harian utusan terbitan malaysia tgl 6 September 2009
ARKIB : 06/09/2009
Usah layan pendemo upahan Indonesia
Oleh Zulkiflee Bakar
SEBENARNYA, penulis sedikit pun tidak berasa hairan dengan gelagat sekumpulan penunjuk perasaan membakar Jalur Gemilang pada 30 Ogos lalu di Indonesia. Malah penulis juga tidak berasa risau dengan tunjuk perasaan yang diadakan di hadapan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, baru-baru ini.
Sebagai salah seorang yang pernah tinggal di Jakarta selama tiga tahun, penulis menganggap apa yang berlaku adalah biasa kerana itulah sikap sekelompok manusia yang tidak matang dalam berhadapan sesuatu isu.
Sebenarnya isu Tarian Pendet, hanyalah salah satu isu yang cuba diambil kesempatan oleh pihak-pihak tertentu di Indonesia bagi memburukkan Malaysia. Sebelum ini sudah ada banyak isu kecil yang sengaja diperbesarkan termasuklah oleh media Indonesia yang sejak dulu tidak pernah mahu menunjukkan kematangan dalam menyentuh isu melibatkan dua buah negara.
Jalur Gemilang bukan kali pertama dibakar, malah pada tahun 2000 peristiwa yang sama berlaku di Pontianak, Kalimantan ketika rakyat Malaysia sedang menyambut kemerdekaan. Ketika itu mereka memprotes mengenai kononnya berlaku penganiayaan ke atas pembantu rumah Indonesia.
Malah dalam isu Ambalat, pergi sahaja ke Jakarta, anda akan lihat tidak kurang lima buah buku dihasilkan dengan tujuan untuk membakar semangat rakyat Indonesia supaya menentang Malaysia. Salah sebuah buku berkenaan menggunakan tajuk Ganyang Malaysia - istilah yang digunakan ketika konfrantasi antara Malaysia-Indonesia pada tahun 1963. Kita di Malaysia tidak perlu berasa gundah gulana dengan apa yang sedang dilakukan oleh segelintir rakyat Indonesia. Mungkin kita boleh sedikit tersinggung kerana Jalur Gemilang dibakar tetapi kita jangan memiliki fikiran singkat seperti mereka.
Kelompok yang melakukan perbuatan berkenaan di Indonesia adalah penunjuk- penunjuk perasaan upahan, mereka ini dibayar antara Rupiah 5,000 hingga Rupiah 10,000 (RM1.60 hingga RM3.30).
Dengan upah sebanyak itu dan diberi sebungkus nasi dan segelas air, mereka akan terpekik terlolong di jalanan bagi mengecam Malaysia. Malah kerana upah itu juga mereka melakukan tindakan tidak masuk akal termasuk kononnya ‘menyita’ Kedutaan Malaysia.
Kenyataan
Begitu juga dengan puak-puak di Indonesia yang membuat kenyataan membidas Malaysia. Mereka juga tidak tahu apa-apa. Apa yang mereka katakan sekadar untuk meraih populariti dan publisiti. Oleh itu kita tidak perlu membuang masa bercakap dengan mereka soal diplomasi atau hubungan dua hala.
Kedua-dua kelompok berkenaan tidak mempunyai fikiran setinggi itu. Apa yang mereka tahu sebut sahaja soal Malaysia, maka segalanya mereka akan protes. Perasaan cemburu terhadap Malaysia masih wujud di kalangan sesetengah rakyat Indonesia.
Fikiran sempit dan tanggapan bahawa Indonesia adalah ‘abang’ kepada Malaysia masih ada. Sebenarnya, kalau hendak dibanding dengan sesetengah negara, dalam isu pembantu rumah contohnya, ada negara yang memberi layanan lebih buruk kepada kelompok berkenaan. Tetapi kenapakah penunjuk-penunjuk perasaan upahan tersebut tidak berdemonstrasi di kedutaan-kedutaan negara yang terlibat.
Kenapa apabila ada isu berkaitan dengan Malaysia, tanpa usul periksa, mereka terus bertindak hendak melakukan protes? Apakah tindakan yang dilakukan itu boleh menyelesaikan masalah?
Tindakan yang sekadar mengikut perasaan ini bukanlah kali pertama berlaku malah sudah acap kali tetapi ia akhirnya reda apabila tiada lagi orang yang mahu mengupah atau tiada lagi insan yang sanggup melakukan provokasi.
Sebenarnya, kelompok-kelompok tertentu begitu mudah terpengaruh dengan khabar angin termasuklah mahasiswa yang kononnya cuba menjadi golongan yang ingin menegakkan keadilan.
Terbaru, jangan terkejut kalau beberapa hari lagi, kita akan mendengar mereka melakukan tunjuk perasaan kerana mendakwa mangsa dalam klip video yang memaparkan sekumpulan pengawal keselamatan membelasah seorang lelaki adalah rakyat Indonesia. Demikianlah kecetekan fikiran mereka dalam berhadapan dengan sesuatu isu.
Tetapi kita tidak perlu layan semua itu. Apa yang lebih penting ialah hubungan dua hala antara kedua-dua negara terus berada dalam keadaan baik.
Dalam isu terbaru contohnya, isu Tarian Pendet. Pihak yang terlibat sudah membuat penjelasan kepada kerajaan Indonesia bahawa kerajaan Malaysia tidak terlibat. Oleh itu ia sudah jelas membuktikan bahawa Malaysia tidak bersalah.
Penjelasan
Kita yakin bahawa penjelasan pihak yang terlibat akan diterima oleh Indonesia, biarpun sebelum ini salah seorang menteri Kabinet Indonesia turut sedikit emosional.
Hubungan kerajaan antara kedua-dua negara adalah baik. Oleh itu sikap percaya mempercayai ini harus dikekalkan. Tidak harus ada mana-mana pihak dalam kerajaan sama ada di Malaysia atau Indonesia terpengaruh dengan sentimen sempit sesetengah pihak di negara masing-masing.
Malaysia selama ini sudah lama bersabar dengan pelbagai tuduhan yang dilemparkan. Kita yakin kesabaran ini akan berterusan kerana memahami dalam apa juga situasi adalah sesuatu yang jahil jika rakyat kedua-dua negara bertelingkah. Sebarang masalah yang wujud biarlah diselesaikan secara diplomatik di meja rundingan. Berlembut tidak semestinya beralah. Tetapi ia melambangkan bagaimana sebagai masyarakat bertamadun kita lebih rela menyelesaikan masalah secara perundingan bukannya konfrantasi.
Dalam soal ini, media-media di Indonesia juga harus memainkan peranannya. Mereka tidak sepatutnya bertindak sebagai ‘batu api’ dengan menyiarkan kenyataan-kenyataan yang boleh membakar semangat rakyat negara itu.
Rabu, 09 September 2009
Minggu, 06 September 2009
Hubungan Indonesia-Malaysia; Tanggapan Kritis Untuk Franz Magnis Suseno
Di Kompas kemarin, di halaman opini. Saya membaca sebuah tulisan Franz Magnis Suseno, dosen filsafat di STT Driyakara yang membahas tentang ketersinggungan orang Indonesia terhadap Malaysia dan bagaimana seharusnya orang Indonesia menyikapinya.
Opini yang ditulis Romo Magnis di Kompas edisi 4 September 2009 ini berlawanan dengan arus utama opini masyarakat Indonesia saat ini, yang rata-rata tersinggung dan terusik rasa nasionalismenya dengan apa yang dilakukan Malaysia yang selama ini terus menerus seolah sengaja cari perkara dengan negara ini.
Jika kebanyakan orang Indonesia termasuk anggota DPR RI ingin pemerintah bersikap keras terhadap Malaysia, Romo Magnis sebaliknya. Tawaran Romo Magnis sebagai solusi untuk masalah ini adalah solusi khas dari penganut kristen tipikal. "Kalau ada orang menampar pipi kanan, solusinya sodorkan pipi kiri".
Untuk bangsa sebesar Indonesia dengan penduduk nomer 4 terbanyak di dunia. Menurut Romo Magnis, marah-marah hanya karena dihina seperti itu sangatlah tidaklah layak untuk dilakukan. Sebaliknya Romo Magnis menganjurkan, selesaikanlah masalah itu dengan sabar dan kepala dingin.
Franz Magnis memberi contoh saat Soeharto menjadi presiden. Dia katakan, saat itu Indonesia tidak pernah berkata dengan kata keras dan justru dengan sikap seperti itu Malaysia hormat. Entah amnesia atau memang sengaja, tampaknya Franz Magnis sengaja mengaburkan fakta tentang sosok Soeharto mantan Presiden yang paling kejam sepanjang sejarah Indonesia itu.
Soeharto memang tidak pernah dan tidak perlu berkata keras. Dia hanya perlu menebar senyum, karena semua orang tahu di balik senyumnya yang khas itu ada kekuatan militer besar yang sangat loyal dan patuh tanpa syarat kepadanya. Dia dengan mudah bisa menggerakkan kekuatan itu, semudah anak kecil menggerakkan mainan mobil-mobilan dengan remote control di tangan. Bandingkan dengan SBY yang jangankan militer, bahkan dalam politik saja pun di negara ini banyak musuhnya. SBY baru mau mellibatkan TNI dalam menangani teror saja kecaman sudah muncul dari mana-mana. Jadi kalau SBY mau bergaya meniru-niru gaya Soeharto, ya diludahi orang.
Well, terlepas dari soal Soeharto, anjuran Romo Magnis memang bisa kita terapkan terhadap beberapa kasus dan terbukti manjur.
Misalnya jika anda yang pendatang kebetulan berkunjung ke Bali, bukan sebagai turis. Anda bisa jadi mengalalami pengalaman tidak menyenangkan ditangkap dan diperlakukan tidak enak oleh 'Pecalang' (Hansip Adat). Jika mengalami hal seperti ini di Bali, saran saya akan sama seperti cara yang disarankan Romo Magnis, lebih baik selesaikan masalah itu secara diplaomatis. Hubungi ketua pecalangnya atau langsung usahakan berbicara dengan 'klian' adat setempat.
Meskipun anda mungkin Preman terkenal dan ditakuti di kampung asal anda, tapi dalam menghadapi situasi ini. Mengajak konfrontasi 'pecalang Bali, sangat tidak saya anjurkan. Kecuali anda punya ilmu tahan pukul dan ilmu kebal atau siap mental di'massa' orang 'sebanjar'.
Tapi anjuran seperti tersebut di atas bukanlah obat ajaib yang manjur untuk segala kasus, situasi dan kondisi. Untuk kasus yang berbeda, kadang-kadang cara seperti yang dianjurkan Romo Magnis ini sama sekali tidak efektif, malah menjadi kontra produktif.
Saya secara pribadi pernah mengalami musibah yang tidak perlu karena berbaik-baik seperti saran favorit Romo Magnis ini.
Saat itu saya baru pindah ke kompleks perumahan yang saya tinggali sekarang. Untuk menuju ke rumah saya, saya harus melewati sebuah rumah yang memiliki seekor anjing buras alias anjing kampung yang selalu mengonggong keras kepada siapapun yang melintas di depan rumah majikannya itu. Kalau orang yang digonggong ketakutan kadang anjing kampung berkulit belang ini tidak segan-segan mengejar sampai orang yang dikejar berteriak-teriak ketakutan. Warga di kompleks tempat saya tinggal sebenarnya cukup resah dengan keberadaan anjing itu di kompleks kami.
Istri dan anak saya sering sangat ketakutan ketika harus melewati rumah itu menuju rumah kami. Ketika keluhan itu saya sampaikan kepada pemilik anjing dengan enteng dia bilang "Anjing saya itu memang senang bercanda".
Karena 'diplomasi' dengan pemilik anjing itu tidak berhasil. Karena istri saya sangat ketakutan setiap kali melewati rumah itu, sayapun secara resmi melaporkan masalah ini kepada ketua RT yang merupakan penguasa tertinggi di kompleks kami. Tapi ketua RT kami yang secara penampilan luar sangat perlente dan berwibawa ini sama sekali tidak dapat memberi solusi yang memuaskan.
Suatu kali istri saya pulang bersepeda dan melewati rumah itu, dan seperti biasa anjing itupun menggonggong dengan keras dan seperti biasa pula istri sayapun menjerit panik tidak kalah kerasnya. Sialnya kali ini anjing ini tidak hanya menggonggong tapi juga mengejar istri saya, istri saya yang panik dan ketakutan memacu sepedanya dengan kencang dan saat berbelok menuju persimpangan rumah saya, istri saya tidak dapat mengendalikan sepedanya dan jatuh terjerembab. Melihat istri saya terjatuh, anjing itu menggonggong kencang dan kemudian melenggang pulang dengan santainya. Istri saya pulang ke rumah sambil menuntun sepeda.
Ketika istri saya masuk ke rumah, dia menangis sambil mengatakan dia habis di kejar anjing. Saya yang sedang santai nonton TV kaget melihat keadaanya yang babak belur dengan darah mengalir dari sikut dan lututnya yang kotor terkena debu, bahkan levi's kesayangan istri saya yang ia pakai hari itu juga ikut robek.
Melihat itu tanpa pikir panjang lagi saya mengambil linggis dan mendatangi rumah tempat anjing itu tinggal. Saat saya tiba, anjing itu sedang duduk santai di dalam teras rumah pemiliknya yang berpagar tinggi. Melihat saya, anjing itu seperti biasa mengonggong. Saya tidak mempedulikan gonggongannya langsung masuk ke dalam pagar rumah itu dan menutup rapat gerbangnya. Kemudian mulai memukuli anjing itu dengan linggis yang saya bawa.
Saat saya saya pukuli, secara naluriah anjing itu berusaha lari keluar, tapi usahanya sia-sia, karena pagarnya telah saya tutup rapat. Pemiliknya yang keluar dari dalam rumah mendengar keributan di terasnya menjerit-jerit melihat anjing kesayangannya saya pukuli dengan linggis berbahan besi ulir sebesar jempol kaki. Tapi dia hanya bisa menjerit dan tidak dapat berbuat lebih dari itu.
Saat saya memukuli anjing itu awalnya suaranya 'kaing-kaing' nya demikian kencang, tapi lama kelamaan anjing itu hanya mampu mengeluarkan suara rintihan lemah ' ing' 'ing'. Saya berhenti ketika tangan saya terasa sangat lelah dan tidak sanggup lagi mengangkat linggis untuk memukul. Hebatnya anjing itu tidak mati.
Setelah kejadian hari itu, setiap saya lewat di depan rumah majikannya anjing itu tetap menggonggong, tapi kalau saya menghentakkan kaki sedikit dia langsung lari terkaing-kaing. Kadang-kadang di depan pemiliknya anjing itu tetap 'ngelunjak' menggonggongi saya seolah dia sudah jadi serigala lagi. Setiap kali kejadian seperti itu terjadi, saya kembali ke rumah itu dengan membawa linggis dan anjing itu kembali saya pukuli sampai akhirnya kalau melihat saya dalam jarak 200 meter saja, tanpa saya apa-apakan pun anjing itu langsung terkaing-kaing sendiri dan panik mencari tempat sembunyi.
Coba ini saya lakukan dari awal tanpa perlu coba-coba berbaik-baik mencoba jalan 'diplomasi', istri saya tidak perlu lecet berdarah-darah dan mendapati celana kesayangannya rusak.
Nah untuk kasus Malaysia, cara mana yang paling efektif untuk kita lakukan.
Jangan buru-buru kita simpulkan, mari kita putuskan sesuai dengan kondisi piskologis mereka. Untuk mengetahui kondisi psikologis bangsa yang oleh anggota DPR RI Yusron Ihza Mahendra sebagi bangsa umang-umang karena tidak memiliki badan ini, kita bisa mengujinya berdasarkan data dan pengalaman yang ada.
Berdasarkan hasil yang kita uji itu, kita akan mengetahui apakah cara terbaik menghadapi mereka adalah sarannya Romo Magnis yang efektif menghadapi 'Pecalang' Bali atau justru malah lebih pas mengguanakan cara saya seperti yang saya praktekkan ketika menghadapi anjing kampung yang arogan yang ada di komleks perumahan tempat saya tinggal.
Mari kita lihat.
Dulu Indonesia pernah protes baik-baik soal perlakuan mereka yang tidak manusiawi terhadap TKI, apa kata mereka , mereka punya hukum sendiri yang mengatur itu dan sebagai negara berdaulat mereka tidak ingin proses hukum negara mereka diintervensi. Saat jalur diplomasi digunakan untuk memprotes panggilan 'Indon' yang sangat melecehkan yang mereka pakai untuk meyebut warga negeri ini, apa yang mereka katakan "Oh...itu cume panggilan singkat supaye mudah diucapkan saje".
