Melihat perkembangan kasus Cicak Vs Buaya belakangan ini, muncul beberapa komentar yang secara malu-malu menentang arus besar opini yang beredar di negeri ini. Komentar-komentar seperti itu biasanya muncul dari aparat negara atau orang-orang yang dirugikan dengan keberadaan KPK.
Contohnya seperti sikap yang diperlihatkan oleh Menkumham di depan sidang MK. Saat itu dia mempertanyakan tentang relevansi pemutaran rekaman dugaan rekayasa kasus Bibit-Chandra. Menkumham yang mewakili pemerintah jelas tidak senang kalau aib itu dibuka, tapi karena tidak berani melawan arus. Menkumham memulai ungkapan keberatannya dengan memuji-muji langkah MK.
Selanjutnya kejadian seperti ini bisa kita lihat saat Kapolri dengar pendapat di depan Komisi III. Yang kita saksikan adalah pertunjukan cium pipi ditambah adegan ala sinetron dari Susno Duadji yang direspon dengan tepuk tangan membahana. Lalu dengar pendapat yang luar biasa ini diakhiri dengan adegan foto bersama sambil tertawa-tawa. Melihat kejadian seperti itu tentu banyak pihak jadi emosi, apa maunya DPR ini?.
Untuk memahami fenomena ini kita tidak memerlukan pejelasan dari seorang ahli, baik itu sosiologi, antropologi dan psikologi. Dengan logika paling awam pun kita bisa memahami kalau yang menjadi dasar dari terjadinya fenomena ini adalah DUIT alias FULUS.
Sebagaimana kita ketahui bersama, demokrasi di negara ini adalah demokrasi berbiaya tinggi. Biaya untuk bisa duduk di kursi dewan yang terhormat itu tidak murah, apalagi gratis. Ada banyak pengorbanan yang dilakukan oleh anggota dewan sebelum mereka bisa dipastikan duduk di sana. Ada pengorbanan waktu, tenaga, perasaan sampai air mata. Dan yang terpenting dari semuanya adalah pengorbanan BIAYA. Untuk bisa mendapatkan satu kursi di dewan, biaya yang dibutuhkan bukan dalam kisaran, satu, dua atau puluhan juta. Kalau kita mau mengaudit dengan seksama jelas kita akan menemukan fakta bahwa satu kursi dewan yang terhormat itu minimal berharga di kisaran ratusan juta.
Lalu, melihat latar belakang orang-orang yang duduk di kursi dewan terhormat itu, adalah sangat tidak logis dan naif sekali kalau kita berpikir mereka menghamburkan duit sebanyak itu hanya demi sebuah kesempatan suci mengabdi pada negara dan bangsa. Penjelasan paling logis dari dihamburkannya ratusan juta sampai miliaran rupiah uang demi mendapatkan satu buah kursi di dewan yang hanya diduduki selama 5 tahun itu adalah perhitungan ekonomi.
Tidak sedikit dari mereka yang duduk di sana itu berlatar belakang pengusaha juga pengacara yang berpenghasilan milyaran rupiah per tahunnya. Sebelum duduk di sana tentu saja mereka terlebih dahulu berhitung untung ruginya, mana lebih untung menginvestasikan dana di properti, saham blue chips, tambak udang atau di kursi dewan. Karena mereka menganggap duduk sebagai anggota dewan jauh lebih menguntungkanlah makanya mereka mau menginvestasikan dana untuk kampanye.
Memang tentu saja tidak semua seperti itu, ada juga sosok bersih seperti dulu yang ditunjukkan oleh Kwik Kian Gie misalnya...tapi ada berapa sih orang semacam itu di negeri ini?
Lalu pertanyaan selanjutnya, untuk bisa balik modal dan mendapatkan keuntungan dari investasi yang telah ditabur itu bagaimana?. Gaji yang diberikan negara jelas tidak akan bisa menutupi. Maka solusinya adalah mengharap perhatian dan kebaikan hati cukong-cukong sejenis Anggodo dan kawan-kawan. Dalam relasi dengan orang-orang semacam ini, hubungan yang dibangun tentu saja harus bersifat SIMBIOSIS MUTUALISME. Bagi para 'Investor' senayan orang-orang seperti ini adalah teman yang sudah seharusnya dilindungi, bukannya malah dimusuhi.
Bagaimana dengan perangkap jeratan hukum, ah mudah saja. Aparat hukum di negara ini sudah sejak lama terkenal mudah dibeli, meskipun tidak pernah ada bukti (ya bagaimana mau ada bukti kalau yang berhak dan memiliki kuasa untuk membuktikannya adalah aparat hukum itu sendiri?).
Masalahnya, sekarang di negeri ini ada KPK. Institusi ini bukanlah sebuah institusi hukum yang normal. KPK ada untuk mengantisipasi ketidaknormalan penegakan hukum di negeri ini. Meskipun beberapa waktu yang lalu banyak sorotan yang diarahkan ke lembaga ini karena mereka disinyalir melakukan tebang pilih dalam menangani kasus Korupsi. Tapi dibanding lembaga-lembaga lain, lembaga abnormal ini relatif lebih tidak bisa dibeli.
Keadaan ini tentu menimbulkan rasa tidak nyaman bagi 'investor-investor' yang duduk di Senayan. Karena itulah ketika dalam kasus Cicak melawan Buaya, jelas investor senayan berpihak pada buaya yang bisa diajak bekerja sama dalam mengamankan investasi mereka. Adalah mustahil mengharapkan para investor senayan berpihak pada Cicak yang sangat berpotensi besar akan merusak prospek investasi mereka.
Ketika sudah menjadi sorotan dan masyarakat yang memilih mereka emosi dengan perilaku yang mereka tunjukkan. Seperti biasa, sebagaimana lazimnya terjadi pada orang-orang yang mencari nafkah dengan mengumbar kata. Merekapun berkilah dengan berbagai argumen mengutip berbagai referensi dan disampaikan dengan kalimat-kalimat yang kadang susah dimenngerti yang intinya menggambarkan mereka (para investor senayan) adalah patriot sejati yang semata bertindak demi kepentingan rakyat dan bangsanya.
Argumen standar mereka adalah mereka melakukan itu karena mereka cinta pada penegakan hukum di negeri ini, mereka tidak ingin Polri dan Jaksa terus dihujat dan dicaci, dikerdilkan dan dilemahkan. Mereka tidak ingin KPK jadi terlalu berkuasa.
Lucu mendengar komentar ini, entah sebagai kambing conegk, keledai dungu atau binatang bodoh apa mereka mengasumsikan status hampir seperempat milyar rakyat negeri ini. Sehingga mereka berpikir hampir sepertempat milyar manusia ini begitu mudahnya dikibuli
Pada kenyataannya rakyat negeri ini tidak pernah lupa kalau KPK itu ada karena sistem hukum di negara ini tidak berdaya melawan korupsi.
Polri hebat melawan teroris, oleh Polri teroris berbahaya sekelas Dr. Azhari dan Noordin M. Top di buat terkapar meregang nyawa, mengutip ucapan Sarlito dalam sebuah tulisan di rubrik OPINI Kompas "menghadapi teroris Polri adalah Polisi terbaik di dunia". Tapi menghadapi koruptor model Super Anggodo dan teman-temannya, Polri tampak seperti orang tua ringkih...Impoten dan sama sekali tidak berdaya.
Kalau kejaksaan sih memang lebih dikenal reputasinya sebagai teman baik koruptor, jadi jujur saja sulit bagi saya untuk menunjukkan prestasi institusi ini.
Apa yang terjadi ini adalah situasi yang sangat tidak normal dalam penyelenggaraan sebuah negara. Ketidak normalan inilah yang menjadi alasan kelahiran KPK. Lalu KPK akan dimatikan lagi kalau kedua institusi diatas sembuh dari impotensi ketika berhadapan dengan korupsi.
Jadi anggota dewan yang terhormat kalau anda kebetulan membaca tulisan ini camkanlah...yang saya tulis di bawah ini.
Seandainya Institusi Polisi dan Jaksa berjalan normal...KPK tidak akan dibutuhkan.
Seandainya Polisi dan Jaksa tidak bisa dibeli....KPK tidak akan pernah ada.
Seandainya Polisi dan Jaksa...dengan sadar cepat membersihkan diri, tentu sekarang keberadaan KPK tidak dibutuhkan lagi.
Jadi tidak seperti prasangka busuk anda yang menyangka kalau gerakan moral dan kemarahan yang ditunjukkan rakyat Indonesia saat menentang penahanan Bibit dan Chandra adalah karena rakyat Indonesia terlalu memuja KPK dan membenci Jaksa dan Polisi.
Anggota dewan yang terhormat, yang terjadi justru adalah sebaliknya.
Sebenarnya rakyat Indonesia marah adalah karena rakyat Indonesia CINTA kepada kejaksaan dan Polisi. Orang-rang di Indonesia ini emosi karena ingin memiliki aparat hukum yang bersih dan berpihak kepada rakyat. Rakyat Indonesia marah karena rakyat Indonesia muak dan benci melihat keberadaan KPK yang terlalu lama eksis dalam sistem hukum negara ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Kamis, 12 November 2009
Sabtu, 07 November 2009
Indonesia Raya Ternyata Tidak Butuh Instrumen Hukum Yang Rumit
Pada kamis malam yang lalu, dalam pertemuan dengan Komisi III DPR yang terhormat yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi, Susno Duadji, Kabareskrim POLRI Non aktif bersumpah bahwa dia sama sekali tidak menerima dana 10 Milyar terkait kasus Bank Century. Menanggapi hal itu anggota Komisi III DPR manggut-manggut bahkan sebagian dengan antusias bertepuk tangan mengamini.
Sebagai penonton, kita harus memahami bahwa apa yang ditunjukkan oleh Komisi III DPR itu adalah komunikasi politik kepada konstituen pemilih mereka. Yang kita lihat malam itu adalah penegasan dari Komisi III DPR RI kepada konstituen pemilih mereka bahwa Susno Duadji sama sekali bersih dari segala tuduhan keterlibatannya dalam kasus Bank Century. Buktinya (Dalam komunikasi yang dibangun oleh anggota komisi II DPR RI tersebut) Susno Duadji berani BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci.
Belum cukup sampai di situ, untuk lebih memperkat unsur dramaturgi (sisi terpenting dalam menilai keseluruhan sebuah cerita) kejadian ini dilanjutkan dengan adegan mengharukan ketika Susno Duadji dengan berurai air mata membuat klarifikasi. Bagi Susno Duadji sendiri, dengan aksinya malam itu dia ingin menunjukkan kepada seluruh rakyat negeri ini bahwa dia sedang diperlakukan tidak adil, dia dizalimi.
Inilah yang dimaksudkan oleh Komisi III DPR RI , Kapolri dan juga Susno Duadji malam itu. Pernyataan tegas Komisi III DPR RI malam itu baik secara eksplisit maupun langsung, di hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan berbagai pernyataan yang lebih menguatkan maksud yang ingin mereka sampaikan tersebut.
Kepada konstituen pemilihnya malam itu Komisi III DPR RI menegaskan bahwa ketika Susno sudah berani bersumpah menyebut nama Tuhan yang suci apalagi sampai meneteskan air mata segala. Maka segala dugaan keterlibatan Susno dalam kasus Bank Century otomatis jadi tidak terbukti. Jadi rakyat negeri ini yang suaranya mereka wakili jangan pernah lagi menuduh Susno apalagi kepada institusi Polri bahwa dalam kasus Bibit-Chandra yang menghebohkan itu institusi ini dan terutama Susno Duadji sendiri merekayasa perkara karena dendam pribadi atau karena sesuatu hal yang ditutupi. TUHAN adalah entitas tertinggi, kalau entitas tertinggi itupun sudah tidak dipercaya lagi apalagi yang bisa kita meyakinan kita. Itulah sebenarnya inti dari semua yang ditampilkan Komisi III DPR RI malam itu.
Sebagai warga negara yang baik yang telah dengan sukarela mempercayakan suara kita kepada mereka sesuai dengan sila ke-empat Pancasila yang menjadi dasar negara ini. Kita tidak seharusnya berburuk sangka pada wakil-wakil kita yang duduk di Komisi III DPR RI yang terhormat itu.
Sebaliknya, sebagai warga negara yang baik, kita harus memahami apa yang terjadi malam itu sebagai pelajaran dan tuntunan dari Komisi III yang terhormat itu. Apa yang mereka tunjukkan malam itu harus kita tiru dalam keseharian kita.
Karena itu supaya tidak salah langkah dalam kehidupan bernegara, marilah kita telaah secara lebih mendalam apa yang terjadi malam itu.
Kalau kita telaah kejadian malam itu secara lebih mendalam, maka kita akan memahami bahwa dalam acara yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi. Melalui dukungan mereka kepada Susno Duadji, Komisi III DPR RI yang terhormat sebenarnya sedang memberitahukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa negara yang bernama Indonesia ini sebenarnya sama sekali tidak butuh Polisi, Jaksa, Pengacara, Pengadilan dan semua instrumen hukum yang rumit berbiaya mahal.
Untuk membuktikan seseorang tersangkut perkara atau tidak. Yang bersangkutan cukup disuruh BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci di depan anggota dewan terhormat. Sebagaimana yang telah dilakukan Susno Duadji.
Penempatan sosok Susno Duadji sendiri dalam komunikasi politik yang dibangun oleh Komisi III DPR RI yang terhormat ini juga tidak boleh kita pahami sebagai sebuah kebetulan.
Susno Duadji adalah seorang KABARESKRIM, seorang yang sangat ahli dalam berbagai teknik untuk membuktikan seseorang tersangkut perkara atau tidak. Dia bukan orang sembarangan. Tapi malam itu, Susno Duadji yang sangat ahli ini di depan kamera televisi yang disaksikan jutaan pasang mata mendeklarasikan dengan jelas bahwa semua keahlian yang dia punya untuk menjerat seseorang menjadi tersangka, tersangkut atau tidaknya seseorang dalam sebuah perkara adalah sebuah KEAHLIAN yang sama sekali TIDAK BERGUNA. Karena seperti yang telah ditunjukkan oleh Susno Duadji sendiri, untuk membuktikan seseorang terlibat dalam suatu perkara atau tidak, ada sebuah teknik sederhana yang berbiaya sangat murah dan tidak bisa diragukan keakuratannya yaitu meminta yang bersangkutan BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci.
Dengan teknik yang sederhana dan berbiaya murah seperti yang dipraktekkan oleh sang ahli sendiri seperti yang dimaksudkan oleh Komisi III DPR RI di atas, otomatis Polisi, Jaksa, Pengadilan dan semua instrumen hukum yang rumit sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan di negara ini.
Kesimpulannya, selama ini trilyunan uang yang dialokasikan untuk sistem peradilan sebenarnya MUBAZIR. Karena uang itu dikeluarkan untuk sesuatu yang sama sekali TIDAK DIBUTUHKAN.
Dan untuk menghormati wibawa Komisi III DPR yang terhormat marilah kita rakyat negeri ini membangun kekuatan mendukung Komisi III DPR RI untuk mengeluarkan undang-undang penghapusan POLRI, KEJAKSAAAN dan segala sistem hukum yang sama sekali tidak dibutuhkan dari negara. Uang yang selama ini digunakan untuk membiayai hal yang tidak perlu itu cukup dibelikan KITAB SUCI, sisanya bisa dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih mendesak. entah itu pendidikan, kesehatan, pembiayaan kewiraswastaan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang untuk menjalankannya dibutuhkan lebih dari sekedar kesaksian dengan menyebut nama TUHAN yang SUCI.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.wnwannur.blogspot.com
Sebagai penonton, kita harus memahami bahwa apa yang ditunjukkan oleh Komisi III DPR itu adalah komunikasi politik kepada konstituen pemilih mereka. Yang kita lihat malam itu adalah penegasan dari Komisi III DPR RI kepada konstituen pemilih mereka bahwa Susno Duadji sama sekali bersih dari segala tuduhan keterlibatannya dalam kasus Bank Century. Buktinya (Dalam komunikasi yang dibangun oleh anggota komisi II DPR RI tersebut) Susno Duadji berani BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci.
Belum cukup sampai di situ, untuk lebih memperkat unsur dramaturgi (sisi terpenting dalam menilai keseluruhan sebuah cerita) kejadian ini dilanjutkan dengan adegan mengharukan ketika Susno Duadji dengan berurai air mata membuat klarifikasi. Bagi Susno Duadji sendiri, dengan aksinya malam itu dia ingin menunjukkan kepada seluruh rakyat negeri ini bahwa dia sedang diperlakukan tidak adil, dia dizalimi.
Inilah yang dimaksudkan oleh Komisi III DPR RI , Kapolri dan juga Susno Duadji malam itu. Pernyataan tegas Komisi III DPR RI malam itu baik secara eksplisit maupun langsung, di hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan berbagai pernyataan yang lebih menguatkan maksud yang ingin mereka sampaikan tersebut.
Kepada konstituen pemilihnya malam itu Komisi III DPR RI menegaskan bahwa ketika Susno sudah berani bersumpah menyebut nama Tuhan yang suci apalagi sampai meneteskan air mata segala. Maka segala dugaan keterlibatan Susno dalam kasus Bank Century otomatis jadi tidak terbukti. Jadi rakyat negeri ini yang suaranya mereka wakili jangan pernah lagi menuduh Susno apalagi kepada institusi Polri bahwa dalam kasus Bibit-Chandra yang menghebohkan itu institusi ini dan terutama Susno Duadji sendiri merekayasa perkara karena dendam pribadi atau karena sesuatu hal yang ditutupi. TUHAN adalah entitas tertinggi, kalau entitas tertinggi itupun sudah tidak dipercaya lagi apalagi yang bisa kita meyakinan kita. Itulah sebenarnya inti dari semua yang ditampilkan Komisi III DPR RI malam itu.
Sebagai warga negara yang baik yang telah dengan sukarela mempercayakan suara kita kepada mereka sesuai dengan sila ke-empat Pancasila yang menjadi dasar negara ini. Kita tidak seharusnya berburuk sangka pada wakil-wakil kita yang duduk di Komisi III DPR RI yang terhormat itu.
Sebaliknya, sebagai warga negara yang baik, kita harus memahami apa yang terjadi malam itu sebagai pelajaran dan tuntunan dari Komisi III yang terhormat itu. Apa yang mereka tunjukkan malam itu harus kita tiru dalam keseharian kita.
Karena itu supaya tidak salah langkah dalam kehidupan bernegara, marilah kita telaah secara lebih mendalam apa yang terjadi malam itu.
Kalau kita telaah kejadian malam itu secara lebih mendalam, maka kita akan memahami bahwa dalam acara yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi. Melalui dukungan mereka kepada Susno Duadji, Komisi III DPR RI yang terhormat sebenarnya sedang memberitahukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa negara yang bernama Indonesia ini sebenarnya sama sekali tidak butuh Polisi, Jaksa, Pengacara, Pengadilan dan semua instrumen hukum yang rumit berbiaya mahal.
Untuk membuktikan seseorang tersangkut perkara atau tidak. Yang bersangkutan cukup disuruh BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci di depan anggota dewan terhormat. Sebagaimana yang telah dilakukan Susno Duadji.
Penempatan sosok Susno Duadji sendiri dalam komunikasi politik yang dibangun oleh Komisi III DPR RI yang terhormat ini juga tidak boleh kita pahami sebagai sebuah kebetulan.
Susno Duadji adalah seorang KABARESKRIM, seorang yang sangat ahli dalam berbagai teknik untuk membuktikan seseorang tersangkut perkara atau tidak. Dia bukan orang sembarangan. Tapi malam itu, Susno Duadji yang sangat ahli ini di depan kamera televisi yang disaksikan jutaan pasang mata mendeklarasikan dengan jelas bahwa semua keahlian yang dia punya untuk menjerat seseorang menjadi tersangka, tersangkut atau tidaknya seseorang dalam sebuah perkara adalah sebuah KEAHLIAN yang sama sekali TIDAK BERGUNA. Karena seperti yang telah ditunjukkan oleh Susno Duadji sendiri, untuk membuktikan seseorang terlibat dalam suatu perkara atau tidak, ada sebuah teknik sederhana yang berbiaya sangat murah dan tidak bisa diragukan keakuratannya yaitu meminta yang bersangkutan BERSUMPAH atas nama TUHAN yang suci.
Dengan teknik yang sederhana dan berbiaya murah seperti yang dipraktekkan oleh sang ahli sendiri seperti yang dimaksudkan oleh Komisi III DPR RI di atas, otomatis Polisi, Jaksa, Pengadilan dan semua instrumen hukum yang rumit sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan di negara ini.
Kesimpulannya, selama ini trilyunan uang yang dialokasikan untuk sistem peradilan sebenarnya MUBAZIR. Karena uang itu dikeluarkan untuk sesuatu yang sama sekali TIDAK DIBUTUHKAN.
