Tao Te Ching adalah sebuah buku kecil yang memuat 5000 aksara Cina berisi pemikiran-pemikiran Lao Tzu, seorang filsuf besar Cina yang diperkirakan hidup di sekitar tahun 640 SM.
Dalam buku yang bisa diterjemahkan sebagai "Jalan dan Kekuatannya" ini, Lao Tzu (kadang disebut Laozi atau Lao Cu) banyak sekali menyampaikan kata-kata nasehat yang tetap aktual sampai sekarang.
Karena begitu mengagumkannya pemikiran Lao Tzu ini, dengan menggabungkannya dengan ajaran Kaisar Huang Di (Raja pada zaman purba Cina yang juga digelari Kaisar Kuning atau Yellow Emperor), sebagian orang Cina menjadikan ajarannya ini sebagai AGAMA dan menjadikan Lao Tzu sebagai Dewa yang diberi nama "Tai Shang Lao Chun".
Sementara sebagian orang Cina lainnya tetap mempertahankan ajaran Lao Tzu ini sebagai sebuah aliran filsafat.
Di Barat, ajaran Lao Tzu ini dikenal dengan nama Taoisme. Nama ini diberikan oleh para intelektual Barat pada abad ke 19. Saat itu para intelektual barat memberikan nama Taoisme ini tanpa sama sekali membedakan apakah yang mereka maksud itu adalah Taoisme sebagai agama atau Taoisme sebagai filsafat. Oleh para intelektual barat itu, Taoisme dipandang sebagai aliran mistik timur (eastern mystic).
Padahal sebenarnya, Taoisme sebagai sebuah aliran filsafat sangat berbeda dengan Taoisme sebagai agama.
Soal Taoisme sebagai sebuah aliran filsafat dan Taoisme sebagai agama ini terdapat anomali.
Taoisme sebagai agama justru lebih banyak menekankan pada olah fisik ketimbang spiritual. Sebagai agama Tao menganjurkan penganutnya untuk melakukan meditasi, menyepi di pegunungan atau dalam hutan sambil berlatih pernafasan (Qi Gong) dan latihan oleh tubuh Gerakan Lima Bintang yang dikenal sebagai Tai Chi.
Sebaliknya Tao sebagai aliran filsafat, mengajak orang untuk hidup secara apa adanya dan memandang dunia dan segala fenomena alam secara apa adanya pula. Tidak perlu ngoyo dan tidak perlu neko-neko. Seperti yang terangkum dalam Tao Te Ching, Lao Tzu ( lebih lanjut baca hal. 4 : The Wisdom of Lao zi, karangan Andri Wang)
Salah satu ucapan Lao Tzu yang sangat mengesankan bagi saya ada di Bab 71, bukunya ini. Di Bab ini Lao Tzu mengatakan, "Mengaku TIDAK TAHU saat TIDAK TAHU adalah yang paling baik, mengaku TAHU saat TIDAK TAHU adalah CARI PENYAKIT".
Ucapan Lao Tzu ini menjadi sangat menarik bagi saya, karena belakangan ini disekitar saya, saya menemui banyak sekali orang yang CARI PENYAKIT.
Sejak reformasi bergulir, di Indonesia ini banyak sekali bermunculan orang-orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa tiba-tiba menjadi orang penting secara instant. Dari kelompok inilah biasanya orang-orang yang CARI PENYAKIT itu berasal.
Beberapa hari terakhir, dunia akademis indonesia seolah dikagetkan dengan "suara petir di siang bolong", ketika Profesor Anak Agung Banyu Perwita, seorang Guru Besar di Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, yang disebut-sebut sebagai jurusan HI terbaik di Indonesia tertangkap basah melakukan Plagiarisme.
Kasus ini kemudian menjadi melebar kemana-mana karena ternyata profesor lain yang bernama Yahya Muhaimin yang pernah menjadi Menteri pendidikan juga pernah berbuat sama. Dan pasti akan semakin melebar lagi seandainya kasus ini dijadikan pintu masuk untuk meneliti karya tulis, termasuk skripsi, tesis dan disertasi para dosen, pejabat dan politisi negeri ini yang sekarang telah menjadi sosok-sosok terhormat.
Saya sendiri tidak mengenal sosok Banyu Perwita secara pribadi, tapi istri saya yang pernah menjadi mahasiswinya sangat mengagumi sosok ini. Istri saya sering menceritakan kepada saya betapa hebatnya sosok Banyu Perwita sebagai seorang dosen, caranya mengajar dan penguasaannya terhadap materi yang dia ajarkan menurut istri saya sangat luar biasa.
Begitulah ketika mengetahui kasus plagiarisme yang dilakukan oleh Profesor Banyu Perwita melalui sebuah tulisannya di Jakarta Post, istri saya tampak begitu terpukul. Ketika saya membaca wall sang terdakwa, saya juga mendapati begitu banyak mahasiswa dan alumni Unpar yang merasa terpukul dan kecewa, tapi tetap memberi dukungan semangat kepada dosennya ini.
Dari luar Unpar sendiri, kecaman kepada Profesor Banyu Perwita datang bertubi-tubi, bahkan dari rektorat Unpar sendiri mengancam akan menjatuhkan hukuman berat kepada Banyu Perwita seandainya tudingan ini terbukti benar.
Semua tudingan dan tekanan itu jelas membuat Profesor Banyu Perwita terpojok.
Tapi yang menarik dari kasus ini adalah reaksi dari Profesor Banyu Perwita sendiri.
Dalam banyak kejadian sebelumnya, entah itu kasus Cicak Versus Buaya, kasus Prita, Antasari sampai Bank Century, kita dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana fihak-fihak yang kesalahannya telah jelas-jelas ditelanjangi masih berusaha 'ngeles', bersilat lidah mengaburkan fakta dan masih merasa diri terhormat, sementara masyarakat sudah sama sekali tidak percaya apa pun yang mereka katakan.
Di antara para pengkritik Profesor Banyu Perwita yang benar-benar mengharapkan kejujuran ditegakkan di negeri ini, sebenarnya juga banyak terselip pengkritik yang terdiri dari para oportunis sok bermoral. Dengan memanfaatkan momentum kesialan yang dialami profesor Perwita ini, para oportunis sok bermoral ini dengan licik mengintip celah untuk menjadi pahlawan kesiangan.
Terhadap kesalahan yang dilakukan oleh Profesor Banyu Perwita, para oportunis ini tampaknya sudah demikian siap dengan segudang hujatan dan makian untuk menjadikan sang profesor sebagai sansak hidup alias bulan-bulanan.
Karena itulah banyak pengkritik Banyu Perwita dan sepertinya Pihak UNPAR sendiri pun demikian, mengharapkan Banyu Perwita bersikap seperti para pecundang yang bak pencuri yang tertangkap tangan, yang sudah jelas-jelas terbukti bersalah tapi masih berkelit ke sana kemari. Sikap yang justru memmicu aksi 'amuk massa' yang menjadikan orang bersalah ini bulan-bulanan bersama, sebagaimana yang bersama-sama kita saksikan telah dialami oleh RS Omni Internasional atau institusi Hukum negeri ini (salah satunya dengan aksi "sejuta facebooker..." yang diikuti lebih dari sejuta orang) dalam kasus Bibit-Chandra.
Tapi para pengkritik model kedua ini terpaksa harus kecewa dan gigit jari, karena Profesor A.A Banyu Perwita ternyata mengambil sikap berbeda dengan yang mereka bayangkan, sebagaimana layaknya sikap yang diambil oleh para pecundang. Profesor ini dengan jantan mengaku bersalah dan sebelum diminta, langsung mengajukan surat pengunduran diri kepada UNPAR.
Apa yang dilakukan oleh Profesor Banyu Perwita ini sejalan dengan anjuran filsafat esoterik Lao Tzu yang dia tuliskan di Bab 71 buku Tao Te Cing, sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Dengan mengganti kata 'TIDAK TAHU' menjadi kata 'SALAH', redaksi ucapan Lao Tzu yang diprkatekkan oleh profesor A.A Banyu Perwita ini akan berbunyi "Mengaku SALAH saat berbuat SALAH adalah yang paling baik, mengaku TIDAK SALAH saat berbuat SALAH adalah CARI PENYAKIT".
Sikap Mengaku SALAH seperti ini malah membuat pengkritiknya jadi serba salah. Dengan pilihan sikap seperti ini, Profesor A.A Banyu Perwita membuat para pengkritiknya kehilangan energi.
Terus menerus menghujat dan mencaci maki orang yang sudah mengaku salah seperti ini hanya akan membuat si penghujat tampak seperti orang yang mengidap DIARE KATA-KATA (Istilah ini saya pinjam dari Dewi Lestari, Penulis Supernova yang juga merupakan mantan mahasiswi Profesor Banyu Perwita).
Karena itulah, terlepas dari perilaku memalukan yang telah dia tunjukkan, terlepas dari teladan sangat buruk yang telah dia pertontonkan yang sangat tidak layak ditiru oleh akdemisi lain (ini sekaligus menjadi cermin bagi saya [meskipun saya sendiri jelas bukan seorang akedemisi], karena terus terang berkat Google, yang membuat mendapatkan informasi apapun yang kita inginkan jadi demikian mudahnya, saya sendiripun secara sadar atau tidak sering mengutip pendapat dan pemikiran orang lain dalam tulisan-tulisan di blog saya tanpa menyebutkan sumber resminya), saya tetap memberi kredit positif kepada Profesor Anak Agung Banyu Perwita berkaitan dengan statusnya sebagai seorang pengajar.
Saya memberinya kredit positif (dalam kapasitasnya sebagai seorang pengajar) karena di saat sudah salah dan terpojok pun, Profesor Anak Agung Banyu Perwita masih bisa memberi pelajaran.
Wassalam
Win Wan Nur
Minggu, 14 Februari 2010
Rabu, 10 Februari 2010
AKAL dan IPTEK Dalam Pandangan Para Fundies
Sebagai orang Islam kita diajarkan bahwa Islam itu adalah ajaran yang sempurna. Islam bisa menjelaskan sekaligus persoalan dunia dan akhirat.
Kalau pemahaman seperti ini kita hayati apa adanya tentu pemahaman seperti ini akan menimbulkan semangat bagi kita penganut agama ini untuk memahami segala persoalan dunia dan akhirat.
Bagi banyak orang Islam hari ini, Alqur'an dipercaya sebagai sumber segala ilmu pengetahuan. Sama seperti pandangan di atas, sebenarnya juga tidak ada masalah dengan keyakinan seperti ini, selama kita menyadari bahwa Al Qur'an yang suci itu hanyalah teks dan antara teks dengan manusia itu selalu ada jarak yang memisahkan, sebab sesuci apapun teks, dia tidak dapat menginterpretasikan dirinya sendiri.
Untuk bisa memahami teks, manusia perlu jembatan, dan yang dimaksud dengan jembatan itu adalah INTERPRETASI.
Tapi masalah besar yang dihadapi oleh umat islam hari ini (terutama para fundies) adalah, banyak sekali orang Islam yang percaya tidak ada jarak antara teks dan interpretasi itu.
Oleh orang-orang ini, pendapat dari para ulama tertentu dianggap paling benar, origin, salafi, fresh from Allah. Dan ketika pendapat yang sebenarnya tidak lain adalah interpretasi alias jembatan itu kemudian didukung oleh jutaan ulama yang mereka anggap sangat dekat dengan Allah dan menjadi wakil Allah di muka bumi ini. Mereka pun meyakini dan memperlakukan pendapat itu layaknya teks suci itu sendiri.
Lalu apa hubungannya cara pandang seperti ini terhadap penguasaan IPTEK?
Cara pandang seperti ini membuat umat Islam PUAS, merasa dengan memahami Al Qur'an dan hadits berarti sudah mengetahui semua rahasia alam dan sudah memahami seluruh ilmu pengetahuan.
Banyak orang islam yang dengan taat mengkaji setiap dalil lupa (atau sengaja pura-pura tidak tahu) kalau manusia membutuhkan sebuah aksi nyata agar segala informasi tentang Ilmu pengetahuan yang ada dalam Al Qur'an ini bisa bermanfaat dan menghasilkan produk yang bisa digunakan secara nyata.
Apakah penafsiran dari para Ulama pengkaji dalil-dalil itu bisa membuat informasi tentang Ilmu pengetahuan yang ada dalam Al Qur'an ini bisa bermanfaat dan menghasilkan produk yang bisa digunakan secara nyata?....sampai saat ini kita belum menemukan buktinya.
Hari ini banyak orang Islam yang beragama secara lebay. Karena Islam dikatakan bisa menjelaskan sekaligus persoalan dunia dan akhirat. Oleh banyak orang Islam hari ini memaksakan diri untuk memahami semua hal sepele yang sebenarnya bisa dipahami dengan perangkat AKAL dan PANCA INDERA pun harus meminta pendapat ulama yang kemudian mengkajinya berdasarkan dalil-dalil dari hadits dan kitab suci yang ditafsirkan oleh mereka sendiri atau para ulama terdahulu yang pendapatnya mereka percayai.
Kalau permasalahan yang ingin kita pahami itu berkaitan dengan sesuatu yang ada di luar kemampuan AKAL dan tanggapan PANCA INDERA, seperti hal-hal gaib semacam kiamat, padang mahsyar, shirat, surga, neraka, alam kubur dan lain-lain, yang memang hanya bisa dipahami dengan IMAN, tentu saja kita harus mendengarkan pendapat ulama tersebut yang penafsirannya bisa berbeda-beda dalam skala kecil sampai besar antara satu dengan lainnya.
Tapi kalau hanya untuk sekedar mengetahui 'Pisau tajam bisa dipakai untuk mengiris tomat' pun kita harus menanyakan pendapat Ulama berdasarkan atas kajian terhadap hadits dan kitab suci bukankah ini LEBAY namanya?.
Konsep untuk memahami dan mengembangkan IPTEK pun sebenarnya sama sederhananya dengan konsep memahami 'Pisau tajam bisa dipakai untuk mengiris tomat'. Untuk memahami IPTEK cukup dengan menggunakan RASIO (AKAL) dan tanggapan PANCA INDERA. Makanya adalah hal yang LEBAY pula jika untuk memahami sebuah fenomena alam yang menjadi dasar IPTEK pun kita harus berpatokan pada pendapat Ulama berdasarkan atas kajian terhadap hadits dan kitab suci.
Berbeda dengan Ilmu Agama yang memiliki banyak sekali dalil untuk menjelaskan setiap permasalahan, Ilmu Pengetahuan/sains mengenal sedikit sekali dalil, dan dalil yang sedikit ini pun seluruhnya terdiri dari RASIO. Dalil-dalil ini antara lain adalah prinsip kausalitas dan aksioma-aksioma matematika, yang secara ringkas dapat disebut sebagai kategori-kategori akal.
*Kebenaran* yang dipahami oleh imu pengetahuan tidaklah sama dengan *Kebenaran* yang dipahami oleh agama atau iman, sebab kebenaran agama dan iman itu bisa berbeda-beda antara satu manusia dengan manusia yang lain (tergantung penafsiran dari seorang ulama terhadap dalil). Sementara RASIO yang mendasari Ilmu pengetahuan modern itu SAMA bagi setiap manusia. Orang yang tidak sanggup menggunakan rasio disebut IRRASIONAL, dan konsekwensinya, mereka yang irrasional itu tidak akan mampu mengerti, dan apalagi menguasai ilmu pengetahuan (iptek) yang menjadi dasar untuk menguasai peradaban modern.
Contoh kebenaran Ilmu Pengetahuan yang sama bagi setiap manusia adalah dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi. Jika ini diaplikasikan pada sebuah balok yang berfungsi sebagai jembatan, dengan dasar dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi diketahui bahwa jika sebuah balok diberi beban, maka balok ini pun akan memberi reaksi sebesar beban yang diterimanya, maka BALOK yang dibuat untuk jembatan harus dibuat dengan kekuatan yang mampu menahan beban yang lebih besar dari beban yang diterimanya.
Pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu adalah saling hubungan antara berbagai pengalaman pancaindera satu dengan lain, baik dalam hubungan sebab-akibat, maupun dalam skala waktu dan hubungan antara berbagai pengalaman-pengalaman pancaindera. Karena pangalaman pancaindera itu selalu SAMA bagi setiap manusia, dan ALAT untuk memahaminya juga sama, yaitu LOGIKA dan RASIO. Yang seperti halnya panca Indera juga terbukti SAMA untuk setiap manusia.
Kembali kepada contoh di atas karena dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi adalah (a) sesuai dengan logika dan/atau matematika dan (b) sesuai dengan pengamatan pancaindera. Maka kita tidak perlu tahu siapa yang membuat dalil itu, yang jelas dalil tersebut kebenarannya TERBUKTI SAMA bagi semua manusia sehingga kebenaran yang satu itu bisa menjadi dasar untuk terciptanya berbagai ilmu lain, katakanlah misalnya ilmu bahan bangunan. Dengan berpatokan pada dalil tersebut, manusia akan bereksplorasi mengolah berbagai materi di alam untuk dibuat mampu menahan BEBAN yang direncanakan melewati balok tersebut. entah itu bahan itu berupa beton bertulang, baja, kayu atau serat karbon. Yang untuk membuatnya juga membutuhkan saling berhubungan dengan *kebenaran-kebenaran* lain yang juga TERBUKTI SAMA bagi semua manusia.