Kemudian berbagai kasus berlanjut, wasit karate yang merupakan utusan resmi negara ini yang datang berkunjung atas undangan mereka dipukulli oleh para militer negara itu yang memang khusus dibuat untuk mengejar-ngejar TKI. Indonesia yang kata Romo Magnis negara besar yang tidak perlu menunjukkan kebesarannya dengan cara marah-marah ini mendekati mereka manis-manis, seolah-olah mereka itu memang manusia normal. Yang terjadi malah mereka makin bertingkah pating petita-petiti.
Lihat lagi kemudian mereka mengklaim lagu orang ambon sebagai milik mereka, karena merasa tidak terlalu diseriusi kelancangan mereka berlanjut dengan meng-klaim reog Ponorogo. Mereka dengan jumawa menghambat penyebaran lagu-lagu karya musisi Indonesia di negara yang dipenuhi artis-artis tidak kreatif itu, menulis berbagai artikel di koran mereka supaya warganya membenci musik Indonesia. Begitu juga soal Blok Ambalat, waktu Indonesia masih petita-petiti sok-sokan main "diplomasi" sama melayu-melayu OKB itu; maka koran-koran merekapun pun isinya dipenuhi sikap-sikap pating petita-petiti seperti mereka itu sudah jadi negara super power di kawasan ini.
Tapi lihat waktu Pemerintah Indonesia tegas melarang pengiriman TKI, negara apartheid inipun kelabakan menyelesaikan beberapa proyek di negara mereka dan melayu-melayu tidak tahu diri itupun mulai menjilat-jilat pejabat Indonesia yang berkunjung ke sana, bahkan ada pejabat yang datang disambut dengan karpet merah segala. Semua mereka lakukan supaya Indonesia mau membuka kembali kran pengiriman TKI.
Lalu lihat pula ketika SBY mulai terus terang menunjukkan ketersinggungan orang Indonesia atas apa yang mereka lakukan. Perdana menterinya langsung datang merangkul SBY di Jakarta.
Jadi kesimpulannya, mentalitas orang Malaysia itu seperti mentalitas anjing kampung. Psikologinya orang Malaysia ya seperti psikologi anjing kampung di kompleks perumahan tempat saya tinggal, yang saya pukuli babak belur dengan linggis besi ulir sebesar jempol kaki.
Orang Malaysia itu memang perlu dihina, dikasari dan dinista. Nggak perlu dirangkul-rangkul dan pura-pura bersikap seolah-olah mereka bukan bangsa impoten saja.
Terakhir untuk Franz Magnis Suseno, kalau anda mau memberi pipi kiri untuk ditampari melayu-melayu gila itu, silahkan berikan pipi anda sendiri. Nggak perlu ngajak-ngajak kami, apalagi sampai mengatasnamakan Indonesia segala.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Opini yang ditulis Romo Magnis di Kompas edisi 4 September 2009 ini berlawanan dengan arus utama opini masyarakat Indonesia saat ini, yang rata-rata tersinggung dan terusik rasa nasionalismenya dengan apa yang dilakukan Malaysia yang selama ini terus menerus seolah sengaja cari perkara dengan negara ini.
Jika kebanyakan orang Indonesia termasuk anggota DPR RI ingin pemerintah bersikap keras terhadap Malaysia, Romo Magnis sebaliknya. Tawaran Romo Magnis sebagai solusi untuk masalah ini adalah solusi khas dari penganut kristen tipikal. "Kalau ada orang menampar pipi kanan, solusinya sodorkan pipi kiri".
Untuk bangsa sebesar Indonesia dengan penduduk nomer 4 terbanyak di dunia. Menurut Romo Magnis, marah-marah hanya karena dihina seperti itu sangatlah tidaklah layak untuk dilakukan. Sebaliknya Romo Magnis menganjurkan, selesaikanlah masalah itu dengan sabar dan kepala dingin.
Franz Magnis memberi contoh saat Soeharto menjadi presiden. Dia katakan, saat itu Indonesia tidak pernah berkata dengan kata keras dan justru dengan sikap seperti itu Malaysia hormat. Entah amnesia atau memang sengaja, tampaknya Franz Magnis sengaja mengaburkan fakta tentang sosok Soeharto mantan Presiden yang paling kejam sepanjang sejarah Indonesia itu.
Soeharto memang tidak pernah dan tidak perlu berkata keras. Dia hanya perlu menebar senyum, karena semua orang tahu di balik senyumnya yang khas itu ada kekuatan militer besar yang sangat loyal dan patuh tanpa syarat kepadanya. Dia dengan mudah bisa menggerakkan kekuatan itu, semudah anak kecil menggerakkan mainan mobil-mobilan dengan remote control di tangan. Bandingkan dengan SBY yang jangankan militer, bahkan dalam politik saja pun di negara ini banyak musuhnya. SBY baru mau mellibatkan TNI dalam menangani teror saja kecaman sudah muncul dari mana-mana. Jadi kalau SBY mau bergaya meniru-niru gaya Soeharto, ya diludahi orang.
Well, terlepas dari soal Soeharto, anjuran Romo Magnis memang bisa kita terapkan terhadap beberapa kasus dan terbukti manjur.
Misalnya jika anda yang pendatang kebetulan berkunjung ke Bali, bukan sebagai turis. Anda bisa jadi mengalalami pengalaman tidak menyenangkan ditangkap dan diperlakukan tidak enak oleh 'Pecalang' (Hansip Adat). Jika mengalami hal seperti ini di Bali, saran saya akan sama seperti cara yang disarankan Romo Magnis, lebih baik selesaikan masalah itu secara diplaomatis. Hubungi ketua pecalangnya atau langsung usahakan berbicara dengan 'klian' adat setempat.
Meskipun anda mungkin Preman terkenal dan ditakuti di kampung asal anda, tapi dalam menghadapi situasi ini. Mengajak konfrontasi 'pecalang Bali, sangat tidak saya anjurkan. Kecuali anda punya ilmu tahan pukul dan ilmu kebal atau siap mental di'massa' orang 'sebanjar'.
Tapi anjuran seperti tersebut di atas bukanlah obat ajaib yang manjur untuk segala kasus, situasi dan kondisi. Untuk kasus yang berbeda, kadang-kadang cara seperti yang dianjurkan Romo Magnis ini sama sekali tidak efektif, malah menjadi kontra produktif.
Saya secara pribadi pernah mengalami musibah yang tidak perlu karena berbaik-baik seperti saran favorit Romo Magnis ini.
Saat itu saya baru pindah ke kompleks perumahan yang saya tinggali sekarang. Untuk menuju ke rumah saya, saya harus melewati sebuah rumah yang memiliki seekor anjing buras alias anjing kampung yang selalu mengonggong keras kepada siapapun yang melintas di depan rumah majikannya itu. Kalau orang yang digonggong ketakutan kadang anjing kampung berkulit belang ini tidak segan-segan mengejar sampai orang yang dikejar berteriak-teriak ketakutan. Warga di kompleks tempat saya tinggal sebenarnya cukup resah dengan keberadaan anjing itu di kompleks kami.
Istri dan anak saya sering sangat ketakutan ketika harus melewati rumah itu menuju rumah kami. Ketika keluhan itu saya sampaikan kepada pemilik anjing dengan enteng dia bilang "Anjing saya itu memang senang bercanda".
Karena 'diplomasi' dengan pemilik anjing itu tidak berhasil. Karena istri saya sangat ketakutan setiap kali melewati rumah itu, sayapun secara resmi melaporkan masalah ini kepada ketua RT yang merupakan penguasa tertinggi di kompleks kami. Tapi ketua RT kami yang secara penampilan luar sangat perlente dan berwibawa ini sama sekali tidak dapat memberi solusi yang memuaskan.
Suatu kali istri saya pulang bersepeda dan melewati rumah itu, dan seperti biasa anjing itupun menggonggong dengan keras dan seperti biasa pula istri sayapun menjerit panik tidak kalah kerasnya. Sialnya kali ini anjing ini tidak hanya menggonggong tapi juga mengejar istri saya, istri saya yang panik dan ketakutan memacu sepedanya dengan kencang dan saat berbelok menuju persimpangan rumah saya, istri saya tidak dapat mengendalikan sepedanya dan jatuh terjerembab. Melihat istri saya terjatuh, anjing itu menggonggong kencang dan kemudian melenggang pulang dengan santainya. Istri saya pulang ke rumah sambil menuntun sepeda.
Ketika istri saya masuk ke rumah, dia menangis sambil mengatakan dia habis di kejar anjing. Saya yang sedang santai nonton TV kaget melihat keadaanya yang babak belur dengan darah mengalir dari sikut dan lututnya yang kotor terkena debu, bahkan levi's kesayangan istri saya yang ia pakai hari itu juga ikut robek.
Melihat itu tanpa pikir panjang lagi saya mengambil linggis dan mendatangi rumah tempat anjing itu tinggal. Saat saya tiba, anjing itu sedang duduk santai di dalam teras rumah pemiliknya yang berpagar tinggi. Melihat saya, anjing itu seperti biasa mengonggong. Saya tidak mempedulikan gonggongannya langsung masuk ke dalam pagar rumah itu dan menutup rapat gerbangnya. Kemudian mulai memukuli anjing itu dengan linggis yang saya bawa.
Saat saya saya pukuli, secara naluriah anjing itu berusaha lari keluar, tapi usahanya sia-sia, karena pagarnya telah saya tutup rapat. Pemiliknya yang keluar dari dalam rumah mendengar keributan di terasnya menjerit-jerit melihat anjing kesayangannya saya pukuli dengan linggis berbahan besi ulir sebesar jempol kaki. Tapi dia hanya bisa menjerit dan tidak dapat berbuat lebih dari itu.
Saat saya memukuli anjing itu awalnya suaranya 'kaing-kaing' nya demikian kencang, tapi lama kelamaan anjing itu hanya mampu mengeluarkan suara rintihan lemah ' ing' 'ing'. Saya berhenti ketika tangan saya terasa sangat lelah dan tidak sanggup lagi mengangkat linggis untuk memukul. Hebatnya anjing itu tidak mati.
Setelah kejadian hari itu, setiap saya lewat di depan rumah majikannya anjing itu tetap menggonggong, tapi kalau saya menghentakkan kaki sedikit dia langsung lari terkaing-kaing. Kadang-kadang di depan pemiliknya anjing itu tetap 'ngelunjak' menggonggongi saya seolah dia sudah jadi serigala lagi. Setiap kali kejadian seperti itu terjadi, saya kembali ke rumah itu dengan membawa linggis dan anjing itu kembali saya pukuli sampai akhirnya kalau melihat saya dalam jarak 200 meter saja, tanpa saya apa-apakan pun anjing itu langsung terkaing-kaing sendiri dan panik mencari tempat sembunyi.
Coba ini saya lakukan dari awal tanpa perlu coba-coba berbaik-baik mencoba jalan 'diplomasi', istri saya tidak perlu lecet berdarah-darah dan mendapati celana kesayangannya rusak.
Nah untuk kasus Malaysia, cara mana yang paling efektif untuk kita lakukan.
Jangan buru-buru kita simpulkan, mari kita putuskan sesuai dengan kondisi piskologis mereka. Untuk mengetahui kondisi psikologis bangsa yang oleh anggota DPR RI Yusron Ihza Mahendra sebagi bangsa umang-umang karena tidak memiliki badan ini, kita bisa mengujinya berdasarkan data dan pengalaman yang ada.
Berdasarkan hasil yang kita uji itu, kita akan mengetahui apakah cara terbaik menghadapi mereka adalah sarannya Romo Magnis yang efektif menghadapi 'Pecalang' Bali atau justru malah lebih pas mengguanakan cara saya seperti yang saya praktekkan ketika menghadapi anjing kampung yang arogan yang ada di komleks perumahan tempat saya tinggal.
Mari kita lihat.
Dulu Indonesia pernah protes baik-baik soal perlakuan mereka yang tidak manusiawi terhadap TKI, apa kata mereka , mereka punya hukum sendiri yang mengatur itu dan sebagai negara berdaulat mereka tidak ingin proses hukum negara mereka diintervensi. Saat jalur diplomasi digunakan untuk memprotes panggilan 'Indon' yang sangat melecehkan yang mereka pakai untuk meyebut warga negeri ini, apa yang mereka katakan "Oh...itu cume panggilan singkat supaye mudah diucapkan saje".
Kemudian berbagai kasus berlanjut, wasit karate yang merupakan utusan resmi negara ini yang datang berkunjung atas undangan mereka dipukulli oleh para militer negara itu yang memang khusus dibuat untuk mengejar-ngejar TKI. Indonesia yang kata Romo Magnis negara besar yang tidak perlu menunjukkan kebesarannya dengan cara marah-marah ini mendekati mereka manis-manis, seolah-olah mereka itu memang manusia normal. Yang terjadi malah mereka makin bertingkah pating petita-petiti.
Lihat lagi kemudian mereka mengklaim lagu orang ambon sebagai milik mereka, karena merasa tidak terlalu diseriusi kelancangan mereka berlanjut dengan meng-klaim reog Ponorogo. Mereka dengan jumawa menghambat penyebaran lagu-lagu karya musisi Indonesia di negara yang dipenuhi artis-artis tidak kreatif itu, menulis berbagai artikel di koran mereka supaya warganya membenci musik Indonesia. Begitu juga soal Blok Ambalat, waktu Indonesia masih petita-petiti sok-sokan main "diplomasi" sama melayu-melayu OKB itu; maka koran-koran merekapun pun isinya dipenuhi sikap-sikap pating petita-petiti seperti mereka itu sudah jadi negara super power di kawasan ini.
Tapi lihat waktu Pemerintah Indonesia tegas melarang pengiriman TKI, negara apartheid inipun kelabakan menyelesaikan beberapa proyek di negara mereka dan melayu-melayu tidak tahu diri itupun mulai menjilat-jilat pejabat Indonesia yang berkunjung ke sana, bahkan ada pejabat yang datang disambut dengan karpet merah segala. Semua mereka lakukan supaya Indonesia mau membuka kembali kran pengiriman TKI.
Lalu lihat pula ketika SBY mulai terus terang menunjukkan ketersinggungan orang Indonesia atas apa yang mereka lakukan. Perdana menterinya langsung datang merangkul SBY di Jakarta.
Jadi kesimpulannya, mentalitas orang Malaysia itu seperti mentalitas anjing kampung. Psikologinya orang Malaysia ya seperti psikologi anjing kampung di kompleks perumahan tempat saya tinggal, yang saya pukuli babak belur dengan linggis besi ulir sebesar jempol kaki.
Orang Malaysia itu memang perlu dihina, dikasari dan dinista. Nggak perlu dirangkul-rangkul dan pura-pura bersikap seolah-olah mereka bukan bangsa impoten saja.
Terakhir untuk Franz Magnis Suseno, kalau anda mau memberi pipi kiri untuk ditampari melayu-melayu gila itu, silahkan berikan pipi anda sendiri. Nggak perlu ngajak-ngajak kami, apalagi sampai mengatasnamakan Indonesia segala.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Senin, 31 Agustus 2009
Organic/Specialty Coffee-the Gayonese Experience...Part I
By Win Wan Nur D.I Aceh, Sumatera, Indonesia
Abstract
In the Indonesian Special Province of Aceh, situated at the northwestern extreme of Sumatera Island, the Gayo farmers (indigenous Acehnese who inhabit the valleys of the Gayo Mountain Range) have been growing Arabica coffee for well over 100 years. The ‘Gayo Highlands’ constitute much of the mountainous interior of the Central Aceh District, where altitudes range from approximately 700 meters to 2500 meters above sea level. The town of Takengon is the administrative capital of Central Aceh District, which itself is further divided into eight administrative sub-districts. The sub-districts, which are listed as major coffee production areas include Bandar, Bukit, Timang Gajah, Silih Nara, Bebesen, Pegasing, Bintang and Linge. In 1989, the total area devoted to coffee production in Central Aceh District was 68,800 hectares, with the larger portion of this total area consisting of small, family run plantations or plots.
Introduction
The first coffee plantations in Aceh were established by the Dutch Colonial Regime in the late nineteenth century. Shortly after Indonesian independence in 1949, the Gayo farmers took control of many of these former colonial plantations, and to this day they have continued to run them in a traditional manner. It is important to note that prior to the mid-1980s, all the coffee produced in the Gayo Highlands was grown without any chemical inputs whatsoever and this exceptionally fertile growing region could have been considered 100% Organic.
It was not until the Soeharto Regime solidified it’s influence over the entire Indonesian archipelago in the early to mid-1980s, that the widespread practice of government control began to affect coffee production in Central Aceh. During this time, the son-in-law of the acting Governor of Aceh Special Province was granted a virtual marketing monopoly by becoming the sole holder of a special license enabling his company to market and distribute chemical herbicides to agricultural producers throughout Aceh Special Province. Henceforth, it was pronounced that the intensive application of chemical herbicides was merely ‘a simple solution to control bothersome and unexpected weed growth’ in the coffee plantations of Aceh.