Dan untuk menghormati wibawa Komisi III DPR yang terhormat marilah kita rakyat negeri ini membangun kekuatan mendukung Komisi III DPR RI untuk mengeluarkan undang-undang penghapusan POLRI, KEJAKSAAAN dan segala sistem hukum yang sama sekali tidak dibutuhkan dari negara. Uang yang selama ini digunakan untuk membiayai hal yang tidak perlu itu cukup dibelikan KITAB SUCI, sisanya bisa dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih mendesak. entah itu pendidikan, kesehatan, pembiayaan kewiraswastaan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang untuk menjalankannya dibutuhkan lebih dari sekedar kesaksian dengan menyebut nama TUHAN yang SUCI.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.wnwannur.blogspot.com
Minggu, 01 November 2009
Anak Haram Bernama KPK dan Kampus-Kampus Yang Melulu Berisi BANCI
Korupsi yang dimulai dari kejadian kecil-kecilan di akhir tahun 1960-an, pada masa itu Abdul Haris nasution mulai mengkawatirkan perkembangan itu. Seorang petinggi orde baru ketika itu bisik-bisik menyebut korupsi seperti "kentut, tidak kelihatan tapi terasa baunya". Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan Widodo Dwi Putro di Kompas 30/10/2009 dalam rubrik Opini.
Itu cerita dulu, selanjutnya tidak begitu lagi. Dalam perkembangan selanjutnya Korupsi dari yang dilakukan malu-malu sampai kemudian dipamerkan terang-terangan dan kemudian menjadi budaya. belakangan kalau ada pejabat atau aparat pemerintahan yang tidak korupsi malah terlihat aneh. Dalam peri kehidupan bermasyarakat tidak dihormati (karena tidak kaya) di kalangan koleganya dimusuhi karena dianggap menghambat 'kemajuan'.
Dalam waktu-waktu selanjutnya, seluruh sistem di negara ini pun terinfeksi oleh virus yang bernama korupsi itu. Seluruh pilar demokrasi mulai dari eksekutif, legislatif sampai yudikatif terinfeksi parah virus korupsi. Sehingga orang-orang yang mengambil peran dalam tiga pilar demokrasi itu merasa, seperti itulah sistem kenegaraan yang normal.
Tapi tentu saja itu tidak normal, meskipun banyak anggota masyarakat yang memaklumi tapi tetap ada sekeklompok orang yang berpikiran jernih yang merasakan penderitaan yang trjadi akibat extra ordinary crime alias kejahatan luar biasa yang bernama korupsi ini.
Di paruh akhir tahun 1990-an, ketika kawasan dilanda krisis ekonomi semua negara di kawasan ini terpuruk. Tapi belakangan negara-negara tersebut cepat bangkit dan menemukan kembali keseimbangan dalam ekonomi, kecuali negara ini. Saat itulah kesadaran tentang betapa berbahaya dan besarnya daya rusak korupsi semakin menjadi kesadaran kolektif di negara ini.
Pada masa itu, kepongahan aparat, pameran korupsi yang ditampilkan terang-terangan sedang berada pada puncaknya. pada saat bersamaan tekanan dan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat negeri ini pun sedang berada pada puncaknya. Dari beratnya tekanan itulah muncul energi ledakan bernama reformasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Reformasi 98 ini berhasil menurunkan Soeharto yang menjadi puncak dan biang dari gunung es korupsi yang telah menggurita di negara ini.
Semangat reformasi 98 inilah yang kemudian melahirkan KPK untuk menjadi salah satu anggota keluarga dalam sistem yang mengatur negara ini.
Soeharto memang telah jatuh, tapi yang menjalankan sistem di negara ini masih orang di sistem lama yang masih hidup dalam kebiasaan lama, kalaupun ada orang baru, merekapun biasanya ikut larut dalam sistem bergaya lama, sedikit sekali yang tidak terinfeksi.
Kemudian, Pasca reformasi, demokrasi yang terbangun di Indonesia ini adalah demokrasi biaya tinggi. Kekuatan politik di Indonesia dibangun dengan biaya tinggi. Dan haqmpir bisa dipastikan uang yang dipakai untuk membiayai demokrasi biaya tinggi itu adalah uang haram A.K.A uang korupsi. Di negara ini mana ada orang yang mau menghamburkan uang halal yang didapat susah payah untuk dibuang-buang dalam pertarungan politik. Kalaupun ada, itu adalah penjudi yang menaburkan uang itu dengan harapan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar lagi.
Begitulah jika sistem dan demokrasi pasca reformasi ini diibaratkan sebagai ibu dan KPK, lembaga yang dilahirkan pasca reformasi sebagai anaknya. Maka kitapun bisa melihat bahwa kelahiran anak yang bernama KPK ini bukanlah kelahiran yang diharapkan oleh sang ibu dan keluarga besarnya (seluruh sistem yang telah menjadi status quo di negara ini). KPK bukanlah anak yang lahir dari buah cinta ibu dan bapak yang kelahirannya begitu dinantikan oleh orang tuanya. Dalam pandangan 'ibu'-nya, KPK adalah anak yang lahir dari proses pemerkosaan', lahir dari bibit yang ditaburkan dengan paksa oleh 'haram jadah' bernama REFORMASI.
Sudah berstatus 'haram jadah', anak haram bernama KPK ini pun dengan cepat tumbuh menjadi anak yang 'tidak tahu diri'. Kelakuan 'anak haram' ini sama sekali tidak mirip Ibu dan keluarga besarnya, sebaliknya kelakuannya persis seperti bapak kandungnya 'si haram jadah pemerkosa' yang bernama 'REFORMASI'. Di usianya yang telah belia KPK, menghantam dengan telak jantung korupsi yang merupakan seumber kehidupan utama bagi 'keluarga besarnya'. Kelakuan KPK si anak haram ini sangat berbeda dengan kelakuan komisi-komisi sejenis yang sedikitnya berjumlah enam. keenam anak kandung keluarga besar ini yang mirip KPK tersebut sekarang semuanya telah berstatus almarhum.
Belum pernah ada dalam sejarah negara ini ada pejabat daerah dan pusat yang sakit jantung dan berkeringat dingin mendengar kedatangan personel sebuah lembaga penegakan hukum, hanya KPK.
Yang paling kurang ajar dari semuanya adalah, KPK bahkan tanpa menunjukkan rasa empati apalagi terima kasih, malah mengacak-acak kehormatan DPR, ibu kandung yang melahirkan, menyusui dan membesarkannya.
Akibatnya kekurang ajaran KPK si anak haram jadah ini pun semakin lama semakin meresahkan dan membuat tidak nyaman seluruh keluarga besarnya dan KPK pun akhirnya benar-benar dibenci. Sehingga sangatlah wajar kalau keluarga besar ini pun secara bersama-sama ingin menghabisi KPK, anak jadah yang kurang ajar ini. Ketika keinginan ini mengkristal dan berlanjut menjadi aksi, kita tidak melihat adanya satupun keberatan berarti dari anggota keluarga besar ini untuk menggagalkan aksi itu.
Yang menolak beramai-ramai, yang berdiri kukuh di belakang anak jadah bernama KPK ini hanyalah orang-orang yang diuntungkan dengan kelahirannya. Yaitu RAKYAT BIASA yang statusnya tidak lain hanyalah orang luar alias pelengkap penderita dalam keluarga besar ini.
Tapi yang sangat mengherankan saya adalah MAHASISWA yang merupakan pilar utama REFORMASI, BAPAK KANDUNG KPK, yang sangar, berotot dan berwajah keras yang dulu berhasil menurunkan SOeharto. Yang meskipun tidak termasuk dalam keluarga besar yang membesarkan KPK, tapi saya tahu sangat menyayangi anaknya kok adem ayem saja dan tidak bertindak apapun atas masalah yang dialami anak kandungnya ini.
Di televisi, sosok-sosok yang dulu sangat sangar ini sekarang dengan jas almamater kebanggaan tampak begitu berwibawa pamer intelektualitas dalam acara "Bukan Empat Mata" yang diasuh oleh Tukul Arwana.
Seorang adik kelas sekaligus paman saya, anak Teknik Sipil angkatan 95 yang tahun 1998 dulu merupakan salah seorang yang berpanas-panas dan berteriak dan lari pontang-panting dikejar aparat ketika meneriakkan Reformasi mengatakan " Harga untuk berkata benar..memang tertinggi dan sangat mahal, tapi harga untuk berkata salah, ternyata juga lumayan mahal. Yang termurah dan nyaris cuma-cuma, hanya harga utk yg selain dari keduanya, yaitu harga untuk plin plan atau diam tak peduli, disitulah para pengkhianat dan pengecut bersembunyi".
Itulah yang kita saksikan hari ini, harga termurah yang nyaris cuma-cuma itulah yang dipilih oleh MAHASISWA yang menuntut ilmu di seluruh kampus yang ada di negeri ini.
Kemudian jika kita periksa dan benar-benar kita amati...maka kitapun akan mendapati kenyatan bahwa situasi aman dan nyaman pasca reformasi, telah membuat sosok yang sangar, berotot dan berwajah keras yang duduk manis di bangku-bangku perkuliahan itu berubah menjadi BANCI.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Itu cerita dulu, selanjutnya tidak begitu lagi. Dalam perkembangan selanjutnya Korupsi dari yang dilakukan malu-malu sampai kemudian dipamerkan terang-terangan dan kemudian menjadi budaya. belakangan kalau ada pejabat atau aparat pemerintahan yang tidak korupsi malah terlihat aneh. Dalam peri kehidupan bermasyarakat tidak dihormati (karena tidak kaya) di kalangan koleganya dimusuhi karena dianggap menghambat 'kemajuan'.
Dalam waktu-waktu selanjutnya, seluruh sistem di negara ini pun terinfeksi oleh virus yang bernama korupsi itu. Seluruh pilar demokrasi mulai dari eksekutif, legislatif sampai yudikatif terinfeksi parah virus korupsi. Sehingga orang-orang yang mengambil peran dalam tiga pilar demokrasi itu merasa, seperti itulah sistem kenegaraan yang normal.
Tapi tentu saja itu tidak normal, meskipun banyak anggota masyarakat yang memaklumi tapi tetap ada sekeklompok orang yang berpikiran jernih yang merasakan penderitaan yang trjadi akibat extra ordinary crime alias kejahatan luar biasa yang bernama korupsi ini.
Di paruh akhir tahun 1990-an, ketika kawasan dilanda krisis ekonomi semua negara di kawasan ini terpuruk. Tapi belakangan negara-negara tersebut cepat bangkit dan menemukan kembali keseimbangan dalam ekonomi, kecuali negara ini. Saat itulah kesadaran tentang betapa berbahaya dan besarnya daya rusak korupsi semakin menjadi kesadaran kolektif di negara ini.
Pada masa itu, kepongahan aparat, pameran korupsi yang ditampilkan terang-terangan sedang berada pada puncaknya. pada saat bersamaan tekanan dan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat negeri ini pun sedang berada pada puncaknya. Dari beratnya tekanan itulah muncul energi ledakan bernama reformasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Reformasi 98 ini berhasil menurunkan Soeharto yang menjadi puncak dan biang dari gunung es korupsi yang telah menggurita di negara ini.
Semangat reformasi 98 inilah yang kemudian melahirkan KPK untuk menjadi salah satu anggota keluarga dalam sistem yang mengatur negara ini.
Soeharto memang telah jatuh, tapi yang menjalankan sistem di negara ini masih orang di sistem lama yang masih hidup dalam kebiasaan lama, kalaupun ada orang baru, merekapun biasanya ikut larut dalam sistem bergaya lama, sedikit sekali yang tidak terinfeksi.
Kemudian, Pasca reformasi, demokrasi yang terbangun di Indonesia ini adalah demokrasi biaya tinggi. Kekuatan politik di Indonesia dibangun dengan biaya tinggi. Dan haqmpir bisa dipastikan uang yang dipakai untuk membiayai demokrasi biaya tinggi itu adalah uang haram A.K.A uang korupsi. Di negara ini mana ada orang yang mau menghamburkan uang halal yang didapat susah payah untuk dibuang-buang dalam pertarungan politik. Kalaupun ada, itu adalah penjudi yang menaburkan uang itu dengan harapan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar lagi.
Begitulah jika sistem dan demokrasi pasca reformasi ini diibaratkan sebagai ibu dan KPK, lembaga yang dilahirkan pasca reformasi sebagai anaknya. Maka kitapun bisa melihat bahwa kelahiran anak yang bernama KPK ini bukanlah kelahiran yang diharapkan oleh sang ibu dan keluarga besarnya (seluruh sistem yang telah menjadi status quo di negara ini). KPK bukanlah anak yang lahir dari buah cinta ibu dan bapak yang kelahirannya begitu dinantikan oleh orang tuanya. Dalam pandangan 'ibu'-nya, KPK adalah anak yang lahir dari proses pemerkosaan', lahir dari bibit yang ditaburkan dengan paksa oleh 'haram jadah' bernama REFORMASI.
Sudah berstatus 'haram jadah', anak haram bernama KPK ini pun dengan cepat tumbuh menjadi anak yang 'tidak tahu diri'. Kelakuan 'anak haram' ini sama sekali tidak mirip Ibu dan keluarga besarnya, sebaliknya kelakuannya persis seperti bapak kandungnya 'si haram jadah pemerkosa' yang bernama 'REFORMASI'. Di usianya yang telah belia KPK, menghantam dengan telak jantung korupsi yang merupakan seumber kehidupan utama bagi 'keluarga besarnya'. Kelakuan KPK si anak haram ini sangat berbeda dengan kelakuan komisi-komisi sejenis yang sedikitnya berjumlah enam. keenam anak kandung keluarga besar ini yang mirip KPK tersebut sekarang semuanya telah berstatus almarhum.
Belum pernah ada dalam sejarah negara ini ada pejabat daerah dan pusat yang sakit jantung dan berkeringat dingin mendengar kedatangan personel sebuah lembaga penegakan hukum, hanya KPK.
Yang paling kurang ajar dari semuanya adalah, KPK bahkan tanpa menunjukkan rasa empati apalagi terima kasih, malah mengacak-acak kehormatan DPR, ibu kandung yang melahirkan, menyusui dan membesarkannya.
Akibatnya kekurang ajaran KPK si anak haram jadah ini pun semakin lama semakin meresahkan dan membuat tidak nyaman seluruh keluarga besarnya dan KPK pun akhirnya benar-benar dibenci. Sehingga sangatlah wajar kalau keluarga besar ini pun secara bersama-sama ingin menghabisi KPK, anak jadah yang kurang ajar ini. Ketika keinginan ini mengkristal dan berlanjut menjadi aksi, kita tidak melihat adanya satupun keberatan berarti dari anggota keluarga besar ini untuk menggagalkan aksi itu.
Yang menolak beramai-ramai, yang berdiri kukuh di belakang anak jadah bernama KPK ini hanyalah orang-orang yang diuntungkan dengan kelahirannya. Yaitu RAKYAT BIASA yang statusnya tidak lain hanyalah orang luar alias pelengkap penderita dalam keluarga besar ini.
Tapi yang sangat mengherankan saya adalah MAHASISWA yang merupakan pilar utama REFORMASI, BAPAK KANDUNG KPK, yang sangar, berotot dan berwajah keras yang dulu berhasil menurunkan SOeharto. Yang meskipun tidak termasuk dalam keluarga besar yang membesarkan KPK, tapi saya tahu sangat menyayangi anaknya kok adem ayem saja dan tidak bertindak apapun atas masalah yang dialami anak kandungnya ini.
Di televisi, sosok-sosok yang dulu sangat sangar ini sekarang dengan jas almamater kebanggaan tampak begitu berwibawa pamer intelektualitas dalam acara "Bukan Empat Mata" yang diasuh oleh Tukul Arwana.
Seorang adik kelas sekaligus paman saya, anak Teknik Sipil angkatan 95 yang tahun 1998 dulu merupakan salah seorang yang berpanas-panas dan berteriak dan lari pontang-panting dikejar aparat ketika meneriakkan Reformasi mengatakan " Harga untuk berkata benar..memang tertinggi dan sangat mahal, tapi harga untuk berkata salah, ternyata juga lumayan mahal. Yang termurah dan nyaris cuma-cuma, hanya harga utk yg selain dari keduanya, yaitu harga untuk plin plan atau diam tak peduli, disitulah para pengkhianat dan pengecut bersembunyi".
Itulah yang kita saksikan hari ini, harga termurah yang nyaris cuma-cuma itulah yang dipilih oleh MAHASISWA yang menuntut ilmu di seluruh kampus yang ada di negeri ini.
Kemudian jika kita periksa dan benar-benar kita amati...maka kitapun akan mendapati kenyatan bahwa situasi aman dan nyaman pasca reformasi, telah membuat sosok yang sangar, berotot dan berwajah keras yang duduk manis di bangku-bangku perkuliahan itu berubah menjadi BANCI.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Selasa, 27 Oktober 2009
Syari'at Islam di Negeri Para Pendusta Agama
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS : 107 ayat 1-3)
Sejujurnya, saya bukanlah jenis orang yang suka menggunakan tafsiran teks ayat-ayat suci sebagai basis argumen. Karena itulah tiga ayat Al Qur'an di atas saya tuliskan di sini bukan untuk beradu debat soal penafsirannya tapi tidak lain hanya sebagai ilustrasi, tentang betapa ayat-ayat yang dipercaya suci dan dipercaya berasal dari Tuhan sendiri pun pada penerapannya sebenarnya tidak pernah bisa dilepaskan dari cara pandang, selera dan hawa nafsu manusia yang sama sekali tidak bersifat Ilahiah.
Tiga ayat di atas sengaja saya kutip di awal tulisan ini karena di Aceh negeri saya, belakangan ini saya melihat beberapa kalangan begitu antusias untuk memberlakukan hukum-hukum Tuhan yang ketat dan tanpa kompromi untuk menjatuhkan hukuman bagi beberapa kasus. Sementara anjuran Tuhan yang lain mereka abaikan.
Berkaitan dengan tiga ayat yang saya kutip di atas.
Bencana tsunami yang meluluh lantakkan Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang telah membuat ratusan ribu anak Aceh menjadi yatim yang kehilangan orangtua dan juga rumah. Hal ini membuat banyak orang yang ada di berbagai penjuru Aceh yang terpikir untuk mendirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim itu.
Saat saya meninggalkan Takengen tahun 2003 silam, di kota kelahiran saya ini baru ada dua panti asuhan untuk menampung anak yatim. Satu milik pemerintah yang terletak di Kemili dan satunya lagi milik swasta terletak di Paya Tumpi. Saya sendiri pernah cukup lama menghuni salah satu panti asuhan tersebut.
November tahun lalu saya kembali ke kota ini, saya saksikan jumlah panti asuhan di kota ini tumbuh dengan drastis seperti jamur di musim hujan. Salah satu dari panti asuhan baru yang didirikan pasca tsunami tersebut bernama Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Terletak di Dedalu, sebuah desa di tepi danau Laut Tawar, 2 kilometer dari pusat kota Takengen.
Panti Asuhan ini dikelola oleh Bapak Syamsuddin A.S, mantan pengurus panti Asuhan Budi Luhur, panti yang sempat saya huni dalam waktu yang cukup lama. Gedung Panti Asuhan ini didirikan di atas tanah milik pribadi Bapak Syamsuddin A.S, di atas puing-puing rumah pribadi beliau yang dulu dibangun dengan susah payah yang dengan ikhlas sengaja beliau hancurkan demi berdirinya gedung panti asuhan ini.
Pembangunan gedung dan biaya sehari-hari Panti Asuhan ini ditanggung oleh Givelight Foundation, sebuah yayasan yang didanai oleh muslim amerika yang dibentuk salah satunya oleh Dian Alyan, seorang keponakan Bapak Syamsuddin A.S yang telah menjadi warga negara Amerika dan sekarang bermukim di San Francisco. Dian Alyan yang lulusan IPB ini adalah puteri Gayo asli kelahiran 1965, yang meniti karir di Procter & Gamble Indonesia. Karena kecemerlangannya Dian kemudian ditarik ke kantor pusat Procter & Gamble di Cincinati untuk duduk sebagai brand manager. Tapi beberapa tahun yang lalu Dian memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang untuk memfokuskan diri kepada kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui Givelight Foundation yang karena terinspirasi keberhasilan proyek panti Asuhan Yayasan Noordeen di Dedalu, sekarang telah membangun satu Panti Asuhan lagi di Kashmir, India.
Karena keterbatasan daya tampung, Panti Asuhan Yayasan Noordeen hanya mampu menampung 58 orang anak. Tapi melalui Yayasan Noordeen Givelight Foundation juga membantu membiayai anak-anak yatim korban tsunami yang tinggal di Panti Asuhan lain di Takengen. Mekanisme pemberian bantuan itu adalah; pengelola panti asuhan memberikan daftar nama penghuni Panti Asuhan yang dia kelola kemudian pengelola yayasan Noordeen mentransfer uang bantuan untuk nama-nama itu ke rekening pengurus panti. Suatu kali pengelola yayasan Noordeen curiga dengan daftar nama yang ada dalam daftar yang diserahkan pengurus Panti Asuhan yang dibantu tersebut karena bertahun-tahun nama itu tidak pernah berubah. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia panti asuhan, pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen tahu persis kalau setiap tahun ada anak Panti yang lulus dan meninggalkan Panti. berdasarkan kecurigaan itu beliaupun mengecek kebenaran laporan pengurus panti tersebut ke lokasi panti asuhan itu berdiri. Dan apa yang beliau temukan, ternyata jumlah anak yang ditampung oleh panti asuhan tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan daftar nama anak-anak yang diberikan pengurusnya. Dan fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah ternyata kebanyakan dana bantuan tersebut masuk ke kantong pribadi pengurus Panti. Sejak saat itu Yayasan Noordeen hanya mau mentransfer uang bantuan ke rekening pribadi anak yang menerima bantuan.
