Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS : 107 ayat 1-3)
Sejujurnya, saya bukanlah jenis orang yang suka menggunakan tafsiran teks ayat-ayat suci sebagai basis argumen. Karena itulah tiga ayat Al Qur'an di atas saya tuliskan di sini bukan untuk beradu debat soal penafsirannya tapi tidak lain hanya sebagai ilustrasi, tentang betapa ayat-ayat yang dipercaya suci dan dipercaya berasal dari Tuhan sendiri pun pada penerapannya sebenarnya tidak pernah bisa dilepaskan dari cara pandang, selera dan hawa nafsu manusia yang sama sekali tidak bersifat Ilahiah.
Tiga ayat di atas sengaja saya kutip di awal tulisan ini karena di Aceh negeri saya, belakangan ini saya melihat beberapa kalangan begitu antusias untuk memberlakukan hukum-hukum Tuhan yang ketat dan tanpa kompromi untuk menjatuhkan hukuman bagi beberapa kasus. Sementara anjuran Tuhan yang lain mereka abaikan.
Berkaitan dengan tiga ayat yang saya kutip di atas.
Bencana tsunami yang meluluh lantakkan Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang telah membuat ratusan ribu anak Aceh menjadi yatim yang kehilangan orangtua dan juga rumah. Hal ini membuat banyak orang yang ada di berbagai penjuru Aceh yang terpikir untuk mendirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim itu.
Saat saya meninggalkan Takengen tahun 2003 silam, di kota kelahiran saya ini baru ada dua panti asuhan untuk menampung anak yatim. Satu milik pemerintah yang terletak di Kemili dan satunya lagi milik swasta terletak di Paya Tumpi. Saya sendiri pernah cukup lama menghuni salah satu panti asuhan tersebut.
November tahun lalu saya kembali ke kota ini, saya saksikan jumlah panti asuhan di kota ini tumbuh dengan drastis seperti jamur di musim hujan. Salah satu dari panti asuhan baru yang didirikan pasca tsunami tersebut bernama Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Terletak di Dedalu, sebuah desa di tepi danau Laut Tawar, 2 kilometer dari pusat kota Takengen.
Panti Asuhan ini dikelola oleh Bapak Syamsuddin A.S, mantan pengurus panti Asuhan Budi Luhur, panti yang sempat saya huni dalam waktu yang cukup lama. Gedung Panti Asuhan ini didirikan di atas tanah milik pribadi Bapak Syamsuddin A.S, di atas puing-puing rumah pribadi beliau yang dulu dibangun dengan susah payah yang dengan ikhlas sengaja beliau hancurkan demi berdirinya gedung panti asuhan ini.
Pembangunan gedung dan biaya sehari-hari Panti Asuhan ini ditanggung oleh Givelight Foundation, sebuah yayasan yang didanai oleh muslim amerika yang dibentuk salah satunya oleh Dian Alyan, seorang keponakan Bapak Syamsuddin A.S yang telah menjadi warga negara Amerika dan sekarang bermukim di San Francisco. Dian Alyan yang lulusan IPB ini adalah puteri Gayo asli kelahiran 1965, yang meniti karir di Procter & Gamble Indonesia. Karena kecemerlangannya Dian kemudian ditarik ke kantor pusat Procter & Gamble di Cincinati untuk duduk sebagai brand manager. Tapi beberapa tahun yang lalu Dian memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang untuk memfokuskan diri kepada kegiatan-kegiatan kemanusiaan melalui Givelight Foundation yang karena terinspirasi keberhasilan proyek panti Asuhan Yayasan Noordeen di Dedalu, sekarang telah membangun satu Panti Asuhan lagi di Kashmir, India.
Karena keterbatasan daya tampung, Panti Asuhan Yayasan Noordeen hanya mampu menampung 58 orang anak. Tapi melalui Yayasan Noordeen Givelight Foundation juga membantu membiayai anak-anak yatim korban tsunami yang tinggal di Panti Asuhan lain di Takengen. Mekanisme pemberian bantuan itu adalah; pengelola panti asuhan memberikan daftar nama penghuni Panti Asuhan yang dia kelola kemudian pengelola yayasan Noordeen mentransfer uang bantuan untuk nama-nama itu ke rekening pengurus panti. Suatu kali pengelola yayasan Noordeen curiga dengan daftar nama yang ada dalam daftar yang diserahkan pengurus Panti Asuhan yang dibantu tersebut karena bertahun-tahun nama itu tidak pernah berubah. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia panti asuhan, pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen tahu persis kalau setiap tahun ada anak Panti yang lulus dan meninggalkan Panti. berdasarkan kecurigaan itu beliaupun mengecek kebenaran laporan pengurus panti tersebut ke lokasi panti asuhan itu berdiri. Dan apa yang beliau temukan, ternyata jumlah anak yang ditampung oleh panti asuhan tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan daftar nama anak-anak yang diberikan pengurusnya. Dan fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah ternyata kebanyakan dana bantuan tersebut masuk ke kantong pribadi pengurus Panti. Sejak saat itu Yayasan Noordeen hanya mau mentransfer uang bantuan ke rekening pribadi anak yang menerima bantuan.
Saat berada di Takengen, saya juga menyempatkan diri menemui Tengku Ali Djadun. Seorang ulama besar di kota ini yang sangat saya hormati karena saya angap konsisten antara ucapan dan tindakannya dan terkenal tanpa kompromi. Saat saya jumpai beliau menjabat sebagai ketua MPU Aceh Tengah. Dari beliau saya mendapati cerita yang lebih mengejutkan. Menurut Tengku Ali Djadun yang juga mengelola Panti Asuhan Muhammadiyah, eksploitasi anak yatim di kabupaten yang rencananya kalau jadi dimekarkan menjadi provinsi sendiri akan digelari Serambi Madinah ini jauh lebih parah dari cerita yang saya dengar dari Bapak Syamsuddin A.S. Menurut Tengku Ali Djadun, pasca tsunami ada belasan panti asuhan yang berdiri di Aceh Tengah yang mengatasnamakan diri untuk menampung korban tsunami tapi sama sekali tanpa penghuni. Uang dana bantuan yang diperuntukkan untuk Panti Asuhan tersebut sepenuhnya masuk ke kantong pengurus panti.
Berdasarkan kondisi faktual yang ada di Aceh yang menunjukkan fakta banyaknya anak yatim dan ketika anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa, jika orang-orang Aceh benar-benar menerapkan hukum atas dasar cinta kepada agama dan menjalankan perintah Tuhan tanpa dipengaruhi selera dan hawa nafsu. Saya pikir orang-orang Aceh tentu mereka akan bergidik ketika membaca ayat Tuhan yang saya kutip di atas dan merekapun akan mencari dasar hukum agama yang kuat untuk menghukum manusia-manusia yang mengeksploitasi anak-anak yatim ini.
Tapi yang terjadi tidaklah demikian, ketika di negeri ini anak yatim dieksploitasi sedemikian rupa Pemda dan DPRK Aceh tengah alih-alih turun tangan. Pemda dengan sepersetujuan DPRK malah menjual lahan dan mesjid milik Panti Asuhan Budi Luhur yang tidak lain adalah panti asuhan tertua di Aceh Tengah. Yang lebih ironis lagi, Tengku Ali Djadun, Ulama ketua MPU yang saya hormati itu pun malah memilih berada di belakang Pemda dan menghardik anak yatim http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan.
Melihat pengabaian dan eksploitasi terhadap anak yatim yang terjadi di bumi Aceh pasca tsunami, melihat bagaimana eksploitasi itu dibiarkan oleh anggota DPRA 2004-2009, pemerintah dan ulama. Jika ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas dijadikan acuan untuk menilai, maka jelas parlemen, pemerintah dan ulama yang ada di Aceh saat ini tidak lain adalah PARA PENDUSTA AGAMA.
Tapi seperti yang sering saya katakan, semua manusia sebetulnya tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalamannya sendiri. Hukum yang dibuat manusia pun, meskipun katanya berasal dari Tuhan tapi pilihan atas Hukum Tuhan mana yang diikuti dan diterapkan serta hukum Tuhan yang mana yang boleh diabaikan juga tidak terlepas dari subyektifitas pengalaman manusia itu sendiri.
Misalnya Hukum rajam dipercaya banyak orang adalah hukum dari Tuhan bukan buatan manusia dan karenanya wajib dikuti. Katakanlah asumsi itu memang benar, tapi marilah kita renungkan, siapa yang memilih hukum rajam untuk diterapkan sementara hukum Tuhan yang lain diabaikan?...Bukankah manusia sendiri?.
Pilihan tersebut tidak bisa lepas dari subyektifitas pengalaman orang yang memilih itu sendiri.
Kita ambil contoh bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen. Karena sejak kecil sudah dekat dengan lingkungan anak yatim dikarenakan orang tua beliau juga bekas pengurus Panti Asuhan. Orang seperti bapak pengelola Panti Asuhan Yayasan Noordeen ini percaya Tuhan akan sangat marah jika ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau akan ketakutan setengah mati ketika mendapati ada anak yatim dieksploitasi. Orang seperti beliau ini sering merasa kalau bencana yang banyak terjadi di negeri ini terjadi adalah akibat orang-orang, pemerintah dan ulama di negeri ini tidak mempedulikan anak yatim.
Sebaliknya orang-orang yang dekat dengan penguasa yang otaknya selalu berada di SELANGKANGAN, selalu merasa bahwa urusan SELANGKANGAN lah yang paling diperhatikan Tuhan. Sehingga Hukum Tuhan yang mereka pilih untuk diterapkan dengan ketat pun tidak jauh-jauh dari urusan SELANGKANGAN.
Anggota DPRA 2004-2009 bukanlah sekumpulan manusia yang dekat dan memahami permasalahan anak yatim dan orang miskin. Sebaliknya mereka adalah kumpulan orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi dekat dengan penguasa dan otak yang selalu berada di SELANGKANGAN. Mereka percaya bahwa berbagai masalah yang terjadi di negeri saya belakangan ini terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga SELANGKANGAN.
Dari orang-orang dengan subjektifitas pribadi semacam ini, yang menjadi anggota DPRA 2004-2009 adalah tidak mungkin kita melihat keluarnya pasal-pasal Qanun yang melarang orang 'menghardik' anak yatim ataupun pasal-pasal Qanun yang menganjurkan memberi makan orang miskin. Yang mungkin dihasilkan oleh orang-orang dengan subjektifitas pengalaman pribadi semacam ini hanyalah pasal-pasal Qanun yang berurusan dengan SELANGKANGAN. Terbukti orang-orang inilah yang di luar sidang paripurna mengeluarkan pasal Hukum rajam dalam Qanun Jinayat yang ditolak oleh Gubernur Irwandi.
Di Aceh dan juga di daerah lain yang memiliki komunitas 'ikhwan' dan 'akhwat', penolakan Irwandi ini langsung jadi kontroversi. Para pendukung hukum syari'ah berbasis SELANGKANGAN langsung menghujat Irwandi dengan berbagai cacian, diantaranya ada yang dengan terus terang mengatakan bahwa Irwandi yang menolak menandatangani Qanun ini adalah seorang yang pro Penzina.
Padahal jika para 'ikhwan' dan 'akhwat' ini mau sedikit membuka mata dan tidak pilih-pilih selera dalam menerapkan ayat-ayat Al Qur'an yang mereka percaya suci. Lalu mau menggunakan ayat-ayat Al Qur'an yang saya kutip di atas sebagai referensi. Maka mata mereka akan jelas melihat bahwa, Qanun Jinayat yang sekarang jadi kontroversi ini sebenarnya tidak lain adalah Hukum Syariat produk dari PARA PENDUSTA AGAMA.
Wassalam
Win Wan Nur
Selasa, 27 Oktober 2009
Minggu, 25 Oktober 2009
EJSL'94 dan Kera Besar Misterius di Dinding Selatan Leuser
Pada tahun 1994, kami dari UKM-PA Leuser Unsyiah melakukan pendakian Gunung Leuser melalui jalur selatan dengan memilih desa peulumat di Aceh Selatan sebagai titik awal pendakian.
Keberangkatan kami untuk Ekspedisi kali ini sempat tertunda beberapa lama akibat kesulitan mendapatkan izin dari Polres Aceh Selatan yang wilayah hukumnya membawahi desa Peulumat, desa terakhir yang merupakan titik awal keberangkatan kami. Izin itu susah dikeluarkan akibat dari arogansi anak-anak Wanadri (kelompok pecinta alam yang dekat dengan kekuasaan) yang bersama anggota Brimob melakukan pendakian tiga bulan sebelum kami. Polisi tidak mengeluarkan izin bagi kami dengan alasan mereka menunggu ANEP (Analisa dan Evaluasi Pendakian) dari Wanadri. Untuk menilai layak tidaknya jalur selatan Leuser yang terletak di Bumi Aceh didaki oleh kelompok pecinta alam selain Wanadri yang berpusat di Jawa Barat itu.
Karena kekurangan anggota, pada pendakian kali ini kami sedikit melanggar aturan baku di organisasi kami yang hanya membolehkan anggota penuh untuk mengikuti ekspedisi besar. Pada pendakian ini selain anggota penuh, ekspedisi ini juga diikuti 4 anggota muda yang baru lulus pendidikan dasar yang belum sampai setahun menjadi anggota. Satu diantara anggota muda itu adalah aku sendiri.
Hari itu tanggal 12 agustus 1994, sudah dua belas hari kami berjalan menembus rapatnya hutan di jalur selatan Leuser tanpa kami tahu pasti kapan kami akan mencapai puncak yang kami tuju. Angka di altimeter menunjukkan kalau kami berada di ketinggian 2800 Meter di atas permukaan laut.
Tiga hari belakangan, perjalanan yang kamilakukan terasa sangat membosankan, karena selama tiga hari itu kami terus menyusuri punggungan gunung yang datar dan monoton tanpa mendaki bukit atau menuruni lembah. Hutan lebat berpohon besar sudah lama tidak lagi kami temui, hutan yang kami lewati saat itu adalah hutan tanaman perdu berdaun tebal selebar jari telunjuk, dengan ukuran batang maksimal sebesar betis kaki orang dewasa. Batang-batang pohon itu seringkali ditumbuhi lumut yang menutupi seluruh batang pohon. Ketika jalanan menanjak beberapa hari yangh lalu beberapa kali kami terkecoh oleh lumut ini. Saat jalan licin dan terjal mendaki, supaya tidak terpeleset, kami seringkali meraih pohon terdekat yang ada di samping kami sebagai pegangan. Tapi karena tertutup lumut, kami tidak tahu pohon apa yang kami raih. Kadang yang kami raih adalah pohon mati yang sudah membusuk, sehingga ketika kami jadikan pegangan langsung patah dan kamipun jatuh terjungkal. Yang paling sial kadang yang tumbuhi lumut itu ternyata rotan yang berduri, akibatnya ketika terpegang tangan kamipun langsung tertusuk. Sampai saat itu telapak tangan kami semua telah tercabik-cabik dan dipenuhi duri.
Lumut-lumut itu kadang juga kami manfaatkan untuk diperas airnya, karena di daerah punggungan seperti itu tidak ada sumber air. Selain lumut kami yang didera kehausan juga terkadang meminum air dari tumbuhan kantong semar, tanaman karnivora sejenis anggrek yang memiliki kantong berkatup, berisi air yang dipenuhi bangkai serangga. Air dari dalam kantong tanaman ini kami saring menggunakan kain yang biasa kami pakai menutupi kepala.
Medan seperti ini sudah kami jalani sejak dari lokasi peng-evakuasi-an jenazah almarhum Hendra Budhi, anggota tim pendaki dari Universitas Borobudur yang meninggal dunia dalam usahanya mencapai puncak Leuser pada musim pendakian tahun 1993. Saat itu Hendra meninggal pada hari ke 85 usaha pendakian mereka. Gemuruh suara dari beberapa air terjun besar yang keluar dari dinding selatan Leuser terasa begitu dekat di telinga, tapi kami semua tidak tahu, akan butuh waktu berapa hari bagi kami untuk bisa sampai ke sana.
Kami semua sudah dilanda rasa bosan yang luar biasa. Nourman, teman satu Diksar denganku sudah mulai sering diam dan berdiri kaku sendirian. Sementara Selo yang juga anggota yang satu Diksar denganku terserang disentri dan berat badannya turun.
Hari itu, tubuhku dan delapan anggota tim EJSL 94 lainnya dan juga pawang Hamid Rambo yang menemani kami berada dalam keadaan babak belur dalam arti yang sebenarnya. Sehari sebelumnya, beberapa waktu sebelum kami mencapai tempat Hendra Budhi menghembuskan nafas terakhir, kami melewati lahan terbuka yang dipenuhi kayu kering yang ditebang oleh tim evakuasi yang menjemput jenazah Hendra Budhi beserta seluruh anggota tim pendaki Universitas Borobudur yang tersisa. Di tempat itu Enjur, navigator tim kami yang berjalan paling depan tidak sengaja menginjak sarang tawon tanah yang kemudian mengamuk menyengat kami semua. Aku disengat di pergelangan bagian luar tangan kiri. Saat di sengat rasa sakitnya menghunjam sampai ke ubun-ubun, belum pernah seumur hidup aku merasakan rasa sakit disengat serangga sehebat itu. Tajuddin disengat di bagian luar telapak tangan antara jari tengah dan jari manis. Irfan yang saat itu menjadi ketua tim disengat di dagu sebelah kanan. Sementara Pawang Hamid Rambo disengat tepat di hidung. Enjur sendiri si biang kerok selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Begitu hebatnya sengatan tawon tanah itu sehingga sampai sekarang bekas sengatannya tetap meninggalkan bekas luka parut bulat sebesar biji kedelai di pergelangan kiriku. Waktu itu aku masih lebih beruntung dibanding teman-temanku yang lain, karena di sengat di tangan kiri aku tidak terlalu perlu mencucinya, sebab tanpa kami tahu ternyata bekas sengatan itu tidak boleh terkena air. Akibat mencuci tangannya dengan air, tangan Tajuddin bengkak besar. Irfan yang wajahnya terkena air saat mencuci muka, membuat wajahnya yang sudah ditumbuhi jenggot lebat menjadi tidak simetris alias besar sebelah dan matanya tampak selalu merah. Sementara pawang Hamid Rambo wajahnya terlihat lucu dengan hidung yang membesar seperti pinokio.
Sekitar pukul 4 sore lewat, kami keluar dari rimbunnya hutan perdu tersebut. Kami memasuki sebuah tempat terbuka yang menimbulkan kesan mistis. Tempat itu ditumbuhi rumput pendek yang seolah dirawat dengan baik seperti di lapangan golf. Di beberapa bagian ditumbuhi bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan putih. Suasana mistis ini semakin terasa karena dinginnya udara ditambah lagi saat kami tiba di tempat itu, seluruh tempat itu perlahan-lahan di selaputi kabut yang mulai turun.
Bersama Tajuddin, aku adalah anggota tim pertama yang mencapai tempat itu.
Melihat suasana seperti itu, kepalaku terasa mengembang dan bulu-bulu ditubuhku merinding, karena aku langsung teringat berbagai cerita dan dongeng tentang Leuser dan hutan-hutan di Aceh yang ditinggali berbagai makhluk yang tak dikenal. Dulu waktu kecil ayahku sering bercerita pengalamannya bertemu dengan orang bunian, manusia gaib yang tinggal di hutan-hutan yang kadang-kadang juga menampakkan diri. Ayahku pernah bercerita kalau orang bunian ini seperti juga manusia biasa, berladang dan menanam berbagai tanaman rempah di hutan. Menurut ayahku, terkadang ketika melewati hutan kita bisa melihat ladang mereka, tapi ketika kembali di hari lain di tempat itu tidak ada apa-apa hanya belantara biasa. Aku juga teringat cerita tentang 'Mantee', manusia kate yang konon tinggal di hutan-hutan Aceh yang memiliki telapak kaki dengan tumit terbalik dibanding manusia biasa sehingga ketika orang melihat jejak telapak kaki mereka, yang terlihat seolah-olah mereka berjalan mudur. Beberapa pemburu di kampung saya konon pernah melihat makhluk bernama 'Mantee' ini, bahkan konon pernah ada yang sampai menikah dengan salah satu makhluk itu. Berdasarkan cerita seperti itulah pada tahun 1985 Presiden Soeharto melalui departemen sosial Aceh Tengah pernah menginstruksikan untuk mencari kebenaran keberadaan 'Mantee' ini. Tapi tidak pernah berhasil ditemukan sampai hari ini.
Dalam suasana dan pikiran seperti ini. Tiba-tiba Gusrak...! Aku dan Tajuddin dikejutkan dengan suara bergemuruh dari pohon-pohon di depan kami yang tumbuh di tebing terjal yang diselimuti kabut. Kami melihat satu rombongan kera besar tak berekor berwarna abu-abu sedang berlarian melintasi pohon-pohon itu. Beberapa diantara kera-kera tersebut memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari kami berdua. Aku dan Tajuddin yang kelelahan dan tubuh babak belur langsung balik badan dan entah mendapat tenaga dari mana, dengan ransel seberat 30 kilogram di punggung kami bisa berlari kencang ke arah anggota Tim yang lain. Tapi dalam kepanikan seperti itu aku masih sempat berteriak kepada Bobby yang bertugas sebagai seksi dokumentasi untuk memfoto makhluk tersebut.
Tapi karena kamera disimpan di ransel, Bobby harus menurunkannya lagi dan mencari kamera semua makhluk itu pun keburu menghilang. Karena sepertinya kera-kera besar itu pun sama takutnya dengan kami semua. Maklumlah selama ini makhluk bernama manusia yang pernah datang ke tempat itu baru kami dan Tim gabungan Wanadri-Brimob yang mendaki jalur selatan Leuser 3 bulan sebelum kami. Tapi sepertinya ketika mereka sampai di tempat itu, makhluk-makhluk tersebut tidak ada di sana.
Setelah keadaan tenang, karena hari sudah sore dan sudah waktunya untuk membuka tenda dan kebetulan di tempat ini ada tempat yang ideal untuk mendirikan tenda, kami pun memutuskan untuk beristirahat di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Camp ini kemudian kami namai camp nyaman.
Dua hari setelah itu kami mencapai puncak Leuser sekaligus menjadikan Asih Budiati,teman satu Diksar denganku yang merupakan satu-satunya perempuan di tim kami sebagai perempuan pertama yang mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan.
Ketika kami sudah turun dan kembali ke peradaban sepertinya seluruh anggota tim sudah melupakan kejadian bertemu rombongan kera besar tersebut, tapi aku tidak pernah bisa menghilangkan kejadian itu di kepalaku sampai hari ini.
Kera-kera besar itu menarik perhatianku karena kutahu kera jenis itu belum pernah diketahui keberadaannya dalam dunia biologi. Selama ini di Sumatera dikenal hanya ada dua jenis kera besar Orang Utan (Pongo pygmeus abellii) dan Siamang (Hylobates syndactilus) yang ciri fisiknya dan kebiasaannya sangat berbeda dengan Kera besar yang kami lihat saat pendakian jalur selatan Leuser tahun 1994 silam (Orang Utan berbulu merah dan hidup soliter, Siamang berbulu Hitam berukuran lebih kecil dari manusia memiliki sedikit ekor pendek dan biasanya hidup di pohon tinggi) . Sementara di dunia sendiri selain Orang Utan dan Siamang hanya dikenal empat spesies kera besar lain yaitu Simpanse (Pan troglodytes) dan 'sepupu'nya Bonobo (Pan paniscus) serta dua spesies Gorilla, Gorilla Barat (Gorilla gorilla) dan Gorilla Timur (Gorilla beringei) yang masing-masing memiliki beberapa sub-spesies sebagaimana Orang Utan Sumatera dan Orang Utan Kalimantan. Keempat spesies primata besar ini hidup di Afrika.
Aku sering membayangkan kalau saja waktu itu kami ssempat mendapatkan foto makhluk tersebut, itu tentu akan menjadi penemuan ilmiah yang luar biasa dan EJSL' 94 pun akan diingat bukan cuma sebagai misi pendakian biasa. Tapi tentu saja itu semua cuma khayalan semata.
Sampai beberapa tahun kemudian aku masih sering menceritakan tentang Kera besar yang kami temui itu ke banyak orang, termasuk kepada teman-teman di FFI (Fauna and Flora International), sebuah NGO Internasional yang bergerak di bidang lingkungan tempat aku pernah bergabung beberapa waktu sebagai volunteer, tapi tidak pernah ada yang menanggapi dengan serius. Ketika aku mencoba menuliskan artikel tentang ini dan mengirimkannya kepada koran lokal Serambi Indonesia, juga sama sekali tidak ditanggapi oleh redaktur harian itu.
Tahun 2002 ketika aku bergelut di bisnis kopi di Medan, dalam perjalanan pulang dari Sidikalang, di sekitar Bandar Baru dekat Berastagi. Aku melihat seorang perempuan kulit putih setengah baya sedang menunggu angkutan. Aku meminta temanku yang menyetir untuk menghentikan mobil dan mengajaknya naik. Perempuan ini bernama Regina Frey yang berasal dari Swiss, bekerja di sebuah LSM untuk penyelamatan Orang Utan. Mengetahui latar belakangnya, akupun dengan antusias menceritakan pengalamanku bertemu kera besar tahun 1994 itu. Tapi Regina ini sepertinya adalah tipikal kulit putih arogan yang merasa ras-nya sebagai ras paling unggul yang menganggap semua manusia berkulit coklat adalah manusia-manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia ilmiah. Ketika mendengar ceritaku dengan nada meremehkan dia balik bertanya "apa yang kamu lihat itu Gorilla?", "Atau Simpanse?", katanya. nadanya berbicara seolah-olah menuduh saya manusia pencari sensasi yang tidak dilengkapi pengetahuan biologi dasar, sehingga tidak tahu kalau Gorilla dan Simpanse adalah dua kera besar penghuni Afrika bukan Sumatera.
Begitulah, banyak misteri yang tersembunyi di Leuser mulai dari banyaknya jenis tumbuhan dan hewan yang belum dikenal sampai cerita setengah dongeng tentang 'Padang Seri Buleun', tempat terbuka yang merupakan tempat berkumpulnya hewan-hewan liar yang mati secara alami yang konon terdapat di Leuser. Yang konon katanya di tempat ini medan magnetnya begitu besar sehingga burung yang terbang melintas di atas padang ini pun akan jatuh karena tertarik oleh medan magnet yang besar itu.
Sebagaimana beragam tumbuhan dan hewan yang ada di Leuser yang sampai sekarang belum terungkap keberadaannya. Begitu juga dengan kawanan kera besar yang kami lihat pada tahun 1994 itu, sampai hari ini keberadaannya masih misteri.
Cuma aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang mengungkapkan keberadaan kera besar tersebut. Dan kalau itu terjadi, saya berharap kalau orang itu adalah orang yang berasal dari Nusantara ini, akan lebih baik lagi kalau orang itu adalah orang Aceh, apalagi kalau mereka adalah adik-adik saya sendiri dari UKM-PA Leuser Unsyiah.
Wassalam
Win Wan Nur
LL.165.US
Anggota UKM-PA Leuser Unsyiah
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Note : EJSL'94 adalah ekspedisi kedua yang dilakukan oleh UKM-PA Leuser Unsyiah dalam usaha untuk mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan
Anggota Tim Pendaki EJSL'94
1. Badrul Irfan (Mahasiswa FH, sekarang Staf BPKEL) dari DIKSAR VII---Sebagai Ketua Tim Pendakian.
2. Enjur Parhandi (Mahasiswa FE, Sekarang Pegawai Swasta di Lhokseumawe) dari DIKSAR IX ---Sebagai Navigator.
3. Win Wan Nur (Mahasiswa FT, Yang menulis artikel ini) anggota muda dari DIKSAR X --- Sebagai Co-Navigator sekaligus seksi perlengkapan.
4. Sofyan alias Ogek (Mahasiswa FT, Sekarang Dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Unsyiah) dari DIKSAR VII ---Sebagai Seksi Konsumsi.
5. Asih Budiati (Mahasiswa FKIP, Sekarang guru SMA di Aceh Barat) anggota muda dari DIKSAR X---Sebagai Seksi kesehatan.
6. Asep Bobby Janual Kapindi (Mahasiswa FP,Sekarang Staf Departemen Kehutanan Jawa Barat) dari DIKSAR IX --- Sebagai Seksi Dokumentasi.
7. Nourman Hidayat (Mahasiswa FH, Sekarang ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Besar) anggota muda dari DIKSAR X--- Sebagai seksi pencatatan.
8. Tri Susela (Mahasiswa FH, Sekarang Staf Pengadilan Agama Aceh Utara) anggota muda dari DIKSAR X ---Sebagai Seksi perlengkapan.
9. M. Tajuddin (Mahasiswa FT,Sekarang Staf Bappeda Aceh) dari DIKSAR IX --- Saya lupa fungsinya dalam pendakian sebagai apa.
10 Hamid Rambo (kabarnya sekarang sudah almarhum) Sebagai Pawang.
Keberangkatan kami untuk Ekspedisi kali ini sempat tertunda beberapa lama akibat kesulitan mendapatkan izin dari Polres Aceh Selatan yang wilayah hukumnya membawahi desa Peulumat, desa terakhir yang merupakan titik awal keberangkatan kami. Izin itu susah dikeluarkan akibat dari arogansi anak-anak Wanadri (kelompok pecinta alam yang dekat dengan kekuasaan) yang bersama anggota Brimob melakukan pendakian tiga bulan sebelum kami. Polisi tidak mengeluarkan izin bagi kami dengan alasan mereka menunggu ANEP (Analisa dan Evaluasi Pendakian) dari Wanadri. Untuk menilai layak tidaknya jalur selatan Leuser yang terletak di Bumi Aceh didaki oleh kelompok pecinta alam selain Wanadri yang berpusat di Jawa Barat itu.
Karena kekurangan anggota, pada pendakian kali ini kami sedikit melanggar aturan baku di organisasi kami yang hanya membolehkan anggota penuh untuk mengikuti ekspedisi besar. Pada pendakian ini selain anggota penuh, ekspedisi ini juga diikuti 4 anggota muda yang baru lulus pendidikan dasar yang belum sampai setahun menjadi anggota. Satu diantara anggota muda itu adalah aku sendiri.
