Selasa, 30 Maret 2010

Cina - Amerika : Menonton Pertarungan Koboi Versus Naga

Tanggal 22 dan 23 maret kemarin, dalam artikel http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/22/03405994/china.juga.merangsek.ke..asia.tengah dan http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/23/03222371/Rintis.Kembali.Jalan.Sutra Kompas dua hari berturut-turut menurunkan berita tentang ekspansi Cina membangun pengaruh di Asia Tengah.

Sebelumnya pada awal tahun 2009, Hu Jintao, presiden RRC melakukan safari ke Afrika yang kemudian diikuti dengan aksi menebarkan investasi yang hampir merata di semua negara afrika, mulai yang terkecil sebesar 330 juta euro untuk investasi di bidang pertambangan uranium, minyak dan konstruksi di Niger, sampai yang terbesar untuk Sudan dan Ethiopia masing-masing sebesar 15 miliar Euro. Di Sudan Cina menggelontorkan uang sebanyak itu untuk berinvestasi di bidang perminyakan, pertanian dan konstruksi, sementara di Ethiopia Cina menginvestasikan uang sebanyak itu untuk membangun bendungan, perumahan, jalan dan telekomunikasi (lengkapnya lihat http://www.lefigaro.fr/assets/pdf/090210-AFRIQUE-CHINE-V2.pdf ). Apa yang dilakukan oleh Cina di Afrika ini benar-benar membuat gentar eropa, terutama perancis yang memiliki hubungan khusus dengan Afrika karena hampir setengah benua ini adalah bekas jajahan mereka dan sampai saat ini pun tetap menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa Nasional. Le Figaro, salah satu koran paling berpengaruh di negara ini sampai merasa perlu menurunkan berita khusus untuk mengulas apa yang dilakukan oleh Cina di Afrika ini dalam artikel ini le Figaro menyalahkan sikap perancis yang selama ini kurang begitu mempedulikan Afrika sehingga peluang pun disambar oleh Cina (baca : http://www.lefigaro.fr/economie/2009/02/10/04001-20090210ARTFIG00462-pekin-profite-des-faiblesses-francaises-en-afrique-.php)

Berita-berita yang diturunkan oleh Kompas dan Le Figaro ini menunjukkan tanda-tanda yang begitu jelas kalau di abad ke 21 ini Cina akan dengan serius menggerogoti dominasi eropa dan terutama Amerika dalam politik dan ekonomi internasional yang telah menjadi hegemoni sejak berakhirnya perang dunia kedua. Sekarang dunia melihat Cina begitu giat berusaha membangun pengaruh kuat dalam pergaulan internasional.

Dari segi ekonomi apa yang dilakukan Cina ini bisa dipahami sebagai usaha Cina untuk membuka pasar baru bagi produk-produk yang mereka hasilkan. Karena sebagaimana ekonomi Amerika belakangan ini semakin lama semakin tidak sehat karena begitu bergantung pada konsumsi, ekonomi Cina juga juga tidak sehat, tapi dengan alasan yang berbanding terbalik dengan Amerika. Ekonomi Cina tidak sehat karena justru sangat tergantung pada produksi tanpa didukung oleh kemampuan konsumsi yang memadai.

Ekonomi bisa dikatakan sehat wal afiat adalah ketika kemampuan produksi bisa diimbangi oleh kemampuan konsumsi. Situasi seperti inilah yang membuat Indonesia secara konyol selamat dari terjangan krisis global yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Saya katakan konyol karena situasi seperti ini terjadi bukan karena didesain sedemikian rupa oleh pemerintah Indonesia, tapi situasi seperti ini terjadi justru karena ketidak mampuan pemerintah Indonesia memacu ekspor. (Jadi teringat ketika dulu ketika krisis ini terjadi saya sempat berdebat dengan beberapa miliser perihal efek krisis ini terhadapa Indonesia, saat itu banyak miliser yang Amerika sentris yang melecehkan pendapat saya yang mengatakan kalau krisis ini tidak akan memiliki dampak yang cukup berarti untuk Indonesia)

Krisis yang sama telah membuat negara-negara yang menggantungkan ekonominya pada ekspor (di kawasan katakan saja SIngapura dan Thailand) benar-benar babak belur dan menderita.

Cina adalah negara yang ekonominya didorong oleh ekspor, bukan impor. Impor Cina memang cukup besar juga, tapi barang-barang yang diimpor oleh Cina seperti gas, minyak, karet, baja dan berbagai bahan mentah lainnya bukan untuk sekedar dikonsumsi sendiri, melainkan digunakan untuk membuat produk yang diolah dan kemudian dilempar kembali ke pasar luar negeri.

Pada sisi lain, pada kenyataannya, ekonomi dunia adalah "buyer market" - bukan "seller market". Di pasar Internasional, jauh lebih mudah menemukan penjual ketimbang pembeli.

Cina sendiri bukan hanya sekedar negara produsen, tapi negara produsen raksasa yang benar-benar menggantungkan ekonominya pada kekuatan produksi. Lalu dengan status se-raksasa itu kita pun tentu bertanya, siapakah yang menjadi pembeli terbesar yang memiliki kemampuan memadai untuk menampung produk Cina yang memiliki skala raksasa itu?... jawabannya adalah AMERIKA.

Walmart jaringan supermarket terbesar di Amerika adalah distributor terbesar di dunia untuk barang-barang produksi Cina, sebegitu besarnya sampai nilai produk Cina yang didistribusikan Walmart bahkan lebih besar daripada ekspor Cina ke Jerman.

Dari segi ini, kita bisa melihat bahwa antara Cina dan Amerika terjadi hubungan yang dalam pelajaran biologi disebut simbiosis mutualisme, orang Amerika senang ke Walmart karena harga produk di sana murah. Dan bagi Cina - Walmart adalah motor penggerak ekspor yang menopang ekonomi negara itu.

Tapi masalahnya hubungan seperti ini sifatnya sangatlah rentan alias rapuh, karena dalam situasi seperti ini, nasib Cina adalah nasib Amerika. Amerika berhenti membeli berarti produk Cina tidak akan laku, artinya menjadi sampah.

Rentannya hubungan seperti ini tampaknya sangat disadari oleh Cina, pada sisi lain, mereka juga sadar, adalah sama sekali tidak mungkin untuk memacu kemampuan konsumsi warganya secara instant agar mampu mengimbangi dahsyatnya kemampuan produksi negara itu.

Lalu apa solusi yang harus diambil dalam menghadapi situasi seperti ini, PERLUAS dan kalau perlu CIPTAKAN PASAR BARU! Dan inilah yang tampaknya belakangan ini sedang dilakukan dengan gencar dan agresif oleh Cina (salah satunya dengan bergabung di CAFTA). Untuk mencapai maksud ini Cina bahkan merambah wilayah Asia Tengah dan Afrika, yang selama ini banyak dilupakan oleh kekuatan tradisional ekonomi dunia, seperti

Melihat perkembangan aktivitas yang dilakukan oleh Cina ini, Amerika patut ketar-ketir. Karena dengan agresifnya Cina menyebarkan pengaruh ini, negara-negara yang selama ini bisa dengan mudah disetir oleh Amerika dengan memaksakan demokrasi ala mereka dengan berbagai ancaman, sekarang jadi punya alternatif lain. Sekarang, kalau Amerika menekan sebuah negara terlalu keras dengan alasan HAM dan demokrasi, negara yang bersangkutan akan dengan mudah berpaling ke Cina.

Ambil contoh Indonesia misalnya, sekarang Amerika pasti ketar-ketir jika terlalu keras menekan Indonesia. Mereka pasti berhitung, bagaimana kalau nanti Indonesia mengancam balik dan mengatakan bukan hanya ingin sekedar menandatangani perjanjian perdagangan dengan Cina, tapi juga berencana melakukan kerja sama militer. Jika ini dilakukan oleh Indonesia, Cina juga pasti akan sennang sekali, karena dengan posisi geografisnya yang sangat strategis, Indonesia akan bisa menghadang pengaruh Australia di Selatan. Apalagi kemudian faktanya Indonesia memiliki sumber daya energi yang sangat dibutuhkan Cina.

Keagresifan Cina ini bisa jadi semakin membuat gusar Amerika karena faktanya selama ini, sejarah menunjukkan, dari semua musuh Amerika, hanya Cinalah yang benar-benar bisa membuat Amerika limbung.

Dulu suatu ketika (seperti AC Milan) pernah ada Uni Sovyet yang pernah menjadi superpower menandingi Amerika, tapi sejarah juga menunjukkan kalau dalam perkembangan selanjutnya Uni Soviet hancur berantakan, kalah dalam permainan politik internasional dengan Amerika.

Dulu ada Sukarno yang begitu garang menyuarakan sikap anti Amerika, tapi kemudian dia pun selesai, digulingkan oleh Soeharto yang oleh banyak peneliti independen disinyalir dibekingi CIA, dan secara tragis Soeharto juga kemudian dia pun terjembab oleh orang yang dulu menaikkannya.

Lalu dalam kelompok anti Amerika ini, ada negara-negara Islam seperti Iran, tapi sayangnya negara ini hanya bisa melawan dengan sikap dan kata-kata tanpa pernah benar-benar bisa menyakiti Amerika. Dalam kelompok ini ada juga Iraq dengan Saddam Hussein-nya, tapi sejarah kembali menunjukkan kalau di amblas remuk hancur lebur dihina Amerika dan Irak yang dulu tampak begitu perkasa pun menjadi negara tak bertuan yang babak belur sampai hari ini.

Di belahan dunia lain ada Che Guevara dan Fidel Castro yang setengah mati melawan pengucilan Amerika, di Chili ada Alliande yang senasib dengan Soekarno terkapar di K.O oleh Pinochet yang seperti Soeharto sama-sama dibekingi CIA.

Lalu bagaimana dengan Cina?. Saat masih dipimpin oleh Mao Tse Tung, Cina pernah secara gemilang berhasil mengalahkan Amerika dalam perang Korea. Saat itu tentara Cina berhasil membunuh banyak tentara Amerika yang dipimpin oleh Jendral Mac Arthur yang legendaris, yang mencari gara-gara untuk berperang melawan Cina.

Tapi meskipun menang, Cina malah menjadi sangat menderita sebagai akibat dari pertempuran yang dimenangkannya itu. Akibat dari perang melawan Amerika itu, Cina jadi berhutang banyak pada Uni Soviet yang memberinya hutang senjata. Kemudian, Amerika yang sangat malu karena dikalahkan Cina pun semakin parah mengucilkan Cina. Lebih parah lagi kemudian hubungan antara Cina dan Soviet pun merenggang.

Masalah yang bertubi-tubi ini tentu membuat situasi yang dihadapi Cina menjadi sangat sulit. Tapi anehnya, meskipun begitu Cina di bawah pimpinan Mao tidak malah mengemis-ngemis minta dikasihani oleh Uni Soviet. Mereka juga sama sekali menolak untuk pun mundur dari tantangan Amerika. Dalam menghadapi situasi seperti itu, Cina malah menutup diri, bekerja keras dan kemudian Cina membayar lunas semua hutangnya kepada Uni Soviet.

Cina di bawah Mao saat itu mirip seperti tim Inter Milan yang merupakan tim favorit saya di Liga Italia. Dipuntir begini, diisolasi begitu, di kata-katain begini begitu, tetap saja tidak bergeming.

Setelah diperlakukan sedemikian rupa, tapi tidak juga hancur. Seperti Juventus dan AC Milan di Liga Italia yang mati kutu menghadapi Inter Milan dengan Jose Mourinho-nya (sayangnya dua hari yang lalu Inter dikalahkan Roma), Amerika sendiri pun akhirnya mati kutu menghadapi Cina dengan Mao-nya.

Dua kali berperang melawan Cina di bawah Mao, Amerika kalah total, baik di Korea maupun di Vietnam. Di Vietnam Cina membantu menyelundupkan senjata, tapi akhirnya Cina ikut masuk memerangi dan mengalahkan Vietnam setelah Vietnam mulai membunuhi orang-orang etnis Cina di Vietnam.

