dari sana baru aku bisa merasakan kembali nikmatnya fasilitas bintang 5.
Mengalami ini aku jadi membayangkan, kalau kenikmatan yang masih jauh dari gambaran sorga yang menjadi rutinitas selama beberapa bulan saja bisa demikian membosankannya, bagaimana rasanya merasakan kenikmatan seperti itu dengan dosis ribuan kali lebih tinggi dari itu dan abadi pula SELAMANYA, bukankah itu siksaan namanya?
Tahun ini juga demikian, sejak mei yang lalu aku tidak pernah berhenti bekerja, terus menjalani hidup dari satu fasilitas bintang 5 ke fasilitas bintang 5 lainnya, dan seperti tahun lalu juga, saat inipun rasa bosan sudah mulai menggoda.
Setelah berbulan-bulan menjalani rutinitas 'liburan' seperti itu, mendapatkan libur satu hari seperti hari ini rasanya benar-benar luar biasa.
Bangun tidur membaca Kompas yang sudah hadir sejak pagi buta, minum teh sambil berbincang dengan istriku, merasakan antusiasmenya ketika menceritakan kisah film 'Englishman in New York' yang baru dia tonton di tempatnya bekerja, benar-benar merupakan kenikmatan yang tiada tara, tidak bisa dibandingkan dengan segala kenikmatan bintang 5 yang ada di dunia.
Menyaksikan Mattane Lao anakku berkemas dan menyiapkan sarapan paginya, benar-benar merupakan pemandangan terindah yang pernah kusaksikan, jauh lebih indah dibanding pemandangan apapun yang pernah kusaksikan sebelumnya. Saat mengantarkannya ke sekolah, sepanjang jalan mendengarkan celotehan polos dari lidah cadelnya rasanya jauh lebih merdu daripada musik paling indah manapun yang pernah kudengar, kebahagiaan saat kulit wajahku menyentuh kulit halusnya saat aku mencium pipinya dan dia balik menciumku di depan pintu kelasnya sebelum dia disambut oleh Mary, guru kelasnya. Benar-benar merupakan kebahagiaan yang tidak bisa kubandingkan dengan kebahagiaan apapun juga.
Merasakan ini aku tiba-tiba teringat seorang temanku di Jakarta yang tidak pernah kekurangan duit dalam hidupnya, yang menyetir mercy kemana-mana. Dia bisa menginap di hotel terbaik manapun yang dia mau, bisa berganti teman tidur tiap malam dengan perempuan cantik manapun yang dia suka. Tapi kepadaku dia selalu bilang hidupnya kesepian dan hampa, padahal dia dikelilingi banyak orang yang memuja dan menghormatinya. Dia merasa seperti itu karena kulihat meskipun dia memiliki segala materi yang hanya bisa dicapai dalam mimpi oleh kebanyakan orang, tapi dia tidak memiliki orang yang bisa diberi dan memberikannya CINTA.
Karena itulah, seandainya oleh Tuhan yang kusembah aku ditakdirkan untuk masuk ke Sorganya. Kalau aku diberi izin untuk meminta, kepada Tuhan aku akan menolak diberi segala fasilitas bintang 5. Entah itu pemandangan indah, burung terbang yang berubah menjadi masakan terenak dengan bumbu terbaik yang tiba-tiba terhidang di meja, segala sungai entah itu madu, susu maupun khamar. Aku juga akan menolak diberikan 70 bidadari yang lebih cantik dibanding Nicole Kidman, Catherine Zeta-Jones, Dian Sastro bahkan Agnes Monica.
Kalau aku ditakdirkan masuk Sorga dan boleh meminta, aku akan minta Tuhan memberikan semua fasilitas kesenangan kaum hedonis itu kepada para ahli agama yang mendalami tafsir Kalamullah sampai ke semua detail kalimah dan sejarah turunnya, yang berjenggot dan berjubah yang memanggil akhwan dan akhwat sesamanya, yang bisa memastikan orang yang memiliki paham yang tidak sama dengan mereka akan mendapat azab dan masuk neraka. Kepada para 'mujahid' yang percaya saat mati akan mendapatkan segala fasilitas itu, yang bahkan demi memastikan bahwa di akhirat nanti dirinya akan mendapatkan fasilitas itu rela mengorbankan selembar nyawanya untuk membunuh dan menghancurkan sesamanya.
Kalau aku ditakdirkan masuk Sorga dan boleh meminta, aku akan bilang pada Tuhan, tidak perlu aku diberikan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan segala kenikmatan ala hedonis lainnya, untukku cukuplah Tuhan memberi limpahan RASA CINTA.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com
Selasa, 04 Agustus 2009
Roman Picisan Bag II...Penataran P4 dan Sikat 92
Lulus di Fakultas Teknik tidak banyak mengubah cara pandangku terhadap diriku sendiri, dalam memandang kualitas diriku, aku masih saja sama seperti sebelumnya. Tapi pada semester pertama kuliah, aku mulai secara serius menyukai seorang perempuan teman seangkatanku di Teknik Sipil.
Aku mengenal teman ini sudah cukup lama, pada waktu aku masih SMA. Waktu itu saat akan naik ke kelas dua, kelas kami, kelas I. 1 mengadakan acara pesta perpisahan di rumah seorang temanku bernama
Irwansyah di daerah Lam Dingin. Saat itu Mimi, seorang cewek teman sekelasku yang tinggal di Ajun mengajak tetangganya yang juga cewek yang seumuran dengan kami tapi bersekolah di SMA negeri 1, SMA yang statusnya lebih favorit dibanding SMA kami tapi masih kurang favorit dibandingkan SMA Negeri 3.
Waktu itu kami masih sekumpulan cowok ABG norak. Mendapati seorang perempuan seumuran yang secara fisik tampak menarik, tanpa ampun si cewek inipun langsung menjadi sasaran kerubutan cowok-cowok sekelasku, termasuk aku (kalau rame-rame aku berani). Tapi ceritanya saat itu hanya berakhir sampai di situ tanpa ada kelanjutan. Ceritanya baru berlanjut ketika aku bertemu kembali dengan cewek yang kami kerubuti di perpisahan kelas satu dulu dalam ruangan yang sama dan maksud yang sama pula, untuk penataran P4. Karena ternyata dia juga diterima di jurusan yang sama denganku.
Waktu pertama ketemu di ruang penataran P4, aku merasa mendapat sebuah kejutan yang menyenangkan melihat dia ada di sana. Saat itu aku sudah lupa namanya tapi masih ingat persis wajahnya. Aku lupa namanya karena memang aku cuma pernah bertemu dia sekali, dua tahun sebelumnya. Setelah itu aku sama sekali tidak pernah tahu lagi keberadaannya. Apalagi Mimi tetangganya yang teman sekelasku waktu kelas satu, saat naik kelas dua sudah tidak sekelas lagi denganku dan kamipun jadi sangat jarang berkomunikasi, paling hanya saling sapa saat bertemu. Tapi ingatan kalau dia adalah tetangga teman sekelasku di kelas satu dulu, cukup untuk kujadikan sebagai alasan untuk membuka percakapan.
Seperti kesanku saat pertama kali mengenalnya dulu, seakarangpun aku melihat dia tetap menarik, tapi bedanya meskipun menarik, saat itu dia bukanlah perempuan yang paling menarik perhatianku diantara teman-teman seangkatanku waktu itu. Saat itu perempuan yang paling menarik perhatianku adalah anak Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama dengan nama panggilanku.
Penataran P4 yang kami ikuti diselenggarakan dalam ruangan Aula Lama Fakultas Teknik Unsyiah yang dalam tulisanku beberapa waktu yang lalu pernah kusebut kondisinya lebih mirip ruangan besar untuk pemerahan susu di dalam lokasi peternakan sapi perah daripada ruang kuliah.
Dalam ruangan besar itu ditempatkan bangku-bangku dan meja kuliah yang dibagi dalam tiga kelompok yang tiap kelompoknya diisi oleh peserta penataran yang berasal dari tiap jurusan di Fakultas Teknik. Saat itu ada tiga jurusan di Fakultas Teknik Unsyiah, Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Kimia.
Dalam pembagian tempat duduk dalam ruang penataran itu, mahasiswa Teknik Sipil ditempatkan di bagian kiri ruangan, Teknik Kimia di tengah dan Teknik Mesin di sisi kanan. Karena mahasiswa Teknik Sipil jumlahnya paling banyak dibanding dua jurusan lainnya, bangku di bagian Teknik Sipil tidak mampu menampung semuanya, sehingga ada beberapa anak Teknik Sipil yang terpaksa diselipkan di dalam kelompok Teknik Kimia atau Teknik Mesin.
Pembagian kelompok tempat duduk seperti itu membuat kami anak Teknik Sipil banyak berinteraksi dengan anak Teknik Kimia dan agak kurang berinteraksi dengan anak Teknik Mesin yang di angkatan kami seluruhnya laki-laki.
Satu deretan bangku di tiap kelompok itu berisi lima orang, aku duduk di bagian tengah deretan. Dari lima orang dalam deretan bangkuku 4 orang di antaranya (termasuk aku) adalah anak-anak lulusan SMA 2. Sepasang anak Bio 5 yang kukenal saat kami sama-sama mengelola ‘Gemasmadua’ majalah sekolah kami. Kedua anak Bio 5 ini sudah berpacaran sejak kami kelas satu yang entah kebetulan atau sama-sama mengikuti UMPTN dengan ‘gacok’ (sebutan untuk Joki di Aceh) atau memang benar-benar kebetulan keduanya lulus di Teknik Sipil sampai hari ini aku tidak pernah tahu dengan jelas. Yang jelas saat itu keduanya diterima di Fakultas dan Jurusan yang sama. Seorang lagi namanya Syahrial juara kelas kami di 3 Fisik 2 yang saat di kelas tiga namanya kami ‘Inggris-kan’ menjadi ‘Syeh’. Satu-satunya yang bukan lulusan SMA 2 di deretan bangku kami adalah seorang perempuan yang biasa dipanggil Dina, lulusan sebuah SMA swasta di Bandung. Di Bandung dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Nike Ardilla penyanyi papan atas waktu itu. Kupikir Dina memilih duduk di deretan bangku yang sama dengan kami karena kemungkinan dia adalah teman dari dua anak bio 5 temanku itu, kemungkinan mereka kenal saat SMP ketika Dina masih bersekolah di Banda Aceh.
Dina yang berkulit putih dan memiliki bahasa tubuh dan gaya bicara yang ‘sophisticated’ ini bisa jadi adalah perempuan yang paling menarik perhatian di angkatan kami. Aku tahu, banyak laki-laki dari ketiga jurusan di angkatanku yang diam-diam menyukai Dina dan berusaha menarik perhatiannya. Tapi dari semua ‘pengagumnya’ itu kebanyakan sudah minder duluan dengan penampilan dan latar belakang Dina, apalagi kemudian kami mengetahui bahwa orang tua Dina adalah pemilik salah satu Supermarket terbesar di Banda Aceh waktu itu.
Dari semua pengagumnya, ada satu orang yang terlihat paling mencolok ingin menarik perhatian Dina. Seorang cowok lulusan SMA 3 yang berkacamata, berpenampilan perlente dan gaya berbicara yang berwibawa dan terlihat dewasa. Selama penataran, dia duduk tepat di belakang kami. Teman kami yang memiliki nama depan ‘ Teuku’ yang merupakan gelar kebangsawanan di Aceh ini, datang ke kampus dengan mengendarai ‘kereta’ GL-Pro dan menghisap rokok Dji Sam Soe , merk rokok paling prestisius saat itu. Dari gayanya berbicara serta pakaian yang dia pakai, teman kami ini tampaknya setara dengan Dina, baik pengalaman, strata sosial maupun status ekonomi. Dari ceritanya aku tahu kalau Medan dan Jakarta yang merupakan tempat liburan elit bagi sebagian besar kami anak Aceh, bukanlah tempat asing baginya. Dia biasa berlibur ke sana.
Aku sendiri tidak termasuk dalam kelompok BPD (Barisan Pengagum Dina) karena seperti kukatakan sebelumnya, sejak awal penataran aku sudah sangat tertarik pada perempuan dari Jurusan Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama denganku.
Saat itu aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukai temanku yang anak Teknik Kimia ini, tapi sekarang setelah kupikir-pikir dan kubandingkan dengan semua perempuan yang pernah aku suka. Sepertinya saat itu aku menyukai dia karena aku melihat sikap dan penampilan dan caranya berbicara yang bersahaja apa adanya, dan tentu saja yang paling membuatnya tampak begitu menarik dalam pandanganku adalah wajahnya yang terbilang lumayan yang dibiarkan tanpa make-up berlebihan tapi sama sekali tidak murahan dan kampungan. Sampai hari ini aku masih bisa membayangkan dengan jelas rambutnya yang tergerai sebahu dan diikat hanya pada bagian poni-nya, jejeran giginya yang kecil-kecil yang salah satunya melesak ke dalam yang kulihat saat dia tersenyum dan sampai saat ini juga aku masih bisa membayangkan dengan jelas suaranya yang agak sengau ketika dia bicara.
Sepanjang penataran, kami diwajibkan memakai seragam putih hitam dan memakai badge nama. Sementara itu kegiatan penataran P4 itu sendiri yang diselenggarakan setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 7 sore adalah sebuah kegiatan yang luar biasa membosankan. Sehingga untuk membuang suntuk kami para peserta terpaksa harus kreatif mencari kegiatan yang bis amembunuh kebosanan.
Sebagian peserta menjadikan badge nama yang kosong di bagian belakang menjadi sasaran kreatifitas peserta penataran, ditulisi nama-nama yang dianggap keren, misalnya seorang temanku di Teknik Sipil yang sekarang sudah almarhum menulis nama Escobar di belakang badge namanya, nama itu kemudian melekat menjadi nama panggilannya sampai akhir hayat. Anak-anak Teknik Mesin juga unjuk kreatifitas di bagian kosong badge nama tersebut, tapi mungkin karena seluruhnya laki-laki, kreatifitas anak Teknik Mesin terlihat aneh. Misalnya sekelompok anak teknik mesin yang duduk di bagian belakang, menulisi bagian kosong badge-nya dengan nama keluarga kelelawar, ada Batman, Kelelawar, Kalong, Kampret dan sejenisnya.
Sementara untuk aku sendiri, aku tidak perlu pusing-pusing mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan karena saat mengikuti penataran, Dina yang lulusan SMA swasta di Bandung itu setiap hari membawa buku bacaan yang cukup langka bagi kami di Banda Aceh. Novel-novel karya pengarang Sidney Seldon dan komik manga Kungfu Boy. Lalu dengan begitu baik hatinya Dina meminjamkan buku-buku itu kepada kami.
Yang paling diuntungkan dengan itu tentu saja kami yang duduk satu deretan dengan Dina, dua temanku anak Bio 5 dan aku sendiri. Sementara peminat lain harus rela antri menunggu giliran setelah kami selesai membaca. Hampir sepanjang waktu penataran kami bertiga dan berempat dengan Dina menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku itu, aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan dosen yang berbicara dengan mulut berbuih-buih di depan ruangan. Syeh yang sejak masih SMA aku tahu sangat serius belajar tidak ikut-ikutan. Di deretan bangku kami hanya dia sendirilah yang serius mengikuti penataran dan menjadi andalan kami setiap kali ada quiz atau ujian.
Buku milik Dina dengan cepat beredar di kalangan terbatas di antara para peserta penataran yang duduk di dekat kami. Salah seorang yang juga menikmati keuntungan dari posisi duduk dekat Dina dan ikut mendapat manfaat dari informasi penting yang ada dalam buku-buku yang dibawa Dina. Salah satu peserta penataran yang mengambil manfaat itu adalah anak Teknik Kimia yang menarik perhatianku.
Hal ini membuat kami jadi lebih sering berinteraksi. Kami berdua bergiliran membaca komik Kung Fu Boy yang terbagi dalam beberapa seri yang sambung menyambung dan tiap seri tersebar di beberapa teman yang duduk di sekeliling kami. Anak Teknik Kimia yang kusuka itu membaca seri yang berurutan denganku, kadang dia sudah menyelesaikan seri yang dia baca tapi aku belum selesai. Saat seperti itulah kami sering berkomunikasi dan komunikasi itu menjadi lebih intens saat jeda waktu penataran. Yang kami diskusikan biasanya adalah jurus-jurus baru yang ditemukan Chinmi di sepanjang pengembaraan yang dia lakukan.
Perempuan yang kusuka ini seperti kebanyakan teman-teman seangkatanku adalah lulusan SMA Negeri 3 Banda Aceh, sekolah favorit di kota kami. Dia juga teman baik dari cowok yang menyukai Dina yang duduk di belakang kami. Temanku yang menyukai Dina ini sama sekali tidak tahu kalau aku menyukai temannya yang anak Teknik Kimia itu sering menceritakan keakrabannya dengan anak Teknik Kimia yang aku suka. Cerita dari temanku yang ‘high class’ dan bergelar ‘Teuku’ yang tinggal di Lamprit ini cukup membuatku nyaliku ciut, ceritanya membuat aku berpikir kalau anak Teknik Kimia yang aku suka ini tentu berada di strata sosial yang sama dengannya.
***
Selesai penataran, seperti biasa anak baru jadi jatah para senior untuk ‘dibina’. Ada berbagai nama untuk menyebut kegiatan itu, ada yang menyebutnya OSPEK, MAPRAS dan lain sebagainya. Di Teknik kami menyebutnya SIKAT yang merupakan singkatan dari ‘SIlaturahmi Keakraban Aneuk Teknik’. Untuk angkatan kami yang menjadi panitianya adalah anak angkatan 88. Yang diketuai oleh Bang Wawan dari jurusan arsitektur. Khusus angkatan 88 memang ada jurusan asrsitektur yang dulunya diseleksi dari mahasiswa yang lulus di teknik Sipil yang jumlahnya kalau tidak salah ada 18 orang, kabarnya mereka dipersiapkan untuk menjadi Dosen di jurusan Teknik Arsitektur yang akan dibuka di Unsyiah.