Hari itu tanggal 12 agustus 1994, sudah dua belas hari kami berjalan menembus rapatnya hutan di jalur selatan Leuser tanpa kami tahu pasti kapan kami akan mencapai puncak yang kami tuju. Angka di altimeter menunjukkan kalau kami berada di ketinggian 2800 Meter di atas permukaan laut.
Tiga hari belakangan, perjalanan yang kamilakukan terasa sangat membosankan, karena selama tiga hari itu kami terus menyusuri punggungan gunung yang datar dan monoton tanpa mendaki bukit atau menuruni lembah. Hutan lebat berpohon besar sudah lama tidak lagi kami temui, hutan yang kami lewati saat itu adalah hutan tanaman perdu berdaun tebal selebar jari telunjuk, dengan ukuran batang maksimal sebesar betis kaki orang dewasa. Batang-batang pohon itu seringkali ditumbuhi lumut yang menutupi seluruh batang pohon. Ketika jalanan menanjak beberapa hari yangh lalu beberapa kali kami terkecoh oleh lumut ini. Saat jalan licin dan terjal mendaki, supaya tidak terpeleset, kami seringkali meraih pohon terdekat yang ada di samping kami sebagai pegangan. Tapi karena tertutup lumut, kami tidak tahu pohon apa yang kami raih. Kadang yang kami raih adalah pohon mati yang sudah membusuk, sehingga ketika kami jadikan pegangan langsung patah dan kamipun jatuh terjungkal. Yang paling sial kadang yang tumbuhi lumut itu ternyata rotan yang berduri, akibatnya ketika terpegang tangan kamipun langsung tertusuk. Sampai saat itu telapak tangan kami semua telah tercabik-cabik dan dipenuhi duri.
Lumut-lumut itu kadang juga kami manfaatkan untuk diperas airnya, karena di daerah punggungan seperti itu tidak ada sumber air. Selain lumut kami yang didera kehausan juga terkadang meminum air dari tumbuhan kantong semar, tanaman karnivora sejenis anggrek yang memiliki kantong berkatup, berisi air yang dipenuhi bangkai serangga. Air dari dalam kantong tanaman ini kami saring menggunakan kain yang biasa kami pakai menutupi kepala.
Medan seperti ini sudah kami jalani sejak dari lokasi peng-evakuasi-an jenazah almarhum Hendra Budhi, anggota tim pendaki dari Universitas Borobudur yang meninggal dunia dalam usahanya mencapai puncak Leuser pada musim pendakian tahun 1993. Saat itu Hendra meninggal pada hari ke 85 usaha pendakian mereka. Gemuruh suara dari beberapa air terjun besar yang keluar dari dinding selatan Leuser terasa begitu dekat di telinga, tapi kami semua tidak tahu, akan butuh waktu berapa hari bagi kami untuk bisa sampai ke sana.
Kami semua sudah dilanda rasa bosan yang luar biasa. Nourman, teman satu Diksar denganku sudah mulai sering diam dan berdiri kaku sendirian. Sementara Selo yang juga anggota yang satu Diksar denganku terserang disentri dan berat badannya turun.
Hari itu, tubuhku dan delapan anggota tim EJSL 94 lainnya dan juga pawang Hamid Rambo yang menemani kami berada dalam keadaan babak belur dalam arti yang sebenarnya. Sehari sebelumnya, beberapa waktu sebelum kami mencapai tempat Hendra Budhi menghembuskan nafas terakhir, kami melewati lahan terbuka yang dipenuhi kayu kering yang ditebang oleh tim evakuasi yang menjemput jenazah Hendra Budhi beserta seluruh anggota tim pendaki Universitas Borobudur yang tersisa. Di tempat itu Enjur, navigator tim kami yang berjalan paling depan tidak sengaja menginjak sarang tawon tanah yang kemudian mengamuk menyengat kami semua. Aku disengat di pergelangan bagian luar tangan kiri. Saat di sengat rasa sakitnya menghunjam sampai ke ubun-ubun, belum pernah seumur hidup aku merasakan rasa sakit disengat serangga sehebat itu. Tajuddin disengat di bagian luar telapak tangan antara jari tengah dan jari manis. Irfan yang saat itu menjadi ketua tim disengat di dagu sebelah kanan. Sementara Pawang Hamid Rambo disengat tepat di hidung. Enjur sendiri si biang kerok selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Begitu hebatnya sengatan tawon tanah itu sehingga sampai sekarang bekas sengatannya tetap meninggalkan bekas luka parut bulat sebesar biji kedelai di pergelangan kiriku. Waktu itu aku masih lebih beruntung dibanding teman-temanku yang lain, karena di sengat di tangan kiri aku tidak terlalu perlu mencucinya, sebab tanpa kami tahu ternyata bekas sengatan itu tidak boleh terkena air. Akibat mencuci tangannya dengan air, tangan Tajuddin bengkak besar. Irfan yang wajahnya terkena air saat mencuci muka, membuat wajahnya yang sudah ditumbuhi jenggot lebat menjadi tidak simetris alias besar sebelah dan matanya tampak selalu merah. Sementara pawang Hamid Rambo wajahnya terlihat lucu dengan hidung yang membesar seperti pinokio.
Sekitar pukul 4 sore lewat, kami keluar dari rimbunnya hutan perdu tersebut. Kami memasuki sebuah tempat terbuka yang menimbulkan kesan mistis. Tempat itu ditumbuhi rumput pendek yang seolah dirawat dengan baik seperti di lapangan golf. Di beberapa bagian ditumbuhi bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan putih. Suasana mistis ini semakin terasa karena dinginnya udara ditambah lagi saat kami tiba di tempat itu, seluruh tempat itu perlahan-lahan di selaputi kabut yang mulai turun.
Bersama Tajuddin, aku adalah anggota tim pertama yang mencapai tempat itu.
Melihat suasana seperti itu, kepalaku terasa mengembang dan bulu-bulu ditubuhku merinding, karena aku langsung teringat berbagai cerita dan dongeng tentang Leuser dan hutan-hutan di Aceh yang ditinggali berbagai makhluk yang tak dikenal. Dulu waktu kecil ayahku sering bercerita pengalamannya bertemu dengan orang bunian, manusia gaib yang tinggal di hutan-hutan yang kadang-kadang juga menampakkan diri. Ayahku pernah bercerita kalau orang bunian ini seperti juga manusia biasa, berladang dan menanam berbagai tanaman rempah di hutan. Menurut ayahku, terkadang ketika melewati hutan kita bisa melihat ladang mereka, tapi ketika kembali di hari lain di tempat itu tidak ada apa-apa hanya belantara biasa. Aku juga teringat cerita tentang 'Mantee', manusia kate yang konon tinggal di hutan-hutan Aceh yang memiliki telapak kaki dengan tumit terbalik dibanding manusia biasa sehingga ketika orang melihat jejak telapak kaki mereka, yang terlihat seolah-olah mereka berjalan mudur. Beberapa pemburu di kampung saya konon pernah melihat makhluk bernama 'Mantee' ini, bahkan konon pernah ada yang sampai menikah dengan salah satu makhluk itu. Berdasarkan cerita seperti itulah pada tahun 1985 Presiden Soeharto melalui departemen sosial Aceh Tengah pernah menginstruksikan untuk mencari kebenaran keberadaan 'Mantee' ini. Tapi tidak pernah berhasil ditemukan sampai hari ini.
Dalam suasana dan pikiran seperti ini. Tiba-tiba Gusrak...! Aku dan Tajuddin dikejutkan dengan suara bergemuruh dari pohon-pohon di depan kami yang tumbuh di tebing terjal yang diselimuti kabut. Kami melihat satu rombongan kera besar tak berekor berwarna abu-abu sedang berlarian melintasi pohon-pohon itu. Beberapa diantara kera-kera tersebut memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari kami berdua. Aku dan Tajuddin yang kelelahan dan tubuh babak belur langsung balik badan dan entah mendapat tenaga dari mana, dengan ransel seberat 30 kilogram di punggung kami bisa berlari kencang ke arah anggota Tim yang lain. Tapi dalam kepanikan seperti itu aku masih sempat berteriak kepada Bobby yang bertugas sebagai seksi dokumentasi untuk memfoto makhluk tersebut.
Tapi karena kamera disimpan di ransel, Bobby harus menurunkannya lagi dan mencari kamera semua makhluk itu pun keburu menghilang. Karena sepertinya kera-kera besar itu pun sama takutnya dengan kami semua. Maklumlah selama ini makhluk bernama manusia yang pernah datang ke tempat itu baru kami dan Tim gabungan Wanadri-Brimob yang mendaki jalur selatan Leuser 3 bulan sebelum kami. Tapi sepertinya ketika mereka sampai di tempat itu, makhluk-makhluk tersebut tidak ada di sana.
Setelah keadaan tenang, karena hari sudah sore dan sudah waktunya untuk membuka tenda dan kebetulan di tempat ini ada tempat yang ideal untuk mendirikan tenda, kami pun memutuskan untuk beristirahat di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Camp ini kemudian kami namai camp nyaman.
Dua hari setelah itu kami mencapai puncak Leuser sekaligus menjadikan Asih Budiati,teman satu Diksar denganku yang merupakan satu-satunya perempuan di tim kami sebagai perempuan pertama yang mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan.
Ketika kami sudah turun dan kembali ke peradaban sepertinya seluruh anggota tim sudah melupakan kejadian bertemu rombongan kera besar tersebut, tapi aku tidak pernah bisa menghilangkan kejadian itu di kepalaku sampai hari ini.
Kera-kera besar itu menarik perhatianku karena kutahu kera jenis itu belum pernah diketahui keberadaannya dalam dunia biologi. Selama ini di Sumatera dikenal hanya ada dua jenis kera besar Orang Utan (Pongo pygmeus abellii) dan Siamang (Hylobates syndactilus) yang ciri fisiknya dan kebiasaannya sangat berbeda dengan Kera besar yang kami lihat saat pendakian jalur selatan Leuser tahun 1994 silam (Orang Utan berbulu merah dan hidup soliter, Siamang berbulu Hitam berukuran lebih kecil dari manusia memiliki sedikit ekor pendek dan biasanya hidup di pohon tinggi) . Sementara di dunia sendiri selain Orang Utan dan Siamang hanya dikenal empat spesies kera besar lain yaitu Simpanse (Pan troglodytes) dan 'sepupu'nya Bonobo (Pan paniscus) serta dua spesies Gorilla, Gorilla Barat (Gorilla gorilla) dan Gorilla Timur (Gorilla beringei) yang masing-masing memiliki beberapa sub-spesies sebagaimana Orang Utan Sumatera dan Orang Utan Kalimantan. Keempat spesies primata besar ini hidup di Afrika.
Aku sering membayangkan kalau saja waktu itu kami ssempat mendapatkan foto makhluk tersebut, itu tentu akan menjadi penemuan ilmiah yang luar biasa dan EJSL' 94 pun akan diingat bukan cuma sebagai misi pendakian biasa. Tapi tentu saja itu semua cuma khayalan semata.
Sampai beberapa tahun kemudian aku masih sering menceritakan tentang Kera besar yang kami temui itu ke banyak orang, termasuk kepada teman-teman di FFI (Fauna and Flora International), sebuah NGO Internasional yang bergerak di bidang lingkungan tempat aku pernah bergabung beberapa waktu sebagai volunteer, tapi tidak pernah ada yang menanggapi dengan serius. Ketika aku mencoba menuliskan artikel tentang ini dan mengirimkannya kepada koran lokal Serambi Indonesia, juga sama sekali tidak ditanggapi oleh redaktur harian itu.
Tahun 2002 ketika aku bergelut di bisnis kopi di Medan, dalam perjalanan pulang dari Sidikalang, di sekitar Bandar Baru dekat Berastagi. Aku melihat seorang perempuan kulit putih setengah baya sedang menunggu angkutan. Aku meminta temanku yang menyetir untuk menghentikan mobil dan mengajaknya naik. Perempuan ini bernama Regina Frey yang berasal dari Swiss, bekerja di sebuah LSM untuk penyelamatan Orang Utan. Mengetahui latar belakangnya, akupun dengan antusias menceritakan pengalamanku bertemu kera besar tahun 1994 itu. Tapi Regina ini sepertinya adalah tipikal kulit putih arogan yang merasa ras-nya sebagai ras paling unggul yang menganggap semua manusia berkulit coklat adalah manusia-manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia ilmiah. Ketika mendengar ceritaku dengan nada meremehkan dia balik bertanya "apa yang kamu lihat itu Gorilla?", "Atau Simpanse?", katanya. nadanya berbicara seolah-olah menuduh saya manusia pencari sensasi yang tidak dilengkapi pengetahuan biologi dasar, sehingga tidak tahu kalau Gorilla dan Simpanse adalah dua kera besar penghuni Afrika bukan Sumatera.
Begitulah, banyak misteri yang tersembunyi di Leuser mulai dari banyaknya jenis tumbuhan dan hewan yang belum dikenal sampai cerita setengah dongeng tentang 'Padang Seri Buleun', tempat terbuka yang merupakan tempat berkumpulnya hewan-hewan liar yang mati secara alami yang konon terdapat di Leuser. Yang konon katanya di tempat ini medan magnetnya begitu besar sehingga burung yang terbang melintas di atas padang ini pun akan jatuh karena tertarik oleh medan magnet yang besar itu.
Sebagaimana beragam tumbuhan dan hewan yang ada di Leuser yang sampai sekarang belum terungkap keberadaannya. Begitu juga dengan kawanan kera besar yang kami lihat pada tahun 1994 itu, sampai hari ini keberadaannya masih misteri.
Cuma aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang mengungkapkan keberadaan kera besar tersebut. Dan kalau itu terjadi, saya berharap kalau orang itu adalah orang yang berasal dari Nusantara ini, akan lebih baik lagi kalau orang itu adalah orang Aceh, apalagi kalau mereka adalah adik-adik saya sendiri dari UKM-PA Leuser Unsyiah.
Wassalam
Win Wan Nur
LL.165.US
Anggota UKM-PA Leuser Unsyiah
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Note : EJSL'94 adalah ekspedisi kedua yang dilakukan oleh UKM-PA Leuser Unsyiah dalam usaha untuk mencapai puncak Leuser melalui jalur selatan
Anggota Tim Pendaki EJSL'94
1. Badrul Irfan (Mahasiswa FH, sekarang Staf BPKEL) dari DIKSAR VII---Sebagai Ketua Tim Pendakian.
2. Enjur Parhandi (Mahasiswa FE, Sekarang Pegawai Swasta di Lhokseumawe) dari DIKSAR IX ---Sebagai Navigator.
3. Win Wan Nur (Mahasiswa FT, Yang menulis artikel ini) anggota muda dari DIKSAR X --- Sebagai Co-Navigator sekaligus seksi perlengkapan.
4. Sofyan alias Ogek (Mahasiswa FT, Sekarang Dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Unsyiah) dari DIKSAR VII ---Sebagai Seksi Konsumsi.
5. Asih Budiati (Mahasiswa FKIP, Sekarang guru SMA di Aceh Barat) anggota muda dari DIKSAR X---Sebagai Seksi kesehatan.
6. Asep Bobby Janual Kapindi (Mahasiswa FP,Sekarang Staf Departemen Kehutanan Jawa Barat) dari DIKSAR IX --- Sebagai Seksi Dokumentasi.
7. Nourman Hidayat (Mahasiswa FH, Sekarang ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Besar) anggota muda dari DIKSAR X--- Sebagai seksi pencatatan.
8. Tri Susela (Mahasiswa FH, Sekarang Staf Pengadilan Agama Aceh Utara) anggota muda dari DIKSAR X ---Sebagai Seksi perlengkapan.
9. M. Tajuddin (Mahasiswa FT,Sekarang Staf Bappeda Aceh) dari DIKSAR IX --- Saya lupa fungsinya dalam pendakian sebagai apa.
10 Hamid Rambo (kabarnya sekarang sudah almarhum) Sebagai Pawang.
Selasa, 20 Oktober 2009
Xenophanes, Aceh dan Penyembah Berhala
The Ethiops say that their gods are flat-nosed and black, While the Thracians say that theirs have blue eyes and red hair.
Yet if cattle or horses or lions had hands and could draw, And could sculpt like men, then the horses would draw their gods Like horses, and cattle like cattle; and each they would shape Bodies of gods in the likeness, each kind, of their own. (Xenophanes)
Tulisan di atas merupakan kutipan dari ucapan Xenophanes, seorang filsuf yang hidup pada tahun 570 – 480 SM di suatu masa di Yunani yang disebut zaman Elea, satu setengah milenium sebelum kita semua lahir.
Di zaman Xenophanes hidup, masyarakat di tempatnya tinggal gemar sekali melakukan aktifitas dan ritual keagamaan. Tapi aktifitas keagamaan yang dipraktekkan orang pada zaman itu lebih dipengaruhi oleh rasa ketakutan yang besar terhadap Tuhan-Tuhan yang suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman, bukan karena dorongan rasa spiritual.
Pada masa itu orang-orang Yunani menyembah banyak Tuhan dalam bentuk berhala-berhala yang karakternya dibuat berdasarkan gambaran yang berasal dari imajinasi dua pujangga besar bangsa mereka, Homer dan Hesiod.
Di antara Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod itu ada yang bernama Zeus, Tuhan tertinggi yang diantaranya memiliki sifat playboy suka mengambil anak gadis dan istri orang seenaknya. Ada Hera ibu tiri yang pendendam, ada Artemis (Diana) saudara kembar Apollo yang cantik dan angkuh yang dengan semena-mena bisa mengutuk jadi batu pemuda yang kebetulan melihat dan mengagumi kecantikannya.
Selain kisah para penyembah berhala yang hidup dalam masyarakat Yunani ini, sejak kecil saya sering membaca berbagai kisah tentang para penyembah berhala dengan berbagai tempat sebagai latar belakang berdasarkan cerita dari bermacam kepercayaan dan agama.
Ada satu fakta menarik yang saya lihat setiap kali saya membaca kisah-kisah para penyembah berhala ini. Yaitu adanya kesamaan latar belakang situasi sosial dan moralitas dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat penyembah berhala seperti ini. Ketika saya amati dalam kisah-kisah yang saya baca, bahwa di mana pun tempatnya dan di zaman apapun terjadinya. Di sana selalu terdapat masyarakat yang jatuh ke dalam situasi sosial yang dipenuhi rasa frustasi karena ketidak adilan yang merata di mana-mana. Masyarakat penyembah berhala selalu digambarkan sebagai masyarakat yang terjebak dalam suasana dekadensi moral yang parah.
Dari kisah-kisah yang saya baca, selalu diceritakan bahwa di tempat-tempat yang didiami para penyembah berhala ini, konsep-konsep non-kemanusiaan mekar dan berkembang biak dengan suburnya. Segala kejelekan dan keburukan akan menjulang. Perbuatan menipu akan menghasilkan kekayaan, bersikap munafik dan bermuka dua akan menguntungkan. Dan bagi saya, yang paling menarik dari semuanya adalah; berhala-berhala yang disembah sebagai Tuhan itu bukan kebetulan selalu hadir sebagai sosok yang sangat pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Dalam masyarakat seperti ini, setiap terjadi masalah atau kejadian yang tidak menyenangkan, dan harus ada pihak yang di salahkan. Maka yang salah selalu rakyat jelata, bukan penguasa.
Bagi yang beragama Islam silahkan baca kisah nabi-nabi mulai dari Ibrahim, Musa sampai Muhammad yang semuanya dikisahkan berjuang menentang perilaku penyembahan berhala. Di sana anda akan melihat semua nabi-nabi itu hadir dalam masyarakat yang mengalami situasi sosial dan suasana moral seperti yang saya gambarkan di atas.
Bagi penganut agama lain silahkan lihat latar belakang sosial kemunculan Siddharta Gautama yang di kemudian hari dikenal sebagai Buddha. Dalam kepercayaan Hindu dikenal sosok Khrisna yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Dewa wisnu yang selalu hadir di setiap masa ketika masyarakat terjatuh dalam suasana sosial seperti yang saya gambarkan di atas yang terjadi karena masyarakat dikuasai para penyembah berhala.
Kemudian saya juga mengamati dalam kisah-kisah itu. Ada satu keseragaman karakter dari semua penyembah berhala di segala agama, tempat dan zaman. Dalam kisah-kisah itu mereka selalu digambarkan sebagai orang-orang keras kepala yang malas berpikir dan tidak suka diingatkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menolak keras segala ide yang menawarkan kejernihan. Para penyembah berhala selalu digambarkan sebagai orang-orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Mereka selalu menolak keras usaha untuk menrekonstruksi ide-ide yang ada dalam kepercayaan nenek moyang mereka karena kurang lebih mereka percaya, bahwa nenek moyang merekalah generasi terbaik umat manusia yang pernah ada.
Dalam kisah para penyembah berhala, orang-orang yang menawarkan kejernihan semacam Xenophanes, Buddha, Khrisna dan para nabi-nabi dalam kisah-kisah Islam adalah jenis manusia yang paling mereka musuhi dan mereka tentang. Para penguasa menentang orang-orang yang menawarkan kejernihan karena keberadaan mereka jelas mengganggu hegemoni kekuasaan. Sementara masyarakat banyak memusuhi mereka, karena masyarakat dikuasai oleh rasa ketakutan terhadap kekuasaan tak terbatas yang (dalam imajinasi mereka) dimiliki oleh sang berhala. Dalam berbagai kisah nabi yang saya baca, bahkan kadang masyarakat yang dikuasai ketakutan terhadap imajinasi yang mereka ciptakan sendiri itu, tidak segan untuk membunuhi para nabi yang menawarkan kejernihan.
Kembali ke kutipan yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Kutipan tersebut di atas adalah ucapan yang dikeluarkan oleh Xenophanes sebagai bentuk kritik dan perlawanan sekaligus sebagai sebuah bentuk serangan terhadap situasi aktual yang terjadi di Yunani pada zaman antik itu yang keadaanya kurang lebih sama seperti yang saya gambarkan di atas. Ketika itu masyarakat di zaman Xenophanes hidup tersebut terjatuh dalam situasi sosial yang kacau dan penuh ketidak adilan dan mengalami dekadensi moral yang parah.
Waktu berlalu, peradaban meningkat pesat. Melalui teknologi, manusia sekarang sudah bisa mengatasi segala hal yang dulu menjadi kelemahannya. Untuk mengatasi kendala jarak dalam geografi, manusia menciptakan berbagai moda transportasi yang memungkinkan manusia untuk menjelajahi tempat manapun di muka bumi. Untuk komunikasi bahkan lebih canggih lagi, sekarang, bahkan pada saat saya menulis inipun saya dapat berkomunikasi dengan teman saya yang berjarak ribuan mil jauhnya. Yang berada entah di sudut dan pelosok mana planet ini.
Tapi perubahan yang saya gambarkan di atas hanyalah perubahan secara fisik semata. Secara spiritual, manusia masih makhluk yang itu-itu juga. Persis seperti manusia yang hidup di zaman Xenophanes, di zaman nabi-nabi dan zaman Buddha yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari kecenderungan menyembah berhala.
Dalam masa modern ini manusia yang menyembah Tuhan yang secara fisik dibentuk seperti dirinya memang berkurang banyak jumlahnya. Tapi Manusia tetap tidak bisa melepaskan diri dari kecenderungan untuk menyembah Tuhan yang cenderung dibuat mirip dengan dirinya.
Seringkali Tuhan ciptaan Manusia itu dipanggil dengan nama yang sama, tapi perilaku, sifat dan temperamenNya selalu menyesuaikan diri dengan perilaku, sifat dan temperamen orang yang menuhankanNya.
Contohnya ada di sekitar kita sendiri. Kita lihat misalnya di lingkungan orang fanatik, radikal dan fundamentalis dari agama manapun. Di lingkungan seperti ini, Tuhan yang mereka sebut dengan berbagai nama selalu kita lihat hadir dengan karakter yang persis sama. Rasis, sombong, keras kepala, tidak konsisten dan bermuka dua yang selalu membenarkan apapun tindakan kaum fundamentalis yang meyakiniNya. Tidak peduli sebesar apapun kerusakan yang ditimbulkan oleh pemujaNya itu.
Sifat dan karakter Tuhan yang dipuja dan disembah oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan juga sama, selalu hanya mementingkan kepentingan pemujanya saja. Gampang sekali marah dan emosi terhadap setiap kesalahan kecil yang dilakukan rakyat jelata dan menutup mata terhadap apapun yang dilakukan oleh penguasa.
Ketika membaca kembali kisah-kisah para penyembah berhala itu, tiba-tiba sayapun merasakan adanya kesamaan situasi, suasana dan latar belakang sosial di negeri dan zaman itu dengan di negeri dan zaman saya hidup sekarang.
Lalu, apakah itu berarti kita sedang hidup dalam masyarakt penyembah berhala?...Jawabnya 'Tidak' jika definisi BERHALA yang kita gunakan adalah definisi berdasarkan penjelasan wikipedia ini http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala
Tapi kalau kita definisi penyembah berhala kita pahami sesuai dengan esensinya yaitu sebagai perilaku manusia yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Kemudian pemahaman itu kita kaitkan dengan situasi sosial yang ada sekarang di sekitar kita. Maka kita segera melihat, bagaimana mesranya pemuka agama dengan penguasa yang bersama-sama memusuhi rakyat jelata dan bagaimana dekadensi moral yang diakibatkannya. Kalau itu kita jadikan acuan. Ya kita memang hidup di lingkungan penyembah berhala.
Contoh perilaku yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata semacam ini misalnya dengan jelas saya saksikan beberapa waktu yang lalu melalui sebuah tulisan di status facebook milik salah seorang yang terdaftar sebagai teman saya. Teman saya ini bernama Rusda Harti Binti Djauhar yang memiliki basis pendidikan tinggi dari fakuktas Teknik jurusan Teknik Sipil. Dia adalah puteri seorang pejabat tinggi di kabupaten Aceh Tengah tempat kelahiran saya. Tulisan dari perempuan berjilbab yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut nilai-nilai keagamaan secara disiplin kaku dan ketat ini berbunyi "Mungkin Allah sengaja membakar bukit-bukit di sekitar bukit Di pinggir laut tawar karena Allah marah bukit-bukit itu selama ini digunakan untuk berkhalwat".
*Nama teman saya ini sengaja saya tulis dengan lengkap untuk memenuhi permintaan yang bersangkutan sendiri. Alasannya karena katanya dia ingin numpang terkenal kalau tulisan ini nantinya banyak dibaca orang.
Sebagai orang Islam yang sejak kecil diajarkan untuk memperlakukan Tuhan sebagai suatu entitas yang suci, yang mengucapkan nama Tuhan seperti yang dia sebutkan dengan vulgar ini pun hanya saya lakukan ketika saya melakukan aktivitas religius saja, hanya ketika secara spiritual saya merasa sedang melakukan kontak pribadi denganNya. Terus terang sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman dan terganggu menyaksikan nama Tuhan yang saya anggap suci itu dihamburkan dan diobral sedemikian vulgar dan murahnya.Tapi karena saya tidak memiliki kekuasaan yang bisa melarang mereka untuk melakukan itu dan menurut saya pun urusan dengan Tuhan adalah urusan pribadi bagi orang-orang yang mempercayainya, biarlah urusan obral-mengobral namaNya itu menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan yang kesucian namaNya telah mereka obral dengan harga murah itu.
Sebagai orang waras yang terbiasa menggunakan otak yang dianugerahkan Tuhan kepada saya sesuai fungsi dan kodratnya yaitu untuk BERPIKIR, maka saya pun langsung dapat melihat tidak logisnya pernyataan teman saya ini. Apa hubungannya berkhalwat dengan bukit yang terbakar?. "Bukankah di musim kemarau seperti sekarang ini, saat rumput-rumput mengering dan rawan terbakar?", pikir saya. Bagi saya, ucapan teman saya di status facebook miliknya sebagaimana saya ceritakan di atas jelas adalah sebuah ucapan yang tidak memiliki basis logika, spekulatif, tidak konsisten serta diskriminatif.
Kejadian kebakaran adalah hal yang lumrah terjadi di perbukitan yang mengelilingi Laut Tawar. Sejak tahun 1983 saya tinggal di kaki salah satu bukit itu. Sepanjang ingatan saya, tidak pernah dalam satu tahun pun terjadi bukit tersebut tidak terbakar di musim kemarau.
Jadi apa yang dapat saya baca dari tulisan di atas adalah yang bersangkutan sangat membenci aktifitas berkhalwat di atas segala perbuatan buruk lainnya. Dia percaya bahwa perbuatan itu sangat dibenci Tuhan, karena sejak kecil ke dalam kepalanya memang selalu dijejalkan cerita tentang Tuhan yang tidak suka melihat orang berkhalwat. Ke dalam kepalanya juga ditanamkan bahwa Tuhan yang sama suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman. Maka seperti para penyembah berhala manapun yang hidup di zaman apapun. Sebagaimana halnya orang Yunani pada masa Xenophanes hidup yang selalu ketakutan terhadap Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod, teman saya yang bernama Rusda ini pun demikian. Melihat bukit yang terbakar dia ketakutan sendiri. Dia percaya bahwa itu terjadi karena Tuhannya yang pemarah yang selalu hadir dalam imajinasinya karena sejak kecil selalu digambarkan demikian oleh keluarganya itu. Maka tidak heran kalau dia pun berpikir Tuhan yang dia percaya itu langsung gelap mata melihat adanya orang berkhalwat dan tanpa ampun dan tanpa perlu bertanya 'kenapa?' Tuhan itupun menjatuhkan hukuman.
Seperti kata Xenophanes, kalaulah Kuda, singa dan sapi punya tangan, bisa menggambar dan memahat maka merekapun akan membuat Tuhan yang identik dengan jenisnya.
Melalui pernyataan teman saya tersebut, saya pun segera melihat kalau Tuhan (yang namanya dia sebut persis seperti nama Tuhan yang saya sembah dalam setiap sujud saya) dalam imajinasi teman saya ini adalah Tuhan yang dibuat persis seperti 'jenis' teman saya ini. Tuhan teman saya ini memiliki karakter yang persis sama dengan Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang hidup di segala tempat dan zaman.