Cara pandang seperti inilah yang membuat kita sekarang mengenal beragam produk teknologi, termasuk facebook yang hanya mungkin bisa hadir dan kita petik manfaatnya sekarang karena adanya teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang yang berpikir atas dasar sains ini.
Ilmu Pengetahuan alias sains sama sekali tidak mengenal kebenaran mutlak, kebenaran yang dikenal dalam Ilmu Pengetahuan/ Sains adalah kebenaran yang selalu berubah menuju kesempurnaan secara asimptotis, artinya semakin lama semakin benar.
Tapi tentu saja ada hal-hal yang dengan sekejap mata bisa ditetapkan oleh Sains sebagai KESALAHAN, yaitu bila;
(a) suatu teori TIDAK LOGIS atau menyalahi prinsip logika, misalnya jika matematikanya salah-salah; dan
(b) tidak sesuai dengan persepsi pancaindera.
Untuk bisa dianggap benar dalam sains (sekalipun cuma sementara), suatu gagasan, pendapat, atau teori itu harus memenuhi sekaligus kedua-duanya (a) dan (b).
Contoh kebenaran yang selalu berubah menuju kesempurnaan secara asimptotis misalnya katakanlah ada seseorang mengatakan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR".
Orang yang percaya Al Qur'an adalah sumber segala ilmu, bertanya pada ulama, mengkaji makna di balik setiap ayat dan hadits dan berdasar berbagai kajian bahasa dan sejarah turunnya ayat tersebut kemudian menyimpulkan bahwa pernyataan di atas adalah benar, tanpa memerlukan proses pengujian yang terus menerus untuk membuktikan bahwa pernyataan di atas adalah BENAR bagi semua manusia.
Orang yang berpikir dengan landasan IPTEK yang benar-benar ingin membuktikan pernyataan itu dan berniat membuat alat yang bisa menjadikan air sebagai bahan bakar akan memilih jalan berbeda. Dia akan menganalisa fakta-fakta ilmiah yang telah pernah diungkapkan oleh orang-orang sebelumnya.
Katakanlah misalnya pemahaman atas pernyataan itu akan dia mulai dengan pemahaman kimia dasar bahwa AIR itu sendiri adalah molekul yang terdiri dari 2 atom Hidrogen dan satu atom Oksigen.
Hidrogen adalah unsur yang sangat mudah terbakar dan pembakaran sendiri membutuhkan Oksigen. Jadi pernyataan ini logis dan masuk akal dan berarti BENAR.
Hanya masalahnya ketika 2 atom Hidrogen dan satu atom Oksigen itu membentuk senyawa, molekul inipun menjadi air dan malah dipakai untuk memadamkan api. Jadi untuk membuat Air bisa terbakar bagaimana?...RASIO alias AKAL SEHAT di sini berkata, atom Oksigen dan Hidrogen itu harus dipisahkan. Bagaimana caranya?...dengan Elektrolisa. Bagaimana prinsip elektrolisa ini?...orang inipun akan mencari pengetahuan yang telah diungkapkan oleh orang sebelumnya, ditemukanlan HUKUM FARADAY.
Maka diketahui untuk mengelektrolisa air dibutuhkan logam, elektrolit dan arus listrik.
Saat melakukan pembuktian melalui proses seperti ini dia akan menemukan berbagai fakta yang sebelumnya tidak pernah dia ketahui, bagaimana kalau ternyata kalau logam yang dipakai tidak tepat yang keluar dalam proses elektrolisa itu bukan hanya hidrogen dan oksigen, tapi juga hexavalent Chromiun yang berbahaya, atau juga ternyata gas yang keluar itu lebih banyak uap airnya, juga dalam proses ini juga ternyata bisa menciptakan efek elektrostatis yang bisa menyebabkan ledakan sebagaimana yang terjadi pada proses terjadinya petir.
Setelah melalui semua proses itu barulah pada akhirnya dia bisa menciptakan sebuah alat yang aman yang bisa membuat Air menjadi bahan bakar. Tapi yang dia buat itupun bukanlah sebuah hasil yang MUTLAK, karena nantinya akan ada lagi orang yang menyadari kelemahan alat buatannya dan akan menyempurnakan alat buatannya tersebut.
Seperti yang kita lihat dalam proses yang dilalui orang ini. Semakin jauh dia berusaha membuktikan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR", semakin banyak dia 'terpaksa' bersentuhan dengan hasil olah pikir orang lain dan semakin tahu juga dia betapa luasnya ilmu pengetahuan dan orang yang membuktikan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR" ini pun segera menyadari kalau yang tidak diketahui Manusia itu jauh lebih banyak ketimbang yang diketahui.
Kalau orang yang menjalani proses seperti ini adalah jenis manusia yang percaya TUHAN, Maka semakin banyak yang dia tahu, semakin dia merasa kecil dihadapan TUHAN YANG MAHA SEGALANYA. Saat manusia yang memiliki pola pikir seperti ini telah mencapai tahap yang sangat jauh, dia pun semakin merasa sangat-sangat kecil. Karena itulah seorang Einstein yang telah mengetahui sedemikian banyak rahasia alam semesta dengan takjub mengatakan "Tuhan tidak sedang bermain dadu".
Bandingkan pola ini dengan orang yang memahami kebenaran melalui dalil-dalil agama hasil penafsiran para Ulama.
Contohnya bisa anda lihat pada artikel di bawah ini :
1. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2865-mendudukkan-akal-pada-tempatnya.html
2. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Artikel dalam website yang ditulis oleh seseorang yang bernama Muhammad Abduh Tuasikal tersebut diberikan kepada saya oleh seorang teman yang bernama Abu Kharis. Artikel ini dia berikan kepada saya dengan maksud untuk meyakinkan saya bahwa KEBENARAN ILMIAH juga bisa didapatkan dengan cara mengkaji dalil-dalil agama, tanpa perlu melalui proses-proses rumit dan melelahkan seperti yang dilakukan oleh sains. Malah keunggulan dari mengetahui KEBENARAN ILMIAH melalui dalil-dalil ini adalah kebenarannya bersifat MUTLAK, tidak seperti kebenaran sains yang berubah-ubah.
Salah satu cara pembuktian KEBENARAN ILMIAH melalui dalil-dalil ini yang diulas oleh Muhammad Abduh Tuasikal adalah pembuktian terhadap dalil dalam suatu hadits yang menyebutkan bahwa pada hari kiamat nanti posisi matahari akan begitu dekat dengan manusia :
Terhadap masalah ini, Muhammad Abduh Tuasikal menulis
*** “Matahari akan didekatkan pada makhluk pada hari kiamat nanti hingga mencapai jarak sekitar satu mil.” Sulaiman bin ‘Amir, salah seorang perowi hadits ini mengatakan bahwa dia belum jelas mengenai apa yang dimaksud dengan satu mil di sini. Boleh jadi satu mil tersebut adalah seperti jarak satu mil di dunia dan boleh jadi jaraknya adalah satu celak mata.
"Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatann yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 370)" ***
Dengan membaca penjelasan seperti ini, keingintahuan kita jadi terpuaskan dan masalahpun selesai dan imanpun jadi semakin tebal. Tapi kepuasan ini sama sekali tidak menghasilkan produk apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya.
Cara yang berbeda dalam memahami KEBENARAN ILMIAH ini pun membentuk dua pola sikap yang bertolak belakang. Dalam sains alias IPTEK, orang MENGERTI, bukan PERCAYA. Sebagaimana telah saya gambarkan di atas, orang yang memahami KEBENARAN ILMIAH melalui proses yang panjang dan melelahkan, dalam proses itu tahu bahwa semakin banyak yang dia ketahui semakin MENGERTI pula dia semakin jauh lebih banyak lagi pula yang tidak dia ketahui, semakin MENGERTI pula dia kalau tidak mungkin dia mengetahui sebuah KEBENARAN secara MUTLAK. Semakin banyak yang dia tahu, semakin dia MENGERTI seberapa maha kecilnya dia dihadapan TUHAN.
Sementara orang yang mencari pemahaman KEBENARAN ILMIAH melalui dalil dasarnya adalah PERCAYA bukan MENGERTI, semakin mendapat penjelasan dari orang yang dia PERCAYA semakin dia merasa TAHU dan diapun semakin PERCAYA kalau dirinya mampu memahami kebenaran secara MUTLAK.
Karena dia PERCAYA kalau dirinya mampu memahami kebenaran secara MUTLAK maka dia pun merasa dirinya lebih besar dibanding manusia lainnya, karena dia PERCAYA bahwa dia lebih mengerti APA maksud TUHAN dibandingkan oleh manusia lainnya. Karena itu mereka pun jadi merasa punya OTORITAS untuk mencap, mengancam, menuduh, memfitnah bahkan membunuh orang yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Sebab mereka PERCAYA bahwa orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka itu adalah KAUM PENGACAU KEIMANAN yang tentu saja adalah MUSUH ISLAM.
Itulah sebabnya kenapa orang yang mencari pemahaman KEBENARAN ILMIAH melalui pengkajian terhadap dalil-dalil agama cenderung menjadi MEGALOMANIAK!
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku Gayo, Beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Kalau pemahaman seperti ini kita hayati apa adanya tentu pemahaman seperti ini akan menimbulkan semangat bagi kita penganut agama ini untuk memahami segala persoalan dunia dan akhirat.
Bagi banyak orang Islam hari ini, Alqur'an dipercaya sebagai sumber segala ilmu pengetahuan. Sama seperti pandangan di atas, sebenarnya juga tidak ada masalah dengan keyakinan seperti ini, selama kita menyadari bahwa Al Qur'an yang suci itu hanyalah teks dan antara teks dengan manusia itu selalu ada jarak yang memisahkan, sebab sesuci apapun teks, dia tidak dapat menginterpretasikan dirinya sendiri.
Untuk bisa memahami teks, manusia perlu jembatan, dan yang dimaksud dengan jembatan itu adalah INTERPRETASI.
Tapi masalah besar yang dihadapi oleh umat islam hari ini (terutama para fundies) adalah, banyak sekali orang Islam yang percaya tidak ada jarak antara teks dan interpretasi itu.
Oleh orang-orang ini, pendapat dari para ulama tertentu dianggap paling benar, origin, salafi, fresh from Allah. Dan ketika pendapat yang sebenarnya tidak lain adalah interpretasi alias jembatan itu kemudian didukung oleh jutaan ulama yang mereka anggap sangat dekat dengan Allah dan menjadi wakil Allah di muka bumi ini. Mereka pun meyakini dan memperlakukan pendapat itu layaknya teks suci itu sendiri.
Lalu apa hubungannya cara pandang seperti ini terhadap penguasaan IPTEK?
Cara pandang seperti ini membuat umat Islam PUAS, merasa dengan memahami Al Qur'an dan hadits berarti sudah mengetahui semua rahasia alam dan sudah memahami seluruh ilmu pengetahuan.
Banyak orang islam yang dengan taat mengkaji setiap dalil lupa (atau sengaja pura-pura tidak tahu) kalau manusia membutuhkan sebuah aksi nyata agar segala informasi tentang Ilmu pengetahuan yang ada dalam Al Qur'an ini bisa bermanfaat dan menghasilkan produk yang bisa digunakan secara nyata.
Apakah penafsiran dari para Ulama pengkaji dalil-dalil itu bisa membuat informasi tentang Ilmu pengetahuan yang ada dalam Al Qur'an ini bisa bermanfaat dan menghasilkan produk yang bisa digunakan secara nyata?....sampai saat ini kita belum menemukan buktinya.
Hari ini banyak orang Islam yang beragama secara lebay. Karena Islam dikatakan bisa menjelaskan sekaligus persoalan dunia dan akhirat. Oleh banyak orang Islam hari ini memaksakan diri untuk memahami semua hal sepele yang sebenarnya bisa dipahami dengan perangkat AKAL dan PANCA INDERA pun harus meminta pendapat ulama yang kemudian mengkajinya berdasarkan dalil-dalil dari hadits dan kitab suci yang ditafsirkan oleh mereka sendiri atau para ulama terdahulu yang pendapatnya mereka percayai.
Kalau permasalahan yang ingin kita pahami itu berkaitan dengan sesuatu yang ada di luar kemampuan AKAL dan tanggapan PANCA INDERA, seperti hal-hal gaib semacam kiamat, padang mahsyar, shirat, surga, neraka, alam kubur dan lain-lain, yang memang hanya bisa dipahami dengan IMAN, tentu saja kita harus mendengarkan pendapat ulama tersebut yang penafsirannya bisa berbeda-beda dalam skala kecil sampai besar antara satu dengan lainnya.
Tapi kalau hanya untuk sekedar mengetahui 'Pisau tajam bisa dipakai untuk mengiris tomat' pun kita harus menanyakan pendapat Ulama berdasarkan atas kajian terhadap hadits dan kitab suci bukankah ini LEBAY namanya?.
Konsep untuk memahami dan mengembangkan IPTEK pun sebenarnya sama sederhananya dengan konsep memahami 'Pisau tajam bisa dipakai untuk mengiris tomat'. Untuk memahami IPTEK cukup dengan menggunakan RASIO (AKAL) dan tanggapan PANCA INDERA. Makanya adalah hal yang LEBAY pula jika untuk memahami sebuah fenomena alam yang menjadi dasar IPTEK pun kita harus berpatokan pada pendapat Ulama berdasarkan atas kajian terhadap hadits dan kitab suci.
Berbeda dengan Ilmu Agama yang memiliki banyak sekali dalil untuk menjelaskan setiap permasalahan, Ilmu Pengetahuan/sains mengenal sedikit sekali dalil, dan dalil yang sedikit ini pun seluruhnya terdiri dari RASIO. Dalil-dalil ini antara lain adalah prinsip kausalitas dan aksioma-aksioma matematika, yang secara ringkas dapat disebut sebagai kategori-kategori akal.
*Kebenaran* yang dipahami oleh imu pengetahuan tidaklah sama dengan *Kebenaran* yang dipahami oleh agama atau iman, sebab kebenaran agama dan iman itu bisa berbeda-beda antara satu manusia dengan manusia yang lain (tergantung penafsiran dari seorang ulama terhadap dalil). Sementara RASIO yang mendasari Ilmu pengetahuan modern itu SAMA bagi setiap manusia. Orang yang tidak sanggup menggunakan rasio disebut IRRASIONAL, dan konsekwensinya, mereka yang irrasional itu tidak akan mampu mengerti, dan apalagi menguasai ilmu pengetahuan (iptek) yang menjadi dasar untuk menguasai peradaban modern.
Contoh kebenaran Ilmu Pengetahuan yang sama bagi setiap manusia adalah dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi. Jika ini diaplikasikan pada sebuah balok yang berfungsi sebagai jembatan, dengan dasar dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi diketahui bahwa jika sebuah balok diberi beban, maka balok ini pun akan memberi reaksi sebesar beban yang diterimanya, maka BALOK yang dibuat untuk jembatan harus dibuat dengan kekuatan yang mampu menahan beban yang lebih besar dari beban yang diterimanya.
Pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu adalah saling hubungan antara berbagai pengalaman pancaindera satu dengan lain, baik dalam hubungan sebab-akibat, maupun dalam skala waktu dan hubungan antara berbagai pengalaman-pengalaman pancaindera. Karena pangalaman pancaindera itu selalu SAMA bagi setiap manusia, dan ALAT untuk memahaminya juga sama, yaitu LOGIKA dan RASIO. Yang seperti halnya panca Indera juga terbukti SAMA untuk setiap manusia.
Kembali kepada contoh di atas karena dalil yang mengatakan Aksi = Reaksi adalah (a) sesuai dengan logika dan/atau matematika dan (b) sesuai dengan pengamatan pancaindera. Maka kita tidak perlu tahu siapa yang membuat dalil itu, yang jelas dalil tersebut kebenarannya TERBUKTI SAMA bagi semua manusia sehingga kebenaran yang satu itu bisa menjadi dasar untuk terciptanya berbagai ilmu lain, katakanlah misalnya ilmu bahan bangunan. Dengan berpatokan pada dalil tersebut, manusia akan bereksplorasi mengolah berbagai materi di alam untuk dibuat mampu menahan BEBAN yang direncanakan melewati balok tersebut. entah itu bahan itu berupa beton bertulang, baja, kayu atau serat karbon. Yang untuk membuatnya juga membutuhkan saling berhubungan dengan *kebenaran-kebenaran* lain yang juga TERBUKTI SAMA bagi semua manusia.
Cara pandang seperti inilah yang membuat kita sekarang mengenal beragam produk teknologi, termasuk facebook yang hanya mungkin bisa hadir dan kita petik manfaatnya sekarang karena adanya teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang yang berpikir atas dasar sains ini.