Saat berada di Takengen, saya juga menyempatkan diri menemui Tengku Ali Djadun. Seorang ulama besar di kota ini yang sangat saya hormati karena saya angap konsisten antara ucapan dan tindakannya dan terkenal tanpa kompromi. Saat saya jumpai beliau menjabat sebagai ketua MPU Aceh Tengah. Dari beliau saya mendapati cerita yang lebih mengejutkan. Menurut Tengku Ali Djadun yang juga mengelola Panti Asuhan Muhammadiyah, eksploitasi anak yatim di kabupaten yang rencananya kalau jadi dimekarkan menjadi provinsi sendiri akan digelari Serambi Madinah ini jauh lebih parah dari cerita yang saya dengar dari Bapak Syamsuddin A.S. Menurut Tengku Ali Djadun, pasca tsunami ada belasan panti asuhan yang berdiri di Aceh Tengah yang mengatasnamakan diri untuk menampung korban tsunami tapi sama sekali tanpa penghuni. Uang dana bantuan yang diperuntukkan untuk Panti Asuhan tersebut sepenuhnya masuk ke kantong pengurus panti.
Berdasarkan kondisi faktual yang ada di Aceh yang menunjukkan fakta banyaknya anak yatim dan ketika anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa, jika orang-orang Aceh benar-benar menerapkan hukum atas dasar cinta kepada agama dan menjalankan perintah Tuhan tanpa dipengaruhi selera dan hawa nafsu. Saya pikir orang-orang Aceh tentu mereka akan bergidik ketika membaca ayat Tuhan yang saya kutip di atas dan merekapun akan mencari dasar hukum agama yang kuat untuk menghukum manusia-manusia yang mengeksploitasi anak-anak yatim ini.
Tapi yang terjadi tidaklah demikian, ketika di negeri ini anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa Pemda dan DPRK Aceh tengah alih-alih turun tangan. Pemda dengan sepersetujuan DPRK malah menjual lahan dan mesjid milik Panti Asuhan Budi Luhur yang tidak lain adalah panti asuhan tertua di Aceh Tengah. Yang lebih ironis lagi, Tengku Ali Djadun, Ulama ketua MPU yang saya hormati itu pun malah memilih berada di belakang Pemda dan menghardik anak yatim http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan.
Melihat pengabaian dan eksploitasi terhadap anak yatim yang terjadi di bumi Aceh pasca tsunami, melihat bagaimana eksploitasi itu dibiarkan oleh anggota DPRA 2004-2009, pemerintah dan ulama. Jika ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas dijadikan acuan untuk menilai, maka jelas parlemen, pemerintah dan ulama yang ada di Aceh saat ini tidak lain adalah PARA PENDUSTA AGAMA.
Tapi seperti yang sering saya katakan, semua manusia sebetulnya tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalamannya sendiri. Hukum yang dibuat manusia pun, meskipun katanya berasal dari Tuhan tapi pilihan atas Hukum Tuhan mana yang diikuti dan diterapkan serta hukum Tuhan yang mana yang boleh diabaikan juga tidak terlepas dari subyektifitas pengalaman manusia itu sendiri.
Misalnya Hukum rajam dipercaya banyak orang adalah hukum dari Tuhan bukan buatan manusia dan karenanya wajib dikuti. Katakanlah asumsi itu memang benar, tapi marilah kita renungkan, siapa yang memilih hukum rajam untuk diterapkan sementara hukum Tuhan yang lain diabaikan?...Bukankah manusia sendiri?.
Pilihan tersebut tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalaman orang yang memilih itu sendiri.
Kita ambil contoh bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Karena sejak kecil sudah dekat dengan lingkungan anak yatim dikarenakan orang tua beliau juga bekas pengurus Panti Asuhan. Orang seperti bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen ini percaya Tuhan akan sangat marah jika ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau akan ketakutan setengah mati ketika mendapati ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau ini sering merasa kalau bencana yang banyak terjadi di negeri ini terjadi adalah akibat orang-orang, pemerintah dan ulama di negeri ini tidak mempedulikan anak yatim.
Sebaliknya orang-orang yang dekat dengan penguasa yang otaknya selalu berada di SELANGKANGAN, selalu merasa bahwa urusan SELANGKANGAN lah yang paling diperhatikan Tuhan. Sehingga Hukum Tuhan yang mereka pilih untuk diterapkan dengan ketat pun tidak jauh-jauh dari urusan SELANGKANGAN.
Anggota DPRA 2004-2009 bukanlah sekumpulan manusia yang dekat dan memahami permasalahan anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya mereka adalah kumpulan orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi dekat dengan penguasa dan otak yang selalu berada di SELANGKANGAN. Mereka percaya bahwa berbagai masalah yang terjadi di negeri saya belakangan ini terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga SELANGKANGAN.
Dari orang-orang dengan subjektifitas pribadi semacam ini, yang menjadi anggota DPRA 2004-2009 adalah tidak mungkin kita melihat keluarnya pasal-pasal Qanun yang melarang orang 'menghardik' anak yatim ataupun pasal-pasal Qanun yang menganjurkan memberi makan orang miskin. Yang mungkin dihasilkan oleh orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi semacam ini hanyalah pasal-pasal Qanun yang berurusan dengan SELANGKANGAN. Terbukti orang-orang inilah yang di luar sidang paripurna mengeluarkan pasal Hukum rajam dalam Qanun Jinayat yang ditolak oleh Gubernur Irwandi.
Di Aceh dan juga di daerah lain yang memiliki komunitas 'ikhwan' dan 'akhwat', penolakan Irwandi ini langsung jadi kontroversi. Para pendukung hukum syari'ah berbasis SELANGKANGAN langsung menghujat Irwandi dengan berbagai cacian, diantaranya ada yang dengan terus terang mengatakan bahwa Irwandi yang menolak menandatangani Qanun ini adalah seorang yang pro Penzina.
Padahal jika para 'ikhwan' dan 'akhwat' ini mau sedikit membuka mata dan tidak pilih-pilih selera dalam menerapkan ayat-ayat Al Qur'an yang mereka percaya suci. Lalu mau menggunakan ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas sebagai referensi. Maka mata mereka akan jelas melihat bahwa, Qanun Jinayat yang sekarang jadi kontroversi ini sebenarnya tidak lain adalah Hukum Syariat produk dari PARA PENDUSTA AGAMA.
Wassalam
Win Wan Nur
Itulah orang yang menghardik anak yatim
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS : 107 ayat 1-3)
Sejujurnya, saya bukanlah jenis orang yang suka menggunakan tafsiran teks ayat-ayat suci sebagai basis argumen. Karena itulah tiga ayat Al Qur'an di atas saya tuliskan di sini bukan untuk beradu debat soal penafsirannya tapi tidak lain hanya sebagai ilustrasi, tentang betapa ayat-ayat yang dipercaya suci dan dipercaya berasal dari Tuhan sendiri pun pada penerapannya sebenarnya tidak pernah bisa dilepaskan dari cara pandang, selera dan hawa nafsu manusia yang sama sekali tidak bersifat Ilahiah.
Tiga ayat di atas sengaja saya kutip di awal tulisan ini karena di Aceh negeri saya, belakangan ini saya melihat beberapa kalangan begitu antusias untuk memberlakukan hukum-hukum Tuhan yang ketat dan tanpa kompromi untuk menjatuhkan hukuman bagi beberapa kasus. Sementara anjuran Tuhan yang lain mereka abaikan.
Berkaitan dengan tiga ayat yang saya kutip di atas.
Bencana tsunami yang meluluh lantakkan Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang telah membuat ratusan ribu anak Aceh menjadi yatim yang kehilangan orangtua dan juga rumah. Hal ini membuat banyak orang yang ada di berbagai penjuru Aceh yang terpikir untuk mendirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim itu.
Saat saya meninggalkan Takengen tahun 2003 silam, di kota kelahiran saya ini baru ada dua panti asuhan untuk menampung anak yatim. Satu milik pemerintah yang terletak di Kemili dan satunya lagi milik swasta terletak di Paya Tumpi. Saya sendiri pernah cukup lama menghuni salah satu panti asuhan tersebut.
November tahun lalu saya kembali ke kota ini, saya saksikan jumlah panti asuhan di kota ini tumbuh dengan drastis seperti jamur di musim hujan. Salah satu dari panti asuhan baru yang didirikan pasca tsunami tersebut bernama Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Terletak di Dedalu, sebuah desa di tepi danau Laut Tawar, 2 kilometer dari pusat kota Takengen.
Panti Asuhan ini dikelola oleh Bapak Syamsuddin A.S, mantan pengurus panti Asuhan Budi Luhur, panti yang sempat saya huni dalam waktu yang cukup lama. Gedung Panti Asuhan ini didirikan di atas tanah milik pribadi Bapak Syamsuddin A.S, di atas puing-puing rumah pribadi beliau yang dulu dibangun dengan susah payah yang dengan ikhlas sengaja beliau hancurkan demi berdirinya gedung panti asuhan ini.
Pembangunan gedung dan biaya sehari-hari Panti Asuhan ini ditanggung oleh Givelight Foundation, sebuah yayasan yang didanai oleh muslim amerika yang dibentuk salah satunya oleh Dian Alyan, seorang keponakan Bapak Syamsuddin A.S yang telah menjadi warga negara Amerika dan sekarang bermukim di San Francisco. Dian Alyan yang lulusan IPB ini adalah puteri Gayo asli kelahiran 1965, yang meniti karir di Procter & Gamble Indonesia. Karena kecemerlangannya Dian kemudian ditarik ke kantor pusat Procter & Gamble di Cincinati untuk duduk sebagai brand manager. Tapi beberapa tahun yang lalu Dian memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang untuk memfokuskan diri kepada kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui Givelight Foundation yang karena terinspirasi keberhasilan proyek panti Asuhan Yayasan Noordeen di Dedalu, sekarang telah membangun satu Panti Asuhan lagi di Kashmir, India.
Karena keterbatasan daya tampung, Panti Asuhan Yayasan Noordeen hanya mampu menampung 58 orang anak. Tapi melalui Yayasan Noordeen Givelight Foundation juga membantu membiayai anak-anak yatim korban tsunami yang tinggal di Panti Asuhan lain di Takengen. Mekanisme pemberian bantuan itu adalah; pengelola panti asuhan memberikan daftar nama penghuni Panti Asuhan yang dia kelola kemudian pengelola yayasan Noordeen mentransfer uang bantuan untuk nama-nama itu ke rekening pengurus panti. Suatu kali pengelola yayasan Noordeen curiga dengan daftar nama yang ada dalam daftar yang diserahkan pengurus Panti Asuhan yang dibantu tersebut karena bertahun-tahun nama itu tidak pernah berubah. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia panti asuhan, pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen tahu persis kalau setiap tahun ada anak Panti yang lulus dan meninggalkan Panti. berdasarkan kecurigaan itu beliaupun mengecek kebenaran laporan pengurus panti tersebut ke lokasi panti asuhan itu berdiri. Dan apa yang beliau temukan, ternyata jumlah anak yang ditampung oleh panti asuhan tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan daftar nama anak-anak yang diberikan pengurusnya. Dan fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah ternyata kebanyakan dana bantuan tersebut masuk ke kantong pribadi pengurus Panti. Sejak saat itu Yayasan Noordeen hanya mau mentransfer uang bantuan ke rekening pribadi anak yang menerima bantuan.
Saat berada di Takengen, saya juga menyempatkan diri menemui Tengku Ali Djadun. Seorang ulama besar di kota ini yang sangat saya hormati karena saya angap konsisten antara ucapan dan tindakannya dan terkenal tanpa kompromi. Saat saya jumpai beliau menjabat sebagai ketua MPU Aceh Tengah. Dari beliau saya mendapati cerita yang lebih mengejutkan. Menurut Tengku Ali Djadun yang juga mengelola Panti Asuhan Muhammadiyah, eksploitasi anak yatim di kabupaten yang rencananya kalau jadi dimekarkan menjadi provinsi sendiri akan digelari Serambi Madinah ini jauh lebih parah dari cerita yang saya dengar dari Bapak Syamsuddin A.S. Menurut Tengku Ali Djadun, pasca tsunami ada belasan panti asuhan yang berdiri di Aceh Tengah yang mengatasnamakan diri untuk menampung korban tsunami tapi sama sekali tanpa penghuni. Uang dana bantuan yang diperuntukkan untuk Panti Asuhan tersebut sepenuhnya masuk ke kantong pengurus panti.
Berdasarkan kondisi faktual yang ada di Aceh yang menunjukkan fakta banyaknya anak yatim dan ketika anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa, jika orang-orang Aceh benar-benar menerapkan hukum atas dasar cinta kepada agama dan menjalankan perintah Tuhan tanpa dipengaruhi selera dan hawa nafsu. Saya pikir orang-orang Aceh tentu mereka akan bergidik ketika membaca ayat Tuhan yang saya kutip di atas dan merekapun akan mencari dasar hukum agama yang kuat untuk menghukum manusia-manusia yang mengeksploitasi anak-anak yatim ini.
Tapi yang terjadi tidaklah demikian, ketika di negeri ini anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa Pemda dan DPRK Aceh tengah alih-alih turun tangan. Pemda dengan sepersetujuan DPRK malah menjual lahan dan mesjid milik Panti Asuhan Budi Luhur yang tidak lain adalah panti asuhan tertua di Aceh Tengah. Yang lebih ironis lagi, Tengku Ali Djadun, Ulama ketua MPU yang saya hormati itu pun malah memilih berada di belakang Pemda dan menghardik anak yatim http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan.
Melihat pengabaian dan eksploitasi terhadap anak yatim yang terjadi di bumi Aceh pasca tsunami, melihat bagaimana eksploitasi itu dibiarkan oleh anggota DPRA 2004-2009, pemerintah dan ulama. Jika ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas dijadikan acuan untuk menilai, maka jelas parlemen, pemerintah dan ulama yang ada di Aceh saat ini tidak lain adalah PARA PENDUSTA AGAMA.
Tapi seperti yang sering saya katakan, semua manusia sebetulnya tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalamannya sendiri. Hukum yang dibuat manusia pun, meskipun katanya berasal dari Tuhan tapi pilihan atas Hukum Tuhan mana yang diikuti dan diterapkan serta hukum Tuhan yang mana yang boleh diabaikan juga tidak terlepas dari subyektifitas pengalaman manusia itu sendiri.
Misalnya Hukum rajam dipercaya banyak orang adalah hukum dari Tuhan bukan buatan manusia dan karenanya wajib dikuti. Katakanlah asumsi itu memang benar, tapi marilah kita renungkan, siapa yang memilih hukum rajam untuk diterapkan sementara hukum Tuhan yang lain diabaikan?...Bukankah manusia sendiri?.
Pilihan tersebut tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalaman orang yang memilih itu sendiri.
Kita ambil contoh bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Karena sejak kecil sudah dekat dengan lingkungan anak yatim dikarenakan orang tua beliau juga bekas pengurus Panti Asuhan. Orang seperti bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen ini percaya Tuhan akan sangat marah jika ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau akan ketakutan setengah mati ketika mendapati ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau ini sering merasa kalau bencana yang banyak terjadi di negeri ini terjadi adalah akibat orang-orang, pemerintah dan ulama di negeri ini tidak mempedulikan anak yatim.
Sebaliknya orang-orang yang dekat dengan penguasa yang otaknya selalu berada di SELANGKANGAN, selalu merasa bahwa urusan SELANGKANGAN lah yang paling diperhatikan Tuhan. Sehingga Hukum Tuhan yang mereka pilih untuk diterapkan dengan ketat pun tidak jauh-jauh dari urusan SELANGKANGAN.
Anggota DPRA 2004-2009 bukanlah sekumpulan manusia yang dekat dan memahami permasalahan anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya mereka adalah kumpulan orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi dekat dengan penguasa dan otak yang selalu berada di SELANGKANGAN. Mereka percaya bahwa berbagai masalah yang terjadi di negeri saya belakangan ini terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga SELANGKANGAN.
Dari orang-orang dengan subjektifitas pribadi semacam ini, yang menjadi anggota DPRA 2004-2009 adalah tidak mungkin kita melihat keluarnya pasal-pasal Qanun yang melarang orang 'menghardik' anak yatim ataupun pasal-pasal Qanun yang menganjurkan memberi makan orang miskin. Yang mungkin dihasilkan oleh orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi semacam ini hanyalah pasal-pasal Qanun yang berurusan dengan SELANGKANGAN. Terbukti orang-orang inilah yang di luar sidang paripurna mengeluarkan pasal Hukum rajam dalam Qanun Jinayat yang ditolak oleh Gubernur Irwandi.
Di Aceh dan juga di daerah lain yang memiliki komunitas 'ikhwan' dan 'akhwat', penolakan Irwandi ini langsung jadi kontroversi. Para pendukung hukum syari'ah berbasis SELANGKANGAN langsung menghujat Irwandi dengan berbagai cacian, diantaranya ada yang dengan terus terang mengatakan bahwa Irwandi yang menolak menandatangani Qanun ini adalah seorang yang pro Penzina.
Padahal jika para 'ikhwan' dan 'akhwat' ini mau sedikit membuka mata dan tidak pilih-pilih selera dalam menerapkan ayat-ayat Al Qur'an yang mereka percaya suci. Lalu mau menggunakan ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas sebagai referensi. Maka mata mereka akan jelas melihat bahwa, Qanun Jinayat yang sekarang jadi kontroversi ini sebenarnya tidak lain adalah Hukum Syariat produk dari PARA PENDUSTA AGAMA.
Wassalam
Win Wan Nur
Minggu, 25 Oktober 2009
EJSL'94 dan Kera Besar Misterius di Dinding Selatan Leuser
Pada tahun 1994, kami dari UKM-PA Leuser Unsyiah melakukan pendakian Gunung Leuser melalui jalur selatan dengan memilih desa peulumat di Aceh Selatan sebagai titik awal pendakian.
Keberangkatan kami untuk Ekspedisi kali ini sempat tertunda beberapa lama akibat kesulitan mendapatkan izin dari Polres Aceh Selatan yang wilayah hukumnya membawahi desa Peulumat, desa terakhir yang merupakan titik awal keberangkatan kami. Izin itu susah dikeluarkan akibat dari arogansi anak-anak Wanadri (kelompok pecinta alam yang dekat dengan kekuasaan) yang bersama anggota Brimob melakukan pendakian tiga bulan sebelum kami. Polisi tidak mengeluarkan izin bagi kami dengan alasan mereka menunggu ANEP (Analisa dan Evaluasi Pendakian) dari Wanadri. Untuk menilai layak tidaknya jalur selatan Leuser yang terletak di Bumi Aceh didaki oleh kelompok pecinta alam selain Wanadri yang berpusat di Jawa Barat itu.
Karena kekurangan anggota, pada pendakian kali ini kami sedikit melanggar aturan baku di organisasi kami yang hanya membolehkan anggota penuh untuk mengikuti ekspedisi besar. Pada pendakian ini selain anggota penuh, ekspedisi ini juga diikuti 4 anggota muda yang baru lulus pendidikan dasar yang belum sampai setahun menjadi anggota. Satu diantara anggota muda itu adalah aku sendiri.
Hari itu tanggal 12 agustus 1994, sudah dua belas hari kami berjalan menembus rapatnya hutan di jalur selatan Leuser tanpa kami tahu pasti kapan kami akan mencapai puncak yang kami tuju. Angka di altimeter menunjukkan kalau kami berada di ketinggian 2800 Meter di atas permukaan laut.
Tiga hari belakangan, perjalanan yang kamilakukan terasa sangat membosankan, karena selama tiga hari itu kami terus menyusuri punggungan gunung yang datar dan monoton tanpa mendaki bukit atau menuruni lembah. Hutan lebat berpohon besar sudah lama tidak lagi kami temui, hutan yang kami lewati saat itu adalah hutan tanaman perdu berdaun tebal selebar jari telunjuk, dengan ukuran batang maksimal sebesar betis kaki orang dewasa. Batang-batang pohon itu seringkali ditumbuhi lumut yang menutupi seluruh batang pohon. Ketika jalanan menanjak beberapa hari yangh lalu beberapa kali kami terkecoh oleh lumut ini. Saat jalan licin dan terjal mendaki, supaya tidak terpeleset, kami seringkali meraih pohon terdekat yang ada di samping kami sebagai pegangan. Tapi karena tertutup lumut, kami tidak tahu pohon apa yang kami raih. Kadang yang kami raih adalah pohon mati yang sudah membusuk, sehingga ketika kami jadikan pegangan langsung patah dan kamipun jatuh terjungkal. Yang paling sial kadang yang tumbuhi lumut itu ternyata rotan yang berduri, akibatnya ketika terpegang tangan kamipun langsung tertusuk. Sampai saat itu telapak tangan kami semua telah tercabik-cabik dan dipenuhi duri.