Ada hal lain yang lebih menarik di balik kemarahan Tuhan yang dipercayai teman saya ini. Di tempat di mana Tuhan dalam imajinasi teman saya ini membakar bukit itu, ada penguasa yang menjual mesjid dan rumah anak yatim. Di sana ada danau air tawar terbesar di Aceh tapi rakyatnya kehausan karena kekurangan air bersih. Di sana air danau yang menjadi tumpuan hidup banyak orang terus berkurang debit airnya tanpa ada tindakan kongkret apapun dari penguasa.
Karena anak yatim yang mesjid dan rumahnya dijual penguasa, orang yang kehausan karena kekurangan air bersih dan orang yang megap-megap terancam kehilangan mata pencaharaian akibat berkurangnya debit air danau bukanlah orang yang 'Sejenis' dengan teman saya ini. Maka Tuhan yang disembah oleh teman saya ini pun sama sekali menutup mata terhadap itu semua. Tuhan yang disembah oleh teman saya ini benar-benar IMPOTEN ketika berhadapan dengan penguasa. Persis seperti Tuhan-Tuhan yang disembah oleh para penyembah berhala.
Ketika saya membaca tulisan teman saya tersebut, secara naluriah saya spontan saya mengingatkan. Tapi sebagaimana halnya para penyembah berhala di segala zaman. Teman saya inipun resistant. Dengan segala alasan yang dia punya, dari yang mencoba buang badan sampai sekonyol-konyolnya sebuah alasan dia keluarkan. Pokoknya baginya kebenaran sejati hanya ada dalam apa yang dikatakan nenek moyang yang turun-temurun diajarkan dalam keluarga, di luar itu sejernih apapun yang ditawarkan, itu adalah bisikan setan.
Sebagaimana halnya semua daerah di Aceh yang menerapkan syari'at islam. Di daerah ini pun tentu saja ada ulama, dengan wadah MPU sebagai pemberi masukan dan pandangan syari'ah tertinggi bagi para penguasa.
Tapi sebagaimana layaknya di setiap negeri yang dikuasai para penyembah berhala, dimana para pemuka agama berkolaborasi dengan apik bersama penguasa memusuhi rakyat jelata, maka ulama di negeri inipun sama. Ketika terjadi kasus penjualan mesjid dan rumah anak yatim itu misalnya. Alih-alih seperti Xenophanes, para nabi dan orang-orang besar yang hidup di zaman yang dipenuhi para penyembah berhala yang selalu berada di garis terdepan saat berhadapan dengan penguasa lalim yang suka bertindak semena-mena. Ulama yang paling berpengaruh di daerah ini yang menjabat sebagai ketua MPU, melalui sebuah wawancara yang diterbitkan koran terbesar di Aceh, malah dengan lincahnya mengemukakan dalil-dalil yang dikutip dari teks-teks kitab suci, untuk mempengaruhi masyarakat supaya membenarkan perilaku dan tindakan sang penguasa.
Di tingkat administratif yang lebih tinggi, di tingkat provinsi juga sama, malah lebih parah lagi. Daerah ini mengalami banyak sekali masalah yang menghantam rakyat jelata. Di sini ada penebangan hutan tak terkendali, ada korupsi luar biasa besar yang memangsa korban tsunami, ada banyak pelanggar HAM yang tidak pernah kunjung diadili. Padahal kalau Tuhan memang maha tahu dan maha kuasa, Tuhan tentu tahu itu semua dan tentu tahu siapa yang paling bertanggung jawab di sana.
Tapi seperti Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang tidak penah menaruh minat kepada kesalahan yang disebabkan oleh pemegang kuasa, Tuhan di negeri ini pun sama saja. Dia lebih berminat mengurusi perempuan yang tidak berjilbab,mengurusi orang berkhalwat dan yang terbaru mengurusi masalah jinayat.
Di Tingkat Nasional, juga sama.
Di negara ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh rakyat jelata. Korupsi memangsa semua potensi negara ini untuk bisa mensejahterakan rakyatnya. Orang yang dipilih menjaddi wakil melakukan politik dagang sapi untuk kepentingan kelompoknya. Jika di Cina pelaku korupsi dianccam dengan hukuman mati, di sini sebaliknya orang yang melawan Korupsi lah yang diancam dengan hukuman mati. Rakyat di negara ini hanya menjadi pelengkap penderita.
Lalu bagaimana rekasi Tuhan yang disembah mayoritas penduduk negeri ini terhadap situasi aktual yang ada?
Melalui manusia-manusia yang secara resmi ditasbihkan menjadi wakilNya di bumi rupanya Tuhan sama sekali tidak tertariuk mengurusi itu semua. Tuhan justru lebih gusar melihat banyaknya pengemis di kota-kota. Tapi rasa gusar Tuhan inipun bukan ditujukan kepada penguasa yang membuat kebijakan yang tidak tepat yang membuat orang terpaksa mengemis. Sebaliknya yang menjadi sasaran kemarahan Tuhan adalah orang-orang yang terpaksa mengemis itu. Tanpa merasa perlu lagi untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi pengemis?, tanpa ampun Tuhan ini langsung mengharamkan perilaku mengemis itu.
Saat fenomena Golput merebak juga begitu. Tuhan yang sama tanpa ampun langsung mengharamkan Golput. Tuhan ini juga sama sekali tidak merasa perlu untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi Golput?'. Apakah itu karena kegatalan pribadi atau karena orang-orang sudah muak melihat perilaku para politisi yang dengan kekuasaan di tangan melakukan politik dagang sapi yang menggunakan kekuasaan politik untuk memperkaya diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama sekali tidak pernah eksis di dalam benak Tuhan-tuhan semacam ini. Pokoknya kalau ada yang tidak menyenangkan hatinya, langsung yang disalahkan adalah rakyat jelata.
Pendeknya, situasi di negeri ini benar-benar IMMORAL, persis sebagaimana yang terjadi pada masyarakat penyembah berhala di zaman baheula
Dalam situasi IMMORAL seperti ini, ketika pemuka agama bersatu padu dengan penguasa yang tidak mau tahu apalagi mengakomodir kegelisahan yang berkembang dalam masyarakatnya, membuat masyarakat yang tinggal di tempat ini semakin terpuruk baik secara ekonomi maupun harga diri yang melahirkan banyak manusia-manusia frustasi.
Orang-orang yang berada dalam situasi frustasi semacam ini mudah sekali terpengaruh jika ada alternatif instan untuk mengeluarkannya dari situasi yang dia alami. Secara alamai, dalam masyarakat semacam ini muncul orang-orang yang menawarkan kenikmatan yang dapat diperoleh secara instant, di dalamnya termasuk kenikmatan spiritual. Sehingga dalam masyarakat seperti ini berhamburanlah berbagai tawaran spiritulitas instant. Entah itu bernama ESQ, atau ustadz-ustadz komersil yang memberikan pencerahan nurani yang setiap berbicara meminta tarif tinggi. Tapi semua itu adalah kenikmatan spiritual berbayar.
Lalu dalam masyarakat seperti ini bagaimana nasib orang-orang pinggiran di negeri ini yang megap-megap mencari sesuap nasi yang jelas-jelas tidak mampu membeli kenikmatan spiritual instant berbayar semacam itu?.
Tidak perlu khawatir, mereka juga punya saluran pelepasan sendiri. Kepada orang semacam ini akan ada orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant. Tapi bedanya untuk masyarakat kelas ini, kenikmatan isntant itu hanya bisa didapatkan setelah mati. Dengan bertemu orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun terpuaskan dahaga spiritualnya. Maka biasanya setelah bertemu orang yang menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun mulai berkhayal kenikmatan apa yang akan dia dapatkan sesudah mati. Setiap waktu kerjanya membayangkan surga dengan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan bidadari-bidadari yang lebih cantik dari Agnes Monica atau Luna Maya. Dalam pikiran mereka, khayalan indah tersebut seolah tampak nyata dan begitu mudah dijangkau di depan mata. Lalu dengan optimisme yang besar seperti optimisme yang dimiliki para pemasang nomor togel, merekapun akan mengejarnya dengan suka cita.
Lalu apakah semua penghuni negeri ini adalah orang-orang pathetic semacam itu?. Tentu saja tidak. Sebagaimana yang terjadi di setiap zaman ketika masyarakat terjatuh ke dalam kesesatan selalu ada orang-orang yang datang menawarkan kejernihan.
Contoh paling dekat ada di Aceh, negeri asal saya sendiri.
Pasca tsunami, Aceh negeri saya yang dulu dibuat tertutup oleh penguasa tiba-tiba jadi bebas terbuka. Orang-orang Aceh yang dulu merasa pernah berkunjung ke Medan saja sudah demikian hebatnya. Kini tiba-tiba menjadi akrab dengan Iran, mesir, Perancis, Inggris, Belanda, Jerman sampai Amerika. Akibatnya di Aceh pun bermunculan orang waras dalam jumlah yang luar biasa banyaknya.
Tapi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kegelapan yang merasa silau dengan datangnya cahaya juga tidak kurang jumlahnya. Mereka merasa nyaman dan memilih bertahan dalam kegelapan sebagaimana biasanya. Orang jenis kedua ini mempertahankan mati-matian kegelapan yang telah mereka peluk dalam waktu yang lama. Ketika ancaman dari orang-orang waras yang datang untuk memberi penerangan semakin nyata, merekapun semakin keras mempertahankan kegelapan yang menurut mereka akan membuat mereka nyaman selamanya.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca Orang-orang waras seperti yang saya sebut di atas dapat menyaksikan dengan jelas kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas seperti yang dilakukan para penyembah berhala di zaman baheula. Orang-orang waras ini dengan kritis mempertanyakan dan melakukan perlawanan terhadap segala macam aktifitas "penyembahan berhala" di negeri saya dengan segala macam argumen yang penuh kejernihan.
Sebagaimana yang diceritakan dalam semua kisah tentang penyembah berhala yang menggambarkan karakter mereka sebagai orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Karena mereka percaya nenek moyang merekalah generasi terbaik yang pernah ada. Orang yang hidup di zaman facebook dan Twitter inipun ya sama saja. Kalau ada yang mengingatkan, kalau ada yang menawarkan kejernihan mereka akan dengan lantang berkata, kebenaran itu hanya ada di zaman nenek moyangnya. Semua kebenaran di dunia harus merujuk ke sana, karena para nenek moyang itulah generasi terbaik yang pernah ada.
Padahal Ali, sepupu sekaligus menantu Muhammad yang oleh orang Islam sebagai nabi terakhir pernah menyatakan kata-kata yang dikeluarkan oleh orang-orang semacam itu adalah "kata indah yang bertujuan sesat". Sejarah kemudian mencatat Ali Bin Abi Thalib, pemuda pertama yang memeluk Islam ini terbunuh oleh demonstran yang mengatasnamakan "penerapan ayat Tuhan" (baca : Jargon Indah untuk Agenda Busuk. Agus Maftuh Abegebriel; Jawa Pos 28/9/2009)
Begitulah, sebagaimana hal yang dialami orang-orang waras di masa-masa sebelumnya. Orang-orang waras di negeri saya, yang rasa intelektualitasnya terganggu oleh aktifitas "penyembahan berhala" juga sama. Mereka dikucilkan dan dimusuhi banyak orang karena kewarasannya.
Ketika dengan kewarasannya mereka bertanya, pertanyaan dan argumen yang mereka ajukan tentu saja sama sekali tidak bisa dibantah oleh para "penyembah berhala". Karena memang tidak seorangpun yang bisa membantah yang namanya kejernihan.
Karena sadar-sesadar-sadarnya memang tidak mungkin menang berdebat melawan kejernihan. Para "penyembah berhala" pun melawan dengan cara memberikan mereka berbagai cap buruk dan dijadikan sasaran berbagai tudingan yang seringkali sama sekali tidak berdasar.
Orang-orang yang menawarkan kejernihan ini mereka tuduh sebagai Syi'ah lah, Kapitalis lah, Pendukung Liberalisme lah, Antek Yahudi sampai musuh Allah. Mereka tidak peduli kalau yang mereka sebut sebagai 'musuh Allah' itu adalah orang-orang yang selalu bersujud dan menyembah Tuhan dengan nama yang sama.
Memang harus diakui pula, beberapa orang waras di negeri saya itu akan dan telah jatuh ke dalam jerat para 'penyembah berhala' dan menjadi gila. Mereka jadi gila karena tidak mampu menghindar dari godaan dan silaunya kekayaan serta kekuasaan yang ada di depan mata yang bisa mereka dapatkan dengan mudahnya. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dulu di tahun 1998 dulu bersama saya berpanas ria di jalan berteriak dan kucar-kacir dikejar tentara, hanya untuk satu tujuan. Bagaimana kita bisa menurunkan Tiran.
Tidak seperti para "penyembah berhala" kualitas rendahan yang biasa berdiri di garis depan untuk umpan peluru yang harus menunggu mati dulu supaya bisa merasakan nikmatnya tidur dengan bidadari berdada montok di sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima. Para orang gila yang pernah waras ini dapat menikmati segala fasilitas tersebut saat ini juga. Begitu mudahnya orang gila yang pernah waras ini mendapatkan harta, sehingga meminjam istilah seorang adik kelas saya semasa kuliah di Teknik yang di masa heboh demonstrasi dulu. Adik kelas yang ketika Habibie yang baru diangkat menjadi Presiden datang ke Banda Aceh pernah babak belur dipukuli tentara.
"Bahkan untuk sekedar membuang sperma saja pun mereka (para "penyembah berhala" kualitas tinggi) harus naik pesawat bolak-balik ke Jakarta".
Dalam perjalanan waktu akan semakin banyak orang waras yang akan jatuh menjadi Gila.
Tapi mengingat banyaknya jumlah orang waras yang ada di Aceh saat ini. Saya sangat yakin akan terus ada orang waras yang berjuang untuk membebaskan negerinya dari pengaruh para "penyembah berhala". Mungkin kali ini orang-orang waras itu akan kalah, bisa jadi juga sampai akhir hayatnya mereka tidak akan pernah menang. Tapi yang jelas selama di dunia ini masih ada orang waras, para "penyembah berhala" tidak akan pernah tenang, karena akan terus ada perlawanan. Meski terus ditekan dan dipojokkan, saya yakin orang-orang waras di negeri saya akan terus berjuang supaya rakyat di negeri saya bisa mendapatkan rasa merdeka yang hakiki sebagai manusia.
Karena salah satu unsur dari kemerdekaan hakiki itu adalah merdeka dari cengkeraman para "penyembah BERHALA".
Wassalam
Win Wan Nur
Referensi :
http://plato.stanford.edu/entries/xenophanes/
http://id.wikipedia.org/wiki/Berhalaa
http://yudhim.blogspot.com/2008/07/kisah-nabi-ibrahim-as.html
http://nurdi.multiply.com/journal/item/341/Kelahiran_Musa_Dan_Pengasuhnya
http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan
http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=725:aceh-akan-mengesahkan-hukum-rajam&catid=82:inkit&Itemid=199
http://www.halalmui.org/content/view/415/74/lang,id/
http://muslimmoderat.wordpress.com/2009/01/27/fatwa-mui-golput-haram-rokok-makruh-haram/
Yet if cattle or horses or lions had hands and could draw, And could sculpt like men, then the horses would draw their gods Like horses, and cattle like cattle; and each they would shape Bodies of gods in the likeness, each kind, of their own. (Xenophanes)
Tulisan di atas merupakan kutipan dari ucapan Xenophanes, seorang filsuf yang hidup pada tahun 570 – 480 SM di suatu masa di Yunani yang disebut zaman Elea, satu setengah milenium sebelum kita semua lahir.
Di zaman Xenophanes hidup, masyarakat di tempatnya tinggal gemar sekali melakukan aktifitas dan ritual keagamaan. Tapi aktifitas keagamaan yang dipraktekkan orang pada zaman itu lebih dipengaruhi oleh rasa ketakutan yang besar terhadap Tuhan-Tuhan yang suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman, bukan karena dorongan rasa spiritual.
Pada masa itu orang-orang Yunani menyembah banyak Tuhan dalam bentuk berhala-berhala yang karakternya dibuat berdasarkan gambaran yang berasal dari imajinasi dua pujangga besar bangsa mereka, Homer dan Hesiod.
Di antara Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod itu ada yang bernama Zeus, Tuhan tertinggi yang diantaranya memiliki sifat playboy suka mengambil anak gadis dan istri orang seenaknya. Ada Hera ibu tiri yang pendendam, ada Artemis (Diana) saudara kembar Apollo yang cantik dan angkuh yang dengan semena-mena bisa mengutuk jadi batu pemuda yang kebetulan melihat dan mengagumi kecantikannya.
Selain kisah para penyembah berhala yang hidup dalam masyarakat Yunani ini, sejak kecil saya sering membaca berbagai kisah tentang para penyembah berhala dengan berbagai tempat sebagai latar belakang berdasarkan cerita dari bermacam kepercayaan dan agama.
Ada satu fakta menarik yang saya lihat setiap kali saya membaca kisah-kisah para penyembah berhala ini. Yaitu adanya kesamaan latar belakang situasi sosial dan moralitas dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat penyembah berhala seperti ini. Ketika saya amati dalam kisah-kisah yang saya baca, bahwa di mana pun tempatnya dan di zaman apapun terjadinya. Di sana selalu terdapat masyarakat yang jatuh ke dalam situasi sosial yang dipenuhi rasa frustasi karena ketidak adilan yang merata di mana-mana. Masyarakat penyembah berhala selalu digambarkan sebagai masyarakat yang terjebak dalam suasana dekadensi moral yang parah.
Dari kisah-kisah yang saya baca, selalu diceritakan bahwa di tempat-tempat yang didiami para penyembah berhala ini, konsep-konsep non-kemanusiaan mekar dan berkembang biak dengan suburnya. Segala kejelekan dan keburukan akan menjulang. Perbuatan menipu akan menghasilkan kekayaan, bersikap munafik dan bermuka dua akan menguntungkan. Dan bagi saya, yang paling menarik dari semuanya adalah; berhala-berhala yang disembah sebagai Tuhan itu bukan kebetulan selalu hadir sebagai sosok yang sangat pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Dalam masyarakat seperti ini, setiap terjadi masalah atau kejadian yang tidak menyenangkan, dan harus ada pihak yang di salahkan. Maka yang salah selalu rakyat jelata, bukan penguasa.
Bagi yang beragama Islam silahkan baca kisah nabi-nabi mulai dari Ibrahim, Musa sampai Muhammad yang semuanya dikisahkan berjuang menentang perilaku penyembahan berhala. Di sana anda akan melihat semua nabi-nabi itu hadir dalam masyarakat yang mengalami situasi sosial dan suasana moral seperti yang saya gambarkan di atas.
Bagi penganut agama lain silahkan lihat latar belakang sosial kemunculan Siddharta Gautama yang di kemudian hari dikenal sebagai Buddha. Dalam kepercayaan Hindu dikenal sosok Khrisna yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Dewa wisnu yang selalu hadir di setiap masa ketika masyarakat terjatuh dalam suasana sosial seperti yang saya gambarkan di atas yang terjadi karena masyarakat dikuasai para penyembah berhala.
Kemudian saya juga mengamati dalam kisah-kisah itu. Ada satu keseragaman karakter dari semua penyembah berhala di segala agama, tempat dan zaman. Dalam kisah-kisah itu mereka selalu digambarkan sebagai orang-orang keras kepala yang malas berpikir dan tidak suka diingatkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menolak keras segala ide yang menawarkan kejernihan. Para penyembah berhala selalu digambarkan sebagai orang-orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Mereka selalu menolak keras usaha untuk menrekonstruksi ide-ide yang ada dalam kepercayaan nenek moyang mereka karena kurang lebih mereka percaya, bahwa nenek moyang merekalah generasi terbaik umat manusia yang pernah ada.
Dalam kisah para penyembah berhala, orang-orang yang menawarkan kejernihan semacam Xenophanes, Buddha, Khrisna dan para nabi-nabi dalam kisah-kisah Islam adalah jenis manusia yang paling mereka musuhi dan mereka tentang. Para penguasa menentang orang-orang yang menawarkan kejernihan karena keberadaan mereka jelas mengganggu hegemoni kekuasaan. Sementara masyarakat banyak memusuhi mereka, karena masyarakat dikuasai oleh rasa ketakutan terhadap kekuasaan tak terbatas yang (dalam imajinasi mereka) dimiliki oleh sang berhala. Dalam berbagai kisah nabi yang saya baca, bahkan kadang masyarakat yang dikuasai ketakutan terhadap imajinasi yang mereka ciptakan sendiri itu, tidak segan untuk membunuhi para nabi yang menawarkan kejernihan.
Kembali ke kutipan yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Kutipan tersebut di atas adalah ucapan yang dikeluarkan oleh Xenophanes sebagai bentuk kritik dan perlawanan sekaligus sebagai sebuah bentuk serangan terhadap situasi aktual yang terjadi di Yunani pada zaman antik itu yang keadaanya kurang lebih sama seperti yang saya gambarkan di atas. Ketika itu masyarakat di zaman Xenophanes hidup tersebut terjatuh dalam situasi sosial yang kacau dan penuh ketidak adilan dan mengalami dekadensi moral yang parah.
Waktu berlalu, peradaban meningkat pesat. Melalui teknologi, manusia sekarang sudah bisa mengatasi segala hal yang dulu menjadi kelemahannya. Untuk mengatasi kendala jarak dalam geografi, manusia menciptakan berbagai moda transportasi yang memungkinkan manusia untuk menjelajahi tempat manapun di muka bumi. Untuk komunikasi bahkan lebih canggih lagi, sekarang, bahkan pada saat saya menulis inipun saya dapat berkomunikasi dengan teman saya yang berjarak ribuan mil jauhnya. Yang berada entah di sudut dan pelosok mana planet ini.
Tapi perubahan yang saya gambarkan di atas hanyalah perubahan secara fisik semata. Secara spiritual, manusia masih makhluk yang itu-itu juga. Persis seperti manusia yang hidup di zaman Xenophanes, di zaman nabi-nabi dan zaman Buddha yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari kecenderungan menyembah berhala.
Dalam masa modern ini manusia yang menyembah Tuhan yang secara fisik dibentuk seperti dirinya memang berkurang banyak jumlahnya. Tapi Manusia tetap tidak bisa melepaskan diri dari kecenderungan untuk menyembah Tuhan yang cenderung dibuat mirip dengan dirinya.
Seringkali Tuhan ciptaan Manusia itu dipanggil dengan nama yang sama, tapi perilaku, sifat dan temperamenNya selalu menyesuaikan diri dengan perilaku, sifat dan temperamen orang yang menuhankanNya.
Contohnya ada di sekitar kita sendiri. Kita lihat misalnya di lingkungan orang fanatik, radikal dan fundamentalis dari agama manapun. Di lingkungan seperti ini, Tuhan yang mereka sebut dengan berbagai nama selalu kita lihat hadir dengan karakter yang persis sama. Rasis, sombong, keras kepala, tidak konsisten dan bermuka dua yang selalu membenarkan apapun tindakan kaum fundamentalis yang meyakiniNya. Tidak peduli sebesar apapun kerusakan yang ditimbulkan oleh pemujaNya itu.
Sifat dan karakter Tuhan yang dipuja dan disembah oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan juga sama, selalu hanya mementingkan kepentingan pemujanya saja. Gampang sekali marah dan emosi terhadap setiap kesalahan kecil yang dilakukan rakyat jelata dan menutup mata terhadap apapun yang dilakukan oleh penguasa.
Ketika membaca kembali kisah-kisah para penyembah berhala itu, tiba-tiba sayapun merasakan adanya kesamaan situasi, suasana dan latar belakang sosial di negeri dan zaman itu dengan di negeri dan zaman saya hidup sekarang.
Lalu, apakah itu berarti kita sedang hidup dalam masyarakt penyembah berhala?...Jawabnya 'Tidak' jika definisi BERHALA yang kita gunakan adalah definisi berdasarkan penjelasan wikipedia ini http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala
Tapi kalau kita definisi penyembah berhala kita pahami sesuai dengan esensinya yaitu sebagai perilaku manusia yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata. Kemudian pemahaman itu kita kaitkan dengan situasi sosial yang ada sekarang di sekitar kita. Maka kita segera melihat, bagaimana mesranya pemuka agama dengan penguasa yang bersama-sama memusuhi rakyat jelata dan bagaimana dekadensi moral yang diakibatkannya. Kalau itu kita jadikan acuan. Ya kita memang hidup di lingkungan penyembah berhala.
Contoh perilaku yang suka menciptakan dan menyembah Tuhan-Tuhan kejam yang pro penguasa dan memusuhi rakyat jelata semacam ini misalnya dengan jelas saya saksikan beberapa waktu yang lalu melalui sebuah tulisan di status facebook milik salah seorang yang terdaftar sebagai teman saya. Teman saya ini bernama Rusda Harti Binti Djauhar yang memiliki basis pendidikan tinggi dari fakuktas Teknik jurusan Teknik Sipil. Dia adalah puteri seorang pejabat tinggi di kabupaten Aceh Tengah tempat kelahiran saya. Tulisan dari perempuan berjilbab yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut nilai-nilai keagamaan secara disiplin kaku dan ketat ini berbunyi "Mungkin Allah sengaja membakar bukit-bukit di sekitar bukit Di pinggir laut tawar karena Allah marah bukit-bukit itu selama ini digunakan untuk berkhalwat".
*Nama teman saya ini sengaja saya tulis dengan lengkap untuk memenuhi permintaan yang bersangkutan sendiri. Alasannya karena katanya dia ingin numpang terkenal kalau tulisan ini nantinya banyak dibaca orang.
Sebagai orang Islam yang sejak kecil diajarkan untuk memperlakukan Tuhan sebagai suatu entitas yang suci, yang mengucapkan nama Tuhan seperti yang dia sebutkan dengan vulgar ini pun hanya saya lakukan ketika saya melakukan aktivitas religius saja, hanya ketika secara spiritual saya merasa sedang melakukan kontak pribadi denganNya. Terus terang sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman dan terganggu menyaksikan nama Tuhan yang saya anggap suci itu dihamburkan dan diobral sedemikian vulgar dan murahnya.Tapi karena saya tidak memiliki kekuasaan yang bisa melarang mereka untuk melakukan itu dan menurut saya pun urusan dengan Tuhan adalah urusan pribadi bagi orang-orang yang mempercayainya, biarlah urusan obral-mengobral namaNya itu menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan yang kesucian namaNya telah mereka obral dengan harga murah itu.
Sebagai orang waras yang terbiasa menggunakan otak yang dianugerahkan Tuhan kepada saya sesuai fungsi dan kodratnya yaitu untuk BERPIKIR, maka saya pun langsung dapat melihat tidak logisnya pernyataan teman saya ini. Apa hubungannya berkhalwat dengan bukit yang terbakar?. "Bukankah di musim kemarau seperti sekarang ini, saat rumput-rumput mengering dan rawan terbakar?", pikir saya. Bagi saya, ucapan teman saya di status facebook miliknya sebagaimana saya ceritakan di atas jelas adalah sebuah ucapan yang tidak memiliki basis logika, spekulatif, tidak konsisten serta diskriminatif.
Kejadian kebakaran adalah hal yang lumrah terjadi di perbukitan yang mengelilingi Laut Tawar. Sejak tahun 1983 saya tinggal di kaki salah satu bukit itu. Sepanjang ingatan saya, tidak pernah dalam satu tahun pun terjadi bukit tersebut tidak terbakar di musim kemarau.
Jadi apa yang dapat saya baca dari tulisan di atas adalah yang bersangkutan sangat membenci aktifitas berkhalwat di atas segala perbuatan buruk lainnya. Dia percaya bahwa perbuatan itu sangat dibenci Tuhan, karena sejak kecil ke dalam kepalanya memang selalu dijejalkan cerita tentang Tuhan yang tidak suka melihat orang berkhalwat. Ke dalam kepalanya juga ditanamkan bahwa Tuhan yang sama suka bersikap kejam, egois, keras kepala dan pemarah serta gampang sekali menjatuhkan hukuman. Maka seperti para penyembah berhala manapun yang hidup di zaman apapun. Sebagaimana halnya orang Yunani pada masa Xenophanes hidup yang selalu ketakutan terhadap Tuhan-Tuhan hasil imajinasi Homer dan Hesiod, teman saya yang bernama Rusda ini pun demikian. Melihat bukit yang terbakar dia ketakutan sendiri. Dia percaya bahwa itu terjadi karena Tuhannya yang pemarah yang selalu hadir dalam imajinasinya karena sejak kecil selalu digambarkan demikian oleh keluarganya itu. Maka tidak heran kalau dia pun berpikir Tuhan yang dia percaya itu langsung gelap mata melihat adanya orang berkhalwat dan tanpa ampun dan tanpa perlu bertanya 'kenapa?' Tuhan itupun menjatuhkan hukuman.
Seperti kata Xenophanes, kalaulah Kuda, singa dan sapi punya tangan, bisa menggambar dan memahat maka merekapun akan membuat Tuhan yang identik dengan jenisnya.
Melalui pernyataan teman saya tersebut, saya pun segera melihat kalau Tuhan (yang namanya dia sebut persis seperti nama Tuhan yang saya sembah dalam setiap sujud saya) dalam imajinasi teman saya ini adalah Tuhan yang dibuat persis seperti 'jenis' teman saya ini. Tuhan teman saya ini memiliki karakter yang persis sama dengan Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang hidup di segala tempat dan zaman.
Ada hal lain yang lebih menarik di balik kemarahan Tuhan yang dipercayai teman saya ini. Di tempat di mana Tuhan dalam imajinasi teman saya ini membakar bukit itu, ada penguasa yang menjual mesjid dan rumah anak yatim. Di sana ada danau air tawar terbesar di Aceh tapi rakyatnya kehausan karena kekurangan air bersih. Di sana air danau yang menjadi tumpuan hidup banyak orang terus berkurang debit airnya tanpa ada tindakan kongkret apapun dari penguasa.