Fortunately, current use of such chemical based herbicides is estimated to be less than 10% of the total area planted with Arabica coffee. However, in the recent past (during the Soeharto Regime) it was quite commonplace for field data to be fabricated by the corrupt government bureaucracy, it is herewith suggested that in the name of accuracy, a new ‘herbicide and pesticide use field survey’ should be carried out in the near future.
Production and cultivars
Though some of the family-owned coffee plantations in Central Aceh cover as much as fifteen hectares, the average plot of land owned by each Gayonese mountain farmer amounts to less than two hectares. As a direct result of the ongoing national economic and political crises, many Indonesians have become jobless, the daily cost of living has become more expensive, and there are no new job opportunities to be found. Yet, in the Gayo Highlands of Central Aceh the devaluation of the Indonesian Rupiah has in effect come as a blessing in disguise for ethnic Gayo farmers. Arabica coffee is the primary export commodity produced throughout Central Aceh District, a commodity which is valued and sold, in United States dollars (USD). Therefore, an effective ‘monetary buffer’ has been established; one which affords Gayo farmers much higher levels of real income (especially when compared to the current national average).
Since 1997, higher levels of real income and savings amongst the farmers of the Gayo Mountain Range have fueled the ongoing rapid expansion of almost all Arabica coffee production areas throughout Central Aceh District. Early retirees and young people, who had previously focused their combined family efforts towards emigrating to urban centers throughout the archipelago (in search of better paying jobs), now prefer to stay in the highlands to either revive old coffee plots, or establish new ones.
Unfortunately as of 1990, both the local and the provincial governments in Aceh Special Province, have yet to compile any kind of an accurate database regarding the expansion of existing coffee plantations, and/or the establishment of new ones. It is estimated that during the past decade, the total area of coffee cultivation in the Gayo Highlands of Central Aceh District has been expanded by some 40-50% (an additional 25,000 to 30,000 hectares).
The large majority of Gayo coffee farmers still manage their small coffee plantations/plots in a very traditional manner (i.e. without chemical inputs). The only fertilizer they apply consists of the decomposed waste and skins of the ripe coffee beans, which tend to accumulate following the annual harvest (October to February). The physical removal of this particular waste material, or agricultural byproduct, is becoming a major problem throughout the Gayo Highland Region, as there is no formal effort for collection and/or composting and disposal.
Waste materials continue to consume far too much production space, to the point where it is now commonplace for a land area which was once capable of supporting 5000 coffee trees, to have as few as 1500 productive trees! This land-to-tree productivity ratio problem is compounded by the fact that most of the older coffee plantations in the region have yet to be replanted with newer, more productive species of coffee trees. The latter drawback has resulted in a further drop in overall production capacity; particularly on those older and more established coffee plantations dating back to the colonial era, which are located in and around the town of Takengon. The current, total annual Arabica coffee harvest in the Gayo Highlands is far from optimal, with only 50,000 MT being produced from a total land area of 68,000 hectares.
At the present time, the most popular coffee variety grown by the Gayo farmers of Central Aceh is called Catimor, which is a hybrid variety, derived from a cross between the Red Caturra and Hibrido de Timor varieties. Hibrido de Timor is famous for it's resistance to the leaf rust disease; a disease which spread through most of the colonial coffee plantations in Indonesia during the early part of the 20th century. The major drawback of the Hibrido de Timor variety is the low yields and relatively tall growth, making it somewhat difficult to harvest. In contrast, the red Caturra variety grows on smaller/shorter trees and offers an exceptionally high yield. Therefore, the crossing of these two breeds offers local Gayo farmers an ideal low maintenance and high yield variety of coffee tree.
There are numerous selections of the Catimor hybrid in Indonesia. Some of these hybrids were developed in a government-run coffee research centres in the province of East Java, but they are not overly popular in Takengon. The most popular Catimor variety grown in the Gayo Highlands of Central Aceh District is called Catimor Jaluk; a naturally occurring hybrid variety which originated from a local Gayo Higland plantation. This crossbreed of Hibrido de Timor and Red Caturra, is well suited to the growing conditions in the Gayo Highlands. Today, almost all of the newly established, or replanted coffee plantations in the region are planted with the Catimor Jaluk hybrid variety.
According to the coffee production data compiled by AEKI (Indonesian Coffee Exporters Association) during the 1999/2000 period, Indonesia produced an estimated 432,000 metric tons of coffee, and only 15% (64,800 MT) of the total amount was Arabica. Therefore, it becomes clear that the Gayo Highland Region of Aceh Special Province produces well over 90% of Indonesia’s entire annual Arabica coffee harvest!
Unfortunately, during the 1980s, every single seaport in Aceh was shut down by the Soeharto Regime, and all of the major ethnic Chinese Indonesian coffee traders based in Sumatera were encouraged to run their operations from the city of Medan (the capital of neighboring North Sumatera Province). These drastic policy changes effectively terminated the link between the indigenous Acehnese Gayo Highland farmers and the international coffee market giving the Medan-based middlemen a virtual supply monopoly. Until the present time, most of the Arabica coffee produced in the Gayo Highland Region of Central Aceh District continues to be marketed as if originating from the smaller, less significant coffee production areas in North Sumatera Province (using brand names which correlate to the names of villages and districts in that province-Mandheling, Pawani, Sidikalang, Gunung Lintong etc). Such marketing practices are totally misleading.
Major Coffee Producing Regions in Indonesia
Province Type Production(MT) Share (%)
South Sumatera Robusta 91,786 18.9
Lampung Robusta 84,021 17.3
Aceh Robusta/Arabica 61,906 12.7
North Sumatera Robusta/Arabica 30,106 6.2
Abstract
In the Indonesian Special Province of Aceh, situated at the northwestern extreme of Sumatera Island, the Gayo farmers (indigenous Acehnese who inhabit the valleys of the Gayo Mountain Range) have been growing Arabica coffee for well over 100 years. The ‘Gayo Highlands’ constitute much of the mountainous interior of the Central Aceh District, where altitudes range from approximately 700 meters to 2500 meters above sea level. The town of Takengon is the administrative capital of Central Aceh District, which itself is further divided into eight administrative sub-districts. The sub-districts, which are listed as major coffee production areas include Bandar, Bukit, Timang Gajah, Silih Nara, Bebesen, Pegasing, Bintang and Linge. In 1989, the total area devoted to coffee production in Central Aceh District was 68,800 hectares, with the larger portion of this total area consisting of small, family run plantations or plots.
Introduction
The first coffee plantations in Aceh were established by the Dutch Colonial Regime in the late nineteenth century. Shortly after Indonesian independence in 1949, the Gayo farmers took control of many of these former colonial plantations, and to this day they have continued to run them in a traditional manner. It is important to note that prior to the mid-1980s, all the coffee produced in the Gayo Highlands was grown without any chemical inputs whatsoever and this exceptionally fertile growing region could have been considered 100% Organic.
It was not until the Soeharto Regime solidified it’s influence over the entire Indonesian archipelago in the early to mid-1980s, that the widespread practice of government control began to affect coffee production in Central Aceh. During this time, the son-in-law of the acting Governor of Aceh Special Province was granted a virtual marketing monopoly by becoming the sole holder of a special license enabling his company to market and distribute chemical herbicides to agricultural producers throughout Aceh Special Province. Henceforth, it was pronounced that the intensive application of chemical herbicides was merely ‘a simple solution to control bothersome and unexpected weed growth’ in the coffee plantations of Aceh.
Fortunately, current use of such chemical based herbicides is estimated to be less than 10% of the total area planted with Arabica coffee. However, in the recent past (during the Soeharto Regime) it was quite commonplace for field data to be fabricated by the corrupt government bureaucracy, it is herewith suggested that in the name of accuracy, a new ‘herbicide and pesticide use field survey’ should be carried out in the near future.
Production and cultivars
Though some of the family-owned coffee plantations in Central Aceh cover as much as fifteen hectares, the average plot of land owned by each Gayonese mountain farmer amounts to less than two hectares. As a direct result of the ongoing national economic and political crises, many Indonesians have become jobless, the daily cost of living has become more expensive, and there are no new job opportunities to be found. Yet, in the Gayo Highlands of Central Aceh the devaluation of the Indonesian Rupiah has in effect come as a blessing in disguise for ethnic Gayo farmers. Arabica coffee is the primary export commodity produced throughout Central Aceh District, a commodity which is valued and sold, in United States dollars (USD). Therefore, an effective ‘monetary buffer’ has been established; one which affords Gayo farmers much higher levels of real income (especially when compared to the current national average).
Since 1997, higher levels of real income and savings amongst the farmers of the Gayo Mountain Range have fueled the ongoing rapid expansion of almost all Arabica coffee production areas throughout Central Aceh District. Early retirees and young people, who had previously focused their combined family efforts towards emigrating to urban centers throughout the archipelago (in search of better paying jobs), now prefer to stay in the highlands to either revive old coffee plots, or establish new ones.
Unfortunately as of 1990, both the local and the provincial governments in Aceh Special Province, have yet to compile any kind of an accurate database regarding the expansion of existing coffee plantations, and/or the establishment of new ones. It is estimated that during the past decade, the total area of coffee cultivation in the Gayo Highlands of Central Aceh District has been expanded by some 40-50% (an additional 25,000 to 30,000 hectares).
The large majority of Gayo coffee farmers still manage their small coffee plantations/plots in a very traditional manner (i.e. without chemical inputs). The only fertilizer they apply consists of the decomposed waste and skins of the ripe coffee beans, which tend to accumulate following the annual harvest (October to February). The physical removal of this particular waste material, or agricultural byproduct, is becoming a major problem throughout the Gayo Highland Region, as there is no formal effort for collection and/or composting and disposal.
Waste materials continue to consume far too much production space, to the point where it is now commonplace for a land area which was once capable of supporting 5000 coffee trees, to have as few as 1500 productive trees! This land-to-tree productivity ratio problem is compounded by the fact that most of the older coffee plantations in the region have yet to be replanted with newer, more productive species of coffee trees. The latter drawback has resulted in a further drop in overall production capacity; particularly on those older and more established coffee plantations dating back to the colonial era, which are located in and around the town of Takengon. The current, total annual Arabica coffee harvest in the Gayo Highlands is far from optimal, with only 50,000 MT being produced from a total land area of 68,000 hectares.
At the present time, the most popular coffee variety grown by the Gayo farmers of Central Aceh is called Catimor, which is a hybrid variety, derived from a cross between the Red Caturra and Hibrido de Timor varieties. Hibrido de Timor is famous for it's resistance to the leaf rust disease; a disease which spread through most of the colonial coffee plantations in Indonesia during the early part of the 20th century. The major drawback of the Hibrido de Timor variety is the low yields and relatively tall growth, making it somewhat difficult to harvest. In contrast, the red Caturra variety grows on smaller/shorter trees and offers an exceptionally high yield. Therefore, the crossing of these two breeds offers local Gayo farmers an ideal low maintenance and high yield variety of coffee tree.
There are numerous selections of the Catimor hybrid in Indonesia. Some of these hybrids were developed in a government-run coffee research centres in the province of East Java, but they are not overly popular in Takengon. The most popular Catimor variety grown in the Gayo Highlands of Central Aceh District is called Catimor Jaluk; a naturally occurring hybrid variety which originated from a local Gayo Higland plantation. This crossbreed of Hibrido de Timor and Red Caturra, is well suited to the growing conditions in the Gayo Highlands. Today, almost all of the newly established, or replanted coffee plantations in the region are planted with the Catimor Jaluk hybrid variety.
According to the coffee production data compiled by AEKI (Indonesian Coffee Exporters Association) during the 1999/2000 period, Indonesia produced an estimated 432,000 metric tons of coffee, and only 15% (64,800 MT) of the total amount was Arabica. Therefore, it becomes clear that the Gayo Highland Region of Aceh Special Province produces well over 90% of Indonesia’s entire annual Arabica coffee harvest!
Unfortunately, during the 1980s, every single seaport in Aceh was shut down by the Soeharto Regime, and all of the major ethnic Chinese Indonesian coffee traders based in Sumatera were encouraged to run their operations from the city of Medan (the capital of neighboring North Sumatera Province). These drastic policy changes effectively terminated the link between the indigenous Acehnese Gayo Highland farmers and the international coffee market giving the Medan-based middlemen a virtual supply monopoly. Until the present time, most of the Arabica coffee produced in the Gayo Highland Region of Central Aceh District continues to be marketed as if originating from the smaller, less significant coffee production areas in North Sumatera Province (using brand names which correlate to the names of villages and districts in that province-Mandheling, Pawani, Sidikalang, Gunung Lintong etc). Such marketing practices are totally misleading.
Major Coffee Producing Regions in Indonesia
Province Type Production(MT) Share (%)
South Sumatera Robusta 91,786 18.9
Lampung Robusta 84,021 17.3
Aceh Robusta/Arabica 61,906 12.7
North Sumatera Robusta/Arabica 30,106 6.2
Minggu, 30 Agustus 2009
Miripnya Australia dan Lut Tawar Kami... Bag II
Belakangan satu orang terpelajar dari kampung saya pergi ke Bogor dan mengujungi kebun raya. Di Kebun Raya Bogor dia melihat tanaman air yang sangat cantik. Tanaman yang hidup mengambang di air yang memiliki bunga berwarna ungu dengan kombinasi kuning di bagian tengahnya ini tampak sangat eksotis ketika sedang mekar.
Lalu si bapak inipun membayangkan alangkah indahnya seandainya danau di kampung kami yang cantik ditumbuhi tanaman eksotis ini. Si bapak ini tidak sekedar bermimpi, diapun langsung membawa bibit tanaman itu ketika pulang ke kampung kami dan segera meletakkan tanaman ini di air danau kami yang cantik seraya berharap tanaman ini bisa tumbuh subur di danau kami dan membuat danau kami yang cantik menjadi semakin cantik.
Sebagian besar harapan bapak ini memang terwujud, tanaman cantik yang dia bawa dari Bogor tumbuh subur dan berkembang biak dengan cepat di danau kami, karena ternyata iklim di tempat kami dan juga suhu air di danau kami sangat cocok untuk tumbuh kembang tanaman cantik itu. Lalu karena saking cocoknya, tumbuhan cantik yang bernama ENCENG GONDOK atau KERLENG dalam bahasa kami inipun tumbuh dengan cepat dan tidak bisa dikendalikan. Sampai-sampai tumbuhan ini menutupi sebagian besar permukaan danau kami yang cantik, terutama di bagian pinggir. Bahkan di beberapa bagian sungai Wih ni Takengen, yang merupakan saluran keluarnya air dari danau kami tertutup tanaman ini sepenuhnya. Sehingga alih-alih menjadi lebih cantik, danau kami yang indah malah terlihat menjadi sangat kumuh dengan keberadaan tanaman ini.
Sampai hari ini, keberadaan tanaman KERLENG ini masih menjadi masalah yang tidak terpecahkan di daerah kami.
Kemudian entah siapa yang membawa tiba-tiba di danau kami sudah ada jenis ikan baru yang bernama ikan Mujair, ikan yang diberi nama sesuai dengan nama orang yang pertama kali mengembangkannya di Indonesia. Ikan ini beradaptasi dengan baik di danau kami dan segera menjadi salah satu ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Mungkin karena melihat keberhasilan ikan Mujair, Pemda Aceh Tengah yang bertanggung jawab atas pengelolaan danau kami mengembangkan ikan lain dari genus Tilapia yang sama dengan Mujair, tapi dari spesies yang berbeda. Ikan Nila, nama ikan baru yang memiliki nama latin Tilapia nilotica ini secara fisik sangat mirip dengan mujair, tapi bentuk badannya lebih lebar dan bisa tumbuh mencapai lima kali ukuran Mujair yang paling besar.
Ikan ini 'ditanam' di danau Lut Tawar sebagai hadiah bagi Aceh Tengah karena di daerah ini Golkar yang merupakan partai berkuasa saat itu berhasil menang dalam pemilu, padahal di wilayah Aceh yang lain PPP-lah yang berjaya.
Supaya ikan ini dapat tumbuh dengan baik di danau kami, bersamaan dengan 'ditanamnya' ikan ini, ganggang atau SEPOT dalam bahasa Gayo yang menjadi kesukaan ikan inipun juga ikut ditanam di danau kami.
Seperti halnya KERLENG, sepot jenis baru yang kami namai sepot GOLKAR sebagai rasa terima kasih kepada Partai politik yang membawa tanaman ini ke tempat kami inipun tumbuh subur dan segera menjadi tidak terkendali. Seluruh bagian danau dan sungai yang berair dangkal segera dipenuhi oleh tanaman ini. Akibatnya Pemda jadi pusing, nelayan dan masyarakat yang sehari-hari bergantung kepada danau Lut Tawar apalagi.