Lumut-lumut itu kadang juga kami manfaatkan untuk diperas airnya, karena di daerah punggungan seperti itu tidak ada sumber air. Selain lumut kami yang didera kehausan juga terkadang meminum air dari tumbuhan kantong semar, tanaman karnivora sejenis anggrek yang memiliki kantong berkatup, berisi air yang dipenuhi bangkai serangga. Air dari dalam kantong tanaman ini kami saring menggunakan kain yang biasa kami pakai menutupi kepala.
Medan seperti ini sudah kami jalani sejak dari lokasi peng-evakuasi-an jenazah almarhum Hendra Budhi, anggota tim pendaki dari Universitas Borobudur yang meninggal dunia dalam usahanya mencapai puncak Leuser pada musim pendakian tahun 1993. Saat itu Hendra meninggal pada hari ke 85 usaha pendakian mereka. Gemuruh suara dari beberapa air terjun besar yang keluar dari dinding selatan Leuser terasa begitu dekat di telinga, tapi kami semua tidak tahu, akan butuh waktu berapa hari bagi kami untuk bisa sampai ke sana.
Kami semua sudah dilanda rasa bosan yang luar biasa. Nourman, teman satu Diksar denganku sudah mulai sering diam dan berdiri kaku sendirian. Sementara Selo yang juga anggota yang satu Diksar denganku terserang disentri dan berat badannya turun.
Hari itu, tubuhku dan delapan anggota tim EJSL 94 lainnya dan juga pawang Hamid Rambo yang menemani kami berada dalam keadaan babak belur dalam arti yang sebenarnya. Sehari sebelumnya, beberapa waktu sebelum kami mencapai tempat Hendra Budhi menghembuskan nafas terakhir, kami melewati lahan terbuka yang dipenuhi kayu kering yang ditebang oleh tim evakuasi yang menjemput jenazah Hendra Budhi beserta seluruh anggota tim pendaki Universitas Borobudur yang tersisa. Di tempat itu Enjur, navigator tim kami yang berjalan paling depan tidak sengaja menginjak sarang tawon tanah yang kemudian mengamuk menyengat kami semua. Aku disengat di pergelangan bagian luar tangan kiri. Saat di sengat rasa sakitnya menghunjam sampai ke ubun-ubun, belum pernah seumur hidup aku merasakan rasa sakit disengat serangga sehebat itu. Tajuddin disengat di bagian luar telapak tangan antara jari tengah dan jari manis. Irfan yang saat itu menjadi ketua tim disengat di dagu sebelah kanan. Sementara Pawang Hamid Rambo disengat tepat di hidung. Enjur sendiri si biang kerok selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Begitu hebatnya sengatan tawon tanah itu sehingga sampai sekarang bekas sengatannya tetap meninggalkan bekas luka parut bulat sebesar biji kedelai di pergelangan kiriku. Waktu itu aku masih lebih beruntung dibanding teman-temanku yang lain, karena di sengat di tangan kiri aku tidak terlalu perlu mencucinya, sebab tanpa kami tahu ternyata bekas sengatan itu tidak boleh terkena air. Akibat mencuci tangannya dengan air, tangan Tajuddin bengkak besar. Irfan yang wajahnya terkena air saat mencuci muka, membuat wajahnya yang sudah ditumbuhi jenggot lebat menjadi tidak simetris alias besar sebelah dan matanya tampak selalu merah. Sementara pawang Hamid Rambo wajahnya terlihat lucu dengan hidung yang membesar seperti pinokio.
Sekitar pukul 4 sore lewat, kami keluar dari rimbunnya hutan perdu tersebut. Kami memasuki sebuah tempat terbuka yang menimbulkan kesan mistis. Tempat itu ditumbuhi rumput pendek yang seolah dirawat dengan baik seperti di lapangan golf. Di beberapa bagian ditumbuhi bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan putih. Suasana mistis ini semakin terasa karena dinginnya udara ditambah lagi saat kami tiba di tempat itu, seluruh tempat itu perlahan-lahan di selaputi kabut yang mulai turun.
Bersama Tajuddin, aku adalah anggota tim pertama yang mencapai tempat itu.
Melihat suasana seperti itu, kepalaku terasa mengembang dan bulu-bulu ditubuhku merinding, karena aku langsung teringat berbagai cerita dan dongeng tentang Leuser dan hutan-hutan di Aceh yang ditinggali berbagai makhluk yang tak dikenal. Dulu waktu kecil ayahku sering bercerita pengalamannya bertemu dengan orang bunian, manusia gaib yang tinggal di hutan-hutan yang kadang-kadang juga menampakkan diri. Ayahku pernah bercerita kalau orang bunian ini seperti juga manusia biasa, berladang dan menanam berbagai tanaman rempah di hutan. Menurut ayahku, terkadang ketika melewati hutan kita bisa melihat ladang mereka, tapi ketika kembali di hari lain di tempat itu tidak ada apa-apa hanya belantara biasa. Aku juga teringat cerita tentang 'Mantee', manusia kate yang konon tinggal di hutan-hutan Aceh yang memiliki telapak kaki dengan tumit terbalik dibanding manusia biasa sehingga ketika orang melihat jejak telapak kaki mereka, yang terlihat seolah-olah mereka berjalan mudur. Beberapa pemburu di kampung saya konon pernah melihat makhluk bernama 'Mantee' ini, bahkan konon pernah ada yang sampai menikah dengan salah satu makhluk itu. Berdasarkan cerita seperti itulah pada tahun 1985 Presiden Soeharto melalui departemen sosial Aceh Tengah pernah menginstruksikan untuk mencari kebenaran keberadaan 'Mantee' ini. Tapi tidak pernah berhasil ditemukan sampai hari ini.
Dalam suasana dan pikiran seperti ini. Tiba-tiba Gusrak...! Aku dan Tajuddin dikejutkan dengan suara bergemuruh dari pohon-pohon di depan kami yang tumbuh di tebing terjal yang diselimuti kabut. Kami melihat satu rombongan kera besar tak berekor berwarna abu-abu sedang berlarian melintasi pohon-pohon itu. Beberapa diantara kera-kera tersebut memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari kami berdua. Aku dan Tajuddin yang kelelahan dan tubuh babak belur langsung balik badan dan entah mendapat tenaga dari mana, dengan ransel seberat 30 kilogram di punggung kami bisa berlari kencang ke arah anggota Tim yang lain. Tapi dalam kepanikan seperti itu aku masih sempat berteriak kepada Bobby yang bertugas sebagai seksi dokumentasi untuk memfoto makhluk tersebut.
Tapi karena kamera disimpan di ransel, Bobby harus menurunkannya lagi dan mencari kamera semua makhluk itu pun keburu menghilang. Karena sepertinya kera-kera besar itu pun sama takutnya dengan kami semua. Maklumlah selama ini makhluk bernama manusia yang pernah datang ke tempat itu baru kami dan Tim gabungan Wanadri-Brimob yang mendaki jalur selatan Leuser 3 bulan sebelum kami. Tapi sepertinya ketika mereka sampai di tempat itu, makhluk-makhluk tersebut tidak ada di sana.
Setelah keadaan tenang, karena hari sudah sore dan sudah waktunya untuk membuka tenda dan kebetulan di tempat ini ada tempat yang ideal untuk mendirikan tenda, kami pun memutuskan untuk beristirahat di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Camp ini kemudian kami namai camp nyaman.
Dua hari setelah itu kami mencapai puncak Leuser sekaligus menjadikan Asih Budiati,teman satu Diksar denganku yang merupakan satu-satunya perempuan di tim kami sebagai perempuan pertama yang mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan.
Ketika kami sudah turun dan kembali ke peradaban sepertinya seluruh anggota tim sudah melupakan kejadian bertemu rombongan kera besar tersebut, tapi aku tidak pernah bisa menghilangkan kejadian itu di kepalaku sampai hari ini.
Kera-kera besar itu menarik perhatianku karena kutahu kera jenis itu belum pernah diketahui keberadaannya dalam dunia biologi. Selama ini di Sumatera dikenal hanya ada dua jenis kera besar Orang Utan (Pongo pygmeus abellii) dan Siamang (Hylobates syndactilus) yang ciri fisiknya dan kebiasaannya sangat berbeda dengan Kera besar yang kami lihat saat pendakian jalur selatan Leuser tahun 1994 silam (Orang Utan berbulu merah dan hidup soliter, Siamang berbulu Hitam berukuran lebih kecil dari manusia memiliki sedikit ekor pendek dan biasanya hidup di pohon tinggi) . Sementara di dunia sendiri selain Orang Utan dan Siamang hanya dikenal empat spesies kera besar lain yaitu Simpanse (Pan troglodytes) dan 'sepupu'nya Bonobo (Pan paniscus) serta dua spesies Gorilla, Gorilla Barat (Gorilla gorilla) dan Gorilla Timur (Gorilla beringei) yang masing-masing memiliki beberapa sub-spesies sebagaimana Orang Utan Sumatera dan Orang Utan Kalimantan. Keempat spesies primata besar ini hidup di Afrika.
Aku sering membayangkan kalau saja waktu itu kami ssempat mendapatkan foto makhluk tersebut, itu tentu akan menjadi penemuan ilmiah yang luar biasa dan EJSL' 94 pun akan diingat bukan cuma sebagai misi pendakian biasa. Tapi tentu saja itu semua cuma khayalan semata.
Sampai beberapa tahun kemudian aku masih sering menceritakan tentang Kera besar yang kami temui itu ke banyak orang, termasuk kepada teman-teman di FFI (Fauna and Flora International), sebuah NGO Internasional yang bergerak di bidang lingkungan tempat aku pernah bergabung beberapa waktu sebagai volunteer, tapi tidak pernah ada yang menanggapi dengan serius. Ketika aku mencoba menuliskan artikel tentang ini dan mengirimkannya kepada koran lokal Serambi Indonesia, juga sama sekali tidak ditanggapi oleh redaktur harian itu.
Tahun 2002 ketika aku bergelut di bisnis kopi di Medan, dalam perjalanan pulang dari Sidikalang, di sekitar Bandar Baru dekat Berastagi. Aku melihat seorang perempuan kulit putih setengah baya sedang menunggu angkutan. Aku meminta temanku yang menyetir untuk menghentikan mobil dan mengajaknya naik. Perempuan ini bernama Regina Frey yang berasal dari Swiss, bekerja di sebuah LSM untuk penyelamatan Orang Utan. Mengetahui latar belakangnya, akupun dengan antusias menceritakan pengalamanku bertemu kera besar tahun 1994 itu. Tapi Regina ini sepertinya adalah tipikal kulit putih arogan yang merasa ras-nya sebagai ras paling unggul yang menganggap semua manusia berkulit coklat adalah manusia-manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia ilmiah. Ketika mendengar ceritaku dengan nada meremehkan dia balik bertanya "apa yang kamu lihat itu Gorilla?", "Atau Simpanse?", katanya. nadanya berbicara seolah-olah menuduh saya manusia pencari sensasi yang tidak dilengkapi pengetahuan biologi dasar, sehingga tidak tahu kalau Gorilla dan Simpanse adalah dua kera besar penghuni Afrika bukan Sumatera.
Begitulah, banyak misteri yang tersembunyi di Leuser mulai dari banyaknya jenis tumbuhan dan hewan yang belum dikenal sampai cerita setengah dongeng tentang 'Padang Seri Buleun', tempat terbuka yang merupakan tempat berkumpulnya hewan-hewan liar yang mati secara alami yang konon terdapat di Leuser. Yang konon katanya di tempat ini medan magnetnya begitu besar sehingga burung yang terbang melintas di atas padang ini pun akan jatuh karena tertarik oleh medan magnet yang besar itu.
Sebagaimana beragam tumbuhan dan hewan yang ada di Leuser yang sampai sekarang belum terungkap keberadaannya. Begitu juga dengan kawanan kera besar yang kami lihat pada tahun 1994 itu, sampai hari ini keberadaannya masih misteri.
Cuma aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang mengungkapkan keberadaan kera besar tersebut. Dan kalau itu terjadi, saya berharap kalau orang itu adalah orang yang berasal dari Nusantara ini, akan lebih baik lagi kalau orang itu adalah orang Aceh, apalagi kalau mereka adalah adik-adik saya sendiri dari UKM-PA Leuser Unsyiah.
Wassalam
Win Wan Nur
LL.165.US
Anggota UKM-PA Leuser Unsyiah
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Note : EJSL'94 adalah ekspedisi kedua yang dilakukan oleh UKM-PA Leuser Unsyiah dalam usaha untuk mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan
Anggota Tim Pendaki EJSL'94
1. Badrul Irfan (Mahasiswa FH, sekarang Staf BPKEL) dari DIKSAR VII---Sebagai Ketua Tim Pendakian.
2. Enjur Parhandi (Mahasiswa FE, Sekarang Pegawai Swasta di Lhokseumawe) dari DIKSAR IX ---Sebagai Navigator.
3. Win Wan Nur (Mahasiswa FT, Yang menulis artikel ini) anggota muda dari DIKSAR X --- Sebagai Co-Navigator sekaligus seksi perlengkapan.
4. Sofyan alias Ogek (Mahasiswa FT, Sekarang Dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Unsyiah) dari DIKSAR VII ---Sebagai Seksi Konsumsi.
5. Asih Budiati (Mahasiswa FKIP, Sekarang guru SMA di Aceh Barat) anggota muda dari DIKSAR X---Sebagai Seksi kesehatan.
6. Asep Bobby Janual Kapindi (Mahasiswa FP,Sekarang Staf Departemen Kehutanan Jawa Barat) dari DIKSAR IX --- Sebagai Seksi Dokumentasi.
7. Nourman Hidayat (Mahasiswa FH, Sekarang ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Besar) anggota muda dari DIKSAR X--- Sebagai seksi pencatatan.
8. Tri Susela (Mahasiswa FH, Sekarang Staf Pengadilan Agama Aceh Utara) anggota muda dari DIKSAR X ---Sebagai Seksi perlengkapan.
9. M. Tajuddin (Mahasiswa FT,Sekarang Staf Bappeda Aceh) dari DIKSAR IX --- Saya lupa fungsinya dalam pendakian sebagai apa.
10 Hamid Rambo (kabarnya sekarang sudah almarhum) Sebagai Pawang.
Keberangkatan kami untuk Ekspedisi kali ini sempat tertunda beberapa lama akibat kesulitan mendapatkan izin dari Polres Aceh Selatan yang wilayah hukumnya membawahi desa Peulumat, desa terakhir yang merupakan titik awal keberangkatan kami. Izin itu susah dikeluarkan akibat dari arogansi anak-anak Wanadri (kelompok pecinta alam yang dekat dengan kekuasaan) yang bersama anggota Brimob melakukan pendakian tiga bulan sebelum kami. Polisi tidak mengeluarkan izin bagi kami dengan alasan mereka menunggu ANEP (Analisa dan Evaluasi Pendakian) dari Wanadri. Untuk menilai layak tidaknya jalur selatan Leuser yang terletak di Bumi Aceh didaki oleh kelompok pecinta alam selain Wanadri yang berpusat di Jawa Barat itu.
Karena kekurangan anggota, pada pendakian kali ini kami sedikit melanggar aturan baku di organisasi kami yang hanya membolehkan anggota penuh untuk mengikuti ekspedisi besar. Pada pendakian ini selain anggota penuh, ekspedisi ini juga diikuti 4 anggota muda yang baru lulus pendidikan dasar yang belum sampai setahun menjadi anggota. Satu diantara anggota muda itu adalah aku sendiri.
Hari itu tanggal 12 agustus 1994, sudah dua belas hari kami berjalan menembus rapatnya hutan di jalur selatan Leuser tanpa kami tahu pasti kapan kami akan mencapai puncak yang kami tuju. Angka di altimeter menunjukkan kalau kami berada di ketinggian 2800 Meter di atas permukaan laut.
Tiga hari belakangan, perjalanan yang kamilakukan terasa sangat membosankan, karena selama tiga hari itu kami terus menyusuri punggungan gunung yang datar dan monoton tanpa mendaki bukit atau menuruni lembah. Hutan lebat berpohon besar sudah lama tidak lagi kami temui, hutan yang kami lewati saat itu adalah hutan tanaman perdu berdaun tebal selebar jari telunjuk, dengan ukuran batang maksimal sebesar betis kaki orang dewasa. Batang-batang pohon itu seringkali ditumbuhi lumut yang menutupi seluruh batang pohon. Ketika jalanan menanjak beberapa hari yangh lalu beberapa kali kami terkecoh oleh lumut ini. Saat jalan licin dan terjal mendaki, supaya tidak terpeleset, kami seringkali meraih pohon terdekat yang ada di samping kami sebagai pegangan. Tapi karena tertutup lumut, kami tidak tahu pohon apa yang kami raih. Kadang yang kami raih adalah pohon mati yang sudah membusuk, sehingga ketika kami jadikan pegangan langsung patah dan kamipun jatuh terjungkal. Yang paling sial kadang yang tumbuhi lumut itu ternyata rotan yang berduri, akibatnya ketika terpegang tangan kamipun langsung tertusuk. Sampai saat itu telapak tangan kami semua telah tercabik-cabik dan dipenuhi duri.
Lumut-lumut itu kadang juga kami manfaatkan untuk diperas airnya, karena di daerah punggungan seperti itu tidak ada sumber air. Selain lumut kami yang didera kehausan juga terkadang meminum air dari tumbuhan kantong semar, tanaman karnivora sejenis anggrek yang memiliki kantong berkatup, berisi air yang dipenuhi bangkai serangga. Air dari dalam kantong tanaman ini kami saring menggunakan kain yang biasa kami pakai menutupi kepala.
Medan seperti ini sudah kami jalani sejak dari lokasi peng-evakuasi-an jenazah almarhum Hendra Budhi, anggota tim pendaki dari Universitas Borobudur yang meninggal dunia dalam usahanya mencapai puncak Leuser pada musim pendakian tahun 1993. Saat itu Hendra meninggal pada hari ke 85 usaha pendakian mereka. Gemuruh suara dari beberapa air terjun besar yang keluar dari dinding selatan Leuser terasa begitu dekat di telinga, tapi kami semua tidak tahu, akan butuh waktu berapa hari bagi kami untuk bisa sampai ke sana.
Kami semua sudah dilanda rasa bosan yang luar biasa. Nourman, teman satu Diksar denganku sudah mulai sering diam dan berdiri kaku sendirian. Sementara Selo yang juga anggota yang satu Diksar denganku terserang disentri dan berat badannya turun.
Hari itu, tubuhku dan delapan anggota tim EJSL 94 lainnya dan juga pawang Hamid Rambo yang menemani kami berada dalam keadaan babak belur dalam arti yang sebenarnya. Sehari sebelumnya, beberapa waktu sebelum kami mencapai tempat Hendra Budhi menghembuskan nafas terakhir, kami melewati lahan terbuka yang dipenuhi kayu kering yang ditebang oleh tim evakuasi yang menjemput jenazah Hendra Budhi beserta seluruh anggota tim pendaki Universitas Borobudur yang tersisa. Di tempat itu Enjur, navigator tim kami yang berjalan paling depan tidak sengaja menginjak sarang tawon tanah yang kemudian mengamuk menyengat kami semua. Aku disengat di pergelangan bagian luar tangan kiri. Saat di sengat rasa sakitnya menghunjam sampai ke ubun-ubun, belum pernah seumur hidup aku merasakan rasa sakit disengat serangga sehebat itu. Tajuddin disengat di bagian luar telapak tangan antara jari tengah dan jari manis. Irfan yang saat itu menjadi ketua tim disengat di dagu sebelah kanan. Sementara Pawang Hamid Rambo disengat tepat di hidung. Enjur sendiri si biang kerok selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Begitu hebatnya sengatan tawon tanah itu sehingga sampai sekarang bekas sengatannya tetap meninggalkan bekas luka parut bulat sebesar biji kedelai di pergelangan kiriku. Waktu itu aku masih lebih beruntung dibanding teman-temanku yang lain, karena di sengat di tangan kiri aku tidak terlalu perlu mencucinya, sebab tanpa kami tahu ternyata bekas sengatan itu tidak boleh terkena air. Akibat mencuci tangannya dengan air, tangan Tajuddin bengkak besar. Irfan yang wajahnya terkena air saat mencuci muka, membuat wajahnya yang sudah ditumbuhi jenggot lebat menjadi tidak simetris alias besar sebelah dan matanya tampak selalu merah. Sementara pawang Hamid Rambo wajahnya terlihat lucu dengan hidung yang membesar seperti pinokio.