Karena anak yatim yang mesjid dan rumahnya dijual penguasa, orang yang kehausan karena kekurangan air bersih dan orang yang megap-megap terancam kehilangan mata pencaharaian akibat berkurangnya debit air danau bukanlah orang yang 'Sejenis' dengan teman saya ini. Maka Tuhan yang disembah oleh teman saya ini pun sama sekali menutup mata terhadap itu semua. Tuhan yang disembah oleh teman saya ini benar-benar IMPOTEN ketika berhadapan dengan penguasa. Persis seperti Tuhan-Tuhan yang disembah oleh para penyembah berhala.
Ketika saya membaca tulisan teman saya tersebut, secara naluriah saya spontan saya mengingatkan. Tapi sebagaimana halnya para penyembah berhala di segala zaman. Teman saya inipun resistant. Dengan segala alasan yang dia punya, dari yang mencoba buang badan sampai sekonyol-konyolnya sebuah alasan dia keluarkan. Pokoknya baginya kebenaran sejati hanya ada dalam apa yang dikatakan nenek moyang yang turun-temurun diajarkan dalam keluarga, di luar itu sejernih apapun yang ditawarkan, itu adalah bisikan setan.
Sebagaimana halnya semua daerah di Aceh yang menerapkan syari'at islam. Di daerah ini pun tentu saja ada ulama, dengan wadah MPU sebagai pemberi masukan dan pandangan syari'ah tertinggi bagi para penguasa.
Tapi sebagaimana layaknya di setiap negeri yang dikuasai para penyembah berhala, dimana para pemuka agama berkolaborasi dengan apik bersama penguasa memusuhi rakyat jelata, maka ulama di negeri inipun sama. Ketika terjadi kasus penjualan mesjid dan rumah anak yatim itu misalnya. Alih-alih seperti Xenophanes, para nabi dan orang-orang besar yang hidup di zaman yang dipenuhi para penyembah berhala yang selalu berada di garis terdepan saat berhadapan dengan penguasa lalim yang suka bertindak semena-mena. Ulama yang paling berpengaruh di daerah ini yang menjabat sebagai ketua MPU, melalui sebuah wawancara yang diterbitkan koran terbesar di Aceh, malah dengan lincahnya mengemukakan dalil-dalil yang dikutip dari teks-teks kitab suci, untuk mempengaruhi masyarakat supaya membenarkan perilaku dan tindakan sang penguasa.
Di tingkat administratif yang lebih tinggi, di tingkat provinsi juga sama, malah lebih parah lagi. Daerah ini mengalami banyak sekali masalah yang menghantam rakyat jelata. Di sini ada penebangan hutan tak terkendali, ada korupsi luar biasa besar yang memangsa korban tsunami, ada banyak pelanggar HAM yang tidak pernah kunjung diadili. Padahal kalau Tuhan memang maha tahu dan maha kuasa, Tuhan tentu tahu itu semua dan tentu tahu siapa yang paling bertanggung jawab di sana.
Tapi seperti Tuhan-Tuhan yang disembah para penyembah berhala yang tidak penah menaruh minat kepada kesalahan yang disebabkan oleh pemegang kuasa, Tuhan di negeri ini pun sama saja. Dia lebih berminat mengurusi perempuan yang tidak berjilbab,mengurusi orang berkhalwat dan yang terbaru mengurusi masalah jinayat.
Di Tingkat Nasional, juga sama.
Di negara ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh rakyat jelata. Korupsi memangsa semua potensi negara ini untuk bisa mensejahterakan rakyatnya. Orang yang dipilih menjaddi wakil melakukan politik dagang sapi untuk kepentingan kelompoknya. Jika di Cina pelaku korupsi dianccam dengan hukuman mati, di sini sebaliknya orang yang melawan Korupsi lah yang diancam dengan hukuman mati. Rakyat di negara ini hanya menjadi pelengkap penderita.
Lalu bagaimana rekasi Tuhan yang disembah mayoritas penduduk negeri ini terhadap situasi aktual yang ada?
Melalui manusia-manusia yang secara resmi ditasbihkan menjadi wakilNya di bumi rupanya Tuhan sama sekali tidak tertariuk mengurusi itu semua. Tuhan justru lebih gusar melihat banyaknya pengemis di kota-kota. Tapi rasa gusar Tuhan inipun bukan ditujukan kepada penguasa yang membuat kebijakan yang tidak tepat yang membuat orang terpaksa mengemis. Sebaliknya yang menjadi sasaran kemarahan Tuhan adalah orang-orang yang terpaksa mengemis itu. Tanpa merasa perlu lagi untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi pengemis?, tanpa ampun Tuhan ini langsung mengharamkan perilaku mengemis itu.
Saat fenomena Golput merebak juga begitu. Tuhan yang sama tanpa ampun langsung mengharamkan Golput. Tuhan ini juga sama sekali tidak merasa perlu untuk mempertanyakan 'kenapa orang menjadi Golput?'. Apakah itu karena kegatalan pribadi atau karena orang-orang sudah muak melihat perilaku para politisi yang dengan kekuasaan di tangan melakukan politik dagang sapi yang menggunakan kekuasaan politik untuk memperkaya diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama sekali tidak pernah eksis di dalam benak Tuhan-tuhan semacam ini. Pokoknya kalau ada yang tidak menyenangkan hatinya, langsung yang disalahkan adalah rakyat jelata.
Pendeknya, situasi di negeri ini benar-benar IMMORAL, persis sebagaimana yang terjadi pada masyarakat penyembah berhala di zaman baheula
Dalam situasi IMMORAL seperti ini, ketika pemuka agama bersatu padu dengan penguasa yang tidak mau tahu apalagi mengakomodir kegelisahan yang berkembang dalam masyarakatnya, membuat masyarakat yang tinggal di tempat ini semakin terpuruk baik secara ekonomi maupun harga diri yang melahirkan banyak manusia-manusia frustasi.
Orang-orang yang berada dalam situasi frustasi semacam ini mudah sekali terpengaruh jika ada alternatif instan untuk mengeluarkannya dari situasi yang dia alami. Secara alamai, dalam masyarakat semacam ini muncul orang-orang yang menawarkan kenikmatan yang dapat diperoleh secara instant, di dalamnya termasuk kenikmatan spiritual. Sehingga dalam masyarakat seperti ini berhamburanlah berbagai tawaran spiritulitas instant. Entah itu bernama ESQ, atau ustadz-ustadz komersil yang memberikan pencerahan nurani yang setiap berbicara meminta tarif tinggi. Tapi semua itu adalah kenikmatan spiritual berbayar.
Lalu dalam masyarakat seperti ini bagaimana nasib orang-orang pinggiran di negeri ini yang megap-megap mencari sesuap nasi yang jelas-jelas tidak mampu membeli kenikmatan spiritual instant berbayar semacam itu?.
Tidak perlu khawatir, mereka juga punya saluran pelepasan sendiri. Kepada orang semacam ini akan ada orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant. Tapi bedanya untuk masyarakat kelas ini, kenikmatan isntant itu hanya bisa didapatkan setelah mati. Dengan bertemu orang yang datang untuk menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun terpuaskan dahaga spiritualnya. Maka biasanya setelah bertemu orang yang menawarkan kenikmatan instant semacam ini, orang-orang yang hidup dalam suasana frustasi inipun mulai berkhayal kenikmatan apa yang akan dia dapatkan sesudah mati. Setiap waktu kerjanya membayangkan surga dengan fasilitas bintang lima yang dilengkapi dengan bidadari-bidadari yang lebih cantik dari Agnes Monica atau Luna Maya. Dalam pikiran mereka, khayalan indah tersebut seolah tampak nyata dan begitu mudah dijangkau di depan mata. Lalu dengan optimisme yang besar seperti optimisme yang dimiliki para pemasang nomor togel, merekapun akan mengejarnya dengan suka cita.
Lalu apakah semua penghuni negeri ini adalah orang-orang pathetic semacam itu?. Tentu saja tidak. Sebagaimana yang terjadi di setiap zaman ketika masyarakat terjatuh ke dalam kesesatan selalu ada orang-orang yang datang menawarkan kejernihan.
Contoh paling dekat ada di Aceh, negeri asal saya sendiri.
Pasca tsunami, Aceh negeri saya yang dulu dibuat tertutup oleh penguasa tiba-tiba jadi bebas terbuka. Orang-orang Aceh yang dulu merasa pernah berkunjung ke Medan saja sudah demikian hebatnya. Kini tiba-tiba menjadi akrab dengan Iran, mesir, Perancis, Inggris, Belanda, Jerman sampai Amerika. Akibatnya di Aceh pun bermunculan orang waras dalam jumlah yang luar biasa banyaknya.
Tapi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kegelapan yang merasa silau dengan datangnya cahaya juga tidak kurang jumlahnya. Mereka merasa nyaman dan memilih bertahan dalam kegelapan sebagaimana biasanya. Orang jenis kedua ini mempertahankan mati-matian kegelapan yang telah mereka peluk dalam waktu yang lama. Ketika ancaman dari orang-orang waras yang datang untuk memberi penerangan semakin nyata, merekapun semakin keras mempertahankan kegelapan yang menurut mereka akan membuat mereka nyaman selamanya.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca Orang-orang waras seperti yang saya sebut di atas dapat menyaksikan dengan jelas kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas seperti yang dilakukan para penyembah berhala di zaman baheula. Orang-orang waras ini dengan kritis mempertanyakan dan melakukan perlawanan terhadap segala macam aktifitas "penyembahan berhala" di negeri saya dengan segala macam argumen yang penuh kejernihan.
Sebagaimana yang diceritakan dalam semua kisah tentang penyembah berhala yang menggambarkan karakter mereka sebagai orang yang mempercayai adanya kebenaran mutlak dalam setiap detail kecil ajaran nenek moyang mereka. Karena mereka percaya nenek moyang merekalah generasi terbaik yang pernah ada. Orang yang hidup di zaman facebook dan Twitter inipun ya sama saja. Kalau ada yang mengingatkan, kalau ada yang menawarkan kejernihan mereka akan dengan lantang berkata, kebenaran itu hanya ada di zaman nenek moyangnya. Semua kebenaran di dunia harus merujuk ke sana, karena para nenek moyang itulah generasi terbaik yang pernah ada.
Padahal Ali, sepupu sekaligus menantu Muhammad yang oleh orang Islam sebagai nabi terakhir pernah menyatakan kata-kata yang dikeluarkan oleh orang-orang semacam itu adalah "kata indah yang bertujuan sesat". Sejarah kemudian mencatat Ali Bin Abi Thalib, pemuda pertama yang memeluk Islam ini terbunuh oleh demonstran yang mengatasnamakan "penerapan ayat Tuhan" (baca : Jargon Indah untuk Agenda Busuk. Agus Maftuh Abegebriel; Jawa Pos 28/9/2009)
Begitulah, sebagaimana hal yang dialami orang-orang waras di masa-masa sebelumnya. Orang-orang waras di negeri saya, yang rasa intelektualitasnya terganggu oleh aktifitas "penyembahan berhala" juga sama. Mereka dikucilkan dan dimusuhi banyak orang karena kewarasannya.
Ketika dengan kewarasannya mereka bertanya, pertanyaan dan argumen yang mereka ajukan tentu saja sama sekali tidak bisa dibantah oleh para "penyembah berhala". Karena memang tidak seorangpun yang bisa membantah yang namanya kejernihan.
Karena sadar-sesadar-sadarnya memang tidak mungkin menang berdebat melawan kejernihan. Para "penyembah berhala" pun melawan dengan cara memberikan mereka berbagai cap buruk dan dijadikan sasaran berbagai tudingan yang seringkali sama sekali tidak berdasar.
Orang-orang yang menawarkan kejernihan ini mereka tuduh sebagai Syi'ah lah, Kapitalis lah, Pendukung Liberalisme lah, Antek Yahudi sampai musuh Allah. Mereka tidak peduli kalau yang mereka sebut sebagai 'musuh Allah' itu adalah orang-orang yang selalu bersujud dan menyembah Tuhan dengan nama yang sama.
Memang harus diakui pula, beberapa orang waras di negeri saya itu akan dan telah jatuh ke dalam jerat para 'penyembah berhala' dan menjadi gila. Mereka jadi gila karena tidak mampu menghindar dari godaan dan silaunya kekayaan serta kekuasaan yang ada di depan mata yang bisa mereka dapatkan dengan mudahnya. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dulu di tahun 1998 dulu bersama saya berpanas ria di jalan berteriak dan kucar-kacir dikejar tentara, hanya untuk satu tujuan. Bagaimana kita bisa menurunkan Tiran.
Tidak seperti para "penyembah berhala" kualitas rendahan yang biasa berdiri di garis depan untuk umpan peluru yang harus menunggu mati dulu supaya bisa merasakan nikmatnya tidur dengan bidadari berdada montok di sebuah tempat dengan fasilitas bintang lima. Para orang gila yang pernah waras ini dapat menikmati segala fasilitas tersebut saat ini juga. Begitu mudahnya orang gila yang pernah waras ini mendapatkan harta, sehingga meminjam istilah seorang adik kelas saya semasa kuliah di Teknik yang di masa heboh demonstrasi dulu. Adik kelas yang ketika Habibie yang baru diangkat menjadi Presiden datang ke Banda Aceh pernah babak belur dipukuli tentara.
"Bahkan untuk sekedar membuang sperma saja pun mereka (para "penyembah berhala" kualitas tinggi) harus naik pesawat bolak-balik ke Jakarta".
Dalam perjalanan waktu akan semakin banyak orang waras yang akan jatuh menjadi Gila.
Tapi mengingat banyaknya jumlah orang waras yang ada di Aceh saat ini. Saya sangat yakin akan terus ada orang waras yang berjuang untuk membebaskan negerinya dari pengaruh para "penyembah berhala". Mungkin kali ini orang-orang waras itu akan kalah, bisa jadi juga sampai akhir hayatnya mereka tidak akan pernah menang. Tapi yang jelas selama di dunia ini masih ada orang waras, para "penyembah berhala" tidak akan pernah tenang, karena akan terus ada perlawanan. Meski terus ditekan dan dipojokkan, saya yakin orang-orang waras di negeri saya akan terus berjuang supaya rakyat di negeri saya bisa mendapatkan rasa merdeka yang hakiki sebagai manusia.
Karena salah satu unsur dari kemerdekaan hakiki itu adalah merdeka dari cengkeraman para "penyembah BERHALA".
Wassalam
Win Wan Nur
Referensi :
http://plato.stanford.edu/entries/xenophanes/
http://id.wikipedia.org/wiki/Berhalaa
http://yudhim.blogspot.com/2008/07/kisah-nabi-ibrahim-as.html
http://nurdi.multiply.com/journal/item/341/Kelahiran_Musa_Dan_Pengasuhnya
http://www.serambinews.com/news/tanah-panti-asuhan-budi-luhur-bukan-milik-yayasan
http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=725:aceh-akan-mengesahkan-hukum-rajam&catid=82:inkit&Itemid=199
http://www.halalmui.org/content/view/415/74/lang,id/
http://muslimmoderat.wordpress.com/2009/01/27/fatwa-mui-golput-haram-rokok-makruh-haram/
Rabu, 14 Oktober 2009
Tanggapan Atas Komentar Bung Kamarul
Walaikum Salam Bang Kamarul, saya memanggil anda abang karena anda lebih tua dan panggilan ini saya ucapkan pula adalah sebagai tanda penghormatan saya terhadap sebagai seorang manusia. Meskipun saya sangat tidak suka terhadap bangsa anda.
Terima kasih sebelumnya karena anda telah bersedia meluangkan waktu untuk menanggapi tulisan saya. Sebenarnya tadinya saya akan mempost ini di kolom tanggapan juga, tapi karena terlalu panjang, saya pikir lebih baik saya buat entri baru saja.
Bang Kamarul, saya sangat mengerti kalau karakter rakyat di negara anda dan di Indonesia yang apa boleh buat sejauh ini mau tidak mau terpaksa harus saya terima sebagai negara saya sangatlah berbeda. Minat rakyat di negara anda terhadap isu-isu seperti ini tidaklah sebesar minat rakyat di sini. Saya pernah beberapa waktu tinggal di negara anda dan cukup mengenal minat warga negara anda terhadap isu-isu seperti ini.
Saya tahu ini disebabkan oleh latar belakang sejarah baik kolonial maupun pasca kolonial di negara anda sangatlah berbeda dengan di sini.
Perlu juga saudara ketahui, dalam banyak hal saya sangat salut kepada negara anda. Sayapun juga mengakui dalam mengelola segala potensi baik alam maupun manusia untuk mensejahterakan rakyat, negara anda jauh lebih berhasil dibandingkan negara yang saya diami ini.
Yang tidak saya suka dari negara anda pada pokoknya hanya satu hal saja yaitu AROGANSI yang ditunjukkan oleh warga bahkan aparat negara anda terhadap rakyat yang berasal dari negara yang saya diami ini, sikap arogan yang sama juga ditunjukkan oleh warga anda yang berkunjung ke sini.
Oke seperti yang anda jelaskan panjang lebar tentang posisi negara anda yang sebenarnya. Tapi perlu anda ketahui, hal-hal seperti yang anda katakan itu hanya bisa dicerna oleh orang-orang seperti saya dan teman-teman saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Tapi bagi orang kebanyakan di negeri ini yang entah keperluan apa harus berkunjung ke negara anda mendapati dirinya diremehkan oleh aparat negara anda, seperti yang saya alami sendiri ketika harus transit di negara anda sepulang dari Bangkok menuju ke Medan. Aparat imigrasi negara anda di bandar udara Penang memandangi saya dari ujung kepala samapi ujung kaki seperti tukang jagal menaksir berat daging sapi yang mau disembelih "awak pasti tak kerje di Indonesie kan, kalau kerje di Indonesie mane boleh naik nie!", katanya.
Apa yang saya alami itu adalah gambaran sikap meremehkan yang ditunjukkan oleh aparat negara anda yang mereka tunjukkan kepada rata-rata pemgang pasport warna hijau berlambang garuda. Hal yang sama juga dialami oleh mantan pacar saya yang sering bolak-balik ke negara anda untuk menjalani proses bayi tabung.
Dalam sebuah komentar atas tulisan saya di media, seorang dokter spesialis asal Indonesia yang pergi berhaji, menceritakan pengalamannya dalam hubungan dengan bangsa anda. Menurutnya bahkan di tanah suci pun anak bangsa anda tetap meremehkan orang Indonesia.
"Saya pernah juga berbincang dengan jamaah haji dari malaysia....masya Allah dia (seorang bapak berusia 50 thn ke atas) di tanah harampun masih menghina saya.... orang itu tidak tahu kalau yang dihina itu seorang dokter spesialis (mungkin karena waktu itu usia saya masih 32 th)... Jadi memang mental buruk mereka itu sudah membudaya...." begitu bunyi komentar itu.
Jadi sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa sikap pandang remeh bangsa anda itu terhadap warga negara yang saya diami ini nyata adanya. Meskipun anda menyanggahnya inilah realita yang dirasakan oleh warga negeri ini terhadap bangsa anda.
Seperti yang saya katakan dalam tulisan yang kita komentari ini, yang membuat banyak warga negara ini marah terhadap negara anda adalah sikap menduanya negara anda. Di satu sisi negara anda meremehkan negara yang saya diami ini tapi di sisi lain negara anda memanfaatkan kedekatan budaya dengan negara ini untuk mengambil keuntungan komersil dari produk-produk budaya dari negara yang anda remehkan ini. Inilah yang dirasakan oleh warga negara yang saya diami ini Bang Kamarul.
Jadi meskipun anda tidak merasa bangsa anda menghina negara yang saya diami ini, tapi yang dirasakan oleh warga di negara ini sebaliknya, seorang yang mengomentari tulisan saya ini juga ada yang menyampaikan informasi kalau "menurut lembaga survey independent di Surabaya terhadap seluruh lapisan Masyarakat di Indonesia 90juta jiwa orang Indonesia Sakit Hati terhadap penghinaan-penghinaan yang dilakukan Malaysia selama ini", terus terang soal benar tidaknya hasil survey ini, saya tidak mengetahuinya dengan jelas. Cuma yang seperti itu memang tertulis di komentar atas tulisan saya tersebut.
Soal TKI, saya sangat tahu bagaimana keadaan mereka di negara anda dan saya pikir keberadaan mereka di negara anda dengan sikap dan perilaku yang sama sekali jauh dari sophisticated inilah yang sebenarnya menjadi sumber dari sikap pandang remeh bangsa anda terhadap kami.
Secara pribadi sebenarnya saya jauh lebih suka jika negara anda beralih mengambil tenaga kerja dari Bangladesh, Filipina, Mymmar atau Vietnam. Secara pribadi pula sebenarnya saya dan juga banyak orang di negari ini sangat mendukung kalau keberadaan mereka di negara anda sedikit demi sedikit terus dikurangi sambil kami terus memaksa pemerintah di negara ini untuk mengembangkan berbagai kebijakan yang memudahkan orang membuat sebuah usaha yang bisa menampung banyak pekerja.
Cuma masalahnya memang pemerintah negara tempat saya tinggal ini memang kurang kreatif dalam menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengatasi permasalahan ketenaga kerjaan ini. Karena itulah sebenarnya selain bangsa anda yang kami maki karena keangkuhannya, pemerintah negara yang kami diami inipun terus kami tekan untuk mau lebih merubah diri.
Soal bermacam bentuk buruknya Indonesia. Bang Kamarul tahu saya orang Aceh, jadi saya pikir Bang Kamarul cukup tahu kalau ada jauh lebih banyak alasan yang membuat saya sakit hati terhadap Indonesia daripada sekedar apa yang ditulis di kompasiana itu.
Jadi perlu Bang Kamarul tahu, tujuan saya menulis ini sebenarnya hanya satu...yaitu bagaimana supaya bangsa anda tahu kalau meskipun anda tidak merasakan, rasa tidak suka banyak orang di negara ini terhadap negara anda adalah nyata adanya. Penyebabnya adalah sikap arogan dan anggap remeh yang ditunjukkan bangsa anda secara terang-terangan.
Soal tarian, nyanyi, masalah ambalat, sipadan dan ligitan itu tidak lain hanyalah pemicu yang menarik pelatuk untuk ledakan kemarahan yang telah lama dipendam.
Saya menulis ini tidak lain hanya supaya anda dan saudara sebangsa anda di Malaysia tahu kalau kita sama-sama manusia yang sama-sama merasa sakit kalau dihina.
Pada akhirnya saya berharap semoga Bang Kamarul dan keluarga sehat selalu
Wassalam
Win Wan Nur
Terima kasih sebelumnya karena anda telah bersedia meluangkan waktu untuk menanggapi tulisan saya. Sebenarnya tadinya saya akan mempost ini di kolom tanggapan juga, tapi karena terlalu panjang, saya pikir lebih baik saya buat entri baru saja.
Bang Kamarul, saya sangat mengerti kalau karakter rakyat di negara anda dan di Indonesia yang apa boleh buat sejauh ini mau tidak mau terpaksa harus saya terima sebagai negara saya sangatlah berbeda. Minat rakyat di negara anda terhadap isu-isu seperti ini tidaklah sebesar minat rakyat di sini. Saya pernah beberapa waktu tinggal di negara anda dan cukup mengenal minat warga negara anda terhadap isu-isu seperti ini.
Saya tahu ini disebabkan oleh latar belakang sejarah baik kolonial maupun pasca kolonial di negara anda sangatlah berbeda dengan di sini.
Perlu juga saudara ketahui, dalam banyak hal saya sangat salut kepada negara anda. Sayapun juga mengakui dalam mengelola segala potensi baik alam maupun manusia untuk mensejahterakan rakyat, negara anda jauh lebih berhasil dibandingkan negara yang saya diami ini.
Yang tidak saya suka dari negara anda pada pokoknya hanya satu hal saja yaitu AROGANSI yang ditunjukkan oleh warga bahkan aparat negara anda terhadap rakyat yang berasal dari negara yang saya diami ini, sikap arogan yang sama juga ditunjukkan oleh warga anda yang berkunjung ke sini.
Oke seperti yang anda jelaskan panjang lebar tentang posisi negara anda yang sebenarnya. Tapi perlu anda ketahui, hal-hal seperti yang anda katakan itu hanya bisa dicerna oleh orang-orang seperti saya dan teman-teman saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Tapi bagi orang kebanyakan di negeri ini yang entah keperluan apa harus berkunjung ke negara anda mendapati dirinya diremehkan oleh aparat negara anda, seperti yang saya alami sendiri ketika harus transit di negara anda sepulang dari Bangkok menuju ke Medan. Aparat imigrasi negara anda di bandar udara Penang memandangi saya dari ujung kepala samapi ujung kaki seperti tukang jagal menaksir berat daging sapi yang mau disembelih "awak pasti tak kerje di Indonesie kan, kalau kerje di Indonesie mane boleh naik nie!", katanya.
Apa yang saya alami itu adalah gambaran sikap meremehkan yang ditunjukkan oleh aparat negara anda yang mereka tunjukkan kepada rata-rata pemgang pasport warna hijau berlambang garuda. Hal yang sama juga dialami oleh mantan pacar saya yang sering bolak-balik ke negara anda untuk menjalani proses bayi tabung.
Dalam sebuah komentar atas tulisan saya di media, seorang dokter spesialis asal Indonesia yang pergi berhaji, menceritakan pengalamannya dalam hubungan dengan bangsa anda. Menurutnya bahkan di tanah suci pun anak bangsa anda tetap meremehkan orang Indonesia.
"Saya pernah juga berbincang dengan jamaah haji dari malaysia....masya Allah dia (seorang bapak berusia 50 thn ke atas) di tanah harampun masih menghina saya.... orang itu tidak tahu kalau yang dihina itu seorang dokter spesialis (mungkin karena waktu itu usia saya masih 32 th)... Jadi memang mental buruk mereka itu sudah membudaya...." begitu bunyi komentar itu.
Jadi sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa sikap pandang remeh bangsa anda itu terhadap warga negara yang saya diami ini nyata adanya. Meskipun anda menyanggahnya inilah realita yang dirasakan oleh warga negeri ini terhadap bangsa anda.
Seperti yang saya katakan dalam tulisan yang kita komentari ini, yang membuat banyak warga negara ini marah terhadap negara anda adalah sikap menduanya negara anda. Di satu sisi negara anda meremehkan negara yang saya diami ini tapi di sisi lain negara anda memanfaatkan kedekatan budaya dengan negara ini untuk mengambil keuntungan komersil dari produk-produk budaya dari negara yang anda remehkan ini. Inilah yang dirasakan oleh warga negara yang saya diami ini Bang Kamarul.
Jadi meskipun anda tidak merasa bangsa anda menghina negara yang saya diami ini, tapi yang dirasakan oleh warga di negara ini sebaliknya, seorang yang mengomentari tulisan saya ini juga ada yang menyampaikan informasi kalau "menurut lembaga survey independent di Surabaya terhadap seluruh lapisan Masyarakat di Indonesia 90juta jiwa orang Indonesia Sakit Hati terhadap penghinaan-penghinaan yang dilakukan Malaysia selama ini", terus terang soal benar tidaknya hasil survey ini, saya tidak mengetahuinya dengan jelas. Cuma yang seperti itu memang tertulis di komentar atas tulisan saya tersebut.
Soal TKI, saya sangat tahu bagaimana keadaan mereka di negara anda dan saya pikir keberadaan mereka di negara anda dengan sikap dan perilaku yang sama sekali jauh dari sophisticated inilah yang sebenarnya menjadi sumber dari sikap pandang remeh bangsa anda terhadap kami.
Secara pribadi sebenarnya saya jauh lebih suka jika negara anda beralih mengambil tenaga kerja dari Bangladesh, Filipina, Mymmar atau Vietnam. Secara pribadi pula sebenarnya saya dan juga banyak orang di negari ini sangat mendukung kalau keberadaan mereka di negara anda sedikit demi sedikit terus dikurangi sambil kami terus memaksa pemerintah di negara ini untuk mengembangkan berbagai kebijakan yang memudahkan orang membuat sebuah usaha yang bisa menampung banyak pekerja.
Cuma masalahnya memang pemerintah negara tempat saya tinggal ini memang kurang kreatif dalam menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengatasi permasalahan ketenaga kerjaan ini. Karena itulah sebenarnya selain bangsa anda yang kami maki karena keangkuhannya, pemerintah negara yang kami diami inipun terus kami tekan untuk mau lebih merubah diri.
Soal bermacam bentuk buruknya Indonesia. Bang Kamarul tahu saya orang Aceh, jadi saya pikir Bang Kamarul cukup tahu kalau ada jauh lebih banyak alasan yang membuat saya sakit hati terhadap Indonesia daripada sekedar apa yang ditulis di kompasiana itu.
Jadi perlu Bang Kamarul tahu, tujuan saya menulis ini sebenarnya hanya satu...yaitu bagaimana supaya bangsa anda tahu kalau meskipun anda tidak merasakan, rasa tidak suka banyak orang di negara ini terhadap negara anda adalah nyata adanya. Penyebabnya adalah sikap arogan dan anggap remeh yang ditunjukkan bangsa anda secara terang-terangan.
Soal tarian, nyanyi, masalah ambalat, sipadan dan ligitan itu tidak lain hanyalah pemicu yang menarik pelatuk untuk ledakan kemarahan yang telah lama dipendam.
Saya menulis ini tidak lain hanya supaya anda dan saudara sebangsa anda di Malaysia tahu kalau kita sama-sama manusia yang sama-sama merasa sakit kalau dihina.
Pada akhirnya saya berharap semoga Bang Kamarul dan keluarga sehat selalu
Wassalam
Win Wan Nur
Selasa, 13 Oktober 2009
Kemenangan Qory Sandioriva Dan Kontes Adu Keindahan Daging Dalam Pandangan Orang Gayo
Tiga hari tidak membuka internet tiba-tiba halaman facebook saya dipenuhi kontroversi soal terpilihnya wakil Aceh, Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009.
Bagi saya pribadi, ajang pemilihan Puteri Indonesia, Miss Universe dan sejenisnya tidak lain hanyalah kontes adu keindahan daging (fisik) yang dibungkus dengan kemasan yang membuatnya seolah-olah juga merupakan kontes kemampuan intelektual. Bagi saya ini tidak lebih dari sekedar urusan selangkangan yang dibungkus dengan segala gemerlap dunia pertunjukan. Ajang semacam ini sama sekali tidak pernah menarik perhatian saya.