Ketika mengikuti SIKAT, kami semua diberi perlengkapan berupa ikat kepala kain berwarna oranye bertuliskan SIKAT 92. Kami juga mendapat hadiah nama baru bikinan para senior sebagai ungkapan ‘rasa sayang’ mereka kepada kami. Beberapa nama pemberian senior itu melekat menjadi nama panggilan yang bersangkutan selama kuliah, salah satu nama pemberian senior yang melekat menjadi nama panggilan adalah ‘Abua’. Nama yang diberikan oleh senior kami kepada salah seorang anak Teknik Sipil lulusan SMA negeri 3. Seorang lagi cewek anak Teknik Kimia yang diberi nama ‘Leler’, sampai hari ini hanya nama itu yang kuingat tiap kali membayangkan wajah temanku yang tidak bisa dibilang jelek itu, aku sama sekali tidak ingat lagi nama aslinya.
Hari pertama SIKAT 92 di selenggarakan dalam gedung Aula Lama tempat kami melaksanakan penataran, saat acara tersebut berlangsung seluruh kursi dan meja dalam tuangan dikosongkan. Kami para peserta dibagi ke dalam beberapa regu dengan masing-masing regu berisi 10 orang dengan anggota yang dicampur dari semua jurusan, aku sendiri memimpin salah satu regu itu. Seluruh kelompok dipimpin oleh seorang komandan batalyon bernama ‘Wan Teleng’ (nama aslinya aku tidak pernah tahu), anak Teknik Mesin yang sampai hari ini masih aku ragukan kesehatan syaraf-sarafnya (sori Wan he he he).
Sepanjang acara itu para senior mendoktrin kami kalau di Unsyiah Teknik adalah Raja. Kakak-kakak senior cewek juga tidak kalah garangnya, salah satu yang paling garang namanya kak Wina dari Teknik Kimia angkatan 87. Kak Wina ini mendoktrin para mahasiswi Teknik supaya tidak cengeng . “Kalau cengeng, jangan masuk Teknik, Pindah sana ke PDPK” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Kak Wina. (PDPK adalah Pendidikan D3 Kesekretariatan di bawah naungan Fakultas Ekonomi)
Hari kedua SIKAT, semua rencana para senior itu terhadap kami berantakan karena untuk tahun 1992 pihak rektorat melarang segala kegiatan yang berbau perloncoan . Pada hari kedua saat kami semua sudah berkumpul di kampus, Fakultas Teknik didatangi pihak rektorat karena mereka mendapat informasi bahwa di teknik ada acara perploncoan. Acara SIKAT pun mau tidak mau terpaksa dibubarkan.
Mendapati situasi seperti itu para senior kami tidak kehilangan akal, kami mahasiswa baru yang masih lugu dan polos didoktrin dengan variasi sedikit ancaman supaya mau melanjutkan SIKAT di tempat lain. Sempat terjadi sedikit perdebatan di antara kami, tapi akhirnya sebagian besar dari kami memutuskan untuk tetap melanjutkan SIKAT di luar kampus, di tempat yang ditentukan senior.
Acara sikat dilanjutkan di Ujong Batee, di sebuah pantai yang letaknya 30 Kilometer di luar Kota Banda Aceh. Untuk menuju ke sana kami semua diangkut dengan Truk yang entah darimana didapat para senior itu.
Di sana kami semua ‘dikerjai’ tapi tidak berlebihan seperti yang dilakukan para senior STPDN yang sering ditampilkan di TV. ‘Leler’ anak Teknik Kimia yang tidak kuingat lagi nama aslinya bersama May cewek Teknik Sipil asal Riau yang oleh senior diberi nama baru ‘Per Obat Nyamuk’ tampak paling menderita. Mereka berdua ketiban sial mendapat ‘pengasuh’ bernama Bang Fadhil, anak Teknik Mesin angkatan 86 yang juga anggota Leuser, yang tidak pernah kekurangan ide untuk mengerjai mereka. “Nangis ko Leler”…”air matako itu Leler”, adalah dua kalimat Bang Fadhil yang paling kuingat.
Kejadian seru lain adalah ketika Dina dan Cewek anak bio 5 temanku yang keduanya mengaku sakit disuruh mengangkat tas anyaman pandannya berjalan mengelilingi kami sambil mengatakan “saya penyakitan…saya penyakitan”. Kemudian mata mereka berdua ditutup dan disuruh meraba wajah temannya dan menebak itu wajah siapa. Kami semua tidak dapat menahan tawa ketika Dina meraba wajah yang dia kira teman cewek, tapi sebenarnya posisi teman kami itu telah digantikan oleh bang Joel Jazz anak mesin 86, anak teknik paling konyol dan paling gila yang pernah aku kenal sepanjang aku kuliah di teknik.
Menjelang sore, kami dikumpulkan dan panitia dan para mentor meminta maaf. Beberapa orang dari kami dipilih untuk melakukan pembalasan, lalu setelah semua kembali normal kami semua diguyur air satu persatu oleh para senior, sebagai tanda bahwa kami telah resmi diterima sebagai warga teknik.
Acara sikat diakhiri dengan salam-salaman dan bertangis-tangisan yang belakangan aku tahu ternyata memang telah sengaja diskenariokan oleh para senior.
Setelah itu semua menjadi tidak terkendali, senior memburu junior, junior memburu senior untuk diceburkan ke laut.
Bersambung ke Bag III…Peusijuek Wisudawan.
Notes : Dalam bagian ini banyak nama sengaja tidak kusebut karena mungkin cerita ini bisa merusak keharmonisan status pribadi dan profesi yang bersangkutan saat ini. Tapi nama-nama itu akan tertulis dengan jelas di lanjutan cerita ini kalau yang bersangkutan memberi izin.
Aku mengenal teman ini sudah cukup lama, pada waktu aku masih SMA. Waktu itu saat akan naik ke kelas dua, kelas kami, kelas I. 1 mengadakan acara pesta perpisahan di rumah seorang temanku bernama
Irwansyah di daerah Lam Dingin. Saat itu Mimi, seorang cewek teman sekelasku yang tinggal di Ajun mengajak tetangganya yang juga cewek yang seumuran dengan kami tapi bersekolah di SMA negeri 1, SMA yang statusnya lebih favorit dibanding SMA kami tapi masih kurang favorit dibandingkan SMA Negeri 3.
Waktu itu kami masih sekumpulan cowok ABG norak. Mendapati seorang perempuan seumuran yang secara fisik tampak menarik, tanpa ampun si cewek inipun langsung menjadi sasaran kerubutan cowok-cowok sekelasku, termasuk aku (kalau rame-rame aku berani). Tapi ceritanya saat itu hanya berakhir sampai di situ tanpa ada kelanjutan. Ceritanya baru berlanjut ketika aku bertemu kembali dengan cewek yang kami kerubuti di perpisahan kelas satu dulu dalam ruangan yang sama dan maksud yang sama pula, untuk penataran P4. Karena ternyata dia juga diterima di jurusan yang sama denganku.
Waktu pertama ketemu di ruang penataran P4, aku merasa mendapat sebuah kejutan yang menyenangkan melihat dia ada di sana. Saat itu aku sudah lupa namanya tapi masih ingat persis wajahnya. Aku lupa namanya karena memang aku cuma pernah bertemu dia sekali, dua tahun sebelumnya. Setelah itu aku sama sekali tidak pernah tahu lagi keberadaannya. Apalagi Mimi tetangganya yang teman sekelasku waktu kelas satu, saat naik kelas dua sudah tidak sekelas lagi denganku dan kamipun jadi sangat jarang berkomunikasi, paling hanya saling sapa saat bertemu. Tapi ingatan kalau dia adalah tetangga teman sekelasku di kelas satu dulu, cukup untuk kujadikan sebagai alasan untuk membuka percakapan.
Seperti kesanku saat pertama kali mengenalnya dulu, seakarangpun aku melihat dia tetap menarik, tapi bedanya meskipun menarik, saat itu dia bukanlah perempuan yang paling menarik perhatianku diantara teman-teman seangkatanku waktu itu. Saat itu perempuan yang paling menarik perhatianku adalah anak Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama dengan nama panggilanku.
Penataran P4 yang kami ikuti diselenggarakan dalam ruangan Aula Lama Fakultas Teknik Unsyiah yang dalam tulisanku beberapa waktu yang lalu pernah kusebut kondisinya lebih mirip ruangan besar untuk pemerahan susu di dalam lokasi peternakan sapi perah daripada ruang kuliah.
Dalam ruangan besar itu ditempatkan bangku-bangku dan meja kuliah yang dibagi dalam tiga kelompok yang tiap kelompoknya diisi oleh peserta penataran yang berasal dari tiap jurusan di Fakultas Teknik. Saat itu ada tiga jurusan di Fakultas Teknik Unsyiah, Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Kimia.
Dalam pembagian tempat duduk dalam ruang penataran itu, mahasiswa Teknik Sipil ditempatkan di bagian kiri ruangan, Teknik Kimia di tengah dan Teknik Mesin di sisi kanan. Karena mahasiswa Teknik Sipil jumlahnya paling banyak dibanding dua jurusan lainnya, bangku di bagian Teknik Sipil tidak mampu menampung semuanya, sehingga ada beberapa anak Teknik Sipil yang terpaksa diselipkan di dalam kelompok Teknik Kimia atau Teknik Mesin.
Pembagian kelompok tempat duduk seperti itu membuat kami anak Teknik Sipil banyak berinteraksi dengan anak Teknik Kimia dan agak kurang berinteraksi dengan anak Teknik Mesin yang di angkatan kami seluruhnya laki-laki.
Satu deretan bangku di tiap kelompok itu berisi lima orang, aku duduk di bagian tengah deretan. Dari lima orang dalam deretan bangkuku 4 orang di antaranya (termasuk aku) adalah anak-anak lulusan SMA 2. Sepasang anak Bio 5 yang kukenal saat kami sama-sama mengelola ‘Gemasmadua’ majalah sekolah kami. Kedua anak Bio 5 ini sudah berpacaran sejak kami kelas satu yang entah kebetulan atau sama-sama mengikuti UMPTN dengan ‘gacok’ (sebutan untuk Joki di Aceh) atau memang benar-benar kebetulan keduanya lulus di Teknik Sipil sampai hari ini aku tidak pernah tahu dengan jelas. Yang jelas saat itu keduanya diterima di Fakultas dan Jurusan yang sama. Seorang lagi namanya Syahrial juara kelas kami di 3 Fisik 2 yang saat di kelas tiga namanya kami ‘Inggris-kan’ menjadi ‘Syeh’. Satu-satunya yang bukan lulusan SMA 2 di deretan bangku kami adalah seorang perempuan yang biasa dipanggil Dina, lulusan sebuah SMA swasta di Bandung. Di Bandung dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Nike Ardilla penyanyi papan atas waktu itu. Kupikir Dina memilih duduk di deretan bangku yang sama dengan kami karena kemungkinan dia adalah teman dari dua anak bio 5 temanku itu, kemungkinan mereka kenal saat SMP ketika Dina masih bersekolah di Banda Aceh.
Dina yang berkulit putih dan memiliki bahasa tubuh dan gaya bicara yang ‘sophisticated’ ini bisa jadi adalah perempuan yang paling menarik perhatian di angkatan kami. Aku tahu, banyak laki-laki dari ketiga jurusan di angkatanku yang diam-diam menyukai Dina dan berusaha menarik perhatiannya. Tapi dari semua ‘pengagumnya’ itu kebanyakan sudah minder duluan dengan penampilan dan latar belakang Dina, apalagi kemudian kami mengetahui bahwa orang tua Dina adalah pemilik salah satu Supermarket terbesar di Banda Aceh waktu itu.
Dari semua pengagumnya, ada satu orang yang terlihat paling mencolok ingin menarik perhatian Dina. Seorang cowok lulusan SMA 3 yang berkacamata, berpenampilan perlente dan gaya berbicara yang berwibawa dan terlihat dewasa. Selama penataran, dia duduk tepat di belakang kami. Teman kami yang memiliki nama depan ‘ Teuku’ yang merupakan gelar kebangsawanan di Aceh ini, datang ke kampus dengan mengendarai ‘kereta’ GL-Pro dan menghisap rokok Dji Sam Soe , merk rokok paling prestisius saat itu. Dari gayanya berbicara serta pakaian yang dia pakai, teman kami ini tampaknya setara dengan Dina, baik pengalaman, strata sosial maupun status ekonomi. Dari ceritanya aku tahu kalau Medan dan Jakarta yang merupakan tempat liburan elit bagi sebagian besar kami anak Aceh, bukanlah tempat asing baginya. Dia biasa berlibur ke sana.
Aku sendiri tidak termasuk dalam kelompok BPD (Barisan Pengagum Dina) karena seperti kukatakan sebelumnya, sejak awal penataran aku sudah sangat tertarik pada perempuan dari Jurusan Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama denganku.
Saat itu aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukai temanku yang anak Teknik Kimia ini, tapi sekarang setelah kupikir-pikir dan kubandingkan dengan semua perempuan yang pernah aku suka. Sepertinya saat itu aku menyukai dia karena aku melihat sikap dan penampilan dan caranya berbicara yang bersahaja apa adanya, dan tentu saja yang paling membuatnya tampak begitu menarik dalam pandanganku adalah wajahnya yang terbilang lumayan yang dibiarkan tanpa make-up berlebihan tapi sama sekali tidak murahan dan kampungan. Sampai hari ini aku masih bisa membayangkan dengan jelas rambutnya yang tergerai sebahu dan diikat hanya pada bagian poni-nya, jejeran giginya yang kecil-kecil yang salah satunya melesak ke dalam yang kulihat saat dia tersenyum dan sampai saat ini juga aku masih bisa membayangkan dengan jelas suaranya yang agak sengau ketika dia bicara.
Sepanjang penataran, kami diwajibkan memakai seragam putih hitam dan memakai badge nama. Sementara itu kegiatan penataran P4 itu sendiri yang diselenggarakan setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 7 sore adalah sebuah kegiatan yang luar biasa membosankan. Sehingga untuk membuang suntuk kami para peserta terpaksa harus kreatif mencari kegiatan yang bis amembunuh kebosanan.
Sebagian peserta menjadikan badge nama yang kosong di bagian belakang menjadi sasaran kreatifitas peserta penataran, ditulisi nama-nama yang dianggap keren, misalnya seorang temanku di Teknik Sipil yang sekarang sudah almarhum menulis nama Escobar di belakang badge namanya, nama itu kemudian melekat menjadi nama panggilannya sampai akhir hayat. Anak-anak Teknik Mesin juga unjuk kreatifitas di bagian kosong badge nama tersebut, tapi mungkin karena seluruhnya laki-laki, kreatifitas anak Teknik Mesin terlihat aneh. Misalnya sekelompok anak teknik mesin yang duduk di bagian belakang, menulisi bagian kosong badge-nya dengan nama keluarga kelelawar, ada Batman, Kelelawar, Kalong, Kampret dan sejenisnya.
Sementara untuk aku sendiri, aku tidak perlu pusing-pusing mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan karena saat mengikuti penataran, Dina yang lulusan SMA swasta di Bandung itu setiap hari membawa buku bacaan yang cukup langka bagi kami di Banda Aceh. Novel-novel karya pengarang Sidney Seldon dan komik manga Kungfu Boy. Lalu dengan begitu baik hatinya Dina meminjamkan buku-buku itu kepada kami.
Yang paling diuntungkan dengan itu tentu saja kami yang duduk satu deretan dengan Dina, dua temanku anak Bio 5 dan aku sendiri. Sementara peminat lain harus rela antri menunggu giliran setelah kami selesai membaca. Hampir sepanjang waktu penataran kami bertiga dan berempat dengan Dina menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku itu, aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan dosen yang berbicara dengan mulut berbuih-buih di depan ruangan. Syeh yang sejak masih SMA aku tahu sangat serius belajar tidak ikut-ikutan. Di deretan bangku kami hanya dia sendirilah yang serius mengikuti penataran dan menjadi andalan kami setiap kali ada quiz atau ujian.
Buku milik Dina dengan cepat beredar di kalangan terbatas di antara para peserta penataran yang duduk di dekat kami. Salah seorang yang juga menikmati keuntungan dari posisi duduk dekat Dina dan ikut mendapat manfaat dari informasi penting yang ada dalam buku-buku yang dibawa Dina. Salah satu peserta penataran yang mengambil manfaat itu adalah anak Teknik Kimia yang menarik perhatianku.
Hal ini membuat kami jadi lebih sering berinteraksi. Kami berdua bergiliran membaca komik Kung Fu Boy yang terbagi dalam beberapa seri yang sambung menyambung dan tiap seri tersebar di beberapa teman yang duduk di sekeliling kami. Anak Teknik Kimia yang kusuka itu membaca seri yang berurutan denganku, kadang dia sudah menyelesaikan seri yang dia baca tapi aku belum selesai. Saat seperti itulah kami sering berkomunikasi dan komunikasi itu menjadi lebih intens saat jeda waktu penataran. Yang kami diskusikan biasanya adalah jurus-jurus baru yang ditemukan Chinmi di sepanjang pengembaraan yang dia lakukan.