Keberhasilan Cina mengalahkan Vietnam ini seperti menampar Amerika dengan telak di wajah. Dengan keberhasilannya di Vietnam itu, Cina seolah-olah sedang mengajari Amerika berperang. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, selain John Rambo yang perkasa dan tak terkalahkan, tentara yang tergabung dalam pasukan Amerika yang lain semua mati kutu di Vietnam (baca : http://www.onwar.com/aced/data/charlie/chinavietnam1979.htm)

Akhirnya, mau tidak mau, Amerika melalui Nixon terpaksa berkunjung ke Cina pada tahun 1972. Presiden Amerika, mengunjungi negara penganut ideologi komunias yang sagat dibencinya, membuat orang pun tidak bisa tidak, membaca kalau kunjungan Amerika ini tidak lain adalah "pengakuan Amerika atas kehebatan Cina di bawah Mao".

Dalam pertarungan melawan Amerika, Cina pasca Mao malah makin menggila. Cina pasca-Mao ini malah berhasil menisbikan kebijakan moneterisme di Amerika dengan cara meng-peg mata uangnya (ini membuat Amerika sangat gusar, bahkan beberapa hari yang lalu kita membaca berita Amerika mengancam akan melaporkan Cina ke WTO). Cina berhasil memaksa Inggris dan Portugis mengembalikan Hong Kong dan Makau kepada mereka, Cina berhasil menggerogoti pengaruh Amerika di Asia Tenggara. Cina juga berhasil menggoyang loyalitas sekutu Amerika, contohnya Australia yang takut ekspor bajanya terganggu secara nyata mengatakan kalau mereka tidak akan ikut-ikutan kalau Amerika berperang melawan Cina.

Sial untuk Amerika, ketika Cina demikian lucu-lucunya, yang dengan agresif melebarkan pengaruh dalam politik luar negeri, Amerika si super power malah dipimpin oleh Barrack Hussein Obama, presiden yang meskipun memiliki latar belakang sangat menginternasional tapi kenyataannya spesialisasinya adalah pada isu-isu domestik saja. Bukti paling nyata dari hal ini adalah bagaimana Obama menghabiskan satu tahun pertama masa pemerintahannya hanya untuk menggoalkan UU jaminan kesehatan yang adalah permasalahan domestik. Pilihan yang membuat mereka semakin tertinggal oleh Cina dalam berebut pengaruh di dunia.

Wassalam

Win Wan Nur
Fans Inter Milan yang Suka Mengamati Apa Saja.

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Selasa, 09 Maret 2010

Masalah Kopi di Tanoh Gayo, Penghasil Kopi Arabika TERBESAR di Asia

Tadi saya membaca sebuah diskusi menarik di Forum Diskusi Prospek Kopi Arabica di Tanoh Gayo.

Melihat diskusi ini, saya salut melihat kawan-kawan yang berpikir begitu panjang soal masa depan kopi Gayo.

Ada macam-macam persoalan perkopian yang dibicarakan dalam forum ini dari yang konyol sampai yang serius.

Misalnya di forum ini ada yang meragukan keterkenalan Kopi Gayo dan membandingkannya dengan terkenalnya Kopi UK alias Kpoi Ulee kareng yang tidak menggunakan Kopi Gayo, alias Ulee Kareeng, padahal ini jelas seperti membandingkan keterkenalan M. Basir mantan kiper Persiraja (kiper Persiraja yang sekarang saya tidak tahu namanya) dengan Sebastien Frey Kiper Fiorentina. Yang satu adalah Kiper terbaik yang sangat terkenal di Aceh, sementara yang satu lagi adalah kiper kelas menengah yang meskipun nggak dipanggil ke Timnas Perancis, tapi bermain di klub menengah di salah satu liga terbaik dunia.

Kopi UK hanyalah kopi konsumsi lokal yang kualitas dan penangananannya sama sekali tidak memenuhi persyaratan ekspor. Kopi ini hanya dikenal oleh para peminum kopi lokal yang karena beberapa kali diulas di TV kemudian jadi terkenal juga secara nasional. Tapi, para konsumen kopi Internasional yang memilih Kopi yang diminum dengan panduan ahli pencicip rasa, yang berlangganan majalah kopi untuk memastikan kopi yang dia minum adalah kopi terbaik jelas sama sekali tidak mengenal kopi Ulee Kareeng dan kalau pun mengenalnya tidak akan pernah berpikir untuk mengklasifikasikan kopi Ulee Kareeng menjadi salah satu jenis kopi unggulan. Sementara Kopi gayo meskipun bukan yang terbaik, tapi termasuk salah satu jenis kopi yang sangat dikenal dan sering diulas oleh para pecinta kopi dunia.

Seperti M. Basir yang merupakan Kiper terbaik di Aceh, dia sangat terkenal di Aceh, tapi tentu saja tidak ada pelatih yang cukup gila untuk menjadikannya kiper di sebuah klub yang berada di zona degradasi di sebuah liga eropa tidak terkenal, semacam liga Latvia.
Kemudian ada peserta forum yang mengaitkan masa depan Kopi Gayo dengan adanya CAFTA dan menghubungkannya dengan produksi kopi Vietnam. Beberapa dari teman-teman ini rupanya khawatir dengan masa depan pasar Kopi Gayo dengan adanya CAFTA ini.

Menanggapi ini ada dua orang yang bernama hadian dan Pak Sahrial Wahab yang sama sekali tidak khawatir dengan prospek kopi Gayo dengan adanya pasar bebas Cina dan ASEAN ini.

Dalam diskusi ini saya berada dalam kubu yang sama dengan Hadiyan dan Pak Sahrial Wahab dan bersepakat dengan mereka bahwa CAFTA ini sebenarnya sangat tidak nyambung kalau dikaitkan dengan kopi Gayo, sebab keberadaan CAFTA memang sama sekali tidak membawa pengaruh signifikan terhadap pangsa pasar Kopi Gayo, karena negara-negara CAFTA bukanlah pasar yang secara tradisional merupakan pasar yang menjadi tujuan Kopi Gayo.

Kemudian ketakutan dengan adanya CAFTA dalam kaitannya dengan produksi kopi robusta Vietnam yang dikhawatirkan akan menurunkan daya saing kopi Gayo di pasar dalam negeri juga saya pikir sama sekali tidak ada dasarnya. Sebab Kopi Gayo adalah kopi arabica yang memang tidak dipasarkan di dalam negeri. Bahkan sepengetahuan saya, Kopi Gayo yang dijual di Starbuck-pun mereka beli dari Importir Kopi Gayo di Amerika sana, tidak langsung dari Takengen, jadi apa yang perlu ditakutkan dari Vietnam.

Kekhawatiran ini juga tidak ada dasarnya meskipun sekarang katanya Vietnam sudah mulai mengembangkan kopi Arabika.

Kita tidak perlu khawatir karena untuk mengembangkan Kopi Arabica tidaklah gampang, banyak syarat khusus yang dibutuhkan, terutama yang berkaitan dengan ketinggian dan jenis tanah Vulkanik. Ketinggian minimal untuk menanam kopi Arabica bermutu lumayan adalah 800 mdpl. Tapi untuk menghasilkan Kopi Arabica bermutu baik, dibutuhkan lokasi dengan ketinggian antara 1200-1700 Mdpl. Ketinggian lokasi tanam inilah yang mutu Kopi Singah Mulo an Ronga-ronga jauh di bawah mutu kopi Arabica produksi Lukup Sabun.

Syarat yang khas ini pula yang membuat di Asia, tidak banyak tempat yang bisa memenuhi persyaratan ini. Itulah sebabnya kenapa DATARAN TINGGI GAYO merupakan penghasil Kopi Arabica TERBESAR di ASIA.

Meskipun dikatakan Vietnam telah mampu meningkatkan produktivitasnya lebih dari 5 kali lipat seperti harapan menterinya, tapi masalah kopi ini bukanlah hanya sekedar urusan produktivitas, tapi yang terpenting di atas semuanya adalah KUALITAS RASA yang disukai pasar.

Untuk sebagai perbandingan bisa dilihat dalam komentar dalam diskusi yang berlangsung di www.coffeeforums.com

Untuk Kopi Vietnam baca di sini : http://www.coffeeforums.com/viewtopic.php?f=10&t=7203

Any ''experts'' out there who can give me information about the taste of Vietnamese coffee versus coffees from other countries.

I find Viet coffee never tastes the same when I bring it home, maybe it''s the water there/here ?

from what I know about Vietnamese coffee's, they are mostly robusta's :oops:

3rd biggest producer globally, but indeed mainly robusta (including now some "gourmet" robustas that are washed, polished etc...but still taste like robusta :evil: ). Some Arabica being produced n the highlands, the government is now trying to focus energies on developing the Arabica sectors. Strong internal consumption of mainly robusta- maybe harks back to the French colonial periods. Despite the French being known for their cuisine, their coffee have traditionally been low grade arabica, robusta or anything spiced up with roasted chicory. I think the French generally got the short end of the stick when the Colonial powers carved up the Coffee growing world- with the exception of perhaps Martinique

Untuk Kopi Gayo, baca di sini : http://www.coffeeforums.com/viewtopic.php?f=10&t=7014

Indonesia obviously grows a lot of coffee. However most of this is Robusta, only around 13% is Arabica. Of this 13% around 60% of all Arabica comes out of Aceh (the PKGO coop, PT Hollands Gayo Mountain, Gayoland etc) or North Sumatra (Mandehlings, Lintongs, Sidikalangs etc).

The Acehnese Arabica's are periennial favorites, and a lot make their way to the USA through companies such as Fairtrade advocate ForesTrade...

Personally I rate Acehnese Arabica in the top 5 of coffee I roast from Indonesian origins. However I also think there are some really great origins out there that do not get the benefit and support through NGO funding that Aceh gets. With little more funding shared out through the rest of Indonesia, it would benefit coffee in general here.

Komentator di kedua diskusi ini adalah orang yang sama.

Di pasar Dunia, Kopi Gayo dikenal sebagai jenis Kopi Premium dengan produksi terbatas sebagaimana halnya kopi Ijen, Kolombian Supremo, Jamaican Blue Mountain, Kona Hawai, Harar dan lain-lain. Kopi-kopi jenis ini bisa dikatakan tanpa pesaing karena masing-masing punya ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh kopi yang berasal dari daerah lain.

Kopi jenis ini berbeda dengan Kopi Brazil atau Kolombia biasa yang dianggap sebagai barang kodian. Meskipun memang harga Kopi Premium inipun fluktuatif mengikuti harga kopi produksi massal.

Jadi daripada pusing tidak berguna memikirkan Vietnam dan CAFTA, saya pikir justru jauh lebih penting kita pikirkan adalah bagaimana cara meningkatkan KUALITAS kopi yang diproduksi oleh petani Tanoh Gayo.

Karena sebagaimana disampaikan seorang peserta forum ini yang bernama Zulfikar Ahmad, menurut laporan International Coffee Organization (ICO) Jepang dan USA menunjukan angka penurunan komsumsi dari tahun ke tahun.

Perlu kita ketahui bersama bahwa penurunan ini bisa terjadi adalah akibat dari penurunan kualitas kopi yang diproduksi dunia, sehingga peminum fanatik kopi beralih ke minuman lain.

***

Sepuluh tahun silam, saya diundang oleh FAO untuk mengikuti Konferensi meja Bundar Kopi se- Asia pasifik di Chiang Mai, Thailand.

Dalam forum yang saya ikuti itu, panitia juga mengundang kalangan roaster yang menjadi sasaran akhir ekspor biji kopi sebelum mereka ubah menjadi kopi siap konsumsi.

Salah seorang yang hadir dari kalangan roaster itu bernama DR. Ernesto Illy (yang saat itu berumur 75 tahun, beliau meninggal pada 3 februari 2008 lalu) http://coffeegeek.com/opinions/coffeeatthemoment/02-04-2008 . DR. Illy yang sangat dihormati semua peserta konferensi ini adalah penemu mesin espresso pertama sekaligus pemilik Illy Cafe yang merupakan salah satu roaster Kopi terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Dr Illy, mewarisi perusahaan yang sebelumnya memproduksi Coklat ini dari bapaknya.

Dalam forum ini dan dilanjutkan dengan bincang-bincang sesudah acara, DR. Illy menceritakan kepada saya kalau menurunnya konsumsi kopi di beberapa negara pengkonsumsi kopi terbesar diakibatkan oleh meluasnya pembudidayaan kopi Catimor dalam industri pertanian kopi dunia. Menurut DR. Illy, saat kami berbicara waktu itu sudah lebih dari setengah produksi kopi dunia adalah jenis Catimor.