Pandangan pribadi saya terhadap kontes adu keindahan daging yang dilabel dengan nama pemilihan Puteri Indonesia ini sama sekali tidak berubah, meskipun kali ini yang dinobatkan menjadi pemilik daging terindah mengaku sebagai wakil Aceh, daerah asal saya. Bahkan lebih khusus lagi, konon lagi katanya si pemilik daging indah yang bernama Qory ini adalah orang Gayo, sama seperti saya.
Selama ini saya tidak pernah kenal nama Qory dan juga nama kedua orang tuanya, saya baru tahu ada seorang manusia bernama Qory Sandioriva ketika berita kemenangannya membuat heboh dimana-mana. Meskipun jika kemudian orangtuanya bertemu dengan saya dan menanyakan silsilahnya pasti langsung ketemu entah siapanya punya hubungan entah apa dengan salah satu kerabat saya. Itu terjadi karena orang Gayo jumlahnya memang sedikit sekali di planet ini, hanya sekitar 300 ribu orang saja. Jadi antara satu orang Gayo dengan orang Gayo lainnya biasanya selalu ada hubungan kekerabatan.
Intinya penobatan Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009 kemarin sama sekali tidak membawa pengaruh apapun bagi saya baik pribadi saya sebagai seorang individu maupun pribadi saya sebagai bagian dari orang Aceh dan lebih khusus lagi Gayo. Kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging kemarin sama sekali tidak membuat saya sebagai orang Gayo merasa bangga atau terhina, biasa saja!
Yang menjadi masalah adalah, hanya sedikit sekali orang Aceh dan orang Gayo yang memiliki sikap seperti saya yang menganggap remeh masalah selangkangan.
Bagi kebanyakan orang Aceh dan juga orang Gayo, masalah selangkangan ada di urutan tertinggi dalam daftar moralitas yang harus diatur dengan ketat dan sungguh-sungguh. Sampai saat ini tidak sedikit orang Aceh yang percaya kalau Tsunami yang meluluh lantakkan Aceh yang terjadi tahun 2004, bisa terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga selangkangan.
Bahkan hanya beberapa hari yang lalu seorang perempuan asal Gayo, putri seorang pejabat tinggi di pemda Aceh Tengah yang mengenyam gelar sarjana teknik sipil dan selalu berjilbab menulis di statusnya di 'facebook'. "Mungkin Allah sengaja membakar gunung-gunung di sekitar danau Laut Tawar karena Allah marah bukit-bukit itu dijadikan tempat berkhalwat".
Sebagaimana para penyembah berhala di segala zaman yang selalu menggambarkan Tuhan seperti sosok dirinya. Orang Gayo yang menulis status di facebook inipun menggambarkan Tuhan yang dia sebut dengan nama yang sama seperti nama Tuhan dalam setiap ibadah yang saya lakukan ini pun persis seperti sosok dirinya yang merasa begitu pentingnya urusan selangkangan. Tuhan dia gambarkan sebagai sosok yang cepat sekali marah dan emosi melihat ada orang yang tidak mampu menjaga selangkangan, tapi punya segudang alasan dan pemakluman untuk berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan oleh penguasa. Bahkan bisa memaklumi pejabat yang menjual dan ulama yang menyetujui penjualan Mesjid dan Panti Asuhan. Sosok Tuhan di statusnya ini tampak persis seperti fotocopy diri perempuan ini sendiri.
Apa yang saya ceritakan di atas adalah gambaran tentang begitu pentingnya urusan selangkangan ini di dalam masyarakat Aceh dan Gayo. Sehingga ketika Qanun Syari'at Islam dibuat dan diterapkan di negeri ini pun, masalah yang paling banyak diatur dalam Qanun (undang-undang) ini adalah urusan selangkangan.
Menilik pada kenyataan itulah maka sayapun sama sekali tidak merasa heran ketika kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging yang baru lalu manarik atensi dan menimbulkan pro kontra di semua kalangan.
Di kalangan ulama dan para pendukung Syari'at Islam dan para moralis jelas, Qory yang tidak berjilbab yang memenangi kontes adu keindahan daging se Indonesia dalam kapasitasnya sebagai wakil negeri mereka ini adalah sebuah tamparan. Sebaliknya bagi yang menentang penerapan syari'at ini menjadi bahan baru untuk melakukan perlawanan.
Tidak ketinggalan para oportunis yang ingin mendirikan provinsi baru di Aceh yang sempat beberapa lama mati suri karena isu usang yang mereka usung tidak lagi mendapat tanggapan memadai dengan dengan sigap memanfaatkan momen terpilihnya Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging ini untuk membangkitkan sentimen keGayo-an yang berbeda dengan Aceh.
Pejabat pemerintah dengan segala keterbatasan wawasan, keterbatasan kecerdasan dipadu dengan keluguan dan kenaifannya mencoba menyangkal 'Keacehan' Qory melalui status kependudukannya yang tidak ber KTP Aceh. Ini sangat lucu karena jika standar yang coba dibuat oleh si pejabat ini tentang 'keacehan' seseorang yang dinilai dari status kependudukan di KTP ini benar-benar diterima sebagai standar resmi untuk menilai kadar keacehan seseorang. Maka saya yang lahir dan besar di Aceh dari ibu dan bapak asli Gayo akan menjadi bukan orang Aceh. Tgk. Hasan Tiro, Mentro Malik dan Surya Paloh yang tidak memiliki KTP Aceh juga tiba-tiba menjadi BUKAN ORANG ACEH. Sebaliknya justru si Pinem, Hutabarat, Surono, Paiman dan A Hong yang ber KTP Aceh adalah orang Aceh yang asli.
Soal karena tidak ber-KTP Aceh tapi malah mewakili Aceh di sebuah ajang. Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD juga ada seorang atlit lempar lembing bernama depan Tati kalau tidak salah yang berKTP Jawa Barat tapi dalam PON selalu memilih mewakili Aceh dan menyumbangkan emas untuk provinsi ini, saat itu tidak ada polemik seperti ini. Tidak ada satupun orang Aceh yang meragukan dan mempermasalahkan keacehannya meskipun dalam kapasitasnya sebagi atlet lempar lembing dia tidak berjilbab dan malah berpakaian minim.
Jadi sebenarnya urusan KTP seperti yang disinyalir oleh pejabat lugu yang kurang cerdas ini bukanlah masalahnya.
Pasca kemenangan Qory Sandioriva,seorang teman saya yang bekerja sebagai wartawan mengamati fenomena obrolan yang terjadi di warung-warung kopi yang merupakan pusat peradaban di Aceh.
"Para penonton di warung tersebut dengan tekun mengikuti wawancara di layar kaca tersebut. “Qory bukan orang Aceh” kata seorang tamu di warkop tersebut dalam bahasa Aceh. Tapi kemudian seorang tamu lainnya nyeletuk, “bagaimana dengan kondisi Aceh sekarang dan penampilan artis-artis asal Aceh lainnya, apa sudah sesuai Syar’at Islam,” belasan tamu di warkop tersebut terdiam.", begitu tulis teman saya ini dalam laporannya.
Soal polemik Qori ini, saya juga membaca berbagai blog milik sebuah media terbitan Medan lengkap dengan berbagi komentar pembacanya.
Blog itu memuat sebuah kalimat yang menggambarkan tentang Qory seperti di bawah ini.
Sebagai seorang wanita keturunan Aceh Gayo, Qory mengaku mengidolakan Tjut Nya’ Dhien, tokoh pahlawan wanita Aceh yang mampu bersikap Islami dalam keseharian walaupun tidak menggunakan jilbab. “Dialah panutan saya selama ini. Selain dengan sikapnya yang heroik, Tjut Nya’ Dhien merupakan tokoh pahlawan wanita Islami, walaupun dalam kesehariannya, dia tidak menggunakan jilbab,” ujar Qory.
Ucapan Qory ini langsung memantik reaksi kemarahan banyak orang. Ada yang menyebut "tentang gambar cut nyak dien yg tak berjelbab tu adalah gambar ilustrasi penjajah". Yang lain malah langsung menegasikan 'kegayoa-an' Qory "Dia bkan awak Gayo' tpi dia jema sunda. Jelas. . Jdi gw juga gk sependapt dgn ucpan pling atas." begitu menurut komentator kedua. Yang lain mengatakan "siapa bilang pahlawan aceh cut nyak dhien tidak pakai jilbab..!!jangan liat yang di film2 donk..membenarkan kesalahan kamu dengan memfitnah orang..."
Entah dari ikhwan PKS mana si komentator ini dapat data itu, dan entah sejak kapan dia pernah tinggal di Aceh sehingga bisa membuat statement semacam itu. Karena saya yang sejak lahir tinggal di Aceh yang sempat tinggal dengan Datu Anan (ibu dari kakek saya) yang lahir di tahun 1800-an (pada zaman Cut Nyak Dhien masih hidup) sama sekali tidak pernah melihat Datu saya tersebut dan perempuan-perempuan Gayo seangkatannya mengenakan jilbab. Malah ibu-ibu dan gadis-gadis Gayo yang menggeraikan rambut di depoan pintu menggosip sambil mencari kutu adalah pemandangan umum yang saya saksikan setiap hari di seantero kampung saya. Kemudian pakaian adat yang dikenakan perempuan Aceh dan Gayo-pun sama sekali tidak dilengkjapi Jilbab (bayangkan bagaimana sulitnya memasang 'kepies' di atas Jilbab).
Cara pandang Islam yang ketat dan kaku sebenarnya baru dikenal di Gayo pada masa-masa pengujung kekuasaan Belanda melalui para Teungku yang kembali dari belajar agama di tanah Minang, dan paham seperti itu sama sekali tidak familiar bagi perempuan Aceh generasi Cut Nyak Dhien dan generasi Datu Anan saya.
Tapi meskipun tidak berjilbab, bukan berarti orang Aceh dan Gayo juga menolerir pemakaian bikini. Budaya Aceh dan juga Gayo punya batasan sendiri soal kepantasan dan kepatutan berpakaian perempuan, yaitu tidak berpakaian ketat apalagi sampai menampakkan dada dan paha. Batasan ini bertahan sampai generasi saya. Saat saya masih kuliah, meskipun tidak berjilbab, teman-teman saya tidak satupun yang pernah saya lihat mengenakan rok pendek. Jangankan rok mini, bahkan sekedar yang mengenakan rok yang menutupi lutut seperti rok anak SMA pun tidak ada. Jika saya perhatikan sikap teman-teman saya it, saya lihat mereka tidak merasa nyaman dan merasa menjadi objek seksual jika mengenakan pakaian ketat apalagi rok mini yang menampakkan paha. Semasa kuliah, yang sering saya lihat berpakaian ketat nan menantang cuma cewek-cewek anak ekonomi yang tampaknya berusaha keras agar berpenampilan seperti anak Jakarta. Tapi seberani-beraninya anak ekonomi tidak ada yang sampai berani memaki rok mini.
Laki-laki Aceh sendiri meski tentu saja tergiur dan suka melihat cewek seksi memakai rok mini, tapi pada dasarnya laki-laki Aceh juga tidak merasa nyaman melihat perempuan Aceh mengenakan rok mini. Di masa saya kuliah dulu, bisa saya pastikan tidak seorangpun teman saya yang merasa nyaman menggandeng pacar seksi yang menggunakan rok mini di depan teman-temannya apalagi orangtua.
Beberapa waktu yang lalu saat saya berada dalam ferry dari Jawa menuju Bali saya melihat sebuah foto yang dimuat di koran Jawa Pos.
Foto ini adalah foto sensasional karya seorang fotografer jempolan sekaligus degil, dalam foto ini terlihat seorang model cantik yang difoto telanjang di atas kereta api di tengah padatnya penumpang. Dalam foto itu terlihat betapalaki-laki dari berbagai kalangan dan usia melotot dan membelalak tergiur meyaksikan pemandangan segar di depan mata. Foto itu diambil ketika si model yang mengenakan jas panjang tiba-tiba melepas jasnya dan tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Proses ini berlangsung hanya 35 detik saja tapi cukup menggambarkan bagaimana reaksi para pria yang berada dalam kereta api untuk berangkat kerja ketika disuguhi pemandangan indah tubuh wanita.
Ketika diwawancarai soal ini dan si pewawancara menanyakan, apakah si fotografer tidak berniat membuat foto yang sama dengan model pria ditengah para penumpang wanita. "Tidak" jawab si fotografer. "pria berbeda dengan wanita, kalau pria tersenyum dan tertawa melihat perempuan telanjang, sebaliknya wanita akan menjerit karena merasa diintimidasi jika melihat laki-laki menunjukkan kemaluannya, bisa -bisa saya malah dituntut dan masuk penjara", begitu komentar si fotografer.
Beberapa kaum feminis kesiangan pernah mengaitkan masalah pamer fisik ini ketidak adilan jender. "Puteri Indonesia berpakaian minim dipermasalahkan, kenapa Ade Rai pamer otot tidak pernah dipermasalahkan?" kata si feminis kesiangan ini. Padahal seperti yang dikatakan si fotografer di atas, bukan soal ketidak adilan, tapi dalam urusan rangsangan seksual saat melihat tubuh lawan jenis, laki-laki memang berbeda dengan perempuan.
Dikaitkan dengan polemik kemenangan Qory di ajang kontes adu keindahan daging kemarin, yang saya lihat dari fenomena pro dan kontranya kemenangan Qory ini bukanlah karena Qory terpilih sebagai puteri Indonesia dan tidak mengenakan jilbab pada saat penobatannya. Tapi lebih kepada keikut sertaan Qory nantinya di ajang Miss Universe yang mengharuskan pesertanya mengenakan bikini. Ketidaknyamanan orang Aceh dan sebagian orang Gayo atas kemenangannya dalam kontes adu keindahan daging ini adalah ketidak nyamanan ketika orang Aceh membayangkan ada seorang perempuan yang mengaku sebagai wakil ACEH mengenakan bikini memamerkan paha dan dadanya dan menjadi objek seksual di depan jutaan pasang mata.
Lebih jelasnya, menurut saya masalah Qory Sandioriva menjadi polemik bukanlah soal status keacehannya atau apa. Tapi karena Qory yang mengaku mewakili Aceh menang dalam sebuah lomba yang identik dengan urusan SELANGKANGAN. Urusan yang merupakan urutan tertinggi dalam daftar moralitas masyarakat Aceh dan Gayo.
Aceh sanggup mempertahankan keharmonisannya dengan Gayo ketika hubungan Aceh-Gayo diterpa isu ketidakadilan pembangunan, isu pilih kasih soal jabatan, isu pembajakan budaya (mirip seperti hubungan Indonesia-Malaysia). Tapi jujur saja, saya ragu keharmonisan hubungan Aceh-Gayo ini bisa bertahan ketika berurusan dengan isu SELANGKANGAN.
Untuk Qory sendiri dan juga keluarganya saya berharap mereka tidak cukup bodoh untuk tidak mempertimbangkan resiko yang telah mereka tempuh dengan memberanikan diri mengikuti kontes adu keindahan daging mewakili Aceh. Dengan keberanian Qory mengikuti ajang ini dengan mewakili Aceh dan direstui pula oleh keluarganya, saya berasumsi bahwa Qory dan keluarganya sudah mempertimbangkan semua hal termasuk mempetimbangkan kenyataan tentang betapa sebagian sangat besar masyarakat yang telah dengan berani dia wakili itu masih sangat konservatif terhadap nilai-nilai tradisional. Yang bisa sangat marah dan emosi dan mungkin akan melempari rumah dan mengintimidasi keluarga Qory.
Dalam kasus ini kita tidak bisa menyebut apa yang dilakukan Qory adalah hak pribadi untuk menjalankan agamanya, mengekspresikan dirinya sesuai dengan nilai dan pemahaman agama yang dia akui.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Gayo
Bagi saya pribadi, ajang pemilihan Puteri Indonesia, Miss Universe dan sejenisnya tidak lain hanyalah kontes adu keindahan daging (fisik) yang dibungkus dengan kemasan yang membuatnya seolah-olah juga merupakan kontes kemampuan intelektual. Bagi saya ini tidak lebih dari sekedar urusan selangkangan yang dibungkus dengan segala gemerlap dunia pertunjukan. Ajang semacam ini sama sekali tidak pernah menarik perhatian saya.
Pandangan pribadi saya terhadap kontes adu keindahan daging yang dilabel dengan nama pemilihan Puteri Indonesia ini sama sekali tidak berubah, meskipun kali ini yang dinobatkan menjadi pemilik daging terindah mengaku sebagai wakil Aceh, daerah asal saya. Bahkan lebih khusus lagi, konon lagi katanya si pemilik daging indah yang bernama Qory ini adalah orang Gayo, sama seperti saya.
Selama ini saya tidak pernah kenal nama Qory dan juga nama kedua orang tuanya, saya baru tahu ada seorang manusia bernama Qory Sandioriva ketika berita kemenangannya membuat heboh dimana-mana. Meskipun jika kemudian orangtuanya bertemu dengan saya dan menanyakan silsilahnya pasti langsung ketemu entah siapanya punya hubungan entah apa dengan salah satu kerabat saya. Itu terjadi karena orang Gayo jumlahnya memang sedikit sekali di planet ini, hanya sekitar 300 ribu orang saja. Jadi antara satu orang Gayo dengan orang Gayo lainnya biasanya selalu ada hubungan kekerabatan.
Intinya penobatan Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009 kemarin sama sekali tidak membawa pengaruh apapun bagi saya baik pribadi saya sebagai seorang individu maupun pribadi saya sebagai bagian dari orang Aceh dan lebih khusus lagi Gayo. Kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging kemarin sama sekali tidak membuat saya sebagai orang Gayo merasa bangga atau terhina, biasa saja!
Yang menjadi masalah adalah, hanya sedikit sekali orang Aceh dan orang Gayo yang memiliki sikap seperti saya yang menganggap remeh masalah selangkangan.
Bagi kebanyakan orang Aceh dan juga orang Gayo, masalah selangkangan ada di urutan tertinggi dalam daftar moralitas yang harus diatur dengan ketat dan sungguh-sungguh. Sampai saat ini tidak sedikit orang Aceh yang percaya kalau Tsunami yang meluluh lantakkan Aceh yang terjadi tahun 2004, bisa terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga selangkangan.
Bahkan hanya beberapa hari yang lalu seorang perempuan asal Gayo, putri seorang pejabat tinggi di pemda Aceh Tengah yang mengenyam gelar sarjana teknik sipil dan selalu berjilbab menulis di statusnya di 'facebook'. "Mungkin Allah sengaja membakar gunung-gunung di sekitar danau Laut Tawar karena Allah marah bukit-bukit itu dijadikan tempat berkhalwat".
Sebagaimana para penyembah berhala di segala zaman yang selalu menggambarkan Tuhan seperti sosok dirinya. Orang Gayo yang menulis status di facebook inipun menggambarkan Tuhan yang dia sebut dengan nama yang sama seperti nama Tuhan dalam setiap ibadah yang saya lakukan ini pun persis seperti sosok dirinya yang merasa begitu pentingnya urusan selangkangan. Tuhan dia gambarkan sebagai sosok yang cepat sekali marah dan emosi melihat ada orang yang tidak mampu menjaga selangkangan, tapi punya segudang alasan dan pemakluman untuk berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan oleh penguasa. Bahkan bisa memaklumi pejabat yang menjual dan ulama yang menyetujui penjualan Mesjid dan Panti Asuhan. Sosok Tuhan di statusnya ini tampak persis seperti fotocopy diri perempuan ini sendiri.
Apa yang saya ceritakan di atas adalah gambaran tentang begitu pentingnya urusan selangkangan ini di dalam masyarakat Aceh dan Gayo. Sehingga ketika Qanun Syari'at Islam dibuat dan diterapkan di negeri ini pun, masalah yang paling banyak diatur dalam Qanun (undang-undang) ini adalah urusan selangkangan.
Menilik pada kenyataan itulah maka sayapun sama sekali tidak merasa heran ketika kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging yang baru lalu manarik atensi dan menimbulkan pro kontra di semua kalangan.
Di kalangan ulama dan para pendukung Syari'at Islam dan para moralis jelas, Qory yang tidak berjilbab yang memenangi kontes adu keindahan daging se Indonesia dalam kapasitasnya sebagai wakil negeri mereka ini adalah sebuah tamparan. Sebaliknya bagi yang menentang penerapan syari'at ini menjadi bahan baru untuk melakukan perlawanan.
Tidak ketinggalan para oportunis yang ingin mendirikan provinsi baru di Aceh yang sempat beberapa lama mati suri karena isu usang yang mereka usung tidak lagi mendapat tanggapan memadai dengan dengan sigap memanfaatkan momen terpilihnya Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging ini untuk membangkitkan sentimen keGayo-an yang berbeda dengan Aceh.
Pejabat pemerintah dengan segala keterbatasan wawasan, keterbatasan kecerdasan dipadu dengan keluguan dan kenaifannya mencoba menyangkal 'Keacehan' Qory melalui status kependudukannya yang tidak ber KTP Aceh. Ini sangat lucu karena jika standar yang coba dibuat oleh si pejabat ini tentang 'keacehan' seseorang yang dinilai dari status kependudukan di KTP ini benar-benar diterima sebagai standar resmi untuk menilai kadar keacehan seseorang. Maka saya yang lahir dan besar di Aceh dari ibu dan bapak asli Gayo akan menjadi bukan orang Aceh. Tgk. Hasan Tiro, Mentro Malik dan Surya Paloh yang tidak memiliki KTP Aceh juga tiba-tiba menjadi BUKAN ORANG ACEH. Sebaliknya justru si Pinem, Hutabarat, Surono, Paiman dan A Hong yang ber KTP Aceh adalah orang Aceh yang asli.
Soal karena tidak ber-KTP Aceh tapi malah mewakili Aceh di sebuah ajang. Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD juga ada seorang atlit lempar lembing bernama depan Tati kalau tidak salah yang berKTP Jawa Barat tapi dalam PON selalu memilih mewakili Aceh dan menyumbangkan emas untuk provinsi ini, saat itu tidak ada polemik seperti ini. Tidak ada satupun orang Aceh yang meragukan dan mempermasalahkan keacehannya meskipun dalam kapasitasnya sebagi atlet lempar lembing dia tidak berjilbab dan malah berpakaian minim.
Jadi sebenarnya urusan KTP seperti yang disinyalir oleh pejabat lugu yang kurang cerdas ini bukanlah masalahnya.
Pasca kemenangan Qory Sandioriva,seorang teman saya yang bekerja sebagai wartawan mengamati fenomena obrolan yang terjadi di warung-warung kopi yang merupakan pusat peradaban di Aceh.
"Para penonton di warung tersebut dengan tekun mengikuti wawancara di layar kaca tersebut. “Qory bukan orang Aceh” kata seorang tamu di warkop tersebut dalam bahasa Aceh. Tapi kemudian seorang tamu lainnya nyeletuk, “bagaimana dengan kondisi Aceh sekarang dan penampilan artis-artis asal Aceh lainnya, apa sudah sesuai Syar’at Islam,” belasan tamu di warkop tersebut terdiam.", begitu tulis teman saya ini dalam laporannya.
Soal polemik Qori ini, saya juga membaca berbagai blog milik sebuah media terbitan Medan lengkap dengan berbagi komentar pembacanya.
Blog itu memuat sebuah kalimat yang menggambarkan tentang Qory seperti di bawah ini.
Sebagai seorang wanita keturunan Aceh Gayo, Qory mengaku mengidolakan Tjut Nya’ Dhien, tokoh pahlawan wanita Aceh yang mampu bersikap Islami dalam keseharian walaupun tidak menggunakan jilbab. “Dialah panutan saya selama ini. Selain dengan sikapnya yang heroik, Tjut Nya’ Dhien merupakan tokoh pahlawan wanita Islami, walaupun dalam kesehariannya, dia tidak menggunakan jilbab,” ujar Qory.
Ucapan Qory ini langsung memantik reaksi kemarahan banyak orang. Ada yang menyebut "tentang gambar cut nyak dien yg tak berjelbab tu adalah gambar ilustrasi penjajah". Yang lain malah langsung menegasikan 'kegayoa-an' Qory "Dia bkan awak Gayo' tpi dia jema sunda. Jelas. . Jdi gw juga gk sependapt dgn ucpan pling atas." begitu menurut komentator kedua. Yang lain mengatakan "siapa bilang pahlawan aceh cut nyak dhien tidak pakai jilbab..!!jangan liat yang di film2 donk..membenarkan kesalahan kamu dengan memfitnah orang..."
Entah dari ikhwan PKS mana si komentator ini dapat data itu, dan entah sejak kapan dia pernah tinggal di Aceh sehingga bisa membuat statement semacam itu. Karena saya yang sejak lahir tinggal di Aceh yang sempat tinggal dengan Datu Anan (ibu dari kakek saya) yang lahir di tahun 1800-an (pada zaman Cut Nyak Dhien masih hidup) sama sekali tidak pernah melihat Datu saya tersebut dan perempuan-perempuan Gayo seangkatannya mengenakan jilbab. Malah ibu-ibu dan gadis-gadis Gayo yang menggeraikan rambut di depoan pintu menggosip sambil mencari kutu adalah pemandangan umum yang saya saksikan setiap hari di seantero kampung saya. Kemudian pakaian adat yang dikenakan perempuan Aceh dan Gayo-pun sama sekali tidak dilengkjapi Jilbab (bayangkan bagaimana sulitnya memasang 'kepies' di atas Jilbab).
Cara pandang Islam yang ketat dan kaku sebenarnya baru dikenal di Gayo pada masa-masa pengujung kekuasaan Belanda melalui para Teungku yang kembali dari belajar agama di tanah Minang, dan paham seperti itu sama sekali tidak familiar bagi perempuan Aceh generasi Cut Nyak Dhien dan generasi Datu Anan saya.
Tapi meskipun tidak berjilbab, bukan berarti orang Aceh dan Gayo juga menolerir pemakaian bikini. Budaya Aceh dan juga Gayo punya batasan sendiri soal kepantasan dan kepatutan berpakaian perempuan, yaitu tidak berpakaian ketat apalagi sampai menampakkan dada dan paha. Batasan ini bertahan sampai generasi saya. Saat saya masih kuliah, meskipun tidak berjilbab, teman-teman saya tidak satupun yang pernah saya lihat mengenakan rok pendek. Jangankan rok mini, bahkan sekedar yang mengenakan rok yang menutupi lutut seperti rok anak SMA pun tidak ada. Jika saya perhatikan sikap teman-teman saya it, saya lihat mereka tidak merasa nyaman dan merasa menjadi objek seksual jika mengenakan pakaian ketat apalagi rok mini yang menampakkan paha. Semasa kuliah, yang sering saya lihat berpakaian ketat nan menantang cuma cewek-cewek anak ekonomi yang tampaknya berusaha keras agar berpenampilan seperti anak Jakarta. Tapi seberani-beraninya anak ekonomi tidak ada yang sampai berani memaki rok mini.
Laki-laki Aceh sendiri meski tentu saja tergiur dan suka melihat cewek seksi memakai rok mini, tapi pada dasarnya laki-laki Aceh juga tidak merasa nyaman melihat perempuan Aceh mengenakan rok mini. Di masa saya kuliah dulu, bisa saya pastikan tidak seorangpun teman saya yang merasa nyaman menggandeng pacar seksi yang menggunakan rok mini di depan teman-temannya apalagi orangtua.
Beberapa waktu yang lalu saat saya berada dalam ferry dari Jawa menuju Bali saya melihat sebuah foto yang dimuat di koran Jawa Pos.
Foto ini adalah foto sensasional karya seorang fotografer jempolan sekaligus degil, dalam foto ini terlihat seorang model cantik yang difoto telanjang di atas kereta api di tengah padatnya penumpang. Dalam foto itu terlihat betapalaki-laki dari berbagai kalangan dan usia melotot dan membelalak tergiur meyaksikan pemandangan segar di depan mata. Foto itu diambil ketika si model yang mengenakan jas panjang tiba-tiba melepas jasnya dan tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Proses ini berlangsung hanya 35 detik saja tapi cukup menggambarkan bagaimana reaksi para pria yang berada dalam kereta api untuk berangkat kerja ketika disuguhi pemandangan indah tubuh wanita.
Ketika diwawancarai soal ini dan si pewawancara menanyakan, apakah si fotografer tidak berniat membuat foto yang sama dengan model pria ditengah para penumpang wanita. "Tidak" jawab si fotografer. "pria berbeda dengan wanita, kalau pria tersenyum dan tertawa melihat perempuan telanjang, sebaliknya wanita akan menjerit karena merasa diintimidasi jika melihat laki-laki menunjukkan kemaluannya, bisa -bisa saya malah dituntut dan masuk penjara", begitu komentar si fotografer.
Beberapa kaum feminis kesiangan pernah mengaitkan masalah pamer fisik ini ketidak adilan jender. "Puteri Indonesia berpakaian minim dipermasalahkan, kenapa Ade Rai pamer otot tidak pernah dipermasalahkan?" kata si feminis kesiangan ini. Padahal seperti yang dikatakan si fotografer di atas, bukan soal ketidak adilan, tapi dalam urusan rangsangan seksual saat melihat tubuh lawan jenis, laki-laki memang berbeda dengan perempuan.
Dikaitkan dengan polemik kemenangan Qory di ajang kontes adu keindahan daging kemarin, yang saya lihat dari fenomena pro dan kontranya kemenangan Qory ini bukanlah karena Qory terpilih sebagai puteri Indonesia dan tidak mengenakan jilbab pada saat penobatannya. Tapi lebih kepada keikut sertaan Qory nantinya di ajang Miss Universe yang mengharuskan pesertanya mengenakan bikini. Ketidaknyamanan orang Aceh dan sebagian orang Gayo atas kemenangannya dalam kontes adu keindahan daging ini adalah ketidak nyamanan ketika orang Aceh membayangkan ada seorang perempuan yang mengaku sebagai wakil ACEH mengenakan bikini memamerkan paha dan dadanya dan menjadi objek seksual di depan jutaan pasang mata.