Perempuan yang kusuka ini seperti kebanyakan teman-teman seangkatanku adalah lulusan SMA Negeri 3 Banda Aceh, sekolah favorit di kota kami. Dia juga teman baik dari cowok yang menyukai Dina yang duduk di belakang kami. Temanku yang menyukai Dina ini sama sekali tidak tahu kalau aku menyukai temannya yang anak Teknik Kimia itu sering menceritakan keakrabannya dengan anak Teknik Kimia yang aku suka. Cerita dari temanku yang ‘high class’ dan bergelar ‘Teuku’ yang tinggal di Lamprit ini cukup membuatku nyaliku ciut, ceritanya membuat aku berpikir kalau anak Teknik Kimia yang aku suka ini tentu berada di strata sosial yang sama dengannya.
***
Selesai penataran, seperti biasa anak baru jadi jatah para senior untuk ‘dibina’. Ada berbagai nama untuk menyebut kegiatan itu, ada yang menyebutnya OSPEK, MAPRAS dan lain sebagainya. Di Teknik kami menyebutnya SIKAT yang merupakan singkatan dari ‘SIlaturahmi Keakraban Aneuk Teknik’. Untuk angkatan kami yang menjadi panitianya adalah anak angkatan 88. Yang diketuai oleh Bang Wawan dari jurusan arsitektur. Khusus angkatan 88 memang ada jurusan asrsitektur yang dulunya diseleksi dari mahasiswa yang lulus di teknik Sipil yang jumlahnya kalau tidak salah ada 18 orang, kabarnya mereka dipersiapkan untuk menjadi Dosen di jurusan Teknik Arsitektur yang akan dibuka di Unsyiah.
Ketika mengikuti SIKAT, kami semua diberi perlengkapan berupa ikat kepala kain berwarna oranye bertuliskan SIKAT 92. Kami juga mendapat hadiah nama baru bikinan para senior sebagai ungkapan ‘rasa sayang’ mereka kepada kami. Beberapa nama pemberian senior itu melekat menjadi nama panggilan yang bersangkutan selama kuliah, salah satu nama pemberian senior yang melekat menjadi nama panggilan adalah ‘Abua’. Nama yang diberikan oleh senior kami kepada salah seorang anak Teknik Sipil lulusan SMA negeri 3. Seorang lagi cewek anak Teknik Kimia yang diberi nama ‘Leler’, sampai hari ini hanya nama itu yang kuingat tiap kali membayangkan wajah temanku yang tidak bisa dibilang jelek itu, aku sama sekali tidak ingat lagi nama aslinya.
Hari pertama SIKAT 92 di selenggarakan dalam gedung Aula Lama tempat kami melaksanakan penataran, saat acara tersebut berlangsung seluruh kursi dan meja dalam tuangan dikosongkan. Kami para peserta dibagi ke dalam beberapa regu dengan masing-masing regu berisi 10 orang dengan anggota yang dicampur dari semua jurusan, aku sendiri memimpin salah satu regu itu. Seluruh kelompok dipimpin oleh seorang komandan batalyon bernama ‘Wan Teleng’ (nama aslinya aku tidak pernah tahu), anak Teknik Mesin yang sampai hari ini masih aku ragukan kesehatan syaraf-sarafnya (sori Wan he he he).
Sepanjang acara itu para senior mendoktrin kami kalau di Unsyiah Teknik adalah Raja. Kakak-kakak senior cewek juga tidak kalah garangnya, salah satu yang paling garang namanya kak Wina dari Teknik Kimia angkatan 87. Kak Wina ini mendoktrin para mahasiswi Teknik supaya tidak cengeng . “Kalau cengeng, jangan masuk Teknik, Pindah sana ke PDPK” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Kak Wina. (PDPK adalah Pendidikan D3 Kesekretariatan di bawah naungan Fakultas Ekonomi)
Hari kedua SIKAT, semua rencana para senior itu terhadap kami berantakan karena untuk tahun 1992 pihak rektorat melarang segala kegiatan yang berbau perloncoan . Pada hari kedua saat kami semua sudah berkumpul di kampus, Fakultas Teknik didatangi pihak rektorat karena mereka mendapat informasi bahwa di teknik ada acara perploncoan. Acara SIKAT pun mau tidak mau terpaksa dibubarkan.
Mendapati situasi seperti itu para senior kami tidak kehilangan akal, kami mahasiswa baru yang masih lugu dan polos didoktrin dengan variasi sedikit ancaman supaya mau melanjutkan SIKAT di tempat lain. Sempat terjadi sedikit perdebatan di antara kami, tapi akhirnya sebagian besar dari kami memutuskan untuk tetap melanjutkan SIKAT di luar kampus, di tempat yang ditentukan senior.
Acara sikat dilanjutkan di Ujong Batee, di sebuah pantai yang letaknya 30 Kilometer di luar Kota Banda Aceh. Untuk menuju ke sana kami semua diangkut dengan Truk yang entah darimana didapat para senior itu.
Di sana kami semua ‘dikerjai’ tapi tidak berlebihan seperti yang dilakukan para senior STPDN yang sering ditampilkan di TV. ‘Leler’ anak Teknik Kimia yang tidak kuingat lagi nama aslinya bersama May cewek Teknik Sipil asal Riau yang oleh senior diberi nama baru ‘Per Obat Nyamuk’ tampak paling menderita. Mereka berdua ketiban sial mendapat ‘pengasuh’ bernama Bang Fadhil, anak Teknik Mesin angkatan 86 yang juga anggota Leuser, yang tidak pernah kekurangan ide untuk mengerjai mereka. “Nangis ko Leler”…”air matako itu Leler”, adalah dua kalimat Bang Fadhil yang paling kuingat.
Kejadian seru lain adalah ketika Dina dan Cewek anak bio 5 temanku yang keduanya mengaku sakit disuruh mengangkat tas anyaman pandannya berjalan mengelilingi kami sambil mengatakan “saya penyakitan…saya penyakitan”. Kemudian mata mereka berdua ditutup dan disuruh meraba wajah temannya dan menebak itu wajah siapa. Kami semua tidak dapat menahan tawa ketika Dina meraba wajah yang dia kira teman cewek, tapi sebenarnya posisi teman kami itu telah digantikan oleh bang Joel Jazz anak mesin 86, anak teknik paling konyol dan paling gila yang pernah aku kenal sepanjang aku kuliah di teknik.
Menjelang sore, kami dikumpulkan dan panitia dan para mentor meminta maaf. Beberapa orang dari kami dipilih untuk melakukan pembalasan, lalu setelah semua kembali normal kami semua diguyur air satu persatu oleh para senior, sebagai tanda bahwa kami telah resmi diterima sebagai warga teknik.
Acara sikat diakhiri dengan salam-salaman dan bertangis-tangisan yang belakangan aku tahu ternyata memang telah sengaja diskenariokan oleh para senior.
Setelah itu semua menjadi tidak terkendali, senior memburu junior, junior memburu senior untuk diceburkan ke laut.
Bersambung ke Bag III…Peusijuek Wisudawan.
Notes : Dalam bagian ini banyak nama sengaja tidak kusebut karena mungkin cerita ini bisa merusak keharmonisan status pribadi dan profesi yang bersangkutan saat ini. Tapi nama-nama itu akan tertulis dengan jelas di lanjutan cerita ini kalau yang bersangkutan memberi izin.
Minggu, 26 Juli 2009
Roman Picisan Bag I
Setamat SMA tahun 1992, aku mengikuti bimbingan belajar di Bimafika sebagai persiapan untuk mengikuti UMPTN.
Dalam menyelenggarakan bimbingan belajar bagi para tamatan SMA ini, Bimafika menyewa ruang belajar milik MIN Banda Aceh yang terletak di kawasan Jambo Tape. Aku sendiri saat itu kost di Kampung Laksana, di sebuah rumah di Jalan Besi.
Untuk mengikuti kursus di Bimafika, setiap hari aku selalu berjalan kaki pulang pergi dari dan ke Kampung Laksana melewati jalan-jalan kecil dan jalan tikus di Kampung Keramat yang menghubungkannya dengan Jambo Tape.
Selain aku, bimbingan belajar yang diasuh oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas elit di Unsyiah ini juga diikuti oleh ratusan siswa tamatan SMA yang berasal dari berbagai penjuru Aceh. Mereka semua datang ke Bimafika dengan tujuan dan maksud yang sama, merebut satu kursi di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Salah satu dari sekian ratus siswa tamatan SMA yang mengikuti Bimbingan belajar di Bimafika ini bernama Lusi, seorang gadis muda asal Lhokseumawe, berkulit putih, berambut lurus dan panjang yang mengikuti bimbingan di ruangan kelas yang sama denganku.
Selama mengikuti bimbingan, Lusi meyewa sebuah kamar kost di Kampung Keramat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat bimbingan. Seperti aku, Lusi yang rada tomboy inipun setiap hari berjalan kaki dari tempat kost-nya untuk menuju dan kembali dari Bimafika.
Karena untuk menuju Bimafika kami harus melewati jalan yang sama, hampir setiap hari aku bertemu Lusi dalam perjalanan ke tempat bimbingan. Kami selalu bertemu di persimpangan Jalan Kenari, aku datang dari arah timur dan Lusi datang dari arah utara. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Bimafika bersama-sama, menyusup melalui celah sempit di belakang mesjid milik YPAI, sebuah sekolah islam swasta yang terletak tepat di samping Bimafika. Melalui celah sempit di belakang tempat wudhuk mesjid ini kami masuk ke dalam lapangan sekolah YPAI yang memiliki ruangan belajar bertingkat dua yang terbuat dari bahan beton yang terlihat sudah sangat tua, dengan cat putih yang ditumbuhi jamur menghitam dimana-mana dan terkelupas di sana sini serta tiang-tiang beton bundar yang penuh coretan dan bopeng-bopeng karena kurang perawatan.
Dari lapangan yang tampak kurang terurus dengan rumput yang tumbuh tinggi itu kami masuk ke area Bimafika dengan cara sedikit menunduk melewati pagar kawat duri yang ditopang tiang besi profil yang berwarna coklat karena karat yang tampak seperti gapura kecil karena bagian atas dan bawah kawatnya sengaja dilonggarkan supaya mudah dilewati orang-orang yang menuju dan keluar dari Bimafika.
Ketika pulang dari Bimafika juga demikian, kami melewati jalan yang sama dan berpisah di persimpangan Jalan Kenari, Lusi berbelok ke Utara aku berjalan lurus menuju ke Timur. Dalam perjalanan pulang dan pergi itu kami selalu mengobrol. Yang kami obrolkan tidak jauh-jauh dari UMPTN yang bakal kami hadapi dan juga kekaguman kami terhadap tentor-tentor yang mengajar kami.
Saat itu MLM belum mewabah, Amway, Tianshi, K-Link atau CNI juga belum populer. Orang-orang pun belum mengenal Andrie Wongso, Tung Desem Waringin atau Robert T. Kiyosaki. Tapi saat itu tentor-tentor kami di Bimafika yang kuliah di Unsyiah, sudah memiliki kualitas yang sama dengan para motivator perusahaan MLM yang sekarang banyak kita temui dimana-mana yang suka mengutip kata-kata dari nama-nama yang saya sebutkan di atas.
Selain sebagai pengajar, di mataku para tentor itu adalah sumber inspirasi yang aku pandang dengan kekaguman tinggi. Kurang lebih seperti cara para downliner MLM melihat up-linenya. Di mataku para tentor itu nyaris seperti manusia setengah dewa.
Dari cara mereka bercerita, para tentor Bimafika membuat aku yakin bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan masa depan yang cerah adalah dengan diterima di perguruan tinggi negeri. Begitu dahsyatnya para tentor itu dalam memotivasiku, sehingga akupun rela belajar setengah mati agar bisa lulus di UMPTN nanti.
Pada waktu itu aku masih remaja tanggung yang cenderung rendah diri terhadap lawan jenis. Aku sulit sekali memulai percakapan dengan lawan jenis. Aku selalu tergagap jika berada dalam situasi semacam itu. Setiap kali aku akan memulai percakapan dengan seorang perempuan menarik, yang muncul di kepalaku selalu berbagai bentuk pandangan negatif terhadap diriku sendiri. Aku memandang rendah setiap sisi kualitas diri yang aku punyai, entah itu fisik, situasi finasial sampai latar belakang kesukuan.
Segi fisik misalnya, waktu itu sepertinya aku baru merasa percaya diri kalau aku memiliki wajah dan penampilan seganteng dan sekeren Thomas Jorghi yang oleh remaja angkatan sekarang lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut dengan goyangan norak dan lirik lagu yang kampungan, tapi waktu itu merupakan model papan atas yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah remaja. Thomas Jorghi saat itu adalah ‘kata ganti’ untuk menyebut cowok ganteng, dia menjadi idola hampir semua remaja perempuan dan bikin iri semua remaja dan ABG laki-laki seangkatanku.
Aku juga sering minder terhadap teman-teman yang punya ‘kereta’ (sebutan untuk motor di Aceh) dan aku sering berpikir tanpa punya kereta tidak mungkin ada perempuan yang memandangku.
Statusku sebagai orang Gayo juga cukup membuat tertekan, sebagai suku minoritas dan sub-ordinat, seperti halnya orang Indonesia di Malaysia, suku Madura di Surabaya, suku Jawa di Jakarta atau suku Aceh di Medan. Di Banda Aceh, suku Gayo sering dijadikan bahan olok-olok dalam obrolan sehari-hari. Dengan latar belakang kesukuanku seringkali aku merasa bahwa tidak mungkin ada perempuan Aceh yang mau kudekati secara serius.
Begitulah, setiap kali aku bertemu perempuan yang menarik semua tekanan di atas membuat aku sulit sekali untuk memulai percakapan.
Ketika aku pertama kali mengenal Lusi juga demikian, aku sama sekali tidak berani mengajaknya bicara. Ketika kami pertama bertemu, dialah yang memulai percakapan. Tapi ketika aku sudah mulai berbicara dengannya, karakter pribadinya yang hangat dan ekstrovert, sikapnya yang ramah alami tanpa ada kesan dibuat-buat terhadap siapapun langsung membuat aku merasa nyaman berdekatan dengannya.
Lusi tidak secantik Wirna, teman sekelasku di 3 fisik 2 SMA Negeri 2 Banda Aceh yang di dalam kelas duduk tepat di depan bangkuku yang mungkin adalah perempuan paling cantik yang pernah kukenal sampai umurku yang ke- 18 saat itu, yang secara diam-diam disukai oleh semua murid laki-laki di kelasku termasuk aku sendiri. Tapi sampai hari ini tidak ada satupun dari semua laki-laki teman sekelasku itu yang punya nyali untuk menyatakan apa yang kami rasakan saat itu kepada Wirna (kecuali aku, setelah akhirnya kami bertemu di facebook beberapa hari yang lalu).
Tapi meskipun dia tidak secantik Wirna, segala kehangatan sikap yang kurasakan dari Lusi membuatnya tampak demikian menarik sebagai seorang perempuan. Seperti magnet yang menarik dengan kuat setiap besi yang didekatnya, Lusi pun demikian, karakternya yang hangat dan gembira membuat laki-laki normal mengenalnya merasa sulit untuk tidak mendekat.
Karena itulah setelah beberapa hari terus berdekatan dengannya, tanpa bisa aku hindari perasaan lain yang lebih intim dari sekedar pertemanan secara alami muncul dalam diriku. Tapi tentu saja perkembangan perasaan yang kualami itu tidak pernah berani kuungkapkan kepada Lusi. Perasaan itu tidak pernah berani aku ungkapkan karena perasaan rendah diri yang selalu menyergapku.
Aku tahu persis, sikap ramah, hangat dan bersahabat yang ditunjukkan Lusi kepadaku bukanlah sikap yang semata ditujukan untukku, tapi memang seperti itulah sikap standar Lusi terhadap siapapun yang dia kenal baik. Sikap yang tanpa pernah dia sadari telah menyentuh hidup banyak orang.
Beberapa kali aku ingin menanyakan nomer telpon Lusi di Lhokseumawe supaya kalau nanti setelah bimbingan kami tidak memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, aku bisa tetap berhubungan dengan dia. Tapi lidahku terasa kelu setiap kali aku akan mengucapkan kata-kata itu, entah kenapa setiap kali aku akan minta nomer teleponnya, yang muncul di kepalaku selalu berbagai pandangan negatif terhadap diriku bercampur prasangka terhadap Lusi.
“Jangan-jangan nanti Lusi nyangkain aku mau PDKT kalo nanyain telpon, jangan-jangan nanti gara-gara itu dia nggak mau lagi ngobrol sama aku”, begitu suara yang muncul di kepalaku yang disusul dengan berbagai tekanan yang membuatku minder seperti yang aku gambarkan di atas “Mana pantas aku minta nomer telponnya, yang suka sama dia pasti banyak, apalagi aku orang Gayo mana mungkin dia mau memberikan nomer teleponnya”. Di samping itu, pakaian bermerek terkenal yang dikenakan Lusi, celana levi’s asli yang harganya setara tiga bulan uang kiriman bulananku juga cukup mengintimidasiku supaya tidak mendekat terlalu jauh, karena aku merasa di antara kami ada perbedaan yang cukup mencolok dalam hal status sosial.
Begitulah sampai waktu bimbingan di Bimafika berakhir, aku tidak pernah berani minta nomer telepon Lusi. Sampai akhirnya aku tinggal punya satu kesempatan lagi “Malam Perpisahan Bimafika”, yang diselenggarakan di Taman Budaya, dua hari menjelang UMPTN. Sebelum acara itu berlangsung, aku bertekad, apapun yang terjadi aku harus mendapatkan nomer teleponnya malam itu, aku bertekad mempersetankan segala macam gangguan yang hadir di kepalaku abibat dari adanya sikap minderku.