Ilmu Pengetahuan alias sains sama sekali tidak mengenal kebenaran mutlak, kebenaran yang dikenal dalam Ilmu Pengetahuan/ Sains adalah kebenaran yang selalu berubah menuju kesempurnaan secara asimptotis, artinya semakin lama semakin benar.
Tapi tentu saja ada hal-hal yang dengan sekejap mata bisa ditetapkan oleh Sains sebagai KESALAHAN, yaitu bila;
(a) suatu teori TIDAK LOGIS atau menyalahi prinsip logika, misalnya jika matematikanya salah-salah; dan
(b) tidak sesuai dengan persepsi pancaindera.
Untuk bisa dianggap benar dalam sains (sekalipun cuma sementara), suatu gagasan, pendapat, atau teori itu harus memenuhi sekaligus kedua-duanya (a) dan (b).
Contoh kebenaran yang selalu berubah menuju kesempurnaan secara asimptotis misalnya katakanlah ada seseorang mengatakan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR".
Orang yang percaya Al Qur'an adalah sumber segala ilmu, bertanya pada ulama, mengkaji makna di balik setiap ayat dan hadits dan berdasar berbagai kajian bahasa dan sejarah turunnya ayat tersebut kemudian menyimpulkan bahwa pernyataan di atas adalah benar, tanpa memerlukan proses pengujian yang terus menerus untuk membuktikan bahwa pernyataan di atas adalah BENAR bagi semua manusia.
Orang yang berpikir dengan landasan IPTEK yang benar-benar ingin membuktikan pernyataan itu dan berniat membuat alat yang bisa menjadikan air sebagai bahan bakar akan memilih jalan berbeda. Dia akan menganalisa fakta-fakta ilmiah yang telah pernah diungkapkan oleh orang-orang sebelumnya.
Katakanlah misalnya pemahaman atas pernyataan itu akan dia mulai dengan pemahaman kimia dasar bahwa AIR itu sendiri adalah molekul yang terdiri dari 2 atom Hidrogen dan satu atom Oksigen.
Hidrogen adalah unsur yang sangat mudah terbakar dan pembakaran sendiri membutuhkan Oksigen. Jadi pernyataan ini logis dan masuk akal dan berarti BENAR.
Hanya masalahnya ketika 2 atom Hidrogen dan satu atom Oksigen itu membentuk senyawa, molekul inipun menjadi air dan malah dipakai untuk memadamkan api. Jadi untuk membuat Air bisa terbakar bagaimana?...RASIO alias AKAL SEHAT di sini berkata, atom Oksigen dan Hidrogen itu harus dipisahkan. Bagaimana caranya?...dengan Elektrolisa. Bagaimana prinsip elektrolisa ini?...orang inipun akan mencari pengetahuan yang telah diungkapkan oleh orang sebelumnya, ditemukanlan HUKUM FARADAY.
Maka diketahui untuk mengelektrolisa air dibutuhkan logam, elektrolit dan arus listrik.
Saat melakukan pembuktian melalui proses seperti ini dia akan menemukan berbagai fakta yang sebelumnya tidak pernah dia ketahui, bagaimana kalau ternyata kalau logam yang dipakai tidak tepat yang keluar dalam proses elektrolisa itu bukan hanya hidrogen dan oksigen, tapi juga hexavalent Chromiun yang berbahaya, atau juga ternyata gas yang keluar itu lebih banyak uap airnya, juga dalam proses ini juga ternyata bisa menciptakan efek elektrostatis yang bisa menyebabkan ledakan sebagaimana yang terjadi pada proses terjadinya petir.
Setelah melalui semua proses itu barulah pada akhirnya dia bisa menciptakan sebuah alat yang aman yang bisa membuat Air menjadi bahan bakar. Tapi yang dia buat itupun bukanlah sebuah hasil yang MUTLAK, karena nantinya akan ada lagi orang yang menyadari kelemahan alat buatannya dan akan menyempurnakan alat buatannya tersebut.
Seperti yang kita lihat dalam proses yang dilalui orang ini. Semakin jauh dia berusaha membuktikan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR", semakin banyak dia 'terpaksa' bersentuhan dengan hasil olah pikir orang lain dan semakin tahu juga dia betapa luasnya ilmu pengetahuan dan orang yang membuktikan "AIR BISA DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR" ini pun segera menyadari kalau yang tidak diketahui Manusia itu jauh lebih banyak ketimbang yang diketahui.
Kalau orang yang menjalani proses seperti ini adalah jenis manusia yang percaya TUHAN, Maka semakin banyak yang dia tahu, semakin dia merasa kecil dihadapan TUHAN YANG MAHA SEGALANYA. Saat manusia yang memiliki pola pikir seperti ini telah mencapai tahap yang sangat jauh, dia pun semakin merasa sangat-sangat kecil. Karena itulah seorang Einstein yang telah mengetahui sedemikian banyak rahasia alam semesta dengan takjub mengatakan "Tuhan tidak sedang bermain dadu".
Bandingkan pola ini dengan orang yang memahami kebenaran melalui dalil-dalil agama hasil penafsiran para Ulama.
Contohnya bisa anda lihat pada artikel di bawah ini :
1. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2865-mendudukkan-akal-pada-tempatnya.html
2. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Artikel dalam website yang ditulis oleh seseorang yang bernama Muhammad Abduh Tuasikal tersebut diberikan kepada saya oleh seorang teman yang bernama Abu Kharis. Artikel ini dia berikan kepada saya dengan maksud untuk meyakinkan saya bahwa KEBENARAN ILMIAH juga bisa didapatkan dengan cara mengkaji dalil-dalil agama, tanpa perlu melalui proses-proses rumit dan melelahkan seperti yang dilakukan oleh sains. Malah keunggulan dari mengetahui KEBENARAN ILMIAH melalui dalil-dalil ini adalah kebenarannya bersifat MUTLAK, tidak seperti kebenaran sains yang berubah-ubah.
Salah satu cara pembuktian KEBENARAN ILMIAH melalui dalil-dalil ini yang diulas oleh Muhammad Abduh Tuasikal adalah pembuktian terhadap dalil dalam suatu hadits yang menyebutkan bahwa pada hari kiamat nanti posisi matahari akan begitu dekat dengan manusia :
Terhadap masalah ini, Muhammad Abduh Tuasikal menulis
*** “Matahari akan didekatkan pada makhluk pada hari kiamat nanti hingga mencapai jarak sekitar satu mil.” Sulaiman bin ‘Amir, salah seorang perowi hadits ini mengatakan bahwa dia belum jelas mengenai apa yang dimaksud dengan satu mil di sini. Boleh jadi satu mil tersebut adalah seperti jarak satu mil di dunia dan boleh jadi jaraknya adalah satu celak mata.
"Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatann yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 370)" ***
Dengan membaca penjelasan seperti ini, keingintahuan kita jadi terpuaskan dan masalahpun selesai dan imanpun jadi semakin tebal. Tapi kepuasan ini sama sekali tidak menghasilkan produk apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya.
Cara yang berbeda dalam memahami KEBENARAN ILMIAH ini pun membentuk dua pola sikap yang bertolak belakang. Dalam sains alias IPTEK, orang MENGERTI, bukan PERCAYA. Sebagaimana telah saya gambarkan di atas, orang yang memahami KEBENARAN ILMIAH melalui proses yang panjang dan melelahkan, dalam proses itu tahu bahwa semakin banyak yang dia ketahui semakin MENGERTI pula dia semakin jauh lebih banyak lagi pula yang tidak dia ketahui, semakin MENGERTI pula dia kalau tidak mungkin dia mengetahui sebuah KEBENARAN secara MUTLAK. Semakin banyak yang dia tahu, semakin dia MENGERTI seberapa maha kecilnya dia dihadapan TUHAN.
Sementara orang yang mencari pemahaman KEBENARAN ILMIAH melalui dalil dasarnya adalah PERCAYA bukan MENGERTI, semakin mendapat penjelasan dari orang yang dia PERCAYA semakin dia merasa TAHU dan diapun semakin PERCAYA kalau dirinya mampu memahami kebenaran secara MUTLAK.
Karena dia PERCAYA kalau dirinya mampu memahami kebenaran secara MUTLAK maka dia pun merasa dirinya lebih besar dibanding manusia lainnya, karena dia PERCAYA bahwa dia lebih mengerti APA maksud TUHAN dibandingkan oleh manusia lainnya. Karena itu mereka pun jadi merasa punya OTORITAS untuk mencap, mengancam, menuduh, memfitnah bahkan membunuh orang yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Sebab mereka PERCAYA bahwa orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka itu adalah KAUM PENGACAU KEIMANAN yang tentu saja adalah MUSUH ISLAM.
Itulah sebabnya kenapa orang yang mencari pemahaman KEBENARAN ILMIAH melalui pengkajian terhadap dalil-dalil agama cenderung menjadi MEGALOMANIAK!
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku Gayo, Beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Senin, 08 Februari 2010
Dulu Dituduh PKI, Sekarang Dicap YAHUDI
Dicap dengan berbagai ungkapan buruk, ini dan itu, adalah resiko yang harus dihadapi oleh siapa saja yang bermaksud menentang kesewenang-wenangan dari sebuah kelompok yang merasa diri paling benar.
Di zaman Orde Baru, ketika Soeharto yang didukung militer berkuasa, kalau kita mengkritik kesewenang-wenangan, kita bakal dicap ANTI-PANCASILA dan secara lebih spesifik dituduh PKI. Di zaman sekarang ketika orang-orang yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN diberi sedikit kuasa, kalau kita mengkritik kesewenang-wenangan mereka, kita bakal dicap ANTI-ISLAM dan secara lebih spesifik YAHUDI.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada satu kesamaan diantara keduanya (Soeharto dan Orang-orang yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN). Mereka sama-sama anti kritik, mereka sama-sama hanya memperbolehkan SATU TAFSIR terhadap apa (ideologi atau agama) yang mereka percayai.
Kalau Soeharto dulu, merasa cuma dia dan kelompoknya sendiri yang PALING BENAR menafsirkan Pancasila. Sehingga ketika dia melakukan pembantaian terhadap orang yang dituduh PKI, membantai orang-orang Aceh yang dituduh bersimpati pada GAM, membantai orang-orang Papua yang dituduh mendukung OPM dan membantai orang-orang Timtim yang dituduh pendukung fretilin, yang secara kasat mata jelas bertentangan dengan Pancasila terutama pada Sila Kedua. Maka mereka pun dengan mudah bisa memberikan alasannya. Menurut mereka hal yang sedemikian nyata itu tidak boleh ditafsirkan secara apa adanya, kejadian yang bertentangan dengan HAM secara universal itu harus ditafsirkan sebagai usaha untuk mempertahankan PANCASILA.
Ini sama persis dengan orang-orang yang merasa diri BERIMAN di Aceh sekarang ini yang gemar sekali mencap ini dan itu terhadap orang-orang yang mengkritisi dan menentang HUKUM buatan mereka yang sewenang-wenang.
Atas kejadian di Langsa beberapa waktu yang lalu, seorang teman, perempuan berjilbab, menuliskan keprihatinannya di Koran Nasional. Kepadanya saya menanyakan, kenapa tidak menuliskan pendapat seperti ini di Koran Lokal supaya orang-orang Aceh sadar apa yang terjadi?. Teman ini mengatakan; "Nggak bisa bang, kalau kita menuliskan kritik seperti ini di koran lokal, maka besoknya akan berhamburanlah opini tandingan yang menghujat dan mencaci maki yang bahkan menghalalkan darah kita"
Ucapan teman ini saya buktikan sendiri, ketika melalui facebook saya menyatakan penentangan terang-terangan kepada pandangan mereka yang sewenang-wenang. Ketika saya menanggapi sekaligus membela diri atas fitnahan seorang Mahasiswa pasca Sarjana yang menulis WASPADAILAH KAUM PENGACAU KEIMANAN, MEREKA MENUDUH ORANG MUKMIN ITU SEBAGAI FUNDAMENTALIS. Maka tanpa ampun saya pun dikatai dengan berbagai variasi makian, mulai dari yang tradisional sampai modern,yang smuanya murni bersumber dari prasangka dalam kepala mereka sendiri.
Oleh orang-orang yang mengaku MUKMIN ini saya dikatakan Musuh Islam, KAUM PENGACAU KEIMANAN, penerus Abu Lahab dan Abu Jahal sampai anjing yang menyerupai manusia.
Begitulah, persis seperti Soeharto dan orang-orangnya dulu yang dulunya begitu mengagungkan Pancasila layaknya sebuah berhala yang MENDOMINASI penafsiran PANCASILA dalam sebuah penafsiran tunggal, tapi pada kenyataannya sebenarnya mereka sendirilah yang paling sering bertindak bertentangan dengan ideologi yang mereka puja. Orang-orang di Aceh yang merasa diri paling Islam dan paling beriman ini pun sama.
Mereka yang merasa diri paling BERIMAN dengan santai mencap orang Islam yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai ANTI-ISLAM, Pro Barat dan bahkan YAHUDI semata hanya berdasarkan PRASANGKA yang tidak berdasar. Padahal sikap yang mereka tunjukkan ini jelas-jelas bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Al Qur'an yang menjadi dasar tindakan dari orang-orang yang mengaku diri beriman ini.
Contohnya perilaku orang Aceh yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN yang suka menghujat dan mencap orang Islam lain dengan berbagai cap buruk entah itu KAFIR, ANTI-ISLAM, sampai YAHUDI ini jelas bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Al Qur'an dalam Surat Al Hujuraat ayat 12 yang berbunyi : Hai orang-orang yang beriman, JAUHILAH KEBANYAKAN PRA SANGKA (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu DOSA dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain...dst.
Tapi kalau bukti yang nyata tentang perilaku mereka yang jelas bertentangan dengan Al Qur'an yang kata mereka merupakan sumber tuntunan mereka. Seperti Soeharto dan orang-orangnya dulu yang selalu punya pembenaran ketika perilaku yang mereka tunjukkan bertentangan dengan apa yang selalu mereka katakan. Orang ini pun sama saja.
Fakta yang ada, demikian nyata menunjukkan kalau perilaku mereka bertentangan dengan Al Qur'an. Tapi, karena seperti Soeharto yang merasa hanya dia dan orang-orangnya lah yang merupakan penafsir SAH atas Pancasila, orang-orang ini pun merasa hanya merekalah pemegang MONOPOLI atas TAFSIR Al Qur'an, maka merekapun dengan lihai dan santai membuat segala macam TAFSIR dan berjuta alasan untuk membenarkan tingkah laku mereka yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan Al Qur'an itu.
Perilaku seperti ini dapat kita temukan di masyarakat manapun yang hidup dalam sistem totaliter dan sewenang-wenang. Di Burma, di Cina, di Korea Utara, Kuba dan di belahan dunia manapun dimana TAFSIR terhadap sebuah ideologi atau Agama hanya diberikan kepada satu kelompok orang saja. Kesewenang-wenangan akan menjadi keseharian.
Tapi di manapun juga di muka bumi ini, sistem seperti itu hanya bisa berjalan dengan PAKSAAN. Untuk bisa memaksa tentu dibutuhkan dukungan kekuatan militer yang kuat pula, yang bisa memaksa semua orang menelan bulat-bulat segala kontradiksi yang diperlihatkan oleh penguasa.
Kekuatan seperti ini belum dimiliki oleh orang-orang di Aceh yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN yang memaksakan PENAFSIRAN mereka atas TEKS sebagai satu-satunya kebenaran yang harus dianut oleh semua orang. Sekarang mereka belum punya LAKSUS yang akan siap menjemput kita, ketika mereka mendapati ada orang yang menyampaikan pendapat atau pemikiran yang bertentangan dengan DOKTRIN yang mereka percaya. Saat ini kalaupun kita menentang penafsiran mereka, yang bisa mereka lakukan baru sebatas memaki-maki dan pamer BACOT BESAR saja.
Karena itu, mumpung sekarang belum ada LAKSUS yang akan menjemput kita saat kita mengungkapkan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka, maka sekaranglah kesempatan kita untuk terus melawan segala kesewenang-wenangan yang mereka bungkus dengan dalil-dalil AGAMA.
Seperti juga orang keras kepala di segala zaman yang memang tidak suka dan tidak menerima jika perilaku dan kesenangan mereka diingatkan, orang-orang ini pun sama saja. Jadi sekeras apapun kita berteriak, senyata apapun bukti yang kita paparkan, mereka tidak akan bergeming dengan keyakinan yang mereka peluk.
Karena itu janganlah niatkan melakukan perlawanan ini untuk mengubah atau melunakkan kepala orang-orang ini. Niatkanlah perlawanan ini sebagai tanggung jawab generasi kita terhadap generasi Aceh mendatang. Sebab apa yang akan mereka dapatkan di masa depan adalah buah dari apa yang kita lakukan hari ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku GAYO beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Di zaman Orde Baru, ketika Soeharto yang didukung militer berkuasa, kalau kita mengkritik kesewenang-wenangan, kita bakal dicap ANTI-PANCASILA dan secara lebih spesifik dituduh PKI. Di zaman sekarang ketika orang-orang yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN diberi sedikit kuasa, kalau kita mengkritik kesewenang-wenangan mereka, kita bakal dicap ANTI-ISLAM dan secara lebih spesifik YAHUDI.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada satu kesamaan diantara keduanya (Soeharto dan Orang-orang yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN). Mereka sama-sama anti kritik, mereka sama-sama hanya memperbolehkan SATU TAFSIR terhadap apa (ideologi atau agama) yang mereka percayai.