Lebih jelasnya, menurut saya masalah Qory Sandioriva menjadi polemik bukanlah soal status keacehannya atau apa. Tapi karena Qory yang mengaku mewakili Aceh menang dalam sebuah lomba yang identik dengan urusan SELANGKANGAN. Urusan yang merupakan urutan tertinggi dalam daftar moralitas masyarakat Aceh dan Gayo.
Aceh sanggup mempertahankan keharmonisannya dengan Gayo ketika hubungan Aceh-Gayo diterpa isu ketidakadilan pembangunan, isu pilih kasih soal jabatan, isu pembajakan budaya (mirip seperti hubungan Indonesia-Malaysia). Tapi jujur saja, saya ragu keharmonisan hubungan Aceh-Gayo ini bisa bertahan ketika berurusan dengan isu SELANGKANGAN.
Untuk Qory sendiri dan juga keluarganya saya berharap mereka tidak cukup bodoh untuk tidak mempertimbangkan resiko yang telah mereka tempuh dengan memberanikan diri mengikuti kontes adu keindahan daging mewakili Aceh. Dengan keberanian Qory mengikuti ajang ini dengan mewakili Aceh dan direstui pula oleh keluarganya, saya berasumsi bahwa Qory dan keluarganya sudah mempertimbangkan semua hal termasuk mempetimbangkan kenyataan tentang betapa sebagian sangat besar masyarakat yang telah dengan berani dia wakili itu masih sangat konservatif terhadap nilai-nilai tradisional. Yang bisa sangat marah dan emosi dan mungkin akan melempari rumah dan mengintimidasi keluarga Qory.
Dalam kasus ini kita tidak bisa menyebut apa yang dilakukan Qory adalah hak pribadi untuk menjalankan agamanya, mengekspresikan dirinya sesuai dengan nilai dan pemahaman agama yang dia akui.
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Gayo
Kamis, 08 Oktober 2009
Hari Yang Sempurna
Beberapa waktu belakangan ini, hari-hari tampak selalu murung bagiku.
Berita di televisi dan koran bahkan status di facebook didominasi oleh kabar duka tentang bencana gempa di Sumatera Barat dan Jambi, sesekali diselingi berita persiapan Munas Golkar yang sama sekali tidak ada pentingnya bagiku dan perseteruan antara 'Cicak' versus 'Buaya'.
Suasana menjadi semakin murung ketika aku mendapati kenyataan bahwa tanggal 7 oktober (kemarin) aku harus berangkat ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Padahal pada hari yang sama, Ubud Writers and Readers resmi dibuka. Cantiknya lagi, acaraku di Surabaya berakhir pada tanggal 11 oktober, tepat bersamaan dengan hari ditutupnya penyelenggaraan Ubud Writers and Readers.
Pada tahun-tahun sebelumnya, bagi aku dan keluargaku. Acara Ubud Writers and Readers bisa dikatakan adalah event wajib untuk dikunjungi. Tahun ini sebenarnya aku sudah berjanji untuk bertemu dengan beberapa teman lama di sana. Salah satunya adalah teman lama bernama Safruddin (Dino) Umahuk, si birahi laut yang pertama kukenal 14 tahun yang lalu saat dia berkunjung ke Aceh untuk mengikuti sebuah kegiatan yang terkait dengan konservasi.
Dada ini terasa lebih sesak lagi ketika aku mendapati kenyataan bahwa Ubud Writers and Readers tahun ini akan dihadiri oleh dua orang penulis favoritku, Seno Gumira Ajidarma dan Nh. Dini.
Tapi minggu tanggal 4 oktober kemarin adalah hari yang berbeda.
Hari itu adalah hari yang sempurna. Setelah hari sabtu akhirnya aku bisa menemani anakku mengikuti kursus musik di Yamaha Musik Indonesia, hari minggunya dilanjutkan dengan konser di tempat yang sama yang merupakan konser pertama anakku sejak mengikuti kursus di tempat ini.
Bahagia sekali rasanya menyaksikan Mattane Lao anakku dengan penuh percaya diri menyanyi di atas panggung dengan disaksikan orang ramai yang kemudian melanjutkan aksinya dengan memainkan lagu 'Roti Panas' di atas tuts-tuts electone yang dia pelajari dua bulan belakangan ini.
Pulang dari konser, seperti biasa setiap kali aku kembali dari luar kota. Mattane Lao menuntutku untuk membelikannya buku dan kamipun mampir ke Gramedia.
Kebiasaan dan kegemaran anakku ini terhadap buku sebenarnya menjadi dilema buatku dan istriku.
Di satu sisi kami senang anak kami lebih menyukai buku dibandingkan berbagai jenis mainan. Tapi di sisi lain setiap kali masuk ke berbagai toko buku, kami selalu kesulitan menemukan buku yang bagus untuk anak-anak. DI Gramedia misalnya, buku-buku anak-anak di dominasi oleh buku-buku tentang Barbie dan 'princess-princessan' yang tidak memberi nilai tambahan apapun untuk anak kecuali menjadi terobsesi untuk berpenampilan seperti tokoh-tokoh puteri imajiner itu. Untuk anak laki-laki lebih parah lagi, buku-buku yang dipajang di rak-rak di berbagai toko buku didominsi oleh buku tentang Naruto, tokoh kartun asal Jepang yang banyak mengajarkan kekerasan. Buku-buku produk lokal rata-rata mengajarkan berbagai 'kebaikan' pada anak dengan cara mendikte dan menggurui. Sama sekali tidak menarik. Memang ada beberapa buku yang cukup bagus, tapi semuanya telah kami beli.
AKibatnya, belakangan ini setiap ke Gramedia anakku selalu membeli komik "Beni & Mice" yang menjadi salah satu komik favoritnya sejak dia mendapat hadiah komik "Beni & Mice" yang berjudul "Lost in Bali" dari seorang temanku. Masalahnya, komik ini sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak. Beberapa dialog dalam komik ini terkadang sangat 'dewasa' sehingga aku dan istriku yang membacakan komik ini untuk anak kami seringkali terpaksa memodifikasi dialog-dialog 'dewasa' dalam komik ini supaya layak untuk dikonsumsi anak-anak. Sementara untuk buku anak-anak, kami lebih banyak mengandalkan kiriman buku dari teman-temanku yang tinggal di luar negeri baik itu di Perancis, Swiss, Australia atau Amerika.
Selain kesulitan menemukan buku anak-anak yang bagus, satu lagi kesulitan terbesar kami sebagai orang tua adalah bagaimana menemukan cara yang tepat untuk mengajarkan agama yang kami anut kepada anak kami.
Di negeri yang sistem pendidikannnya menganut sistem hapalan yang menguji kepekaan sosial dan etika menggunakan metoda pemilihan berganda, agamapun diajarkan dengan cara yang sama. Sejauh yang pernah kami lihat di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan resmi yang pernah kami kunjungi, kami melihat anak-anak diajarkan berbagai etika dan praktek keagamaan serta ide tentang Tuhan secara kaku dan mengutamakan penampilan luar serta menonjolkan keunggulan keyakinan sendiri sembari merendahkan keyakinan orang lain tanpa sama sekali menyentuh esensi dari beragama itu sendiri yaitu spiritualitas.
Indahnya hari minggu ini. Saat kami berada di bagian buku anak-anak di Gramedia, mata anakku langsung tertuju kepada sebuah buku bergambar yang sangat khas anak-anak. Buku itu berjudul "Pipi si Ulat Sutra Belajar Allah Ar-Rabb", buku ini adalah salah satu buku serial Asmaul Husna terbitan Qibla. Di rak yang sama ada banyak buku dari seri yang sama dengan judul yang berbeda-beda. Gambar di buku ini memang menarik tapi melihat judulnya aku agak merasa kurang sreg, karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aku mendapati bahwa informasi di buku-buku semacam ini lebih banyak bersifat menggurui yang mengajarkan doktrin ketuhanan yang kaku yang cara penceritaannya dibuat dengan cara mencontek cara penceritaan buku-buku sejenis dalam versi keimanan Kristen. Dalam buku-buku semacam itu aku sering mendapati penulisnya mengajarkan anak-anak untuk membenci sesuatu yang sebenarnya alami, misalnya singa dan harimau serta binatang buas lain yang digambarkan sebagai makhluk jahat karena suka mengganggu makhluk lain. Padahal kenyataannya alam memang me,mbutuhkan hewan buas untuk menjaga keseimbangan dalam ekosistem serta menjadi salah satu mekanisme dalam seleksi alam.
Aku berusaha mengalihkan perhatian anakku terhadap buku lain dengan cara membacakan buku-buku yang bercerita tentang alam dan lingkungan sekitar. Anakku sangat senang mendengarkannya tapi tidak berhasil kubujuk untuk membeli buku yang kubacakan itu, sebaliknya dia tetap ngotot ingin membeli buku terbitan Qibla di atas. Masalahnya buku seharga Rp.25.000- tersebut tertutup rapat dalam bungkus plastik, sehingga aku tidak bisa membaca dan menilai kualitas isinya.
Akhirnya akupun terpaksa menyerah. Melihat aku menyerah, anakku dengan gembira langsung berlari dan antri di kasir untuk membayar bukunya. Ketika sudah dibayar, anakku langsung berlari sambil membawa buku yang baru di belinya ke arah istriku yang menunggu kami di KFC yang letaknya bersebelahan dengan Gramedia untuk minta dibacakan isinya. Istriku yang sedang hamil muda memang tidak ikut memilih buku bersama kami karena tidak kuat berdiri lama-lama.
Ketika bungkus plastik buku tersebut dibuka dan istriku membacakan isinya, kami mendapati sebuah kejutan menyenangkan. Ternyata isi buku terbitan Qibla ini sama sekali berbeda dengan yang kami duga. Materi buku ini tidak sama dengan buku-buku tentang agama yang diperuntukkan untuk anak-anak seperti yang pernah kami kenal sebelumnya. Informasi dalam buku ini sama sekali tidak menggurui, sebaliknya isi buku ini mengajarkan anak-anak tentang proses alamiah yang terjadi di alam dan mengaitkannya dengan nama-nama Tuhan dalam Asmaul Husna tanpa sedikitpun merendahkan kepercayaan lain.
Puas dengan buku itu aku mengajak anakku untuk kembali ke Gramedia untuk membeli buku seri tersebut dengan judul yang berbeda anakku tentu saja sangat gembira dan kamipun membeli dua judul buku lagi. "Simon si Ikan Salmon belajar Allah As-Salam" dan "Okto si Gurita belajar Allah Al-Quddus".
Aku sangat puas dengan buku ini karena ceritanya benar-benar tidak menghakimi secara hitam putih.
Dalam cerita "Okto si Gurita belajar Allah Al-Quddus" misalnya, diceritakan Okto sangat kesal pada temannya si ikan pari yang suka mengganggunya. Karena tidak tahan terus diganggu Okto lalu menghukum temannya ini dengan cara membuat ikan pari tersebut terjebak dalam gua dan membuatnya tidak bisa keluar. Si Okto sangat senang telah berhasil menghukum temannya, tapi tanpa dia sadari kalau akibat dari perlakuannya terhadap Ikan Pari tersebut, si Ikan pari tidak bisa lagi menjalankan tugasnya di alam (dalam buku ini dikatakan tugas yang diberikan Allah) yaitu sebagai pembersih lautan. Akibatnya lautan menjadi kotor ganggang dan hewan parasit tumbuh dan berkembang biak dengan bebasnya sehingga keseimbangan ekosistem laut jadi terganggu dan kenyamanan penghuni lautpun hilang. Melihat kenyataan ini si Okto pun menyadari kekeliruannya dan membebaskan Ikan pari dari dalam gua dan merekapun berangkulan saling meminta maaf.
Memang sebagaimana halnya buku-buku berbasis agama, buku inipun tidak sempurna. Dalam beberapa hal informasi dalam buku ini mirip dengan informasi dalam buku-buku karangan Harun Yahya yang jika kita tidak pintar-pintar mensiasatinya, informasi dalam buku ini bisa menjebak anak menjadi penganut kreasionisme buta. Mungkin karena buku ini memang dibuat untuk konsumsi anak-anak, maka penceritaan dalam buku ini pun terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Seperti misalnya yang tergambar dalam cerita "Simon si Ikan Salmon belajar Allah As-Salam". Dalam buku ini digambarkan bagaimana Tuhan yang maha melindungi, melindungi semua makluknya yang lemah (dalam hal ini bayi-bayi ikan salmon) sehingga bisa sampai ke laut dengan selamat. Di dalam buku ini sama sekali tidak diceritakan bahwa dari sekian juta bayi salmon yang menetas hanya beberapa ratus ribu saja yang bisa selamat sampai ke laut dan kemudian dari jumlah itupun hanya beberapa yang selamat sampai dewasa yang kemudian bisa kembali ke sungai tempatnya menetas untuk bertelur. Kalau fakta asli seperti ini diceritakan apa adanya, tentu anak-anak akan merasa sedih dan terpukul melihat banyaknya bayi ikan Salmon yang mati sepanjang perjalanan akibat tindak kekerasan.
Tapi dibalik segala kekurangannya, paling tidak aku cukup puas dengan buku ini yang memberi anak informasi tentang Tuhan dengan cara yang berbeda dari yang biasa aku temukan. Tuhan dalam buku ini tidak digambarkan sebagai sosok yang pemarah yang kaku dan gampang sekali menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang yang tidak disenanginya. Soal kekurangan dalam cara penceritaannya yang bisa menjebak anak menjadi seorang penganut kreasionisme buta, aku pikir di sinilah fungsi sebagai orang tua untuk mengarahkan anak dalam memahaminya.
Membaca buku ini, aku cukup takjub mendapati kenyataan bahwa di negara yang sistem pendidikannya berbasis hapalan ini ada orang yang bisa menghasilkan buku anak-anak sebagus ini. Tapi setelah kubaca nama pengarangnya, baru aku tahu kalau ternyata buku ini adalah buku terjemahan dari karya seorang pengarang asal Turki yang bernama Nur Kutlu.
Di saat sedang asik membacakan buku-buku itu kepada anakku, HP-ku berdering tanda SMS masuk. SMS tersebut dikirimkan oleh seorang teman yang bekerja di pusat kebudayaan Perancis yang berisi undangan untuk menghadiri diskusi Sastra malam itu juga bersama Nh.Dini dan Xavier Bazot, seorang penulis asal Perancis.
Pucuk dicinta ulam tiba, malam itu juga kami berangkat ke tempat acara itu diselenggarakan setelah sebelumnya membeli buku "Pada Sebuah Kapal", salah satu buku Nh. Dini yang paling terkenal untuk minta dia tanda tangani di acara itu nanti.
Acara yang kami hadiri itu benar-benar sangat menarik tepat seperti yang aku bayangkan. Nh.Dini adalah sosok yang sangat inspiratif yang menulis benar-benar berdasarkan pada kenyataan yang ada, beliau adalah satu dari sedikit orang di negara ini yang memiliki kemampuan 'merasa' yang luar biasa. Salah satu ucapan inspiratif yang diucapkan Nh. Dini dalam diskusi malam itu adalah ucapan yang kupajang di statusku ini.
Xavier Bazot sendiri benar-benar seorang penulis yang tidak biasa. Dia ini adalah seorang penulis yang mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas dalam setiap karya yang ditulisnya. Karya yang dia publikasikan benar-benar karya yang menurutnya sudah sempurna. Dia bahkan rela tidak menghasilkan apa-apa selama 20 tahun ketika dia merasa apa yang dia tuliskan itu tidak sempurna. Sehingga tidak heran ketika dia membacakan salah satu karyanya, karyanya itu benar-benar berjiwa penuh dengan emosi dan tampak demikian nyata sehingga aku yang mendengarkan penuturannya merasa seperti sedang ditarik kedalam kisah yang sedang dibacakannya.
Meskipun aku tidak bisa menghadiri Ubud Writers and Readers, tapi keinginanku untuk bertemu sosok Nh.Dini benar-benar terpenuhi dan masih ditambah bonus bertemu Xavier Bazot.
Begitulah yang kualami sepanjang hari minggu kemarin, benar-benar hari yang sempurna.
Wassalam
Win Wan Nur
Berita di televisi dan koran bahkan status di facebook didominasi oleh kabar duka tentang bencana gempa di Sumatera Barat dan Jambi, sesekali diselingi berita persiapan Munas Golkar yang sama sekali tidak ada pentingnya bagiku dan perseteruan antara 'Cicak' versus 'Buaya'.
Suasana menjadi semakin murung ketika aku mendapati kenyataan bahwa tanggal 7 oktober (kemarin) aku harus berangkat ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Padahal pada hari yang sama, Ubud Writers and Readers resmi dibuka. Cantiknya lagi, acaraku di Surabaya berakhir pada tanggal 11 oktober, tepat bersamaan dengan hari ditutupnya penyelenggaraan Ubud Writers and Readers.
Pada tahun-tahun sebelumnya, bagi aku dan keluargaku. Acara Ubud Writers and Readers bisa dikatakan adalah event wajib untuk dikunjungi. Tahun ini sebenarnya aku sudah berjanji untuk bertemu dengan beberapa teman lama di sana. Salah satunya adalah teman lama bernama Safruddin (Dino) Umahuk, si birahi laut yang pertama kukenal 14 tahun yang lalu saat dia berkunjung ke Aceh untuk mengikuti sebuah kegiatan yang terkait dengan konservasi.
Dada ini terasa lebih sesak lagi ketika aku mendapati kenyataan bahwa Ubud Writers and Readers tahun ini akan dihadiri oleh dua orang penulis favoritku, Seno Gumira Ajidarma dan Nh. Dini.
Tapi minggu tanggal 4 oktober kemarin adalah hari yang berbeda.
Hari itu adalah hari yang sempurna. Setelah hari sabtu akhirnya aku bisa menemani anakku mengikuti kursus musik di Yamaha Musik Indonesia, hari minggunya dilanjutkan dengan konser di tempat yang sama yang merupakan konser pertama anakku sejak mengikuti kursus di tempat ini.
Bahagia sekali rasanya menyaksikan Mattane Lao anakku dengan penuh percaya diri menyanyi di atas panggung dengan disaksikan orang ramai yang kemudian melanjutkan aksinya dengan memainkan lagu 'Roti Panas' di atas tuts-tuts electone yang dia pelajari dua bulan belakangan ini.
Pulang dari konser, seperti biasa setiap kali aku kembali dari luar kota. Mattane Lao menuntutku untuk membelikannya buku dan kamipun mampir ke Gramedia.
Kebiasaan dan kegemaran anakku ini terhadap buku sebenarnya menjadi dilema buatku dan istriku.
Di satu sisi kami senang anak kami lebih menyukai buku dibandingkan berbagai jenis mainan. Tapi di sisi lain setiap kali masuk ke berbagai toko buku, kami selalu kesulitan menemukan buku yang bagus untuk anak-anak. DI Gramedia misalnya, buku-buku anak-anak di dominasi oleh buku-buku tentang Barbie dan 'princess-princessan' yang tidak memberi nilai tambahan apapun untuk anak kecuali menjadi terobsesi untuk berpenampilan seperti tokoh-tokoh puteri imajiner itu. Untuk anak laki-laki lebih parah lagi, buku-buku yang dipajang di rak-rak di berbagai toko buku didominsi oleh buku tentang Naruto, tokoh kartun asal Jepang yang banyak mengajarkan kekerasan. Buku-buku produk lokal rata-rata mengajarkan berbagai 'kebaikan' pada anak dengan cara mendikte dan menggurui. Sama sekali tidak menarik. Memang ada beberapa buku yang cukup bagus, tapi semuanya telah kami beli.
AKibatnya, belakangan ini setiap ke Gramedia anakku selalu membeli komik "Beni & Mice" yang menjadi salah satu komik favoritnya sejak dia mendapat hadiah komik "Beni & Mice" yang berjudul "Lost in Bali" dari seorang temanku. Masalahnya, komik ini sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak. Beberapa dialog dalam komik ini terkadang sangat 'dewasa' sehingga aku dan istriku yang membacakan komik ini untuk anak kami seringkali terpaksa memodifikasi dialog-dialog 'dewasa' dalam komik ini supaya layak untuk dikonsumsi anak-anak. Sementara untuk buku anak-anak, kami lebih banyak mengandalkan kiriman buku dari teman-temanku yang tinggal di luar negeri baik itu di Perancis, Swiss, Australia atau Amerika.
Selain kesulitan menemukan buku anak-anak yang bagus, satu lagi kesulitan terbesar kami sebagai orang tua adalah bagaimana menemukan cara yang tepat untuk mengajarkan agama yang kami anut kepada anak kami.
Di negeri yang sistem pendidikannnya menganut sistem hapalan yang menguji kepekaan sosial dan etika menggunakan metoda pemilihan berganda, agamapun diajarkan dengan cara yang sama. Sejauh yang pernah kami lihat di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan resmi yang pernah kami kunjungi, kami melihat anak-anak diajarkan berbagai etika dan praktek keagamaan serta ide tentang Tuhan secara kaku dan mengutamakan penampilan luar serta menonjolkan keunggulan keyakinan sendiri sembari merendahkan keyakinan orang lain tanpa sama sekali menyentuh esensi dari beragama itu sendiri yaitu spiritualitas.
Indahnya hari minggu ini. Saat kami berada di bagian buku anak-anak di Gramedia, mata anakku langsung tertuju kepada sebuah buku bergambar yang sangat khas anak-anak. Buku itu berjudul "Pipi si Ulat Sutra Belajar Allah Ar-Rabb", buku ini adalah salah satu buku serial Asmaul Husna terbitan Qibla. Di rak yang sama ada banyak buku dari seri yang sama dengan judul yang berbeda-beda. Gambar di buku ini memang menarik tapi melihat judulnya aku agak merasa kurang sreg, karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aku mendapati bahwa informasi di buku-buku semacam ini lebih banyak bersifat menggurui yang mengajarkan doktrin ketuhanan yang kaku yang cara penceritaannya dibuat dengan cara mencontek cara penceritaan buku-buku sejenis dalam versi keimanan Kristen. Dalam buku-buku semacam itu aku sering mendapati penulisnya mengajarkan anak-anak untuk membenci sesuatu yang sebenarnya alami, misalnya singa dan harimau serta binatang buas lain yang digambarkan sebagai makhluk jahat karena suka mengganggu makhluk lain. Padahal kenyataannya alam memang me,mbutuhkan hewan buas untuk menjaga keseimbangan dalam ekosistem serta menjadi salah satu mekanisme dalam seleksi alam.
Aku berusaha mengalihkan perhatian anakku terhadap buku lain dengan cara membacakan buku-buku yang bercerita tentang alam dan lingkungan sekitar. Anakku sangat senang mendengarkannya tapi tidak berhasil kubujuk untuk membeli buku yang kubacakan itu, sebaliknya dia tetap ngotot ingin membeli buku terbitan Qibla di atas. Masalahnya buku seharga Rp.25.000- tersebut tertutup rapat dalam bungkus plastik, sehingga aku tidak bisa membaca dan menilai kualitas isinya.
Akhirnya akupun terpaksa menyerah. Melihat aku menyerah, anakku dengan gembira langsung berlari dan antri di kasir untuk membayar bukunya. Ketika sudah dibayar, anakku langsung berlari sambil membawa buku yang baru di belinya ke arah istriku yang menunggu kami di KFC yang letaknya bersebelahan dengan Gramedia untuk minta dibacakan isinya. Istriku yang sedang hamil muda memang tidak ikut memilih buku bersama kami karena tidak kuat berdiri lama-lama.
Ketika bungkus plastik buku tersebut dibuka dan istriku membacakan isinya, kami mendapati sebuah kejutan menyenangkan. Ternyata isi buku terbitan Qibla ini sama sekali berbeda dengan yang kami duga. Materi buku ini tidak sama dengan buku-buku tentang agama yang diperuntukkan untuk anak-anak seperti yang pernah kami kenal sebelumnya. Informasi dalam buku ini sama sekali tidak menggurui, sebaliknya isi buku ini mengajarkan anak-anak tentang proses alamiah yang terjadi di alam dan mengaitkannya dengan nama-nama Tuhan dalam Asmaul Husna tanpa sedikitpun merendahkan kepercayaan lain.
Puas dengan buku itu aku mengajak anakku untuk kembali ke Gramedia untuk membeli buku seri tersebut dengan judul yang berbeda anakku tentu saja sangat gembira dan kamipun membeli dua judul buku lagi. "Simon si Ikan Salmon belajar Allah As-Salam" dan "Okto si Gurita belajar Allah Al-Quddus".
Aku sangat puas dengan buku ini karena ceritanya benar-benar tidak menghakimi secara hitam putih.
Dalam cerita "Okto si Gurita belajar Allah Al-Quddus" misalnya, diceritakan Okto sangat kesal pada temannya si ikan pari yang suka mengganggunya. Karena tidak tahan terus diganggu Okto lalu menghukum temannya ini dengan cara membuat ikan pari tersebut terjebak dalam gua dan membuatnya tidak bisa keluar. Si Okto sangat senang telah berhasil menghukum temannya, tapi tanpa dia sadari kalau akibat dari perlakuannya terhadap Ikan Pari tersebut, si Ikan pari tidak bisa lagi menjalankan tugasnya di alam (dalam buku ini dikatakan tugas yang diberikan Allah) yaitu sebagai pembersih lautan. Akibatnya lautan menjadi kotor ganggang dan hewan parasit tumbuh dan berkembang biak dengan bebasnya sehingga keseimbangan ekosistem laut jadi terganggu dan kenyamanan penghuni lautpun hilang. Melihat kenyataan ini si Okto pun menyadari kekeliruannya dan membebaskan Ikan pari dari dalam gua dan merekapun berangkulan saling meminta maaf.
Memang sebagaimana halnya buku-buku berbasis agama, buku inipun tidak sempurna. Dalam beberapa hal informasi dalam buku ini mirip dengan informasi dalam buku-buku karangan Harun Yahya yang jika kita tidak pintar-pintar mensiasatinya, informasi dalam buku ini bisa menjebak anak menjadi penganut kreasionisme buta. Mungkin karena buku ini memang dibuat untuk konsumsi anak-anak, maka penceritaan dalam buku ini pun terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Seperti misalnya yang tergambar dalam cerita "Simon si Ikan Salmon belajar Allah As-Salam". Dalam buku ini digambarkan bagaimana Tuhan yang maha melindungi, melindungi semua makluknya yang lemah (dalam hal ini bayi-bayi ikan salmon) sehingga bisa sampai ke laut dengan selamat. Di dalam buku ini sama sekali tidak diceritakan bahwa dari sekian juta bayi salmon yang menetas hanya beberapa ratus ribu saja yang bisa selamat sampai ke laut dan kemudian dari jumlah itupun hanya beberapa yang selamat sampai dewasa yang kemudian bisa kembali ke sungai tempatnya menetas untuk bertelur. Kalau fakta asli seperti ini diceritakan apa adanya, tentu anak-anak akan merasa sedih dan terpukul melihat banyaknya bayi ikan Salmon yang mati sepanjang perjalanan akibat tindak kekerasan.
Tapi dibalik segala kekurangannya, paling tidak aku cukup puas dengan buku ini yang memberi anak informasi tentang Tuhan dengan cara yang berbeda dari yang biasa aku temukan. Tuhan dalam buku ini tidak digambarkan sebagai sosok yang pemarah yang kaku dan gampang sekali menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang yang tidak disenanginya. Soal kekurangan dalam cara penceritaannya yang bisa menjebak anak menjadi seorang penganut kreasionisme buta, aku pikir di sinilah fungsi sebagai orang tua untuk mengarahkan anak dalam memahaminya.
Membaca buku ini, aku cukup takjub mendapati kenyataan bahwa di negara yang sistem pendidikannya berbasis hapalan ini ada orang yang bisa menghasilkan buku anak-anak sebagus ini. Tapi setelah kubaca nama pengarangnya, baru aku tahu kalau ternyata buku ini adalah buku terjemahan dari karya seorang pengarang asal Turki yang bernama Nur Kutlu.
Di saat sedang asik membacakan buku-buku itu kepada anakku, HP-ku berdering tanda SMS masuk. SMS tersebut dikirimkan oleh seorang teman yang bekerja di pusat kebudayaan Perancis yang berisi undangan untuk menghadiri diskusi Sastra malam itu juga bersama Nh.Dini dan Xavier Bazot, seorang penulis asal Perancis.
Pucuk dicinta ulam tiba, malam itu juga kami berangkat ke tempat acara itu diselenggarakan setelah sebelumnya membeli buku "Pada Sebuah Kapal", salah satu buku Nh. Dini yang paling terkenal untuk minta dia tanda tangani di acara itu nanti.
Acara yang kami hadiri itu benar-benar sangat menarik tepat seperti yang aku bayangkan. Nh.Dini adalah sosok yang sangat inspiratif yang menulis benar-benar berdasarkan pada kenyataan yang ada, beliau adalah satu dari sedikit orang di negara ini yang memiliki kemampuan 'merasa' yang luar biasa. Salah satu ucapan inspiratif yang diucapkan Nh. Dini dalam diskusi malam itu adalah ucapan yang kupajang di statusku ini.
Xavier Bazot sendiri benar-benar seorang penulis yang tidak biasa. Dia ini adalah seorang penulis yang mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas dalam setiap karya yang ditulisnya. Karya yang dia publikasikan benar-benar karya yang menurutnya sudah sempurna. Dia bahkan rela tidak menghasilkan apa-apa selama 20 tahun ketika dia merasa apa yang dia tuliskan itu tidak sempurna. Sehingga tidak heran ketika dia membacakan salah satu karyanya, karyanya itu benar-benar berjiwa penuh dengan emosi dan tampak demikian nyata sehingga aku yang mendengarkan penuturannya merasa seperti sedang ditarik kedalam kisah yang sedang dibacakannya.
Meskipun aku tidak bisa menghadiri Ubud Writers and Readers, tapi keinginanku untuk bertemu sosok Nh.Dini benar-benar terpenuhi dan masih ditambah bonus bertemu Xavier Bazot.
Begitulah yang kualami sepanjang hari minggu kemarin, benar-benar hari yang sempurna.