Malam itu di Taman Budaya diselenggarakan beragam acara kesenian yang diisi oleh anak-anak Bimafika sendiri beserta para tentor. Disamping itu juga diadakan berbagai acara pemilihan siswa ter dan juga putra dan putri persahabatan. Aku datang agak terlambat karena kesulitan mendapatkan angkutan sebab labi-labi (sebutan di Banda Aceh untuk angkutan minibus dalam kota) jurusan Ketapang, Ajun bahkan Lhok’nga yang ada di terminal labi-labi Diponegoro semuanya penuh dipadati anak-anak Bimafika yang akan menghadiri malam perpisahan di Taman Budaya yang terletak di Jalan Teuku Umar yang dilewati oleh labi-labi jurusan itu.
Ketika aku sampai di Taman Budaya, ruangan Taman Budaya sudah penuh terisi, meski acara belum dimulai. Yang pertama kali kucari tentu saja Lusi. Tapi aku tidak menemukannya sampai acarapun dimulai, dibuka dengan penampilan tentor matematika yang aku lupa namanya menyanyikan lagu barat yang aku lupa judulnya. Sementara mataku terus kuarahkan ke berbagai sisi untuk mencari keberadaan sosok Lusi yang belum juga aku temukan.
Kemudian satu persatu acara pemilihan siswa ‘ter’ mulai dari yang terbaik sampai yang terlucu yang nominasinya dibacakan oleh sepasang siswa Bimafika yang dipilih oleh para tentor.
Ketika tiba pengumuman salah satu siswa ‘ter’(aku lupa ‘ter’ apa) aku melihat Lusi, dia tampak berbeda dengan Lusi yang selama ini kukenal, dia mengenakan gaun warna merah yang membuatnya tampak anggun dan feminin. Berbeda sekali dengan Lusi yang kukenal sehari-hari mengenakan T-shirt yang dipadu dengan celana jeans serta tas punggung dengan jam besar di belakangnya. Penampilan Lusi yang paling kuingat adalah ketika dia memakai kaos kuning dan celana jeans Levi’s berwarna biru muda nyaris putih.
Lusi kulihat maju ke panggung dengan percaya diri berpasangan dengan salah satu siswa pria yang tidak kukenal membacakan nominasi untuk siswa ‘ter’. Melihat penampilan Lusi malam itu nyaliku untuk minta nomer teleponnya jadi menciut. Tapi aku tetap berniat untuk melakukannya, karena aku berpikir bisa jadi setelah malam ini aku tidak akan bertemu Lusi lagi.
Sepanjang malam itu aku menunggu kesempatan untuk bisa mendekati dia, mencari momen yang tepat. Tapi yang kulihat sejak turun dari panggung dan kemudian naik kembali ketika dia dinobatkan sebagai Putri perrsahabatan angkatan 1992 (sebuah gelar yang wajar mengingat karakter Lusi yang hangat terhadap siapapun). Lusi terus dikelilingi abang-abang tentor yang tampaknya juga menyukainya membuatku benar-benar kehilangan seluruh rasa percaya diriku untuk mendekat.
Sampai acara berakhir aku sama sekali tidak mendapatkan celah atau kesempatan untuk bertemu Lusi secara pribadi sampai kulihat dia keluar dari ruangan beramai-ramai dengan beberapa teman perempuannya dan beberapa tentor, mungkin mereka diantar pulang naik ‘kereta’ oleh abang-abang tentor yang merubunginya. Yang jelas setelah itu aku tidak melihatnya lagi.
Aku pulang naik labi-labi terakhir jurusan kota yang menunggu di seberang Taman Budaya di dekat Kherkoff (perkuburan belanda) yang kernetnya berteriak-teriak sambil melambaikan tangan kepada setiap orang yang keluar dari gedung Taman Budaya. Labi-labi itu membawaku ke terminal di jalan Diponegoro untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Laksana dengan labi-labi jurusan Darussalam.
Sepanjang jalan dalam labi-labi dan ketika berjalan kaki dari simpang Jalan Dharma sampai ke Jalan Besi, aku berharap bisa bertemu Lusi kembali entah besok pagi, atau dua hari kemudian saat UMPTN atau di terminal Bis Seutui saat kami pulang ke kampung masing-masing, atau ketika makan malam di terminal bis di Bireun. Tapi harapanku itu tidak terwujud.
Saat pengumuman UMPTN, selain namaku, nama Lusi adalah nama pertama yang ingin aku lihat ada di daftar nama Mahasiswa yang lulus di Unsyiah. Aku diterima di jurusan Teknik Sipil Unsyiah, tapi nama Lusi tidak aku temukan. Ketika tidak menemukan namanya dalam daftar nama mahasiswa yang lulus di Unsyiah, aku berharap namanya ada di daftar nama mahasiswa yang di terima di PTN lain, karena dengan begitu aku tetap akan bisa melacaknya. Tapi semua harapanku itu sia-sia, nama Lusi tidak berhasil aku temukan. Sehingga yang terjadi tepat seperti yang kuduga malam itu. Malam perpisahan Bimafika di Taman Budaya adalah kali terakhir aku melihat Lusi dan selanjutnya dia menghilang dan tidak akan pernah kutemui lagi.
Saat sudah kuliah, beberapa kali aku mencoba mencari informasi tentang keberadaannya melalui teman-temanku yang juga berasal dari Lhokseumawe, salah satunya temanku di Leuser yang juga teman satu timku waktu mendaki jalur selatan Leuser pada ahun 1994. Tapi aku juga tidak berhasil mendapatkan informasi apapun dari temanku ini, yang terjadi malah aku dijadikannya bahan ledekan karena menurutnya tidak pantas aku suka pada Lusi, padahal waktu itu kepada temanku ini aku cuma menanyakan kalau-kalau dia mengetahui informasi tentang Lusi. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan pada temanku itu kalau aku suka pada Lusi.
Aku juga sempat mencari informasi ke tempat lain tapi hasilnya juga nihil. Mendapati kenyataan seperti itu akupun sadar dan mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas aku harus menerima kenyataan kalau kenangan singkat bersama Lusi, meskipun berkesan tapi tidak lebih hanya menjadi cerita sekilas lewat dalam sejarah hidupku.
http://www.youtube.com/watch?v=VOe5jFUQHXI
Bersambung ke bagian 2…
Dalam menyelenggarakan bimbingan belajar bagi para tamatan SMA ini, Bimafika menyewa ruang belajar milik MIN Banda Aceh yang terletak di kawasan Jambo Tape. Aku sendiri saat itu kost di Kampung Laksana, di sebuah rumah di Jalan Besi.
Untuk mengikuti kursus di Bimafika, setiap hari aku selalu berjalan kaki pulang pergi dari dan ke Kampung Laksana melewati jalan-jalan kecil dan jalan tikus di Kampung Keramat yang menghubungkannya dengan Jambo Tape.
Selain aku, bimbingan belajar yang diasuh oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas elit di Unsyiah ini juga diikuti oleh ratusan siswa tamatan SMA yang berasal dari berbagai penjuru Aceh. Mereka semua datang ke Bimafika dengan tujuan dan maksud yang sama, merebut satu kursi di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Salah satu dari sekian ratus siswa tamatan SMA yang mengikuti Bimbingan belajar di Bimafika ini bernama Lusi, seorang gadis muda asal Lhokseumawe, berkulit putih, berambut lurus dan panjang yang mengikuti bimbingan di ruangan kelas yang sama denganku.
Selama mengikuti bimbingan, Lusi meyewa sebuah kamar kost di Kampung Keramat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat bimbingan. Seperti aku, Lusi yang rada tomboy inipun setiap hari berjalan kaki dari tempat kost-nya untuk menuju dan kembali dari Bimafika.
Karena untuk menuju Bimafika kami harus melewati jalan yang sama, hampir setiap hari aku bertemu Lusi dalam perjalanan ke tempat bimbingan. Kami selalu bertemu di persimpangan Jalan Kenari, aku datang dari arah timur dan Lusi datang dari arah utara. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Bimafika bersama-sama, menyusup melalui celah sempit di belakang mesjid milik YPAI, sebuah sekolah islam swasta yang terletak tepat di samping Bimafika. Melalui celah sempit di belakang tempat wudhuk mesjid ini kami masuk ke dalam lapangan sekolah YPAI yang memiliki ruangan belajar bertingkat dua yang terbuat dari bahan beton yang terlihat sudah sangat tua, dengan cat putih yang ditumbuhi jamur menghitam dimana-mana dan terkelupas di sana sini serta tiang-tiang beton bundar yang penuh coretan dan bopeng-bopeng karena kurang perawatan.
Dari lapangan yang tampak kurang terurus dengan rumput yang tumbuh tinggi itu kami masuk ke area Bimafika dengan cara sedikit menunduk melewati pagar kawat duri yang ditopang tiang besi profil yang berwarna coklat karena karat yang tampak seperti gapura kecil karena bagian atas dan bawah kawatnya sengaja dilonggarkan supaya mudah dilewati orang-orang yang menuju dan keluar dari Bimafika.
Ketika pulang dari Bimafika juga demikian, kami melewati jalan yang sama dan berpisah di persimpangan Jalan Kenari, Lusi berbelok ke Utara aku berjalan lurus menuju ke Timur. Dalam perjalanan pulang dan pergi itu kami selalu mengobrol. Yang kami obrolkan tidak jauh-jauh dari UMPTN yang bakal kami hadapi dan juga kekaguman kami terhadap tentor-tentor yang mengajar kami.
Saat itu MLM belum mewabah, Amway, Tianshi, K-Link atau CNI juga belum populer. Orang-orang pun belum mengenal Andrie Wongso, Tung Desem Waringin atau Robert T. Kiyosaki. Tapi saat itu tentor-tentor kami di Bimafika yang kuliah di Unsyiah, sudah memiliki kualitas yang sama dengan para motivator perusahaan MLM yang sekarang banyak kita temui dimana-mana yang suka mengutip kata-kata dari nama-nama yang saya sebutkan di atas.
Selain sebagai pengajar, di mataku para tentor itu adalah sumber inspirasi yang aku pandang dengan kekaguman tinggi. Kurang lebih seperti cara para downliner MLM melihat up-linenya. Di mataku para tentor itu nyaris seperti manusia setengah dewa.
Dari cara mereka bercerita, para tentor Bimafika membuat aku yakin bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan masa depan yang cerah adalah dengan diterima di perguruan tinggi negeri. Begitu dahsyatnya para tentor itu dalam memotivasiku, sehingga akupun rela belajar setengah mati agar bisa lulus di UMPTN nanti.
Pada waktu itu aku masih remaja tanggung yang cenderung rendah diri terhadap lawan jenis. Aku sulit sekali memulai percakapan dengan lawan jenis. Aku selalu tergagap jika berada dalam situasi semacam itu. Setiap kali aku akan memulai percakapan dengan seorang perempuan menarik, yang muncul di kepalaku selalu berbagai bentuk pandangan negatif terhadap diriku sendiri. Aku memandang rendah setiap sisi kualitas diri yang aku punyai, entah itu fisik, situasi finasial sampai latar belakang kesukuan.
Segi fisik misalnya, waktu itu sepertinya aku baru merasa percaya diri kalau aku memiliki wajah dan penampilan seganteng dan sekeren Thomas Jorghi yang oleh remaja angkatan sekarang lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut dengan goyangan norak dan lirik lagu yang kampungan, tapi waktu itu merupakan model papan atas yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah remaja. Thomas Jorghi saat itu adalah ‘kata ganti’ untuk menyebut cowok ganteng, dia menjadi idola hampir semua remaja perempuan dan bikin iri semua remaja dan ABG laki-laki seangkatanku.
Aku juga sering minder terhadap teman-teman yang punya ‘kereta’ (sebutan untuk motor di Aceh) dan aku sering berpikir tanpa punya kereta tidak mungkin ada perempuan yang memandangku.
Statusku sebagai orang Gayo juga cukup membuat tertekan, sebagai suku minoritas dan sub-ordinat, seperti halnya orang Indonesia di Malaysia, suku Madura di Surabaya, suku Jawa di Jakarta atau suku Aceh di Medan. Di Banda Aceh, suku Gayo sering dijadikan bahan olok-olok dalam obrolan sehari-hari. Dengan latar belakang kesukuanku seringkali aku merasa bahwa tidak mungkin ada perempuan Aceh yang mau kudekati secara serius.
Begitulah, setiap kali aku bertemu perempuan yang menarik semua tekanan di atas membuat aku sulit sekali untuk memulai percakapan.
Ketika aku pertama kali mengenal Lusi juga demikian, aku sama sekali tidak berani mengajaknya bicara. Ketika kami pertama bertemu, dialah yang memulai percakapan. Tapi ketika aku sudah mulai berbicara dengannya, karakter pribadinya yang hangat dan ekstrovert, sikapnya yang ramah alami tanpa ada kesan dibuat-buat terhadap siapapun langsung membuat aku merasa nyaman berdekatan dengannya.
Lusi tidak secantik Wirna, teman sekelasku di 3 fisik 2 SMA Negeri 2 Banda Aceh yang di dalam kelas duduk tepat di depan bangkuku yang mungkin adalah perempuan paling cantik yang pernah kukenal sampai umurku yang ke- 18 saat itu, yang secara diam-diam disukai oleh semua murid laki-laki di kelasku termasuk aku sendiri. Tapi sampai hari ini tidak ada satupun dari semua laki-laki teman sekelasku itu yang punya nyali untuk menyatakan apa yang kami rasakan saat itu kepada Wirna (kecuali aku, setelah akhirnya kami bertemu di facebook beberapa hari yang lalu).
Tapi meskipun dia tidak secantik Wirna, segala kehangatan sikap yang kurasakan dari Lusi membuatnya tampak demikian menarik sebagai seorang perempuan. Seperti magnet yang menarik dengan kuat setiap besi yang didekatnya, Lusi pun demikian, karakternya yang hangat dan gembira membuat laki-laki normal mengenalnya merasa sulit untuk tidak mendekat.
Karena itulah setelah beberapa hari terus berdekatan dengannya, tanpa bisa aku hindari perasaan lain yang lebih intim dari sekedar pertemanan secara alami muncul dalam diriku. Tapi tentu saja perkembangan perasaan yang kualami itu tidak pernah berani kuungkapkan kepada Lusi. Perasaan itu tidak pernah berani aku ungkapkan karena perasaan rendah diri yang selalu menyergapku.
Aku tahu persis, sikap ramah, hangat dan bersahabat yang ditunjukkan Lusi kepadaku bukanlah sikap yang semata ditujukan untukku, tapi memang seperti itulah sikap standar Lusi terhadap siapapun yang dia kenal baik. Sikap yang tanpa pernah dia sadari telah menyentuh hidup banyak orang.
Beberapa kali aku ingin menanyakan nomer telpon Lusi di Lhokseumawe supaya kalau nanti setelah bimbingan kami tidak memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, aku bisa tetap berhubungan dengan dia. Tapi lidahku terasa kelu setiap kali aku akan mengucapkan kata-kata itu, entah kenapa setiap kali aku akan minta nomer teleponnya, yang muncul di kepalaku selalu berbagai pandangan negatif terhadap diriku bercampur prasangka terhadap Lusi.
“Jangan-jangan nanti Lusi nyangkain aku mau PDKT kalo nanyain telpon, jangan-jangan nanti gara-gara itu dia nggak mau lagi ngobrol sama aku”, begitu suara yang muncul di kepalaku yang disusul dengan berbagai tekanan yang membuatku minder seperti yang aku gambarkan di atas “Mana pantas aku minta nomer telponnya, yang suka sama dia pasti banyak, apalagi aku orang Gayo mana mungkin dia mau memberikan nomer teleponnya”. Di samping itu, pakaian bermerek terkenal yang dikenakan Lusi, celana levi’s asli yang harganya setara tiga bulan uang kiriman bulananku juga cukup mengintimidasiku supaya tidak mendekat terlalu jauh, karena aku merasa di antara kami ada perbedaan yang cukup mencolok dalam hal status sosial.
Begitulah sampai waktu bimbingan di Bimafika berakhir, aku tidak pernah berani minta nomer telepon Lusi. Sampai akhirnya aku tinggal punya satu kesempatan lagi “Malam Perpisahan Bimafika”, yang diselenggarakan di Taman Budaya, dua hari menjelang UMPTN. Sebelum acara itu berlangsung, aku bertekad, apapun yang terjadi aku harus mendapatkan nomer teleponnya malam itu, aku bertekad mempersetankan segala macam gangguan yang hadir di kepalaku abibat dari adanya sikap minderku.
Malam itu di Taman Budaya diselenggarakan beragam acara kesenian yang diisi oleh anak-anak Bimafika sendiri beserta para tentor. Disamping itu juga diadakan berbagai acara pemilihan siswa ter dan juga putra dan putri persahabatan. Aku datang agak terlambat karena kesulitan mendapatkan angkutan sebab labi-labi (sebutan di Banda Aceh untuk angkutan minibus dalam kota) jurusan Ketapang, Ajun bahkan Lhok’nga yang ada di terminal labi-labi Diponegoro semuanya penuh dipadati anak-anak Bimafika yang akan menghadiri malam perpisahan di Taman Budaya yang terletak di Jalan Teuku Umar yang dilewati oleh labi-labi jurusan itu.
Ketika aku sampai di Taman Budaya, ruangan Taman Budaya sudah penuh terisi, meski acara belum dimulai. Yang pertama kali kucari tentu saja Lusi. Tapi aku tidak menemukannya sampai acarapun dimulai, dibuka dengan penampilan tentor matematika yang aku lupa namanya menyanyikan lagu barat yang aku lupa judulnya. Sementara mataku terus kuarahkan ke berbagai sisi untuk mencari keberadaan sosok Lusi yang belum juga aku temukan.
Kemudian satu persatu acara pemilihan siswa ‘ter’ mulai dari yang terbaik sampai yang terlucu yang nominasinya dibacakan oleh sepasang siswa Bimafika yang dipilih oleh para tentor.