Dalam bahasa DR. Illy (bahasa Inggris berlogat Italia), jenis kopi Catimor ini dideskripsikan sebagai "High yield but bad in taste, makes farmers happy but not consumers"

Menurut DR. Illy, Catimor ini memang menarik jika dilihat dari jumlah produksi, tapi sangat tidak menarik dari segi kualitas. Meskipun kopi varietas ini telah secara resmi dikategorikan sebagai kopi arabica, tapi karena secara genetik Kopi ini memiliki gen kopi Robusta, maka dalam karakter rasa Kopi catimor ini masih tersisa karakter robusta yang kurang disukai oleh penikmat kopi Eropa dan Amerika yang merupakan pangsa pasar terbesar kopi Dunia (lebih dari 70%). Kata Dr. Illy, biji Kopi Catimor ini banyak mengandung minyak sebagaimana halnya biji Kopi Robusta.

Keluhan DR. Illy ini juga merupakan keluhan dari semua roaster yang hadir dalam konferensi itu, mereka semua mengeluhkan hal yang sama. Kalau ingin merebut kembali pangsa pasar peminum kopi, para Roaster itu menyarankan para petani untuk menanam kopi jenis Bourbon (Seperti jenis kopi yang ditanam di Gayo sekitar 40 tahunan yang lalu). Kopi jenis Bourbon inilah yang sebenarnya telah membuat nama Kopi Gayo melejit di kalangan penggemar kopi dunia.

Dalam konferensi itu, delegasi Vietnam menjadi bulan-bulanan seluruh peserta konferensi (termasuk saya) karena mereka seperti orang autis yang hanya berfokus pada peningkatan produksi semata (dalam makalah yang disampaikan wakil mereka dalam konferensi itu, Vietnam melulu menceritakan tentang usaha mereka memperluas dan meningkatkan produksi kopi). Padahal pada saat itu seluruh peserta konferensi datang ke konferensi tersebut dengan sebuah isu besar bernama OVER PRODUCTION alias kelebihan produksi yang tidak terserap pasar, yang pada tahun itu sudah mencapai 3,7%.

Pada tahun itu produksi kopi dunia ada 113.033.000 karung yang setara dengan 6.781.980 Ton. Sementara Produksi Kopi Indonesia pada tahun itu adalah 6.987.000 Karung yang setara dengan 419.220 Ton. Jadi kalau ada 3,7 % dari jumlah itu yang tidak terserap pasar artinya jumlah itu adalah 4.182.221 atau hampir 60% jumlah produksi Kopi Indonesia.

Atau kalau kita bandingkan dengan produksi kopi Gayo, Kalau di tanah Gayo kita asumsikan ada 90 ribu hektar lahan Kopi (pembulatan ke atas) dengan produksi antara 700-1000 Kg per tahun, kita hitung maksimal ada 1.500.000 Karung kopi per tahun, maka artinya setiap tahun ada kopi sebanyak tiga kali lipat produksi seluruh kopi Gayo yang tidak terserap pasar.

Jadi begitulah kira-kira peta perkopian di kawasan ini, sehingga kalaupun Vietnam kemudian mengembangkan Kopi Arabica (sebagaimana yang telah dilakukan Thailand), jelas mutunya tidak akan dapat menyaingi mutu Kopi Gayo dan pasarnya juga nantinya tidak akan mengganggu pasar Kopi Gayo. Karena dengan karakter tanah dan ketinggian tempat yang ada di Vietnam, paling banter mereka hanya akan bisa maksimal menghasilkan Kopi Arabica dengan mutu paling tinggi seperti Kopi Singahmulo.

Sementara di berbagai belahan dunia, orang mulai menyadari pentingnya kualitas ini.

Contohnya misalnya terjadi pada beberapa perkebunan Kopi di Jawa.

Sadar akan pentingnya kualitas dalam industri perkopian ini, beberapa perkebunan kopi besar di Jawa (yang memiliki luas lahan di atas 1000 hektar) belakangan juga mulai mengubah strategi dalam pemilihan jenis tanaman kopi. Contohnya perkebunan Kali Klatak yang karena menyadari harga Kopi Arabica yang dua kali lipat lebih mahal dibanding Kopi robusta, dulu menanam kopi Arabica di lahan mereka yang memiliki ketinggian di bawah 800 Mdpl, tapi karena mutu kopi yang dihasilkan tidak bagus dan memiliki banyak defects (biji kopi rusak), ujung-ujungnya ternyata lebih menguntungkan menanam Robusta, karena itulah tahun ini mereka membongkar semua kopi Arabica di kebun mereka dan menggantinya dengan Robusta.

Contoh lain adalah Burma yang sejak beberapa tahun sebelum konferensi itu telah mem-ban kopi jenis Catimor dan hanya menanam Bourbon, sehingga mereka berhasil mendapatkan harga yang baik untuk kopi mereka (bersyukurlah bahwa lahan yang cocok untuk ditanami Kopi di Burma itu sedikit sekali).

***

Sangat menarik ketika peserta forum yang bernama Hadiyan mengaitkan Kopi Gayo dengan Kopi Blue Mountain, menurut hadiyan Kopi gayo harus mempertahankan dan meningkatkan kwalitas dan menjaga brand image produk supaya bisa seperti Blue Mountain yang harganya jauh lebih mahal dibanding kopi Gayo (kopi gayo sekitar US$ 5/kg sedangankan Jamaica coffee blue mountain bisa mencapai US$ 160/kg)

Saya sangat sepakat dengan Hadiyan meskipun saya tidak sepakat perbandingan harga antara kopi gayo dan coffee blue mountain yang dia sebutkan, karena meskipun Blue Mountain jauh lebih mahal ketimbang kopi Gayo tapi perbedaannya tidak seekstrim yang digambarkan oleh Hadiyan, karena beda harga antara gayo Mountain Coffee dengan Jamaican Blue Mountain Coffee 'hanya' sekitar 3 kali lipat saja, contohnya bisa dilihat pada harga yang dipatok oleh perusahaan Joe's di http://www.joescoffeehouse.com/catalog.aspx?id=100 dimana Gayo Mountain dipatok seharga $16.95 dan Jamaica Blue Mountain dipatok seharga $51.95.


Apa yang membuat perbedaan harga yang mencolok antara Kopi Gayo dengan Kopi Blue Mountain itu adalah KESERAGAMAN dalam hal kualitas.

Kopi Gayo kualitasnya tidak seragam. Ketidak seragaman itu dimulai dari apa yang disebut dengan Kopi Gayo ini sendiri sebenarnya adalah berbagai ragam jenis dan kualitas Kopi dengan berbagai jenis karakter tanah dan ketinggian tumbuh yang terbilang ekstrim. Sekitar 700-an Mdpl di Singah Mulo, sampai 1500-an Meter di Lukup Sabun. Mulai dari yang tumbuh di lahan Vulkanis (Lukup Sabun, Bandar lampahan, Simpang balik sampai di bener Meriah) dan bukan vulkanis di Jagong Jeget, Batu Lintang dan sekitarnya. Lalu Kopi Gayo juga terdiri dari berbagai varietas Kopi yang berbeda-beda.

Kemudian juga ketidak seragaman dalam penanganan pasca panen sehingga kualitasnya tidak pernah bisa standar.

Atas dasar itulah, kalau kita memang ingin membangun Brand Kopi Gayo yang kuat, saya pikir yang pertama kali harus kita lakukan bukanlah memacu produktivitas, tapi meningkatkan kualitas yang bisa kita mulai dengan mengklasifikasikan kopi di tanoh Gayo berdasarkan daerah tumbuhnya, dan mulai mengembangkan varietas sesuai dengan selera konsumen, bukan bersikap autis dengan pikiran hanya untuk menggenjot produksi seperti Vietnam.


Wassalam

Win Wan Nur

Sabtu, 06 Maret 2010

Mengintip Sejarah Gayo Melalui Silsilah Keluarga

Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq.

Bagi kami orang Isaq dan juga orang Gayo yang tinggal di tempat lain, masa sebelum abad ke 20 adalah masa pra sejarah. Seperti apa keadaan Gayo sebelum abad ke-20, hanya bisa kami ketahui melalui dongeng, kisah dan legenda yang kami sebut kekeberen.

Jadi asal-usul bagaimana keluargaku sampai menetap di Isaq pun, aku hanya tahu dari 'kekeberen' yang kudengar dari kakekku.

Ada dua versi tentang asal-usul keluarga kami yang kudengar dari kakekku.

Pertama, kata kakekku kami adalah keturunan Datu Merah Mege, anak bungsu dari Muyang Mersa yang merupakan penguasa Linge (sebagaimana juga banyak diklaim oleh orang Isaq lainnya). Karena merasa iri, oleh abang-abangnya, Datu Merah Mege yang merupakan anak kesayangan Muyang Mersah ini pernah dijatuhkan oleh abang-abangnya ke dalam sebuah goa berbentuk sumur yang sampai hari ini dinamakan Loyang Datu (Gua Datu). Datu merah Mege bisa bertahan hidup karena bantuan seekor anjingnya yang setia.

Dalam kisah Datu merah Mege ini diceritakan kalau sejak Datu Merah Mege menghilang, anjingnya yang setia itu hanya mau diberi makan nasi kerak dan kemudian langsung menghilang setelah kerak nasi itu diberikan. Kerak nasi itu ternyata tidak dimakan sendiri oleh sang Anjing tetapi kerak nasi itu dia antarkan untuk makanan tuannya Datu Merah Mege yang dijatuhkan oleh kakak-kakaknya ke dalam gua.

Perilaku aneh anjing ini membuat Muyang Mersa yang bersedih hati karena kehilangan anak kesayangannya menjadi curiga. Suatu hari, setelah memberi makan kerak nasi, Muyang Mersa yang merasa penasaran dengan perilaku ini mengikuti anjing ini untuk mengetahui kemana kerak nasi itu dibawa sehingga Muyang Mersa pun sampai ke Gua tempat datu Merah Mege dijatuhkan dan menemukan anak kesayangannya tersebut masih hidup.

Tahu kejahatan mereka terbongkar, abang-abang dari Datu Merah Mege yang bermaksud mencelakakannya itu melarikan diri dari Isaq sebelum Muyang Mersa kembali ke rumah. Dalam kisah ini diceritakan kalau di kemudian hari, abang-abang dari Datu Merah Mege ini kemudian menjadi raja di tempat lain. Salah satu dari abang Merah Mege ini konon bernama Merah Silu yang kemudian lebih dikenal dengan nama Malikussaleh, yang merupakan penguasa pertama kerajaan Islam Pasai.

Kemudian, kakekku juga pernah bilang, kami adalah keturunan langsung dari Maulana Ishaq, seorang Mubaligh yang pertama kali membawa Syi'ar Islam ke Tanoh Gayo, yang dari namanyalah nama ISAQ diambil.

Bisa jadi kisah tentang asal-usul keluarga kami seperti yang diceritakan kakekku ini ada kaitannya dengan posisi keluarga kami yang merupakan keluarga Imem (pemimpin agama) dalam stuktur sosial masyarakat Isaq di masa lalu.

Sebagaimana kampung-kampung Gayo di masa lalu, di Isaq, sebuah kampung, selain merupakan sebuah wilayah alias teritori, kampung juga merupakan satu wilayah politik. Di masa lalu, orang yang tinggal di satu kampung yang sama selalu memiliki asal-usul alias nenek moyang yang sama (mirip seperti karakter desa di Bali). Karena berasal dari nenek moyang yang sama inilah, di masa lalu, orang Gayo dilarang keras untuk menikah dengan orang sekampungnya. Pernikahan seperti ini adalah aib besar yang membuat pelaku pernikahan seperti ini diusir dari kampung.

Di Isaq, ada 5 buah kampung, Kute Riem, Kute Robel, Kute Kramil, Kute Dah dan Kute Rayang. Tapi kalau di Isaq kita menyebut KAMPUNG maka yang dimaksud adalah Kute Rayang yang merupakan kampung asalku. Penduduk Isaq percaya kalau kute Rayang adalah kampung pertama yang ada di Isaq, kemudian ketika penduduknya bertambah banyak mereka menyebar dan mendirikan kampung-kampung lain.