Kalau Soeharto dulu, merasa cuma dia dan kelompoknya sendiri yang PALING BENAR menafsirkan Pancasila. Sehingga ketika dia melakukan pembantaian terhadap orang yang dituduh PKI, membantai orang-orang Aceh yang dituduh bersimpati pada GAM, membantai orang-orang Papua yang dituduh mendukung OPM dan membantai orang-orang Timtim yang dituduh pendukung fretilin, yang secara kasat mata jelas bertentangan dengan Pancasila terutama pada Sila Kedua. Maka mereka pun dengan mudah bisa memberikan alasannya. Menurut mereka hal yang sedemikian nyata itu tidak boleh ditafsirkan secara apa adanya, kejadian yang bertentangan dengan HAM secara universal itu harus ditafsirkan sebagai usaha untuk mempertahankan PANCASILA.
Ini sama persis dengan orang-orang yang merasa diri BERIMAN di Aceh sekarang ini yang gemar sekali mencap ini dan itu terhadap orang-orang yang mengkritisi dan menentang HUKUM buatan mereka yang sewenang-wenang.
Atas kejadian di Langsa beberapa waktu yang lalu, seorang teman, perempuan berjilbab, menuliskan keprihatinannya di Koran Nasional. Kepadanya saya menanyakan, kenapa tidak menuliskan pendapat seperti ini di Koran Lokal supaya orang-orang Aceh sadar apa yang terjadi?. Teman ini mengatakan; "Nggak bisa bang, kalau kita menuliskan kritik seperti ini di koran lokal, maka besoknya akan berhamburanlah opini tandingan yang menghujat dan mencaci maki yang bahkan menghalalkan darah kita"
Ucapan teman ini saya buktikan sendiri, ketika melalui facebook saya menyatakan penentangan terang-terangan kepada pandangan mereka yang sewenang-wenang. Ketika saya menanggapi sekaligus membela diri atas fitnahan seorang Mahasiswa pasca Sarjana yang menulis WASPADAILAH KAUM PENGACAU KEIMANAN, MEREKA MENUDUH ORANG MUKMIN ITU SEBAGAI FUNDAMENTALIS. Maka tanpa ampun saya pun dikatai dengan berbagai variasi makian, mulai dari yang tradisional sampai modern,yang smuanya murni bersumber dari prasangka dalam kepala mereka sendiri.
Oleh orang-orang yang mengaku MUKMIN ini saya dikatakan Musuh Islam, KAUM PENGACAU KEIMANAN, penerus Abu Lahab dan Abu Jahal sampai anjing yang menyerupai manusia.
Begitulah, persis seperti Soeharto dan orang-orangnya dulu yang dulunya begitu mengagungkan Pancasila layaknya sebuah berhala yang MENDOMINASI penafsiran PANCASILA dalam sebuah penafsiran tunggal, tapi pada kenyataannya sebenarnya mereka sendirilah yang paling sering bertindak bertentangan dengan ideologi yang mereka puja. Orang-orang di Aceh yang merasa diri paling Islam dan paling beriman ini pun sama.
Mereka yang merasa diri paling BERIMAN dengan santai mencap orang Islam yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai ANTI-ISLAM, Pro Barat dan bahkan YAHUDI semata hanya berdasarkan PRASANGKA yang tidak berdasar. Padahal sikap yang mereka tunjukkan ini jelas-jelas bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Al Qur'an yang menjadi dasar tindakan dari orang-orang yang mengaku diri beriman ini.
Contohnya perilaku orang Aceh yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN yang suka menghujat dan mencap orang Islam lain dengan berbagai cap buruk entah itu KAFIR, ANTI-ISLAM, sampai YAHUDI ini jelas bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Al Qur'an dalam Surat Al Hujuraat ayat 12 yang berbunyi : Hai orang-orang yang beriman, JAUHILAH KEBANYAKAN PRA SANGKA (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu DOSA dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain...dst.
Tapi kalau bukti yang nyata tentang perilaku mereka yang jelas bertentangan dengan Al Qur'an yang kata mereka merupakan sumber tuntunan mereka. Seperti Soeharto dan orang-orangnya dulu yang selalu punya pembenaran ketika perilaku yang mereka tunjukkan bertentangan dengan apa yang selalu mereka katakan. Orang ini pun sama saja.
Fakta yang ada, demikian nyata menunjukkan kalau perilaku mereka bertentangan dengan Al Qur'an. Tapi, karena seperti Soeharto yang merasa hanya dia dan orang-orangnya lah yang merupakan penafsir SAH atas Pancasila, orang-orang ini pun merasa hanya merekalah pemegang MONOPOLI atas TAFSIR Al Qur'an, maka merekapun dengan lihai dan santai membuat segala macam TAFSIR dan berjuta alasan untuk membenarkan tingkah laku mereka yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan Al Qur'an itu.
Perilaku seperti ini dapat kita temukan di masyarakat manapun yang hidup dalam sistem totaliter dan sewenang-wenang. Di Burma, di Cina, di Korea Utara, Kuba dan di belahan dunia manapun dimana TAFSIR terhadap sebuah ideologi atau Agama hanya diberikan kepada satu kelompok orang saja. Kesewenang-wenangan akan menjadi keseharian.
Tapi di manapun juga di muka bumi ini, sistem seperti itu hanya bisa berjalan dengan PAKSAAN. Untuk bisa memaksa tentu dibutuhkan dukungan kekuatan militer yang kuat pula, yang bisa memaksa semua orang menelan bulat-bulat segala kontradiksi yang diperlihatkan oleh penguasa.
Kekuatan seperti ini belum dimiliki oleh orang-orang di Aceh yang merasa diri PALING ISLAM dan PALING BERIMAN yang memaksakan PENAFSIRAN mereka atas TEKS sebagai satu-satunya kebenaran yang harus dianut oleh semua orang. Sekarang mereka belum punya LAKSUS yang akan siap menjemput kita, ketika mereka mendapati ada orang yang menyampaikan pendapat atau pemikiran yang bertentangan dengan DOKTRIN yang mereka percaya. Saat ini kalaupun kita menentang penafsiran mereka, yang bisa mereka lakukan baru sebatas memaki-maki dan pamer BACOT BESAR saja.
Karena itu, mumpung sekarang belum ada LAKSUS yang akan menjemput kita saat kita mengungkapkan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka, maka sekaranglah kesempatan kita untuk terus melawan segala kesewenang-wenangan yang mereka bungkus dengan dalil-dalil AGAMA.
Seperti juga orang keras kepala di segala zaman yang memang tidak suka dan tidak menerima jika perilaku dan kesenangan mereka diingatkan, orang-orang ini pun sama saja. Jadi sekeras apapun kita berteriak, senyata apapun bukti yang kita paparkan, mereka tidak akan bergeming dengan keyakinan yang mereka peluk.
Karena itu janganlah niatkan melakukan perlawanan ini untuk mengubah atau melunakkan kepala orang-orang ini. Niatkanlah perlawanan ini sebagai tanggung jawab generasi kita terhadap generasi Aceh mendatang. Sebab apa yang akan mereka dapatkan di masa depan adalah buah dari apa yang kita lakukan hari ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku GAYO beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Jumat, 05 Februari 2010
Aceh dan Ruang Pikir Publik Yang Dikuasai Para MEGALOMANIAK
Tadi saya membuka facebook dan mendapati begitu banyak hujatan yang ditujukan kepada saya karena saya telah dengan jujur menilai sebuah tulisan yang menyoroti Syari'at Islam di Aceh yang di-tag kepada saya.
Tulisan yang saya nilai dengan jujur ini ditulisa oleh seseorang yang bernamag bernama Zahrul Bawady M. Daud yang namanya saya kenal di facebook, tapi sama sekali tidak pernah saya kenal di dunia nyata.
Saya sendiri merasa heran dengan berbagai hujatan yang disampaikan kepada saya saat saya menganggapi tulisan dari Zahrul Bawady M. Daud ini. Karena dalam pandangan saya, ketika Zahrul mem-post tulisan ini di facebook, maka status tulisan ini pun telah menjadi sebuah publikasi yang statusnya menjadi sah untuk dinilai oleh siapapun dari berbagai sisi.
Maka ketika beliau mempublikasikan tulisan ini dan men-tag nama saya dalam tulisan itu, jelas saya berpikir kalau beliau tentu mengharapkan tanggapan dari berbagai sudut pandang, bukan cuma sekedar puja-puji.
Dan apa yang saya sampaikan dalam tanggapan saya terhadap tulisannya ini adalah penilaian berdasarkan sudut pandang saya, dan menurut saya kalau ada yang tidak sepakat dengan pandangan saya tersebut silahkan dikritisi dan mari kita BERDISKUSI.
Inti kemarahan orang yang menghujat saya ini adalah karena saya menilai tulisan-tulisan semacam ini cuma sekedar omong kosong dari orang yang pamer ilmu, yang sama sekali tidak menyentuh inti persoalan. Orang-orang yang tidak senang dengan komentar saya ini, marah karena menurut mereka saya tidak menghargai usaha mereka untuk menyelesaikan carut-marut permasalahan Syari'at Islam di Aceh ini setidaknya dengan pena.
Padahal sebenarnya yang terjadi tidaklah demikian, sebenarnya sayapun mengakui kalau mereka (para penulis ini) memang sudah berusaha, ya cuma seperti yang saya katakan dengan jujur dari hati nurani saya yang terdalam " Ketika membaca kebanyakan tulisan mereka ini, saya seperti sedang menyaksikan orang yang kebakaran rumah tapi sibuk mengomentari bukan memadamkan api".
Kalau anda ikut membaca tulisan-tulisan mereka, melalui tulisan-tulisan ini, anda dan saya jadi tahu ilmu mereka tinggi, penguasaan mereka terhadap dalil-dalil hebat...cuma ya karena mereka tidak menyentuh ESENSI masalahnya, yang terjadi cuma pamer ILMU, kita jadi seperti pertandingan Karate di nomor KATA.
Orang yang terlalu banyak belajar, merasa banyak ilmu tapi tidak pernah berpraktek di dunia nyata memang cenderung menjadikan orang memiliki sikap MEGALOMANIAK, dengan ciri merasa diri paling hebat, merasa diri paling tahu segalanya, merasa diri paling Islam, merasa diri paling mukmin, bahkan merasa dapat mengetahui niat terdalam seorang Muslim hanya dengan berdasarkan prasangka dan fanatasi di kepala.
Para megalomaniak ini menuntut orang lain untuk bersikap santun penuh petita-petiti tapi mereka sendiri boleh mencap orang yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai Kafir, pembenci Islam, SIPILIS dan berbagai sebutan buruk lainnya.
Mereka inilah para orang berilmu yang kalau diibaratkan pertandingan Karate, mereka ini sangat mahir di nomor kata yang mempertandingkan pameran jurus, tapi tidak pernah bertarung.
Masalah di Aceh ini adalah terlalu berkuasanya dan terlalu bebasnya megalomaniak ini, yang sebenarnya tidak lain adalah orang-orang berotak kecil dan berbacot besar. Para megalomaniak ini dengan bebas menghina dan merendahkan orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Para megalomaniak ini merasa mampu membantu memperbaiki nasib orang Islam di Perancis bahkan Palestina dengan mengumbar bacot-bacot besar jauh dari seberang lautan, dan dengan serta merta merendahkan orang Islam lain yang mencoba menyelesaikan persolan dengan cara mengurai masalah untuk mengurai kusut masai yang terlihat di permukaan.
Aceh yang sebenarnya keadaannya sudah jauh lebih baik, tapi oleh orang-orang yang ingin Aceh tampak indah di permukaan dan kebetulan punya kuasa, Aceh dihadiahi sebuah hukum prematur yang sangat mentah yang dilabeli SYARI'AT ISLAM yang kemudian disembah para megalomaniak berilmu tinggi ini layaknya berhala. Berbagai kejadian memilukan terjadi di Aceh akibat keberadaan hukum prematur ini yang menunjukkan bahwa HUKUM ini bermasalah, tapi karena labelnya SYARI'AT ISLAM, para megalomaniak ini resistant terhadap siapapun yang mengkritisi apalagi mengutak-atik berhala mereka.
Masalah ini semakin menjadi-jadi, karena orang-orang Aceh yang masih memiliki akal sehat terlarut dalam langgam permainan para megalomaniak ini yang menuntut orang lain untuk berdiskusi dengan mereka dengan penuh sopan santun dan petita-petiti sementara mereka boleh mencap dan menghakimi orang lain seenak perut dengan berdasarkan fantasi megalomaniak mereka. Tidak sedikit pula orang Aceh yang takut dengan ancaman orang-orang ini, karena memang harus kita akui memang memiliki banyak pendukung Irasional yang merasa dengan menghancurkan bahkan membunuh orang Islam yang berbeda pandangan mereka akan diganjar pahala dan diberi sebuah kapling di Surga Jainatunn'im.
Sikap orang-orang rasional yang seperti inilah yang membuat orang-orang zalim ini semakin meraja lela di Aceh negeri yang kita cintai.
Saya sendiri terus terang sangat mennyayangkan hal ini, sepertinya orang-orang rasional di Aceh lupa, kalau dalam agama kita itu diperintahkan untuk melawan segala kemungkaran dengan kekuatan terbaik yang kita punya, tidak mampu dengan kekuatan lakukanlah dengan ucapan alias OPINI. Kalau tidak mampu baru lawan dalam hati. Entah apa nanti yang akan dijawab oleh orang-orang rasional ini kepada anak cucu mereka ketika pada masa itu nanti Aceh sudah jatuh ke dalam jurang kehancuran yang dalam.
Sikap takut orang-orang rasional inilah yang membuat di Aceh banyak berjatuhan korban yang tidak perlu akibat kebveradaan hukum yang prenmatur ini.
Seorang kakak kelas saya waku kuliah dulu memaparkan fakta tersebut diantaranya : Bulan puasa lalu 4 laki-laki memperkosa 1 perempuan karena di duga khalwat, tidak ada yang berani membela yang perempuan.. .. (Leupung, A Besar).
Seorang anak perempuan umur 9 tahun yang mentalnya terganggu di perkosa sampai rahimnya rusak dan mengalami pendarahan terus dan membutuhkan operasi besar, tidak ada yang berani mengejar pelakunya (Krueng raya, A, Besar).
Ketika seorang perempuan bisu dan gagu diperkosa dan ditinggalkan tanpa pakaian di Blangpadang, juga tidak ada yang berani menyejar pelaku dan mengusut tuntas kasusnya.
Terakhir, di Langsa seorang perempuan menjadi korban yang diakui oleh ketua MPU terjadi akibat tidak matangnya proses perekrutan dan kurangnya pengawasan terhadap ujung tombak pelaksana hukum ini.
Di Aceh pasca kejadian Langsa itu saya melihat begitu semakin kentalnya orang yang MEMBERHALAKAN Qanun Syari'at Islam, mereka memperlakukan Qanun bermasalah itu layaknya kitab suci Al Qur'an yang tak bisa diubah redaksinya sama sekali dan mereka juga memperlakukan perancang Qanun ini layaknya Rasul yang tak bisa salah.
Mereka begitu mengkultuskan Qanun dan Perancangnya, contohnya ucapan konyol si Muslim Ibrahim yang ketua MPU itupun tidak bisa mereka kritisi. Yaitu ketika si Muslim Ibrahim mengatakan "bahwa rektrutmen personel WH harus diperketat "... Harusnya kalau mereka memandang si Muslim itu sebagai manusia biasa yang cuma makhluk yang fana, bukan Allah SWT yang bebas dari sifat salah. Terus terang saya jadi penasaran apa isi Syahadat orang-orang ini.
Kalau mau adil dan terbebas dari mengkultuskan MAKHLUK terlalu berlebihan, kita akan melihat KONYOL-nya ucapan Muslim Ibrahim yang dikutip di tulisan ini.
Kalau kita memandang si Muslim Ibrahim ini hanya selayaknya manusia biasa yang tidak terlepas dari salah dan dosa, kita tentu akan terus mengejar dan mencecar si Muslim itu dengan pertanyaan, "jadi selama ini rekrutmen WH itu nggak ketat alias main-main?", lalu dilanjutkan, karena rekrutmennya nggak serius jadi makan korban...mana tanggung jawab orang yang merekrut?
Atau bisa dilanjutkan dengan pertanyaan...apakah dalam persoalan WH ini pola rekrutmennya yang salah atau memang, SDA yang tersedia memang cuma sebegitu yang kalau sistem rekrutmennya dibuat sebaik apapun, hasilnya ya nggak akan lebih baik dari itu.