Untuk solusinya Pemda akhirnya memutuskan untuk melepaskan ikan jenis baru pemakan sepot bernama GRASSKAP (saya tidak yakin apakah tulisannya benar seperti ini). Ikan ini memang sangat rakus memakan sepot, tapi ukuran ikan ini konon sangat besar, sehingga kabarnya ikan ini bahkan sering menyerang perahu nelayan yang sedang mencari ikan di danau Lut Tawar. Menurut orang yang sudah pernah merasakan daging ikan ini rasa ikan ini sangat tidak enak. Sehingga ikan ini tidak memiliki nilai ekonomi, keberadaannya di danau kami malah mengganggu keseimbangan ekologi.
Selain urusan KERLENG, NILA, SEPOT dan GRASSKAP, danau kami juga mengalami beberapa perlakuan ceroboh, misalnya mengembangkan jenis ikan laga yang agresif. Ikan ini menyerang berbagai jenis ikan kecil lain yang hidup di habitat yang sama denganya sehingga populasi ikan-ikan itupun jadi berkurang.
Kemudian pemerintah juga pernah menanam belut di danau ini. Belut ini kemudian tumbuh memenuhi dan menjadi penguasa di areal persawahan yang ada di sekitar danau kami dan juga sawah-sawah yang berada di sepanjang aliran sungai Wih ni Takengen.
Keberadaan belut ini mengancam populasi ikan Lokot yang bentuknya mirip ikan gabus tapi hanya bisa mencapai ukuran maksimal sebesar jempol kaki yang sebelumnya merupakan 'penguasa' daerah ini. Sehingga sekarang ikan jenis ini sudah sangat jarang sekali ditemui di Takengen dan sekitarnya.
Belum jera dengan pengalaman sebelumnya, pemerintah kemudian 'menanam' jenis ikan kecil baru berwarna merah keemasan. Maksudnya mungkin supaya ikan kecil yang cantik ini bisa menggantikan ikan kecil lokal yang bernama BONTOK yang tidak memiliki nilai ekonomi yang penampilan fisiknya kurang cantik dibandingkan ikan jenis baru yang oleh orang Gayo kemudian dinamakan 'BONTOK ILANG' yang artinya 'BONTOK MERAH'. Cuma lagi-lagi ada hal kecil yang tidak diperhitungkan oleh pemerintah ketika 'menanam' BONTOK ILANG ini, yaitu karakter ikan ini yang suka menyerang ikan kecil bukan hanya menyerang BONTOK. Ikan ini juga menyerang jenis ikan yang memmiliki nilai ekonomi seperti KEPRAS, KAWAN, RELO dan bayi-bayi ikan mas, yang di Gayo kami sebut BAWAL. Akibatnya ikan-ikan inipun tak bisa berkembang biak dengan baik dan populasinya di danau kami berkurang drastis.
Begitulah kemiripan antara Australia dengan Lut Tawar yang sama-sama dijadikan ajang ujicoba ekologis tanpa melalui riset yang benar-benar matang yang mengakibatkan banyak masalah yang kemudian hari menjadi masalah serius yang tidak pernah bisa terselesaikan.
Bedanya, Australia sekarang sadar sepenuhnya kalau tidak boleh sembarangan bermain-main dengan ekologi. Sekarang Australia menerapkan peraturan sangat ketat yang melarang siapapun untuk membawa tumbuhan atau hewan apapun ke Australia. Bahkan membawa sebuah apel yang masih ada bijinyapun saat ini dilarang keras. Untuk mengekspor barang yang berbahan kayu juga sekarang ini sangat ketat peraturannya. Harus ada fumigasi dan berbagai persyaratan lainnya untuk memastikan tidak ada serangga hidup yang tertinggal di dalam kayu. Kontainer yang masuk dari berbagai negara juga mereka periksa dengan ketat untuk memastikan tidak ada bekicot yang tertinggal di sana.
Sementara pemerintah Aceh Tengah tentu sama sekali berbeda. Yang ada di pikiran Nasruddin bupatinya adalah proyek, proyek dan proyek untuk 'mengumpani' para anggota tim suksesnya. Lut Tawar dan segala permasalahannya adalah urusan nomor sekian.
Alih-alih belajar dari pengalaman. Kini di permukaan danau Lut Tawar dipenuhi oleh kolam terapung tempat memelihara ikan. Ini tidak salah, tapi dengan adanya berbagai kasus kematian massal ikan-ikan di beberapa waduk dan danau belakangan ini akibat menurunnya kadar oksigen di permukaan danau karena budidaya ikan kolam terapung yang tidak terkendali, seharusnya membuat Pemda yang bertanggung jawab mengelola danau ini menjadi lebih peduli dengan persoalan ini.
Untuk masalah lain yang berkaitan dengan danau seperti ikan depik, ikan endemik danau ini yang dieksploitasi berlebihan sampai tidak lagi memiliki kesempatan untuk membiakkan diri. Pemda dan DPRK yang memang peduli dengan rakyat dan wilayah kekuasaannya harusnya juga memikirkan untuk membuat PERDA yang dirancang untuk melindungi danau dan ikan khas Takengen ini.
Tapi Bupati bersama DPRK Aceh Tengah yang prestasi terbesarnya adalah menjual mesjid dan panti asuhan ini jelas sama sekali tidak peduli dengan fakta yang ada di depan mata yang mengancam kelestarian danau kebanggaan orang Gayo ini.
Oleh bupati penjual panti asuhan beserta mesjidnya ini (dengan persetujuan DPRK tentunya), bagian belakang gunung-gunung yang ada di sekeliling danau Lut Tawar dihantam dengan proyek pembangunan jalan. Maksudnya supaya daerah itu bisa dijadikan lahan perkebunan.
Nasruddin tampak jelas sama sekali tidak peduli dengan fakta bahwa volume air Danau Lut Tawar yang makin menyusut dari tahun ke tahun akan semakin menyusut akibat dari apa yang dia lakukan itu. Meskipun susutnya air danau ini belum pasti karena rusaknya ekologi di sekeliling danau, karena juga ada indikasi kalau surutnya volume danau ini akibat masalah geologis karena ada retakan di dasar danau. Tapi sampai hari ini belum ada publikasi resmi tentang hal itu.
Apapun itu masalahnya, Nasruddrin dan wakilnya Djauhar Ali yang masa jabatannya cuma 5 tahun tampak jelas sama sekali tidak peduli pada nasib danau kami. Sepertinya mereka berdua tidak merasa perlu mengurusi hal 'remeh-temeh' seperti ini karena berpikir, toh masa jabatannya cuma tinggal beberapa tahun lagi dan di Pilkada mendatang, bupati penjual mesjid dan lahan panti ini juga sudah pasti akan sulit terpilih kembali.
Di Indonesia pasca reformasi, otonomi daerah diberlakukan dimana-mana tanpa ada aturan dan undang-undang yang mengatur batas-batas kekuasaan kepala daerah.
Sehinggga seorang kepala daerah yang hanya berkuasa selama 5 tahun boleh melakukan apapun seenak perutnya di daerah tempatnya berkuasa.
Jadi sangatlah bisa dimaklumi kalau Nasruddin dan Djauhar memanfaatkan waktu berkuasa mereka yang tinggal tersisa sedikit ini sebaik-baiknya untuk memperkaya diri beserta kroni.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Aborigin
http://www.ucmp.berkeley.edu/mammal/marsupial/marsupial.html
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Thylacinus_cynocephalus.html
http://www.absoluteastronomy.com/topics/Rabbits_in_Australia
http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/09/australia-considers-mass-killings-camels.html
Lalu si bapak inipun membayangkan alangkah indahnya seandainya danau di kampung kami yang cantik ditumbuhi tanaman eksotis ini. Si bapak ini tidak sekedar bermimpi, diapun langsung membawa bibit tanaman itu ketika pulang ke kampung kami dan segera meletakkan tanaman ini di air danau kami yang cantik seraya berharap tanaman ini bisa tumbuh subur di danau kami dan membuat danau kami yang cantik menjadi semakin cantik.
Sebagian besar harapan bapak ini memang terwujud, tanaman cantik yang dia bawa dari Bogor tumbuh subur dan berkembang biak dengan cepat di danau kami, karena ternyata iklim di tempat kami dan juga suhu air di danau kami sangat cocok untuk tumbuh kembang tanaman cantik itu. Lalu karena saking cocoknya, tumbuhan cantik yang bernama ENCENG GONDOK atau KERLENG dalam bahasa kami inipun tumbuh dengan cepat dan tidak bisa dikendalikan. Sampai-sampai tumbuhan ini menutupi sebagian besar permukaan danau kami yang cantik, terutama di bagian pinggir. Bahkan di beberapa bagian sungai Wih ni Takengen, yang merupakan saluran keluarnya air dari danau kami tertutup tanaman ini sepenuhnya. Sehingga alih-alih menjadi lebih cantik, danau kami yang indah malah terlihat menjadi sangat kumuh dengan keberadaan tanaman ini.
Sampai hari ini, keberadaan tanaman KERLENG ini masih menjadi masalah yang tidak terpecahkan di daerah kami.
Kemudian entah siapa yang membawa tiba-tiba di danau kami sudah ada jenis ikan baru yang bernama ikan Mujair, ikan yang diberi nama sesuai dengan nama orang yang pertama kali mengembangkannya di Indonesia. Ikan ini beradaptasi dengan baik di danau kami dan segera menjadi salah satu ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Mungkin karena melihat keberhasilan ikan Mujair, Pemda Aceh Tengah yang bertanggung jawab atas pengelolaan danau kami mengembangkan ikan lain dari genus Tilapia yang sama dengan Mujair, tapi dari spesies yang berbeda. Ikan Nila, nama ikan baru yang memiliki nama latin Tilapia nilotica ini secara fisik sangat mirip dengan mujair, tapi bentuk badannya lebih lebar dan bisa tumbuh mencapai lima kali ukuran Mujair yang paling besar.
Ikan ini 'ditanam' di danau Lut Tawar sebagai hadiah bagi Aceh Tengah karena di daerah ini Golkar yang merupakan partai berkuasa saat itu berhasil menang dalam pemilu, padahal di wilayah Aceh yang lain PPP-lah yang berjaya.
Supaya ikan ini dapat tumbuh dengan baik di danau kami, bersamaan dengan 'ditanamnya' ikan ini, ganggang atau SEPOT dalam bahasa Gayo yang menjadi kesukaan ikan inipun juga ikut ditanam di danau kami.
Seperti halnya KERLENG, sepot jenis baru yang kami namai sepot GOLKAR sebagai rasa terima kasih kepada Partai politik yang membawa tanaman ini ke tempat kami inipun tumbuh subur dan segera menjadi tidak terkendali. Seluruh bagian danau dan sungai yang berair dangkal segera dipenuhi oleh tanaman ini. Akibatnya Pemda jadi pusing, nelayan dan masyarakat yang sehari-hari bergantung kepada danau Lut Tawar apalagi.
Untuk solusinya Pemda akhirnya memutuskan untuk melepaskan ikan jenis baru pemakan sepot bernama GRASSKAP (saya tidak yakin apakah tulisannya benar seperti ini). Ikan ini memang sangat rakus memakan sepot, tapi ukuran ikan ini konon sangat besar, sehingga kabarnya ikan ini bahkan sering menyerang perahu nelayan yang sedang mencari ikan di danau Lut Tawar. Menurut orang yang sudah pernah merasakan daging ikan ini rasa ikan ini sangat tidak enak. Sehingga ikan ini tidak memiliki nilai ekonomi, keberadaannya di danau kami malah mengganggu keseimbangan ekologi.
Selain urusan KERLENG, NILA, SEPOT dan GRASSKAP, danau kami juga mengalami beberapa perlakuan ceroboh, misalnya mengembangkan jenis ikan laga yang agresif. Ikan ini menyerang berbagai jenis ikan kecil lain yang hidup di habitat yang sama denganya sehingga populasi ikan-ikan itupun jadi berkurang.
Kemudian pemerintah juga pernah menanam belut di danau ini. Belut ini kemudian tumbuh memenuhi dan menjadi penguasa di areal persawahan yang ada di sekitar danau kami dan juga sawah-sawah yang berada di sepanjang aliran sungai Wih ni Takengen.
Keberadaan belut ini mengancam populasi ikan Lokot yang bentuknya mirip ikan gabus tapi hanya bisa mencapai ukuran maksimal sebesar jempol kaki yang sebelumnya merupakan 'penguasa' daerah ini. Sehingga sekarang ikan jenis ini sudah sangat jarang sekali ditemui di Takengen dan sekitarnya.
Belum jera dengan pengalaman sebelumnya, pemerintah kemudian 'menanam' jenis ikan kecil baru berwarna merah keemasan. Maksudnya mungkin supaya ikan kecil yang cantik ini bisa menggantikan ikan kecil lokal yang bernama BONTOK yang tidak memiliki nilai ekonomi yang penampilan fisiknya kurang cantik dibandingkan ikan jenis baru yang oleh orang Gayo kemudian dinamakan 'BONTOK ILANG' yang artinya 'BONTOK MERAH'. Cuma lagi-lagi ada hal kecil yang tidak diperhitungkan oleh pemerintah ketika 'menanam' BONTOK ILANG ini, yaitu karakter ikan ini yang suka menyerang ikan kecil bukan hanya menyerang BONTOK. Ikan ini juga menyerang jenis ikan yang memmiliki nilai ekonomi seperti KEPRAS, KAWAN, RELO dan bayi-bayi ikan mas, yang di Gayo kami sebut BAWAL. Akibatnya ikan-ikan inipun tak bisa berkembang biak dengan baik dan populasinya di danau kami berkurang drastis.
Begitulah kemiripan antara Australia dengan Lut Tawar yang sama-sama dijadikan ajang ujicoba ekologis tanpa melalui riset yang benar-benar matang yang mengakibatkan banyak masalah yang kemudian hari menjadi masalah serius yang tidak pernah bisa terselesaikan.
Bedanya, Australia sekarang sadar sepenuhnya kalau tidak boleh sembarangan bermain-main dengan ekologi. Sekarang Australia menerapkan peraturan sangat ketat yang melarang siapapun untuk membawa tumbuhan atau hewan apapun ke Australia. Bahkan membawa sebuah apel yang masih ada bijinyapun saat ini dilarang keras. Untuk mengekspor barang yang berbahan kayu juga sekarang ini sangat ketat peraturannya. Harus ada fumigasi dan berbagai persyaratan lainnya untuk memastikan tidak ada serangga hidup yang tertinggal di dalam kayu. Kontainer yang masuk dari berbagai negara juga mereka periksa dengan ketat untuk memastikan tidak ada bekicot yang tertinggal di sana.
Sementara pemerintah Aceh Tengah tentu sama sekali berbeda. Yang ada di pikiran Nasruddin bupatinya adalah proyek, proyek dan proyek untuk 'mengumpani' para anggota tim suksesnya. Lut Tawar dan segala permasalahannya adalah urusan nomor sekian.
Alih-alih belajar dari pengalaman. Kini di permukaan danau Lut Tawar dipenuhi oleh kolam terapung tempat memelihara ikan. Ini tidak salah, tapi dengan adanya berbagai kasus kematian massal ikan-ikan di beberapa waduk dan danau belakangan ini akibat menurunnya kadar oksigen di permukaan danau karena budidaya ikan kolam terapung yang tidak terkendali, seharusnya membuat Pemda yang bertanggung jawab mengelola danau ini menjadi lebih peduli dengan persoalan ini.
Untuk masalah lain yang berkaitan dengan danau seperti ikan depik, ikan endemik danau ini yang dieksploitasi berlebihan sampai tidak lagi memiliki kesempatan untuk membiakkan diri. Pemda dan DPRK yang memang peduli dengan rakyat dan wilayah kekuasaannya harusnya juga memikirkan untuk membuat PERDA yang dirancang untuk melindungi danau dan ikan khas Takengen ini.
Tapi Bupati bersama DPRK Aceh Tengah yang prestasi terbesarnya adalah menjual mesjid dan panti asuhan ini jelas sama sekali tidak peduli dengan fakta yang ada di depan mata yang mengancam kelestarian danau kebanggaan orang Gayo ini.
Oleh bupati penjual panti asuhan beserta mesjidnya ini (dengan persetujuan DPRK tentunya), bagian belakang gunung-gunung yang ada di sekeliling danau Lut Tawar dihantam dengan proyek pembangunan jalan. Maksudnya supaya daerah itu bisa dijadikan lahan perkebunan.
Nasruddin tampak jelas sama sekali tidak peduli dengan fakta bahwa volume air Danau Lut Tawar yang makin menyusut dari tahun ke tahun akan semakin menyusut akibat dari apa yang dia lakukan itu. Meskipun susutnya air danau ini belum pasti karena rusaknya ekologi di sekeliling danau, karena juga ada indikasi kalau surutnya volume danau ini akibat masalah geologis karena ada retakan di dasar danau. Tapi sampai hari ini belum ada publikasi resmi tentang hal itu.