Sekitar pukul 4 sore lewat, kami keluar dari rimbunnya hutan perdu tersebut. Kami memasuki sebuah tempat terbuka yang menimbulkan kesan mistis. Tempat itu ditumbuhi rumput pendek yang seolah dirawat dengan baik seperti di lapangan golf. Di beberapa bagian ditumbuhi bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan putih. Suasana mistis ini semakin terasa karena dinginnya udara ditambah lagi saat kami tiba di tempat itu, seluruh tempat itu perlahan-lahan di selaputi kabut yang mulai turun.
Bersama Tajuddin, aku adalah anggota tim pertama yang mencapai tempat itu.
Melihat suasana seperti itu, kepalaku terasa mengembang dan bulu-bulu ditubuhku merinding, karena aku langsung teringat berbagai cerita dan dongeng tentang Leuser dan hutan-hutan di Aceh yang ditinggali berbagai makhluk yang tak dikenal. Dulu waktu kecil ayahku sering bercerita pengalamannya bertemu dengan orang bunian, manusia gaib yang tinggal di hutan-hutan yang kadang-kadang juga menampakkan diri. Ayahku pernah bercerita kalau orang bunian ini seperti juga manusia biasa, berladang dan menanam berbagai tanaman rempah di hutan. Menurut ayahku, terkadang ketika melewati hutan kita bisa melihat ladang mereka, tapi ketika kembali di hari lain di tempat itu tidak ada apa-apa hanya belantara biasa. Aku juga teringat cerita tentang 'Mantee', manusia kate yang konon tinggal di hutan-hutan Aceh yang memiliki telapak kaki dengan tumit terbalik dibanding manusia biasa sehingga ketika orang melihat jejak telapak kaki mereka, yang terlihat seolah-olah mereka berjalan mudur. Beberapa pemburu di kampung saya konon pernah melihat makhluk bernama 'Mantee' ini, bahkan konon pernah ada yang sampai menikah dengan salah satu makhluk itu. Berdasarkan cerita seperti itulah pada tahun 1985 Presiden Soeharto melalui departemen sosial Aceh Tengah pernah menginstruksikan untuk mencari kebenaran keberadaan 'Mantee' ini. Tapi tidak pernah berhasil ditemukan sampai hari ini.
Dalam suasana dan pikiran seperti ini. Tiba-tiba Gusrak...! Aku dan Tajuddin dikejutkan dengan suara bergemuruh dari pohon-pohon di depan kami yang tumbuh di tebing terjal yang diselimuti kabut. Kami melihat satu rombongan kera besar tak berekor berwarna abu-abu sedang berlarian melintasi pohon-pohon itu. Beberapa diantara kera-kera tersebut memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari kami berdua. Aku dan Tajuddin yang kelelahan dan tubuh babak belur langsung balik badan dan entah mendapat tenaga dari mana, dengan ransel seberat 30 kilogram di punggung kami bisa berlari kencang ke arah anggota Tim yang lain. Tapi dalam kepanikan seperti itu aku masih sempat berteriak kepada Bobby yang bertugas sebagai seksi dokumentasi untuk memfoto makhluk tersebut.
Tapi karena kamera disimpan di ransel, Bobby harus menurunkannya lagi dan mencari kamera semua makhluk itu pun keburu menghilang. Karena sepertinya kera-kera besar itu pun sama takutnya dengan kami semua. Maklumlah selama ini makhluk bernama manusia yang pernah datang ke tempat itu baru kami dan Tim gabungan Wanadri-Brimob yang mendaki jalur selatan Leuser 3 bulan sebelum kami. Tapi sepertinya ketika mereka sampai di tempat itu, makhluk-makhluk tersebut tidak ada di sana.
Setelah keadaan tenang, karena hari sudah sore dan sudah waktunya untuk membuka tenda dan kebetulan di tempat ini ada tempat yang ideal untuk mendirikan tenda, kami pun memutuskan untuk beristirahat di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Camp ini kemudian kami namai camp nyaman.
Dua hari setelah itu kami mencapai puncak Leuser sekaligus menjadikan Asih Budiati,teman satu Diksar denganku yang merupakan satu-satunya perempuan di tim kami sebagai perempuan pertama yang mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan.
Ketika kami sudah turun dan kembali ke peradaban sepertinya seluruh anggota tim sudah melupakan kejadian bertemu rombongan kera besar tersebut, tapi aku tidak pernah bisa menghilangkan kejadian itu di kepalaku sampai hari ini.
Kera-kera besar itu menarik perhatianku karena kutahu kera jenis itu belum pernah diketahui keberadaannya dalam dunia biologi. Selama ini di Sumatera dikenal hanya ada dua jenis kera besar Orang Utan (Pongo pygmeus abellii) dan Siamang (Hylobates syndactilus) yang ciri fisiknya dan kebiasaannya sangat berbeda dengan Kera besar yang kami lihat saat pendakian jalur selatan Leuser tahun 1994 silam (Orang Utan berbulu merah dan hidup soliter, Siamang berbulu Hitam berukuran lebih kecil dari manusia memiliki sedikit ekor pendek dan biasanya hidup di pohon tinggi) . Sementara di dunia sendiri selain Orang Utan dan Siamang hanya dikenal empat spesies kera besar lain yaitu Simpanse (Pan troglodytes) dan 'sepupu'nya Bonobo (Pan paniscus) serta dua spesies Gorilla, Gorilla Barat (Gorilla gorilla) dan Gorilla Timur (Gorilla beringei) yang masing-masing memiliki beberapa sub-spesies sebagaimana Orang Utan Sumatera dan Orang Utan Kalimantan. Keempat spesies primata besar ini hidup di Afrika.
Aku sering membayangkan kalau saja waktu itu kami ssempat mendapatkan foto makhluk tersebut, itu tentu akan menjadi penemuan ilmiah yang luar biasa dan EJSL' 94 pun akan diingat bukan cuma sebagai misi pendakian biasa. Tapi tentu saja itu semua cuma khayalan semata.
Sampai beberapa tahun kemudian aku masih sering menceritakan tentang Kera besar yang kami temui itu ke banyak orang, termasuk kepada teman-teman di FFI (Fauna and Flora International), sebuah NGO Internasional yang bergerak di bidang lingkungan tempat aku pernah bergabung beberapa waktu sebagai volunteer, tapi tidak pernah ada yang menanggapi dengan serius. Ketika aku mencoba menuliskan artikel tentang ini dan mengirimkannya kepada koran lokal Serambi Indonesia, juga sama sekali tidak ditanggapi oleh redaktur harian itu.
Tahun 2002 ketika aku bergelut di bisnis kopi di Medan, dalam perjalanan pulang dari Sidikalang, di sekitar Bandar Baru dekat Berastagi. Aku melihat seorang perempuan kulit putih setengah baya sedang menunggu angkutan. Aku meminta temanku yang menyetir untuk menghentikan mobil dan mengajaknya naik. Perempuan ini bernama Regina Frey yang berasal dari Swiss, bekerja di sebuah LSM untuk penyelamatan Orang Utan. Mengetahui latar belakangnya, akupun dengan antusias menceritakan pengalamanku bertemu kera besar tahun 1994 itu. Tapi Regina ini sepertinya adalah tipikal kulit putih arogan yang merasa ras-nya sebagai ras paling unggul yang menganggap semua manusia berkulit coklat adalah manusia-manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia ilmiah. Ketika mendengar ceritaku dengan nada meremehkan dia balik bertanya "apa yang kamu lihat itu Gorilla?", "Atau Simpanse?", katanya. nadanya berbicara seolah-olah menuduh saya manusia pencari sensasi yang tidak dilengkapi pengetahuan biologi dasar, sehingga tidak tahu kalau Gorilla dan Simpanse adalah dua kera besar penghuni Afrika bukan Sumatera.
Begitulah, banyak misteri yang tersembunyi di Leuser mulai dari banyaknya jenis tumbuhan dan hewan yang belum dikenal sampai cerita setengah dongeng tentang 'Padang Seri Buleun', tempat terbuka yang merupakan tempat berkumpulnya hewan-hewan liar yang mati secara alami yang konon terdapat di Leuser. Yang konon katanya di tempat ini medan magnetnya begitu besar sehingga burung yang terbang melintas di atas padang ini pun akan jatuh karena tertarik oleh medan magnet yang besar itu.
Sebagaimana beragam tumbuhan dan hewan yang ada di Leuser yang sampai sekarang belum terungkap keberadaannya. Begitu juga dengan kawanan kera besar yang kami lihat pada tahun 1994 itu, sampai hari ini keberadaannya masih misteri.
Cuma aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang mengungkapkan keberadaan kera besar tersebut. Dan kalau itu terjadi, saya berharap kalau orang itu adalah orang yang berasal dari Nusantara ini, akan lebih baik lagi kalau orang itu adalah orang Aceh, apalagi kalau mereka adalah adik-adik saya sendiri dari UKM-PA Leuser Unsyiah.
Wassalam
Win Wan Nur
LL.165.US
Anggota UKM-PA Leuser Unsyiah
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Note : EJSL'94 adalah ekspedisi kedua yang dilakukan oleh UKM-PA Leuser Unsyiah dalam usaha untuk mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan
Anggota Tim Pendaki EJSL'94
1. Badrul Irfan (Mahasiswa FH, sekarang Staf BPKEL) dari DIKSAR VII---Sebagai Ketua Tim Pendakian.
2. Enjur Parhandi (Mahasiswa FE, Sekarang Pegawai Swasta di Lhokseumawe) dari DIKSAR IX ---Sebagai Navigator.
3. Win Wan Nur (Mahasiswa FT, Yang menulis artikel ini) anggota muda dari DIKSAR X --- Sebagai Co-Navigator sekaligus seksi perlengkapan.
4. Sofyan alias Ogek (Mahasiswa FT, Sekarang Dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Unsyiah) dari DIKSAR VII ---Sebagai Seksi Konsumsi.
5. Asih Budiati (Mahasiswa FKIP, Sekarang guru SMA di Aceh Barat) anggota muda dari DIKSAR X---Sebagai Seksi kesehatan.
6. Asep Bobby Janual Kapindi (Mahasiswa FP,Sekarang Staf Departemen Kehutanan Jawa Barat) dari DIKSAR IX --- Sebagai Seksi Dokumentasi.
7. Nourman Hidayat (Mahasiswa FH, Sekarang ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Besar) anggota muda dari DIKSAR X--- Sebagai seksi pencatatan.
8. Tri Susela (Mahasiswa FH, Sekarang Staf Pengadilan Agama Aceh Utara) anggota muda dari DIKSAR X ---Sebagai Seksi perlengkapan.
9. M. Tajuddin (Mahasiswa FT,Sekarang Staf Bappeda Aceh) dari DIKSAR IX --- Saya lupa fungsinya dalam pendakian sebagai apa.
10 Hamid Rambo (kabarnya sekarang sudah almarhum) Sebagai Pawang.
Selasa, 20 Oktober 2009
Xenophanes, Aceh dan Penyembah Berhala
The Ethiops say that their gods are flat-nosed and black, While the Thracians say that theirs have blue eyes and red hair.
Yet if cattle or horses or lions had hands and could draw, And could sculpt like men, then the horses would draw their gods Like horses, and cattle like cattle; and each they would shape Bodies of gods in the likeness, each kind, of their own. (Xenophanes)
Tulisan di atas merupakan kutipan dari ucapan Xenophanes, seorang filsuf yang hidup pada tahun 570 – 480 SM di suatu masa di Yunani yang disebut zaman Elea, satu setengah milenium sebelum kita semua lahir.
Di zaman Xenophanes hidup, masyarakat di tempatnya tinggal gemar sekali melakukan aktifitas dan ritual keagamaan. Tapi aktifitas keagamaan yang dipraktekkan orang pada zaman itu lebih dipengaruhi oleh rasa ketakutan yang besar terhadap Tuhan-Tuhan yang suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman, bukan karena dorongan rasa spiritual.
Pada masa itu orang-orang Yunani menyembah banyak Tuhan dalam bentuk berhala-berhala yang karakternya dibuat berdasarkan gambaran yang berasal dari imajinasi dua pujangga besar bangsa mereka, Homer dan Hesiod.
Di antara Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod itu ada yang bernama Zeus, Tuhan tertinggi yang diantaranya memiliki sifat playboy suka mengambil anak gadis dan istri orang seenaknya. Ada Hera ibu tiri yang pendendam, ada Artemis (Diana) saudara kembar Apollo yang cantik dan angkuh yang dengan semena-mena bisa mengutuk jadi batu pemuda yang kebetulan melihat dan mengagumi kecantikannya.
Selain kisah para penyembah berhala yang hidup dalam masyarakat Yunani ini, sejak kecil saya sering membaca berbagai kisah tentang para penyembah berhala dengan berbagai tempat sebagai latar belakang berdasarkan cerita dari bermacam kepercayaan dan agama.
Ada satu fakta menarik yang saya lihat setiap kali saya membaca kisah-kisah para penyembah berhala ini. Yaitu adanya kesamaan latar belakang situasi sosial dan moralitas dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat penyembah berhala seperti ini. Ketika saya amati dalam kisah-kisah yang saya baca, bahwa di mana pun tempatnya dan di zaman apapun terjadinya. Di sana selalu terdapat masyarakat yang jatuh ke dalam situasi sosial yang dipenuhi rasa frustasi karena ketidak adilan yang merata di mana-mana. Masyarakat penyembah berhala selalu digambarkan sebagai masyarakat yang terjebak dalam suasana dekadensi moral yang parah.
Dari kisah-kisah yang saya baca, selalu diceritakan bahwa di tempat-tempat yang didiami para penyembah berhala ini, konsep-konsep non-kemanusiaan mekar dan berkembang biak dengan suburnya. Segala kejelekan dan keburukan akan menjulang. Perbuatan menipu akan menghasilkan kekayaan, bersikap munafik dan bermuka dua akan menguntungkan. Dan bagi saya, yang paling menarik dari semuanya adalah; berhala-berhala yang disembah sebagai Tuhan itu bukan kebetulan selalu hadir sebagai sosok yang sangat pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Dalam masyarakat seperti ini, setiap terjadi masalah atau kejadian yang tidak menyenangkan, dan harus ada pihak yang di salahkan. Maka yang salah selalu rakyat jelata, bukan penguasa.
Bagi yang beragama Islam silahkan baca kisah nabi-nabi mulai dari Ibrahim, Musa sampai Muhammad yang semuanya dikisahkan berjuang menentang perilaku penyembahan berhala. Di sana anda akan melihat semua nabi-nabi itu hadir dalam masyarakat yang mengalami situasi sosial dan suasana moral seperti yang saya gambarkan di atas.
Bagi penganut agama lain silahkan lihat latar belakang sosial kemunculan Siddharta Gautama yang di kemudian hari dikenal sebagai Buddha. Dalam kepercayaan Hindu dikenal sosok Khrisna yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Dewa wisnu yang selalu hadir di setiap masa ketika masyarakat terjatuh dalam suasana sosial seperti yang saya gambarkan di atas yang terjadi karena masyarakat dikuasai para penyembah berhala.
Kemudian saya juga mengamati dalam kisah-kisah itu. Ada satu keseragaman karakter dari semua penyembah berhala di segala agama, tempat dan zaman. Dalam kisah-kisah itu mereka selalu digambarkan sebagai orang-orang keras kepala yang malas berpikir dan tidak suka diingatkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menolak keras segala ide yang menawarkan kejernihan. Para penyembah berhala selalu digambarkan sebagai orang-orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Mereka selalu menolak keras usaha untuk menrekonstruksi ide-ide yang ada dalam kepercayaan nenek moyang mereka karena kurang lebih mereka percaya, bahwa nenek moyang merekalah generasi terbaik umat manusia yang pernah ada.
Dalam kisah para penyembah berhala, orang-orang yang menawarkan kejernihan semacam Xenophanes, Buddha, Khrisna dan para nabi-nabi dalam kisah-kisah Islam adalah jenis manusia yang paling mereka musuhi dan mereka tentang. Para penguasa menentang orang-orang yang menawarkan kejernihan karena keberadaan mereka jelas mengganggu hegemoni kekuasaan. Sementara masyarakat banyak memusuhi mereka, karena masyarakat dikuasai oleh rasa ketakutan terhadap kekuasaan tak terbatas yang (dalam imajinasi mereka) dimiliki oleh sang berhala. Dalam berbagai kisah nabi yang saya baca, bahkan kadang masyarakat yang dikuasai ketakutan terhadap imajinasi yang mereka ciptakan sendiri itu, tidak segan untuk membunuhi para nabi yang menawarkan kejernihan.
Kembali ke kutipan yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Kutipan tersebut di atas adalah ucapan yang dikeluarkan oleh Xenophanes sebagai bentuk kritik dan perlawanan sekaligus sebagai sebuah bentuk serangan terhadap situasi aktual yang terjadi di Yunani pada zaman antik itu yang keadaanya kurang lebih sama seperti yang saya gambarkan di atas. Ketika itu masyarakat di zaman Xenophanes hidup tersebut terjatuh dalam situasi sosial yang kacau dan penuh ketidak adilan dan mengalami dekadensi moral yang parah.
Waktu berlalu, peradaban meningkat pesat. Melalui teknologi, manusia sekarang sudah bisa mengatasi segala hal yang dulu menjadi kelemahannya. Untuk mengatasi kendala jarak dalam geografi, manusia menciptakan berbagai moda transportasi yang memungkinkan manusia untuk menjelajahi tempat manapun di muka bumi. Untuk komunikasi bahkan lebih canggih lagi, sekarang, bahkan pada saat saya menulis inipun saya dapat berkomunikasi dengan teman saya yang berjarak ribuan mil jauhnya. Yang berada entah di sudut dan pelosok mana planet ini.
Tapi perubahan yang saya gambarkan di atas hanyalah perubahan secara fisik semata. Secara spiritual, manusia masih makhluk yang itu-itu juga. Persis seperti manusia yang hidup di zaman Xenophanes, di zaman nabi-nabi dan zaman Buddha yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari kecenderungan menyembah berhala.
Dalam masa modern ini manusia yang menyembah Tuhan yang secara fisik dibentuk seperti dirinya memang berkurang banyak jumlahnya. Tapi Manusia tetap tidak bisa melepaskan diri dari kecenderungan untuk menyembah Tuhan yang cenderung dibuat mirip dengan dirinya.
Seringkali Tuhan ciptaan Manusia itu dipanggil dengan nama yang sama, tapi perilaku, sifat dan temperamenNya selalu menyesuaikan diri dengan perilaku, sifat dan temperamen orang yang menuhankanNya.
Contohnya ada di sekitar kita sendiri. Kita lihat misalnya di lingkungan orang fanatik, radikal dan fundamentalis dari agama manapun. Di lingkungan seperti ini, Tuhan yang mereka sebut dengan berbagai nama selalu kita lihat hadir dengan karakter yang persis sama. Rasis, sombong, keras kepala, tidak konsisten dan bermuka dua yang selalu membenarkan apapun tindakan kaum fundamentalis yang meyakiniNya. Tidak peduli sebesar apapun kerusakan yang ditimbulkan oleh pemujaNya itu.
Sifat dan karakter Tuhan yang dipuja dan disembah oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan juga sama, selalu hanya mementingkan kepentingan pemujanya saja. Gampang sekali marah dan emosi terhadap setiap kesalahan kecil yang dilakukan rakyat jelata dan menutup mata terhadap apapun yang dilakukan oleh penguasa.
Ketika membaca kembali kisah-kisah para penyembah berhala itu, tiba-tiba sayapun merasakan adanya kesamaan situasi, suasana dan latar belakang sosial di negeri dan zaman itu dengan di negeri dan zaman saya hidup sekarang.
Lalu, apakah itu berarti kita sedang hidup dalam masyarakt penyembah berhala?...Jawabnya 'Tidak' jika definisi BERHALA yang kita gunakan adalah definisi berdasarkan penjelasan wikipedia ini http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala
Tapi kalau kita definisi penyembah berhala kita pahami sesuai dengan esensinya yaitu sebagai perilaku manusia yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Kemudian pemahaman itu kita kaitkan dengan situasi sosial yang ada sekarang di sekitar kita. Maka kita segera melihat, bagaimana mesranya pemuka agama dengan penguasa yang bersama-sama memusuhi rakyat jelata dan bagaimana dekadensi moral yang diakibatkannya. Kalau itu kita jadikan acuan. Ya kita memang hidup di lingkungan penyembah berhala.
Contoh perilaku yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata semacam ini misalnya dengan jelas saya saksikan beberapa waktu yang lalu melalui sebuah tulisan di status facebook milik salah seorang yang terdaftar sebagai teman saya. Teman saya ini bernama Rusda Harti Binti Djauhar yang memiliki basis pendidikan tinggi dari fakuktas Teknik jurusan Teknik Sipil. Dia adalah puteri seorang pejabat tinggi di kabupaten Aceh Tengah tempat kelahiran saya. Tulisan dari perempuan berjilbab yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut nilai-nilai keagamaan secara disiplin kaku dan ketat ini berbunyi "Mungkin Allah sengaja membakar bukit-bukit di sekitar bukit Di pinggir laut tawar karena Allah marah bukit-bukit itu selama ini digunakan untuk berkhalwat".