Ini yang terjadi sama sekali sebaliknya, orang-orang ini terlalu ewuh pakeweuh dan banyak petita-petiti....dan akibatnya apa, yang terjadi mereka cuma pamer HAFALAN, ayat yang dikutip hadits yang disodorkan sama sekali tidak mampu menyentuh inti persoalan.
Karena masalah ini dipikir bisa selesai dengan PAMER ILMU seperti ini, lihat saja ke depannya, nanti pelaksanaan Syari'at Islam ini akan bermasalah lagi.
Setelah riuh-rendah kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh aparat WH ini selesai, ke depannya marilah kita bersiap-siap menerima kabar pelanggaran yang dilakukan oleh WH lagi.
Dan mulai sekarang, para megalomaniak yang suka OMONG BESAR yang merasa diri setara Tuhan itu, silahkan menyiapkan berbagai alasan pembenar untuk pelanggaran yang akan dilakukan WH yang kata si Muslim Ibrahim itu rekrutmennya akan diperketat.
Kalau tidak percaya apa yang saya katakan, silahkan simpan tulisan ini dan sekaligus ini akan saya simpan di Blog saya, untuk nanti saya keluarkan lagi saat WH kembali berulah. Sebagaimana halnya yang saya lakukan ketika dulu orang begitu bersemangat menanggapi terpilihnya OBAMA menjadi Presiden Amerika.
Dan kalau apa yang saya perkirakan ini terjadi, saya harap siapapun manusia BERBACOT BESAR yang menuduh saya anti ISLAM itu mau memprint tulisan ini dan menempelkannya di jidat mereka yang keras seperti batu itu.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku GAYO, beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Tulisan yang saya nilai dengan jujur ini ditulisa oleh seseorang yang bernamag bernama Zahrul Bawady M. Daud yang namanya saya kenal di facebook, tapi sama sekali tidak pernah saya kenal di dunia nyata.
Saya sendiri merasa heran dengan berbagai hujatan yang disampaikan kepada saya saat saya menganggapi tulisan dari Zahrul Bawady M. Daud ini. Karena dalam pandangan saya, ketika Zahrul mem-post tulisan ini di facebook, maka status tulisan ini pun telah menjadi sebuah publikasi yang statusnya menjadi sah untuk dinilai oleh siapapun dari berbagai sisi.
Maka ketika beliau mempublikasikan tulisan ini dan men-tag nama saya dalam tulisan itu, jelas saya berpikir kalau beliau tentu mengharapkan tanggapan dari berbagai sudut pandang, bukan cuma sekedar puja-puji.
Dan apa yang saya sampaikan dalam tanggapan saya terhadap tulisannya ini adalah penilaian berdasarkan sudut pandang saya, dan menurut saya kalau ada yang tidak sepakat dengan pandangan saya tersebut silahkan dikritisi dan mari kita BERDISKUSI.
Inti kemarahan orang yang menghujat saya ini adalah karena saya menilai tulisan-tulisan semacam ini cuma sekedar omong kosong dari orang yang pamer ilmu, yang sama sekali tidak menyentuh inti persoalan. Orang-orang yang tidak senang dengan komentar saya ini, marah karena menurut mereka saya tidak menghargai usaha mereka untuk menyelesaikan carut-marut permasalahan Syari'at Islam di Aceh ini setidaknya dengan pena.
Padahal sebenarnya yang terjadi tidaklah demikian, sebenarnya sayapun mengakui kalau mereka (para penulis ini) memang sudah berusaha, ya cuma seperti yang saya katakan dengan jujur dari hati nurani saya yang terdalam " Ketika membaca kebanyakan tulisan mereka ini, saya seperti sedang menyaksikan orang yang kebakaran rumah tapi sibuk mengomentari bukan memadamkan api".
Kalau anda ikut membaca tulisan-tulisan mereka, melalui tulisan-tulisan ini, anda dan saya jadi tahu ilmu mereka tinggi, penguasaan mereka terhadap dalil-dalil hebat...cuma ya karena mereka tidak menyentuh ESENSI masalahnya, yang terjadi cuma pamer ILMU, kita jadi seperti pertandingan Karate di nomor KATA.
Orang yang terlalu banyak belajar, merasa banyak ilmu tapi tidak pernah berpraktek di dunia nyata memang cenderung menjadikan orang memiliki sikap MEGALOMANIAK, dengan ciri merasa diri paling hebat, merasa diri paling tahu segalanya, merasa diri paling Islam, merasa diri paling mukmin, bahkan merasa dapat mengetahui niat terdalam seorang Muslim hanya dengan berdasarkan prasangka dan fanatasi di kepala.
Para megalomaniak ini menuntut orang lain untuk bersikap santun penuh petita-petiti tapi mereka sendiri boleh mencap orang yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai Kafir, pembenci Islam, SIPILIS dan berbagai sebutan buruk lainnya.
Mereka inilah para orang berilmu yang kalau diibaratkan pertandingan Karate, mereka ini sangat mahir di nomor kata yang mempertandingkan pameran jurus, tapi tidak pernah bertarung.
Masalah di Aceh ini adalah terlalu berkuasanya dan terlalu bebasnya megalomaniak ini, yang sebenarnya tidak lain adalah orang-orang berotak kecil dan berbacot besar. Para megalomaniak ini dengan bebas menghina dan merendahkan orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Para megalomaniak ini merasa mampu membantu memperbaiki nasib orang Islam di Perancis bahkan Palestina dengan mengumbar bacot-bacot besar jauh dari seberang lautan, dan dengan serta merta merendahkan orang Islam lain yang mencoba menyelesaikan persolan dengan cara mengurai masalah untuk mengurai kusut masai yang terlihat di permukaan.
Aceh yang sebenarnya keadaannya sudah jauh lebih baik, tapi oleh orang-orang yang ingin Aceh tampak indah di permukaan dan kebetulan punya kuasa, Aceh dihadiahi sebuah hukum prematur yang sangat mentah yang dilabeli SYARI'AT ISLAM yang kemudian disembah para megalomaniak berilmu tinggi ini layaknya berhala. Berbagai kejadian memilukan terjadi di Aceh akibat keberadaan hukum prematur ini yang menunjukkan bahwa HUKUM ini bermasalah, tapi karena labelnya SYARI'AT ISLAM, para megalomaniak ini resistant terhadap siapapun yang mengkritisi apalagi mengutak-atik berhala mereka.
Masalah ini semakin menjadi-jadi, karena orang-orang Aceh yang masih memiliki akal sehat terlarut dalam langgam permainan para megalomaniak ini yang menuntut orang lain untuk berdiskusi dengan mereka dengan penuh sopan santun dan petita-petiti sementara mereka boleh mencap dan menghakimi orang lain seenak perut dengan berdasarkan fantasi megalomaniak mereka. Tidak sedikit pula orang Aceh yang takut dengan ancaman orang-orang ini, karena memang harus kita akui memang memiliki banyak pendukung Irasional yang merasa dengan menghancurkan bahkan membunuh orang Islam yang berbeda pandangan mereka akan diganjar pahala dan diberi sebuah kapling di Surga Jainatunn'im.
Sikap orang-orang rasional yang seperti inilah yang membuat orang-orang zalim ini semakin meraja lela di Aceh negeri yang kita cintai.
Saya sendiri terus terang sangat mennyayangkan hal ini, sepertinya orang-orang rasional di Aceh lupa, kalau dalam agama kita itu diperintahkan untuk melawan segala kemungkaran dengan kekuatan terbaik yang kita punya, tidak mampu dengan kekuatan lakukanlah dengan ucapan alias OPINI. Kalau tidak mampu baru lawan dalam hati. Entah apa nanti yang akan dijawab oleh orang-orang rasional ini kepada anak cucu mereka ketika pada masa itu nanti Aceh sudah jatuh ke dalam jurang kehancuran yang dalam.
Sikap takut orang-orang rasional inilah yang membuat di Aceh banyak berjatuhan korban yang tidak perlu akibat kebveradaan hukum yang prenmatur ini.
Seorang kakak kelas saya waku kuliah dulu memaparkan fakta tersebut diantaranya : Bulan puasa lalu 4 laki-laki memperkosa 1 perempuan karena di duga khalwat, tidak ada yang berani membela yang perempuan.. .. (Leupung, A Besar).
Seorang anak perempuan umur 9 tahun yang mentalnya terganggu di perkosa sampai rahimnya rusak dan mengalami pendarahan terus dan membutuhkan operasi besar, tidak ada yang berani mengejar pelakunya (Krueng raya, A, Besar).
Ketika seorang perempuan bisu dan gagu diperkosa dan ditinggalkan tanpa pakaian di Blangpadang, juga tidak ada yang berani menyejar pelaku dan mengusut tuntas kasusnya.
Terakhir, di Langsa seorang perempuan menjadi korban yang diakui oleh ketua MPU terjadi akibat tidak matangnya proses perekrutan dan kurangnya pengawasan terhadap ujung tombak pelaksana hukum ini.
Di Aceh pasca kejadian Langsa itu saya melihat begitu semakin kentalnya orang yang MEMBERHALAKAN Qanun Syari'at Islam, mereka memperlakukan Qanun bermasalah itu layaknya kitab suci Al Qur'an yang tak bisa diubah redaksinya sama sekali dan mereka juga memperlakukan perancang Qanun ini layaknya Rasul yang tak bisa salah.
Mereka begitu mengkultuskan Qanun dan Perancangnya, contohnya ucapan konyol si Muslim Ibrahim yang ketua MPU itupun tidak bisa mereka kritisi. Yaitu ketika si Muslim Ibrahim mengatakan "bahwa rektrutmen personel WH harus diperketat "... Harusnya kalau mereka memandang si Muslim itu sebagai manusia biasa yang cuma makhluk yang fana, bukan Allah SWT yang bebas dari sifat salah. Terus terang saya jadi penasaran apa isi Syahadat orang-orang ini.
Kalau mau adil dan terbebas dari mengkultuskan MAKHLUK terlalu berlebihan, kita akan melihat KONYOL-nya ucapan Muslim Ibrahim yang dikutip di tulisan ini.
Kalau kita memandang si Muslim Ibrahim ini hanya selayaknya manusia biasa yang tidak terlepas dari salah dan dosa, kita tentu akan terus mengejar dan mencecar si Muslim itu dengan pertanyaan, "jadi selama ini rekrutmen WH itu nggak ketat alias main-main?", lalu dilanjutkan, karena rekrutmennya nggak serius jadi makan korban...mana tanggung jawab orang yang merekrut?
Atau bisa dilanjutkan dengan pertanyaan...apakah dalam persoalan WH ini pola rekrutmennya yang salah atau memang, SDA yang tersedia memang cuma sebegitu yang kalau sistem rekrutmennya dibuat sebaik apapun, hasilnya ya nggak akan lebih baik dari itu.
Ini yang terjadi sama sekali sebaliknya, orang-orang ini terlalu ewuh pakeweuh dan banyak petita-petiti....dan akibatnya apa, yang terjadi mereka cuma pamer HAFALAN, ayat yang dikutip hadits yang disodorkan sama sekali tidak mampu menyentuh inti persoalan.
Karena masalah ini dipikir bisa selesai dengan PAMER ILMU seperti ini, lihat saja ke depannya, nanti pelaksanaan Syari'at Islam ini akan bermasalah lagi.
Setelah riuh-rendah kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh aparat WH ini selesai, ke depannya marilah kita bersiap-siap menerima kabar pelanggaran yang dilakukan oleh WH lagi.
Dan mulai sekarang, para megalomaniak yang suka OMONG BESAR yang merasa diri setara Tuhan itu, silahkan menyiapkan berbagai alasan pembenar untuk pelanggaran yang akan dilakukan WH yang kata si Muslim Ibrahim itu rekrutmennya akan diperketat.
Kalau tidak percaya apa yang saya katakan, silahkan simpan tulisan ini dan sekaligus ini akan saya simpan di Blog saya, untuk nanti saya keluarkan lagi saat WH kembali berulah. Sebagaimana halnya yang saya lakukan ketika dulu orang begitu bersemangat menanggapi terpilihnya OBAMA menjadi Presiden Amerika.
Dan kalau apa yang saya perkirakan ini terjadi, saya harap siapapun manusia BERBACOT BESAR yang menuduh saya anti ISLAM itu mau memprint tulisan ini dan menempelkannya di jidat mereka yang keras seperti batu itu.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku GAYO, beragama ISLAM
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Jumat, 29 Januari 2010
Solusi AKHIRAT Ala Kaum Fundamentalis
Menanggapi tulisan saya Faham fundamentalis dan Ilmu Pengetahuan, seorang pembaca bernama Abu Kharis mengatakan kepada saya
Sebelum menyimpulkan, bagusnya WWN dkk baca dulu artikel ustadz fundamentalis berikut :
1. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2865-mendudukkan-akal-pada-tempatnya.html
2. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Lalu saya pun membaca link yang diberikan oleh Abu Kharis yang sepertinya mengharapkan saya akan berubah pandangan setelah saya membaca artikel dalam link yang dia berikan.
Tapi setelah saya membaca artikel dalam kedua link tersebut, alih-alih saya berubah pikiran. Informasi-informasi yang ada dalam artikel yang disarankan oleh Abu Kharis untuk saya baca tersebut justru semakin menguatkan pendapat saya bahwa Islam saat ini benar-benar telah dikuasai sepenuhnya oleh faham fundamentalis yang memahami segala teks agama secara literer dengan cara yang IRRASIONAL bukan RASIONAL. Yang akan semakin membawa kita Umat Islam ke jurang keterpurukan.
seluruh penjelasan dalam artikel ini benar-benar khas cara pandang dan cara pikir kaum fundamentalis yang LITERER persis seperti apa yang tersurat.
Salah satu dari penjelasan yang IRRASIONAL khas pikiran kaum fundamentalis yang dimuat dalam artikel di link yang diberikan oleh Abu Kharis ini adalah ketika penulis yang bernama Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan tentang kebenaran (HR. Muslim no. 7385) yang menjelaskan tentang panasnya matahari di padang mahsyar yang hanya sejengkal di kepala yang tentu saja tidak logis jika dipahami dengan logika yang berlaku umum saat ini.
Seperti biasa, pemahaman kaum fundamentalis untuk hadits ini adalah LITERER dan penjelasannya pun tetap LITERER sesuai dengan apa yang tertulis. Maka untuk mengatasi masalah ini dibuatlah sebuah penjelasan yang 100% spekulatif seperti di bawah ini.
"Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatann yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 370)"
Baca : http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Menurut logika yang mendasari ilmu pengetahuan penjelasan seperti yang disampaikan oleh penulis ini nilainya adalah NOL BESAR.
Kenapa NOL BESAR?, karena dalam pemahaman ilmu pengetahuan modern yang didasari oleh cara pandang KANT yang dia tulis dalam bukunya **Critique of Pure Reason**, dikatakan bahwa debat ngalor-ngidul secara verbal (PURE reason) tidak ada gunanya, sebab masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Maka dalam bukunya yang mendasari ilmu pengetahuan modern tersebut KANT mengatakan bahwa "Satu-satunya jalan yang bisa mengakhiri perdebatan adalah OBSERVASI EMPIRIS, dalam hal ini adalah eksperimen"
Perdebatan seperti yang ada dalam link yang direkomendasikan oleh Abu Kharis ini adalah tergolong debat ngalor-ngidul dimana masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Debat ngalor ngidul seperti ini persis seperti ketika dalam sebuah tulisan saya mengatakan "air bisa menjadi bahan bakar", kemudian ada seorang penanggap mengatakan itu cuma mimpi, itu mustahil, dia membawa-bawa hukum Thermodinamika pertama. Yah kalau saya juga menanggapinya dengan ngelor-ngidul yang sama ya tidak akan ada habisnya, sebab masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Maka dari itu saya mengajaknya untuk melakukan sebuah eksperimen EMPIRIS yang bisa dilakukan dan dibuktikan hasilnya oleh siapapun juga.
Saya memintanya untuk menggunting lembaran aluminium dengan potongan kecil-kecil sebanyak satu sendok makan, memasukkannya ke dalam botol kecap kosong, lalu campurkan dengan soda api dan masukkan air. Lalu kalau itu sudah dia lakukan, saya memintanya untuk membawa botol itu ke kamar tidurnya dan menyalakan api di atas mulut botol itu.
Kalau menyala, artinya air bisa terbakar dan artinya saya benar, kalau tidak ya berarti saya yang salah. Perdebatan SELESAI.
Ini yang saya sebut sebagai pembuktian yang SAMA bagi siapapun juga tanpa terkecuali. Siapapun, artinya semua manusia tidak peduli dia penganut agama apa dan ideologi apa. Asal dia manusia dan memiliki panca indera yang lengkap, dia bisa membuktikan benar tidaknya pendapat saya. (tapi saat itu, lawan debat saya ini tidak berani melaksanakan tawaran saya tersebut)
Nah solusi seperti inilah yang membuat BARAT maju di segala bidang. Para ilmuwan mereka sudah lama berhenti berdebat ngalor-ngidul. Kalau mereka menghadapi kejadian seperti bertentangannya teks dengan logika seperti dalam hadits yang dikutip oleh penulis dalam link yang diberikan oleh Abu Kharis kepada saya ini. ILMUWAN BARAT akan langsung melakukan eksperimen (seperti yang saya tawarkan kepada lawan debat saya di atas) untuk membuktikan pendapat siapa yang benar.dan siapa yang salah. Hasil dari eksperimen ini nantinya bisa diuji oleh siapapun juga dan kebenarannya juga akan SAMA bagi semua manusia.