Apapun itu masalahnya, Nasruddrin dan wakilnya Djauhar Ali yang masa jabatannya cuma 5 tahun tampak jelas sama sekali tidak peduli pada nasib danau kami. Sepertinya mereka berdua tidak merasa perlu mengurusi hal 'remeh-temeh' seperti ini karena berpikir, toh masa jabatannya cuma tinggal beberapa tahun lagi dan di Pilkada mendatang, bupati penjual mesjid dan lahan panti ini juga sudah pasti akan sulit terpilih kembali.
Di Indonesia pasca reformasi, otonomi daerah diberlakukan dimana-mana tanpa ada aturan dan undang-undang yang mengatur batas-batas kekuasaan kepala daerah.
Sehinggga seorang kepala daerah yang hanya berkuasa selama 5 tahun boleh melakukan apapun seenak perutnya di daerah tempatnya berkuasa.
Jadi sangatlah bisa dimaklumi kalau Nasruddin dan Djauhar memanfaatkan waktu berkuasa mereka yang tinggal tersisa sedikit ini sebaik-baiknya untuk memperkaya diri beserta kroni.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Aborigin
http://www.ucmp.berkeley.edu/mammal/marsupial/marsupial.html
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Thylacinus_cynocephalus.html
http://www.absoluteastronomy.com/topics/Rabbits_in_Australia
http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/09/australia-considers-mass-killings-camels.html
Miripnya Australia dan Lut Tawar Kami... Bag I
ustralia adalah nama sebuah benua yang terisolasi secara geografis sehingga juga terisolasi cukup lama dari mainstream peradaban dunia. Lama sekali benua itu tidak diketahui keberadaannya oleh mayoritas manusia yang mendiami planet bumi ini.
Karena terisolasi secara, di Australia pun berkembang aneka bentuk kehidupan hewan darat yang memiliki bentuk dan ciri yang sangat khas yang tidak bisa kita temui di tempat lain. Yang paling unik dari hewan-hewan yang hidup di Australia adalah jenis mamalia yang merupakan ordo marsupial dengan ciri khas memiliki kantong.
Meskipun terisolasi dari peradaban mainstream, bukan berarti Australia tidak dihuni manusia. Benua ini sudah sejak lama ditinggali oleh manusia ras negrito, yang memiliki ciri fisik yang sama dengan orang Papua yang juga hidup di pulau yang terletak di lempeng benua yang sama. Oleh orang Eropa yang datang belakangan, para penduduk asli Australia ini disebut sebagai Aborigin.
Dalam kurun waktu yang lama 250.000 hingga 1 juta orang Aborigin hidup di Benua itu. Level populasi ini diperkirakan pula telah cukup stabil selama ribuan tahun. Mereka hidup dengan tenang dan harmonis dengan alam sekitarnya karena suku ini memiliki kearifan lokal yang menghargai alam. Tapi semua berubah sejak Australia ditemukan oleh orang eropa, sejak saat itu orang Aborigin mulai tersingkirkan. Mereka pernah dianggap sebagai setengah manusia. Sehingga bahkan membesarkan anak yang mereka lahirkan sendiripun mereka tidak boleh.
Sejak kedatangan bangsa eropa pula yang dimulai pada tahun 1770 ketika James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambil alih daerah tersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya. Sejak saat itu wajah Australia berubah selamanya. Orang eropa yang eksploitatif membawa berbagai makhluk hidup berupa hewan dan tumbuhan asing ke benua ini. Akibatnya keseimbangan ekologi di benua inipun rusak. Hewan dan tumbuhan asing yang dibawa oleh orang-orang eropa tersebut beberapa diantaranya ternyata sangat cocok dengan iklim dan tanah Australia. Akibatnya hewan dan tumbuhan baru tersebut dengan cepat menyaingi tumbuhan dan hewan asli Australia, sehingga beberapa hewan asli Australia punah karena kalah bersaing.
Sebelum kedatangan orang-orang eropa, hewan yang berada di puncak tertinggi rantai makanan di benua Austrlia adalah hewan berkantong yang oleh orang eropa dinamai Tasmanian Tigers (Thylacinus cynocephalus), hewan berkantong dengan kulit berbulu loreng yang bentuk dan ukurannya seperti anjing. Selain itu ada juga Tasmanian Devil, makhluk yang bentuknya terbilang aneh bagi kita yang tidak terbiasa hidup di benua itu. Kedua hewan tersebut memiliki anatomi dan kemampuan berburu yang dirancang untuk mammpu bertahan hidup dengan berburu hewan-hewan yag ada di Australia.
Tapi kedatangan orang-orang Eropa ke benua ini juga disertai dengan hewan piaraan mereka, sejenis anjing yang disebut Dingo. Dingo ini memiliki kemampuan berburu jauh lebih baik ketimbang dua hewan pemakan daging asli Australia seperti yang saya sebut namanya di atas. Hewan ajaib Tasmanian Tigers (Thylacinus cynocephalus) dan Tasmanian Devils tadipun kehilangan dominasinya. Akibatnya Tasmanian Tigers yang merupakan hewan pemakan daging asli Australia itupun kalah bersaing, ditambah dengan mitos di eropa yang membenci serigala, hewan inipun diburu habis-habisan dan secara resmi dinyatakan punah pada tahun 1936.
Bukan hanya itu,orang eropa yang datang ke Australia membawa hewan pengerat bernama kelinci yang tiba di Australia pada abad ke-18. Ada dua versi tentang keberadaan hewan ini di Australia. Versi pertama mengatakan kalau kelinci sengaja dibawa oleh orang eropa, karena mereka mengharapkan kelinci bisa berkembang dengan baik di Australia supaya bisa dijadikan hewan buruan untuk memuaskan hobi berburu mereka. Versi lain mengatakan kelinci ada di Australia karena sepasang kelinci yang melompat dari kapal dan kemudian beranak pinak dengan cepat di Australia yang ternyata sangat cocok untuk tempat hidup kelinci. Lalu kelincipun dari yang rencananya akan dijadikan hewan buruan untuk bersenang-senang, dengan cepat berubah menjadi hama yang bertanggung jawab atas kehancuran ekologi Australia. Kelinci membuat punah beberapa spesies tanaman dan juga menyebabkan banyak erosi tanah. Sampai sekarang kelinci masih menjadi masalah besar di Australia.
Australia juga pernah bermasalah dengan kaktus yang awalnya ditanam dengan maksud mempercantik wajah gurun-gurun Australia. Mungkin yang menanamnya pertama kali adalah penggemar film koboi yang ingin menyulap wajah gurun Australia supaya mirip dengan wajah gurun-gurun di Arizona yang banyak ditampilkan dalam film-film western.
Sama seperti kelinci, kaktuspun ternyata sangat cocok dengan alam Australia. Sejak ditanam pertama kali kaktus tumbuh subur di Australia dan tumbuh di mana-mana, tidak hanya di gurun. Seperti kelinci kaktuspun dengan cepat mejadi masalah di Australia. Tanpa bisa dikendalikan kaktus tumbuh subur dimana-mana. Akhirnya untuk memusnahkan kaktus pemerintah Australia mengimpor serangga yang menjadi musuh alami kaktus. Masalah kaktus selesai, tapi kini muncul baru yaitu masalah serangga pemakan kaktus tadi yang kemudian menjadi hama untuk tanaman pertanian yang lain.
Entah untuk alasan apa Australia juga pernah mengimpor katak beracun. Sama seperti hewan impor sebelumnya, katak beracun inipun ternyata sangat cocok hidup di Australia dan seperti yang terjadi katak inipun segera menjadi masalah nasional. Untuk memberantasnya pemerintah Australia terpaksa menurunkan tentara nasional negara itu untuk berperang dengan si katak.
Masalah dengan Australia bukan hanya dengan hewan dan tumbuhan 'tidak berguna' itu. Australia juga menuai masalah ketika mencoba mengembang biakkan hewan yang sangat berharga di beberapa kebudayaan tapi tidak bagi orang Australia. Hewan itu semacam kerbau yang harga seekornya bisa seharga puluhan juta di Toraja, tapi tidak ada yang mau membelinya di Australia.
Begitu juga ketika Australia mencoba mengembangkan onta yang dibawa ke Australia pertama kali pada tahun 1840 untuk membantu penjelajahan di gurun-gurun benua itu. Tapi ternyata binatang yang menjadi simbol kekayaan di Maroko yang juga berharga puluhan juta ini sama sekali tidak diminati di Australia. Sehingga dua jenis hewan besar yang menjadi simbol kekayaan di tempat lain inipun di Australia karena tidak ada yang meminati berkembang biak dan beranak pinak sangat banyak dan menjadi hama. Sampai-sampai pemerintah Australia berencana untuk melakukan pembantaian massal terhadap Onta.
Di belahan dunia lain, di Takengen di kampung halaman saya, ada sebuah danau indah bernama Lut Tawar yang diperlakukan dan bernasib kurang lebih sama dengan Australia.
Sejak lama di danau cantik ini hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang hidup saling tergantung dan mendukung satu sama lain dalam sebuah ekosistem yang membentuk keseimbangan ekologis.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Bersambung ke Bag II
Karena terisolasi secara, di Australia pun berkembang aneka bentuk kehidupan hewan darat yang memiliki bentuk dan ciri yang sangat khas yang tidak bisa kita temui di tempat lain. Yang paling unik dari hewan-hewan yang hidup di Australia adalah jenis mamalia yang merupakan ordo marsupial dengan ciri khas memiliki kantong.
Meskipun terisolasi dari peradaban mainstream, bukan berarti Australia tidak dihuni manusia. Benua ini sudah sejak lama ditinggali oleh manusia ras negrito, yang memiliki ciri fisik yang sama dengan orang Papua yang juga hidup di pulau yang terletak di lempeng benua yang sama. Oleh orang Eropa yang datang belakangan, para penduduk asli Australia ini disebut sebagai Aborigin.
Dalam kurun waktu yang lama 250.000 hingga 1 juta orang Aborigin hidup di Benua itu. Level populasi ini diperkirakan pula telah cukup stabil selama ribuan tahun. Mereka hidup dengan tenang dan harmonis dengan alam sekitarnya karena suku ini memiliki kearifan lokal yang menghargai alam. Tapi semua berubah sejak Australia ditemukan oleh orang eropa, sejak saat itu orang Aborigin mulai tersingkirkan. Mereka pernah dianggap sebagai setengah manusia. Sehingga bahkan membesarkan anak yang mereka lahirkan sendiripun mereka tidak boleh.
Sejak kedatangan bangsa eropa pula yang dimulai pada tahun 1770 ketika James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambil alih daerah tersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya. Sejak saat itu wajah Australia berubah selamanya. Orang eropa yang eksploitatif membawa berbagai makhluk hidup berupa hewan dan tumbuhan asing ke benua ini. Akibatnya keseimbangan ekologi di benua inipun rusak. Hewan dan tumbuhan asing yang dibawa oleh orang-orang eropa tersebut beberapa diantaranya ternyata sangat cocok dengan iklim dan tanah Australia. Akibatnya hewan dan tumbuhan baru tersebut dengan cepat menyaingi tumbuhan dan hewan asli Australia, sehingga beberapa hewan asli Australia punah karena kalah bersaing.
Sebelum kedatangan orang-orang eropa, hewan yang berada di puncak tertinggi rantai makanan di benua Austrlia adalah hewan berkantong yang oleh orang eropa dinamai Tasmanian Tigers (Thylacinus cynocephalus), hewan berkantong dengan kulit berbulu loreng yang bentuk dan ukurannya seperti anjing. Selain itu ada juga Tasmanian Devil, makhluk yang bentuknya terbilang aneh bagi kita yang tidak terbiasa hidup di benua itu. Kedua hewan tersebut memiliki anatomi dan kemampuan berburu yang dirancang untuk mammpu bertahan hidup dengan berburu hewan-hewan yag ada di Australia.
Tapi kedatangan orang-orang Eropa ke benua ini juga disertai dengan hewan piaraan mereka, sejenis anjing yang disebut Dingo. Dingo ini memiliki kemampuan berburu jauh lebih baik ketimbang dua hewan pemakan daging asli Australia seperti yang saya sebut namanya di atas. Hewan ajaib Tasmanian Tigers (Thylacinus cynocephalus) dan Tasmanian Devils tadipun kehilangan dominasinya. Akibatnya Tasmanian Tigers yang merupakan hewan pemakan daging asli Australia itupun kalah bersaing, ditambah dengan mitos di eropa yang membenci serigala, hewan inipun diburu habis-habisan dan secara resmi dinyatakan punah pada tahun 1936.
Bukan hanya itu,orang eropa yang datang ke Australia membawa hewan pengerat bernama kelinci yang tiba di Australia pada abad ke-18. Ada dua versi tentang keberadaan hewan ini di Australia. Versi pertama mengatakan kalau kelinci sengaja dibawa oleh orang eropa, karena mereka mengharapkan kelinci bisa berkembang dengan baik di Australia supaya bisa dijadikan hewan buruan untuk memuaskan hobi berburu mereka. Versi lain mengatakan kelinci ada di Australia karena sepasang kelinci yang melompat dari kapal dan kemudian beranak pinak dengan cepat di Australia yang ternyata sangat cocok untuk tempat hidup kelinci. Lalu kelincipun dari yang rencananya akan dijadikan hewan buruan untuk bersenang-senang, dengan cepat berubah menjadi hama yang bertanggung jawab atas kehancuran ekologi Australia. Kelinci membuat punah beberapa spesies tanaman dan juga menyebabkan banyak erosi tanah. Sampai sekarang kelinci masih menjadi masalah besar di Australia.
Australia juga pernah bermasalah dengan kaktus yang awalnya ditanam dengan maksud mempercantik wajah gurun-gurun Australia. Mungkin yang menanamnya pertama kali adalah penggemar film koboi yang ingin menyulap wajah gurun Australia supaya mirip dengan wajah gurun-gurun di Arizona yang banyak ditampilkan dalam film-film western.
Sama seperti kelinci, kaktuspun ternyata sangat cocok dengan alam Australia. Sejak ditanam pertama kali kaktus tumbuh subur di Australia dan tumbuh di mana-mana, tidak hanya di gurun. Seperti kelinci kaktuspun dengan cepat mejadi masalah di Australia. Tanpa bisa dikendalikan kaktus tumbuh subur dimana-mana. Akhirnya untuk memusnahkan kaktus pemerintah Australia mengimpor serangga yang menjadi musuh alami kaktus. Masalah kaktus selesai, tapi kini muncul baru yaitu masalah serangga pemakan kaktus tadi yang kemudian menjadi hama untuk tanaman pertanian yang lain.
Entah untuk alasan apa Australia juga pernah mengimpor katak beracun. Sama seperti hewan impor sebelumnya, katak beracun inipun ternyata sangat cocok hidup di Australia dan seperti yang terjadi katak inipun segera menjadi masalah nasional. Untuk memberantasnya pemerintah Australia terpaksa menurunkan tentara nasional negara itu untuk berperang dengan si katak.
Masalah dengan Australia bukan hanya dengan hewan dan tumbuhan 'tidak berguna' itu. Australia juga menuai masalah ketika mencoba mengembang biakkan hewan yang sangat berharga di beberapa kebudayaan tapi tidak bagi orang Australia. Hewan itu semacam kerbau yang harga seekornya bisa seharga puluhan juta di Toraja, tapi tidak ada yang mau membelinya di Australia.
Begitu juga ketika Australia mencoba mengembangkan onta yang dibawa ke Australia pertama kali pada tahun 1840 untuk membantu penjelajahan di gurun-gurun benua itu. Tapi ternyata binatang yang menjadi simbol kekayaan di Maroko yang juga berharga puluhan juta ini sama sekali tidak diminati di Australia. Sehingga dua jenis hewan besar yang menjadi simbol kekayaan di tempat lain inipun di Australia karena tidak ada yang meminati berkembang biak dan beranak pinak sangat banyak dan menjadi hama. Sampai-sampai pemerintah Australia berencana untuk melakukan pembantaian massal terhadap Onta.
Di belahan dunia lain, di Takengen di kampung halaman saya, ada sebuah danau indah bernama Lut Tawar yang diperlakukan dan bernasib kurang lebih sama dengan Australia.
Sejak lama di danau cantik ini hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang hidup saling tergantung dan mendukung satu sama lain dalam sebuah ekosistem yang membentuk keseimbangan ekologis.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Bersambung ke Bag II
Rabu, 26 Agustus 2009
Anggota DPRK Dilantik dan Musim Jilat-Menjilatpun Dimulai
Akhirnya pelantikan anggota baru DPRK Aceh Tengah periode 2009-2014 jadi dilaksanakan. Setelah sebelumnya sempat tertunda akibat berbagai masalah yang menyertai Pemilu legislatif yang berlangsung beberapa waktu yang lalu.