Ketika tiba pengumuman salah satu siswa ‘ter’(aku lupa ‘ter’ apa) aku melihat Lusi, dia tampak berbeda dengan Lusi yang selama ini kukenal, dia mengenakan gaun warna merah yang membuatnya tampak anggun dan feminin. Berbeda sekali dengan Lusi yang kukenal sehari-hari mengenakan T-shirt yang dipadu dengan celana jeans serta tas punggung dengan jam besar di belakangnya. Penampilan Lusi yang paling kuingat adalah ketika dia memakai kaos kuning dan celana jeans Levi’s berwarna biru muda nyaris putih.
Lusi kulihat maju ke panggung dengan percaya diri berpasangan dengan salah satu siswa pria yang tidak kukenal membacakan nominasi untuk siswa ‘ter’. Melihat penampilan Lusi malam itu nyaliku untuk minta nomer teleponnya jadi menciut. Tapi aku tetap berniat untuk melakukannya, karena aku berpikir bisa jadi setelah malam ini aku tidak akan bertemu Lusi lagi.
Sepanjang malam itu aku menunggu kesempatan untuk bisa mendekati dia, mencari momen yang tepat. Tapi yang kulihat sejak turun dari panggung dan kemudian naik kembali ketika dia dinobatkan sebagai Putri perrsahabatan angkatan 1992 (sebuah gelar yang wajar mengingat karakter Lusi yang hangat terhadap siapapun). Lusi terus dikelilingi abang-abang tentor yang tampaknya juga menyukainya membuatku benar-benar kehilangan seluruh rasa percaya diriku untuk mendekat.
Sampai acara berakhir aku sama sekali tidak mendapatkan celah atau kesempatan untuk bertemu Lusi secara pribadi sampai kulihat dia keluar dari ruangan beramai-ramai dengan beberapa teman perempuannya dan beberapa tentor, mungkin mereka diantar pulang naik ‘kereta’ oleh abang-abang tentor yang merubunginya. Yang jelas setelah itu aku tidak melihatnya lagi.
Aku pulang naik labi-labi terakhir jurusan kota yang menunggu di seberang Taman Budaya di dekat Kherkoff (perkuburan belanda) yang kernetnya berteriak-teriak sambil melambaikan tangan kepada setiap orang yang keluar dari gedung Taman Budaya. Labi-labi itu membawaku ke terminal di jalan Diponegoro untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Laksana dengan labi-labi jurusan Darussalam.
Sepanjang jalan dalam labi-labi dan ketika berjalan kaki dari simpang Jalan Dharma sampai ke Jalan Besi, aku berharap bisa bertemu Lusi kembali entah besok pagi, atau dua hari kemudian saat UMPTN atau di terminal Bis Seutui saat kami pulang ke kampung masing-masing, atau ketika makan malam di terminal bis di Bireun. Tapi harapanku itu tidak terwujud.
Saat pengumuman UMPTN, selain namaku, nama Lusi adalah nama pertama yang ingin aku lihat ada di daftar nama Mahasiswa yang lulus di Unsyiah. Aku diterima di jurusan Teknik Sipil Unsyiah, tapi nama Lusi tidak aku temukan. Ketika tidak menemukan namanya dalam daftar nama mahasiswa yang lulus di Unsyiah, aku berharap namanya ada di daftar nama mahasiswa yang di terima di PTN lain, karena dengan begitu aku tetap akan bisa melacaknya. Tapi semua harapanku itu sia-sia, nama Lusi tidak berhasil aku temukan. Sehingga yang terjadi tepat seperti yang kuduga malam itu. Malam perpisahan Bimafika di Taman Budaya adalah kali terakhir aku melihat Lusi dan selanjutnya dia menghilang dan tidak akan pernah kutemui lagi.
Saat sudah kuliah, beberapa kali aku mencoba mencari informasi tentang keberadaannya melalui teman-temanku yang juga berasal dari Lhokseumawe, salah satunya temanku di Leuser yang juga teman satu timku waktu mendaki jalur selatan Leuser pada ahun 1994. Tapi aku juga tidak berhasil mendapatkan informasi apapun dari temanku ini, yang terjadi malah aku dijadikannya bahan ledekan karena menurutnya tidak pantas aku suka pada Lusi, padahal waktu itu kepada temanku ini aku cuma menanyakan kalau-kalau dia mengetahui informasi tentang Lusi. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan pada temanku itu kalau aku suka pada Lusi.
Aku juga sempat mencari informasi ke tempat lain tapi hasilnya juga nihil. Mendapati kenyataan seperti itu akupun sadar dan mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas aku harus menerima kenyataan kalau kenangan singkat bersama Lusi, meskipun berkesan tapi tidak lebih hanya menjadi cerita sekilas lewat dalam sejarah hidupku.
http://www.youtube.com/watch?v=VOe5jFUQHXI
Bersambung ke bagian 2…
Minggu, 19 Juli 2009
Indahnya Masa Kanak-kanak Tanpa Semai Kebencian
Beberapa waktu yang lalu menjelang akhir masa sekolah tahun ajaran ini. Sekolah Montessori, tempat Matahari Kecil anak saya bersekolah, mengadakan International Day, sebuah acara yang merupakan tradisi tahunan di sekolah ini.
Dalam acara International Day, di sekolah yang siswanya berasal dari berbagai pelosok planet biru yang kita diami ini, para siswa sekolah tersebut tampil dalam kostum khas daerah/negara asalnya dan memperkenalkan daerah/negara asalnya dengan bahasa nasional masing-masing.
Matahari Kecil anak saya tentu saja tampil dengan kostum Kerawang Gayo, pakaian berbahan kain berwarna hitam yang dihiasi bordiran bermotif kerawang yang merupakan pakaian khas daerah kami, pakaian khas yang belakangan telah banyak dikaburkan identitasnya menjadi Kerawang Aceh oleh suku mayoritas di daerah kami. Teman anak saya yang berasal Denmark, tampil dengan Kostum viking lengkap dengan topi bertanduk dan pedang khas mereka, seorang siswa asal Selandia Baru tampil dengan tato khas suku Maori dan siswa-siswa lain juga tampil dengan ciri khasnya masing-masing.
Kami para orang tua diminta membawa makanan yang merupakan ciri khas daerah/negara masing-masing. Matahari kecil anak saya yang orang Gayo membawa masakan ikan mujair pengat, sementara Karuna temannya yang orang jepang membawa onigiri dan berbagai masakan jepang lainnya anak-anak lainpun membawa makanan khas daerah/negaranya masing-masing.
International Day di Montessori ini adalah salah satu dari sekian banyak konsep di Montessori yang sangat saya suka. Melalui acara ini anak-anak diajak untuk tidak melupakan akarnya sambil di saat yang sama diajarkan untuk menghargai keberagaman dengan cara menghormati budaya orang lain yang berbeda dari kebudayaan yang mereka punya.
Acara International Day ini diawali dengan kemunculan masing-masing delegasi siswa di atas pentas. Anak-anak ini memperkenalkan negara asal mereka masing-masing dengan bahasa nasional masing-masing pula. Diawali dengan delegasi Amerika dan diakhiri dengan Kazakhtan.
Setiap kali anak-anak ini memperkenalkan diri dan negaranya dengan penuh rasa bangga, anak-anak lain dan para orang tua menyambutnya dengan tepuk tangan yang membahana.
Selesai acara perkenalan, acara dilanjutkan dengan penampilan anak-anak Montessori dari masing-masing tingkatan mulai dari anak-anak Pre-School yang masih terlihat lucu dan menggemaskan dilanjutkan dengan penampilan anak-anak Lower Elementery yang baru mulai belajar memainkan alat musik dan diakhiri dengan penampilan anak-anak Higher-Elementery yang sudah mulai sempurna baik dalam memainkan alat musik, menyanyi maupun menari.
Qien Mattane Lao, matahari kecil saya, bersama anak-anak Pre-School lain yang satu tingkatan dengannya memulai konser ini dengan menyanyikan lagu ‘Ouvrez La Cage aux Oiseau’, lagu berbahasa Perancis karangan Pierre Perret yang melalui liriknya mengajak pendengarnya untuk melepaskan burung-burung kecil yang malang yang terpenjara di dalam sangkar oleh penggemar burung yang egois ingin menikmati sendiri merdunya kicauan dan indahnya warna-warni bulu burung peliharaannya.
Begini kira-kira arti lirik lagu ini jika diartikan ke dalam bahasa melayu.
Buka buka sangkar burungnya
Perhatikanlah (ketika) burung-burung itu mulai terbang betapa indahnya
Anak-anak yang kalian lihat
(Mereka sebenarnya seperti) Burung-burung Kecil yang terpenjara
(Karena itu) Bukalah pintu sangkarnya dan biarkanlah mereka bebas merdeka
Lirik lagu ini adalah sebuah metafora sekaligus kritik dan sentilan bagi kebanyakan orang tua yang gemar’memenjara’ anak-anak mereka dalam ’sangkar’ keinginan dan ambisi sang orang tua.
Di permukaan planet ini, orang tua sejenis ini dari dulu sampai sekarang jumlahnya banyak sekali. Jumlah orang tua ’spesies’ ini bertambah dengan jumlah yang semakin menjadi-jadi di masa modern dengan tekanan dan persaingan hidup yang semakin ketat seperti sekarang ini.
Dulu orang-orang tua semacam ini sering ‘memenjara’ anak-anak mereka dengan cara menakut-nakuti anak-anak dengan cerita-cerita semacam ‘Malin Kundang’ dan ‘Sampuraga’. Di zaman sekarang orang tua semacam ini ‘memenjara’ anak-anak mereka dengan cara memaksa anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan yang menurut para orang tua ini akan menjadi bekal kehidupan anak-anak tersebut di masa depan, diantaranya dengan memaksakan anak untuk mengikuti berbagai les dan kursus yang kadang tidak disukai oleh anak-anak itu.
Begitu banyaknya orang tua jenis ini di negara ini sekarang, sampai-sampai Departemen pendidikan Indonesia melalui menteri pendidikannya yang cerdas dan bergelar Professor itupun memformalkan ‘penyiksaan’ terhadap anak-anak ini dalam sebuah kurikulum nasional yang ‘kejam’ dan tidak ‘berperikemanusiaan’. Begitu tinggi dan ‘istimewanya’ standar kurikulum bikinan menteri pendidikan yang profesor ini sampai-sampai sekarang beberapa sekolah dasar mensyaratkan kemampuan membaca dan berhitung bagi calon siswanya yang akan masuk ke kelas 1 di sekolah tersebut, sehingga sekarang banyak orang tua yang ‘peduli’ pada masa depan anak-anak mereka yang memaksa anak-anak yang belum genap berumur 6 tahun untuk belajar membaca dan berhitung, padahal seringkali secara kognitif anak-anak itu belum siap untuk mendapatkan materi seperti itu.
Kalau orang tua-orang tua itu mengatakan apa yang mereka lakukan itu adalah demi masa depan anak-anak mereka, saya akan bertanya, siapa sih yang tahu masa depan itu sebenarnya seperti apa?. Kita tidak pernah bisa memperkirakan dengan tepat. Contohnya di waktu saya kecil, ketika berbicara tentang profesi orang tua hanya bisa membayangkan, Insinyur, Dokter, Pilot dan pekerjaan-pekerjaan prestisius lain sesuai dengan situasi zaman itu.
Orang tua saya dan juga saya sendiri misalnya tidak pernah berpikir kalau di masa saya dewasa akan ada profesi yang sangat menjanjikan yang bernama entah itu ahli multimedia, MC, Event Organizer, Motivator bahkan profesi penyelenggara perjalanan wisata, seperti yang saya jalani saat ini.
Anak-anak justru akan mudah menemukan jalannya di masa depan jika di masa kanak-kanaknya dibiarkan bebas melepaskan kreatifitas dan kegembiraan. Contoh dari anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini yang sukses di masa dewasa adalah pemilik mesin pencari ‘Google’.
Selesai menyanyikan ‘Ouvrez La Cage aux Oiseau’, Mattane Lao anak saya dan anak-anak Pre-School lainnya menyanyikan sebuah lagu berbahasa Italia dan dilanjutkan dengan lagu ‘Menanam Jagung’ yang sekaligus merupakan penampilan terakhir mereka di panggung.
Selesai menyanyikan lagu ‘Menanam Jagung’ anak-anak Pre-School turun dari pentas dan menjadi penonton, tempat mereka di panggung digantikan oleh anak-anak Lower-Elementery. Anak-anak di tingkatan ini sudah mampu memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat musik, meskipun belum terlalu istimewa. Pada penampilan mereka kali inipun, konsepnya tetap mengusung ide “berbeda tapi saling menghargai”. Pada sesi ini di sela-sela permainan biola yang mereka mainkan bersama-sama, dua orang murid Lower-Elementery asal Cina menyanyikan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’, lagu terkenal gubahan Mozart seorang komposer besar asal Austria. Kedua murid perempuan dari tingkat Lower-Elementary ini menyanyikan lagu tersebut dalam bahasa Cina.
Puncak acara pertunjukan kesenian ini dipungkasi dengan penampilan anak-anak Upper-Elementery yang merupakan prototype ‘produk’ sistem pendidikan Montessori. Melalui anak-anak Upper Elementary ini kita sudah bisa memperkirakan seperti apa nantinya anak-anak ini di masa dewasanya.
Pada sesi terakhir ini terlihat penampilan anak-anak Upper-Elementary yang rata-rata berusia 10 tahun ini begitu mengagumkan untuk usianya. Mereka memainkan biola dengan baik, anak-anak yang berasal dari berbagai negara dengan warna kulit, mata dan rambut yang berwarna-warni ini menyanyikan lagu Morning is Broken-nya Cat Steven dengan bahasa Inggris yang fasih kemudian dilanjutkan dengan lagu ‘Waktu Ku Kecil’ dalam bahasa melayu dengan aksen Indonesia yang sempurna, yang sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan aksen terkenal milik pahlawan saya CINTA LAURA yang sekarang menjadi ikon EF, sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris asal Swedia.
Penampilan anak-anak Upper-Elementery yang sekaligus merupakan penampilan terakhir dalam acara kesenian ini diakhiri dengan pertunjukan tari ‘Janger’, sebuah tari tradisional dari Bali yang mengisahkan tentang persahabatan antar muda-mudi. Tarian inipun ditarikan dengan sempurna oleh anak-anak Upper-Elementery yang masih mengenakan pakaian nasionalnya masing-masing.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan makan-makan, anak-anak dan orang tua saling bertukar makanan yang merupakan ciri khas dari daerah/negara masing-masing sambil tetap menghormati pantangan-pantangan yang diyakini dalam masing-masing kepercayaan.
Saat acara makan-makan, anak-anak yang berasal beragam latar belakang tapi sama-sama penghuni planet biru berair yang kita namakan Bumi inipun berbaur dan bercanda dengan gembira. Jelas sekali terlihat kalau anak-anak ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengklasifikasikan manusia berdasarkan tinggi rendahnya derajat yang dinilai dari latar belakang budaya, agama dan kepercayaan apalagi warna kulit.
Ouvrez ouvrez la cage aux oiseaux
Regardez-les s’envoler c’est beau
Les enfants si vous voyez
Des p’tits oiseaux prisonniers
Ouvrez-leur la porte vers la liberté
Wassalam
Win Wan Nur
Dalam acara International Day, di sekolah yang siswanya berasal dari berbagai pelosok planet biru yang kita diami ini, para siswa sekolah tersebut tampil dalam kostum khas daerah/negara asalnya dan memperkenalkan daerah/negara asalnya dengan bahasa nasional masing-masing.
Matahari Kecil anak saya tentu saja tampil dengan kostum Kerawang Gayo, pakaian berbahan kain berwarna hitam yang dihiasi bordiran bermotif kerawang yang merupakan pakaian khas daerah kami, pakaian khas yang belakangan telah banyak dikaburkan identitasnya menjadi Kerawang Aceh oleh suku mayoritas di daerah kami. Teman anak saya yang berasal Denmark, tampil dengan Kostum viking lengkap dengan topi bertanduk dan pedang khas mereka, seorang siswa asal Selandia Baru tampil dengan tato khas suku Maori dan siswa-siswa lain juga tampil dengan ciri khasnya masing-masing.
Kami para orang tua diminta membawa makanan yang merupakan ciri khas daerah/negara masing-masing. Matahari kecil anak saya yang orang Gayo membawa masakan ikan mujair pengat, sementara Karuna temannya yang orang jepang membawa onigiri dan berbagai masakan jepang lainnya anak-anak lainpun membawa makanan khas daerah/negaranya masing-masing.
International Day di Montessori ini adalah salah satu dari sekian banyak konsep di Montessori yang sangat saya suka. Melalui acara ini anak-anak diajak untuk tidak melupakan akarnya sambil di saat yang sama diajarkan untuk menghargai keberagaman dengan cara menghormati budaya orang lain yang berbeda dari kebudayaan yang mereka punya.
Acara International Day ini diawali dengan kemunculan masing-masing delegasi siswa di atas pentas. Anak-anak ini memperkenalkan negara asal mereka masing-masing dengan bahasa nasional masing-masing pula. Diawali dengan delegasi Amerika dan diakhiri dengan Kazakhtan.
Setiap kali anak-anak ini memperkenalkan diri dan negaranya dengan penuh rasa bangga, anak-anak lain dan para orang tua menyambutnya dengan tepuk tangan yang membahana.
Selesai acara perkenalan, acara dilanjutkan dengan penampilan anak-anak Montessori dari masing-masing tingkatan mulai dari anak-anak Pre-School yang masih terlihat lucu dan menggemaskan dilanjutkan dengan penampilan anak-anak Lower Elementery yang baru mulai belajar memainkan alat musik dan diakhiri dengan penampilan anak-anak Higher-Elementery yang sudah mulai sempurna baik dalam memainkan alat musik, menyanyi maupun menari.