Melalui proses seperti inilah komputer yang kita pakai ini, obat yang kita konsumsi, kendaraan yang kita naiki serta jalan yang kita lewati tercipta.
Bandingkan dengan argumen dari kaum fundamentalis yang sudah puas dengan solusi "Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia", yang sama sekali tidak bisa diuji kebenarannya oleh siapapun dari agama dan ideologi apapun karna kebenaran seperti ini hanya bisa diakui kebenarannya dengan IMAN.
Kebenaran seperti ini hanya bisa DIIMANI tapi tidak bisa DIBUKTIKAN, sehingga tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menghasilkan apapun. Yang bisa dihasilkan oleh solusi seperti ini hanyalah perasaan puas yang semu seperti yang dirasakan oleh pecandu narkoba.
Cara menyelesaikan masalah seperti inilah yang membuat umat ISLAM sekarang tertinggal dalam segala bidang, sehingga BARAT pun dengan santainya bisa menginjak-injak kepala kita semau dan seenak perut mereka.
Kalau cara pandang dan cara menyelesaikan masalah seperti ini tetap kita pertahankan, kapan kita akan bisa menyaingi BARAT?... Jawabnya adalah nanti di padang Mahsyar, saat manusia (katanya) mampu berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.
Jadi kalau kita ingin dihormati oleh BARAT di akhirat nanti, silahkan pertahankan dan ikuti cara pandang dan cara pikir IRRASIONAL ala kaum fundamentalis ini.
Tapi kalau kita tidak ingin BARAT terus menginjak kepala kita di DUNIA ini, ubahlah cara pandang dan cara pikir IRRASIONAL ala kaum fundamentalis ini, kembalilah menggali nilai-nilai, cara pandang dan cara pikir RASIONAL ala kaum Mu'tazillah yang lebih dari 1000 tahun yang lalu pernah menjadikan Islam sebagai peradaban yang gilang-gemilang.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku Gayo, Beragama ISLAM
Sebelum menyimpulkan, bagusnya WWN dkk baca dulu artikel ustadz fundamentalis berikut :
1. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2865-mendudukkan-akal-pada-tempatnya.html
2. http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Lalu saya pun membaca link yang diberikan oleh Abu Kharis yang sepertinya mengharapkan saya akan berubah pandangan setelah saya membaca artikel dalam link yang dia berikan.
Tapi setelah saya membaca artikel dalam kedua link tersebut, alih-alih saya berubah pikiran. Informasi-informasi yang ada dalam artikel yang disarankan oleh Abu Kharis untuk saya baca tersebut justru semakin menguatkan pendapat saya bahwa Islam saat ini benar-benar telah dikuasai sepenuhnya oleh faham fundamentalis yang memahami segala teks agama secara literer dengan cara yang IRRASIONAL bukan RASIONAL. Yang akan semakin membawa kita Umat Islam ke jurang keterpurukan.
seluruh penjelasan dalam artikel ini benar-benar khas cara pandang dan cara pikir kaum fundamentalis yang LITERER persis seperti apa yang tersurat.
Salah satu dari penjelasan yang IRRASIONAL khas pikiran kaum fundamentalis yang dimuat dalam artikel di link yang diberikan oleh Abu Kharis ini adalah ketika penulis yang bernama Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan tentang kebenaran (HR. Muslim no. 7385) yang menjelaskan tentang panasnya matahari di padang mahsyar yang hanya sejengkal di kepala yang tentu saja tidak logis jika dipahami dengan logika yang berlaku umum saat ini.
Seperti biasa, pemahaman kaum fundamentalis untuk hadits ini adalah LITERER dan penjelasannya pun tetap LITERER sesuai dengan apa yang tertulis. Maka untuk mengatasi masalah ini dibuatlah sebuah penjelasan yang 100% spekulatif seperti di bawah ini.
"Jika kita memperhatikan, hadits ini terasa bertentangan dengan logika kita. Namun sebenarnya dapat kita katakan, “Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia. Namun manusia ketika hari kiamat memiliki kekuatann yang luar biasa. Mungkin saja jika manusia saat ini berdiam selama 50 hari di bawah terik matahari, tanpa adanya naungan, tanpa makan dan minum, pasti dia akan mati. Akan tetapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Bahkan di hari kiamat, mereka akan berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.” (Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 370)"
Baca : http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2866-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
Menurut logika yang mendasari ilmu pengetahuan penjelasan seperti yang disampaikan oleh penulis ini nilainya adalah NOL BESAR.
Kenapa NOL BESAR?, karena dalam pemahaman ilmu pengetahuan modern yang didasari oleh cara pandang KANT yang dia tulis dalam bukunya **Critique of Pure Reason**, dikatakan bahwa debat ngalor-ngidul secara verbal (PURE reason) tidak ada gunanya, sebab masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Maka dalam bukunya yang mendasari ilmu pengetahuan modern tersebut KANT mengatakan bahwa "Satu-satunya jalan yang bisa mengakhiri perdebatan adalah OBSERVASI EMPIRIS, dalam hal ini adalah eksperimen"
Perdebatan seperti yang ada dalam link yang direkomendasikan oleh Abu Kharis ini adalah tergolong debat ngalor-ngidul dimana masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Debat ngalor ngidul seperti ini persis seperti ketika dalam sebuah tulisan saya mengatakan "air bisa menjadi bahan bakar", kemudian ada seorang penanggap mengatakan itu cuma mimpi, itu mustahil, dia membawa-bawa hukum Thermodinamika pertama. Yah kalau saya juga menanggapinya dengan ngelor-ngidul yang sama ya tidak akan ada habisnya, sebab masing-masing pihak selalu bisa saja mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapatnya sendiri dan mempersalahkan pendapat lawan.
Maka dari itu saya mengajaknya untuk melakukan sebuah eksperimen EMPIRIS yang bisa dilakukan dan dibuktikan hasilnya oleh siapapun juga.
Saya memintanya untuk menggunting lembaran aluminium dengan potongan kecil-kecil sebanyak satu sendok makan, memasukkannya ke dalam botol kecap kosong, lalu campurkan dengan soda api dan masukkan air. Lalu kalau itu sudah dia lakukan, saya memintanya untuk membawa botol itu ke kamar tidurnya dan menyalakan api di atas mulut botol itu.
Kalau menyala, artinya air bisa terbakar dan artinya saya benar, kalau tidak ya berarti saya yang salah. Perdebatan SELESAI.
Ini yang saya sebut sebagai pembuktian yang SAMA bagi siapapun juga tanpa terkecuali. Siapapun, artinya semua manusia tidak peduli dia penganut agama apa dan ideologi apa. Asal dia manusia dan memiliki panca indera yang lengkap, dia bisa membuktikan benar tidaknya pendapat saya. (tapi saat itu, lawan debat saya ini tidak berani melaksanakan tawaran saya tersebut)
Nah solusi seperti inilah yang membuat BARAT maju di segala bidang. Para ilmuwan mereka sudah lama berhenti berdebat ngalor-ngidul. Kalau mereka menghadapi kejadian seperti bertentangannya teks dengan logika seperti dalam hadits yang dikutip oleh penulis dalam link yang diberikan oleh Abu Kharis kepada saya ini. ILMUWAN BARAT akan langsung melakukan eksperimen (seperti yang saya tawarkan kepada lawan debat saya di atas) untuk membuktikan pendapat siapa yang benar.dan siapa yang salah. Hasil dari eksperimen ini nantinya bisa diuji oleh siapapun juga dan kebenarannya juga akan SAMA bagi semua manusia.
Melalui proses seperti inilah komputer yang kita pakai ini, obat yang kita konsumsi, kendaraan yang kita naiki serta jalan yang kita lewati tercipta.
Bandingkan dengan argumen dari kaum fundamentalis yang sudah puas dengan solusi "Kekuatan manusia ketika hari kiamat berbeda dengan kekuatannya ketika sekarang di dunia", yang sama sekali tidak bisa diuji kebenarannya oleh siapapun dari agama dan ideologi apapun karna kebenaran seperti ini hanya bisa diakui kebenarannya dengan IMAN.
Kebenaran seperti ini hanya bisa DIIMANI tapi tidak bisa DIBUKTIKAN, sehingga tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menghasilkan apapun. Yang bisa dihasilkan oleh solusi seperti ini hanyalah perasaan puas yang semu seperti yang dirasakan oleh pecandu narkoba.
Cara menyelesaikan masalah seperti inilah yang membuat umat ISLAM sekarang tertinggal dalam segala bidang, sehingga BARAT pun dengan santainya bisa menginjak-injak kepala kita semau dan seenak perut mereka.
Kalau cara pandang dan cara menyelesaikan masalah seperti ini tetap kita pertahankan, kapan kita akan bisa menyaingi BARAT?... Jawabnya adalah nanti di padang Mahsyar, saat manusia (katanya) mampu berdiam selama 50 ribu tahun, tanpa ada naungan, tanpa makan dan minuman.
Jadi kalau kita ingin dihormati oleh BARAT di akhirat nanti, silahkan pertahankan dan ikuti cara pandang dan cara pikir IRRASIONAL ala kaum fundamentalis ini.
Tapi kalau kita tidak ingin BARAT terus menginjak kepala kita di DUNIA ini, ubahlah cara pandang dan cara pikir IRRASIONAL ala kaum fundamentalis ini, kembalilah menggali nilai-nilai, cara pandang dan cara pikir RASIONAL ala kaum Mu'tazillah yang lebih dari 1000 tahun yang lalu pernah menjadikan Islam sebagai peradaban yang gilang-gemilang.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang ACEH suku Gayo, Beragama ISLAM
Rabu, 27 Januari 2010
Faham Fundamentalis dan Ilmu Pengetahuan
Tulisan ini adalah bagian ketiga dari 4 tulisan. Tulisan sebelumnya dapat dibaca di http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup.html dan http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup_22.html dan http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup_24.html
Tanah adalah hidup dan jiwa orang Bali, seluruh tanah yang ada di Bali sudah habis dibagi menjadi desa-desa adat yang dimiliki secara turun-temurun oleh orang Bali. Orang Bali hanya diakui sebagai Orang Bali jika mereka memiliki Desa Adat. Orang yang tidak memiliki desa adat, tidak bisa disebut orang Bali. Sementara itu desa adat adalah warisan, orang hanya bisa memiliki desa adat di Bali, jika mereka memiliki nenek moyang yang memiliki desa adat. Sebab memiliki desa adat berkaitan erat dengan tanggung jawab, bukan hak.
Orang Bali tidak pernah lepas dari nenek moyangnya, meskipun sudah meninggal, orang Bali percaya roh nenek moyang mereka tetap ada dan masih terus mengunjungi keturunan mereka. Karena itulah di setiap rumah di Bali ada pelinggih, yaitu sebuah Pura yang dibuat untuk tempat bersemyam roh anggota keluarga yang sudah meninggal jika sedang datang berkunjung. Di setiap Desa di Bali juga terdapat minimal tiga buah Pura, masing-masing satu untuk satu Dewa Tri Murti, Syiwa, Brahma dan Wisnu. Pura untuk Syiwa disebut Pura Dalem, Pura untuk Brahma disebut Pura Desa dan Pura untuk Wisnu disebut Pura Puseh. Konsep tiga pura ini dikenal dengan nama konsep Kahyangan Tiga yang diperkenalkan oleh seorang pendeta besar Hindu bernama Mpu Kuturan.
Di seluruh desa yang ada di Bali selalu ada dua kategori desa, yaitu desa adat seperti yang saya sebutkan di atas dan desa administratif. Setiap desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut 'Klian'. Kepala desa adat disebut 'Klian adat' sedangkan kepala desa administratif disebut 'klian dinas'. Di desa-desa di Bali, biasanya 'Klian adat' lebih dihormati ketimbang 'klian dinas'. Para pendatang dan orang Bali yang tinggal di luar desa adatnya, akan masuk sebagi warga desa dinas. Semua orang Bali yang merupakan anggota atau rakyat dari sebuah Desa adat, berkewajiban memelihara dan membayar iuran untuk pura-pura itu. Tapi yang 'cuma' warga desa administratif, entah itu pendatang dari luar pulau atau orang Bali sendiri yang nenek moyangnya tidak berasal dari desa itu, tidak memiliki kewajiban seperti ini.
Itulah sebabnya, meskipun pendatang di Bali secara administratif kenegaraan memiliki tanah di Bali, tapi menurut Budaya Bali, para pendatang itu hanya menumpang hidup di Bali, meskipun mereka telah hidup dari generasi ke generasi. Karena tidak memiliki kewajiban untuk memelihara Pura, mereka tetap bukan orang Bali. Seluruh pendatang yang datang ke Bali dan menetap di pulau ini harus memaklumi hal itu.
Setiap Pura Kahyangan Tiga ini diupacarai setahun sekali, acara ini dinamakan 'Piodalan', atau orang Bali lebih sering secara singkat menyebutnya 'ODALAN'. Penanggalan yang digunakan untuk menghitung hari upacara untuk setiap Pura itu bukan penanggalan masehi atau penanggalan Hindu yang dihitung dengan tahun saka. Penanggalan yang dipakai adalah penanggalan Bali, yang setahunnya cuma berisi 210 hari. Ulang tahun dan juga semua hari raya di Bali dilangasungkan dengan berpatokan kepada penanggalan ini, kecuali nyepi yang dihitung dengan Tahun Saka. Pemakaian penanggalan inilah yang menyebabkan jika kita menanyakan umur kepada orang-orang tua di Bali, tidak jarang mereka kadang menyebut umur mereka 120 tahun.
Dalam perjalanan ini aku menyaksikan sebuah acara piodalan di sebuah desa. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga desa, besar dan kecil. Beberapa warga desa yang bekerja di Kuta atau Denpasar juga harus kembali ke desa adatnya untuk melakukan upacara ini. Kewajiban seperti inilah yang membuat tidak banyak orang Bali yang merantau ke luar daerah, itu karena orang Bali begitu terikat dengan tanahnya. Di Bali, saat seorang bayi lahir, ari-arinya akan ditanam di depan rumah. Orang Bali percaya kekuatan gaib (di Bali disebut Niskala) dari ari-ari ini akan melindungi si bayi dari kekuatan jahat.
Selain untuk piodalan ini, orang Bali juga harus kembali ke Desa adatnya, kalau salah seorang warga desa ini melakukan upacara ngaben, upacara terakhir untuk manusia sebelum jiwanya menjadi murni dan bersatu dengan para Dewa. Tapi upacara Ngaben ini adalah upacara yang sangat mahal, karena itu tidak banyak orang Bali yang langsung diaben saat meninggal. Orang yang langsung diaben saat meninggal biasanya adalah orang-orang berkasta tinggi. Sementara itu orang Bali berkasta Sudra yang jumlahnya sekitar 95% orang bali, biasanya terlebih dahulu menguburkan jasad keluarganya yang meninggal di perkuburan di dekat Pura Dalem. Nanti jasad di dalam kubur itu akan digali kembali untuk di'aben' bersama-sama dengan jasad-jasad lain dalam sebuah acara 'ngaben massal'. 'Ngaben' seperti ini lebih murah karena biaya ngaben ditanggung bersama diantara semua keluarga yang salah seorang anggotanya diaben. Kalau untuk mengikuti 'Ngaben' massal ini pun masih terlalu berat untuk keluarga tersebut, mereka biasanya menumpang mengaben pada acara ngaben sebuah keluarga Brahmana, jika salah seorang anggota keluarga Brahmana tersebut meninggal. Mahalnya biaya upacara ini bukanlah dari biaya pembakaran jasad orang yang meninggal tersebut, tapi biaya yang dibutuhkan untuk membeli Banten serta makanan dan minuman yang harus disediakan untuk warga sekampung yang mengikuti seluruh prosesi kegiatan itu selama berhari-hari sampai abu pembakaran di buang ke laut dan perairan air tawar.
Ngaben adalah ritual terakhir sekaligus paling penting bagi orang Bali. Orang Bali percaya bahwa hanya dengan mengaben lah tubuh fisik dan tubuh spiritual benar-benar bisa dipisahkan dengan sempurna. Setelah di'aben', tubuh fisik manusia yang berasal dari alam dikembalikan ke alam, sedangkan tubuh spiritual yang suci kembali bersatu bersama para dewa di puncak Gunung Agung dan sesekali mengunjungi keluarga yang ditinggalkan melalui 'Sanggah Kemulan' atau Pura Keluarga.