*Nama teman saya ini sengaja saya tulis dengan lengkap untuk memenuhi permintaan yang bersangkutan sendiri. Alasannya karena katanya dia ingin numpang terkenal kalau tulisan ini nantinya banyak dibaca orang.
Sebagai orang Islam yang sejak kecil diajarkan untuk memperlakukan Tuhan sebagai suatu entitas yang suci, yang mengucapkan nama Tuhan seperti yang dia sebutkan dengan vulgar ini pun hanya saya lakukan ketika saya melakukan aktivitas religius saja, hanya ketika secara spiritual saya merasa sedang melakukan kontak pribadi denganNya. Terus terang sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman dan terganggu menyaksikan nama Tuhan yang saya anggap suci itu dihamburkan dan diobral sedemikian vulgar dan murahnya.Tapi karena saya tidak memiliki kekuasaan yang bisa melarang mereka untuk melakukan itu dan menurut saya pun urusan dengan Tuhan adalah urusan pribadi bagi orang-orang yang mempercayainya, biarlah urusan obral-mengobral namaNya itu menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan yang kesucian namaNya telah mereka obral dengan harga murah itu.
Sebagai orang waras yang terbiasa menggunakan otak yang dianugerahkan Tuhan kepada saya sesuai fungsi dan kodratnya yaitu untuk BERPIKIR, maka saya pun langsung dapat melihat tidak logisnya pernyataan teman saya ini. Apa hubungannya berkhalwat dengan bukit yang terbakar?. "Bukankah di musim kemarau seperti sekarang ini, saat rumput-rumput mengering dan rawan terbakar?", pikir saya. Bagi saya, ucapan teman saya di status facebook miliknya sebagaimana saya ceritakan di atas jelas adalah sebuah ucapan yang tidak memiliki basis logika, spekulatif, tidak konsisten serta diskriminatif.
Kejadian kebakaran adalah hal yang lumrah terjadi di perbukitan yang mengelilingi Laut Tawar. Sejak tahun 1983 saya tinggal di kaki salah satu bukit itu. Sepanjang ingatan saya, tidak pernah dalam satu tahun pun terjadi bukit tersebut tidak terbakar di musim kemarau.
Jadi apa yang dapat saya baca dari tulisan di atas adalah yang bersangkutan sangat membenci aktifitas berkhalwat di atas segala perbuatan buruk lainnya. Dia percaya bahwa perbuatan itu sangat dibenci Tuhan, karena sejak kecil ke dalam kepalanya memang selalu dijejalkan cerita tentang Tuhan yang tidak suka melihat orang berkhalwat. Ke dalam kepalanya juga ditanamkan bahwa Tuhan yang sama suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman. Maka seperti para penyembah berhala manapun yang hidup di zaman apapun. Sebagaimana halnya orang Yunani pada masa Xenophanes hidup yang selalu ketakutan terhadap Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod, teman saya yang bernama Rusda ini pun demikian. Melihat bukit yang terbakar dia ketakutan sendiri. Dia percaya bahwa itu terjadi karena Tuhannya yang pemarah yang selalu hadir dalam imajinasinya karena sejak kecil selalu digambarkan demikian oleh keluarganya itu. Maka tidak heran kalau dia pun berpikir Tuhan yang dia percaya itu langsung gelap mata melihat adanya orang berkhalwat dan tanpa ampun dan tanpa perlu bertanya 'kenapa?' Tuhan itupun menjatuhkan hukuman.
Seperti kata Xenophanes, kalaulah Kuda, singa dan sapi punya tangan, bisa menggambar dan memahat maka merekapun akan membuat Tuhan yang identik dengan jenisnya.
Melalui pernyataan teman saya tersebut, saya pun segera melihat kalau Tuhan (yang namanya dia sebut persis seperti nama Tuhan yang saya sembah dalam setiap sujud saya) dalam imajinasi teman saya ini adalah Tuhan yang dibuat persis seperti 'jenis' teman saya ini. Tuhan teman saya ini memiliki karakter yang persis sama dengan Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang hidup di segala tempat dan zaman.
Ada hal lain yang lebih menarik di balik kemarahan Tuhan yang dipercayai teman saya ini. Di tempat di mana Tuhan dalam imajinasi teman saya ini membakar bukit itu, ada penguasa yang menjual mesjid dan rumah anak yatim. Di sana ada danau air tawar terbesar di Aceh tapi rakyatnya kehausan karena kekurangan air bersih. Di sana air danau yang menjadi tumpuan hidup banyak orang terus berkurang debit airnya tanpa ada tindakan kongkret apapun dari penguasa.
Karena anak yatim yang mesjid dan rumahnya dijual penguasa, orang yang kehausan karena kekurangan air bersih dan orang yang megap-megap terancam kehilangan mata pencaharaian akibat berkurangnya debit air danau bukanlah orang yang 'Sejenis' dengan teman saya ini. Maka Tuhan yang disembah oleh teman saya ini pun sama sekali menutup mata terhadap itu semua. Tuhan yang disembah oleh teman saya ini benar-benar IMPOTEN ketika berhadapan dengan penguasa. Persis seperti Tuhan-Tuhan yang disembah oleh para penyembah berhala.
Ketika saya membaca tulisan teman saya tersebut, secara naluriah saya spontan saya mengingatkan. Tapi sebagaimana halnya para penyembah berhala di segala zaman. Teman saya inipun resistant. Dengan segala alasan yang dia punya, dari yang mencoba buang badan sampai sekonyol-konyolnya sebuah alasan dia keluarkan. Pokoknya baginya kebenaran sejati hanya ada dalam apa yang dikatakan nenek moyang yang turun-temurun diajarkan dalam keluarga, di luar itu sejernih apapun yang ditawarkan, itu adalah bisikan setan.
Sebagaimana halnya semua daerah di Aceh yang menerapkan syari'at islam. Di daerah ini pun tentu saja ada ulama, dengan wadah MPU sebagai pemberi masukan dan pandangan syari'ah tertinggi bagi para penguasa.
Tapi sebagaimana layaknya di setiap negeri yang dikuasai para penyembah berhala, dimana para pemuka agama berkolaborasi dengan apik bersama penguasa memusuhi rakyat jelata, maka ulama di negeri inipun sama. Ketika terjadi kasus penjualan mesjid dan rumah anak yatim itu misalnya. Alih-alih seperti Xenophanes, para nabi dan orang-orang besar yang hidup di zaman yang dipenuhi para penyembah berhala yang selalu berada di garis terdepan saat berhadapan dengan penguasa lalim yang suka bertindak semena-mena. Ulama yang paling berpengaruh di daerah ini yang menjabat sebagai ketua MPU, melalui sebuah wawancara yang diterbitkan koran terbesar di Aceh, malah dengan lincahnya mengemukakan dalil-dalil yang dikutip dari teks-teks kitab suci, untuk mempengaruhi masyarakat supaya membenarkan perilaku dan tindakan sang penguasa.
Di tingkat administratif yang lebih tinggi, di tingkat provinsi juga sama, malah lebih parah lagi. Daerah ini mengalami banyak sekali masalah yang menghantam rakyat jelata. Di sini ada penebangan hutan tak terkendali, ada korupsi luar biasa besar yang memangsa korban tsunami, ada banyak pelanggar HAM yang tidak pernah kunjung diadili. Padahal kalau Tuhan memang maha tahu dan maha kuasa, Tuhan tentu tahu itu semua dan tentu tahu siapa yang paling bertanggung jawab di sana.
Tapi seperti Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang tidak penah menaruh minat kepada kesalahan yang disebabkan oleh pemegang kuasa, Tuhan di negeri ini pun sama saja. Dia lebih berminat mengurusi perempuan yang tidak berjilbab,mengurusi orang berkhalwat dan yang terbaru mengurusi masalah jinayat.
Di Tingkat Nasional, juga sama.
Di negara ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh rakyat jelata. Korupsi memangsa semua potensi negara ini untuk bisa mensejahterakan rakyatnya. Orang yang dipilih menjaddi wakil melakukan politik dagang sapi untuk kepentingan kelompoknya. Jika di Cina pelaku korupsi dianccam dengan hukuman mati, di sini sebaliknya orang yang melawan Korupsi lah yang diancam dengan hukuman mati. Rakyat di negara ini hanya menjadi pelengkap penderita.
Lalu bagaimana rekasi Tuhan yang disembah mayoritas penduduk negeri ini terhadap situasi aktual yang ada?
Melalui manusia-manusia yang secara resmi ditasbihkan menjadi wakilNya di bumi rupanya Tuhan sama sekali tidak tertariuk mengurusi itu semua. Tuhan justru lebih gusar melihat banyaknya pengemis di kota-kota. Tapi rasa gusar Tuhan inipun bukan ditujukan kepada penguasa yang membuat kebijakan yang tidak tepat yang membuat orang terpaksa mengemis. Sebaliknya yang menjadi sasaran kemarahan Tuhan adalah orang-orang yang terpaksa mengemis itu. Tanpa merasa perlu lagi untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi pengemis?, tanpa ampun Tuhan ini langsung mengharamkan perilaku mengemis itu.
Saat fenomena Golput merebak juga begitu. Tuhan yang sama tanpa ampun langsung mengharamkan Golput. Tuhan ini juga sama sekali tidak merasa perlu untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi Golput?'. Apakah itu karena kegatalan pribadi atau karena orang-orang sudah muak melihat perilaku para politisi yang dengan kekuasaan di tangan melakukan politik dagang sapi yang menggunakan kekuasaan politik untuk memperkaya diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama sekali tidak pernah eksis di dalam benak Tuhan-tuhan semacam ini. Pokoknya kalau ada yang tidak menyenangkan hatinya, langsung yang disalahkan adalah rakyat jelata.
Pendeknya, situasi di negeri ini benar-benar IMMORAL, persis sebagaimana yang terjadi pada masyarakat penyembah berhala di zaman baheula
Dalam situasi IMMORAL seperti ini, ketika pemuka agama bersatu padu dengan penguasa yang tidak mau tahu apalagi mengakomodir kegelisahan yang berkembang dalam masyarakatnya, membuat masyarakat yang tinggal di tempat ini semakin terpuruk baik secara ekonomi maupun harga diri yang melahirkan banyak manusia-manusia frustasi.
Orang-orang yang berada dalam situasi frustasi semacam ini mudah sekali terpengaruh jika ada alternatif instan untuk mengeluarkannya dari situasi yang dia alami. Secara alamai, dalam masyarakat semacam ini muncul orang-orang yang menawarkan kenikmatan yang dapat diperoleh secara instant, di dalamnya termasuk kenikmatan spiritual. Sehingga dalam masyarakat seperti ini berhamburanlah berbagai tawaran spiritulitas instant. Entah itu bernama ESQ, atau ustadz-ustadz komersil yang memberikan pencerahan nurani yang setiap berbicara meminta tarif tinggi. Tapi semua itu adalah kenikmatan spiritual berbayar.
Lalu dalam masyarakat seperti ini bagaimana nasib orang-orang pinggiran di negeri ini yang megap-megap mencari sesuap nasi yang jelas-jelas tidak mampu membeli kenikmatan spiritual instant berbayar semacam itu?.
Tidak perlu khawatir, mereka juga punya saluran pelepasan sendiri. Kepada orang semacam ini akan ada orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant. Tapi bedanya untuk masyarakat kelas ini, kenikmatan isntant itu hanya bisa didapatkan setelah mati. Dengan bertemu orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun terpuaskan dahaga spiritualnya. Maka biasanya setelah bertemu orang yang menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun mulai berkhayal kenikmatan apa yang akan dia dapatkan sesudah mati. Setiap waktu kerjanya membayangkan surga dengan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan bidadari-bidadari yang lebih cantik dari Agnes Monica atau Luna Maya. Dalam pikiran mereka, khayalan indah tersebut seolah tampak nyata dan begitu mudah dijangkau di depan mata. Lalu dengan optimisme yang besar seperti optimisme yang dimiliki para pemasang nomor togel, merekapun akan mengejarnya dengan suka cita.
Lalu apakah semua penghuni negeri ini adalah orang-orang pathetic semacam itu?. Tentu saja tidak. Sebagaimana yang terjadi di setiap zaman ketika masyarakat terjatuh ke dalam kesesatan selalu ada orang-orang yang datang menawarkan kejernihan.
Contoh paling dekat ada di Aceh, negeri asal saya sendiri.
Pasca tsunami, Aceh negeri saya yang dulu dibuat tertutup oleh penguasa tiba-tiba jadi bebas terbuka. Orang-orang Aceh yang dulu merasa pernah berkunjung ke Medan saja sudah demikian hebatnya. Kini tiba-tiba menjadi akrab dengan Iran, mesir, Perancis, Inggris, Belanda, Jerman sampai Amerika. Akibatnya di Aceh pun bermunculan orang waras dalam jumlah yang luar biasa banyaknya.
Tapi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kegelapan yang merasa silau dengan datangnya cahaya juga tidak kurang jumlahnya. Mereka merasa nyaman dan memilih bertahan dalam kegelapan sebagaimana biasanya. Orang jenis kedua ini mempertahankan mati-matian kegelapan yang telah mereka peluk dalam waktu yang lama. Ketika ancaman dari orang-orang waras yang datang untuk memberi penerangan semakin nyata, merekapun semakin keras mempertahankan kegelapan yang menurut mereka akan membuat mereka nyaman selamanya.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca Orang-orang waras seperti yang saya sebut di atas dapat menyaksikan dengan jelas kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas seperti yang dilakukan para penyembah berhala di zaman baheula. Orang-orang waras ini dengan kritis mempertanyakan dan melakukan perlawanan terhadap segala macam aktifitas "penyembahan berhala" di negeri saya dengan segala macam argumen yang penuh kejernihan.
Sebagaimana yang diceritakan dalam semua kisah tentang penyembah berhala yang menggambarkan karakter mereka sebagai orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Karena mereka percaya nenek moyang merekalah generasi terbaik yang pernah ada. Orang yang hidup di zaman facebook dan Twitter inipun ya sama saja. Kalau ada yang mengingatkan, kalau ada yang menawarkan kejernihan mereka akan dengan lantang berkata, kebenaran itu hanya ada di zaman nenek moyangnya. Semua kebenaran di dunia harus merujuk ke sana, karena para nenek moyang itulah generasi terbaik yang pernah ada.
Padahal Ali, sepupu sekaligus menantu Muhammad yang oleh orang Islam sebagai nabi terakhir pernah menyatakan kata-kata yang dikeluarkan oleh orang-orang semacam itu adalah "kata indah yang bertujuan sesat". Sejarah kemudian mencatat Ali Bin Abi Thalib, pemuda pertama yang memeluk Islam ini terbunuh oleh demonstran yang mengatasnamakan "penerapan ayat Tuhan" (baca : Jargon Indah untuk Agenda Busuk. Agus Maftuh Abegebriel; Jawa Pos 28/9/2009)
Begitulah, sebagaimana hal yang dialami orang-orang waras di masa-masa sebelumnya. Orang-orang waras di negeri saya, yang rasa intelektualitasnya terganggu oleh aktifitas "penyembahan berhala" juga sama. Mereka dikucilkan dan dimusuhi banyak orang karena kewarasannya.
Ketika dengan kewarasannya mereka bertanya, pertanyaan dan argumen yang mereka ajukan tentu saja sama sekali tidak bisa dibantah oleh para "penyembah berhala". Karena memang tidak seorangpun yang bisa membantah yang namanya kejernihan.
Karena sadar-sesadar-sadarnya memang tidak mungkin menang berdebat melawan kejernihan. Para "penyembah berhala" pun melawan dengan cara memberikan mereka berbagai cap buruk dan dijadikan sasaran berbagai tudingan yang seringkali sama sekali tidak berdasar.
Orang-orang yang menawarkan kejernihan ini mereka tuduh sebagai Syi'ah lah, Kapitalis lah, Pendukung Liberalisme lah, Antek Yahudi sampai musuh Allah. Mereka tidak peduli kalau yang mereka sebut sebagai 'musuh Allah' itu adalah orang-orang yang selalu bersujud dan menyembah Tuhan dengan nama yang sama.
Memang harus diakui pula, beberapa orang waras di negeri saya itu akan dan telah jatuh ke dalam jerat para 'penyembah berhala' dan menjadi gila. Mereka jadi gila karena tidak mampu menghindar dari godaan dan silaunya kekayaan serta kekuasaan yang ada di depan mata yang bisa mereka dapatkan dengan mudahnya. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dulu di tahun 1998 dulu bersama saya berpanas ria di jalan berteriak dan kucar-kacir dikejar tentara, hanya untuk satu tujuan. Bagaimana kita bisa menurunkan Tiran.
Tidak seperti para "penyembah berhala" kualitas rendahan yang biasa berdiri di garis depan untuk umpan peluru yang harus menunggu mati dulu supaya bisa merasakan nikmatnya tidur dengan bidadari berdada montok di sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima. Para orang gila yang pernah waras ini dapat menikmati segala fasilitas tersebut saat ini juga. Begitu mudahnya orang gila yang pernah waras ini mendapatkan harta, sehingga meminjam istilah seorang adik kelas saya semasa kuliah di Teknik yang di masa heboh demonstrasi dulu. Adik kelas yang ketika Habibie yang baru diangkat menjadi Presiden datang ke Banda Aceh pernah babak belur dipukuli tentara.
"Bahkan untuk sekedar membuang sperma saja pun mereka (para "penyembah berhala" kualitas tinggi) harus naik pesawat bolak-balik ke Jakarta".
Dalam perjalanan waktu akan semakin banyak orang waras yang akan jatuh menjadi Gila.
Tapi mengingat banyaknya jumlah orang waras yang ada di Aceh saat ini. Saya sangat yakin akan terus ada orang waras yang berjuang untuk membebaskan negerinya dari pengaruh para "penyembah berhala". Mungkin kali ini orang-orang waras itu akan kalah, bisa jadi juga sampai akhir hayatnya mereka tidak akan pernah menang. Tapi yang jelas selama di dunia ini masih ada orang waras, para "penyembah berhala" tidak akan pernah tenang, karena akan terus ada perlawanan. Meski terus ditekan dan dipojokkan, saya yakin orang-orang waras di negeri saya akan terus berjuang supaya rakyat di negeri saya bisa mendapatkan rasa merdeka yang hakiki sebagai manusia.
Karena salah satu unsur dari kemerdekaan hakiki itu adalah merdeka dari cengkeraman para "penyembah BERHALA".
Wassalam
Win Wan Nur
Referensi :
http://plato.stanford.edu/entries/xenophanes/
http://id.wikipedia.org/wiki/Berhalaa
http://yudhim.blogspot.com/2008/07/kisah-nabi-ibrahim-as.html
http://nurdi.multiply.com/journal/item/341/Kelahiran_Musa_Dan_Pengasuhnya
http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan
http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=725:aceh-akan-mengesahkan-hukum-rajam&catid=82:inkit&Itemid=199
http://www.halalmui.org/content/view/415/74/lang,id/
http://muslimmoderat.wordpress.com/2009/01/27/fatwa-mui-golput-haram-rokok-makruh-haram/
Yet if cattle or horses or lions had hands and could draw, And could sculpt like men, then the horses would draw their gods Like horses, and cattle like cattle; and each they would shape Bodies of gods in the likeness, each kind, of their own. (Xenophanes)
Tulisan di atas merupakan kutipan dari ucapan Xenophanes, seorang filsuf yang hidup pada tahun 570 – 480 SM di suatu masa di Yunani yang disebut zaman Elea, satu setengah milenium sebelum kita semua lahir.
Di zaman Xenophanes hidup, masyarakat di tempatnya tinggal gemar sekali melakukan aktifitas dan ritual keagamaan. Tapi aktifitas keagamaan yang dipraktekkan orang pada zaman itu lebih dipengaruhi oleh rasa ketakutan yang besar terhadap Tuhan-Tuhan yang suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman, bukan karena dorongan rasa spiritual.
Pada masa itu orang-orang Yunani menyembah banyak Tuhan dalam bentuk berhala-berhala yang karakternya dibuat berdasarkan gambaran yang berasal dari imajinasi dua pujangga besar bangsa mereka, Homer dan Hesiod.
Di antara Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod itu ada yang bernama Zeus, Tuhan tertinggi yang diantaranya memiliki sifat playboy suka mengambil anak gadis dan istri orang seenaknya. Ada Hera ibu tiri yang pendendam, ada Artemis (Diana) saudara kembar Apollo yang cantik dan angkuh yang dengan semena-mena bisa mengutuk jadi batu pemuda yang kebetulan melihat dan mengagumi kecantikannya.
Selain kisah para penyembah berhala yang hidup dalam masyarakat Yunani ini, sejak kecil saya sering membaca berbagai kisah tentang para penyembah berhala dengan berbagai tempat sebagai latar belakang berdasarkan cerita dari bermacam kepercayaan dan agama.