Di Gayo, kadang-kadang orang yang tinggal di dua kampung atau lebih, berasal dari nenek moyang yang sama dan dikelompokkan menjadi satu. Kelompok yang tinggal di kampung yang berbeda tapi memiliki nenek moyang yang sama ini disebut dengan istilah belah. Istilah belah ini digunakan untuk menjelaskan pembagian dari suatu benda yang panjang, misalnya batang kayu yang dibagi dari pusatnya (Baca : Sumatran Politics and Poetics: Gayo History, 1900-1989; Bowen 1991)

Yang terjadi di Isaq juga demikian, dari 5 kampung di Isaq terdapat 3 belah yaitu: Belah Imem, Belah Reje dan Belah Ciq. Seperti kukatakan sebelumnya, keluargaku termasuk dalam Belah Imem.

Di masa lalu, dalam pembagian kekuasaan di Isaq, kekuasaan politik dipegang oleh orang dari Belah Reje yang disebut Kepala Akal (salah seorang keturunan kepala akal terakhir pernah menjadi Bupati Aceh Tengah) dengan orang dari belah Ciq sebagai wakilnya. Tapi hukum dipegang dan ditegakkan oleh orang dari Belah Imem yang disebut Imem Ciq. Semua perkara hukum, semua pertentangan antar warga diselesaikan melalui keputusan yang dibuat oleh Imem Ciq.

Imem Ciq terakhir di Isaq adalah muyangku (kakek dari kakekku) yang bernama asli Muhammad Ali tapi di Isaq sendiri beliau lebih dikenal dengan nama Tengku Due Puluh Due.

* Ada dua versi yang kudengar tentang asal usul nama Due Puluh Due (22) yang disandang Muyang-ku ini. Yang pertama mengatakan nama Due Puluh Due itu menunjukkan kalau beliau adalah Imem Ciq keturunan yang ke-22. Versi kedua mengatakan kalau nama Due Puluh Due itu merefer kepada jumlah penjahat, pencuri, perampok, pengacau dan para pelanggar Hukum berat lainnya di dalam teritori Isaq baik yang berasal dari luar atau dari dalam Isaq sendiri yang dibunuh oleh muyangku. Entah mana yang benar dari kedua versi itu.

Muyangku ini cuma punya satu anak yang sekaligus satu-satunya pewaris di garis keluarga muyangku ini. Tapi anak satu-satunya muyangku yang tidak lain adalah Datu Awanku (bapak dari kakekku) ini pun sebenarnya bukanlah anak kandung Muyangku Tengku Due Puluh Due. Datuku ini sebenarnya adalah anak dari abang Muyangku yang kupanggil dengan sebutan Muyang Pedih (Muyang yang asli) yang merupakan Imem Ciq sebelumnya.

Beserta dengan Istrinya (Muyang ananku), Muyang Pedihku meninggal bersama dengan banyak penduduk Isaq lainnya, saat Isaq terserang penyakit kolera. Ketika beliau meninggal, posisinya sebagai Imem Ciq digantikan oleh Muyang Tengku Due Puluh Due. Kisah asal usul keluargaku hanya aku tahu sampai sebatas ini, bagaimana keadaan keluargakun di generasi sebelum kedua muyangku ini lahir, aku tidak pernah tahu.

Saat Muyang Pedih-ku meninggal, datuku masih bayi dan langsung dirawat dan sangat dimanjakan oleh Muyang-ku Tengku Due Puluh Due yang sebenarnya adalah Ama Ucak(Paman)-nya yang tidak pernah punya keturunan langsung.

Semua sistem sosial kemasyarakatan di Isaq sebagai mana kuceritakan di atas, berlangsung dengan tertib sampai masa sebelum kedatangan Belanda.

Ketika Belanda datang, salah seorang keturunan mantan penguasa di Isaq yang disebut kejurun, bekerja sama dengan Belanda. Dia menjual kampung kami kepada Belanda yang kemudian menempatkan dirinya sebagai penguasa seluruh Isaq, baik secara politik maupun Hukum dan menghancurkan semua sistem yang sudah ada sebelumnya.

Sebelum kedatangan Belanda, memang ada beberapa konflik perebutan pengaruh kekuasaan politik antar beberapa belah di kampung kami. Kakekku tidak menjelaskan dengan detail Kejurun ini dari belah mana (dan akupun tidak pernah tertarik untuk menanyakan karena waktu itu aku tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang penting), tapi sepertinya dia adalah keturunan mantan penguasa di Isaq yang kalah bersaing dengan kepala akal dalam perebutan pengaruh politik.

Kejurun inilah yang menyambut kedatangan Marsose ke Isaq dengan tari Seudati sebagaimana terdokumentasi dalam foto yang sempat di-post oleh I Love Gayo.

Sikap Kejurun yang Pro Belanda, yang menekan masyarakat Isaq dengan pajak-pajak berat ini membuat Kejurun berseteru berat dengan kakekku. Dalam perseteruan ini Kejurun melibatkan Belanda sehingga kakekku pun terpaksa melarikan diri ke Takengen dan tinggal menumpang di sebuah keluarga asal Minang, sehingga orang-orang di Takengen menyangka kakekku adalah orang Minang juga (kakekku bisa masuk ke keluarga Minang, karena guru yang mengajari kakekku baca tulis yang dikirim oleh Belanda ke Isaq adalah orang Minang).

Waktu itu, tidak satupun orang Gayo di Takengen yang tahu kalau kakekku adalah pelarian dari Isaq, sebuah kampung yang jauhnya beberapa hari perjalanan melewati Hutan. Situasi seperti ini membuat Belanda yang mencari-cari kakekku juga tidak tahu, kalau kakekku yang menjadi buronan di Isaq itu sebenarnya ada di Takengen, tinggal di tengah-tengah Masyarakat Minang. Kakekku juga sangat terbantu karena pada saat itu, belum ada kewajiban untuk memiliki KTP yang dilengkapi Pas Foto, jadi Belanda tidak yang tidak punya dokumentasi foto kakekku tidak bisa mencocok-cocokkan wajah kakekku dengan wajah yang ada dalam KTP.

Sikap sewenang-wenang Kejurun yang dibekingi oleh Belanda ini terjadi ketika Muyangku Tengku Due puluh Due sudah wafat.

Saat muyangku Tengku Due Puluh Due masih hidup, Belanda tidak pernah bisa masuk sampai ke Isaq dan keluarga kejurun juga tidak bisa berkutik. Pajak yang memberatkan rakyat Isaq seperti yang dikenakan oleh Kejurun dengan dukungan Belanda, tidak pernah ada semasa kekuasaan di Isaq dipegang oleh Kepala Akal dan Muyangku.

Karena Isaq belum bisa dimasuki Belanda inilah, ketika Belang Kejeren diserang Belanda (Kejadian ini banyak diingat orang karena adanya foto pasukan Marsose yang berpose di tengah tumpukan Mayat penduduk Gayo), banyak penduduk Belang Kejeren yang mengungsi ke Isaq. Saat berada di Isaq, rombongan pelarian dari Belang Kejeren ini diterima dengan baik oleh muyangku.

Pada waktu itu, di antara para pengungsi dari Belang Kejeren itu terdapat dua orang puteri Reje dari Rema yang kedua orang tuanya tewas dalam pertempuran melawan Belanda. Kedua puteri Reje Rema ini melarikan diri bersama para pengawal dan rakyatnya yang masih hidup.

Kebetulan waktu itu datu awanku masih lajang alias belum menikah. Melihat di antara para pengungsi itu ada dua puteri dari Blang Kejeren yang telah menjadi yatim piatu. Muyangku kemudian melamarkan salah satu dari dua puteri itu untuk menjadi istri datu awanku yang saat itu masih lajang. Dari kedua puteri itu, yang dilamarkan oleh muyangku untuk menjadi istri datu awanku ini adalah puteri yang lebih muda dan lamaran itupun diterima dengan baik oleh keluarga sang puteri.

Begitulah, kemudian mereka menikah, puteri yang lebih muda inipun kemudian menjadi Datu Ananku (yang cuma bisa aku ingat dalam sosoknya yang sudah sangat tua dan renta) dan tinggal di Isaq sampai akhir hayatnya.

Setelah kedua datuku menikah, sang kakak bersama para pengawalnya melanjutkan pelarian sampai ke Uning, yang letaknya tidak terlalu jauh dari Takengen. Ketika situasi di Belang Kejeren sudah kembali kondusif, mereka kembali ke Rema dan sejak saat itu komunikasi antara datu ananku dan kakaknya serta semua anggota keluarganya di Rema terputus.

Saat sudah dewasa, kakekku pernah ingin ke berkunjung ke Belang Kejeren untuk menelusuri jejak keluarga kami di sana. Tapi niat kakekku ini selalu dihalangi oleh Datu Ananku "enti Win, i amat ni pakea kase ko iso, gere i osah pakea kase ko ulak kuini", yang artinya "jangan nak, nanti kamu ditahan oleh mereka di sana dan tidak diperbolehkan lagi kembali ke sini", begitu selalu kata Datu Ananku, setiap kali kakekku ingin pergi berkunjung ke Belang Kejeren. Datu ananku sangat takut kalau kakekku yang saat itu terhitung cukup berpendidikan itu sampai berkunjung ke sana. Datu ananku takut nanti kakekku akan dipaksa oleh keluarga datu ananku yang ada di sana untuk tinggal di Rema menggantikan posisi Muyangku yang meninggal saat bertempur dengan Belanda.

Ketika itu wajar Datu Ananku tidak memperbolehkan Kakekku menelusuri jejak keluarga kami di Blang kejeren. Itu karena pada waktu itu, perjalanan ke Belang kejeren tidaklah segampang sekarang. Saat itu untuk pergi ke Blang Kejeren, dibutuhkan perjalanan berhari-hari menembus hutan. Jadi tidak mungkin kalau begitu sampai di sana langsung pamit untuk pulang. Datu Ananku juga takut kakekku tidak pulang karena kedua datuku ini cuma punya dua anak dan kakekku adalah anak laki-laki satu-satunya, sehingga karena menghormati keinginan Datu Ananku, setahuku sampai akhir hayatnya (beliau meninggal dunia tahun 2002) kakekku tidak pernah menginjakkan kaki di Belang Kejeren.

Akibatnya sampai hari ini aku tidak pernah tahu jejak keluargaku di Belang Kejeren.

Tahun 1996, aku bersama teman-teman sekampusku dari Fakultas Teknik Unsyiah, pernah mengadakan acara PBMT (Pekan Bakti Mahasiswa Teknik) di Rema yang tidak lain adalah kampung asal Datu Anan-ku. Sambil mengikuti acara ini, aku menyempatkan diri untuk menelusuri silsilah keluargaku di Kampung itu, tapi dari beberapa orang Tua (seumuran ayahku) yang kuajak bicara, termasuk bapak Geuchik Rema sendiri, tidak seorangpun yang familiar dengan sejarah Datu Anan-ku ini.

Kembali ke kisah Datu merah Mege dan Maulana Ishaq.

Kemungkinan latar belakang keluarga kami yang merupakan keturunan Imem inilah yang membuat asal-usul keluargaku dikaitkan kepada sosok Maulana Ishaq yang kata kakekku adalah Mubaligh yang pertama kali membawa Syi'ar Islam ke tanoh Gayo.

Cuma masalahnya, ketika menceritakan asal-usul keluargaku ini. Ketika skala waktunya sudah di atas abad ke- 20, cara kakekku bercerita sudah sebagaimana layaknya orang yang menceritakan kekeberen. Cerita kakekku bukan lagi berdasarkan fakta yang beliau alami sendiri, tapi sudah bersandar pada kata orang melalui kata orang yang dikisahkan turun-temurun tanpa tercatat.

Dalam bercerita mengenai kisah yang terjadi sebelum abad ke- 20, kakekku tidak pernah bisa memberikan skala waktu yang tepat, contohnya adalah pada cerita tentang silsilah keluarga kami yang kata kakekku merupakan keturunan datu Merah Mege dan juga keturunan langsung Maulana Ishaq.

Dulu saat kakekku masih hidup, aku tidak pernah menanyakan bagaimana kejanggalan ini bisa terjadi. bagaimana mungkin kami yang katanya merupakan keturunan Datu Merah Mege tapi juga sekaligus adalah keturunan langsung Maulana Ishaq (Ini janggal karena di Gayo, silsilah keturunan diurutkan secara paterilineal)

Tapi sekarang aku jadi bingung sendiri, bagaimana ceritanya ini. Apakah Maulana Ishaq itu sebenarnya adalah Muyang Mersa, atau apakah Maulana Ishaq itu adalah bapak dari Muyang Mersa, aku tidak pernah tahu.