Wassalam
Win Wan Nur
Senin, 14 September 2009
Indonesia-Malaysia; Dialog Dengan Seorang Doktor Asal Malaysia
Tulisan ini berisi "pertukaran pendapat" antara saya dengan seorang warga Malaysia yang merasa tersinggung dengan tulisan saya http://winwannur.blog.com/2009/09/06/hubungan-indonesia-malaysia-tanggapan-kritis-untuk-franz-magnis-suseno/ yang saya post di sebuah milis Aceh.
Warga Malaysia yang menanggapi tulisan saya tersebut bernama Dr. Kamarulzaman Askandar, seorang pengajar di USM. Saya mengenalnya ketika kami berdua mengikuti sebuah konferensi di Banda Aceh hampir setahun yang lalu.
Dr.Kamarulzaman Askandar ini adalah pembimbing dari teman-teman saya yang saat ini mengelola Aceh Institute. Ketika teman-teman saya ini mengambil gelar pasca sarjana di Universitas tempat Dr.Kamarulzaman Askandar mengajar.
Warga Malaysia ini juga merupakan salah seorang pendiri Aceh Institute yang sekarang dikelola oleh teman-teman saya tersebut. Dalam balasan terhadap tulisan saya http://winwannur.blog.com/2009/09/14/hubungan-indonesia-malaysia-tanggapan-langsung-dari-malaysia/ Dr.Kamarulzaman Askandar dengan terus terang menyatakan kesal dan merasa tersinggung karena saya menuliskan opini yang menyudutkan Malaysia di Milis dari sebuah institusi yang dia bidani kelahirannya.
Karena itulah saya mem-post tulisan ini di berbagai milis, untuk dijadikan bahan diskusi.
Melalui tulisan ini pula saya ucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya pada para pengelola Aceh Institute atas kedewasaan Aceh Institute dalam berdemokrasi.
Saya sangat menghargai Institusi ini karena meskipun tulisan ini dikesalkan oleh salah seorang pendiri lembaga ini yang sangat dihormati oleh beberapa pengelola lembaga ini karena yang bersangkutan merupakan dosen pengasuh dari beberapa penggelola lembaga ini saat mengambil gelar pasca sarjana.
Bagi saya hal ini membuktikan bahwa Aceh Institute benar-benar didirikan dengan sebuah motivasi murni untuk mencerahkan Rakyat Aceh di Bumi Iskandar Muda yang saya cintai.
Inilah isi dialog saya dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, selamat membaca.
Walaikum Salam Saudara Kamarulzaman
Setelah hampir setahun tidak pernah berkomunikasi dengan anda, senang sekali rasanya melihat anda mau meluangkan waktu membaca bahkan dengan ikhlas mau menanggapi tulisan saya.
Dikarenakan kesibukan saya mencari nafkah untuk keluarga saya, saya mohon maaf kalau baru sekarang saya bisa membalas tulisan anda. Selama ini saya memang jarang sekali sempat membuka tiap milis yang saya ikuti satu persatu. Saya biasanya hanya menulis dan mem-postnya tulisan yang saya ketik di waktu luang ke berbagai milis tanpa sempat lagi membaca tanggapan yang masuk.
Saya juga senang sekali membaca 'nada' dalam tanggapan anda, karena dengan melihat nada dalam tulisan anda itu saya tahu bahwa apa yang saya maksud saat mem-post tulisan ini di milis AI tercapai adanya. Saya memang sengaja mem-post tulisan ini di AI karena saya tahu apa yang tertulis di milis ini juga akan dibaca di Malaysia negara anda.
Maaf kalau tangapan saya kali ini akan panjang sekali, itu karena akan banyak hal yang akan saya jelaskan dan saya pikir perlu anda dan bangsa anda ketahui.
Sebenarnya agak sulit bagi saya untuk memilih, memulai darimana untuk membalas tanggapan anda ini.
Tapi baiklah saya mulai saja dari soal budaya dan tari-tarian. Saya sangat maklum dengan ucapan anda yang menganggap soal tarian dan budaya adalah soal remeh adanya. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia. Di Malaysia negara anda, soal ini memang tidak memilliki arti apa-apa, tidak ada urusan dengan identitas dan keunikan lokal yang perlu dipertahankan dalam budaya. Jadi siapapun bisa mengklaim tarian ini dan budaya ini sebagai miliknya. Beda dengan di sini, bahkan orang Gayo pun tidak senang budayanya di klaim sebagai milik orang Aceh. Padahal kami sama-sama Aceh.
Soal itu tarian ditarikan oleh orang lain itu berbeda adanya, orang Gayo juga bangga tariannya ditarikan oleh orang Aceh atau orang Jawa selama yang menarikan itu mengakui bahwa tari yang mereka tarikan itu adalah tari Gayo. Seperti yang anda katakan "Malaysia akan salah kalau mengaku bahawa budaya yang pelbagai ini adalah ciptaan bumi Malaysia kerana mereka sebenarnya dibawa ke tanah ini oleh penduduk yang aslinya dari Jawa, Aceh, Cina, India atau dari mana saja". Tepat sekali inilah masalahnya.
Saudara Kamarulzaman, perlu anda tahu, orang di sini yang di negara anda dipanggil "indon" tidaklah sepicik yang anda sangka. "indon-indon" di sini bukanlah sekumpulan manusia xenophobic yang anti asing yang melarang dengan ketat budayanya di apresiasi oleh orang luar.
Soal pendet Bali misalnya, dari tulisan anda ini saya menangkap kesan seolah-olah anda beranggapan bahwa orang Bali itu demikian piciknya yang langsung emosi melihat tarian karya budaya mereka ditarikan orang asing. Padahal kenyataannya tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Orang Bali itu adalah salah satu suku yang paling toleran di dunia. Dua kali orang Islam dari Jawa mem-Bom tanah mereka karena alasan agama, tapi sampai hari ini tidak pernah terpikir oleh mereka untuk mengusir orang Islam dan orang Jawa dari tanah Bali.
Di Bali itu setiap tahunnya ada ribuan orang asing yang datang untuk mempelajari budaya mereka. Tari pendet yang bermasalah itu telah ditarikan oleh orang dari berbagai bangsa mulai dari Asia, Eropa, Amerika sampai Afrika. Bahkan di Jepang dan di Australia kadang itu tarian ditarikan untuk menarik minat wisatawan. Persis seperti yang anda katakan alih-alih marah, orang Bali justru bangga budayanya diapresiasi oleh orang asing. Orang Bali marah ketika tariannya ditarikan oleh orang asing, jika dan hanya jika tariannya itu ditarikan oleh orang MALAYSIA.
Beberapa waktu yang lalu Jawa Timur mendapat kunjungan rombongan ketoprak dari Suriname. Para pemainnya adalah keturunan Jawa yang dulu dibawa oleh Belanda ke negara itu. Orang Jawa Timur memenuhi gedung pertunjukan tempat Ketoprak Suriname itu dipentaskan. Saat datang ke gedung pertunjukan, wajah orang-orang Jawa itu dipenuhi antusiasme dan rasa penasaran bagaimana kiranya kesenian mereka dimainkan oleh orang Jawa yang berasal jauh dari seberang lautan. Ketika pulang dari menonton pertunjukan itu wajah-wajah mereka dipenuhi rasa bangga saat menyadari kalau budaya mereka masih tetap dilestarikan di Suriname, sebuah negeri yang terletak jauh di seberang lautan sana. Apalagi selepas menonton Ketoprak itu mereka mengetahui kalau ada banyak bahasa Jawa yang tidak dipakai lagi dalam perckapan sehari-hari mereka masih dilestarikan di Suriname sana.
Pada waktu hampir bersamaan, Reog Ponorogo, kesenian mereka yang lain ditarikan di Malaysia. Uniknya, reaksi orang Jawa Timur terhadap kejadian itu berbanding 180 derajat dengan reaksi terhadap Ketoprak yang dimainkan orang Suriname. Alih-alih merasa bangga, orang Jawa Timur marah besar saat Reog Ponorogo, tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Mereka tidak peduli dengan argumen Malaysia bahwa yang menarikan itu adalah keturunan Jawa yang telah turun-temurun menetap di negara anda.
Jadi saudara Kamarulzaman, dari dua ilustrasi di atas anda bisa melihat kalau yang memicu kemarahan orang sini, bukanlah karena "indon-indon" mengidap gejala Xenophobia yang marah karena budaya atau tarian mereka ditarikan oleh orang asing. Tapi mereka marah semata karena orang asing yang menarikannya adalah orang MALAYSIA.
Nah saudara Kamarulzaman, kenapa Malaysia demikian "istimewa" di mata orang Bali dan Orang Jawa?.
Itu karena Malaysia dalam kacamata orang Bali dan orang Jawa adalah Malaysia yang berbeda dengan Malaysia yang anda dan para mantan mahasiswa anda kenal. Malaysia dimata orang Jawa dan Orang Bali kebanyakan adalah sebuah bangsa yang arogan, yang dengan sombongnya memanggil "indon" kepada orang-orang Indonesia yang mencari nafkah di tempat anda.
Karena itulah saudara Kamarulzaman, orang Indonesia itu tidak senang jika tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Jika yang menarikan tarian itu adalah orang asing selain Malaysia, orang Indonesia merasa budayanya sedang diapresiasi. Tapi sama sekali tidak merasa seperti itu jika yang menarikannya adalah orang Malaysia. Dalam pikiran orang Indonesia, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang dengan penuh sikap menghina memanggil mereka "indon", yang menganggap mereka adalah orang-orang miskin pengganggu yang berkelas jongos dan babu, bisa mengapresiasi kesenian mereka?. Satu-satunya yang terpikir di benak orang Indonesia saat orang Malaysia menarikan tarian mereka adalah MALAYSIA, negaranya para MALING itu akan MENCURI tarian mereka untuk kepentingan komersial semata.
Maaf kalau apa yang saya katakan ini terdengar tidak nyaman di telinga anda, tapi faktanya saudara Kamarulzaman, begitulah cara pandang mayoritas orang sini terhadap negara dan bangsa anda.
Fakta itu tidak berubah meskipun kolega akademisi dan mahasiswa anda yang berasal dari negeri ini mengatakan orang yang berpandangan seperti itu hanyalah segelintir orang di negeri ini yang tidak berpendidikan dan yang tidak mengerti Malaysia yang sebenarnya.
Soal Milis AI yang membuat anda kesal karena anda katakan telah dipakai untuk membantai Malaysia. Kalau saya yang menjadi anda, saya justru akan bersikap sebaliknya. Saya justru akan bangga melihat milis yang ikut saya dirikan tetap mampu bersikap objektif dengan jujur menunjukkan fakta yang sebenarnya tentang pandangan orang sini terhadap negara anda. Saya justru akan merasa bangga karena milis yang ikut saya dirikan mampu menyumbangkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah antara negara saya dengan negara seberang. Saya akan bangga karena milis yang saya dirikan tidak hanya berisi puja-puji bernada penjilatan terhadap negara saya.
Karena apa saudara Kamarulzaman?. Sebagai seorang Doktor yang punya spesialisasi menganalisa konflik. Mustahil rasanya kalau anda tidak tahu bahwa setiap konflik hanya bisa diselesaikan secara baik-baik dan bermartabat kalau kedua pihak yang bertikai mau mengakui kelemahan masing-masing dan mampu menilai diri berdasarkan kacamata lawan konfliknya. Konflik tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling puja-puji antar diplomat atau akademisi kampus sambil mengesampingkan sentimen nyata yang berkembang di kalangan orang kebanyakan di lapangan.
Tapi sayapun maklum kalau anda tetap kesal mendapati milis yang anda bentuk ini ternyata tidak dipakai untuk memuja-muji dan menjilat bangsa anda. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia, sebuah negara yang tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat yang tajam karena negara anda memang masih gagap berdemokrasi. Saya maklum karena anda berasal dari negara yang orang berbeda pendapat dengan pemerintah saja bisa langsung ditangkap lalu dengan ajaibnya bisa dituduh melakukan sodomi.
Kemudian saudara Kamarulzaman, yang membuat orang sini membenci negara anda adalah karena masih kental dan masifnya sikap pandang remeh dalam alam bawah sadar setiap unsur anak bangsa anda terhadap kami. Karena namanya di alam bawah sadar, siapapun anak bangsa anda dan sebaik apapun pandangannya terhadap bangsa kami, tetap saja orang tersebut di lubuk hatinya yang terdalam memandang rendah kami.
Sebagai gambaran betapa akut dan berurat berakarnya arogansi dan pandangan anggap remeh bangsa anda terhadap para 'indon" ini. Anda bisa melihatnya pada sikap anda sendiri. Jangankan orang biasa, bahkan seorang Doktor sekaliber anda yang sudah malang melintang bolak-balik ke Indonesia pun masih berpikiran sama seperti melayu-melayu kemaruk tipikal di negara anda sana. Anda yang pernah bersama-sama dengan saya mengikuti sebuah konferensi internasional bahkan kita duduk berdampingan pula, masih bisa berpikir kalau saat saya menuliskan perasaan saya terhadap Malaysia ini karena saya adalah "Indon" bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang negara anda.
Saudara Kamarulzaman, saya bukanlah seorang pengidap autis yang tidak pernah bergaul. Saya kenal baik para mantan mahasiswa anda dan saya tahu persis 'kebaikan' Malaysia seperti yang anda sebutkan dalam tulisan anda, meski tidak sampai detail ke angka-angkanya. Tapi pengetahuan saya itu sama sekali tidak bisa menghilangkan RASA SAKIT yang saya rasakan saat saya dihina oleh aparat resmi negara anda.
Perlu Saudara Kamarulzaman tahu, Malaysia seperti yang anda sebutkan itu hanyalah Malaysia yang hanya bisa dipahami dan dikenal oleh para akademisi kampus yang memiliki hubungan emosional dengan Malaysia. Contohnya adalah anda dan para kolega saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Apa yang anda sebutkan dalam tanggapan anda terhadap tulisan saya itu adalah Malaysia yang ada di awang-awang, bukan Malaysia yang nyata yang ada dalam pikiran orang kebanyakan di negara ini.
Sama seperti sikap orang Indonesia yang anda kenal dari teman-teman saya pun, itu bukanlah sikap nyata dari kebanyakan orang sini terhadap Malaysia.
Saudara Kamarulzaman, dalam pandangan orang kebanyakan di negeri ini, dunia anda dan teman-teman saya yang merupakan mantan mahasiswa anda itu adalah dunia fantasi, bukan dunia nyata. Itu dunianya kaum eksklusif yang berbicara berbasis logika dan angka-angka. Dalam pandangan orang kebanyakan, dunia akademis dan dunia kampus itu adalah dunia yang penuh petita-petiti yang hanya mengenal objektifitas dan rasionalitas. Banyak akademisi yang saya kenal yang sama sekali sudah kehilangan subjektifitas yang merupakan syarat menjadi manusia. Para akademis dan orang kampus banyak yang sudah kehilangan sensitifitas dan tidak mampu lagi merasakan RASA SAKIT. Mereka jadi tidak bisa lagi memahami kenapa orang-orang di akar rumput merasa sakit saat dihina. Ketika mayoritas anak bangsa di sini merasa terhina oleh sikap bangsa anda, banyak akademisi kampus (terutama yang lulusan Malaysia) yang saya kenal yang bersikap seperti Marie Antoinette yang mengatakan "pourquoi Ils ne mangent pas de gâteaux" saat pelayannya mengatakan rakyatnya tak mampu membeli roti.
Lucunya kadang karena saking logisnya para akademisi kampus ini, sikap logisnya itu malah terlihat konyol jadinya. Contohnya seperti yang ditunjukkan oleh teman saya yang bernama Taufan Damanik. Taufan Damanik ini, saat kepalanya diinjak pun yang pertama terpikir di kepalanya adalah kemana mencari cermin untuk berkaca, bukan bagaimana cara menyingkirkan kaki kurang ajar itu dari kepalanya.
Khusus untuk para lulusan Malaysia, tidak sedikit di antara mereka yang saya temui yang sepulang dari negara anda yang bukan hanya menjadi kagum tapi menjadi silau dengan negara anda. Sepulang ke sini, tidak sedikit dari mereka yang jadi bersikap layaknya melayu-melayu kemaruk di negara anda, ikut-ikutan memandang rendah para "indon" yang tidak lain adalah saudara sebangsanya.
Sementara dunia nyata, dunia akar rumput tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Malaysia dalam kacamata mayoritas orang di negeri ini adalah Malaysia yang sangat berbeda dari yang anda gambarkan dan dimengerti oleh para mahasiswa anda.
Sebagai seorang akademisi bergelar Doktor tentu Saudara Kamarulzaman tidak cukup naif untuk berpikir dan berharap bahwa informasi tentang Malaysia seperti yang anda katakan itu bisa dengan mudah secara masif dipahami oleh orang Indonesia kebanyakan yang bukan akademisi kampus, yang tinggal di kawasan pertanian di Bromo sana, yang tinggal di pelosok pulau Lombok dan Sumba atau yang tinggal di Bali atau Jakarta.
Malaysia dalam kacamata kebanyakan orang sini adalah Malaysia yang diceritakan oleh kerabatnya yang kebetulan berkunjung atau bekerja di negara anda. Malaysia yang mereka kenal adalah petugas imigrasi negara anda yang demikian rendah memandang orang yang berasal dari negeri ini, yang tanpa sikap sopan santun sedikitpun menghardik orang Indonesia yang mengunjungi negara anda supaya menunjukkan sejumlah uang sebagai bukti bahwa kami mampu membayar kebutuhan hidup di negara anda.
Malaysia dalam kacamata mereka adalah askar yang sengaja dibentuk oleh pemerintah anda untuk mengejar 'indon-indon' haram. Askar yang tanpa belas kasihan memukuli pelatih Karate yang merupakan duta bangsa mereka yang sengaja diundang oleh bangsa anda kesana, hanya karena askar bentukan pemerintah anda itu menyangka pelatih karate itu datang ke negara anda untuk mencari kerja.
Malaysia yang mereka kenal adalah sekumpulan Melayu arogan yang berkunjung ke sini sebagai turis yang kalau sikapnya membuat orang Indonesia tersinggung, selalu berpikir bahwa itu tidak lain adalah karena "indon-indon" tersebut merasa cemburu melihat kemajuan ekonomi negara anda atau karena "indon-indon" bodoh itu tidak mengerti apa-apa tentang negara anda.
Kemudian perlu pula saudara Kamarulzaman ketahui, saya sendiri bukanlah seorang akademisi kampus apalagi seorang diplomat yang penuh perhitungan dan petita-petiti atas setiap kata dan kalimat yang diucapkannya karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya akan mempengaruhi hubungan dua negara.
Dunia akademis dan dunia kampus adalah dunia yang telah lama saya tinggalkan dan sama sekali tidak pernah terpikir untuk kembali saya geluti. Sejak beberapa tahun yang lalu saya telah dengan sadar memilih menjadi orang kebanyakan yang tidak perlu berpura-pura bermanis muka, menundukkan wajah sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh takzim di hadapan bangsa asing hanya untuk sekedar mendapatkan beasiswa.
Saya adalah orang kebanyakan yang memandang dunia dengan cara orang kebanyakan, berbicara dengan cara berbicara orang kebanyakan, merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dirasakan orang kebanyakan, menyuarakan perasaan saya seperti cara orang biasa menyuarakan persasaan, menyalurkan emosi dan kemarahan juga dengan cara orang kebanyakan menyalurkan emosi dan kemarahan.
Jadi yang saudara Kamarulzaman baca dalam tulisan saya itu adalah emosi dan kemarahan orang kebanyakan di negeri ini. Bukan emosi dan kemarahan para akademisi kampus, atau diplomat apalagi kemarahan mantan mahasiswa anda yang setengah mati memuja Malaysia sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan rasa sakit yang dirasakan saudara sebangsanya.
Kemudian, izinkanlah saya tertawa menanggapi soal kesediaan anda ke Banda Aceh selepas bulan Ramadhan ini untuk saya pukuli seperti "anjing kampong". Saya tertawa karena tiga alasan. Pertama, ini bukanlah urusan pribadi antara Win Wan Nur dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, sehingga kalauppun anda babak belur saya pukuli, itu sama sekali tidak akan merubah cara pandang bangsa anda terhadap orang-orang di negara ini. Kedua, saya merasa sangat lucu mendapati kenyataan bahwa sebagai seorang DOKTOR yang menjadi pengajar di sebuah Universitas terkemuka masih menanggapi ucapan saya ini secara harfiah adanya. Tapi yang paling lucu dari semuanya adalah ketika saya membayangkan diri saya memegang linggis berbahan besi ulir sebesar jempol kaki sambil memukuli seorang DOKTOR ternama dari sebuah Universitas terkemuka di Malaysia.
Saya memang mampu bertindak kejam terhadap anjing kampung. Tapi meskipun saya menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung", saya tidaklah sebiadab askar bentukan pemerintah anda yang tanpa ampun memukuli manusia "indon" yang berstatus pelatih Karate yang sengaja diundang oleh negara anda. Seperti yang saya jelaskan, saya menyebut bangsa anda dengan istilah sekasar itu tidak lain adalah semata supaya anda dan Melayu-melayu yang sebangsa dengan anda tahu seperti apa kiranya RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon" saat bangsanya dihina. Dari nada tanggapan anda terhadap tulisan saya, saya tahu kalau RASA SAKIT itu sudah anda rasakan.
Tapi bagaimanapun, meski saya menolak memenuhi niat tulus anda. Saya tetap mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan dan keikhlasan anda untuk saya pukuli seperti "anjing kampong" sehabis ramadhan.
Dr. Kamarulzaman Askandar, perlu anda tahu kalau sebenarnya saya sengaja membuat anda sakit hati karena dengan adanya anda mengalami RASA SAKIT itu saya ingin menunjukkan kepada anda dan orang Malaysia lainnya, bahwa persis seperti itulah RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon", saat bangsa mereka dihina oleh aparat dan orang kebanyakan di negara anda.
Dengan mem-post tulisan ini di milis AI saya berharap anda mengerti kalau RASA SAKIT yang anda rasakan akibat hinaan saya tidak serta merta hilang RASA SAKIT nya meskipun anda mendapati kenyataan bahwa saya hanyalah satu dari segelintir orang di milis ini yang menista bangsa anda. Saya mem-post tulisan itu karena saya ingin anda dan orang Malaysia lain yang membacanya bisa merasakan sendiri kalau RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya mengenal begitu banyak orang di negeri ini yang memandang bangsa anda denikian bersahabatnya, bahkan kadang berlebihan sampai memuja Malaysia. RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun secara statistik dan analisa logis anda mendapati bahwa orang seperti saya itu jumlahnya tidak seberapa.
Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda bisa mengerti bahwa tepat seperti itulah yang saya rasakan ketika saya dihina oleh aparat resmi negara anda hanya karena paspor saya menunjukkan bahwa saya berasal dari negaranya para "indon" yang dipandang oleh bangsa anda dengan pandangan sebelah mata. Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya berharap anda mengerti RASA SAKIT yang saya rasakan itu tidak hilang meskipun saya tahu persis bahwa di Malaysia juga ada orang seperti anda yang membimbing teman-teman saya dalam pendidikan mereka tanpa mengira kulit atau kerakyatan. Dengan merasakan RASA SAKIT itu saya berharap anda bisa bercerita kepada kolega anda bahwa ternyata bangsa anda itu bukanlah bangsa para dewa, karena ternyata andapun merasakan RASA SAKIT yang sama seperti yang dirasakan oleh para"indon" itu ketika bangsa anda dihina.
Saya mem-post tulisan tersebut saudara Kamarulzaman, karena saya ingin mengajak anda dan teman-teman saya yang selama ini sibuk di dunia akademis di kampus untuk kembali belajar memandang dunia dengan cara pandang orang kebanyakan. Bukan hanya memandang dunia berdasarkan argumen logis, rasionalitas dan angka-angka. Karena semua itu bukanlah sesuatu yang nyata. Yang nyata itu adalah RASA SAKIT seperti yang anda rasakan yang muncul saat bangsa anda saya hina.
Alasan lain yang membuat saya menuliskan tulisan sekasar ini tentang bangsa anda, adalah karena saya ingin bangsa anda yang arogan itu faham tentang ETIKA PALING DASAR dalam hubungan antar manusia. Etika dasar yang bersifat Universal, yaitu etika yang selalu dimulai dari "pengakuan reflektif" yang sifatnya timbal balik, alias resiprokal. Maksudnya "kalau aku begitu, aku juga harus mau dibegitukan ".
Etika dasar seperti ini sangat perlu kita pahami dan kita terima bersama, karena kalau kita menolak etika dasar berdasarkan premis di atas maka kita akan jatuh ke dalam situasi IMMORAL. Saya katakan IMMORAL karena siapapun pasti tidak bisa menerima premis seperti ini, "benar = anda menginjak kepala saya; tapi, salah = saya balik menginjak kepala anda".
Contoh dari situasi IMMORAL ini dapat saya gambarkan seperti ini:
Anda mengenal dengan baik begitu banyak orang negeri ini yang sangat menghormati Malaysia negara anda, anda kenal baik mahasiswa anda yang begitu memuja Malaysia, sehingga anda merasa seperti itulah pandangan mayoritas orang sini terhadap bangsa anda. Lalu, ada satu orang bernama Win Wan Nur, bukan segelintir tapi CUMA SATU ORANG SAJA. Yang melalui sebuah tulisan di milis yang anda dirikan, terang-terangan menghina bangsa anda. Menanggapi hinaan terhadap bangsa anda yang bukan dilakukan oleh APARAT RESMI tapi HANYA oleh satu orang yang sama sekali tidak memiliki posisi penting apapun di negara ini. Anda sakit hati, emosi dan marah sejadi-jadinya sampai bersedia dipukuli seperti anjing kampung segala.
Orang yang menghina bangsa anda tersebut melakukan itu karena pernah merasa dihina oleh aparat resmi negara anda dan juga merasa terhina karena sikap kebanyakan bangsa anda yang melecehkan orang yang berasal dari negara yang sama dengannya. Tapi ajaibnya dalam tulisan yang sama anda meminta orang yang menghina bangsa anda tersebut untuk tidak emosi dan marah-marah terhadap apa yang dilakukan aparat resmi dan kebanyakan bangsa anda. Anda memintanya menahan diri dan memaklumi apa yang dilakukan oleh bangsa anda dan menuntutnya untuk melihat Malaysia melalui kacamata anda. Menurut anda orang itu tidak selayaknya marah, sakit hati dan merasa terhina. Karena menurut anda yang melakukan penghinaan itu hanyalah segelintir anak bangsa anda.
Anda bisa melihat sendiri bahwa kejadian di atas adalah situasi yang PERSIS SAMA yang dihadapi oleh dua orang berbeda bangsa. Tapi dalam pandangan anda, untuk kasus (kes dalam bahasa anda) yang PERSIS SAMA ini, Melayu Malaysia (anda) boleh marah dan sakit hati sementara "Indon" harus menahan diri.
Perilaku seperti yang anda tunjukkan ini (hanya saya yang boleh begini) tidak lain adalah perilaku manusia yang merasa bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain. Ini adalah ciri dari manusia yang merasa diri Über Alles. Perilaku seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan inilah yang menjadi dasar bagi saya untuk mencap bangsa anda sebagai "Malaysia Über Alles".
Sebagai warga dari negara yang saya tuduh tersebut, anda tentu tidak bisa menerima tuduhan saya itu. Jadi Dr. Kamarulzaman Askandar, tolong beri saya sebuah jawaban yang logis dan masuk akal. Sebagai Manusia, kualitas lebih apa yang dimiliki oleh bangsa anda dibanding kami dan hak istimewa apa yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa anda sehingga anda merasa hanya bangsa anda yang boleh marah dan sakit hati ketika dihina?.
Saudara Kamarulzaman Askandar, dengan tulisan yang sangat kasar terhadap bangsa anda ini. Sebenarnya saya ingin agar perilaku bangsa anda yang merasa "bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain" seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan ini bisa dikurangi. Supaya ETIKA yang sangat mendasar seperti yang saya sebutkan di atas bisa kita bicarakan. Karena kalau ETIKA PALING DASAR ini saja sudah tidak bisa dibicarakan, maka kita sama sekali tidak perlu lagi membicarakan moralitas. Tidak perlu lagi berbicara masalah benar-salah secara etika, apalagi hubungan persaudaraan antar bangsa seperti yang anda terangkan di awal tulisan anda.
Dalam situasi IMMORAL seperti perilaku yang anda tunjukkan dalam tulisan anda ini, yang diperlukan tinggal kuat-kuatan otot saja sehingga kemudian yang terjadi adalah HUKUM RIMBA.
Harapan saya, dengan memahami etika dasar ini anda akan mengerti, bahwa ketika anda membiarkan segelintir anak bangsa anda menghina bangsa lain. Itu artinya anda telah mengundang bangsa lain untuk menghina bangsa anda pula. Ketika segelintir anak bangsa anda menyebut bangsa lain dengan panggilan 'indon" yang merendahkan, maka tidak lain apa yang sedang dilakukan oleh segelintir anak bangsa anda tersebut adalah mengundang bangsa lain untuk menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Gila","Melayu Kemaruk" "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung" dan berbagai sebutan buruk lainnya.
Selanjutnya, melalui tulisan saya yang sangat kasar ini, saya hanya ingin mengajak anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya untuk sedikit menunjukkan empati saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu hadir dalam diri kami. Saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu datang, bukan berbagai alasan akademis, analisa logis dan pemaparan berbagai budi baik bangsa anda yang kami butuhkan. Yang kami butuhkan dari bangsa anda hanya secuil maaf yang diucapkan dengan penuh rasa empati.
Dengan merasakan sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda dan bangsa anda bisa melakukan introspeksi. Bukan seperti yang selama ini terjadi, setiap kami merasakan RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu, kamilah yang selau dituntut (entah itu oleh segelintir anak bangsa kami atau dari bangsa anda sendiri) untuk mengerti dan melakukan introspeksi, seolah bangsa anda itu adalah bangsa para dewa yang tidak pernah bersalah dan selalu suci.