Sejak reformasi bergulir ada banyak perubahan mencolok berkaitan dengan pembagian kekuasaan antara eksekutif dan legislatif. Dibanding zaman orde baru dulu,sekarang peran legislatif dalam menentukan berbagai kebijakan daerah menjadi lebih besar. Salah satu contohnya bisa kita lihat betapa besar peran DPRK Aceh tengah dalam menggoalkan proses penjualan lahan dan mesjid Panti Asuhan Budi Luhur kepada BPD Aceh beberapa waktu yang lalu.
Maksud awal dari pemberian peran yang lebih besar kepada legislatif dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan tidak lain adalah untuk meminimalisir penyelewengan yang dilakukan oleh eksekutif dalam menentukan arah atau melaksanakan sebuah kebijakan.
Tapi dengan mentalitas tikus pejabat dan politikus Indonesia yang rata-rata terkenal rakus sejak dahulu kala. Tentu saja yang dipikirkan oleh mayoritas pejabat maupun politikus yang terlibat dalam menyusun kebijakan untuk daerah bukanlah apa yang terbaik untuk daerah, tapi apa yang terbaik yang bisa dilakukan untuk pemerataan rezeki diantara eksekutif dan legislatif beserta kroni-kroninya.
Akhirnya maksud dan semangat awal dari perubahan inipun menjadi jauh panggang dari api. Rakyat yang menjadi pemberi mandat tertinggi, majikan yang menggaji para pejabat dan politikus itu malah dijadikan komoditi oleh para pesuruh dan pelayannya sendiri.
Begitulah dengan pola baru pembagian kekuasaan ini, posisi legislatif sekarang menjadi sangat penting dan strategis. Para pejabat tidak bisa menggoalkan ambisi mereka tanpa persetujuan legislatif. Maka belakangan kitapun menyaksikan fenomena baru dalam setiap pelantikan anggota legislatif baru. Fenomena baru itu adalah banyaknya pejabat yang berusaha mendekat dan menjilat anggota legislatif yang baru.
Seperti juga di daerah lain, fenomena yang sama juga terjadi di Aceh Tengah. Setelah resmi terpilih menjadi anggota DPRK, banyak wajah-wajah baru yang akan menduduki kursi empuk dewan terhormat itu yang mulai didekati dan dijilat-jilat oleh para pejabat di kabupaten ini. Yang paling aktif melakukan penjilatan itu biasanya adalah pejabat-pejabat karatan yang sudah lama malang melintang dalam percaturan birokrasi pemerintahan. Yang menjadi sasaran adalah para wajah baru di parlemen yang meskipun banyak mendapat dukungan tapi masih tergagap-gagap ketika tiba-tiba memperoleh kekuasaan.
Salah satu pejabat yang paling sibuk dan paling aktif dalam usaha menjilat calon anggota DPRK yang sudah resmi terpilih adalah Drs. H. Albar, mantan camat Bebesen yang sekarang menjabat kepala dinas Sosial Aceh Tengah, otak di balik penjualan lahan dan mesjid panti asuhan Budi Luhur. Yang sembunyi ketakutan ketika rombongan mahasiswa Gajah Putih yang dipimpin oleh Iwan Bahagia mendemo bupati memprpotes penjualan lahan dan mesjid Panti Asuhan itu.
Berkaitan dengan adanya pelantikan anggota DPRK Aceh Tengah kemarin, seorang pengurus Partai Aceh yang saya kenal cukup baik menceritakan kepada saya. Menjelang pelantikan kemarin, Albar yang bergelar haji dan mengaku yatim sejak kecil tapi menurut laporan sebuah LSM menilap uang jatah harian anak-anak yatim yang tinggal di Panti Asuhan Budi Luhur, mulai mendekati salah satu calon anggota terpilih yang mewakili Partai Aceh. Kepada si anggota DPRK terpilih ini Albar menawarkan hadiah satu setel jas untuk dipakai waktu pelantikan kemarin.
Seperti kata ungkapan terkenal dalam dunia politik "tidak ada musuh dan teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi" sehingga meskipun di masa konflik dulu Albar adalah salah satu orang yang sangat anti dengan orang-orang yang sekarang berada di Partai Aceh, tapi ketika saat ini arah angin berubah, Albar yang cerdas dan ber-IQ tinggi ini dengan cepat memahami, sosok mana yang harus dia dekati demi melanggengkan kepentingannya yang abadi.
Menurut pengamatan saya dan juga pengurus Partai Aceh yang saya ajak bicara ini. Sosok anggota DPRK ini dipilih Albar untuk dijilat karena Albar yang sosoknya mengingatkan kita pada HARMOKO, menteri penerangan legendaris di masa orde baru dulu ini, karena Albar tahu betapa strategisnya posisi Partai Aceh di pemerintahan Aceh saat ini. Sehingga bukan tidak mungkin saat pemilihan ketua DPRK nanti, sosok yang sedang berusaha dia jilat inilah yang akan terpilih menjadi ketua. Jadi kalau sosok ini berhasil dia jilat, segala kebijakan yang berdasarkan'ide' dan 'kreatifitas' Albar seperti 'kreatifitasnya' saat mengusulkan pada Bupati untuk menjual Panti Asuhan Budi Luhur dulu akan mudah dilaksanakan.
Untungnya, menurut pengurus Partai Aceh ini, si anggota terpilih yang pernah lama tinggal di Bali itu menolak menerima tawaran Albar karena khawatir ada konsekwensi yang harus dibayar dari 'budi baik' yang ditawarkan Albar.
Albar sendiri hanyalah satu dari banyak pejabat yang berperilaku serupa. Karenanya saya yakin, tawaran-tawaran seperti itu yang ditujukan kepada anggota DPRK terpilih bukan hanya datang dari Albar seorang saja.
Kemudian, anggota DPRK Aceh Tengah terpilih juga tidak semuanya bermental seperti anggota Partai Aceh di atas. Banyak anggota DPRK Aceh tengah terpilih yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif memang murni karena alasan 'bisnis' dan 'perut' semata. Sama sekali bukan demi kepentikan konstituen yang dia wakili.
Salah satu anggota DPRK Aceh Tengah terpilih yang dilantik kemarin yang banyak disorot oleh para mantan aktivis tahun 1998 dulu adalah anggota DPRK yang bernama Ikwanussufa yang mewakili Demokrat. Para mantan aktivis tahun 1998 dulu banyak yang mengatakan bahwa Ikhwanussufa yang saya kenal cukup baik ini sebagai sosok yang oportunis dan tidak punya pendirian, sangat mudah berpaling pada yang mampu memberinya peluang kekuasaan.
Saya sendiri tidak tahu mengenai pribadi Ikhawanussufa sejauh itu, tapi melihat rekam jejaknya sangat mungkin apa yang dikatakan para mantan aktivis ini memang begitu adanya. Saya sendiri masih mengingat apa yang dikatakan oleh Ikhwanussufa saat demo Referendum di Aceh Tengah dulu. Ketika itu Ikhwanussufa inilah yang memunculkan ide untuk menjadikan Tgk. Ilyas Leubee menjadi pahlawan nasional. Saya menduga dia akan menjadi politikus yang bergabung di Partai Aceh, Tapi sekarang dia justru berada di kubu Demokrat.
Jadi, maksud saya menulis ini bukanlah menyerang pribadi Drs. H. Albar atau Ikhwanussufa, mereka hanya jadi contoh kasus saja. Tapi maksud saya menuliskan ini adalah, dengan adanya pelantikan anggota DPRK yang baru lalu. Marilah kita sebagai masyarakat Aceh tengah dan yang berada jauh di luar Aceh Tengah tapi tetap memiliki kepedulian terhadap tanoh Gayo, tanoh warisan endatu kita untuk terus membuka mata lebar, mengawasi setiap gerak langkah dan mengkritisi setiap kebijakan yang akan ditelurkan oleh para anggota DPRK yang baru ini.
Karena perilaku para pejabat dan politikus yang mengutamakan untuk mengenyangkan perut sendiri ini bisa dikurangi hanya dengan cara menghidupkan elemen demokrasi keempat yaitu PERS.
Dan yang lebih menarik lagi, PERS sekarang bukan hanya media resmi yang untuk wilayah Aceh tengah juga sudah berhasil dikebiri oleh Pemda dengan cara memberi 'budi baik' kepada para wartawannya. Sekarang blog dan publikasi di milis dan facebookpun bisa mempengaruhi opini publik.
Malah khusus untuk Aceh Tengah, orang Gayo sekarang mengalami lompatan quantum dalam penerimaan informasi. Orang Gayo yang memiliki akses informasi sangat rendah karena tidak suka membaca koran, kini malah sangat familiar dengan internet.
Ini bisa terjadi karena orang Gayo memiliki karakter khas 'unung-unung'. Karakter itu membuat orang Gayo rata-rata tidak mau kalah dengan teman dan kolega soal kecanggihan Handphone yang mereka punya. Orang gayo bahkan yang tinggal di tengah kebun kopi di Weh Ni Konyel sanapun malu jika punya handphone yang tidak memilik fasilitas internet.
Begitulah, karakter orang Gayo yang sering dipandang rendah dan dianggap sebagai sikap negatif ini justru memberi efek positif. Dengan perilaku yang baru ini, informasi yang disampaikan melalui media internet justru lebih efektif dibanding koran. Kalau ingin menyampaikan ide kepada orang Gayo sekarang, jauh lebih efektif melalui internet ketimbang koran.
Jadi sebenarnya para pejabat dan politikus Aceh Tengah rugi membayar dan mengumpani para wartawan cetak untuk dijadikan corong, karena koran hanya memiliki oplag yang tidak lebih dari 200 eksemplar untuk seluruh Aceh Tengah dan Bener Meriah, pembacanyapun ya cuma kalangan pemda. politikus, kolega dan keluarga mereka sendiri. Sehingga untuk kasus ini, wartawannya kenyang, pejabat dan politikusnya nggak dapat apa-apa.
Seharusnya kalau Pemda mau 'mengumpani' wartawan, yang diumpani itu Khalisuddin dan Win Ruhdi Bathin yang disangka banyak orang adalah nama asli saya. Karena mereka berdua wartawan untuk media online, yang pengaruh tulisannya terhadap pembentukan opini masyarakat Aceh Tengah jauh lebih terasa (he he he...sori rinen)
Jadi karena menyampaikan ide melalui media internet kepada orang Gayo terbukti efektif, mulai hari ini marilah kita mulai untuk mengamati setiap gerak langkah para anggota DPRK terpilih yang baru dilantik ini dalam menjalankan tugasnya dan mari kita tuliskan setiap kejanggalan dan kebijakan 'ajaib' yang mereka rencanakan.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Sejak reformasi bergulir ada banyak perubahan mencolok berkaitan dengan pembagian kekuasaan antara eksekutif dan legislatif. Dibanding zaman orde baru dulu,sekarang peran legislatif dalam menentukan berbagai kebijakan daerah menjadi lebih besar. Salah satu contohnya bisa kita lihat betapa besar peran DPRK Aceh tengah dalam menggoalkan proses penjualan lahan dan mesjid Panti Asuhan Budi Luhur kepada BPD Aceh beberapa waktu yang lalu.
Maksud awal dari pemberian peran yang lebih besar kepada legislatif dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan tidak lain adalah untuk meminimalisir penyelewengan yang dilakukan oleh eksekutif dalam menentukan arah atau melaksanakan sebuah kebijakan.
Tapi dengan mentalitas tikus pejabat dan politikus Indonesia yang rata-rata terkenal rakus sejak dahulu kala. Tentu saja yang dipikirkan oleh mayoritas pejabat maupun politikus yang terlibat dalam menyusun kebijakan untuk daerah bukanlah apa yang terbaik untuk daerah, tapi apa yang terbaik yang bisa dilakukan untuk pemerataan rezeki diantara eksekutif dan legislatif beserta kroni-kroninya.
Akhirnya maksud dan semangat awal dari perubahan inipun menjadi jauh panggang dari api. Rakyat yang menjadi pemberi mandat tertinggi, majikan yang menggaji para pejabat dan politikus itu malah dijadikan komoditi oleh para pesuruh dan pelayannya sendiri.
Begitulah dengan pola baru pembagian kekuasaan ini, posisi legislatif sekarang menjadi sangat penting dan strategis. Para pejabat tidak bisa menggoalkan ambisi mereka tanpa persetujuan legislatif. Maka belakangan kitapun menyaksikan fenomena baru dalam setiap pelantikan anggota legislatif baru. Fenomena baru itu adalah banyaknya pejabat yang berusaha mendekat dan menjilat anggota legislatif yang baru.
Seperti juga di daerah lain, fenomena yang sama juga terjadi di Aceh Tengah. Setelah resmi terpilih menjadi anggota DPRK, banyak wajah-wajah baru yang akan menduduki kursi empuk dewan terhormat itu yang mulai didekati dan dijilat-jilat oleh para pejabat di kabupaten ini. Yang paling aktif melakukan penjilatan itu biasanya adalah pejabat-pejabat karatan yang sudah lama malang melintang dalam percaturan birokrasi pemerintahan. Yang menjadi sasaran adalah para wajah baru di parlemen yang meskipun banyak mendapat dukungan tapi masih tergagap-gagap ketika tiba-tiba memperoleh kekuasaan.
Salah satu pejabat yang paling sibuk dan paling aktif dalam usaha menjilat calon anggota DPRK yang sudah resmi terpilih adalah Drs. H. Albar, mantan camat Bebesen yang sekarang menjabat kepala dinas Sosial Aceh Tengah, otak di balik penjualan lahan dan mesjid panti asuhan Budi Luhur. Yang sembunyi ketakutan ketika rombongan mahasiswa Gajah Putih yang dipimpin oleh Iwan Bahagia mendemo bupati memprpotes penjualan lahan dan mesjid Panti Asuhan itu.
Berkaitan dengan adanya pelantikan anggota DPRK Aceh Tengah kemarin, seorang pengurus Partai Aceh yang saya kenal cukup baik menceritakan kepada saya. Menjelang pelantikan kemarin, Albar yang bergelar haji dan mengaku yatim sejak kecil tapi menurut laporan sebuah LSM menilap uang jatah harian anak-anak yatim yang tinggal di Panti Asuhan Budi Luhur, mulai mendekati salah satu calon anggota terpilih yang mewakili Partai Aceh. Kepada si anggota DPRK terpilih ini Albar menawarkan hadiah satu setel jas untuk dipakai waktu pelantikan kemarin.
Seperti kata ungkapan terkenal dalam dunia politik "tidak ada musuh dan teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi" sehingga meskipun di masa konflik dulu Albar adalah salah satu orang yang sangat anti dengan orang-orang yang sekarang berada di Partai Aceh, tapi ketika saat ini arah angin berubah, Albar yang cerdas dan ber-IQ tinggi ini dengan cepat memahami, sosok mana yang harus dia dekati demi melanggengkan kepentingannya yang abadi.
Menurut pengamatan saya dan juga pengurus Partai Aceh yang saya ajak bicara ini. Sosok anggota DPRK ini dipilih Albar untuk dijilat karena Albar yang sosoknya mengingatkan kita pada HARMOKO, menteri penerangan legendaris di masa orde baru dulu ini, karena Albar tahu betapa strategisnya posisi Partai Aceh di pemerintahan Aceh saat ini. Sehingga bukan tidak mungkin saat pemilihan ketua DPRK nanti, sosok yang sedang berusaha dia jilat inilah yang akan terpilih menjadi ketua. Jadi kalau sosok ini berhasil dia jilat, segala kebijakan yang berdasarkan'ide' dan 'kreatifitas' Albar seperti 'kreatifitasnya' saat mengusulkan pada Bupati untuk menjual Panti Asuhan Budi Luhur dulu akan mudah dilaksanakan.
Untungnya, menurut pengurus Partai Aceh ini, si anggota terpilih yang pernah lama tinggal di Bali itu menolak menerima tawaran Albar karena khawatir ada konsekwensi yang harus dibayar dari 'budi baik' yang ditawarkan Albar.
Albar sendiri hanyalah satu dari banyak pejabat yang berperilaku serupa. Karenanya saya yakin, tawaran-tawaran seperti itu yang ditujukan kepada anggota DPRK terpilih bukan hanya datang dari Albar seorang saja.
Kemudian, anggota DPRK Aceh Tengah terpilih juga tidak semuanya bermental seperti anggota Partai Aceh di atas. Banyak anggota DPRK Aceh tengah terpilih yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif memang murni karena alasan 'bisnis' dan 'perut' semata. Sama sekali bukan demi kepentikan konstituen yang dia wakili.
Salah satu anggota DPRK Aceh Tengah terpilih yang dilantik kemarin yang banyak disorot oleh para mantan aktivis tahun 1998 dulu adalah anggota DPRK yang bernama Ikwanussufa yang mewakili Demokrat. Para mantan aktivis tahun 1998 dulu banyak yang mengatakan bahwa Ikhwanussufa yang saya kenal cukup baik ini sebagai sosok yang oportunis dan tidak punya pendirian, sangat mudah berpaling pada yang mampu memberinya peluang kekuasaan.