Ada satu fakta menarik yang saya lihat setiap kali saya membaca kisah-kisah para penyembah berhala ini. Yaitu adanya kesamaan latar belakang situasi sosial dan moralitas dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat penyembah berhala seperti ini. Ketika saya amati dalam kisah-kisah yang saya baca, bahwa di mana pun tempatnya dan di zaman apapun terjadinya. Di sana selalu terdapat masyarakat yang jatuh ke dalam situasi sosial yang dipenuhi rasa frustasi karena ketidak adilan yang merata di mana-mana. Masyarakat penyembah berhala selalu digambarkan sebagai masyarakat yang terjebak dalam suasana dekadensi moral yang parah.
Dari kisah-kisah yang saya baca, selalu diceritakan bahwa di tempat-tempat yang didiami para penyembah berhala ini, konsep-konsep non-kemanusiaan mekar dan berkembang biak dengan suburnya. Segala kejelekan dan keburukan akan menjulang. Perbuatan menipu akan menghasilkan kekayaan, bersikap munafik dan bermuka dua akan menguntungkan. Dan bagi saya, yang paling menarik dari semuanya adalah; berhala-berhala yang disembah sebagai Tuhan itu bukan kebetulan selalu hadir sebagai sosok yang sangat pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Dalam masyarakat seperti ini, setiap terjadi masalah atau kejadian yang tidak menyenangkan, dan harus ada pihak yang di salahkan. Maka yang salah selalu rakyat jelata, bukan penguasa.
Bagi yang beragama Islam silahkan baca kisah nabi-nabi mulai dari Ibrahim, Musa sampai Muhammad yang semuanya dikisahkan berjuang menentang perilaku penyembahan berhala. Di sana anda akan melihat semua nabi-nabi itu hadir dalam masyarakat yang mengalami situasi sosial dan suasana moral seperti yang saya gambarkan di atas.
Bagi penganut agama lain silahkan lihat latar belakang sosial kemunculan Siddharta Gautama yang di kemudian hari dikenal sebagai Buddha. Dalam kepercayaan Hindu dikenal sosok Khrisna yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Dewa wisnu yang selalu hadir di setiap masa ketika masyarakat terjatuh dalam suasana sosial seperti yang saya gambarkan di atas yang terjadi karena masyarakat dikuasai para penyembah berhala.
Kemudian saya juga mengamati dalam kisah-kisah itu. Ada satu keseragaman karakter dari semua penyembah berhala di segala agama, tempat dan zaman. Dalam kisah-kisah itu mereka selalu digambarkan sebagai orang-orang keras kepala yang malas berpikir dan tidak suka diingatkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menolak keras segala ide yang menawarkan kejernihan. Para penyembah berhala selalu digambarkan sebagai orang-orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Mereka selalu menolak keras usaha untuk menrekonstruksi ide-ide yang ada dalam kepercayaan nenek moyang mereka karena kurang lebih mereka percaya, bahwa nenek moyang merekalah generasi terbaik umat manusia yang pernah ada.
Dalam kisah para penyembah berhala, orang-orang yang menawarkan kejernihan semacam Xenophanes, Buddha, Khrisna dan para nabi-nabi dalam kisah-kisah Islam adalah jenis manusia yang paling mereka musuhi dan mereka tentang. Para penguasa menentang orang-orang yang menawarkan kejernihan karena keberadaan mereka jelas mengganggu hegemoni kekuasaan. Sementara masyarakat banyak memusuhi mereka, karena masyarakat dikuasai oleh rasa ketakutan terhadap kekuasaan tak terbatas yang (dalam imajinasi mereka) dimiliki oleh sang berhala. Dalam berbagai kisah nabi yang saya baca, bahkan kadang masyarakat yang dikuasai ketakutan terhadap imajinasi yang mereka ciptakan sendiri itu, tidak segan untuk membunuhi para nabi yang menawarkan kejernihan.
Kembali ke kutipan yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Kutipan tersebut di atas adalah ucapan yang dikeluarkan oleh Xenophanes sebagai bentuk kritik dan perlawanan sekaligus sebagai sebuah bentuk serangan terhadap situasi aktual yang terjadi di Yunani pada zaman antik itu yang keadaanya kurang lebih sama seperti yang saya gambarkan di atas. Ketika itu masyarakat di zaman Xenophanes hidup tersebut terjatuh dalam situasi sosial yang kacau dan penuh ketidak adilan dan mengalami dekadensi moral yang parah.
Waktu berlalu, peradaban meningkat pesat. Melalui teknologi, manusia sekarang sudah bisa mengatasi segala hal yang dulu menjadi kelemahannya. Untuk mengatasi kendala jarak dalam geografi, manusia menciptakan berbagai moda transportasi yang memungkinkan manusia untuk menjelajahi tempat manapun di muka bumi. Untuk komunikasi bahkan lebih canggih lagi, sekarang, bahkan pada saat saya menulis inipun saya dapat berkomunikasi dengan teman saya yang berjarak ribuan mil jauhnya. Yang berada entah di sudut dan pelosok mana planet ini.
Tapi perubahan yang saya gambarkan di atas hanyalah perubahan secara fisik semata. Secara spiritual, manusia masih makhluk yang itu-itu juga. Persis seperti manusia yang hidup di zaman Xenophanes, di zaman nabi-nabi dan zaman Buddha yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari kecenderungan menyembah berhala.
Dalam masa modern ini manusia yang menyembah Tuhan yang secara fisik dibentuk seperti dirinya memang berkurang banyak jumlahnya. Tapi Manusia tetap tidak bisa melepaskan diri dari kecenderungan untuk menyembah Tuhan yang cenderung dibuat mirip dengan dirinya.
Seringkali Tuhan ciptaan Manusia itu dipanggil dengan nama yang sama, tapi perilaku, sifat dan temperamenNya selalu menyesuaikan diri dengan perilaku, sifat dan temperamen orang yang menuhankanNya.
Contohnya ada di sekitar kita sendiri. Kita lihat misalnya di lingkungan orang fanatik, radikal dan fundamentalis dari agama manapun. Di lingkungan seperti ini, Tuhan yang mereka sebut dengan berbagai nama selalu kita lihat hadir dengan karakter yang persis sama. Rasis, sombong, keras kepala, tidak konsisten dan bermuka dua yang selalu membenarkan apapun tindakan kaum fundamentalis yang meyakiniNya. Tidak peduli sebesar apapun kerusakan yang ditimbulkan oleh pemujaNya itu.
Sifat dan karakter Tuhan yang dipuja dan disembah oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan juga sama, selalu hanya mementingkan kepentingan pemujanya saja. Gampang sekali marah dan emosi terhadap setiap kesalahan kecil yang dilakukan rakyat jelata dan menutup mata terhadap apapun yang dilakukan oleh penguasa.
Ketika membaca kembali kisah-kisah para penyembah berhala itu, tiba-tiba sayapun merasakan adanya kesamaan situasi, suasana dan latar belakang sosial di negeri dan zaman itu dengan di negeri dan zaman saya hidup sekarang.
Lalu, apakah itu berarti kita sedang hidup dalam masyarakt penyembah berhala?...Jawabnya 'Tidak' jika definisi BERHALA yang kita gunakan adalah definisi berdasarkan penjelasan wikipedia ini http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala
Tapi kalau kita definisi penyembah berhala kita pahami sesuai dengan esensinya yaitu sebagai perilaku manusia yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Kemudian pemahaman itu kita kaitkan dengan situasi sosial yang ada sekarang di sekitar kita. Maka kita segera melihat, bagaimana mesranya pemuka agama dengan penguasa yang bersama-sama memusuhi rakyat jelata dan bagaimana dekadensi moral yang diakibatkannya. Kalau itu kita jadikan acuan. Ya kita memang hidup di lingkungan penyembah berhala.
Contoh perilaku yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata semacam ini misalnya dengan jelas saya saksikan beberapa waktu yang lalu melalui sebuah tulisan di status facebook milik salah seorang yang terdaftar sebagai teman saya. Teman saya ini bernama Rusda Harti Binti Djauhar yang memiliki basis pendidikan tinggi dari fakuktas Teknik jurusan Teknik Sipil. Dia adalah puteri seorang pejabat tinggi di kabupaten Aceh Tengah tempat kelahiran saya. Tulisan dari perempuan berjilbab yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut nilai-nilai keagamaan secara disiplin kaku dan ketat ini berbunyi "Mungkin Allah sengaja membakar bukit-bukit di sekitar bukit Di pinggir laut tawar karena Allah marah bukit-bukit itu selama ini digunakan untuk berkhalwat".
*Nama teman saya ini sengaja saya tulis dengan lengkap untuk memenuhi permintaan yang bersangkutan sendiri. Alasannya karena katanya dia ingin numpang terkenal kalau tulisan ini nantinya banyak dibaca orang.
Sebagai orang Islam yang sejak kecil diajarkan untuk memperlakukan Tuhan sebagai suatu entitas yang suci, yang mengucapkan nama Tuhan seperti yang dia sebutkan dengan vulgar ini pun hanya saya lakukan ketika saya melakukan aktivitas religius saja, hanya ketika secara spiritual saya merasa sedang melakukan kontak pribadi denganNya. Terus terang sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman dan terganggu menyaksikan nama Tuhan yang saya anggap suci itu dihamburkan dan diobral sedemikian vulgar dan murahnya.Tapi karena saya tidak memiliki kekuasaan yang bisa melarang mereka untuk melakukan itu dan menurut saya pun urusan dengan Tuhan adalah urusan pribadi bagi orang-orang yang mempercayainya, biarlah urusan obral-mengobral namaNya itu menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan yang kesucian namaNya telah mereka obral dengan harga murah itu.
Sebagai orang waras yang terbiasa menggunakan otak yang dianugerahkan Tuhan kepada saya sesuai fungsi dan kodratnya yaitu untuk BERPIKIR, maka saya pun langsung dapat melihat tidak logisnya pernyataan teman saya ini. Apa hubungannya berkhalwat dengan bukit yang terbakar?. "Bukankah di musim kemarau seperti sekarang ini, saat rumput-rumput mengering dan rawan terbakar?", pikir saya. Bagi saya, ucapan teman saya di status facebook miliknya sebagaimana saya ceritakan di atas jelas adalah sebuah ucapan yang tidak memiliki basis logika, spekulatif, tidak konsisten serta diskriminatif.
Kejadian kebakaran adalah hal yang lumrah terjadi di perbukitan yang mengelilingi Laut Tawar. Sejak tahun 1983 saya tinggal di kaki salah satu bukit itu. Sepanjang ingatan saya, tidak pernah dalam satu tahun pun terjadi bukit tersebut tidak terbakar di musim kemarau.
Jadi apa yang dapat saya baca dari tulisan di atas adalah yang bersangkutan sangat membenci aktifitas berkhalwat di atas segala perbuatan buruk lainnya. Dia percaya bahwa perbuatan itu sangat dibenci Tuhan, karena sejak kecil ke dalam kepalanya memang selalu dijejalkan cerita tentang Tuhan yang tidak suka melihat orang berkhalwat. Ke dalam kepalanya juga ditanamkan bahwa Tuhan yang sama suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman. Maka seperti para penyembah berhala manapun yang hidup di zaman apapun. Sebagaimana halnya orang Yunani pada masa Xenophanes hidup yang selalu ketakutan terhadap Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod, teman saya yang bernama Rusda ini pun demikian. Melihat bukit yang terbakar dia ketakutan sendiri. Dia percaya bahwa itu terjadi karena Tuhannya yang pemarah yang selalu hadir dalam imajinasinya karena sejak kecil selalu digambarkan demikian oleh keluarganya itu. Maka tidak heran kalau dia pun berpikir Tuhan yang dia percaya itu langsung gelap mata melihat adanya orang berkhalwat dan tanpa ampun dan tanpa perlu bertanya 'kenapa?' Tuhan itupun menjatuhkan hukuman.
Seperti kata Xenophanes, kalaulah Kuda, singa dan sapi punya tangan, bisa menggambar dan memahat maka merekapun akan membuat Tuhan yang identik dengan jenisnya.
Melalui pernyataan teman saya tersebut, saya pun segera melihat kalau Tuhan (yang namanya dia sebut persis seperti nama Tuhan yang saya sembah dalam setiap sujud saya) dalam imajinasi teman saya ini adalah Tuhan yang dibuat persis seperti 'jenis' teman saya ini. Tuhan teman saya ini memiliki karakter yang persis sama dengan Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang hidup di segala tempat dan zaman.
Ada hal lain yang lebih menarik di balik kemarahan Tuhan yang dipercayai teman saya ini. Di tempat di mana Tuhan dalam imajinasi teman saya ini membakar bukit itu, ada penguasa yang menjual mesjid dan rumah anak yatim. Di sana ada danau air tawar terbesar di Aceh tapi rakyatnya kehausan karena kekurangan air bersih. Di sana air danau yang menjadi tumpuan hidup banyak orang terus berkurang debit airnya tanpa ada tindakan kongkret apapun dari penguasa.
Karena anak yatim yang mesjid dan rumahnya dijual penguasa, orang yang kehausan karena kekurangan air bersih dan orang yang megap-megap terancam kehilangan mata pencaharaian akibat berkurangnya debit air danau bukanlah orang yang 'Sejenis' dengan teman saya ini. Maka Tuhan yang disembah oleh teman saya ini pun sama sekali menutup mata terhadap itu semua. Tuhan yang disembah oleh teman saya ini benar-benar IMPOTEN ketika berhadapan dengan penguasa. Persis seperti Tuhan-Tuhan yang disembah oleh para penyembah berhala.
Ketika saya membaca tulisan teman saya tersebut, secara naluriah saya spontan saya mengingatkan. Tapi sebagaimana halnya para penyembah berhala di segala zaman. Teman saya inipun resistant. Dengan segala alasan yang dia punya, dari yang mencoba buang badan sampai sekonyol-konyolnya sebuah alasan dia keluarkan. Pokoknya baginya kebenaran sejati hanya ada dalam apa yang dikatakan nenek moyang yang turun-temurun diajarkan dalam keluarga, di luar itu sejernih apapun yang ditawarkan, itu adalah bisikan setan.
Sebagaimana halnya semua daerah di Aceh yang menerapkan syari'at islam. Di daerah ini pun tentu saja ada ulama, dengan wadah MPU sebagai pemberi masukan dan pandangan syari'ah tertinggi bagi para penguasa.
Tapi sebagaimana layaknya di setiap negeri yang dikuasai para penyembah berhala, dimana para pemuka agama berkolaborasi dengan apik bersama penguasa memusuhi rakyat jelata, maka ulama di negeri inipun sama. Ketika terjadi kasus penjualan mesjid dan rumah anak yatim itu misalnya. Alih-alih seperti Xenophanes, para nabi dan orang-orang besar yang hidup di zaman yang dipenuhi para penyembah berhala yang selalu berada di garis terdepan saat berhadapan dengan penguasa lalim yang suka bertindak semena-mena. Ulama yang paling berpengaruh di daerah ini yang menjabat sebagai ketua MPU, melalui sebuah wawancara yang diterbitkan koran terbesar di Aceh, malah dengan lincahnya mengemukakan dalil-dalil yang dikutip dari teks-teks kitab suci, untuk mempengaruhi masyarakat supaya membenarkan perilaku dan tindakan sang penguasa.
Di tingkat administratif yang lebih tinggi, di tingkat provinsi juga sama, malah lebih parah lagi. Daerah ini mengalami banyak sekali masalah yang menghantam rakyat jelata. Di sini ada penebangan hutan tak terkendali, ada korupsi luar biasa besar yang memangsa korban tsunami, ada banyak pelanggar HAM yang tidak pernah kunjung diadili. Padahal kalau Tuhan memang maha tahu dan maha kuasa, Tuhan tentu tahu itu semua dan tentu tahu siapa yang paling bertanggung jawab di sana.
Tapi seperti Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang tidak penah menaruh minat kepada kesalahan yang disebabkan oleh pemegang kuasa, Tuhan di negeri ini pun sama saja. Dia lebih berminat mengurusi perempuan yang tidak berjilbab,mengurusi orang berkhalwat dan yang terbaru mengurusi masalah jinayat.
Di Tingkat Nasional, juga sama.
Di negara ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh rakyat jelata. Korupsi memangsa semua potensi negara ini untuk bisa mensejahterakan rakyatnya. Orang yang dipilih menjaddi wakil melakukan politik dagang sapi untuk kepentingan kelompoknya. Jika di Cina pelaku korupsi dianccam dengan hukuman mati, di sini sebaliknya orang yang melawan Korupsi lah yang diancam dengan hukuman mati. Rakyat di negara ini hanya menjadi pelengkap penderita.
Lalu bagaimana rekasi Tuhan yang disembah mayoritas penduduk negeri ini terhadap situasi aktual yang ada?
Melalui manusia-manusia yang secara resmi ditasbihkan menjadi wakilNya di bumi rupanya Tuhan sama sekali tidak tertariuk mengurusi itu semua. Tuhan justru lebih gusar melihat banyaknya pengemis di kota-kota. Tapi rasa gusar Tuhan inipun bukan ditujukan kepada penguasa yang membuat kebijakan yang tidak tepat yang membuat orang terpaksa mengemis. Sebaliknya yang menjadi sasaran kemarahan Tuhan adalah orang-orang yang terpaksa mengemis itu. Tanpa merasa perlu lagi untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi pengemis?, tanpa ampun Tuhan ini langsung mengharamkan perilaku mengemis itu.
Saat fenomena Golput merebak juga begitu. Tuhan yang sama tanpa ampun langsung mengharamkan Golput. Tuhan ini juga sama sekali tidak merasa perlu untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi Golput?'. Apakah itu karena kegatalan pribadi atau karena orang-orang sudah muak melihat perilaku para politisi yang dengan kekuasaan di tangan melakukan politik dagang sapi yang menggunakan kekuasaan politik untuk memperkaya diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama sekali tidak pernah eksis di dalam benak Tuhan-tuhan semacam ini. Pokoknya kalau ada yang tidak menyenangkan hatinya, langsung yang disalahkan adalah rakyat jelata.
Pendeknya, situasi di negeri ini benar-benar IMMORAL, persis sebagaimana yang terjadi pada masyarakat penyembah berhala di zaman baheula
Dalam situasi IMMORAL seperti ini, ketika pemuka agama bersatu padu dengan penguasa yang tidak mau tahu apalagi mengakomodir kegelisahan yang berkembang dalam masyarakatnya, membuat masyarakat yang tinggal di tempat ini semakin terpuruk baik secara ekonomi maupun harga diri yang melahirkan banyak manusia-manusia frustasi.
Orang-orang yang berada dalam situasi frustasi semacam ini mudah sekali terpengaruh jika ada alternatif instan untuk mengeluarkannya dari situasi yang dia alami. Secara alamai, dalam masyarakat semacam ini muncul orang-orang yang menawarkan kenikmatan yang dapat diperoleh secara instant, di dalamnya termasuk kenikmatan spiritual. Sehingga dalam masyarakat seperti ini berhamburanlah berbagai tawaran spiritulitas instant. Entah itu bernama ESQ, atau ustadz-ustadz komersil yang memberikan pencerahan nurani yang setiap berbicara meminta tarif tinggi. Tapi semua itu adalah kenikmatan spiritual berbayar.
Lalu dalam masyarakat seperti ini bagaimana nasib orang-orang pinggiran di negeri ini yang megap-megap mencari sesuap nasi yang jelas-jelas tidak mampu membeli kenikmatan spiritual instant berbayar semacam itu?.
Tidak perlu khawatir, mereka juga punya saluran pelepasan sendiri. Kepada orang semacam ini akan ada orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant. Tapi bedanya untuk masyarakat kelas ini, kenikmatan isntant itu hanya bisa didapatkan setelah mati. Dengan bertemu orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun terpuaskan dahaga spiritualnya. Maka biasanya setelah bertemu orang yang menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun mulai berkhayal kenikmatan apa yang akan dia dapatkan sesudah mati. Setiap waktu kerjanya membayangkan surga dengan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan bidadari-bidadari yang lebih cantik dari Agnes Monica atau Luna Maya. Dalam pikiran mereka, khayalan indah tersebut seolah tampak nyata dan begitu mudah dijangkau di depan mata. Lalu dengan optimisme yang besar seperti optimisme yang dimiliki para pemasang nomor togel, merekapun akan mengejarnya dengan suka cita.
Lalu apakah semua penghuni negeri ini adalah orang-orang pathetic semacam itu?. Tentu saja tidak. Sebagaimana yang terjadi di setiap zaman ketika masyarakat terjatuh ke dalam kesesatan selalu ada orang-orang yang datang menawarkan kejernihan.
Contoh paling dekat ada di Aceh, negeri asal saya sendiri.
Pasca tsunami, Aceh negeri saya yang dulu dibuat tertutup oleh penguasa tiba-tiba jadi bebas terbuka. Orang-orang Aceh yang dulu merasa pernah berkunjung ke Medan saja sudah demikian hebatnya. Kini tiba-tiba menjadi akrab dengan Iran, mesir, Perancis, Inggris, Belanda, Jerman sampai Amerika. Akibatnya di Aceh pun bermunculan orang waras dalam jumlah yang luar biasa banyaknya.