Qien Mattane Lao, matahari kecil saya, bersama anak-anak Pre-School lain yang satu tingkatan dengannya memulai konser ini dengan menyanyikan lagu ‘Ouvrez La Cage aux Oiseau’, lagu berbahasa Perancis karangan Pierre Perret yang melalui liriknya mengajak pendengarnya untuk melepaskan burung-burung kecil yang malang yang terpenjara di dalam sangkar oleh penggemar burung yang egois ingin menikmati sendiri merdunya kicauan dan indahnya warna-warni bulu burung peliharaannya.
Begini kira-kira arti lirik lagu ini jika diartikan ke dalam bahasa melayu.
Buka buka sangkar burungnya
Perhatikanlah (ketika) burung-burung itu mulai terbang betapa indahnya
Anak-anak yang kalian lihat
(Mereka sebenarnya seperti) Burung-burung Kecil yang terpenjara
(Karena itu) Bukalah pintu sangkarnya dan biarkanlah mereka bebas merdeka
Lirik lagu ini adalah sebuah metafora sekaligus kritik dan sentilan bagi kebanyakan orang tua yang gemar’memenjara’ anak-anak mereka dalam ’sangkar’ keinginan dan ambisi sang orang tua.
Di permukaan planet ini, orang tua sejenis ini dari dulu sampai sekarang jumlahnya banyak sekali. Jumlah orang tua ’spesies’ ini bertambah dengan jumlah yang semakin menjadi-jadi di masa modern dengan tekanan dan persaingan hidup yang semakin ketat seperti sekarang ini.
Dulu orang-orang tua semacam ini sering ‘memenjara’ anak-anak mereka dengan cara menakut-nakuti anak-anak dengan cerita-cerita semacam ‘Malin Kundang’ dan ‘Sampuraga’. Di zaman sekarang orang tua semacam ini ‘memenjara’ anak-anak mereka dengan cara memaksa anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan yang menurut para orang tua ini akan menjadi bekal kehidupan anak-anak tersebut di masa depan, diantaranya dengan memaksakan anak untuk mengikuti berbagai les dan kursus yang kadang tidak disukai oleh anak-anak itu.
Begitu banyaknya orang tua jenis ini di negara ini sekarang, sampai-sampai Departemen pendidikan Indonesia melalui menteri pendidikannya yang cerdas dan bergelar Professor itupun memformalkan ‘penyiksaan’ terhadap anak-anak ini dalam sebuah kurikulum nasional yang ‘kejam’ dan tidak ‘berperikemanusiaan’. Begitu tinggi dan ‘istimewanya’ standar kurikulum bikinan menteri pendidikan yang profesor ini sampai-sampai sekarang beberapa sekolah dasar mensyaratkan kemampuan membaca dan berhitung bagi calon siswanya yang akan masuk ke kelas 1 di sekolah tersebut, sehingga sekarang banyak orang tua yang ‘peduli’ pada masa depan anak-anak mereka yang memaksa anak-anak yang belum genap berumur 6 tahun untuk belajar membaca dan berhitung, padahal seringkali secara kognitif anak-anak itu belum siap untuk mendapatkan materi seperti itu.
Kalau orang tua-orang tua itu mengatakan apa yang mereka lakukan itu adalah demi masa depan anak-anak mereka, saya akan bertanya, siapa sih yang tahu masa depan itu sebenarnya seperti apa?. Kita tidak pernah bisa memperkirakan dengan tepat. Contohnya di waktu saya kecil, ketika berbicara tentang profesi orang tua hanya bisa membayangkan, Insinyur, Dokter, Pilot dan pekerjaan-pekerjaan prestisius lain sesuai dengan situasi zaman itu.
Orang tua saya dan juga saya sendiri misalnya tidak pernah berpikir kalau di masa saya dewasa akan ada profesi yang sangat menjanjikan yang bernama entah itu ahli multimedia, MC, Event Organizer, Motivator bahkan profesi penyelenggara perjalanan wisata, seperti yang saya jalani saat ini.
Anak-anak justru akan mudah menemukan jalannya di masa depan jika di masa kanak-kanaknya dibiarkan bebas melepaskan kreatifitas dan kegembiraan. Contoh dari anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini yang sukses di masa dewasa adalah pemilik mesin pencari ‘Google’.
Selesai menyanyikan ‘Ouvrez La Cage aux Oiseau’, Mattane Lao anak saya dan anak-anak Pre-School lainnya menyanyikan sebuah lagu berbahasa Italia dan dilanjutkan dengan lagu ‘Menanam Jagung’ yang sekaligus merupakan penampilan terakhir mereka di panggung.
Selesai menyanyikan lagu ‘Menanam Jagung’ anak-anak Pre-School turun dari pentas dan menjadi penonton, tempat mereka di panggung digantikan oleh anak-anak Lower-Elementery. Anak-anak di tingkatan ini sudah mampu memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat musik, meskipun belum terlalu istimewa. Pada penampilan mereka kali inipun, konsepnya tetap mengusung ide “berbeda tapi saling menghargai”. Pada sesi ini di sela-sela permainan biola yang mereka mainkan bersama-sama, dua orang murid Lower-Elementery asal Cina menyanyikan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’, lagu terkenal gubahan Mozart seorang komposer besar asal Austria. Kedua murid perempuan dari tingkat Lower-Elementary ini menyanyikan lagu tersebut dalam bahasa Cina.
Puncak acara pertunjukan kesenian ini dipungkasi dengan penampilan anak-anak Upper-Elementery yang merupakan prototype ‘produk’ sistem pendidikan Montessori. Melalui anak-anak Upper Elementary ini kita sudah bisa memperkirakan seperti apa nantinya anak-anak ini di masa dewasanya.
Pada sesi terakhir ini terlihat penampilan anak-anak Upper-Elementary yang rata-rata berusia 10 tahun ini begitu mengagumkan untuk usianya. Mereka memainkan biola dengan baik, anak-anak yang berasal dari berbagai negara dengan warna kulit, mata dan rambut yang berwarna-warni ini menyanyikan lagu Morning is Broken-nya Cat Steven dengan bahasa Inggris yang fasih kemudian dilanjutkan dengan lagu ‘Waktu Ku Kecil’ dalam bahasa melayu dengan aksen Indonesia yang sempurna, yang sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan aksen terkenal milik pahlawan saya CINTA LAURA yang sekarang menjadi ikon EF, sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris asal Swedia.
Penampilan anak-anak Upper-Elementery yang sekaligus merupakan penampilan terakhir dalam acara kesenian ini diakhiri dengan pertunjukan tari ‘Janger’, sebuah tari tradisional dari Bali yang mengisahkan tentang persahabatan antar muda-mudi. Tarian inipun ditarikan dengan sempurna oleh anak-anak Upper-Elementery yang masih mengenakan pakaian nasionalnya masing-masing.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan makan-makan, anak-anak dan orang tua saling bertukar makanan yang merupakan ciri khas dari daerah/negara masing-masing sambil tetap menghormati pantangan-pantangan yang diyakini dalam masing-masing kepercayaan.
Saat acara makan-makan, anak-anak yang berasal beragam latar belakang tapi sama-sama penghuni planet biru berair yang kita namakan Bumi inipun berbaur dan bercanda dengan gembira. Jelas sekali terlihat kalau anak-anak ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengklasifikasikan manusia berdasarkan tinggi rendahnya derajat yang dinilai dari latar belakang budaya, agama dan kepercayaan apalagi warna kulit.
Ouvrez ouvrez la cage aux oiseaux
Regardez-les s’envoler c’est beau
Les enfants si vous voyez
Des p’tits oiseaux prisonniers
Ouvrez-leur la porte vers la liberté
Wassalam
Win Wan Nur
Rabu, 01 Juli 2009
Final Copa dan Carut Marut Sepakbola Indonesia
Jarang-jarang saya menyaksikan pertandingan sepakbola Indonesia di televisi. Tapi beberapa waktu yang lalu saya melakukannya, saya menonton final Copa Indonesia yang mempertemukan Sriwijaya FC melawan Persipura yang merupakan juara Liga Super Indonesia. Tidak disangka pertandingan dua tim sepakbola ini berlangsung seru dengan Sriwijaya FC lebih banyak menekan dengan sesekali dibalas oleh Persipura dengan sengatan serangan balasan yang cukup mematikan.
Sayangnya dalam pertandingan yang dilangsungkan di stadion Jakabaring Palembang ini wasit kurang bisa bersikap netral, meskipun tidak kentara, tapi beberapa kali terlihat keputusan wasit merugikan kubu Persipura. Misalnya seperti ketika Ernest jeremiah dijatuhkan di kotak penalti. Wasit tidak memberikan hukuman pada Sriwijaya. Kemudian ketika di penghujung babak pertama Persipura mendapat tendangan pojok, tanpa menunggu tuntasnya prosesi tendangan pojok, wasit langsung meniup peluit ketika bola yang ditendang pemain Persipura mengenai kepala seorang pemain Persipura yang lain.
Babak kedua pertandingan berlangsung seru, Boaz Salossa pemain sensasional milik Persipura yang wajahnya sekilas mirip pemain Barcelona Thierry Henry, beberapa kali menunjukkan kualitasnya sebagai striker yang mungkin adalah yang terbaik di negeri ini. Pada babak ini serangan masih berimbang tapi beberapa kali para pemain persipura membahayakan gawang Sriwijaya FC, tapi tidak sampai menghasilkan gol entah itu karena dimentahkan oleh barisan belakang Sriwijaya FC atau ditangkap oleh Kiper Ferry Rotinsulu.
Dalam sebuah serangan dari sisi kanan pertahanan Persipura, Nasuha pemain Sriwijaya melepaskan umpan lambung ke kotak penalti, di sana sudah menunggu dua orang pemain Sriwijaya yang ditempel ketat oleh bek-bek Persipura. Dalam pengawalan ketat itu, Obiora salah seorang pemain asing milik Sriwijaya masih bisa melompat tinggi mengalahkan bek Persipura yang menempelnya, menanduk bola umpan lambung itu dan menempatkannya di sisi bagian kiri gawang Persipura tanpa bisa dihadang oleh Jendry Pitoy, mantan penjaga gawang utama Timnas Indonesia yang berasal dari Sulawesi Utara. 1-0 untuk Sriwijaya.
Ketinggalan satu gol, Persipura seolah tersentak, serangan demi serangan dibangun oleh persipura secara bergelombang. Dalam sebuah serangan Ian Kabes masuk ke kotak Penalti Sriwijaya dan dihadang oleh beberapa bek Sriwijaya FC. Lalu entah karena pertimbangan apa saat ian Kabes menguasai bola, Ferry Rotinsulu kiper Sriwijaya FC yang seperti Jendry Pitoy juga berasal dari Sulawesi Utara maju berusaha merebut bola sambil menebas kaki Ian Kabes, tapi bola tidak berhasil dia kuasai malah mendekati kaki Ernest Jeremiah yang langsung melepaskan tendangan keras ke arah gawang Sriwijaya yang kosong karen ditinggal Ferry. Tendangan Ernest Jeremiah ditahan dengan tangan oleh seorang bek Sriwijaya. Jelas dua momen yang berdekatan ini seharusnya berbuah hukuman penalti buat Sriwijaya.
Tapi entah karena tidur atau alasan apa, Purwanto salah satu wasit terbaik di Indonesia yang memimpin pertandingan ini beserta hakim garis yang membantunya hanya memberikan tendangan pojok untuk Persipura. Pemain-pemain Persipura jelas meradang dan segera merubungi wasit. Tapi Purwanto tegas pada keputusannya. Ofisial Persipura di pinggir lapangan terlihat mencak-mencak dengan keputusan wasit. Alih-alih memberi penalti, Purwanto malah mengkartu ,erah Ernest jeremiah, pemain Persipura yang memprotes keras keputusannya. Lalu, entah siapa yang memulai tiba-tiba terlihat satu persatu pemain persipura meninggalkan lapangan dan masuk ke ruang ganti. Pertandingan seru dengan atmosfer luar biasa yang tersaji selama 64 menit tadipun berubah menjadi 'garing'.
Tidak seperti pertandingan di luar negeri yang jika terjadi hal seperti itu, penyelenggara pertandingan langsung bertindak tegas memberikan kekalahan W.O bagi tim yang meninggalkan lapangan. Pada pertandingan ini tidak demikian, terjadi tarik ulur yang panjang.
Tapi persipura tidak juga kunjung keluar. Hal ini bisa dimaklumi sebab dengan situasi ini setelah mogok selama satu Jam lebih, jelas tidak mungkin Persipura mau kembali ke lapangan, secara moral mereka sudah jatuh, motivasi dan semangat tempur pemainpun pasti sudah menguap. Kalaupun mereka kembali turun ke lapangan mereka akan bermain tanpa jiwa dan malah akan lebih memalukan dan menjatuhkan harga diri mereka.
Di layar televisi Muhammad Al hadad, pelatih Deltras yang menjadi komentator menyalahkan pelatih Persipura Jacksen F. Tiago atas kejadian ini, entah pendapat Al Hadad itu objektif atau karena dia punya sentimen pribadi terhadap jacksen yang dulu menggantikannya sebagai pelatih di persebaya yang justru setelah ditangani Jacksen berhasil menjadi Juara Liga Indonesia. Komentator lain menyamakan apa yang terjadi dengan di luar negeri yang jika wasit berbuat kesalahan pemain yang bertanding bersikap dewasa dengan tetap melanjutkan pertandingan. Mereka juga menyesalkan PSSI yang pejabat terasnya hadir di sana tidak bisa bertindak tegas dengan langsung memberikan kemenangan W.O bagi Sriwijaya.
Menurut saya, masalah yang terlihat di lapangan saat final Copa Indonesia itu tidaklah sesederhana yang terlihat. Ketika Persipura memutuskan meninggalkan lapangan saat terjadi insiden tersebut, itupun bukanlah keputusan yang dibuat akibat dari peristiwa sesaat yang terjadi sebelumnya. Apa yang dilakukan Persipura adalah puncak kekesalan dari carut-marutnya organisasi sepakbola Indonesia.
Sebelum pertandingan final Copa Indonesia ini dilaksanakan di Stadion Jakabaring Palembang, sudah banyak pihak yang mengkritik keputusan PSSI yang memilih kandang Sriwijaya FC tersebut sebagai venue partai final. Keputusan PSSI untuk memilih tempat ini dikhawatirkan akan membuat wasit yang memimpin pertandingan berpihak kepada tuan rumah.
Jika pertandingan Copa Indonesia ini terjadi di liga mapan eropa, semacam Inggris atau Italia, kekhawatiran seperti ini tidak perlu terjadi karena meskipun wasit sering berbuat kesalahan para pemain dan juga petinggi klub tahu wasit tidak ada niat memihak. Memang bahkan di eropapun keberpihakan wasit pada salah satu tim sering terjadi, salah satunya yang terjadi pada Juventus di Liga Italia. Hal yang membuat saya benci Juventus sampai hari ini. Tapi yang terjadi disana otoritas Liga Italia kemudian bertindak tegas terhadap Juventus ketika kasus ini terbongkar.
Ini yang tidak terjadi di Indonesia, di sini masalah keberpihakan wasit sudah jadi lagu lama dan tidak pernah mendapat perhatian dari PSSI. Keberpihakan wasit pada tuan rumah adalah cerita usang.
Saya teringat pada sekitar tahun 1993, ketika saya bermain sebagai penjaga gawang tim Cremona 92, sebutan untuk tim Sipil 92 angkatan saya di fakultas teknik Unsyiah. Waktu itu tim kami akan mengikuti kejuaraan Piston Cup. Kejuaraan sepakbola antar jurusan antar angkatan di fakultas teknik Unsyiah tempat saya kuliah.
Karena panitia hanya mampu menyewa wasit dan tidak mampu menyewa hakim garis profesional untuk kejuaraan itu maka yang bertugas untuk menjadi hakim garis dalam kejuaraan itu adalah kami sendiri para pemain yang bertanding dalam kejuaraan. Untuk itu panitia mendatangkan seorang wasit dari PSSI Aceh untuk memberi pelatihan pada kami.
Dalam pelatihan itu, si wasit dari PSSI Aceh ini membeberkan apa yang terjadi dalam perwasitan Indonesia yang memang selalu memihak pada tuan rumah. Masih menurut bapak ini, tiap tim yang berlaga di divisi utama (saat itu belum ada liga super) memiliki wasit sendiri yang akan membela tim tersebut jika pertandingan dilaksanakan dikandang tim yang berlaga. Untuk Persiraja tim asal Banda Aceh yang berlaga di divisi utama, bapak itu menyebutkan nama seorang wasit asal Bengkulu (gara-gara UU ITE saya jadi kurang nyaman menyebut nama) sebagai wasit yang menjadi 'milik' Persiraja . Menurut Bapak ini Persiraja memiliki alokasi dana khusus untuk membiayai sang wasit asal Bengkulu ini.
Apa yang terjadi dengan persiraja dan wasit asal Bengkulu tersebut saya yakin pasti juga dialami semua tim yang berlaga di Liga Indonesia. Karena itulah dalam setiap pertandingan di divisi utama liga Indonesia, hampir tidak terjadi sebuah tim tuan rumah menderita kekalahan.
Persipura yang berlaga di final Copa beberapa waktu yang lalupun tentu sangat paham akan hal ini. Apalagi faktanya Purwanto, wasit yang memimpin final sebelumnya juga pernah memimpin partai Copa di stadion yang sama antara Sriwijaya melawan PSMS yang juga berakhir dengan kekalahan W.O untuk PSMS karena meninggalkan lapangan sebab tidak puas dengan keputusan Purwanto yang menguntungkan Sriwijaya. Fakta-fakta tersebut tentu membuat Persipura mengawali pertandingan dengan perasaan akan dikerjai.