Saya sendiri tidak tahu mengenai pribadi Ikhawanussufa sejauh itu, tapi melihat rekam jejaknya sangat mungkin apa yang dikatakan para mantan aktivis ini memang begitu adanya. Saya sendiri masih mengingat apa yang dikatakan oleh Ikhwanussufa saat demo Referendum di Aceh Tengah dulu. Ketika itu Ikhwanussufa inilah yang memunculkan ide untuk menjadikan Tgk. Ilyas Leubee menjadi pahlawan nasional. Saya menduga dia akan menjadi politikus yang bergabung di Partai Aceh, Tapi sekarang dia justru berada di kubu Demokrat.
Jadi, maksud saya menulis ini bukanlah menyerang pribadi Drs. H. Albar atau Ikhwanussufa, mereka hanya jadi contoh kasus saja. Tapi maksud saya menuliskan ini adalah, dengan adanya pelantikan anggota DPRK yang baru lalu. Marilah kita sebagai masyarakat Aceh tengah dan yang berada jauh di luar Aceh Tengah tapi tetap memiliki kepedulian terhadap tanoh Gayo, tanoh warisan endatu kita untuk terus membuka mata lebar, mengawasi setiap gerak langkah dan mengkritisi setiap kebijakan yang akan ditelurkan oleh para anggota DPRK yang baru ini.
Karena perilaku para pejabat dan politikus yang mengutamakan untuk mengenyangkan perut sendiri ini bisa dikurangi hanya dengan cara menghidupkan elemen demokrasi keempat yaitu PERS.
Dan yang lebih menarik lagi, PERS sekarang bukan hanya media resmi yang untuk wilayah Aceh tengah juga sudah berhasil dikebiri oleh Pemda dengan cara memberi 'budi baik' kepada para wartawannya. Sekarang blog dan publikasi di milis dan facebookpun bisa mempengaruhi opini publik.
Malah khusus untuk Aceh Tengah, orang Gayo sekarang mengalami lompatan quantum dalam penerimaan informasi. Orang Gayo yang memiliki akses informasi sangat rendah karena tidak suka membaca koran, kini malah sangat familiar dengan internet.
Ini bisa terjadi karena orang Gayo memiliki karakter khas 'unung-unung'. Karakter itu membuat orang Gayo rata-rata tidak mau kalah dengan teman dan kolega soal kecanggihan Handphone yang mereka punya. Orang gayo bahkan yang tinggal di tengah kebun kopi di Weh Ni Konyel sanapun malu jika punya handphone yang tidak memilik fasilitas internet.
Begitulah, karakter orang Gayo yang sering dipandang rendah dan dianggap sebagai sikap negatif ini justru memberi efek positif. Dengan perilaku yang baru ini, informasi yang disampaikan melalui media internet justru lebih efektif dibanding koran. Kalau ingin menyampaikan ide kepada orang Gayo sekarang, jauh lebih efektif melalui internet ketimbang koran.
Jadi sebenarnya para pejabat dan politikus Aceh Tengah rugi membayar dan mengumpani para wartawan cetak untuk dijadikan corong, karena koran hanya memiliki oplag yang tidak lebih dari 200 eksemplar untuk seluruh Aceh Tengah dan Bener Meriah, pembacanyapun ya cuma kalangan pemda. politikus, kolega dan keluarga mereka sendiri. Sehingga untuk kasus ini, wartawannya kenyang, pejabat dan politikusnya nggak dapat apa-apa.
Seharusnya kalau Pemda mau 'mengumpani' wartawan, yang diumpani itu Khalisuddin dan Win Ruhdi Bathin yang disangka banyak orang adalah nama asli saya. Karena mereka berdua wartawan untuk media online, yang pengaruh tulisannya terhadap pembentukan opini masyarakat Aceh Tengah jauh lebih terasa (he he he...sori rinen)
Jadi karena menyampaikan ide melalui media internet kepada orang Gayo terbukti efektif, mulai hari ini marilah kita mulai untuk mengamati setiap gerak langkah para anggota DPRK terpilih yang baru dilantik ini dalam menjalankan tugasnya dan mari kita tuliskan setiap kejanggalan dan kebijakan 'ajaib' yang mereka rencanakan.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Jumat, 21 Agustus 2009
Selamat Datang Ramadhan Bag II
Pada bagian kedua tulisan ini, aku kembali membahas istimewanya Ibadah puasa di bulan Ramadhan bagiku secara pribadi.
Keistimewaan lain yang membuatku selalu menantikan datangnya bulan ini adalah karena dalam ibadah ini aku melihat orang-orang yang diwajibkan melakukannya seolah dipaksa untuk mengenal dan mengendalikan diri tanpa mengandalkan masukan dan penilaian dari luar. Orang-orang yang diwajibkan melakukannya 'dipaksa' untuk bertanggung jawab mengurusi diri sendiri, mengurusi kebaikan dan keburukan untuk diri sendiri, bukan orang lain.
Masih menurutku secara pribadi, Ramadhan menggiring orang untuk berkontemplasi supaya bisa mengenal sesuatu yang tidak terbatas yang ada di dalam diri. Ini sangat penting, karena hanya dengan mengenal sesuatu yang tidak terbatas di dalam diri inilah sesuatu yang tidak terbatas yang ada di luar diri bisa dikenal dan didekati. Ketika yang tidak terbatas di dalam diri mulai mengenal dan mendekati yang tidak terbatas di luar diri, saat itulah SPIRITUALITAS muncul.
Dan itulah hakikat beragama menurutku, baru setelah itu Amar Ma'ruf Nahi Munkar mengikuti.
Tapi yang kulihat belakangan ini yang terjadi justru sebaliknya. Aku banyak sekali mendengar dan menyaksikan orang beragama yang berkoar-koar dan bersemangat sekali membela kebenaran. Seolah-olah kebenaran itu hanya memiliki satu tafsir dan TUNGGAL.
Padahal faktanya kebenaran itu sebenarnya SANGAT REFERENSIAL.‘BENAR’ dan ‘ SALAH’ , "BAIK' dan 'BURUK' adalah kata-kata yang maknanya sangat bergantung pada REFERENSI APA YANG DIPAKAI untuk menilai.
Atas dasar Amar ma'ruf dan Nahi Mungkar dengan berpedoman hasil penafsiran tunggal atas hadits dan ayat-ayat suci. Banyak orang yang dengan semena-mena memaksakan 'Kebenaran' dan 'Kebaikan'. Tidak peduli meskipun pemaksaan itu harus menggunakan cara kekerasan yang kadang terlihat sangat tidak berprikemanusiaan. Sementara SPIRITUALITAS ditinggalkan jauh di belakang.
Aku banyak bertemu dengan ulama dan ahli ibadah yang sangat santun dan rendah hati. Yang meskipun sudah tinggi ilmunya dan dalam kajiannya mereka merasa tidak akan pernah sanggup mencapai kebenaran tertinggi. Terhadap hasil pemikirannya, mereka bersikap seperti empat Imam mahzab penafsir Qur'an yang hasil kerja mereka tetap dipakai dan dihormati sampai hari ini. Terhadap penafsiran dari berbagai ayat suci mereka berkata, "ini hasil penafsiran saya, maksud yang sebenarnya hanya diketahui oleh yang menurunkan kalam itu sendiri". Mencap orang lain yang berseberangan sebagai orang sesat dan berbagai julukan buruk lainnya bukanlah kebiasaan para ahli ibadah dan ulama jenis ini.
Tapi lebih banyak lagi adalah ahli ibadah jenis pertama seperti yang kusebutkan di tulisan sebelumnya http://winwannur.blog.com/2009/08/19/selamat-datang-ramadhan-bulan-yang-suci-dan-istimewa/ Mungkin dari segi populasi jumlah mereka ini masih bisa diperdebatkan, komposisinya belum tentu lebih besar ketimpang ahli ibadah dan ulama rendah hati seperti yang kukatakan. Tapi ahli ibadah dan ulama jenis ini biasanya lebih menarik perhatian publik karena mereka selalu lantang berbicara untuk membela 'kebenaran'. Bisa jadi karena itulah ahli ibadah dan ulama jenis ini banyak sekali aku temui, dengan berbagai macam jenis dan variasi.
Kalau ahli ibadah dan ulama jenis pertama dalam tulisan ini jarang sekali bisa muncul ke permukaan, karena mereka tidak bisa dijilat dan dimanfaatkan supaya mau membuat fatwa yang menguntungkan orang-orang yang memiliki kekuasaan, baik politik maupun uang. Sehingga mereka tetap jadi teungku kampung yang hanya dikenal orang-orang di lingkungan tinggalnya. Ulama dan ahli ibadah jenis kedua dalam tulisan ini banyak dikenal karena mereka banyak berkoar dan dengan mudah memberi cap sesat dan mengkafirkan orang, mereka juga biasanya dekat dengan kekuasaan. Baik kekuasaan resmi maupun kekuasaan yang suka menggunakan kekerasan ala Mafia atau Geng Preman.
Suatu waktu, di dunia maya aku bertemu dengan seorang ahli ibadah, orang Gayo yang menjabat ketua Dewan Mesjid yang berdomisili di Medan. Yang rupanya karena saking seringnya beribadah, saking banyaknya dalil agama yang dia pelajari, saking banyaknya Kalamullah yang dia baca dan dia kaji ditambah jabatan yang dia sandang membuatnya merasa diri begitu tinggi. Sehingga dia merasa seolah dirinya sudah mampu berpikir persis sama dengan si pembuat kalam sendiri. Dengan berbagai kajiannya tentang ilmu Allah, orang Gayo yang berdomisili di Medan ini merasa sama sekali tidak perlu lagi mengetahui dan memahami apa yang dia sebut sebagai 'Ilmu manusia', karena menurutnya ilmu jenis ini adalah ilmu yang rendah sekali tingkatannya. Menurut manusia satu ini, segala permasalahan yang ada di dunia ini tidak perlu lagi dikaji secara detail penyebab dan solusinya melalui berbagai ilmu manusia yang terbatas entah itu namanya Psikologi, Antropologi, Sosiologi dan sejenisnya karena menurut orang Gayo yang berdomisili di Medan ini. Menurutnya semua permasalahan dunia itu dengan mudah bisa diatasi dengan menerapkan 'Ilmu Allah' yang telah benar-benar dia kuasai.
Tentu saja omong besarnya ini dengan mudah bisa dipatahkan, karena seperti kata pepatah melayu Tong Kosong Nyaring Bunyinya, faktanya memang demikian, Tong yang berbunyi nyaring biasanya memang tidak berisi.
Ketika pernyataannya itu kubalas, dia mendapat dukungan dari seseorang yang sepandangan yang mengaku bernama 'Sang Pemikir'yang hanya berani membalas via Japri bukan di media tempat tanggapan itu kubuat. Dalam tanggapannya 'Sang pemikir' ini jauh lebih parah lagi. Untuk membantah tulisanku dia menyamakan cara 'berpikir' Tuhan dengan cara berpikir 'Sang Pemikir' ini sendiri. "Kalau saya saja makhluk yang terbatas ini marah dikatakan tidak ada satupun orang yang mengerti dengan persis pikiran saya, apalagi Tuhan yang maha sempurna", begitu katanya. Lucu membaca tanggapan seperti ini karena jika logika seperti ini dilanjutkan dengan bahasan Ayam Goreng misalnya, maka logika ini akan menjadi "Kalau saya makhluk yang terbatas ini saja suka Ayam Goreng KFC, apalagi Tuhan yang maha sempurna". Akan menjadi lebih kacau lagi jika yang melanjutkannya Logika 'Sang Pemikir' ini adalah kaum atheis yang sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, mereka akan dengan mudah bisa membuat berbagai contoh yang sangat kurang ajar.
Begitulah fakta yang biasa aku temui, setiap orang yang merasa tahu luasnya dunia secara keseluruhan dan mengerti ilmu Allah yang tidak terbatas, selalu adalah orang-orang yang terjebak dalam kecilnya tempurung kepala mereka sendiri.
Jika pemikiran seperti ini hanya sebatas pemikiran yang juga diadu dengan pemikiran, tidak akan ada masalah yang timbul. Pemikiran seperti ini hanya akan menjadi cerita lucu-lucuan dan bahan untuk tertawaan. Tapi pemikiran seperti ini menjadi sangat berbahaya ketika bersentuhan dengan KEKUASAAN.
Kekuasaan menjadi sangat berbahaya ketika diberikan kepada orang yang terlalu banyak mengaji dan menganggap kebenaran adalah kebenaran yang dia pahami sebatasnya luasnya tempurung kepalanya sendiri ini. Kekuasan menjadi berbahaya karena mereka merasa memahami kebenaran sejati yang diturunkan Tuhan. Sehingga dengan kekuasaan yang dia punya, orang-orang semacam ini jadi merasa berhak menggantikan peran Tuhan sebagai penentu hidup mati seorang manusia. Dengan kekuasaan yang mereka punya, mereka bisa seenaknya menentukan nasib bahkan hidup mati seorang makhluk, yang kebetulan memahami kebenaran dengan sudut pandang berbeda yang tidak mampu ditampung oleh kecilnya tempurung kepala mereka. Karena merasa melaksanakan perintah Tuhan, merekapun tidak akan sedikitpun merasa bersalah, jika di kemudian hari apa yang telah mereka lakukan itu malah menjadi bencana.
Dalam politik, ketika orang-orang semacam ini berkumpul mendirikan partai. Orang Islam yang berbeda pandangan politik dengan mereka, yang berada di luar partai mereka, mereka buat seolah berada di luar Islam. Mulut orang-orang sejenis ini dengan gampangnya mencap orang yang berseberangan itu sebagai antek Yahudi, Setan neoliberal, kafir calon penghuni neraka dan berbagai cap buruk lainnya.
Di taraf yang sangat ekstrim, merekapun tidak segan-segan mengeluarkan Fatwa Mati bahkan dengan tepat bisa memastikan bahwa orang yang mati bunuh diri akan masuk Sorga, menerima fasilitas yang ribuan kali lebih wah dibandingkan fasilitas bintang lima dan merekapun abadi di sana SELAMANYA.
Dalam pemerintahan, ketika kekuasaan yang diberikan kepada orang yang merasa mengerti ini, mereka jadi merasa paling tahu baik dan buruk bagi kehidupan pribadi manusia lain.
Contohnya, di Banda Aceh aku pernah bertemu seorang petugas WH yang menjalankan tugas sebagai aparat yang diberi kuasa untuk menerapkan syari'at islam hasil kajian para ahli agama dengan kapasitas tempurung kepala yang terbatas itu.
Pada malam hari sebelum aku temui siang hari esoknya, sang aparat WH yang kutemui ini menangkap sepasang manusia berlainan jenis yang bukan muhrim yang kebetulan sedang sial, menginap di rumah yang sama meskipun tidak satu ruangan. Sesuai prosedur standar pelaksanaan Syariat Islam, 'pasangan' inipun ditangkap an dibawa ke markas WH, setelah sebelumnya yang laki-laki dipukuli sampai babak belur oleh orang sekampung tentunya.
Dan inilah yang kusaksikan di markas WH, 'pasangan' ini dipaksa menikah, aparat WH tidak peduli bahwa si laki-laki sudah beristri "nggak apa-apa, dalam Islam seorang laki-laki boleh memiliki empat istri" begitu argumen si aparat. Si aparat WH juga tidak bergeming mendengar si perempuan menangis sesengukan minta tidak dinikahkan karena orang tuanya yang sakit jantung bisa meninggal mendengar berita seperti ini. Bagi sang aparat yang sedang menjalankan Syariat Islam ini, tidak peduli rumah tangga si laki-laki yang sudah memiliki 4 anak ini akan hancur, tidak peduli bapak si perempuan ini akan meninggal. Yang terpenting baginya adalah SYARIAT harus ditegakkan, bahkan demi tegaknya syariat, menikahpun tidak perlu di KUA, 'pasangan' itu dianjurkan untuk menikah cukup di kadi liar saja.
Di kampung halamanku sendiri, seorang Teungku, seorang ulama yang dihormati (dan pernah pula sangat kuhormati). Oleh orang-orang yang mengaguminya (dan yang punya kepentingan dengannya) dia diberi jabatan penting sebagai ketua MPU.
Sebagai seorang ulama, dia begitu fasih membaca surat Al Ma'un, dia paham dengan baik makna harfiah setiap kalimah dalam tiap ayat dalam surah ini, dia memahami sejarah turunnya ayat-ayat itu. Tapi dengan kekuasaan yang dia punya, demi kepentingan segelintir orang yang dekat dengannya, dengan penuh percaya diri perintah dalam ayat-ayat itu dia kesampingkan. Dengan gagah berani dalam berita yang dikutip sebuah harian besar, dia mengatakan bahwa Rumah Anak Yatim dan Rumah Allah boleh dijual untuk diubah menjadi sebuah kantor isntitusi bisnis yang menjalankan usahanya atas dasar RIBA asal itu dilakukan demi kemaslahatan UMAT.