Karena alasaan itulah, semua orang Bali melakukan prosesi 'ngaben' yang sangat mahal ini terhadap anggota keluarganya yang meninggal, kecuali penduduk desa Trunyan, sebuah desa suku Bali Aga (suku Bali yang sudah menghuni pulau ini sebelum gelombang kedatangan rakyat Majapahit dari Jawa). Di sana jasad orang yang telah meninggal diletakkan di bawah sebatang pohon.
Ngaben ini tidak boleh dilakukan sendiri, tapi harus sekampung beramai-ramai. Pentingnya prosesi ngaben ini jugalah yang menyebabkan orang Bali merasa bencana terbesar dalam hidup adalah diusir dari kampungnya. Karena kalau ini terjadi, artinya tidak akan ada orang yang akan mengabeninya saat dia meninggal nanti.
Kembali ke Piodalan. Acara Piodalan sendiri juga tidak murah, untuk piodalan setiap warga desa adat harus menyumbangkan sesuatu untuk perayaan itu. Yang kaya menymbangkan uang, beras atau babi, sementara yang kurang mampu menyumbangkan tenaganya. Selain untuk Pura, dalam acara piodalan, tiap keluarga juga harus membuat 'banten' yaitu sesajen yang berisi buah dan kue-kue dan juga di tiap rumah dipasangi 'Penjor', yaitu sebatang bambu yang dihias dengan daun kelapa dan bulir-bulir padi. Setiap orang Bali mengikuti dengan setiap upacara mahal ini dengan penuh kesadaran. Tidak jarang penghasilan mereka selama sebulan habis untuk membiayai upacara semacam ini.
Tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini yang lebih banyak dikunjungi orang asing ketimbang Bali, tapi anehnya tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini di mana warganya berpegang begitu erat pada identitas dan kebiasaan lokalnya dibandingkan orang Bali.
Begitulah kisah perjalananku kemarin, dari Beraban sampai ke Bajera.
Dalam perjalanan singkat yang suma sekitar 2 jam itu aku bisa dengan jelas menyaksikan kehidupan dan cara hidup orang Bali di abad modern ini. Tanpa perlu sebuah Qanun yang disahkan oleh DPRD, mereka tetap bisa hidup dengan berpegang kuat pada'syari'at' agama dan kepercayaan mereka. Tanpa perlu bersikap munafik dan bermuka dua, tanpa perlu mengejar-ngejar kaum perempuan, identitas HINDU tetap melekat erat pada identitas mereka sebagai Orang BALI.
Kemudian dalam bagian akhir tulsan ini saya ingin memberikan sedikit pendapat pribadi saya mengenai orang Bali.
Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang Bali. Saya melihat perbedaan mendasar antar kita dengan orang Bali adalah; Kita gampang sekali memandang rendah dan memandang tinggi orang dan cara hidup yang berbeda dengan kita, yang kita nilai menurut standar kita. Sementara orang Bali yang saya kenal sangat berbeda, kalau tidak diganggu, mereka jarang sekali mau usil dengan nilai menilai cara hidup orang lain.
Mereka yang saya kenal tidak begitu terbiasa menganggap budaya orang lain lebih rendah atau lebih tinggi dari budaya atau cara hidup mereka. Kalau ada yang berbeda dari mereka, ya mereka menganggap itu BEDA, itu saja, tidak lebih hebat atau kurang hebat dibanding mereka.
Dan dengan ini pun saya akhiri keempat seri tulisan ini.
Lalu, sekali lagi, bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah dalam keempat seri tulisan ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Notes : Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?page=1&aid=2046218&id=1524941840 dan
Tanah adalah hidup dan jiwa orang Bali, seluruh tanah yang ada di Bali sudah habis dibagi menjadi desa-desa adat yang dimiliki secara turun-temurun oleh orang Bali. Orang Bali hanya diakui sebagai Orang Bali jika mereka memiliki Desa Adat. Orang yang tidak memiliki desa adat, tidak bisa disebut orang Bali. Sementara itu desa adat adalah warisan, orang hanya bisa memiliki desa adat di Bali, jika mereka memiliki nenek moyang yang memiliki desa adat. Sebab memiliki desa adat berkaitan erat dengan tanggung jawab, bukan hak.
Orang Bali tidak pernah lepas dari nenek moyangnya, meskipun sudah meninggal, orang Bali percaya roh nenek moyang mereka tetap ada dan masih terus mengunjungi keturunan mereka. Karena itulah di setiap rumah di Bali ada pelinggih, yaitu sebuah Pura yang dibuat untuk tempat bersemyam roh anggota keluarga yang sudah meninggal jika sedang datang berkunjung. Di setiap Desa di Bali juga terdapat minimal tiga buah Pura, masing-masing satu untuk satu Dewa Tri Murti, Syiwa, Brahma dan Wisnu. Pura untuk Syiwa disebut Pura Dalem, Pura untuk Brahma disebut Pura Desa dan Pura untuk Wisnu disebut Pura Puseh. Konsep tiga pura ini dikenal dengan nama konsep Kahyangan Tiga yang diperkenalkan oleh seorang pendeta besar Hindu bernama Mpu Kuturan.
Di seluruh desa yang ada di Bali selalu ada dua kategori desa, yaitu desa adat seperti yang saya sebutkan di atas dan desa administratif. Setiap desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut 'Klian'. Kepala desa adat disebut 'Klian adat' sedangkan kepala desa administratif disebut 'klian dinas'. Di desa-desa di Bali, biasanya 'Klian adat' lebih dihormati ketimbang 'klian dinas'. Para pendatang dan orang Bali yang tinggal di luar desa adatnya, akan masuk sebagi warga desa dinas. Semua orang Bali yang merupakan anggota atau rakyat dari sebuah Desa adat, berkewajiban memelihara dan membayar iuran untuk pura-pura itu. Tapi yang 'cuma' warga desa administratif, entah itu pendatang dari luar pulau atau orang Bali sendiri yang nenek moyangnya tidak berasal dari desa itu, tidak memiliki kewajiban seperti ini.
Itulah sebabnya, meskipun pendatang di Bali secara administratif kenegaraan memiliki tanah di Bali, tapi menurut Budaya Bali, para pendatang itu hanya menumpang hidup di Bali, meskipun mereka telah hidup dari generasi ke generasi. Karena tidak memiliki kewajiban untuk memelihara Pura, mereka tetap bukan orang Bali. Seluruh pendatang yang datang ke Bali dan menetap di pulau ini harus memaklumi hal itu.
Setiap Pura Kahyangan Tiga ini diupacarai setahun sekali, acara ini dinamakan 'Piodalan', atau orang Bali lebih sering secara singkat menyebutnya 'ODALAN'. Penanggalan yang digunakan untuk menghitung hari upacara untuk setiap Pura itu bukan penanggalan masehi atau penanggalan Hindu yang dihitung dengan tahun saka. Penanggalan yang dipakai adalah penanggalan Bali, yang setahunnya cuma berisi 210 hari. Ulang tahun dan juga semua hari raya di Bali dilangasungkan dengan berpatokan kepada penanggalan ini, kecuali nyepi yang dihitung dengan Tahun Saka. Pemakaian penanggalan inilah yang menyebabkan jika kita menanyakan umur kepada orang-orang tua di Bali, tidak jarang mereka kadang menyebut umur mereka 120 tahun.
Dalam perjalanan ini aku menyaksikan sebuah acara piodalan di sebuah desa. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga desa, besar dan kecil. Beberapa warga desa yang bekerja di Kuta atau Denpasar juga harus kembali ke desa adatnya untuk melakukan upacara ini. Kewajiban seperti inilah yang membuat tidak banyak orang Bali yang merantau ke luar daerah, itu karena orang Bali begitu terikat dengan tanahnya. Di Bali, saat seorang bayi lahir, ari-arinya akan ditanam di depan rumah. Orang Bali percaya kekuatan gaib (di Bali disebut Niskala) dari ari-ari ini akan melindungi si bayi dari kekuatan jahat.
Selain untuk piodalan ini, orang Bali juga harus kembali ke Desa adatnya, kalau salah seorang warga desa ini melakukan upacara ngaben, upacara terakhir untuk manusia sebelum jiwanya menjadi murni dan bersatu dengan para Dewa. Tapi upacara Ngaben ini adalah upacara yang sangat mahal, karena itu tidak banyak orang Bali yang langsung diaben saat meninggal. Orang yang langsung diaben saat meninggal biasanya adalah orang-orang berkasta tinggi. Sementara itu orang Bali berkasta Sudra yang jumlahnya sekitar 95% orang bali, biasanya terlebih dahulu menguburkan jasad keluarganya yang meninggal di perkuburan di dekat Pura Dalem. Nanti jasad di dalam kubur itu akan digali kembali untuk di'aben' bersama-sama dengan jasad-jasad lain dalam sebuah acara 'ngaben massal'. 'Ngaben' seperti ini lebih murah karena biaya ngaben ditanggung bersama diantara semua keluarga yang salah seorang anggotanya diaben. Kalau untuk mengikuti 'Ngaben' massal ini pun masih terlalu berat untuk keluarga tersebut, mereka biasanya menumpang mengaben pada acara ngaben sebuah keluarga Brahmana, jika salah seorang anggota keluarga Brahmana tersebut meninggal. Mahalnya biaya upacara ini bukanlah dari biaya pembakaran jasad orang yang meninggal tersebut, tapi biaya yang dibutuhkan untuk membeli Banten serta makanan dan minuman yang harus disediakan untuk warga sekampung yang mengikuti seluruh prosesi kegiatan itu selama berhari-hari sampai abu pembakaran di buang ke laut dan perairan air tawar.
Ngaben adalah ritual terakhir sekaligus paling penting bagi orang Bali. Orang Bali percaya bahwa hanya dengan mengaben lah tubuh fisik dan tubuh spiritual benar-benar bisa dipisahkan dengan sempurna. Setelah di'aben', tubuh fisik manusia yang berasal dari alam dikembalikan ke alam, sedangkan tubuh spiritual yang suci kembali bersatu bersama para dewa di puncak Gunung Agung dan sesekali mengunjungi keluarga yang ditinggalkan melalui 'Sanggah Kemulan' atau Pura Keluarga.
Karena alasaan itulah, semua orang Bali melakukan prosesi 'ngaben' yang sangat mahal ini terhadap anggota keluarganya yang meninggal, kecuali penduduk desa Trunyan, sebuah desa suku Bali Aga (suku Bali yang sudah menghuni pulau ini sebelum gelombang kedatangan rakyat Majapahit dari Jawa). Di sana jasad orang yang telah meninggal diletakkan di bawah sebatang pohon.
Ngaben ini tidak boleh dilakukan sendiri, tapi harus sekampung beramai-ramai. Pentingnya prosesi ngaben ini jugalah yang menyebabkan orang Bali merasa bencana terbesar dalam hidup adalah diusir dari kampungnya. Karena kalau ini terjadi, artinya tidak akan ada orang yang akan mengabeninya saat dia meninggal nanti.
Kembali ke Piodalan. Acara Piodalan sendiri juga tidak murah, untuk piodalan setiap warga desa adat harus menyumbangkan sesuatu untuk perayaan itu. Yang kaya menymbangkan uang, beras atau babi, sementara yang kurang mampu menyumbangkan tenaganya. Selain untuk Pura, dalam acara piodalan, tiap keluarga juga harus membuat 'banten' yaitu sesajen yang berisi buah dan kue-kue dan juga di tiap rumah dipasangi 'Penjor', yaitu sebatang bambu yang dihias dengan daun kelapa dan bulir-bulir padi. Setiap orang Bali mengikuti dengan setiap upacara mahal ini dengan penuh kesadaran. Tidak jarang penghasilan mereka selama sebulan habis untuk membiayai upacara semacam ini.
Tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini yang lebih banyak dikunjungi orang asing ketimbang Bali, tapi anehnya tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini di mana warganya berpegang begitu erat pada identitas dan kebiasaan lokalnya dibandingkan orang Bali.
Begitulah kisah perjalananku kemarin, dari Beraban sampai ke Bajera.
Dalam perjalanan singkat yang suma sekitar 2 jam itu aku bisa dengan jelas menyaksikan kehidupan dan cara hidup orang Bali di abad modern ini. Tanpa perlu sebuah Qanun yang disahkan oleh DPRD, mereka tetap bisa hidup dengan berpegang kuat pada'syari'at' agama dan kepercayaan mereka. Tanpa perlu bersikap munafik dan bermuka dua, tanpa perlu mengejar-ngejar kaum perempuan, identitas HINDU tetap melekat erat pada identitas mereka sebagai Orang BALI.
Kemudian dalam bagian akhir tulsan ini saya ingin memberikan sedikit pendapat pribadi saya mengenai orang Bali.
Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang Bali. Saya melihat perbedaan mendasar antar kita dengan orang Bali adalah; Kita gampang sekali memandang rendah dan memandang tinggi orang dan cara hidup yang berbeda dengan kita, yang kita nilai menurut standar kita. Sementara orang Bali yang saya kenal sangat berbeda, kalau tidak diganggu, mereka jarang sekali mau usil dengan nilai menilai cara hidup orang lain.
Mereka yang saya kenal tidak begitu terbiasa menganggap budaya orang lain lebih rendah atau lebih tinggi dari budaya atau cara hidup mereka. Kalau ada yang berbeda dari mereka, ya mereka menganggap itu BEDA, itu saja, tidak lebih hebat atau kurang hebat dibanding mereka.
Dan dengan ini pun saya akhiri keempat seri tulisan ini.
Lalu, sekali lagi, bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah dalam keempat seri tulisan ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Notes : Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?page=1&aid=2046218&id=1524941840 dan
Selasa, 26 Januari 2010
Beraban-Bajera, Pelajaran Hidup 'Bersyari'at' Dari Orang Bali Bag 4
Tulisan ini adalah bagian ketiga dari 4 tulisan. Tulisan sebelumnya dapat dibaca di http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup.html dan http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup_22.html dan http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup_24.html
Tanah adalah hidup dan jiwa orang Bali, seluruh tanah yang ada di Bali sudah habis dibagi menjadi desa-desa adat yang dimiliki secara turun-temurun oleh orang Bali. Orang Bali hanya diakui sebagai Orang Bali jika mereka memiliki Desa Adat. Orang yang tidak memiliki desa adat, tidak bisa disebut orang Bali. Sementara itu desa adat adalah warisan, orang hanya bisa memiliki desa adat di Bali, jika mereka memiliki nenek moyang yang memiliki desa adat. Sebab memiliki desa adat berkaitan erat dengan tanggung jawab, bukan hak.
Orang Bali tidak pernah lepas dari nenek moyangnya, meskipun sudah meninggal, orang Bali percaya roh nenek moyang mereka tetap ada dan masih terus mengunjungi keturunan mereka. Karena itulah di setiap rumah di Bali ada pelinggih, yaitu sebuah Pura yang dibuat untuk tempat bersemyam roh anggota keluarga yang sudah meninggal jika sedang datang berkunjung. Di setiap Desa di Bali juga terdapat minimal tiga buah Pura, masing-masing satu untuk satu Dewa Tri Murti, Syiwa, Brahma dan Wisnu. Pura untuk Syiwa disebut Pura Dalem, Pura untuk Brahma disebut Pura Desa dan Pura untuk Wisnu disebut Pura Puseh. Konsep tiga pura ini dikenal dengan nama konsep Kahyangan Tiga yang diperkenalkan oleh seorang pendeta besar Hindu bernama Mpu Kuturan.
Di seluruh desa yang ada di Bali selalu ada dua kategori desa, yaitu desa adat seperti yang saya sebutkan di atas dan desa administratif. Setiap desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut 'Klian'. Kepala desa adat disebut 'Klian adat' sedangkan kepala desa administratif disebut 'klian dinas'. Di desa-desa di Bali, biasanya 'Klian adat' lebih dihormati ketimbang 'klian dinas'. Para pendatang dan orang Bali yang tinggal di luar desa adatnya, akan masuk sebagi warga desa dinas. Semua orang Bali yang merupakan anggota atau rakyat dari sebuah Desa adat, berkewajiban memelihara dan membayar iuran untuk pura-pura itu. Tapi yang 'cuma' warga desa administratif, entah itu pendatang dari luar pulau atau orang Bali sendiri yang nenek moyangnya tidak berasal dari desa itu, tidak memiliki kewajiban seperti ini.
Itulah sebabnya, meskipun pendatang di Bali secara administratif kenegaraan memiliki tanah di Bali, tapi menurut Budaya Bali, para pendatang itu hanya menumpang hidup di Bali, meskipun mereka telah hidup dari generasi ke generasi. Karena tidak memiliki kewajiban untuk memelihara Pura, mereka tetap bukan orang Bali. Seluruh pendatang yang datang ke Bali dan menetap di pulau ini harus memaklumi hal itu.