Sebelum pertandingan, saya yakin Persipura tentu sudah lebih dulu memprotes pemilihan tempat pertandingan, tapi kemudian pengurus PSSI meyakinkan Persipura kalau pertandingan akan berjalan netral dan akan dipimpin oleh wasit yang tidak memihak. Tapi saat pertandingan berlangsung, Persipura lalu merasakan adanya keputusan-keputusan yang merugikan pihak mereka, ditambah dengan tekanan kemasukan satu gol dan berpuncak pada insiden di menit ke 64 tersebut. Jadilah final Copa Indonesia yang disponsori Dji Sam Soe yang digelar secara spektakuler dengan menghadirkan kedahsyatan God Bless sebelum pemberian piala terasa hambar.
Setelah pertandingan tertunda sekitar satu jam di layar televisi, tampak Ketua PSSI Nurdin Halid yang notabene adalah mantan narapidana kasus korupsi didampingi Darsussalam Tabussala terlihat berwajah kusut dan gelisah. Dia mencoba membujuk Persipura untuk kembali bermain agar penonton tidak kecewa dan final ideal Copa Indonesia yang berlangsung seru tadi tidak berakhir anti klimaks dan mencoreng muka PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Tapi karena memang sejak awal tidak pernah konsisten dan plintat-plintut dalam menegakkan peraturan, yang terlihat jelas di televisi justru adalah PSSI yang sama sekali tidak memiliki wibawa.
Yang lucu, kemudian ketika Persipura tidak kunjung keluar Nurdin Halid mulai berbicara tentang Sanksi, bukannya lebih dulu bercermin memperhatikan baik-baik coreng moreng di muka PSSI.
Kita tentu tidak lupa bagaimana saat Persipura menjuarai Ligina saat Nurdin Halid mendekam di dalam penjara. Tim dari ujung timur Indonesia ini gagal mengikuti Liga Champion Asia karena PSSI alpa mendaftarkan mereka. Kalau hal sememalukan ini terjadi di liga sekelas Liga Italia atau Inggris sudah pasti ketua asosiasi Sepakbolanya sudah dipaksa mengundurkan diri oleh anggotanya. Tapi di Indonesia yang pengurus daerah PSSI yang memiliki suara untuk memilih ketua umum dari dulu tetap diisi orang-orang lama, hal seperti itu jelas mustahil terjadi. Oleh PSSI masalah ini sudah dianggap selesai dengan mengkambinghitamkan Dali Tahir yang menjabat urusan luar negeri.
Seandainya kali ini Persipura kembali gagal mengikuti Liga Champion Asia gara-gara diberi sanksi oleh PSSI, saya akan sangat maklum jika Persipura memilih tidak ikut kompetisi ligina atau seperti almarhum Bandung Raya malah memilih membubarkan diri.
Begitulah carut marutnya organisasi sepak bola negeri ini.
Kalau timnas Indonesia dari zaman dulu yang merupakan kekuatan yang cukup diperhitungkan di Asia, lalu turun menjadi raja Asia Tenggara, tapi sekarang malah untuk bersaing di tingkat regional inipun megap-megap bersaing dengan Thailand, Singapura dan Vietnam, negara yang baru saja lepas dari konflik berkepanjangan. Itu bukanlah karena di negeri yang berpenduduk hampir 240 juta ini tidak ada pemain berbakat. Melihat permainan Ambrizal, Tony Sucipto, Imanuel Wanggai, Boaz Salossa, Ian Kabes atau Christian Worabai di final Copa kemarin. Jelas yang salah bukanlah pemain, tapi PSSI-lah yang menjadi induk olah raga paling populer di negeri ini yang harus direformasi.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
Sayangnya dalam pertandingan yang dilangsungkan di stadion Jakabaring Palembang ini wasit kurang bisa bersikap netral, meskipun tidak kentara, tapi beberapa kali terlihat keputusan wasit merugikan kubu Persipura. Misalnya seperti ketika Ernest jeremiah dijatuhkan di kotak penalti. Wasit tidak memberikan hukuman pada Sriwijaya. Kemudian ketika di penghujung babak pertama Persipura mendapat tendangan pojok, tanpa menunggu tuntasnya prosesi tendangan pojok, wasit langsung meniup peluit ketika bola yang ditendang pemain Persipura mengenai kepala seorang pemain Persipura yang lain.
Babak kedua pertandingan berlangsung seru, Boaz Salossa pemain sensasional milik Persipura yang wajahnya sekilas mirip pemain Barcelona Thierry Henry, beberapa kali menunjukkan kualitasnya sebagai striker yang mungkin adalah yang terbaik di negeri ini. Pada babak ini serangan masih berimbang tapi beberapa kali para pemain persipura membahayakan gawang Sriwijaya FC, tapi tidak sampai menghasilkan gol entah itu karena dimentahkan oleh barisan belakang Sriwijaya FC atau ditangkap oleh Kiper Ferry Rotinsulu.
Dalam sebuah serangan dari sisi kanan pertahanan Persipura, Nasuha pemain Sriwijaya melepaskan umpan lambung ke kotak penalti, di sana sudah menunggu dua orang pemain Sriwijaya yang ditempel ketat oleh bek-bek Persipura. Dalam pengawalan ketat itu, Obiora salah seorang pemain asing milik Sriwijaya masih bisa melompat tinggi mengalahkan bek Persipura yang menempelnya, menanduk bola umpan lambung itu dan menempatkannya di sisi bagian kiri gawang Persipura tanpa bisa dihadang oleh Jendry Pitoy, mantan penjaga gawang utama Timnas Indonesia yang berasal dari Sulawesi Utara. 1-0 untuk Sriwijaya.
Ketinggalan satu gol, Persipura seolah tersentak, serangan demi serangan dibangun oleh persipura secara bergelombang. Dalam sebuah serangan Ian Kabes masuk ke kotak Penalti Sriwijaya dan dihadang oleh beberapa bek Sriwijaya FC. Lalu entah karena pertimbangan apa saat ian Kabes menguasai bola, Ferry Rotinsulu kiper Sriwijaya FC yang seperti Jendry Pitoy juga berasal dari Sulawesi Utara maju berusaha merebut bola sambil menebas kaki Ian Kabes, tapi bola tidak berhasil dia kuasai malah mendekati kaki Ernest Jeremiah yang langsung melepaskan tendangan keras ke arah gawang Sriwijaya yang kosong karen ditinggal Ferry. Tendangan Ernest Jeremiah ditahan dengan tangan oleh seorang bek Sriwijaya. Jelas dua momen yang berdekatan ini seharusnya berbuah hukuman penalti buat Sriwijaya.
Tapi entah karena tidur atau alasan apa, Purwanto salah satu wasit terbaik di Indonesia yang memimpin pertandingan ini beserta hakim garis yang membantunya hanya memberikan tendangan pojok untuk Persipura. Pemain-pemain Persipura jelas meradang dan segera merubungi wasit. Tapi Purwanto tegas pada keputusannya. Ofisial Persipura di pinggir lapangan terlihat mencak-mencak dengan keputusan wasit. Alih-alih memberi penalti, Purwanto malah mengkartu ,erah Ernest jeremiah, pemain Persipura yang memprotes keras keputusannya. Lalu, entah siapa yang memulai tiba-tiba terlihat satu persatu pemain persipura meninggalkan lapangan dan masuk ke ruang ganti. Pertandingan seru dengan atmosfer luar biasa yang tersaji selama 64 menit tadipun berubah menjadi 'garing'.
Tidak seperti pertandingan di luar negeri yang jika terjadi hal seperti itu, penyelenggara pertandingan langsung bertindak tegas memberikan kekalahan W.O bagi tim yang meninggalkan lapangan. Pada pertandingan ini tidak demikian, terjadi tarik ulur yang panjang.
Tapi persipura tidak juga kunjung keluar. Hal ini bisa dimaklumi sebab dengan situasi ini setelah mogok selama satu Jam lebih, jelas tidak mungkin Persipura mau kembali ke lapangan, secara moral mereka sudah jatuh, motivasi dan semangat tempur pemainpun pasti sudah menguap. Kalaupun mereka kembali turun ke lapangan mereka akan bermain tanpa jiwa dan malah akan lebih memalukan dan menjatuhkan harga diri mereka.
Di layar televisi Muhammad Al hadad, pelatih Deltras yang menjadi komentator menyalahkan pelatih Persipura Jacksen F. Tiago atas kejadian ini, entah pendapat Al Hadad itu objektif atau karena dia punya sentimen pribadi terhadap jacksen yang dulu menggantikannya sebagai pelatih di persebaya yang justru setelah ditangani Jacksen berhasil menjadi Juara Liga Indonesia. Komentator lain menyamakan apa yang terjadi dengan di luar negeri yang jika wasit berbuat kesalahan pemain yang bertanding bersikap dewasa dengan tetap melanjutkan pertandingan. Mereka juga menyesalkan PSSI yang pejabat terasnya hadir di sana tidak bisa bertindak tegas dengan langsung memberikan kemenangan W.O bagi Sriwijaya.
Menurut saya, masalah yang terlihat di lapangan saat final Copa Indonesia itu tidaklah sesederhana yang terlihat. Ketika Persipura memutuskan meninggalkan lapangan saat terjadi insiden tersebut, itupun bukanlah keputusan yang dibuat akibat dari peristiwa sesaat yang terjadi sebelumnya. Apa yang dilakukan Persipura adalah puncak kekesalan dari carut-marutnya organisasi sepakbola Indonesia.
Sebelum pertandingan final Copa Indonesia ini dilaksanakan di Stadion Jakabaring Palembang, sudah banyak pihak yang mengkritik keputusan PSSI yang memilih kandang Sriwijaya FC tersebut sebagai venue partai final. Keputusan PSSI untuk memilih tempat ini dikhawatirkan akan membuat wasit yang memimpin pertandingan berpihak kepada tuan rumah.
Jika pertandingan Copa Indonesia ini terjadi di liga mapan eropa, semacam Inggris atau Italia, kekhawatiran seperti ini tidak perlu terjadi karena meskipun wasit sering berbuat kesalahan para pemain dan juga petinggi klub tahu wasit tidak ada niat memihak. Memang bahkan di eropapun keberpihakan wasit pada salah satu tim sering terjadi, salah satunya yang terjadi pada Juventus di Liga Italia. Hal yang membuat saya benci Juventus sampai hari ini. Tapi yang terjadi disana otoritas Liga Italia kemudian bertindak tegas terhadap Juventus ketika kasus ini terbongkar.
Ini yang tidak terjadi di Indonesia, di sini masalah keberpihakan wasit sudah jadi lagu lama dan tidak pernah mendapat perhatian dari PSSI. Keberpihakan wasit pada tuan rumah adalah cerita usang.
Saya teringat pada sekitar tahun 1993, ketika saya bermain sebagai penjaga gawang tim Cremona 92, sebutan untuk tim Sipil 92 angkatan saya di fakultas teknik Unsyiah. Waktu itu tim kami akan mengikuti kejuaraan Piston Cup. Kejuaraan sepakbola antar jurusan antar angkatan di fakultas teknik Unsyiah tempat saya kuliah.
Karena panitia hanya mampu menyewa wasit dan tidak mampu menyewa hakim garis profesional untuk kejuaraan itu maka yang bertugas untuk menjadi hakim garis dalam kejuaraan itu adalah kami sendiri para pemain yang bertanding dalam kejuaraan. Untuk itu panitia mendatangkan seorang wasit dari PSSI Aceh untuk memberi pelatihan pada kami.
Dalam pelatihan itu, si wasit dari PSSI Aceh ini membeberkan apa yang terjadi dalam perwasitan Indonesia yang memang selalu memihak pada tuan rumah. Masih menurut bapak ini, tiap tim yang berlaga di divisi utama (saat itu belum ada liga super) memiliki wasit sendiri yang akan membela tim tersebut jika pertandingan dilaksanakan dikandang tim yang berlaga. Untuk Persiraja tim asal Banda Aceh yang berlaga di divisi utama, bapak itu menyebutkan nama seorang wasit asal Bengkulu (gara-gara UU ITE saya jadi kurang nyaman menyebut nama) sebagai wasit yang menjadi 'milik' Persiraja . Menurut Bapak ini Persiraja memiliki alokasi dana khusus untuk membiayai sang wasit asal Bengkulu ini.
Apa yang terjadi dengan persiraja dan wasit asal Bengkulu tersebut saya yakin pasti juga dialami semua tim yang berlaga di Liga Indonesia. Karena itulah dalam setiap pertandingan di divisi utama liga Indonesia, hampir tidak terjadi sebuah tim tuan rumah menderita kekalahan.
Persipura yang berlaga di final Copa beberapa waktu yang lalupun tentu sangat paham akan hal ini. Apalagi faktanya Purwanto, wasit yang memimpin final sebelumnya juga pernah memimpin partai Copa di stadion yang sama antara Sriwijaya melawan PSMS yang juga berakhir dengan kekalahan W.O untuk PSMS karena meninggalkan lapangan sebab tidak puas dengan keputusan Purwanto yang menguntungkan Sriwijaya. Fakta-fakta tersebut tentu membuat Persipura mengawali pertandingan dengan perasaan akan dikerjai.
Sebelum pertandingan, saya yakin Persipura tentu sudah lebih dulu memprotes pemilihan tempat pertandingan, tapi kemudian pengurus PSSI meyakinkan Persipura kalau pertandingan akan berjalan netral dan akan dipimpin oleh wasit yang tidak memihak. Tapi saat pertandingan berlangsung, Persipura lalu merasakan adanya keputusan-keputusan yang merugikan pihak mereka, ditambah dengan tekanan kemasukan satu gol dan berpuncak pada insiden di menit ke 64 tersebut. Jadilah final Copa Indonesia yang disponsori Dji Sam Soe yang digelar secara spektakuler dengan menghadirkan kedahsyatan God Bless sebelum pemberian piala terasa hambar.
Setelah pertandingan tertunda sekitar satu jam di layar televisi, tampak Ketua PSSI Nurdin Halid yang notabene adalah mantan narapidana kasus korupsi didampingi Darsussalam Tabussala terlihat berwajah kusut dan gelisah. Dia mencoba membujuk Persipura untuk kembali bermain agar penonton tidak kecewa dan final ideal Copa Indonesia yang berlangsung seru tadi tidak berakhir anti klimaks dan mencoreng muka PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Tapi karena memang sejak awal tidak pernah konsisten dan plintat-plintut dalam menegakkan peraturan, yang terlihat jelas di televisi justru adalah PSSI yang sama sekali tidak memiliki wibawa.
Yang lucu, kemudian ketika Persipura tidak kunjung keluar Nurdin Halid mulai berbicara tentang Sanksi, bukannya lebih dulu bercermin memperhatikan baik-baik coreng moreng di muka PSSI.
Kita tentu tidak lupa bagaimana saat Persipura menjuarai Ligina saat Nurdin Halid mendekam di dalam penjara. Tim dari ujung timur Indonesia ini gagal mengikuti Liga Champion Asia karena PSSI alpa mendaftarkan mereka. Kalau hal sememalukan ini terjadi di liga sekelas Liga Italia atau Inggris sudah pasti ketua asosiasi Sepakbolanya sudah dipaksa mengundurkan diri oleh anggotanya. Tapi di Indonesia yang pengurus daerah PSSI yang memiliki suara untuk memilih ketua umum dari dulu tetap diisi orang-orang lama, hal seperti itu jelas mustahil terjadi. Oleh PSSI masalah ini sudah dianggap selesai dengan mengkambinghitamkan Dali Tahir yang menjabat urusan luar negeri.
Seandainya kali ini Persipura kembali gagal mengikuti Liga Champion Asia gara-gara diberi sanksi oleh PSSI, saya akan sangat maklum jika Persipura memilih tidak ikut kompetisi ligina atau seperti almarhum Bandung Raya malah memilih membubarkan diri.
Begitulah carut marutnya organisasi sepak bola negeri ini.
Kalau timnas Indonesia dari zaman dulu yang merupakan kekuatan yang cukup diperhitungkan di Asia, lalu turun menjadi raja Asia Tenggara, tapi sekarang malah untuk bersaing di tingkat regional inipun megap-megap bersaing dengan Thailand, Singapura dan Vietnam, negara yang baru saja lepas dari konflik berkepanjangan. Itu bukanlah karena di negeri yang berpenduduk hampir 240 juta ini tidak ada pemain berbakat. Melihat permainan Ambrizal, Tony Sucipto, Imanuel Wanggai, Boaz Salossa, Ian Kabes atau Christian Worabai di final Copa kemarin. Jelas yang salah bukanlah pemain, tapi PSSI-lah yang menjadi induk olah raga paling populer di negeri ini yang harus direformasi.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
Ulang Tahun; Kelahiran dan Pernikahan
Kemarin aku genap berumur 35 tahun jika dihitung berdasarkan kalender Gregorian dan sudah hampir 61 tahun kalau dihitung berdasarkan Kalender Bali.
Seperti biasa saat umur yang dihitung dengan Kalender Gregorian ini berulang aku mendapat banyak ucapan selamat dari orang-orang yang mengenalku, tapi berkat facebook, ulang tahunku yang ke 35 berdasarkan kalender Gregorian kemarin terasa lebih istimewa, karena ulang tahunku yang ke 35 berdasarkan kalender Gregorian kemarin berhasil mencetak rekor baru jumlah ucapan selamat ulang tahun yang ditujukan kepadaku yang berasal dari kerabat, teman-teman dan sahabat seluruh pelosok permukaan planet ini.