Umat?...umat mana yang dia maksud?...siapa yang dimaksud sebagai umat oleh ulama besar di kampungku ini?.
Bagi ulama besar ini, anak-anak Yatim yang terzalimi oleh fatwanya bukanlah termasuk kategori Umat ini, umat baginya jelas pula tidak termasuk orang-orang yang kehilangan tempat beribadah karena keluarnya fatwanya ini.
Yang masuk kategori umat bagi ulama besar ini adalah penguasa setempat, para team sukses-nya dan para pejabat pemda yang mendapat kemaslahatan dari keuntungan pengerjaan proyek pembangunan gedung baru yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan oleh panti asuhan ini. Dan Umat dalam kategori ulama besar ini, tentu saja adalah anaknya yang menjabat sebagai WAKIL BUPATI.
Begitulah jadinya ketika 'kebenaran' sudah dimonopoli, oleh orang-orang yang karena banyak beribadah lalu merasa diri sebagai yang paling alim dan paling mengerti.
Selanjutnya bagi anda yang membaca tulisan ini dan tidak suka pada isinya, entah itu tidak suka karena harga diri anda atau keluarga anda yang merasa saya usik atau sekedar tidak suka karena punya sentimen pada diri saya pribadi. Silahkan membantah, mengkritik bahkan mencaci.
Anda tidak usah khawatir melakukan itu semua, karena apa yang saya tulis ini hanya sebuah pemikiran dari seorang manusia fana yang sama seperti anda adalah makhluk yang banyak berbuat salah dan memiliki kemampuan hanya sampai batas tertentu saja. Semua yang saya tulis ini sifatnya juga fana dan terbatas, bukan sebuah kebenaran tertinggi. Sehingga membantah apa yang saya tulis ini tidak akan membuat anda berdosa dan masuk neraka, karena apa yang saya tulis ini bukan kutipan Kalamullah, ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Suci.
Selamat datang Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan suci.
Selamat menjalankan ibadah puasa dan mari kita mulai mengurusi kebaikan untuk diri kita sendiri.
Wassalam
Win Wan Nur
Keistimewaan lain yang membuatku selalu menantikan datangnya bulan ini adalah karena dalam ibadah ini aku melihat orang-orang yang diwajibkan melakukannya seolah dipaksa untuk mengenal dan mengendalikan diri tanpa mengandalkan masukan dan penilaian dari luar. Orang-orang yang diwajibkan melakukannya 'dipaksa' untuk bertanggung jawab mengurusi diri sendiri, mengurusi kebaikan dan keburukan untuk diri sendiri, bukan orang lain.
Masih menurutku secara pribadi, Ramadhan menggiring orang untuk berkontemplasi supaya bisa mengenal sesuatu yang tidak terbatas yang ada di dalam diri. Ini sangat penting, karena hanya dengan mengenal sesuatu yang tidak terbatas di dalam diri inilah sesuatu yang tidak terbatas yang ada di luar diri bisa dikenal dan didekati. Ketika yang tidak terbatas di dalam diri mulai mengenal dan mendekati yang tidak terbatas di luar diri, saat itulah SPIRITUALITAS muncul.
Dan itulah hakikat beragama menurutku, baru setelah itu Amar Ma'ruf Nahi Munkar mengikuti.
Tapi yang kulihat belakangan ini yang terjadi justru sebaliknya. Aku banyak sekali mendengar dan menyaksikan orang beragama yang berkoar-koar dan bersemangat sekali membela kebenaran. Seolah-olah kebenaran itu hanya memiliki satu tafsir dan TUNGGAL.
Padahal faktanya kebenaran itu sebenarnya SANGAT REFERENSIAL.‘BENAR’ dan ‘ SALAH’ , "BAIK' dan 'BURUK' adalah kata-kata yang maknanya sangat bergantung pada REFERENSI APA YANG DIPAKAI untuk menilai.
Atas dasar Amar ma'ruf dan Nahi Mungkar dengan berpedoman hasil penafsiran tunggal atas hadits dan ayat-ayat suci. Banyak orang yang dengan semena-mena memaksakan 'Kebenaran' dan 'Kebaikan'. Tidak peduli meskipun pemaksaan itu harus menggunakan cara kekerasan yang kadang terlihat sangat tidak berprikemanusiaan. Sementara SPIRITUALITAS ditinggalkan jauh di belakang.
Aku banyak bertemu dengan ulama dan ahli ibadah yang sangat santun dan rendah hati. Yang meskipun sudah tinggi ilmunya dan dalam kajiannya mereka merasa tidak akan pernah sanggup mencapai kebenaran tertinggi. Terhadap hasil pemikirannya, mereka bersikap seperti empat Imam mahzab penafsir Qur'an yang hasil kerja mereka tetap dipakai dan dihormati sampai hari ini. Terhadap penafsiran dari berbagai ayat suci mereka berkata, "ini hasil penafsiran saya, maksud yang sebenarnya hanya diketahui oleh yang menurunkan kalam itu sendiri". Mencap orang lain yang berseberangan sebagai orang sesat dan berbagai julukan buruk lainnya bukanlah kebiasaan para ahli ibadah dan ulama jenis ini.
Tapi lebih banyak lagi adalah ahli ibadah jenis pertama seperti yang kusebutkan di tulisan sebelumnya http://winwannur.blog.com/2009/08/19/selamat-datang-ramadhan-bulan-yang-suci-dan-istimewa/ Mungkin dari segi populasi jumlah mereka ini masih bisa diperdebatkan, komposisinya belum tentu lebih besar ketimpang ahli ibadah dan ulama rendah hati seperti yang kukatakan. Tapi ahli ibadah dan ulama jenis ini biasanya lebih menarik perhatian publik karena mereka selalu lantang berbicara untuk membela 'kebenaran'. Bisa jadi karena itulah ahli ibadah dan ulama jenis ini banyak sekali aku temui, dengan berbagai macam jenis dan variasi.
Kalau ahli ibadah dan ulama jenis pertama dalam tulisan ini jarang sekali bisa muncul ke permukaan, karena mereka tidak bisa dijilat dan dimanfaatkan supaya mau membuat fatwa yang menguntungkan orang-orang yang memiliki kekuasaan, baik politik maupun uang. Sehingga mereka tetap jadi teungku kampung yang hanya dikenal orang-orang di lingkungan tinggalnya. Ulama dan ahli ibadah jenis kedua dalam tulisan ini banyak dikenal karena mereka banyak berkoar dan dengan mudah memberi cap sesat dan mengkafirkan orang, mereka juga biasanya dekat dengan kekuasaan. Baik kekuasaan resmi maupun kekuasaan yang suka menggunakan kekerasan ala Mafia atau Geng Preman.
Suatu waktu, di dunia maya aku bertemu dengan seorang ahli ibadah, orang Gayo yang menjabat ketua Dewan Mesjid yang berdomisili di Medan. Yang rupanya karena saking seringnya beribadah, saking banyaknya dalil agama yang dia pelajari, saking banyaknya Kalamullah yang dia baca dan dia kaji ditambah jabatan yang dia sandang membuatnya merasa diri begitu tinggi. Sehingga dia merasa seolah dirinya sudah mampu berpikir persis sama dengan si pembuat kalam sendiri. Dengan berbagai kajiannya tentang ilmu Allah, orang Gayo yang berdomisili di Medan ini merasa sama sekali tidak perlu lagi mengetahui dan memahami apa yang dia sebut sebagai 'Ilmu manusia', karena menurutnya ilmu jenis ini adalah ilmu yang rendah sekali tingkatannya. Menurut manusia satu ini, segala permasalahan yang ada di dunia ini tidak perlu lagi dikaji secara detail penyebab dan solusinya melalui berbagai ilmu manusia yang terbatas entah itu namanya Psikologi, Antropologi, Sosiologi dan sejenisnya karena menurut orang Gayo yang berdomisili di Medan ini. Menurutnya semua permasalahan dunia itu dengan mudah bisa diatasi dengan menerapkan 'Ilmu Allah' yang telah benar-benar dia kuasai.
Tentu saja omong besarnya ini dengan mudah bisa dipatahkan, karena seperti kata pepatah melayu Tong Kosong Nyaring Bunyinya, faktanya memang demikian, Tong yang berbunyi nyaring biasanya memang tidak berisi.
Ketika pernyataannya itu kubalas, dia mendapat dukungan dari seseorang yang sepandangan yang mengaku bernama 'Sang Pemikir'yang hanya berani membalas via Japri bukan di media tempat tanggapan itu kubuat. Dalam tanggapannya 'Sang pemikir' ini jauh lebih parah lagi. Untuk membantah tulisanku dia menyamakan cara 'berpikir' Tuhan dengan cara berpikir 'Sang Pemikir' ini sendiri. "Kalau saya saja makhluk yang terbatas ini marah dikatakan tidak ada satupun orang yang mengerti dengan persis pikiran saya, apalagi Tuhan yang maha sempurna", begitu katanya. Lucu membaca tanggapan seperti ini karena jika logika seperti ini dilanjutkan dengan bahasan Ayam Goreng misalnya, maka logika ini akan menjadi "Kalau saya makhluk yang terbatas ini saja suka Ayam Goreng KFC, apalagi Tuhan yang maha sempurna". Akan menjadi lebih kacau lagi jika yang melanjutkannya Logika 'Sang Pemikir' ini adalah kaum atheis yang sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, mereka akan dengan mudah bisa membuat berbagai contoh yang sangat kurang ajar.
Begitulah fakta yang biasa aku temui, setiap orang yang merasa tahu luasnya dunia secara keseluruhan dan mengerti ilmu Allah yang tidak terbatas, selalu adalah orang-orang yang terjebak dalam kecilnya tempurung kepala mereka sendiri.
Jika pemikiran seperti ini hanya sebatas pemikiran yang juga diadu dengan pemikiran, tidak akan ada masalah yang timbul. Pemikiran seperti ini hanya akan menjadi cerita lucu-lucuan dan bahan untuk tertawaan. Tapi pemikiran seperti ini menjadi sangat berbahaya ketika bersentuhan dengan KEKUASAAN.
Kekuasaan menjadi sangat berbahaya ketika diberikan kepada orang yang terlalu banyak mengaji dan menganggap kebenaran adalah kebenaran yang dia pahami sebatasnya luasnya tempurung kepalanya sendiri ini. Kekuasan menjadi berbahaya karena mereka merasa memahami kebenaran sejati yang diturunkan Tuhan. Sehingga dengan kekuasaan yang dia punya, orang-orang semacam ini jadi merasa berhak menggantikan peran Tuhan sebagai penentu hidup mati seorang manusia. Dengan kekuasaan yang mereka punya, mereka bisa seenaknya menentukan nasib bahkan hidup mati seorang makhluk, yang kebetulan memahami kebenaran dengan sudut pandang berbeda yang tidak mampu ditampung oleh kecilnya tempurung kepala mereka. Karena merasa melaksanakan perintah Tuhan, merekapun tidak akan sedikitpun merasa bersalah, jika di kemudian hari apa yang telah mereka lakukan itu malah menjadi bencana.
Dalam politik, ketika orang-orang semacam ini berkumpul mendirikan partai. Orang Islam yang berbeda pandangan politik dengan mereka, yang berada di luar partai mereka, mereka buat seolah berada di luar Islam. Mulut orang-orang sejenis ini dengan gampangnya mencap orang yang berseberangan itu sebagai antek Yahudi, Setan neoliberal, kafir calon penghuni neraka dan berbagai cap buruk lainnya.
Di taraf yang sangat ekstrim, merekapun tidak segan-segan mengeluarkan Fatwa Mati bahkan dengan tepat bisa memastikan bahwa orang yang mati bunuh diri akan masuk Sorga, menerima fasilitas yang ribuan kali lebih wah dibandingkan fasilitas bintang lima dan merekapun abadi di sana SELAMANYA.
Dalam pemerintahan, ketika kekuasaan yang diberikan kepada orang yang merasa mengerti ini, mereka jadi merasa paling tahu baik dan buruk bagi kehidupan pribadi manusia lain.
Contohnya, di Banda Aceh aku pernah bertemu seorang petugas WH yang menjalankan tugas sebagai aparat yang diberi kuasa untuk menerapkan syari'at islam hasil kajian para ahli agama dengan kapasitas tempurung kepala yang terbatas itu.
Pada malam hari sebelum aku temui siang hari esoknya, sang aparat WH yang kutemui ini menangkap sepasang manusia berlainan jenis yang bukan muhrim yang kebetulan sedang sial, menginap di rumah yang sama meskipun tidak satu ruangan. Sesuai prosedur standar pelaksanaan Syariat Islam, 'pasangan' inipun ditangkap an dibawa ke markas WH, setelah sebelumnya yang laki-laki dipukuli sampai babak belur oleh orang sekampung tentunya.
Dan inilah yang kusaksikan di markas WH, 'pasangan' ini dipaksa menikah, aparat WH tidak peduli bahwa si laki-laki sudah beristri "nggak apa-apa, dalam Islam seorang laki-laki boleh memiliki empat istri" begitu argumen si aparat. Si aparat WH juga tidak bergeming mendengar si perempuan menangis sesengukan minta tidak dinikahkan karena orang tuanya yang sakit jantung bisa meninggal mendengar berita seperti ini. Bagi sang aparat yang sedang menjalankan Syariat Islam ini, tidak peduli rumah tangga si laki-laki yang sudah memiliki 4 anak ini akan hancur, tidak peduli bapak si perempuan ini akan meninggal. Yang terpenting baginya adalah SYARIAT harus ditegakkan, bahkan demi tegaknya syariat, menikahpun tidak perlu di KUA, 'pasangan' itu dianjurkan untuk menikah cukup di kadi liar saja.
Di kampung halamanku sendiri, seorang Teungku, seorang ulama yang dihormati (dan pernah pula sangat kuhormati). Oleh orang-orang yang mengaguminya (dan yang punya kepentingan dengannya) dia diberi jabatan penting sebagai ketua MPU.
Sebagai seorang ulama, dia begitu fasih membaca surat Al Ma'un, dia paham dengan baik makna harfiah setiap kalimah dalam tiap ayat dalam surah ini, dia memahami sejarah turunnya ayat-ayat itu. Tapi dengan kekuasaan yang dia punya, demi kepentingan segelintir orang yang dekat dengannya, dengan penuh percaya diri perintah dalam ayat-ayat itu dia kesampingkan. Dengan gagah berani dalam berita yang dikutip sebuah harian besar, dia mengatakan bahwa Rumah Anak Yatim dan Rumah Allah boleh dijual untuk diubah menjadi sebuah kantor isntitusi bisnis yang menjalankan usahanya atas dasar RIBA asal itu dilakukan demi kemaslahatan UMAT.
Umat?...umat mana yang dia maksud?...siapa yang dimaksud sebagai umat oleh ulama besar di kampungku ini?.
Bagi ulama besar ini, anak-anak Yatim yang terzalimi oleh fatwanya bukanlah termasuk kategori Umat ini, umat baginya jelas pula tidak termasuk orang-orang yang kehilangan tempat beribadah karena keluarnya fatwanya ini.
Yang masuk kategori umat bagi ulama besar ini adalah penguasa setempat, para team sukses-nya dan para pejabat pemda yang mendapat kemaslahatan dari keuntungan pengerjaan proyek pembangunan gedung baru yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan oleh panti asuhan ini. Dan Umat dalam kategori ulama besar ini, tentu saja adalah anaknya yang menjabat sebagai WAKIL BUPATI.
Begitulah jadinya ketika 'kebenaran' sudah dimonopoli, oleh orang-orang yang karena banyak beribadah lalu merasa diri sebagai yang paling alim dan paling mengerti.
Selanjutnya bagi anda yang membaca tulisan ini dan tidak suka pada isinya, entah itu tidak suka karena harga diri anda atau keluarga anda yang merasa saya usik atau sekedar tidak suka karena punya sentimen pada diri saya pribadi. Silahkan membantah, mengkritik bahkan mencaci.
Anda tidak usah khawatir melakukan itu semua, karena apa yang saya tulis ini hanya sebuah pemikiran dari seorang manusia fana yang sama seperti anda adalah makhluk yang banyak berbuat salah dan memiliki kemampuan hanya sampai batas tertentu saja. Semua yang saya tulis ini sifatnya juga fana dan terbatas, bukan sebuah kebenaran tertinggi. Sehingga membantah apa yang saya tulis ini tidak akan membuat anda berdosa dan masuk neraka, karena apa yang saya tulis ini bukan kutipan Kalamullah, ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Suci.
Selamat datang Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan suci.
Selamat menjalankan ibadah puasa dan mari kita mulai mengurusi kebaikan untuk diri kita sendiri.
Wassalam
Win Wan Nur
Langganan:
Postingan (Atom)