Tidak adanya skala waktu yang jelas ini membuatku bingung siapa yang lebih dulu ada, datu Merah Mege atau Maulana Ishaq. Karena kalau kita mengamati kisah Datu Merah Mege yang memelihara anjing dan bertahan hidup dengan makanan yang diantarkan oleh anjing, kemungkinan besar ini adalah kisah dari masa sebelum orang Gayo memeluk Islam.

Kalau benar Muyang Mersa adalah Maulana Ishaq dan Merah Silu yang lebih dikenal dengan nama Malikussaleh adalah Merah Silu anaknya Muyang Mersa, maka seharusnya dia sudah memeluk Islam waktu datang ke Pasai.

Masalah lain yang tidak kurang besar dari semua cerita kakekku ini adalah, kakekku dan orang Gayo lainnya sama sekali tidak bisa menunjukkan bukti tertulis atau benda-benda warisan tokoh-tokoh dalam cerita ini untuk dijadikan bukti tentang keberadaan sosok-sosok tersebut dalam sejarah.

Selain kakekku, orang lain juga banyak yang menceritakan kisah ini, tapi biasanya redaksi dan beberapa detail cerita ini berbeda-beda pada setiap pencerita, sehingga kita jadi tidak bisa sepenuhnya yakin dengan kebenaran cerita-cerita itu.

Kisah yang berbeda-beda ini membuat kita tidak bisa memastikan, Muyang Mersa, Datu Merah Mege, Maulana Ishak dan tokoh-tokoh lain hidup sebelum abad ke -20 yang kisah dan kekeberen tentang mereka disampaikan secara turun-temurun ini benar-benar tokoh yang nyata. Jangan-jangan sebenarnya kisah Datu Merah Mege yang mirip dengan kisah Nabi Yusuf ini adalah cerita rakyat dari tradisi pra islam yang telah disesuaikan dengan cerita-cerita dalam kisah para nabi. Untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sampai hari ini kita tidak pernah tahu jawaban yang sebenarnya seperti apa.

Mungkin kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah tokoh-tokoh dalam cerita ini benar-benar nyata atau cuma rekaan saja.

Hanya masalahnya lagi, karena minimnya data, kita pun sulit menentukan untuk memulai penelitian itu dari mana.

Wassalam

Win Wan Nur
Suku Gayo asal Isaq

Isaq, Kampungku yang Bersuhu Hangat

Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta.

Dari Isaq inilah keluargaku secara turun-temurun berasal.

Kampungku ini berjarak 30 kilometer dari Takengen, yang merupakan ibu kota kabupaten Aceh Tengah yang sekaligus merupakan kota terbesar dan paling ramai di Tanoh Gayo.

Isaq terletak di sebuah lembah di dataran rendah yang hangat. Suhu yang hangat ini membuat Isaq berbeda dengan Takengen yang dingin. Untuk lansekap dan kondisi alam, secara sekilas saja orang langsung bisa melihat perbedaan antara Isaq dan Takengen. Banyaknya pohon kelapa yang merupakan tanaman khas daerah pesisir yang tumbuh di Isaq, adalah perbedaan yang paling mencolok antara alam Isaq dan alam Takengen.

Suhu yang lebih hangat membuat mata pencaharian orang Isaq juga berbeda dengan penduduk Takengen. Jika di Takengen dan sekitarnya yang bersuhu dingin orang banyak mengusahakan kebun kopi sebagai seumber mata pencaharian, kami di Isaq tidak. Di Isaq kami lebih banyak mengusahakan sawah, membuat gula aren (Di Takengen gula ini dikenal dengan nama Gule Isaq) dan memelihara kerbau.

Untuk menuju ke kampungku ini, dari Kota Takengen, orang harus melintasi gunung berhutan primer bernama Bur Lintang.

Dulu, saat kakekku masih muda, untuk bisa mencapai kampungku ini, orang dari Takengen harus menempuh beberapa hari perjalanan berjalan kaki melewati hutan Bur Lintang dengan resiko diterkam harimau.

Aku bersama kakekku tinggal di Isaq antara tahun 1978-1979, saat itu aku masih kecil dan belum bersekolah. Pada waktu itu, di seluruh kecamatan kami itu, sekolah yang ada hanya sampai tingkat sekolah dasar dan itupun hanya ada satu dalam radius 50 kilometer. SMP baru dibangun setelah aku tidak lagi tinggal di sana.

Untuk melanjutkan sekolah ke SMP dan SMA, saat itu warga kampungku harus berangkat ke Takengen. Tidak banyak orang yang berpendidikan tinggi di kampungku ini. Orang berpendidikan paling tinggi di sana adalah Camat, tapi aku tidak pernah mengenal sosoknya, karena dia bertempat tinggal di tepi hutan yang terpisah sekitar satu kilometer di luar kampung kami dan dari yang sering kudengar sepertinya Pak Camat lebih sering ada di Takengen ketimbang di Isaq.

Rumah camat ini berada satu lokasi dengan kantor camat sendiri, kantor Koramil, Polsek dan juga tempat kediaman para personelnya.

Dibandingkan dengan Camat, aku lebih mengenal sosok Dan Ramil karena dia setiap pagi selalu minum kopi di warung samping rumahku.

Di samping sarana pendidikan yang minim, pada waktu aku tinggal di sana listrik juga belum ada. Tapi meskipun begitu, keadaan Isaq yang seperti ini sudah jauh lebih baik dibanding zaman ketika kakekku masih muda.

Saat aku tinggal di Isaq, sudah ada jalan yang menghubungkan Takengen dengan Kampungku ini, meskipun ketika itu jalanan tersebut masih berupa jalan tanah yang diberi pengerasan yang membuat jarak yang hanya 30 kilometer itu harus ditempuh dalam waktu berjam-jam. Sehingga jika pada masa itu kita berada di Takengen dan menyebut nama ISAQ, maka kesan yang ditangkap oleh orang Takengen, Isaq itu adalah sebuah negeri terpencil yang letaknya jauh sekali.

Waktu itu banyak orang Takengen yang percaya kalau orang-orang di kampungku ini rata-rata memiliki ilmu gaib.

Kepercayaan seperti ini membuat orang Takengen cenderung takut berkunjung bahkan ada yang tidak berani sekedar untuk melintasi Isaq. Mungkin karena berbagai cerita yang tidak jelas ini, ditambah hampir tidak adanya daya tarik ekonomi yang cukup kuat dari kampungku ini. Membuat sedikit sekali bahkan hampir tidak ada orang Takengen yang pernah berkunjung ke kampung kami. Orang Takengen yang datang ke Isaq biasanya hanya mereka yang berasal atau memiliki keluarga di kampung kami atau mereka yang bekerja sebagai guru atau pegawai di kantor kecamatan dan institusi pemerintahan yang lain.

Letak Isaq yang terpencil dan udik di mata orang Takengen, sering membuat orang Isaq dijadikan bahan olok-olok penduduk di ibu kota kabupaten ini. Oleh orang Takengen, nama Isaq dicocok-cocokkan dengan kata pekak (bodoh) dan ungak (tai hidung) dalam sebuah syair yang berima, kata-kata itu digunakan untuk mengolok-olok orang Isaq yang mereka bayangkan sebagai, orang udik yang kampungan dan tidak berpendidikan.

* Olok-olok dengan syair yang berima ini adalah khas Gayo, olok-olok seperti ini juga digunakan untuk mengolok-olok orang suku Aceh. Jika oleh orang Aceh, Gayo sering disebut 'urik', oleh orang Gayo, kepada orang suku Aceh yang datang merantau ke Gayo dilekatkan kata tengkang (mengangkang) dan gantang (kentang). Seperti saya yang tidak tahu kenapa kata pekak dan ungak dilekatkan untuk mengolok-olok orang Isaq, saya pun tidak tahu alasan apa yang membuat orang Gayo melekatkan kata 'tengkang' untuk mengolok-olok orang suku Aceh.

Sekarang Isaq sudah tidak lagi terpencil, jalanan yang menghubungkan antara Takengen dan Isaq kini sudah diaspal hotmix sampai ke Belang Kejeren. Tidak jauh dari Isaq, sekarang sudah ada pemukiman yang lebih ramai bernama Jagong- Jeget, bekas hutan lebat yang dijadikan lokasi transmigrasi, sehingga sekarang tempat itu bahkan jadi jauh lebih ramai ketimbang Isaq.

Sekarang setiap hari ada banyak angkutan umum yang melintasi Isaq, baik yang menuju ke Jagong Jeget atau ke Belang Kejeren. Sekarang, dari Takengen menuju ke Isaq bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja.

Situasi ini sangat berbeda dibandingkan dengan saat aku masih tinggal di Isaq dulu.

Pada masa itu, bis yang melintasi rute Takengen-Isaq hanya ada dua. Satu milik perusahaan angkutan CV. Menara bernomor 11 dan yang satu lagi milik perusahaan PT. Aceh Tengah bernomor 10. Kedua bis ini berbentuk mini bus berbody karoseri dengan mesin Colt diesel seperti yang biasa dipakai sebagai truk pengangkut pasir. Karena hanya dua dan penduduk yang dilayani pun tidak banyak, hampir semua penduduk kampungku mengenal sopir Bis ini.

Sopir Bis Aceh Tengah 10 sering berganti-ganti, tapi sopir Bis Menara 11 selalu orang yang sama. Sopir Bis ini bernama Alin, seorang etnis Cina yang fasih berbahasa Gayo. Aku memanggilnya dengan nama Cik Alin (Cik adalah singkatan dari kata Pak Cik yang merupakan panggilan umum di Gayo untuk adik bapak). Begitu akrabnya Cik Alin yang sopir Bis Menara 11 ini dengan warga kampungku, sehingga dia sering diundang makan di rumah-rumah warga kampungku. Kakekku yang merupakan imam di mesjid kampung kami ini juga beberapa kali mengundang Cik Alin makan di rumah kami, sehingga akupun menjadi akrab dengannya.

Aku dan kakekku termasuk warga Isaq yang paling sering menggunakan jasa Cik Alin. Kakekku yang pensiunan pegawai negeri sekaligus anggota veteran, paling tidak sebulan sekali pergi ke Takengen untuk mengambil gaji. Dan setiap kali kakekku pergi ke Takengen, aku selalu diajak serta.

Sampai hari ini aku masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana suasana perjalanan antara Isaq- Takengen dan sebaliknya pada waktu itu, terutama saat kami kembali dari Takengen menuju ke Isaq.

Setiap kali menumpang bis ke Isaq, baik dengan Menara 11 atau Aceh tengah 10, aku dan kakekku selalu diberi kehormatan untuk duduk di depan, di samping sopir.

Untuk berangkat ke Isaq, kami naik di terminal bis Takengen. Dari sana nanti Bis akan berjalan ke arah Toa, dalam perjalanan ini bis selalu berhenti di simpang Wariji dan PNP (gudang dan perumahan karyawan perusahaan PNP yang terletak di seberang lapangan Musara Alun) untuk menaikkan penumpang. Lewat dari PNP salah seorang penumpang akan berteriak, "hiburan". Lalu Cik Alin mengambil kaset, memukul-mukulkannya di telapak tangan dan memasukkannya ke dalam tape recorder bis miliknya dan mengalunlah lagu-lagu populer masa itu yang biasanya adalah lagu dangdut.

Sampai ke Relop jalan masih bagus dan beraspal (meski bukan aspal hotmix), tapi ketika jalanan menanjak memasuki kawasan Bur Lintang, jalanan tidak lagi sebaik sebelumnya, sehingga bis harus berjalan pelan-pelan dan bergoyang ke kanan kekiri. Keadaan seperti ini ditambah dengan bercampurnya berbagai aroma dalam bis ini membuat banyak penumpang merasa mual. Aku termasuk yang paling sering muntah saat melakukan perjalanan ini.

Sepertinya perjalanan antara Takengen- Isaq dalam bis yang bau dan bergoyang-goyang mengocok perut sambil diiringi lagu dangdut yang sering kulakukan di masa kecil bersama kakekku ini begitu membekas bagiku, sehingga sampai hari ini aku langsung merasa mual setiap kali mendengar lagu dangdut. Setiap kali mendengar jenis lagu ini, aku otomatis merasa seperti sedang berada dalam bis yang menuju ke Isaq. (Bahkan saat menuliskan ini pun perutku terasa mual)

Pada waktu tinggal di Isaq dulu, hutan di di Bur Lintang masih sangat lebat.