Akhirnya saya berharap supaya Tuhan memberi anda kesehatan supaya suatu saat kita bisa mendapat kesempatan untuk bertemu kembali, supaya kita bisa berdiskusi sambil bertatap muka. Bukan hanya melalui perbincangan di milis semacam AI ini.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Warga Malaysia yang menanggapi tulisan saya tersebut bernama Dr. Kamarulzaman Askandar, seorang pengajar di USM. Saya mengenalnya ketika kami berdua mengikuti sebuah konferensi di Banda Aceh hampir setahun yang lalu.
Dr.Kamarulzaman Askandar ini adalah pembimbing dari teman-teman saya yang saat ini mengelola Aceh Institute. Ketika teman-teman saya ini mengambil gelar pasca sarjana di Universitas tempat Dr.Kamarulzaman Askandar mengajar.
Warga Malaysia ini juga merupakan salah seorang pendiri Aceh Institute yang sekarang dikelola oleh teman-teman saya tersebut. Dalam balasan terhadap tulisan saya http://winwannur.blog.com/2009/09/14/hubungan-indonesia-malaysia-tanggapan-langsung-dari-malaysia/ Dr.Kamarulzaman Askandar dengan terus terang menyatakan kesal dan merasa tersinggung karena saya menuliskan opini yang menyudutkan Malaysia di Milis dari sebuah institusi yang dia bidani kelahirannya.
Karena itulah saya mem-post tulisan ini di berbagai milis, untuk dijadikan bahan diskusi.
Melalui tulisan ini pula saya ucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya pada para pengelola Aceh Institute atas kedewasaan Aceh Institute dalam berdemokrasi.
Saya sangat menghargai Institusi ini karena meskipun tulisan ini dikesalkan oleh salah seorang pendiri lembaga ini yang sangat dihormati oleh beberapa pengelola lembaga ini karena yang bersangkutan merupakan dosen pengasuh dari beberapa penggelola lembaga ini saat mengambil gelar pasca sarjana.
Bagi saya hal ini membuktikan bahwa Aceh Institute benar-benar didirikan dengan sebuah motivasi murni untuk mencerahkan Rakyat Aceh di Bumi Iskandar Muda yang saya cintai.
Inilah isi dialog saya dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, selamat membaca.
Walaikum Salam Saudara Kamarulzaman
Setelah hampir setahun tidak pernah berkomunikasi dengan anda, senang sekali rasanya melihat anda mau meluangkan waktu membaca bahkan dengan ikhlas mau menanggapi tulisan saya.
Dikarenakan kesibukan saya mencari nafkah untuk keluarga saya, saya mohon maaf kalau baru sekarang saya bisa membalas tulisan anda. Selama ini saya memang jarang sekali sempat membuka tiap milis yang saya ikuti satu persatu. Saya biasanya hanya menulis dan mem-postnya tulisan yang saya ketik di waktu luang ke berbagai milis tanpa sempat lagi membaca tanggapan yang masuk.
Saya juga senang sekali membaca 'nada' dalam tanggapan anda, karena dengan melihat nada dalam tulisan anda itu saya tahu bahwa apa yang saya maksud saat mem-post tulisan ini di milis AI tercapai adanya. Saya memang sengaja mem-post tulisan ini di AI karena saya tahu apa yang tertulis di milis ini juga akan dibaca di Malaysia negara anda.
Maaf kalau tangapan saya kali ini akan panjang sekali, itu karena akan banyak hal yang akan saya jelaskan dan saya pikir perlu anda dan bangsa anda ketahui.
Sebenarnya agak sulit bagi saya untuk memilih, memulai darimana untuk membalas tanggapan anda ini.
Tapi baiklah saya mulai saja dari soal budaya dan tari-tarian. Saya sangat maklum dengan ucapan anda yang menganggap soal tarian dan budaya adalah soal remeh adanya. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia. Di Malaysia negara anda, soal ini memang tidak memilliki arti apa-apa, tidak ada urusan dengan identitas dan keunikan lokal yang perlu dipertahankan dalam budaya. Jadi siapapun bisa mengklaim tarian ini dan budaya ini sebagai miliknya. Beda dengan di sini, bahkan orang Gayo pun tidak senang budayanya di klaim sebagai milik orang Aceh. Padahal kami sama-sama Aceh.
Soal itu tarian ditarikan oleh orang lain itu berbeda adanya, orang Gayo juga bangga tariannya ditarikan oleh orang Aceh atau orang Jawa selama yang menarikan itu mengakui bahwa tari yang mereka tarikan itu adalah tari Gayo. Seperti yang anda katakan "Malaysia akan salah kalau mengaku bahawa budaya yang pelbagai ini adalah ciptaan bumi Malaysia kerana mereka sebenarnya dibawa ke tanah ini oleh penduduk yang aslinya dari Jawa, Aceh, Cina, India atau dari mana saja". Tepat sekali inilah masalahnya.
Saudara Kamarulzaman, perlu anda tahu, orang di sini yang di negara anda dipanggil "indon" tidaklah sepicik yang anda sangka. "indon-indon" di sini bukanlah sekumpulan manusia xenophobic yang anti asing yang melarang dengan ketat budayanya di apresiasi oleh orang luar.
Soal pendet Bali misalnya, dari tulisan anda ini saya menangkap kesan seolah-olah anda beranggapan bahwa orang Bali itu demikian piciknya yang langsung emosi melihat tarian karya budaya mereka ditarikan orang asing. Padahal kenyataannya tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Orang Bali itu adalah salah satu suku yang paling toleran di dunia. Dua kali orang Islam dari Jawa mem-Bom tanah mereka karena alasan agama, tapi sampai hari ini tidak pernah terpikir oleh mereka untuk mengusir orang Islam dan orang Jawa dari tanah Bali.
Di Bali itu setiap tahunnya ada ribuan orang asing yang datang untuk mempelajari budaya mereka. Tari pendet yang bermasalah itu telah ditarikan oleh orang dari berbagai bangsa mulai dari Asia, Eropa, Amerika sampai Afrika. Bahkan di Jepang dan di Australia kadang itu tarian ditarikan untuk menarik minat wisatawan. Persis seperti yang anda katakan alih-alih marah, orang Bali justru bangga budayanya diapresiasi oleh orang asing. Orang Bali marah ketika tariannya ditarikan oleh orang asing, jika dan hanya jika tariannya itu ditarikan oleh orang MALAYSIA.
Beberapa waktu yang lalu Jawa Timur mendapat kunjungan rombongan ketoprak dari Suriname. Para pemainnya adalah keturunan Jawa yang dulu dibawa oleh Belanda ke negara itu. Orang Jawa Timur memenuhi gedung pertunjukan tempat Ketoprak Suriname itu dipentaskan. Saat datang ke gedung pertunjukan, wajah orang-orang Jawa itu dipenuhi antusiasme dan rasa penasaran bagaimana kiranya kesenian mereka dimainkan oleh orang Jawa yang berasal jauh dari seberang lautan. Ketika pulang dari menonton pertunjukan itu wajah-wajah mereka dipenuhi rasa bangga saat menyadari kalau budaya mereka masih tetap dilestarikan di Suriname, sebuah negeri yang terletak jauh di seberang lautan sana. Apalagi selepas menonton Ketoprak itu mereka mengetahui kalau ada banyak bahasa Jawa yang tidak dipakai lagi dalam perckapan sehari-hari mereka masih dilestarikan di Suriname sana.
Pada waktu hampir bersamaan, Reog Ponorogo, kesenian mereka yang lain ditarikan di Malaysia. Uniknya, reaksi orang Jawa Timur terhadap kejadian itu berbanding 180 derajat dengan reaksi terhadap Ketoprak yang dimainkan orang Suriname. Alih-alih merasa bangga, orang Jawa Timur marah besar saat Reog Ponorogo, tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Mereka tidak peduli dengan argumen Malaysia bahwa yang menarikan itu adalah keturunan Jawa yang telah turun-temurun menetap di negara anda.
Jadi saudara Kamarulzaman, dari dua ilustrasi di atas anda bisa melihat kalau yang memicu kemarahan orang sini, bukanlah karena "indon-indon" mengidap gejala Xenophobia yang marah karena budaya atau tarian mereka ditarikan oleh orang asing. Tapi mereka marah semata karena orang asing yang menarikannya adalah orang MALAYSIA.
Nah saudara Kamarulzaman, kenapa Malaysia demikian "istimewa" di mata orang Bali dan Orang Jawa?.
Itu karena Malaysia dalam kacamata orang Bali dan orang Jawa adalah Malaysia yang berbeda dengan Malaysia yang anda dan para mantan mahasiswa anda kenal. Malaysia dimata orang Jawa dan Orang Bali kebanyakan adalah sebuah bangsa yang arogan, yang dengan sombongnya memanggil "indon" kepada orang-orang Indonesia yang mencari nafkah di tempat anda.
Karena itulah saudara Kamarulzaman, orang Indonesia itu tidak senang jika tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Jika yang menarikan tarian itu adalah orang asing selain Malaysia, orang Indonesia merasa budayanya sedang diapresiasi. Tapi sama sekali tidak merasa seperti itu jika yang menarikannya adalah orang Malaysia. Dalam pikiran orang Indonesia, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang dengan penuh sikap menghina memanggil mereka "indon", yang menganggap mereka adalah orang-orang miskin pengganggu yang berkelas jongos dan babu, bisa mengapresiasi kesenian mereka?. Satu-satunya yang terpikir di benak orang Indonesia saat orang Malaysia menarikan tarian mereka adalah MALAYSIA, negaranya para MALING itu akan MENCURI tarian mereka untuk kepentingan komersial semata.
Maaf kalau apa yang saya katakan ini terdengar tidak nyaman di telinga anda, tapi faktanya saudara Kamarulzaman, begitulah cara pandang mayoritas orang sini terhadap negara dan bangsa anda.
Fakta itu tidak berubah meskipun kolega akademisi dan mahasiswa anda yang berasal dari negeri ini mengatakan orang yang berpandangan seperti itu hanyalah segelintir orang di negeri ini yang tidak berpendidikan dan yang tidak mengerti Malaysia yang sebenarnya.
Soal Milis AI yang membuat anda kesal karena anda katakan telah dipakai untuk membantai Malaysia. Kalau saya yang menjadi anda, saya justru akan bersikap sebaliknya. Saya justru akan bangga melihat milis yang ikut saya dirikan tetap mampu bersikap objektif dengan jujur menunjukkan fakta yang sebenarnya tentang pandangan orang sini terhadap negara anda. Saya justru akan merasa bangga karena milis yang ikut saya dirikan mampu menyumbangkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah antara negara saya dengan negara seberang. Saya akan bangga karena milis yang saya dirikan tidak hanya berisi puja-puji bernada penjilatan terhadap negara saya.
Karena apa saudara Kamarulzaman?. Sebagai seorang Doktor yang punya spesialisasi menganalisa konflik. Mustahil rasanya kalau anda tidak tahu bahwa setiap konflik hanya bisa diselesaikan secara baik-baik dan bermartabat kalau kedua pihak yang bertikai mau mengakui kelemahan masing-masing dan mampu menilai diri berdasarkan kacamata lawan konfliknya. Konflik tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling puja-puji antar diplomat atau akademisi kampus sambil mengesampingkan sentimen nyata yang berkembang di kalangan orang kebanyakan di lapangan.
Tapi sayapun maklum kalau anda tetap kesal mendapati milis yang anda bentuk ini ternyata tidak dipakai untuk memuja-muji dan menjilat bangsa anda. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia, sebuah negara yang tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat yang tajam karena negara anda memang masih gagap berdemokrasi. Saya maklum karena anda berasal dari negara yang orang berbeda pendapat dengan pemerintah saja bisa langsung ditangkap lalu dengan ajaibnya bisa dituduh melakukan sodomi.
Kemudian saudara Kamarulzaman, yang membuat orang sini membenci negara anda adalah karena masih kental dan masifnya sikap pandang remeh dalam alam bawah sadar setiap unsur anak bangsa anda terhadap kami. Karena namanya di alam bawah sadar, siapapun anak bangsa anda dan sebaik apapun pandangannya terhadap bangsa kami, tetap saja orang tersebut di lubuk hatinya yang terdalam memandang rendah kami.
Sebagai gambaran betapa akut dan berurat berakarnya arogansi dan pandangan anggap remeh bangsa anda terhadap para 'indon" ini. Anda bisa melihatnya pada sikap anda sendiri. Jangankan orang biasa, bahkan seorang Doktor sekaliber anda yang sudah malang melintang bolak-balik ke Indonesia pun masih berpikiran sama seperti melayu-melayu kemaruk tipikal di negara anda sana. Anda yang pernah bersama-sama dengan saya mengikuti sebuah konferensi internasional bahkan kita duduk berdampingan pula, masih bisa berpikir kalau saat saya menuliskan perasaan saya terhadap Malaysia ini karena saya adalah "Indon" bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang negara anda.
Saudara Kamarulzaman, saya bukanlah seorang pengidap autis yang tidak pernah bergaul. Saya kenal baik para mantan mahasiswa anda dan saya tahu persis 'kebaikan' Malaysia seperti yang anda sebutkan dalam tulisan anda, meski tidak sampai detail ke angka-angkanya. Tapi pengetahuan saya itu sama sekali tidak bisa menghilangkan RASA SAKIT yang saya rasakan saat saya dihina oleh aparat resmi negara anda.
Perlu Saudara Kamarulzaman tahu, Malaysia seperti yang anda sebutkan itu hanyalah Malaysia yang hanya bisa dipahami dan dikenal oleh para akademisi kampus yang memiliki hubungan emosional dengan Malaysia. Contohnya adalah anda dan para kolega saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Apa yang anda sebutkan dalam tanggapan anda terhadap tulisan saya itu adalah Malaysia yang ada di awang-awang, bukan Malaysia yang nyata yang ada dalam pikiran orang kebanyakan di negara ini.
Sama seperti sikap orang Indonesia yang anda kenal dari teman-teman saya pun, itu bukanlah sikap nyata dari kebanyakan orang sini terhadap Malaysia.
Saudara Kamarulzaman, dalam pandangan orang kebanyakan di negeri ini, dunia anda dan teman-teman saya yang merupakan mantan mahasiswa anda itu adalah dunia fantasi, bukan dunia nyata. Itu dunianya kaum eksklusif yang berbicara berbasis logika dan angka-angka. Dalam pandangan orang kebanyakan, dunia akademis dan dunia kampus itu adalah dunia yang penuh petita-petiti yang hanya mengenal objektifitas dan rasionalitas. Banyak akademisi yang saya kenal yang sama sekali sudah kehilangan subjektifitas yang merupakan syarat menjadi manusia. Para akademis dan orang kampus banyak yang sudah kehilangan sensitifitas dan tidak mampu lagi merasakan RASA SAKIT. Mereka jadi tidak bisa lagi memahami kenapa orang-orang di akar rumput merasa sakit saat dihina. Ketika mayoritas anak bangsa di sini merasa terhina oleh sikap bangsa anda, banyak akademisi kampus (terutama yang lulusan Malaysia) yang saya kenal yang bersikap seperti Marie Antoinette yang mengatakan "pourquoi Ils ne mangent pas de gâteaux" saat pelayannya mengatakan rakyatnya tak mampu membeli roti.
Lucunya kadang karena saking logisnya para akademisi kampus ini, sikap logisnya itu malah terlihat konyol jadinya. Contohnya seperti yang ditunjukkan oleh teman saya yang bernama Taufan Damanik. Taufan Damanik ini, saat kepalanya diinjak pun yang pertama terpikir di kepalanya adalah kemana mencari cermin untuk berkaca, bukan bagaimana cara menyingkirkan kaki kurang ajar itu dari kepalanya.
Khusus untuk para lulusan Malaysia, tidak sedikit di antara mereka yang saya temui yang sepulang dari negara anda yang bukan hanya menjadi kagum tapi menjadi silau dengan negara anda. Sepulang ke sini, tidak sedikit dari mereka yang jadi bersikap layaknya melayu-melayu kemaruk di negara anda, ikut-ikutan memandang rendah para "indon" yang tidak lain adalah saudara sebangsanya.
Sementara dunia nyata, dunia akar rumput tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Malaysia dalam kacamata mayoritas orang di negeri ini adalah Malaysia yang sangat berbeda dari yang anda gambarkan dan dimengerti oleh para mahasiswa anda.
Sebagai seorang akademisi bergelar Doktor tentu Saudara Kamarulzaman tidak cukup naif untuk berpikir dan berharap bahwa informasi tentang Malaysia seperti yang anda katakan itu bisa dengan mudah secara masif dipahami oleh orang Indonesia kebanyakan yang bukan akademisi kampus, yang tinggal di kawasan pertanian di Bromo sana, yang tinggal di pelosok pulau Lombok dan Sumba atau yang tinggal di Bali atau Jakarta.
Malaysia dalam kacamata kebanyakan orang sini adalah Malaysia yang diceritakan oleh kerabatnya yang kebetulan berkunjung atau bekerja di negara anda. Malaysia yang mereka kenal adalah petugas imigrasi negara anda yang demikian rendah memandang orang yang berasal dari negeri ini, yang tanpa sikap sopan santun sedikitpun menghardik orang Indonesia yang mengunjungi negara anda supaya menunjukkan sejumlah uang sebagai bukti bahwa kami mampu membayar kebutuhan hidup di negara anda.
Malaysia dalam kacamata mereka adalah askar yang sengaja dibentuk oleh pemerintah anda untuk mengejar 'indon-indon' haram. Askar yang tanpa belas kasihan memukuli pelatih Karate yang merupakan duta bangsa mereka yang sengaja diundang oleh bangsa anda kesana, hanya karena askar bentukan pemerintah anda itu menyangka pelatih karate itu datang ke negara anda untuk mencari kerja.
Malaysia yang mereka kenal adalah sekumpulan Melayu arogan yang berkunjung ke sini sebagai turis yang kalau sikapnya membuat orang Indonesia tersinggung, selalu berpikir bahwa itu tidak lain adalah karena "indon-indon" tersebut merasa cemburu melihat kemajuan ekonomi negara anda atau karena "indon-indon" bodoh itu tidak mengerti apa-apa tentang negara anda.
Kemudian perlu pula saudara Kamarulzaman ketahui, saya sendiri bukanlah seorang akademisi kampus apalagi seorang diplomat yang penuh perhitungan dan petita-petiti atas setiap kata dan kalimat yang diucapkannya karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya akan mempengaruhi hubungan dua negara.
Dunia akademis dan dunia kampus adalah dunia yang telah lama saya tinggalkan dan sama sekali tidak pernah terpikir untuk kembali saya geluti. Sejak beberapa tahun yang lalu saya telah dengan sadar memilih menjadi orang kebanyakan yang tidak perlu berpura-pura bermanis muka, menundukkan wajah sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh takzim di hadapan bangsa asing hanya untuk sekedar mendapatkan beasiswa.
Saya adalah orang kebanyakan yang memandang dunia dengan cara orang kebanyakan, berbicara dengan cara berbicara orang kebanyakan, merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dirasakan orang kebanyakan, menyuarakan perasaan saya seperti cara orang biasa menyuarakan persasaan, menyalurkan emosi dan kemarahan juga dengan cara orang kebanyakan menyalurkan emosi dan kemarahan.
Jadi yang saudara Kamarulzaman baca dalam tulisan saya itu adalah emosi dan kemarahan orang kebanyakan di negeri ini. Bukan emosi dan kemarahan para akademisi kampus, atau diplomat apalagi kemarahan mantan mahasiswa anda yang setengah mati memuja Malaysia sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan rasa sakit yang dirasakan saudara sebangsanya.
Kemudian, izinkanlah saya tertawa menanggapi soal kesediaan anda ke Banda Aceh selepas bulan Ramadhan ini untuk saya pukuli seperti "anjing kampong". Saya tertawa karena tiga alasan. Pertama, ini bukanlah urusan pribadi antara Win Wan Nur dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, sehingga kalauppun anda babak belur saya pukuli, itu sama sekali tidak akan merubah cara pandang bangsa anda terhadap orang-orang di negara ini. Kedua, saya merasa sangat lucu mendapati kenyataan bahwa sebagai seorang DOKTOR yang menjadi pengajar di sebuah Universitas terkemuka masih menanggapi ucapan saya ini secara harfiah adanya. Tapi yang paling lucu dari semuanya adalah ketika saya membayangkan diri saya memegang linggis berbahan besi ulir sebesar jempol kaki sambil memukuli seorang DOKTOR ternama dari sebuah Universitas terkemuka di Malaysia.
Saya memang mampu bertindak kejam terhadap anjing kampung. Tapi meskipun saya menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung", saya tidaklah sebiadab askar bentukan pemerintah anda yang tanpa ampun memukuli manusia "indon" yang berstatus pelatih Karate yang sengaja diundang oleh negara anda. Seperti yang saya jelaskan, saya menyebut bangsa anda dengan istilah sekasar itu tidak lain adalah semata supaya anda dan Melayu-melayu yang sebangsa dengan anda tahu seperti apa kiranya RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon" saat bangsanya dihina. Dari nada tanggapan anda terhadap tulisan saya, saya tahu kalau RASA SAKIT itu sudah anda rasakan.
Tapi bagaimanapun, meski saya menolak memenuhi niat tulus anda. Saya tetap mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan dan keikhlasan anda untuk saya pukuli seperti "anjing kampong" sehabis ramadhan.
Dr. Kamarulzaman Askandar, perlu anda tahu kalau sebenarnya saya sengaja membuat anda sakit hati karena dengan adanya anda mengalami RASA SAKIT itu saya ingin menunjukkan kepada anda dan orang Malaysia lainnya, bahwa persis seperti itulah RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon", saat bangsa mereka dihina oleh aparat dan orang kebanyakan di negara anda.
Dengan mem-post tulisan ini di milis AI saya berharap anda mengerti kalau RASA SAKIT yang anda rasakan akibat hinaan saya tidak serta merta hilang RASA SAKIT nya meskipun anda mendapati kenyataan bahwa saya hanyalah satu dari segelintir orang di milis ini yang menista bangsa anda. Saya mem-post tulisan itu karena saya ingin anda dan orang Malaysia lain yang membacanya bisa merasakan sendiri kalau RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya mengenal begitu banyak orang di negeri ini yang memandang bangsa anda denikian bersahabatnya, bahkan kadang berlebihan sampai memuja Malaysia. RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun secara statistik dan analisa logis anda mendapati bahwa orang seperti saya itu jumlahnya tidak seberapa.
Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda bisa mengerti bahwa tepat seperti itulah yang saya rasakan ketika saya dihina oleh aparat resmi negara anda hanya karena paspor saya menunjukkan bahwa saya berasal dari negaranya para "indon" yang dipandang oleh bangsa anda dengan pandangan sebelah mata. Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya berharap anda mengerti RASA SAKIT yang saya rasakan itu tidak hilang meskipun saya tahu persis bahwa di Malaysia juga ada orang seperti anda yang membimbing teman-teman saya dalam pendidikan mereka tanpa mengira kulit atau kerakyatan. Dengan merasakan RASA SAKIT itu saya berharap anda bisa bercerita kepada kolega anda bahwa ternyata bangsa anda itu bukanlah bangsa para dewa, karena ternyata andapun merasakan RASA SAKIT yang sama seperti yang dirasakan oleh para"indon" itu ketika bangsa anda dihina.
Saya mem-post tulisan tersebut saudara Kamarulzaman, karena saya ingin mengajak anda dan teman-teman saya yang selama ini sibuk di dunia akademis di kampus untuk kembali belajar memandang dunia dengan cara pandang orang kebanyakan. Bukan hanya memandang dunia berdasarkan argumen logis, rasionalitas dan angka-angka. Karena semua itu bukanlah sesuatu yang nyata. Yang nyata itu adalah RASA SAKIT seperti yang anda rasakan yang muncul saat bangsa anda saya hina.
Alasan lain yang membuat saya menuliskan tulisan sekasar ini tentang bangsa anda, adalah karena saya ingin bangsa anda yang arogan itu faham tentang ETIKA PALING DASAR dalam hubungan antar manusia. Etika dasar yang bersifat Universal, yaitu etika yang selalu dimulai dari "pengakuan reflektif" yang sifatnya timbal balik, alias resiprokal. Maksudnya "kalau aku begitu, aku juga harus mau dibegitukan ".
Etika dasar seperti ini sangat perlu kita pahami dan kita terima bersama, karena kalau kita menolak etika dasar berdasarkan premis di atas maka kita akan jatuh ke dalam situasi IMMORAL. Saya katakan IMMORAL karena siapapun pasti tidak bisa menerima premis seperti ini, "benar = anda menginjak kepala saya; tapi, salah = saya balik menginjak kepala anda".
Contoh dari situasi IMMORAL ini dapat saya gambarkan seperti ini:
Anda mengenal dengan baik begitu banyak orang negeri ini yang sangat menghormati Malaysia negara anda, anda kenal baik mahasiswa anda yang begitu memuja Malaysia, sehingga anda merasa seperti itulah pandangan mayoritas orang sini terhadap bangsa anda. Lalu, ada satu orang bernama Win Wan Nur, bukan segelintir tapi CUMA SATU ORANG SAJA. Yang melalui sebuah tulisan di milis yang anda dirikan, terang-terangan menghina bangsa anda. Menanggapi hinaan terhadap bangsa anda yang bukan dilakukan oleh APARAT RESMI tapi HANYA oleh satu orang yang sama sekali tidak memiliki posisi penting apapun di negara ini. Anda sakit hati, emosi dan marah sejadi-jadinya sampai bersedia dipukuli seperti anjing kampung segala.
Orang yang menghina bangsa anda tersebut melakukan itu karena pernah merasa dihina oleh aparat resmi negara anda dan juga merasa terhina karena sikap kebanyakan bangsa anda yang melecehkan orang yang berasal dari negara yang sama dengannya. Tapi ajaibnya dalam tulisan yang sama anda meminta orang yang menghina bangsa anda tersebut untuk tidak emosi dan marah-marah terhadap apa yang dilakukan aparat resmi dan kebanyakan bangsa anda. Anda memintanya menahan diri dan memaklumi apa yang dilakukan oleh bangsa anda dan menuntutnya untuk melihat Malaysia melalui kacamata anda. Menurut anda orang itu tidak selayaknya marah, sakit hati dan merasa terhina. Karena menurut anda yang melakukan penghinaan itu hanyalah segelintir anak bangsa anda.
Anda bisa melihat sendiri bahwa kejadian di atas adalah situasi yang PERSIS SAMA yang dihadapi oleh dua orang berbeda bangsa. Tapi dalam pandangan anda, untuk kasus (kes dalam bahasa anda) yang PERSIS SAMA ini, Melayu Malaysia (anda) boleh marah dan sakit hati sementara "Indon" harus menahan diri.
Perilaku seperti yang anda tunjukkan ini (hanya saya yang boleh begini) tidak lain adalah perilaku manusia yang merasa bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain. Ini adalah ciri dari manusia yang merasa diri Über Alles. Perilaku seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan inilah yang menjadi dasar bagi saya untuk mencap bangsa anda sebagai "Malaysia Über Alles".
Sebagai warga dari negara yang saya tuduh tersebut, anda tentu tidak bisa menerima tuduhan saya itu. Jadi Dr. Kamarulzaman Askandar, tolong beri saya sebuah jawaban yang logis dan masuk akal. Sebagai Manusia, kualitas lebih apa yang dimiliki oleh bangsa anda dibanding kami dan hak istimewa apa yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa anda sehingga anda merasa hanya bangsa anda yang boleh marah dan sakit hati ketika dihina?.
Saudara Kamarulzaman Askandar, dengan tulisan yang sangat kasar terhadap bangsa anda ini. Sebenarnya saya ingin agar perilaku bangsa anda yang merasa "bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain" seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan ini bisa dikurangi. Supaya ETIKA yang sangat mendasar seperti yang saya sebutkan di atas bisa kita bicarakan. Karena kalau ETIKA PALING DASAR ini saja sudah tidak bisa dibicarakan, maka kita sama sekali tidak perlu lagi membicarakan moralitas. Tidak perlu lagi berbicara masalah benar-salah secara etika, apalagi hubungan persaudaraan antar bangsa seperti yang anda terangkan di awal tulisan anda.
Dalam situasi IMMORAL seperti perilaku yang anda tunjukkan dalam tulisan anda ini, yang diperlukan tinggal kuat-kuatan otot saja sehingga kemudian yang terjadi adalah HUKUM RIMBA.
Harapan saya, dengan memahami etika dasar ini anda akan mengerti, bahwa ketika anda membiarkan segelintir anak bangsa anda menghina bangsa lain. Itu artinya anda telah mengundang bangsa lain untuk menghina bangsa anda pula. Ketika segelintir anak bangsa anda menyebut bangsa lain dengan panggilan 'indon" yang merendahkan, maka tidak lain apa yang sedang dilakukan oleh segelintir anak bangsa anda tersebut adalah mengundang bangsa lain untuk menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Gila","Melayu Kemaruk" "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung" dan berbagai sebutan buruk lainnya.
Selanjutnya, melalui tulisan saya yang sangat kasar ini, saya hanya ingin mengajak anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya untuk sedikit menunjukkan empati saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu hadir dalam diri kami. Saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu datang, bukan berbagai alasan akademis, analisa logis dan pemaparan berbagai budi baik bangsa anda yang kami butuhkan. Yang kami butuhkan dari bangsa anda hanya secuil maaf yang diucapkan dengan penuh rasa empati.
Dengan merasakan sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda dan bangsa anda bisa melakukan introspeksi. Bukan seperti yang selama ini terjadi, setiap kami merasakan RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu, kamilah yang selau dituntut (entah itu oleh segelintir anak bangsa kami atau dari bangsa anda sendiri) untuk mengerti dan melakukan introspeksi, seolah bangsa anda itu adalah bangsa para dewa yang tidak pernah bersalah dan selalu suci.
Akhirnya saya berharap supaya Tuhan memberi anda kesehatan supaya suatu saat kita bisa mendapat kesempatan untuk bertemu kembali, supaya kita bisa berdiskusi sambil bertatap muka. Bukan hanya melalui perbincangan di milis semacam AI ini.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)