Tapi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kegelapan yang merasa silau dengan datangnya cahaya juga tidak kurang jumlahnya. Mereka merasa nyaman dan memilih bertahan dalam kegelapan sebagaimana biasanya. Orang jenis kedua ini mempertahankan mati-matian kegelapan yang telah mereka peluk dalam waktu yang lama. Ketika ancaman dari orang-orang waras yang datang untuk memberi penerangan semakin nyata, merekapun semakin keras mempertahankan kegelapan yang menurut mereka akan membuat mereka nyaman selamanya.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca Orang-orang waras seperti yang saya sebut di atas dapat menyaksikan dengan jelas kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas seperti yang dilakukan para penyembah berhala di zaman baheula. Orang-orang waras ini dengan kritis mempertanyakan dan melakukan perlawanan terhadap segala macam aktifitas "penyembahan berhala" di negeri saya dengan segala macam argumen yang penuh kejernihan.
Sebagaimana yang diceritakan dalam semua kisah tentang penyembah berhala yang menggambarkan karakter mereka sebagai orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Karena mereka percaya nenek moyang merekalah generasi terbaik yang pernah ada. Orang yang hidup di zaman facebook dan Twitter inipun ya sama saja. Kalau ada yang mengingatkan, kalau ada yang menawarkan kejernihan mereka akan dengan lantang berkata, kebenaran itu hanya ada di zaman nenek moyangnya. Semua kebenaran di dunia harus merujuk ke sana, karena para nenek moyang itulah generasi terbaik yang pernah ada.
Padahal Ali, sepupu sekaligus menantu Muhammad yang oleh orang Islam sebagai nabi terakhir pernah menyatakan kata-kata yang dikeluarkan oleh orang-orang semacam itu adalah "kata indah yang bertujuan sesat". Sejarah kemudian mencatat Ali Bin Abi Thalib, pemuda pertama yang memeluk Islam ini terbunuh oleh demonstran yang mengatasnamakan "penerapan ayat Tuhan" (baca : Jargon Indah untuk Agenda Busuk. Agus Maftuh Abegebriel; Jawa Pos 28/9/2009)
Begitulah, sebagaimana hal yang dialami orang-orang waras di masa-masa sebelumnya. Orang-orang waras di negeri saya, yang rasa intelektualitasnya terganggu oleh aktifitas "penyembahan berhala" juga sama. Mereka dikucilkan dan dimusuhi banyak orang karena kewarasannya.
Ketika dengan kewarasannya mereka bertanya, pertanyaan dan argumen yang mereka ajukan tentu saja sama sekali tidak bisa dibantah oleh para "penyembah berhala". Karena memang tidak seorangpun yang bisa membantah yang namanya kejernihan.
Karena sadar-sesadar-sadarnya memang tidak mungkin menang berdebat melawan kejernihan. Para "penyembah berhala" pun melawan dengan cara memberikan mereka berbagai cap buruk dan dijadikan sasaran berbagai tudingan yang seringkali sama sekali tidak berdasar.
Orang-orang yang menawarkan kejernihan ini mereka tuduh sebagai Syi'ah lah, Kapitalis lah, Pendukung Liberalisme lah, Antek Yahudi sampai musuh Allah. Mereka tidak peduli kalau yang mereka sebut sebagai 'musuh Allah' itu adalah orang-orang yang selalu bersujud dan menyembah Tuhan dengan nama yang sama.
Memang harus diakui pula, beberapa orang waras di negeri saya itu akan dan telah jatuh ke dalam jerat para 'penyembah berhala' dan menjadi gila. Mereka jadi gila karena tidak mampu menghindar dari godaan dan silaunya kekayaan serta kekuasaan yang ada di depan mata yang bisa mereka dapatkan dengan mudahnya. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dulu di tahun 1998 dulu bersama saya berpanas ria di jalan berteriak dan kucar-kacir dikejar tentara, hanya untuk satu tujuan. Bagaimana kita bisa menurunkan Tiran.
Tidak seperti para "penyembah berhala" kualitas rendahan yang biasa berdiri di garis depan untuk umpan peluru yang harus menunggu mati dulu supaya bisa merasakan nikmatnya tidur dengan bidadari berdada montok di sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima. Para orang gila yang pernah waras ini dapat menikmati segala fasilitas tersebut saat ini juga. Begitu mudahnya orang gila yang pernah waras ini mendapatkan harta, sehingga meminjam istilah seorang adik kelas saya semasa kuliah di Teknik yang di masa heboh demonstrasi dulu. Adik kelas yang ketika Habibie yang baru diangkat menjadi Presiden datang ke Banda Aceh pernah babak belur dipukuli tentara.
"Bahkan untuk sekedar membuang sperma saja pun mereka (para "penyembah berhala" kualitas tinggi) harus naik pesawat bolak-balik ke Jakarta".
Dalam perjalanan waktu akan semakin banyak orang waras yang akan jatuh menjadi Gila.
Tapi mengingat banyaknya jumlah orang waras yang ada di Aceh saat ini. Saya sangat yakin akan terus ada orang waras yang berjuang untuk membebaskan negerinya dari pengaruh para "penyembah berhala". Mungkin kali ini orang-orang waras itu akan kalah, bisa jadi juga sampai akhir hayatnya mereka tidak akan pernah menang. Tapi yang jelas selama di dunia ini masih ada orang waras, para "penyembah berhala" tidak akan pernah tenang, karena akan terus ada perlawanan. Meski terus ditekan dan dipojokkan, saya yakin orang-orang waras di negeri saya akan terus berjuang supaya rakyat di negeri saya bisa mendapatkan rasa merdeka yang hakiki sebagai manusia.
Karena salah satu unsur dari kemerdekaan hakiki itu adalah merdeka dari cengkeraman para "penyembah BERHALA".
Wassalam
Win Wan Nur
Referensi :
http://plato.stanford.edu/entries/xenophanes/
http://id.wikipedia.org/wiki/Berhalaa
http://yudhim.blogspot.com/2008/07/kisah-nabi-ibrahim-as.html
http://nurdi.multiply.com/journal/item/341/Kelahiran_Musa_Dan_Pengasuhnya
http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan
http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=725:aceh-akan-mengesahkan-hukum-rajam&catid=82:inkit&Itemid=199
http://www.halalmui.org/content/view/415/74/lang,id/
http://muslimmoderat.wordpress.com/2009/01/27/fatwa-mui-golput-haram-rokok-makruh-haram/
Rabu, 14 Oktober 2009
Tanggapan Atas Komentar Bung Kamarul
Walaikum Salam Bang Kamarul, saya memanggil anda abang karena anda lebih tua dan panggilan ini saya ucapkan pula adalah sebagai tanda penghormatan saya terhadap sebagai seorang manusia. Meskipun saya sangat tidak suka terhadap bangsa anda.
Terima kasih sebelumnya karena anda telah bersedia meluangkan waktu untuk menanggapi tulisan saya. Sebenarnya tadinya saya akan mempost ini di kolom tanggapan juga, tapi karena terlalu panjang, saya pikir lebih baik saya buat entri baru saja.
Bang Kamarul, saya sangat mengerti kalau karakter rakyat di negara anda dan di Indonesia yang apa boleh buat sejauh ini mau tidak mau terpaksa harus saya terima sebagai negara saya sangatlah berbeda. Minat rakyat di negara anda terhadap isu-isu seperti ini tidaklah sebesar minat rakyat di sini. Saya pernah beberapa waktu tinggal di negara anda dan cukup mengenal minat warga negara anda terhadap isu-isu seperti ini.
Saya tahu ini disebabkan oleh latar belakang sejarah baik kolonial maupun pasca kolonial di negara anda sangatlah berbeda dengan di sini.
Perlu juga saudara ketahui, dalam banyak hal saya sangat salut kepada negara anda. Sayapun juga mengakui dalam mengelola segala potensi baik alam maupun manusia untuk mensejahterakan rakyat, negara anda jauh lebih berhasil dibandingkan negara yang saya diami ini.
Yang tidak saya suka dari negara anda pada pokoknya hanya satu hal saja yaitu AROGANSI yang ditunjukkan oleh warga bahkan aparat negara anda terhadap rakyat yang berasal dari negara yang saya diami ini, sikap arogan yang sama juga ditunjukkan oleh warga anda yang berkunjung ke sini.
Oke seperti yang anda jelaskan panjang lebar tentang posisi negara anda yang sebenarnya. Tapi perlu anda ketahui, hal-hal seperti yang anda katakan itu hanya bisa dicerna oleh orang-orang seperti saya dan teman-teman saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Tapi bagi orang kebanyakan di negeri ini yang entah keperluan apa harus berkunjung ke negara anda mendapati dirinya diremehkan oleh aparat negara anda, seperti yang saya alami sendiri ketika harus transit di negara anda sepulang dari Bangkok menuju ke Medan. Aparat imigrasi negara anda di bandar udara Penang memandangi saya dari ujung kepala samapi ujung kaki seperti tukang jagal menaksir berat daging sapi yang mau disembelih "awak pasti tak kerje di Indonesie kan, kalau kerje di Indonesie mane boleh naik nie!", katanya.
Apa yang saya alami itu adalah gambaran sikap meremehkan yang ditunjukkan oleh aparat negara anda yang mereka tunjukkan kepada rata-rata pemgang pasport warna hijau berlambang garuda. Hal yang sama juga dialami oleh mantan pacar saya yang sering bolak-balik ke negara anda untuk menjalani proses bayi tabung.
Dalam sebuah komentar atas tulisan saya di media, seorang dokter spesialis asal Indonesia yang pergi berhaji, menceritakan pengalamannya dalam hubungan dengan bangsa anda. Menurutnya bahkan di tanah suci pun anak bangsa anda tetap meremehkan orang Indonesia.
"Saya pernah juga berbincang dengan jamaah haji dari malaysia....masya Allah dia (seorang bapak berusia 50 thn ke atas) di tanah harampun masih menghina saya.... orang itu tidak tahu kalau yang dihina itu seorang dokter spesialis (mungkin karena waktu itu usia saya masih 32 th)... Jadi memang mental buruk mereka itu sudah membudaya...." begitu bunyi komentar itu.
Jadi sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa sikap pandang remeh bangsa anda itu terhadap warga negara yang saya diami ini nyata adanya. Meskipun anda menyanggahnya inilah realita yang dirasakan oleh warga negeri ini terhadap bangsa anda.
Seperti yang saya katakan dalam tulisan yang kita komentari ini, yang membuat banyak warga negara ini marah terhadap negara anda adalah sikap menduanya negara anda. Di satu sisi negara anda meremehkan negara yang saya diami ini tapi di sisi lain negara anda memanfaatkan kedekatan budaya dengan negara ini untuk mengambil keuntungan komersil dari produk-produk budaya dari negara yang anda remehkan ini. Inilah yang dirasakan oleh warga negara yang saya diami ini Bang Kamarul.
Jadi meskipun anda tidak merasa bangsa anda menghina negara yang saya diami ini, tapi yang dirasakan oleh warga di negara ini sebaliknya, seorang yang mengomentari tulisan saya ini juga ada yang menyampaikan informasi kalau "menurut lembaga survey independent di Surabaya terhadap seluruh lapisan Masyarakat di Indonesia 90juta jiwa orang Indonesia Sakit Hati terhadap penghinaan-penghinaan yang dilakukan Malaysia selama ini", terus terang soal benar tidaknya hasil survey ini, saya tidak mengetahuinya dengan jelas. Cuma yang seperti itu memang tertulis di komentar atas tulisan saya tersebut.
Soal TKI, saya sangat tahu bagaimana keadaan mereka di negara anda dan saya pikir keberadaan mereka di negara anda dengan sikap dan perilaku yang sama sekali jauh dari sophisticated inilah yang sebenarnya menjadi sumber dari sikap pandang remeh bangsa anda terhadap kami.
Secara pribadi sebenarnya saya jauh lebih suka jika negara anda beralih mengambil tenaga kerja dari Bangladesh, Filipina, Mymmar atau Vietnam. Secara pribadi pula sebenarnya saya dan juga banyak orang di negari ini sangat mendukung kalau keberadaan mereka di negara anda sedikit demi sedikit terus dikurangi sambil kami terus memaksa pemerintah di negara ini untuk mengembangkan berbagai kebijakan yang memudahkan orang membuat sebuah usaha yang bisa menampung banyak pekerja.
Cuma masalahnya memang pemerintah negara tempat saya tinggal ini memang kurang kreatif dalam menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengatasi permasalahan ketenaga kerjaan ini. Karena itulah sebenarnya selain bangsa anda yang kami maki karena keangkuhannya, pemerintah negara yang kami diami inipun terus kami tekan untuk mau lebih merubah diri.
Soal bermacam bentuk buruknya Indonesia. Bang Kamarul tahu saya orang Aceh, jadi saya pikir Bang Kamarul cukup tahu kalau ada jauh lebih banyak alasan yang membuat saya sakit hati terhadap Indonesia daripada sekedar apa yang ditulis di kompasiana itu.
Jadi perlu Bang Kamarul tahu, tujuan saya menulis ini sebenarnya hanya satu...yaitu bagaimana supaya bangsa anda tahu kalau meskipun anda tidak merasakan, rasa tidak suka banyak orang di negara ini terhadap negara anda adalah nyata adanya. Penyebabnya adalah sikap arogan dan anggap remeh yang ditunjukkan bangsa anda secara terang-terangan.
Soal tarian, nyanyi, masalah ambalat, sipadan dan ligitan itu tidak lain hanyalah pemicu yang menarik pelatuk untuk ledakan kemarahan yang telah lama dipendam.
Saya menulis ini tidak lain hanya supaya anda dan saudara sebangsa anda di Malaysia tahu kalau kita sama-sama manusia yang sama-sama merasa sakit kalau dihina.
Pada akhirnya saya berharap semoga Bang Kamarul dan keluarga sehat selalu
Wassalam
Win Wan Nur
Terima kasih sebelumnya karena anda telah bersedia meluangkan waktu untuk menanggapi tulisan saya. Sebenarnya tadinya saya akan mempost ini di kolom tanggapan juga, tapi karena terlalu panjang, saya pikir lebih baik saya buat entri baru saja.
Bang Kamarul, saya sangat mengerti kalau karakter rakyat di negara anda dan di Indonesia yang apa boleh buat sejauh ini mau tidak mau terpaksa harus saya terima sebagai negara saya sangatlah berbeda. Minat rakyat di negara anda terhadap isu-isu seperti ini tidaklah sebesar minat rakyat di sini. Saya pernah beberapa waktu tinggal di negara anda dan cukup mengenal minat warga negara anda terhadap isu-isu seperti ini.
Saya tahu ini disebabkan oleh latar belakang sejarah baik kolonial maupun pasca kolonial di negara anda sangatlah berbeda dengan di sini.
Perlu juga saudara ketahui, dalam banyak hal saya sangat salut kepada negara anda. Sayapun juga mengakui dalam mengelola segala potensi baik alam maupun manusia untuk mensejahterakan rakyat, negara anda jauh lebih berhasil dibandingkan negara yang saya diami ini.
Yang tidak saya suka dari negara anda pada pokoknya hanya satu hal saja yaitu AROGANSI yang ditunjukkan oleh warga bahkan aparat negara anda terhadap rakyat yang berasal dari negara yang saya diami ini, sikap arogan yang sama juga ditunjukkan oleh warga anda yang berkunjung ke sini.
Oke seperti yang anda jelaskan panjang lebar tentang posisi negara anda yang sebenarnya. Tapi perlu anda ketahui, hal-hal seperti yang anda katakan itu hanya bisa dicerna oleh orang-orang seperti saya dan teman-teman saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Tapi bagi orang kebanyakan di negeri ini yang entah keperluan apa harus berkunjung ke negara anda mendapati dirinya diremehkan oleh aparat negara anda, seperti yang saya alami sendiri ketika harus transit di negara anda sepulang dari Bangkok menuju ke Medan. Aparat imigrasi negara anda di bandar udara Penang memandangi saya dari ujung kepala samapi ujung kaki seperti tukang jagal menaksir berat daging sapi yang mau disembelih "awak pasti tak kerje di Indonesie kan, kalau kerje di Indonesie mane boleh naik nie!", katanya.
Apa yang saya alami itu adalah gambaran sikap meremehkan yang ditunjukkan oleh aparat negara anda yang mereka tunjukkan kepada rata-rata pemgang pasport warna hijau berlambang garuda. Hal yang sama juga dialami oleh mantan pacar saya yang sering bolak-balik ke negara anda untuk menjalani proses bayi tabung.
Dalam sebuah komentar atas tulisan saya di media, seorang dokter spesialis asal Indonesia yang pergi berhaji, menceritakan pengalamannya dalam hubungan dengan bangsa anda. Menurutnya bahkan di tanah suci pun anak bangsa anda tetap meremehkan orang Indonesia.
"Saya pernah juga berbincang dengan jamaah haji dari malaysia....masya Allah dia (seorang bapak berusia 50 thn ke atas) di tanah harampun masih menghina saya.... orang itu tidak tahu kalau yang dihina itu seorang dokter spesialis (mungkin karena waktu itu usia saya masih 32 th)... Jadi memang mental buruk mereka itu sudah membudaya...." begitu bunyi komentar itu.
Jadi sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa sikap pandang remeh bangsa anda itu terhadap warga negara yang saya diami ini nyata adanya. Meskipun anda menyanggahnya inilah realita yang dirasakan oleh warga negeri ini terhadap bangsa anda.
Seperti yang saya katakan dalam tulisan yang kita komentari ini, yang membuat banyak warga negara ini marah terhadap negara anda adalah sikap menduanya negara anda. Di satu sisi negara anda meremehkan negara yang saya diami ini tapi di sisi lain negara anda memanfaatkan kedekatan budaya dengan negara ini untuk mengambil keuntungan komersil dari produk-produk budaya dari negara yang anda remehkan ini. Inilah yang dirasakan oleh warga negara yang saya diami ini Bang Kamarul.
Jadi meskipun anda tidak merasa bangsa anda menghina negara yang saya diami ini, tapi yang dirasakan oleh warga di negara ini sebaliknya, seorang yang mengomentari tulisan saya ini juga ada yang menyampaikan informasi kalau "menurut lembaga survey independent di Surabaya terhadap seluruh lapisan Masyarakat di Indonesia 90juta jiwa orang Indonesia Sakit Hati terhadap penghinaan-penghinaan yang dilakukan Malaysia selama ini", terus terang soal benar tidaknya hasil survey ini, saya tidak mengetahuinya dengan jelas. Cuma yang seperti itu memang tertulis di komentar atas tulisan saya tersebut.
Soal TKI, saya sangat tahu bagaimana keadaan mereka di negara anda dan saya pikir keberadaan mereka di negara anda dengan sikap dan perilaku yang sama sekali jauh dari sophisticated inilah yang sebenarnya menjadi sumber dari sikap pandang remeh bangsa anda terhadap kami.
Secara pribadi sebenarnya saya jauh lebih suka jika negara anda beralih mengambil tenaga kerja dari Bangladesh, Filipina, Mymmar atau Vietnam. Secara pribadi pula sebenarnya saya dan juga banyak orang di negari ini sangat mendukung kalau keberadaan mereka di negara anda sedikit demi sedikit terus dikurangi sambil kami terus memaksa pemerintah di negara ini untuk mengembangkan berbagai kebijakan yang memudahkan orang membuat sebuah usaha yang bisa menampung banyak pekerja.
Cuma masalahnya memang pemerintah negara tempat saya tinggal ini memang kurang kreatif dalam menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengatasi permasalahan ketenaga kerjaan ini. Karena itulah sebenarnya selain bangsa anda yang kami maki karena keangkuhannya, pemerintah negara yang kami diami inipun terus kami tekan untuk mau lebih merubah diri.
Soal bermacam bentuk buruknya Indonesia. Bang Kamarul tahu saya orang Aceh, jadi saya pikir Bang Kamarul cukup tahu kalau ada jauh lebih banyak alasan yang membuat saya sakit hati terhadap Indonesia daripada sekedar apa yang ditulis di kompasiana itu.
Jadi perlu Bang Kamarul tahu, tujuan saya menulis ini sebenarnya hanya satu...yaitu bagaimana supaya bangsa anda tahu kalau meskipun anda tidak merasakan, rasa tidak suka banyak orang di negara ini terhadap negara anda adalah nyata adanya. Penyebabnya adalah sikap arogan dan anggap remeh yang ditunjukkan bangsa anda secara terang-terangan.
Soal tarian, nyanyi, masalah ambalat, sipadan dan ligitan itu tidak lain hanyalah pemicu yang menarik pelatuk untuk ledakan kemarahan yang telah lama dipendam.
Saya menulis ini tidak lain hanya supaya anda dan saudara sebangsa anda di Malaysia tahu kalau kita sama-sama manusia yang sama-sama merasa sakit kalau dihina.
Pada akhirnya saya berharap semoga Bang Kamarul dan keluarga sehat selalu
Wassalam
Win Wan Nur
Langganan:
Postingan (Atom)