Setiap Pura Kahyangan Tiga ini diupacarai setahun sekali, acara ini dinamakan 'Piodalan', atau orang Bali lebih sering secara singkat menyebutnya 'ODALAN'. Penanggalan yang digunakan untuk menghitung hari upacara untuk setiap Pura itu bukan penanggalan masehi atau penanggalan Hindu yang dihitung dengan tahun saka. Penanggalan yang dipakai adalah penanggalan Bali, yang setahunnya cuma berisi 210 hari. Ulang tahun dan juga semua hari raya di Bali dilangasungkan dengan berpatokan kepada penanggalan ini, kecuali nyepi yang dihitung dengan Tahun Saka. Pemakaian penanggalan inilah yang menyebabkan jika kita menanyakan umur kepada orang-orang tua di Bali, tidak jarang mereka kadang menyebut umur mereka 120 tahun.
Dalam perjalanan ini aku menyaksikan sebuah acara piodalan di sebuah desa. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga desa, besar dan kecil. Beberapa warga desa yang bekerja di Kuta atau Denpasar juga harus kembali ke desa adatnya untuk melakukan upacara ini. Kewajiban seperti inilah yang membuat tidak banyak orang Bali yang merantau ke luar daerah, itu karena orang Bali begitu terikat dengan tanahnya. Di Bali, saat seorang bayi lahir, ari-arinya akan ditanam di depan rumah. Orang Bali percaya kekuatan gaib (di Bali disebut Niskala) dari ari-ari ini akan melindungi si bayi dari kekuatan jahat.
Selain untuk piodalan ini, orang Bali juga harus kembali ke Desa adatnya, kalau salah seorang warga desa ini melakukan upacara ngaben, upacara terakhir untuk manusia sebelum jiwanya menjadi murni dan bersatu dengan para Dewa. Tapi upacara Ngaben ini adalah upacara yang sangat mahal, karena itu tidak banyak orang Bali yang langsung diaben saat meninggal. Orang yang langsung diaben saat meninggal biasanya adalah orang-orang berkasta tinggi. Sementara itu orang Bali berkasta Sudra yang jumlahnya sekitar 95% orang bali, biasanya terlebih dahulu menguburkan jasad keluarganya yang meninggal di perkuburan di dekat Pura Dalem. Nanti jasad di dalam kubur itu akan digali kembali untuk di'aben' bersama-sama dengan jasad-jasad lain dalam sebuah acara 'ngaben massal'. 'Ngaben' seperti ini lebih murah karena biaya ngaben ditanggung bersama diantara semua keluarga yang salah seorang anggotanya diaben. Kalau untuk mengikuti 'Ngaben' massal ini pun masih terlalu berat untuk keluarga tersebut, mereka biasanya menumpang mengaben pada acara ngaben sebuah keluarga Brahmana, jika salah seorang anggota keluarga Brahmana tersebut meninggal. Mahalnya biaya upacara ini bukanlah dari biaya pembakaran jasad orang yang meninggal tersebut, tapi biaya yang dibutuhkan untuk membeli Banten serta makanan dan minuman yang harus disediakan untuk warga sekampung yang mengikuti seluruh prosesi kegiatan itu selama berhari-hari sampai abu pembakaran di buang ke laut dan perairan air tawar.
Ngaben adalah ritual terakhir sekaligus paling penting bagi orang Bali. Orang Bali percaya bahwa hanya dengan mengaben lah tubuh fisik dan tubuh spiritual benar-benar bisa dipisahkan dengan sempurna. Setelah di'aben', tubuh fisik manusia yang berasal dari alam dikembalikan ke alam, sedangkan tubuh spiritual yang suci kembali bersatu bersama para dewa di puncak Gunung Agung dan sesekali mengunjungi keluarga yang ditinggalkan melalui 'Sanggah Kemulan' atau Pura Keluarga.
Karena alasaan itulah, semua orang Bali melakukan prosesi 'ngaben' yang sangat mahal ini terhadap anggota keluarganya yang meninggal, kecuali penduduk desa Trunyan, sebuah desa suku Bali Aga (suku Bali yang sudah menghuni pulau ini sebelum gelombang kedatangan rakyat Majapahit dari Jawa). Di sana jasad orang yang telah meninggal diletakkan di bawah sebatang pohon.
Ngaben ini tidak boleh dilakukan sendiri, tapi harus sekampung beramai-ramai. Pentingnya prosesi ngaben ini jugalah yang menyebabkan orang Bali merasa bencana terbesar dalam hidup adalah diusir dari kampungnya. Karena kalau ini terjadi, artinya tidak akan ada orang yang akan mengabeninya saat dia meninggal nanti.
Kembali ke Piodalan. Acara Piodalan sendiri juga tidak murah, untuk piodalan setiap warga desa adat harus menyumbangkan sesuatu untuk perayaan itu. Yang kaya menymbangkan uang, beras atau babi, sementara yang kurang mampu menyumbangkan tenaganya. Selain untuk Pura, dalam acara piodalan, tiap keluarga juga harus membuat 'banten' yaitu sesajen yang berisi buah dan kue-kue dan juga di tiap rumah dipasangi 'Penjor', yaitu sebatang bambu yang dihias dengan daun kelapa dan bulir-bulir padi. Setiap orang Bali mengikuti dengan setiap upacara mahal ini dengan penuh kesadaran. Tidak jarang penghasilan mereka selama sebulan habis untuk membiayai upacara semacam ini.
Tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini yang lebih banyak dikunjungi orang asing ketimbang Bali, tapi anehnya tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini di mana warganya berpegang begitu erat pada identitas dan kebiasaan lokalnya dibandingkan orang Bali.
Begitulah kisah perjalananku kemarin, dari Beraban sampai ke Bajera.
Dalam perjalanan singkat yang suma sekitar 2 jam itu aku bisa dengan jelas menyaksikan kehidupan dan cara hidup orang Bali di abad modern ini. Tanpa perlu sebuah Qanun yang disahkan oleh DPRD, mereka tetap bisa hidup dengan berpegang kuat pada'syari'at' agama dan kepercayaan mereka. Tanpa perlu bersikap munafik dan bermuka dua, tanpa perlu mengejar-ngejar kaum perempuan, identitas HINDU tetap melekat erat pada identitas mereka sebagai Orang BALI.
Kemudian dalam bagian akhir tulsan ini saya ingin memberikan sedikit pendapat pribadi saya mengenai orang Bali.
Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang Bali. Saya melihat perbedaan mendasar antar kita dengan orang Bali adalah; Kita gampang sekali memandang rendah dan memandang tinggi orang dan cara hidup yang berbeda dengan kita, yang kita nilai menurut standar kita. Sementara orang Bali yang saya kenal sangat berbeda, kalau tidak diganggu, mereka jarang sekali mau usil dengan nilai menilai cara hidup orang lain.
Mereka yang saya kenal tidak begitu terbiasa menganggap budaya orang lain lebih rendah atau lebih tinggi dari budaya atau cara hidup mereka. Kalau ada yang berbeda dari mereka, ya mereka menganggap itu BEDA, itu saja, tidak lebih hebat atau kurang hebat dibanding mereka.
Dan dengan ini pun saya akhiri keempat seri tulisan ini.
Lalu, sekali lagi, bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah dalam keempat seri tulisan ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Notes : Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?page=1&aid=2046218&id=1524941840 dan
Tanah adalah hidup dan jiwa orang Bali, seluruh tanah yang ada di Bali sudah habis dibagi menjadi desa-desa adat yang dimiliki secara turun-temurun oleh orang Bali. Orang Bali hanya diakui sebagai Orang Bali jika mereka memiliki Desa Adat. Orang yang tidak memiliki desa adat, tidak bisa disebut orang Bali. Sementara itu desa adat adalah warisan, orang hanya bisa memiliki desa adat di Bali, jika mereka memiliki nenek moyang yang memiliki desa adat. Sebab memiliki desa adat berkaitan erat dengan tanggung jawab, bukan hak.
Orang Bali tidak pernah lepas dari nenek moyangnya, meskipun sudah meninggal, orang Bali percaya roh nenek moyang mereka tetap ada dan masih terus mengunjungi keturunan mereka. Karena itulah di setiap rumah di Bali ada pelinggih, yaitu sebuah Pura yang dibuat untuk tempat bersemyam roh anggota keluarga yang sudah meninggal jika sedang datang berkunjung. Di setiap Desa di Bali juga terdapat minimal tiga buah Pura, masing-masing satu untuk satu Dewa Tri Murti, Syiwa, Brahma dan Wisnu. Pura untuk Syiwa disebut Pura Dalem, Pura untuk Brahma disebut Pura Desa dan Pura untuk Wisnu disebut Pura Puseh. Konsep tiga pura ini dikenal dengan nama konsep Kahyangan Tiga yang diperkenalkan oleh seorang pendeta besar Hindu bernama Mpu Kuturan.
Di seluruh desa yang ada di Bali selalu ada dua kategori desa, yaitu desa adat seperti yang saya sebutkan di atas dan desa administratif. Setiap desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut 'Klian'. Kepala desa adat disebut 'Klian adat' sedangkan kepala desa administratif disebut 'klian dinas'. Di desa-desa di Bali, biasanya 'Klian adat' lebih dihormati ketimbang 'klian dinas'. Para pendatang dan orang Bali yang tinggal di luar desa adatnya, akan masuk sebagi warga desa dinas. Semua orang Bali yang merupakan anggota atau rakyat dari sebuah Desa adat, berkewajiban memelihara dan membayar iuran untuk pura-pura itu. Tapi yang 'cuma' warga desa administratif, entah itu pendatang dari luar pulau atau orang Bali sendiri yang nenek moyangnya tidak berasal dari desa itu, tidak memiliki kewajiban seperti ini.
Itulah sebabnya, meskipun pendatang di Bali secara administratif kenegaraan memiliki tanah di Bali, tapi menurut Budaya Bali, para pendatang itu hanya menumpang hidup di Bali, meskipun mereka telah hidup dari generasi ke generasi. Karena tidak memiliki kewajiban untuk memelihara Pura, mereka tetap bukan orang Bali. Seluruh pendatang yang datang ke Bali dan menetap di pulau ini harus memaklumi hal itu.
Setiap Pura Kahyangan Tiga ini diupacarai setahun sekali, acara ini dinamakan 'Piodalan', atau orang Bali lebih sering secara singkat menyebutnya 'ODALAN'. Penanggalan yang digunakan untuk menghitung hari upacara untuk setiap Pura itu bukan penanggalan masehi atau penanggalan Hindu yang dihitung dengan tahun saka. Penanggalan yang dipakai adalah penanggalan Bali, yang setahunnya cuma berisi 210 hari. Ulang tahun dan juga semua hari raya di Bali dilangasungkan dengan berpatokan kepada penanggalan ini, kecuali nyepi yang dihitung dengan Tahun Saka. Pemakaian penanggalan inilah yang menyebabkan jika kita menanyakan umur kepada orang-orang tua di Bali, tidak jarang mereka kadang menyebut umur mereka 120 tahun.
Dalam perjalanan ini aku menyaksikan sebuah acara piodalan di sebuah desa. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga desa, besar dan kecil. Beberapa warga desa yang bekerja di Kuta atau Denpasar juga harus kembali ke desa adatnya untuk melakukan upacara ini. Kewajiban seperti inilah yang membuat tidak banyak orang Bali yang merantau ke luar daerah, itu karena orang Bali begitu terikat dengan tanahnya. Di Bali, saat seorang bayi lahir, ari-arinya akan ditanam di depan rumah. Orang Bali percaya kekuatan gaib (di Bali disebut Niskala) dari ari-ari ini akan melindungi si bayi dari kekuatan jahat.
Selain untuk piodalan ini, orang Bali juga harus kembali ke Desa adatnya, kalau salah seorang warga desa ini melakukan upacara ngaben, upacara terakhir untuk manusia sebelum jiwanya menjadi murni dan bersatu dengan para Dewa. Tapi upacara Ngaben ini adalah upacara yang sangat mahal, karena itu tidak banyak orang Bali yang langsung diaben saat meninggal. Orang yang langsung diaben saat meninggal biasanya adalah orang-orang berkasta tinggi. Sementara itu orang Bali berkasta Sudra yang jumlahnya sekitar 95% orang bali, biasanya terlebih dahulu menguburkan jasad keluarganya yang meninggal di perkuburan di dekat Pura Dalem. Nanti jasad di dalam kubur itu akan digali kembali untuk di'aben' bersama-sama dengan jasad-jasad lain dalam sebuah acara 'ngaben massal'. 'Ngaben' seperti ini lebih murah karena biaya ngaben ditanggung bersama diantara semua keluarga yang salah seorang anggotanya diaben. Kalau untuk mengikuti 'Ngaben' massal ini pun masih terlalu berat untuk keluarga tersebut, mereka biasanya menumpang mengaben pada acara ngaben sebuah keluarga Brahmana, jika salah seorang anggota keluarga Brahmana tersebut meninggal. Mahalnya biaya upacara ini bukanlah dari biaya pembakaran jasad orang yang meninggal tersebut, tapi biaya yang dibutuhkan untuk membeli Banten serta makanan dan minuman yang harus disediakan untuk warga sekampung yang mengikuti seluruh prosesi kegiatan itu selama berhari-hari sampai abu pembakaran di buang ke laut dan perairan air tawar.
Ngaben adalah ritual terakhir sekaligus paling penting bagi orang Bali. Orang Bali percaya bahwa hanya dengan mengaben lah tubuh fisik dan tubuh spiritual benar-benar bisa dipisahkan dengan sempurna. Setelah di'aben', tubuh fisik manusia yang berasal dari alam dikembalikan ke alam, sedangkan tubuh spiritual yang suci kembali bersatu bersama para dewa di puncak Gunung Agung dan sesekali mengunjungi keluarga yang ditinggalkan melalui 'Sanggah Kemulan' atau Pura Keluarga.
Karena alasaan itulah, semua orang Bali melakukan prosesi 'ngaben' yang sangat mahal ini terhadap anggota keluarganya yang meninggal, kecuali penduduk desa Trunyan, sebuah desa suku Bali Aga (suku Bali yang sudah menghuni pulau ini sebelum gelombang kedatangan rakyat Majapahit dari Jawa). Di sana jasad orang yang telah meninggal diletakkan di bawah sebatang pohon.
Ngaben ini tidak boleh dilakukan sendiri, tapi harus sekampung beramai-ramai. Pentingnya prosesi ngaben ini jugalah yang menyebabkan orang Bali merasa bencana terbesar dalam hidup adalah diusir dari kampungnya. Karena kalau ini terjadi, artinya tidak akan ada orang yang akan mengabeninya saat dia meninggal nanti.
Kembali ke Piodalan. Acara Piodalan sendiri juga tidak murah, untuk piodalan setiap warga desa adat harus menyumbangkan sesuatu untuk perayaan itu. Yang kaya menymbangkan uang, beras atau babi, sementara yang kurang mampu menyumbangkan tenaganya. Selain untuk Pura, dalam acara piodalan, tiap keluarga juga harus membuat 'banten' yaitu sesajen yang berisi buah dan kue-kue dan juga di tiap rumah dipasangi 'Penjor', yaitu sebatang bambu yang dihias dengan daun kelapa dan bulir-bulir padi. Setiap orang Bali mengikuti dengan setiap upacara mahal ini dengan penuh kesadaran. Tidak jarang penghasilan mereka selama sebulan habis untuk membiayai upacara semacam ini.
Tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini yang lebih banyak dikunjungi orang asing ketimbang Bali, tapi anehnya tidak ada satu tempat pun di Indonesia ini di mana warganya berpegang begitu erat pada identitas dan kebiasaan lokalnya dibandingkan orang Bali.
Begitulah kisah perjalananku kemarin, dari Beraban sampai ke Bajera.
Dalam perjalanan singkat yang suma sekitar 2 jam itu aku bisa dengan jelas menyaksikan kehidupan dan cara hidup orang Bali di abad modern ini. Tanpa perlu sebuah Qanun yang disahkan oleh DPRD, mereka tetap bisa hidup dengan berpegang kuat pada'syari'at' agama dan kepercayaan mereka. Tanpa perlu bersikap munafik dan bermuka dua, tanpa perlu mengejar-ngejar kaum perempuan, identitas HINDU tetap melekat erat pada identitas mereka sebagai Orang BALI.
Kemudian dalam bagian akhir tulsan ini saya ingin memberikan sedikit pendapat pribadi saya mengenai orang Bali.
Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang Bali. Saya melihat perbedaan mendasar antar kita dengan orang Bali adalah; Kita gampang sekali memandang rendah dan memandang tinggi orang dan cara hidup yang berbeda dengan kita, yang kita nilai menurut standar kita. Sementara orang Bali yang saya kenal sangat berbeda, kalau tidak diganggu, mereka jarang sekali mau usil dengan nilai menilai cara hidup orang lain.
Mereka yang saya kenal tidak begitu terbiasa menganggap budaya orang lain lebih rendah atau lebih tinggi dari budaya atau cara hidup mereka. Kalau ada yang berbeda dari mereka, ya mereka menganggap itu BEDA, itu saja, tidak lebih hebat atau kurang hebat dibanding mereka.
Dan dengan ini pun saya akhiri keempat seri tulisan ini.
Lalu, sekali lagi, bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah dalam keempat seri tulisan ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Notes : Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?page=1&aid=2046218&id=1524941840 dan
Langganan:
Postingan (Atom)