Hutan di gunung ini adalah hutan primer yang hijau, basah dan dingin. Tidak peduli musim kemarau atau musim penghujan, di sepanjang jalan yang membelah hutan ini aku sering melihat air yang mengalir dari dalam hutan, tumpah ke dalam parit-parit pembatas jalan. Kadang bis berhenti ditempat air-air yang mengalir itu untuk mengisi air radiator. Saat seperti ini sering dimanfaatkan oleh penumpang untuk memetik empan, sejenis tanaman bumbu yang berasa kebas seperti peppermint yang banyak tumbuh liar di tepi jalan di hutan Bur Lintang.

Setelah mencapai titik puncak Bur Lintang, jalanan mulai menurun dan suhu pun semakin lama menjadi semakin hangat, vegetasi alam pun berubah.

Jika sebelumnya hutan yang dilalui adalah hutan primer yang lebat dan basah, setelah beberapa waktu melewati jalanan yang menurun ini bis akan melewati hutan pinus yang suasananya sangat berbeda dengan hutan primer di Bur Lintang. Hutan pinus ini di bawahnya terlihat lapang dan kering serta ditumbuhi rumput-rumputan, tidak seperti hutan primer yang terlihat rapat dan basah dipenuhi berbagai vegetasi khas hutan tropis. Di dalam hutan pinus ini, sesekali aku melihat kerbau berkeliaran bebas sambil merumput atau sedang santai berkubang. Karakter tanah di hutan pinus ini juga tidak sama dengan di Bur Lintang, di hutan pinus ini tanahnya berwarna merah, tidak hitam seperti seperti di Bur Lintang

Di beberapa tempat dalam hutan pinus ini, juga tumbuh tanaman liar yang kami sebut 'terpuk'. Tanaman ini memiliki batang dan daun yang mirip dengan lengkuas, tapi terpuk tumbuh dengan ukuran yang jauh lebih tinggi. Sepertinya kedua tanaman ini adalah famili yang sama dalam taksonomi.

Di Gayo, kami menggunakan bunga tanaman ini sebagai sayuran dengan rasa yang khas. Biasanya terpuk kami gulai bersama dengan ikan dan empan sebagai penyedap. Gulai ini kami masak sampai kuahnya kering, dalam bahasa Gayo masakan seperti ini kami namakan pengat.

Selain terpuk ada juga tanaman seperti ini bernama 'serule' yang sekilas bentuknya sama dengan 'Terpuk' tapi tidak memiliki bunga. Tapi meskipun tidak memiliki bunga seperti terpuk, serule memiliki buah yang didalamnya dipenuhi biji seperti buah jambu biji dengan rasa yang manis. Waktu kecil aku dan teman-temanku lebih menyukai Serule ketimbang terpuk. Tapi bagi orang dewasa, bagian tanaman ini yang berguna hanya bagian daunnya yang dimanfaatkan untuk bahan pembuat atap rumah.

Dalam Hutan pinus ini terdapat banyak pondok pengawas milik PNP. Sebuah perusahaan negara yang mengelola produksi getah pinus alias terpentin. Kadang-kadang kita juga bisa menemui pekerja yang sedang menyadap getah pinus itu. Mereka hampir semuanya adalah pekerja suku Jawa yang konon dulunya dibawa oleh Belanda dari negeri mereka yang jauh di seberang laut.

Di beberapa tempat aku melihat perkampungan yang didiami oleh pekerja-pekerja suku jawa ini. Salah satunya yang paling aku ingat ada di sebuah tempat yang bernama Air Asin, tempat ini aku ingat karena dari sini Isaq sudah tidak terlalu jauh. Tapi ketika beberapa tahun kemudian saat aku sudah duduk di bangku SD, kulihat desa ini sudah ditinggalkan penghuninya, rumah-rumah termasuk mesjid yang ada di desa ini tampak tidak terawat dan kemudian hancur dengan sendirinya.

Tidak lama setelah melewati Air Asin, aku akan segera melihat persawahan dan sungai yang membelah lembah Isaq beserta dengan pohon-pohon kelapa yang merupakan tanaman khas daerah Isaq yang tidak bisa kita temukan di Takengen yang bersuhu dingin.

Setelah itu bis akan melewati lokasi pusat pemerintahan dan tempat kediaman para personelnya dan tidak lama kemudian Bis pun tiba di lembah Isaq yang hangat. Tempat aku menghabiskan masa kecilku sebelum aku mulai bersekolah.

Wassalam

Win Wan Nur
Suku Gayo asal Isaq

Kamis, 25 Februari 2010

Takut Menghadapi Konflik, Bertemu Dengan Bencana

Ketika seorang anak mengalami penyakit kudis di kepala, bagaimana cara orang tua menghadapinya?.

Pertama, untuk menghindari konflik dengan si anak karena si anak tidak tahan rasa sakit dan menangis meraung-raung kalau kudisnya disentuh, si orang tua memilih mengobati kudis di kepala dengan membiarkan rambut di kepala si anak menghalangi pengobatan, dengan resiko kudis itu tidak akan sembuh sempurna.

Atau cara kedua memilih sedikit berkonflik dengan si anak dengan cara mencukur habis rambut si anak di bagian kepala yang berkudis yang akan membuat penyakit kudis itu bisa diobati sampai sembuh sempurna dengan resiko berkonflik dengan si anak yang meraung-raung kesakitan saat rambut di bagian kepalanya yang berkudis dicukur.

Banyak orang tua yang karena besarnya rasa sayang, tidak tega melihat raungan anaknya yang kesakitan, menghindari konflik kecil dan memilih memelihara penyakit seperti itu. Mereka memilih memberikan pengobatan yang hanya mengurangi sedikit rasa sakit tapi tidak bisa mengobati kudis ini sampai tuntas. Pilihan seperti ini sekilas terlihat paling bijaksana karena membuat si anak senang, tapi resikonya, kudis yang tidak diobati dengan sempurna itu perlahan-lahan akan meluas dan akhirnya akan meneginfeksi seluruh kulit kepala yang akan membuat si anak akan sangat menderita. Pada akhirnya, kalau mereka tidak mau anaknya menderita seumur hidup, mereka pun terpaksa harus mau berkonflik besar dengan si anak karena harus mencukur seluruh bagian kepala yang semuanya telah ditumbuhi kudis.

Perilaku menghindari konflik kecil seperti yang ditunjukkan oleh orang tua dalam menghadapi masalah seperti yang saya gambarkan dalam ilustrasi di atas adalah perilaku umum yang dapat kita temui dalam setiap masyarakat di belahan dunia manapun, dalam menghadapi masalah apapun.

Di Indonesia, dulu (bahkan sampai sekarang) kita mengenal hantu bernama SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), yang tabu untuk diomongkan.

Men-tabu-kan pembicaraan atau diskusi yang menyangkut SARA ini, sekilas terlihat di permukaan mampu meredam konflik antar masyarakat yang sedemikian majmuk.

Pada kenyataannya, pelarangan ini sama saja dengan memelihara kudis di kepala. Di permukaan, pelarangan ini memang berhasil menghindarkan masyarakat dari 'konflik-konflik kecil'. Padahal 'konflik-konflik kecil' ini sebenarnya berguna untuk mengobati kudis sebelum penyakit itu meluas menginfeksi seluruh bagian kepala. Tapi karena dilarang untuk didiskusikan, maka masalah SARA yang tabu didiskusikan ini seolah terselesaikan padahal inti permasalahannya sama sekali tidak hilang.

Seperti kudis di kepala yang tidak tuntas tersembuhkan, masalah SARA yang tabu dibicarakan itupun terendapkan, terakumulasi sedikit demi sedikit, tanpa disadari semakin lama semakin membesar dan pada saatnya ketika tekanan sudah sedemikian besar, masalah itu pun meledak menjadi konflik besar secara fisik yang berdarah-darah seperti yang kita saksikan terjadi di Ambon dan di Poso.

Dalam skala yang lebih kecil, di Aceh, men-Tabu-kan pembicaraan soal SARA telah membuat akumulasi kekecewaan suku-suku minoritas terhadap suku Aceh yang mayoritas, membesar. Kekecewaan yang membesar inilah yang telah memunculkan ide pembentukan provinsi baru ALA dan ABAS yang terpisah dari provinsi Aceh.

Apa yang terjadi terhadap pemerintahan Orde Baru yang anti kritik juga sama.

Pemerintahan pada masa itu sangat alergi terhadap segala konflik kecil-kecil. Pada masa itu semua kritik yang ditujukan kepada pemerintah ditanggapi secara berlebihan, sehingga ketika semuanya terakumulasi, meledaklah sebuah konflik besar yang menjatuhkan pemerintahan Soeharto.

Pola yang sama juga dapat kita saksikan pada kejatuhan ekonomi Amerika beberapa waktu yang lalu.

Dulu Amerika adalah negara yang sangat produktif sehingga mereka bisa menjadi kekuatan utama ekonomi dunia. Ini bisa terjadi karena dibandingkan eropa dan jepang mereka sedikit sekali mengalami kerusakan pasca Perang Dunia II. Situasi ini membuat mereka bisa leluasa mengembangkan industrinya, sehingga lebih dari separuh barang produksi yang ada di pasar dunia pada masa itu disumbangkan oleh Amerika.

Industri mobil Amerika, Ford, Chrysler dan GM waktu itu nyaris tanpa pesaing, begitu juga dengan industri baja, mesin manufaktur, aluminium, pesawat dan sebagainya. Situasi ini membuat lebih dari separuh transaksi mata uang Global ada dalam mata uang DOLLAR AMERIKA.

Situasi perekonomian yang nyaman ini membuat masyarakat Amerika menjadi masyarakat yang konsumtif, perlahan-lahan mereka menjadi sangat konsumtif dan semakin konsumtif.

Sementara itu negara-negara lain pun mulai menata ekonominya, tanpa disadari oleh orang Amerika sendiri, sedikit demi sedikit kekuatan ekonomi Amerika sudah tidak lagi sedominan pasca perang dunia II dulu. Tanpa disadari oleh banyak orang Amerika, peta ekonomi dunia berubah. Eropa, Jepang, Korea, India, bahkan Cina dan lain-lain telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru. Industri Amerika tidak lagi sedigjaya dulu, untuk mobil misalnya, sekarang dunia malah lebih akrab dengan merk Toyoya, Nissan, Honda dan berbagai merk Jepang lainnya bahkan KIA dan Hyundai yang nota bene merk Korea, ketimbang Chevrolet, Ford dan merk-merk Amerika lainnya yang dulu pernah sangat dominan dalam pasar otomotif dunia.

Situasi ini membuat AMERIKA sekarang bukan lagi negara PRODUSEN seperti setalah PD II dulu, tapi sebaliknya sekarang mereka adalah negara KONSUMEN, defisit perdagangan mereka 800 MILYAR DOLLAR PER TAHUN, pertumbuhan rata-rata impor rata-rata tiga kali lipat pertumbuhan rata-rata ekspor.

Ketika dulu presiden Bush naik menggantikan Clinton, Ekonomi AS dibangunnya atas paradigma besar pasak daripada tiang. Perdagangan luar negeri mereka mengalami defisit, tapi APBN mereka terus meningkat bahkan mereka mampu membiayai perang di Iraq yang berlangsung bertahun-tahun. Perang yang sebulannya menghabiskan biaya 10 Milyar Dollar.

Sementara itu masyarakat Amerika sendiri sudah terlanjur nyaman dengan perilaku konsumtifnya. Pada akhirnya dari yang dulunya merupakan masyarakat paling produktif, masyarakat Amerika telah berubah menjadi masyarakat yang paling konsumtif di dunia. Bahkan ekonomi Amerika sangat bertumpu pada konsumsi, tanpa adanya konsumsi yang tinggi, ekonomi Amerika langsung mati.

Tapi karena minimnya produksi, orang Amerika yang konsumtif jadi tidak bisa lagi menabung. Tingkat tabungan masyarakat Amerika sangat rendah. Banyak rumah tangga Amerika memiliki utang rumah tangga yang lebih besar dari penghasilan yang mereka dapatkan per bulan.