Dalam banyak kebudayaan, Ulang Tahun kelahiran adalah sebuah hal penting. Dalam kebudayaan Cina misalnya, ulang tahun selalu dirayakan besar-besaran dengan pesta. Di Bali Ulang Tahun juga sangat penting, ulang Tahun kelahiran yang terjadi tiap 210 hari menurut kalender Bali ini oleh orang Bali dirayakan dengan upacara yang bersifat spiritual.
Tapi bagi orang Gayo seperti aku, sebenarnya hari lahir bukanlah sesuatu yang dirasa penting untuk dirayakan, bahkan terasa janggal untuk sekedar diucapkan sekalipun.
Dalam keluargaku, sebagaimana halnya keluarga Gayo tradisional lainnya, sama sekali tidak ada tradisi merayakan Ulang Tahun kelahiran.Jangankan merayakan, sekedar mengucapkan Selamat Ulang Tahun di saat berulangnya hari jadipun sama sekali tidak pernah terlintas di kepala kami. Dari kecil sampai hari ini aku sama sekali tidak pernah menerima yang namanya ucapan, "selamat ulang tahun" dari keluarga terdekatku (Ayah, Ibu dan kedua adikku). Bagi keluarga kami tradisi berulang tahun benar-benar tradisi asing, tradisi yang kalau kami lakukan rasanya sangat janggal, dengan mengucapkan selamat ulang tahun kami merasa seolah-olah jadi berlagak 'sok modern' dalam pengertian kebarat-baratan.
Situasi seperti ini menyebabkan aku sewaktu masih kecil tidak pernah ingat kapan ulang tahunku, begitu juga hari ulang tahun anggota keluargaku yang lain. Dari 5 orang anggota inti keluargaku, aku cuma ingat hari lahir adik laki-lakiku. Hari lahirnya kuingat karena kami lahir di bulan yang sama tapi adikku lahir tanggal 16. Sementara hari lahir adik perempuanku tidak pernah kuingat, yang kutahu dia lahir bulan agustus sama seperti ayahku, tapi jangan tanyakan tanggalnya. Kalau hari lahir ibuku aku sama sekali tidak tahu, bahkan bulan dan tahunnyapun aku tidak dapat memastikan. Apatah lagi kalau ditanyakan hari ulang tahun kakek dan nenekku, jangankan bahkan mereka sendiripun tidak bisa memastikan umur mereka secara tepat.
Aku mulai merasa Ulang Tahun kelahiran itu adalah sesuatu yang istimewa waktu aku kelas 5 SD diundang ke Ulang Tahun teman sekelasku yang baru pindah dari Jakarta, namanya Ricky yang bapaknya waktu itu menjabat kapolres Aceh Tengah. Itu pertama kali aku menyaksikan sendiri pesta Ulang tahun dengan kue tart dan balon yang sebelumnya cuma pernah yang kulihat di TV atau di film, entah itu film Indonesia atau film barat.
Tapi meskipun aku sudah tahu kalau Ulang tahun itu adalah hari istimewa tapi tetap saja setiap ulang tahunku berlalu begitu saja dan baru kuingat beberapa hari sesudahnya.
Seingatku, hari ulang tahun kelahiran baru terasa penting bagiku sejak aku kuliah. Saat itu hari ulang tahun adalah saat-saat paling menyebalkan buatku, dan selalu bukan aku tapi kawan-kawankulah yang paling ingat hari Ulang tahunku. Mereka ingat karena entah siapa yang memulai, di Banda Aceh ada tradisi bagi siapa saja yang Ulang Tahun untuk mentraktir makan kawan-kawan. Tradisi ajaib yang sempat membuat heran seorang temanku asal Australia, temanku itu heran karena menurut dia di Australia tempat asalnya, justru orang yang berulang tahunlah yang selalu ditraktir ramai-ramai oleh teman-teman yang lain, dibuat senang dan gembira dengan cara memberikan apapun yang dia inginkan.
Setelah tidak kuliah lagi, cara pandangku terhadap Ulang tahun kelahiran kembali ke sikap awal. Aku tidak pernah lagi menganggap ulang tahun itu sebagai hari yang istimewa. Aku biasanya baru ingat Ulang Tahun kelahiranku setelah seorang teman akrab yang belakangan menjadi seperti adikku sendiri mengucapkan selamat Ulang Tahun yang sejak aku mengenalnya pertama kali tidak pernah absen mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dan memberikan sekedar kado untukku meskipun seperti biasa sampai hari ini aku tidak pernah mengingat hari Ulang Tahunnya.
Ketika aku menikah pandanganku terhadap ulang tahun kelahiran juga sama, aku tidak pernah menganggap Ulang Tahun kelahiran sebagai sesuatu yang istimewa.
Aku berpikir seperti itu karena menurutku kelahiran itu adalah takdir yang tanpa bisa aku usahakan dan aku tolak terjadinya, dan nyaris tanpa ada usahapun umurku terus bertambah dengan sendirinya.
Tapi sejak menikah pula aku mulai merasakan pentingnya ulang tahun, bukan ulang tahun kelahiran melainkan ulang tahun pernikahan.
Berbeda dengan kelahiran yang adalah takdir yang tidak bisa ditolak atau dinegosiasi ulang, pernikahan adalah sebuah peristiwa besar yang merupakan hasil dari sebuah keputusan yang diambil oleh dua orang manusia merdeka dengan pikiran jernih dan penuh kesadaran dan kerelaan untuk mengorbankan beberapa keinginan dan cita-cita demi tercapainya cita-cita yang lebih besar yang menjamin kelangsungan ide dan pikiran besar yang ada di diri masing-masing sampai akhir zaman.
Pernikahan adalah sebuah pilihan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, pilihan untuk menyatukan dua visi dan dua misi dan cinta dari dua manusia berlainan jenis untuk menghadirkan makhluk manusia baru yang merupakan perpaduan dari kompleksnya aspek intelektual, emosional, spiritual dan fisik yang dimiliki oleh dua manusia berlainan jenis. Dan berbeda dengan kelahiran, pernikahan bisa dinegosiasikan ulang dan bisa diakhiri dengan penuh kesadaran pula.
Karena itulah aku merasa kemampuan mempertahankan setiap detik pertambahan usia pernikahan, setiap menyaksikan senyum anakku yang setiap hari bertambah besar, bertambah pintar dan bertambah dewasa, aku merasa itu adalah sebuah keberhasilan, itulah adalah sebuah prestasi dalam mempertahankan keputusan yang telah diambil secara sadar, sebuah bukti kemampuan diri untuk berkorban, mengabaikan beberapa keinginan yang terkadang terlihat begitu menyenangkan.
Menurutku dan juga istriku, bukan kelahiran, tapi pernikahanlah yang merupakan peristiwa terbesar dalam hidup kami, dan karena keputusan besar itu pula Matahari kecil kami bisa terlahir ke Bumi sehingga peristiwa tahunan berulangnya hari pernikahan kami yang sekarang sudah memasuki tahun ke-6 inilah yang selalu kami rayakan dalam keluarga kami.
Hanya saja karena kami merasa ulang tahun pernikahan ini adalah sifatnya sangat pribadi yang maknanya hanya bisa dirasakan dengan sempurna oleh kami berdua, aku dan istriku selalu hanya merayakan ulang tahun pernikahan kami bertiga saja. Aku, istriku dan matahari kecil yang merupakan buah dari pernikahan kami.
Tapi ketika pada hari ulang tahun kelahiranku ini aku melihat begitu banyak perhatian tulus dari teman-teman yang merasa ulang tahun kelahiran itu adalah sesuatu yang penting. Sementara bagiku pertambahan usia pernikahanlah yang paling penting untuk dirayakan, dan karena akupun tidak peduli kalau pertambahan itu harus dihitung dengan cara apa, karena seperti kukatakan sebelumnya setiap detik pertambahan usia pernikahan adalah prestasi. Jadinya di saat begitu banyak perhatian yang diotujukan kepadaku seperti hari ini, tiba-tiba aku merasa ingin mengganti foto di profilku dengan foto pernikahanku.
Sayangnya foto-foto pernikahanku yang disimpan dalam file di beberapa keping CD tidak bisa lagi dibuka karena keping CD-nya rusak akibat lembab sehingga aku tidak bisa mendapatkan foto resepsi pernikahan kami. Yang kudapat hanya foto pre wedding yang dulu dipakai untuk dekorasi dalam acara resepsi pernikahan kami. Foto itu kudapat dengan cara mengubek-ubek situs internet milik studio 55. Sebuah studio foto yang beralamat di jalan Raden Saleh, Salemba. Studio foto yang dulu disewa oleh mertuaku untuk memotret dan memfilmkan acara pernikahan kami. Foto itulah yang sekarang terpampang di profilku hari ini.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
Seperti biasa saat umur yang dihitung dengan Kalender Gregorian ini berulang aku mendapat banyak ucapan selamat dari orang-orang yang mengenalku, tapi berkat facebook, ulang tahunku yang ke 35 berdasarkan kalender Gregorian kemarin terasa lebih istimewa, karena ulang tahunku yang ke 35 berdasarkan kalender Gregorian kemarin berhasil mencetak rekor baru jumlah ucapan selamat ulang tahun yang ditujukan kepadaku yang berasal dari kerabat, teman-teman dan sahabat seluruh pelosok permukaan planet ini.
Dalam banyak kebudayaan, Ulang Tahun kelahiran adalah sebuah hal penting. Dalam kebudayaan Cina misalnya, ulang tahun selalu dirayakan besar-besaran dengan pesta. Di Bali Ulang Tahun juga sangat penting, ulang Tahun kelahiran yang terjadi tiap 210 hari menurut kalender Bali ini oleh orang Bali dirayakan dengan upacara yang bersifat spiritual.
Tapi bagi orang Gayo seperti aku, sebenarnya hari lahir bukanlah sesuatu yang dirasa penting untuk dirayakan, bahkan terasa janggal untuk sekedar diucapkan sekalipun.
Dalam keluargaku, sebagaimana halnya keluarga Gayo tradisional lainnya, sama sekali tidak ada tradisi merayakan Ulang Tahun kelahiran.Jangankan merayakan, sekedar mengucapkan Selamat Ulang Tahun di saat berulangnya hari jadipun sama sekali tidak pernah terlintas di kepala kami. Dari kecil sampai hari ini aku sama sekali tidak pernah menerima yang namanya ucapan, "selamat ulang tahun" dari keluarga terdekatku (Ayah, Ibu dan kedua adikku). Bagi keluarga kami tradisi berulang tahun benar-benar tradisi asing, tradisi yang kalau kami lakukan rasanya sangat janggal, dengan mengucapkan selamat ulang tahun kami merasa seolah-olah jadi berlagak 'sok modern' dalam pengertian kebarat-baratan.
Situasi seperti ini menyebabkan aku sewaktu masih kecil tidak pernah ingat kapan ulang tahunku, begitu juga hari ulang tahun anggota keluargaku yang lain. Dari 5 orang anggota inti keluargaku, aku cuma ingat hari lahir adik laki-lakiku. Hari lahirnya kuingat karena kami lahir di bulan yang sama tapi adikku lahir tanggal 16. Sementara hari lahir adik perempuanku tidak pernah kuingat, yang kutahu dia lahir bulan agustus sama seperti ayahku, tapi jangan tanyakan tanggalnya. Kalau hari lahir ibuku aku sama sekali tidak tahu, bahkan bulan dan tahunnyapun aku tidak dapat memastikan. Apatah lagi kalau ditanyakan hari ulang tahun kakek dan nenekku, jangankan bahkan mereka sendiripun tidak bisa memastikan umur mereka secara tepat.
Aku mulai merasa Ulang Tahun kelahiran itu adalah sesuatu yang istimewa waktu aku kelas 5 SD diundang ke Ulang Tahun teman sekelasku yang baru pindah dari Jakarta, namanya Ricky yang bapaknya waktu itu menjabat kapolres Aceh Tengah. Itu pertama kali aku menyaksikan sendiri pesta Ulang tahun dengan kue tart dan balon yang sebelumnya cuma pernah yang kulihat di TV atau di film, entah itu film Indonesia atau film barat.
Tapi meskipun aku sudah tahu kalau Ulang tahun itu adalah hari istimewa tapi tetap saja setiap ulang tahunku berlalu begitu saja dan baru kuingat beberapa hari sesudahnya.
Seingatku, hari ulang tahun kelahiran baru terasa penting bagiku sejak aku kuliah. Saat itu hari ulang tahun adalah saat-saat paling menyebalkan buatku, dan selalu bukan aku tapi kawan-kawankulah yang paling ingat hari Ulang tahunku. Mereka ingat karena entah siapa yang memulai, di Banda Aceh ada tradisi bagi siapa saja yang Ulang Tahun untuk mentraktir makan kawan-kawan. Tradisi ajaib yang sempat membuat heran seorang temanku asal Australia, temanku itu heran karena menurut dia di Australia tempat asalnya, justru orang yang berulang tahunlah yang selalu ditraktir ramai-ramai oleh teman-teman yang lain, dibuat senang dan gembira dengan cara memberikan apapun yang dia inginkan.
Setelah tidak kuliah lagi, cara pandangku terhadap Ulang tahun kelahiran kembali ke sikap awal. Aku tidak pernah lagi menganggap ulang tahun itu sebagai hari yang istimewa. Aku biasanya baru ingat Ulang Tahun kelahiranku setelah seorang teman akrab yang belakangan menjadi seperti adikku sendiri mengucapkan selamat Ulang Tahun yang sejak aku mengenalnya pertama kali tidak pernah absen mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dan memberikan sekedar kado untukku meskipun seperti biasa sampai hari ini aku tidak pernah mengingat hari Ulang Tahunnya.
Ketika aku menikah pandanganku terhadap ulang tahun kelahiran juga sama, aku tidak pernah menganggap Ulang Tahun kelahiran sebagai sesuatu yang istimewa.
Aku berpikir seperti itu karena menurutku kelahiran itu adalah takdir yang tanpa bisa aku usahakan dan aku tolak terjadinya, dan nyaris tanpa ada usahapun umurku terus bertambah dengan sendirinya.
Tapi sejak menikah pula aku mulai merasakan pentingnya ulang tahun, bukan ulang tahun kelahiran melainkan ulang tahun pernikahan.
Berbeda dengan kelahiran yang adalah takdir yang tidak bisa ditolak atau dinegosiasi ulang, pernikahan adalah sebuah peristiwa besar yang merupakan hasil dari sebuah keputusan yang diambil oleh dua orang manusia merdeka dengan pikiran jernih dan penuh kesadaran dan kerelaan untuk mengorbankan beberapa keinginan dan cita-cita demi tercapainya cita-cita yang lebih besar yang menjamin kelangsungan ide dan pikiran besar yang ada di diri masing-masing sampai akhir zaman.
Pernikahan adalah sebuah pilihan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, pilihan untuk menyatukan dua visi dan dua misi dan cinta dari dua manusia berlainan jenis untuk menghadirkan makhluk manusia baru yang merupakan perpaduan dari kompleksnya aspek intelektual, emosional, spiritual dan fisik yang dimiliki oleh dua manusia berlainan jenis. Dan berbeda dengan kelahiran, pernikahan bisa dinegosiasikan ulang dan bisa diakhiri dengan penuh kesadaran pula.
Karena itulah aku merasa kemampuan mempertahankan setiap detik pertambahan usia pernikahan, setiap menyaksikan senyum anakku yang setiap hari bertambah besar, bertambah pintar dan bertambah dewasa, aku merasa itu adalah sebuah keberhasilan, itulah adalah sebuah prestasi dalam mempertahankan keputusan yang telah diambil secara sadar, sebuah bukti kemampuan diri untuk berkorban, mengabaikan beberapa keinginan yang terkadang terlihat begitu menyenangkan.
Menurutku dan juga istriku, bukan kelahiran, tapi pernikahanlah yang merupakan peristiwa terbesar dalam hidup kami, dan karena keputusan besar itu pula Matahari kecil kami bisa terlahir ke Bumi sehingga peristiwa tahunan berulangnya hari pernikahan kami yang sekarang sudah memasuki tahun ke-6 inilah yang selalu kami rayakan dalam keluarga kami.
Hanya saja karena kami merasa ulang tahun pernikahan ini adalah sifatnya sangat pribadi yang maknanya hanya bisa dirasakan dengan sempurna oleh kami berdua, aku dan istriku selalu hanya merayakan ulang tahun pernikahan kami bertiga saja. Aku, istriku dan matahari kecil yang merupakan buah dari pernikahan kami.
Tapi ketika pada hari ulang tahun kelahiranku ini aku melihat begitu banyak perhatian tulus dari teman-teman yang merasa ulang tahun kelahiran itu adalah sesuatu yang penting. Sementara bagiku pertambahan usia pernikahanlah yang paling penting untuk dirayakan, dan karena akupun tidak peduli kalau pertambahan itu harus dihitung dengan cara apa, karena seperti kukatakan sebelumnya setiap detik pertambahan usia pernikahan adalah prestasi. Jadinya di saat begitu banyak perhatian yang diotujukan kepadaku seperti hari ini, tiba-tiba aku merasa ingin mengganti foto di profilku dengan foto pernikahanku.
Sayangnya foto-foto pernikahanku yang disimpan dalam file di beberapa keping CD tidak bisa lagi dibuka karena keping CD-nya rusak akibat lembab sehingga aku tidak bisa mendapatkan foto resepsi pernikahan kami. Yang kudapat hanya foto pre wedding yang dulu dipakai untuk dekorasi dalam acara resepsi pernikahan kami. Foto itu kudapat dengan cara mengubek-ubek situs internet milik studio 55. Sebuah studio foto yang beralamat di jalan Raden Saleh, Salemba. Studio foto yang dulu disewa oleh mertuaku untuk memotret dan memfilmkan acara pernikahan kami. Foto itulah yang sekarang terpampang di profilku hari ini.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
Langganan:
Postingan (Atom)