Lalu selama ini bagaimana Amerika mampu membiayai ekonominya yang boros itu? jawabnya ya sama seperti yang dilakukan oleh warga negaranya, yaitu BERUTANG. Mereka menerbitkan beragam surat utang, entah itu pemerintah atau juga swasta. Surat-surat utang ini kemudian dibeli oleh investor dari berbagai belahan dunia, jaminannya apa?...Reputasi Amerika sendiri yang berdasarkan pada kepercayaan bahwa Amerika memiliki fundamen ekonomi yang kuat. Solusi mengatasi masalah ekonomi seperti disebut dengan ekonomi gelembung alias 'Bubble Economy'.

Pemerintah Amerika tidak mau sedikit berkonflik dengan masyarakatnya (atau lebih tepat disebut ketakutan tidak akan dipilih lagi) dengan cara mendidik mereka untuk kembali produktif dan mengurangi perilaku konsumtif.

Sikap pemerintah Amerika ini persis sama seperti sikap orang tua yang tidak tahan mendengar raungan anaknya ketika rambut dibagian kulit kepalanya yang berkudis dicukur untuk bisa diobati secara tuntas.

Seperti ditulis Budiarto Shambazy di kolom politika Kompas 7-oktober 2008 silam, pada tanggal 22 Maret 2007, melihat ketidakberesan sektor keuangan di Amerika, Obama dalam kapasitasnya sebagai senator pernah menyurati Gubernur The Fed, Ben Bernanke dan Menkeu Henry Paulson, dalam suratnya Obama meminta mereka berdua untuk mengadakan KTT kepemilikan rumah dengan Bank, Investor, Lembaga pemberi kredit dan lembaga perlindungan konsumen. Tapi dua pejabat penting itu tidak mengindahkan surat Obama.

Hasil perilaku seperti ini apa?...BENCANA keruntuhan ekonomi Amerika yang memicu krisis global sebagaimana kita saksikan beberapa waktu yang lalu.

Seperti dalam politik dan ekonomi, dalam kehidupan beragama pun efek yang ditimbulkan oleh perilaku menghindar dari 'konflik' kecil seperti ini juga sama.

Dalam kehidupan beragama, kadang-kadang kita dihadapkan pada sekelompok orang yang memaksakan kehendak dan memaksakan penafsirannya sendiri terhadap teks-teks agama dan menuduh orang yang berbeda pandangan dengan cap buruk yang macam-macam.

Di Aceh contohnya, orang-orang semacam ini sudah mulai berani menunjukkan diri terang-terangan. Di negeri saya ini, mereka misalnya memonopoli ruang opini di media massa dan dengan angkuhnya mengancam setiap orang yang berani menuliskan opini berbeda.

Akibat adanya ancaman semacam ini, ketika terjadi pemerkosaan yang dilakukan oleh WH beberapa waktu yang lalu, banyak intelektual Aceh yang tidak berani beropini di media lokal untuk menghantam inti permasalahan yang membuat tragedi ini terjadi.

Pasca terjadinya Tragedi Langsa tersebut, saya membaca sebuah tulisan di sebuah media cetak nasional yang sangat objektif memandang masalah itu. Penulisnya adalah seorang perempuan berjilbab yang jelas beragama Islam.

Membaca tulisannya, saya bertanya kepada penulis artikel ini, "kenapa tidak mengirimkan tulisan yang sama ke media lokal?",

"nggak bisa bang, kalau yang seperti ini kita tulis di media lokal, besoknya akan datang berhamburan berbagai opini yang menyebut kita kafir, murtad, anti islam sampai menghalalkan darah kita" jawabnya dengan nada miris. Begitulah situasi di Aceh sekarang.

Di aceh, sebenarnya perilaku sekelompok orang ini jelas sudah sangat mengganggu. Tapi para intelektual Aceh seolah kehilangan akal dalam menghadapi perilaku mereka yang mau menang sendiri itu.

Padahal situasi seperti ini sebetulnya tidak terlalu sulit untuk dihadapi.

Untuk menghadapi perilaku sekelompok orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini, caranya cukup dengan membuka 'konflik' kecil dengan menantang mereka beradu gagasan terhadap masalah yang tidak mereka sepakati. Biarkan mereka menyumpah-nyumpah dan memaki-maki dan biarkan masyarakat luas yang menilai argumen-argumen dalam debat ini.

Tapi sayangnya banyak kalangan dalam masyarakat Aceh, dengan alasan menjaga ukhuwah islamiyah dan tidak ingin ada pertentangan di antara saudara seiman, tidak menginginkan adanya adu opini semacam ini, mereka lebih memilih bersikap sabar, mendiamkan, mentolerir dan membiarkan perilaku fasis yang dipraktekkan sekelompok orang ini.

Dengan bersikap fasif untuk menghindar dari konflik seperti itu, kalangan ini merasa telah bersikap netral dan merasa telah berbuat adil sesama saudara seiman.

Mereka seolah menutup mata dan seperti tidak menyadari kalau perilaku orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran yang mereka biarkan ini, padahal sebenarnya perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini sudah pada taraf yang sangat berbahaya karena sudah sampai pada tahap ancam-mengancam (secara fisik), mengkafirkan dan memurtadkan umat Islam lain.

Dengan memilih sikap 'netral' seperti ini, tanpa mereka sadari, kalangan yang tidak mau repot dan suka memilih 'jalan aman' ini sebenarnya sedang bersikap persis seperti orang tua yang tidak tahan mendengar raungan anaknya sebagaimana saya ceritakan dalam ilustrasi di atas. Dengan memilih sikap 'netral' seperti ini, mereka sebenarnya sedang bersikap seperti Soeharto dan pemerintah Amerika yang mendewakan stabilitas dan sangat anti terhadap setiap 'konflik' kecil yang sebenarnya perlu ada untuk menghindari terjadinya konflik besar yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar pula.

Kalau melihat doktrin agamanya, sebenarnya terjadinya pembiaran Sikap yang ditunjukkan sebagian kalangan dalam masyarakat Islam ini terasa janggal dan sangatlah aneh. Hal ini terasa aneh karena dalam agama Islam, umatnya tidak pernah diajarkan untuk "Memberikan Pipi Kiri saat Pipi Kanan ditampar"

Sebelum bibit-bibit konflik ini terakumulasi menjadi BENCANA konflik besar secara fisik yang berdarah-darah, pembiaran semacam ini harus cepat diakhiri.

Dalam situasi sekarang, sangatlah bijaksana kalau kita membiarkan bahkan kalau perlu memulai 'konflik-konflik' kecil dengan orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini dalam bentuk DISKURSUS alias DEBAT INTELEKTUAL. Kalau orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini terus menghindar (dari DISKURSUS alias DEBAT INTELEKTUAL), kita pun tidak perlu ragu untuk mengikuti 'aturan permainan' yang mereka buat, kalau cara seperti itu memang diperlukan.

Ini perlu kita lakukan supaya kudis yang masih sedikit ini tidak menjalar menginfeksi seluruh kulit kepala. Kita harus tega mencukur rambut dibagian kepala yang berkudis itu, biarkan si anak meraung-raung sebentar, tapi setelah itu kudis di kepalanya bisa diobati sampai sembuh total.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Aceh suku GAYO beragama ISLAM

Intelektual Dalam TEMPURUNG ; Sebuah Tanggapan Untuk T. Kemal Fasya

Tulisan ini adalah tanggapan terhadap tulisan Teuku Kemal Fasya ng dia beri judul "Loper Koran Menggugat Perguruan Tinggi" http://www.facebook.com/note.php?note_id=314921442010&comments#!/notes/teuku-kemal-fasya/loper-koran-menggugat-perguruan-tinggi/315168529758

***

Dalam perjalanan hidup saya, saya cukup beruntung mengenal seorang sosok luar biasa bernama bapak Irman Syarkawi, arsitek yang merancang puncak gedung Menara BNI sekaligus membangun Menara BNI 46 yang pernah (bahkan mungkin masih) menjadi gedung tertinggi di Indonesia, bentuk puncak gedung ini yang unik sekarang telah menjadi ciri khas lansekap kota Jakarta.

Pada rancangan awalnya, sebenarnya bentuk dari puncak menara BNI tersebut tidaklah seperti itu. Awalnya di puncak gedung tersebut di rencanakan dibangun sebuah helipad dengan satu buah tiang logam bulat di tengahnya. Rancangan awal ini dibuat oleh satu kelompok arsitek asal Perancis.

Perusahaan milik Pak Irman memenangkan tender pembangunan puncak gedung ini. Sebelum memulai pengerjaan gedung tersebut, semua kontraktor, termasuk beliau diundang oleh pemilik proyek untuk terlibat di dalam sebuah rapat perencanaan.

Dalam rapat tersebut Pak Irman yang memenangkan tender pengerjaan puncak gedung tersebut yang merasa terganggu melihat bentuk rancangan menara itu, secara terbuka mengkritik bentuk puncak gedung dalam rancangan arsitek Perancis yang tender pengerjaannya beliau menangkan tersebut.

"Kalau ini kita bangun menurut rancangan ini, dari kejauhan menara ini akan terlihat sangat konyol, gedung ini akan tampak seperti sebuah kotak dengan lidi yang ditusukkan di puncaknya, lalu kalau membangun Helipad di sampingnya juga akan sangat berbahaya, dengan adanya hembusan angin, baling-baling helikopter sangat mungkin akan menghantam tiang baja tersebut", kata Pak Irman dalam rapat tersebut.

Mendapat kritik seperti itu, wajah ketua tim arsitek asal Perancis itu naik darah dan menantang, "kalau menurut kamu itu lucu, memangnya kamu punya ide seperti apa bentuk yang lebih bagus", tantangnya.

Ditantang secara terbuka seperti itu, Pak Irman sempat kelabakan ditantang seperti itu, seccara kebetulan waktu itu di atas meja tergeletak sebuah Pena. Terinspirasi oleh bentuk pena tersebut, beliau membuat sebuah rancangan sederhana di kertas rapat tersebut dan menunjukkannya kepada semua orang yang menghadiri rapat dan semua yang menghadiri rapat tersebut pun langsung merasa lebih sreg dengan rancangan Pak Irman. Bahkan si ketua tim arsitek asal Perancis ini pun dengan sportif mengakui kalau rancangan Pak Irman jauh lebih baik dibandingkan rancangan yang mereka buat dan pemilik proyek pun langsung meminta rancangan awal itu untuk diganti.

Setelah itu, Pak Irman pun mematangkan rancangan yang beliau tunjukkan dalam rapat tersebut dan jadilah gedung BNI 46 dengan bentuk seperti yang kita kenal sekarang.

Kaitan cerita ini dengan tulisan Kemal yang saya komentari ini adalah; Pak Irman Syarkawi, arsitek yang merancang puncak Gedung BNI 46 ini bukanlah seorang Insinyur apalagi bergelar magister apatah lagi seorang doktor di bidang Teknik. Beliau 'hanya' tamatan sebuah STM di Bukit Tinggi Sumatera Barat sana. Berbekal pendidikan STM, beliau mengembangkan kemampuan Tekniknya secara otodidak. Selain membangun menara BNI beliau juga pernah dipercaya merancang dan membangun sebuah hanggar pesawat terbang di Hongkong. Beliau juga membangun kanal pengendali Banjir di bawah kawah Galunggung, setelah beberapa kontraktor sebelumnya seperti Bakrie dan beberapa kontraktor asing menyerah, tidak sanggup untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Bukan hanya di bidang Teknik Sipil, Pak Irman Syarkawi juga punya keterampilan yang mumpuni dalam bidang Teknik mesin dan Teknik Kimia, beliau telah merancang dan membangun banyak mesin untuk pabrik-pabrik yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri. Pak Irman Syarkawi pada akhir tahun 90-an, juga mempelopori penggunaan per keong dengan merk "ALL S" yang dirancang dan beliau produksi untuk membuat mobil Jeep dan kendaraan niaga senyaman sedan. Tapi karena karya ini tidak dipatenkan, kemudian banyak yang menirunya, dan entah kebetulan atau bukan, sekarang mobil-mobil non sedan buatan Toyota dan Daihatsu seperti Avanza dan Xenia semuanya telah dilengkapi per keong yang angat mirip dengan rancangan Pak Irman pada akhir tahun 90-an dulu.

Kemampuan beliau dalam pengusaan ilmu-ilmu Teknik banyak mengundang kekaguman dari dalam dan luar negeri. Atas rekomendasi dari orang yang mengagumi kemampuan beliau, Pak Irman Syarkawi pernah beberapa kali ditawari gelar Doctor Honoris Causa oleh beberapa universitas ternama di luar negeri, tapi beliau selalu menolaknya, karena menurut beliau gelar seperti itu sama sekali tidak membuat kemampuan beliau bertambah.

Dalam sebuah bincang-bincang di kantor beliau, Pak Irman pernah menceritakan kepada saya tentang kekecewaannya terhadap kualitas Insinur-insinyur lulusan Indonesia. Menurut Pak Irman, para Insinyur lulusan Indonesia yang pernah beliau pekerjakan, kebanyakan hanya jago dalam hal hapalan saja. Mereka hanya mampu menghadapi masalah-masalah yang ada dalam teori. Padahal kenyataannya di lapangan, seringkali masalah yang dihadapi adalah sama sekali baru. Misalnya saat mengerjakan proyek Galunggung, cerita Pak Irman. Satu kali saat mengebor terowongan terlihat ada gas yang menyembur di dalam tanah. Secara teori, dalam menghadapi situasi seperti itu kita harus mundur dan mengevaluasi komposisi gas tersebut dengan sebuah alat khusus yang harganya sangat mahal dan sulit didapat. Insinyur-insinyur Indonesia terpaku pada teori itu tanpa bia berbuat apa-apa lagi, logika mereka tidak berjalan. Sementara Pak Irman yang besar di lapangan, menghadapi situasi seperti ini,logikanya sangat cepat bermain.

"Yang ingin kita ketahui dari gas ini bukanlah komposisi detailnya, tapi yang ingin kita ketahui apakah gas tersebut berbahaya atau tidak", cerita Pak Irman pada saya.

Jadi untuk mengetahui berbahaya atau tidaknya gas ini, Pak Irman membeli sepasang burung merpati dalam sangkar dan memasukkan burung tersebut ke dalam tempat yang dipenuhi gas itu selama dua hari. Ketika dalam dua hari Pak Irman mendapati burung tersebut masih hidup dan malah sempat bertelur, beliau langsung menyimpulkan gas itu tidak berbahaya dan pengerjaan proyek pun dilanjutkan, nyaris tanpa hambatan berarti sampai selesai.

Kalau cerita Kemal ini kita gabungkan dengan kisah yang diceritakan Pak Irman, memang faktanya benar seperti Kemal katakan, KAMPUS seringkali hanya bisa memproduksi manusia yang hanya mampu berpikir dalam sebuah KOTAK SEMPIT atau TEMPURUNG. Sementara dunia nyata ini adalah dunia dengan tingkat keacakan dan ketidak pastian yang tinggi. Masalah-masalah di dunia nyata seringkali datang dalam bentuk kejutan-kejutan yang membutuhkan solusi spontan. Karena itulah, ketika dilemparkan ke dunia nyata, seringkali intelektual dengan nilai akdemis tinggi yang diproduksi di kampus-kampus dalam jum;lah ribuan setiap tahunnya seringkali kebingungan sendiri menghapi masalah-masalah yang tidak ada dalam KOTAK SEMPIT atau TEMPURUNG yang mereka diami.

Di Indonesia ini sebagaimana dalam segala hal, pendidikan formal seringkali hanya dihargai sebatas kulit luarnya. Tidak sedikit orang menempuh pendidikan formal hanya untuk bisa memamerkan gelar tanpa masyarakat bisa mendapat manfaat dari pengetahuan yang mereka dapatkan dari pendidikan itu.

Di negeri ini, gelar akademis menjadi semacam alat untuk membentuk masyarakat feodal baru, di Indonesia (terlebih di ACEH) banyak orang yang ingin dihormati karena gelar akademisnya, bukan karena kemampuannya dalam sebuah debat intelektual, orang-orang semacam ini suka memaksakan pandangan agar orang mau menilai KUALITAS ARGUMEN dari gelar orang yang bicara, bukan atas logika yang dibangun.

Yang lebih konyol pola seperti ini juga menular ke kalangan non kampus.

Contohnya pola yang sama seperti cerita di atas juga bisa kita saksikan pada penulis-penulis muda Aceh yang berbasis pesantren yang tergabung dalam sebuah kelompok yang mereka namakan CADS (Center for Aceh Development Strategy) dan IPSA (Ikatan Penulis Santri Aceh) yang baru merasakan euforia tulisannya dimuat di media massa terbitan lokal. Keputusan redaktur media lokal untuk memuat tulisan mereka secara reguler membuat anak-anak muda berbasis pesantren ini besar kepala dan menganggap remeh semua orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Lalu sebagaimana para akademisi kampus anak-anak muda berbasis pesantren ini pun menuntut untuk dihormati karena jumlah tulisannya yang dimuat di media lokal, bukan atas kemampuannya membangun logika dalam sebuah debat intelektual.

Berdasarkan pengalaman saya menghadiri berbagai konferensi di dalam dan luar negeri, saya mendapati, biasanya orang-orang semacam ini selalu merasa besar di dalam kalangannya sendiri tapi langsung mengkeret ketika dilemparkan ke lingkungan lain. Saya pikir inilah efek dari yang disebut Kemal sebagai "sikap narsis, sok hebat, tapi hanya di kandang"

Mungkin ini pula sebabnya tidak banyak dosen asal Aceh yang tulisannya dimuat di media massa kelas nasional, bahkan sejujurnya dosen asal kampus-kampus yang ada di Aceh yang sering saya baca buah pikirannya secara reguler di media massa nasional, hanya TEUKU KEMAL FASYA seorang.

Wassalam

Win Wan Nur

Kamis, 18 Februari 2010

Konflik dan Persaingan, Bahan Bakar Peradaban

Sejarah Italia selalu dipenuhi gejolak dan konflik, mulai dari Romulus yang membunuh Remus, Lucius Tarquin membunuh Servius, Nero yang membakar Roma, mempunyai Kaisar bernama Caligula yang sakit jiwa, menunjukkan kalau Italia dibentuk oleh sejarah yang jauh dari ketenangan dan kedamaian. Sepanjang sejarahnya Italia begitu sering diserang dari kanan kiri oleh berbagai bangsa (Etruria, Galia, Kartago dan lain sebagainya). Tapi lihatlah sumbangan Italia terhadap peradaban, Italia memperkenalkan teknologi pembangunan Jalan, mendirikan bangunan luar biasa semacam Aquaduk dan Circus Maximus dan bermacam karya hebat lainnya. Italia juga melahirkan seniman renaissance Leonardo da Vinci, Michelangelo, Rafael dan Donatello yang menghasilkan karya agung lukisan perjamuan terakhir, Basilika, patung Daud dan lukisan monalisa. Italia juga melahirkan ilmuwan sekaliber Galileo Galilei.

Sementara Swiss sang tetangga yang sepanjang sejarahnya selalu tenang dan damai, apa sumbangan terbesar mereka untuk peradaban?...Coklat dan Jam Kuk Kuk.

Begitulah komentar orang Italia yang negaranya terhitung sebagai negara eropa barat yang paling miskin dan juga memiliki banyak masalah politik dan juga masalah keamanan yang berkaitan dengan Mafia yang berbanding terbalik dengan tetangga dekatnya Swiss yang kaya-raya, aman dan makmur sentosa.

Dua hari yang lalu seorang teman di facebook yang membaca notes yang kutulis dengan judul "Lembaga Penabur FITNAH bernama CADS dan Mudanya Demokrasi Aceh" http://winwannur.blogspot.com/2010/02/demokrasi-aceh-yang-masih-muda.html menulis sebuah pesan, "Indahnya hidupp bila dapat menghargai kebaikan dan keberhasilan orang lain, bukan dengan mencari kekurangan orang lain untuk direndahkan."

Saya katakan itu adalah harapan kosong yang tidak akan mungkin terjadi selama masih ada manusia di bumi, konflik dan persaingan bagaimanapun akan terjadi, pertentangan akan selalu ada.

Dalam beberapa hal, konflik dan pertentangan seperti itu jelas sangat merusak, tapi dalam hal lain tanpa adanya pertentangan peradaban akan mandeg ilmu pengetahuan dan teknologi akan stagnan, karena justru seringkali (meski tidak harus) melalui pertentanganlah banyak muncul berbagai ide yang akan memajukan peradaban, sebagaimana yang dibanggakan oleh orang-orang Italia dalam cerita di atas.

Konflik memaksa manusia menjadi kreatif, memaksa manusia untuk menggali potensi terbaik yang dia miliki agar mampu bertahan hidup. Karena itulah manusia-manusia yang selamat dari konflik kalau bukan jenis yang sangat beruntung maka biasanya dia adalah jenis manusia yang memiliki banyak keunggulan.

Para nabi, rasul dan orang-orang besar selalu muncul di tempat yang mengalami banyak konflik dan tekanan, seniman besar juga demikian, berbagai teknologi praktis yang bisa kita manfaatkan sekarang juga banyak yang dihasilkan akibat dari adanya konflik dan tekanan.

Dalam acara Kick Andy, Iwan Fals mengatakan, "Iwan Fals ada karena adanya orde baru, Iwan Fals tidak akan dikenal orang tanpa lagu-lagu legendaris macam tikus kantor, wakil rakyat, Oemar Bakri sampai Bento. Lagu-lagu legendaris itu bisa tercipta karena adanya tekanan yang dia terima dan rasakan selama pemerintahan Orde Baru."

Contoh terdekat hasil positif bagi peradaban yang bisa kita rasakan akibat adanya konflik adalah internet yang sekarang kita gunakan untuk berkomunikasi ini. Teknologi internet ini dalam masa awal perkembangannya dimaksudkan untuk keperluan militer. Teknologi ini berkembang karena karena adanya era perang dingin antara blok barat dan blok timur beberapa waktu yang lalu.

Kemudian perlu juga kita sadari bahwa semua gagasan dan teknologi karya manusia yang ada sekarang bisa dikatakan tercipta secara 'kebetulan' yang dalam bahasa agama disebut TAKDIR. Contohnya katakanlah pesawat terbang Airbus A300 dan komputer yang sekarang sedang kita gunakan. Tidak ada satu manusia pun pada beberapa ribu tahun yang lalu mempunyai gagasan untuk membuat benda seperti ini dan memfokuskan penelitiannya untuk menciptakan benda seperti ini untuk dilanjutkan dari generasi ke generasi.

Ide untuk membuat Airbus A300 dan komputer 'kebetulan' muncul ketika ide dan teknologi manusia yang terakumulasi dimulai sejak bermulanya peradaban sudah memadai untuk menciptakan alat-alat ini. Ide dan teknologi masa lalu ini pun bisa dikatakan tercipta akibat dari berbagai 'kebetulan', katakanlah misalnya mulai dari ditemukannya cara membuat api secara 'kebetulan' (saya katakan seperti ini karena sebenarnya kita bisa memulainya lebih jauh lagi entah itu dari 'kebetulan' ditemukannya bahasa atau bahkan sejak awal terciptanya jagat raya ini atau sejak saat yang sama sekali tidak pernah bisa kita bayangkan) yang kemudian membuat manusia bisa 'secara kebetulan' melebur logam, ditemukannya roda, manusia mulai bertani dan menjinakkan hewan yang pada awalnya juga sangat mungkin adalah sebuah 'kebetulan',dan seterusnya semua itu bersintesa dengan situasi dan kebutuhan yang mengikuti zaman.

Kebiasaan bertani dan beternak sendiri adalah contoh dari kreativitas yang muncul akibat tekanan situasi yang muncul akibat bertambahnya populasi sehingga cara hidup berburu dan mengumpulkan tidak lagi mampu memberi makan semua orang dan manusia pun dihadapkan pada masalah kekurangan pangan. Karena bertambahnya populasi manusia berarti juga makin berkurangnya jumlah biji-bijian di alam dan berkurangnya populasi hewan buruan (pada masa ini sangat mungkin terjadi konflik memperebutkan lahan buruan). Cara hidup baru ini pun langsung memicu berkembangnya teknologi, yaitu teknologi bertani. Manusia mulai membuat alat-alat sederhana untuk mengolah tanah, menuai dan juga merontokkan biji-bijian, serta gerabah untuk menyimpan makanan.

Berkembangnya pertanian menyebabkan hasil yang melimpah. Panen melimpah membuat manusia mempunyai waktu luang untuk tidak bekerja. Beberapa orang bahkan tak usah bekerja di ladang sama sekali, melainkan hanya bertukang membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian. Merekalah cikal bakal para insinyur. Situasi seperti inipun membuat sebuah kelas sosial baru muncul, yaitu tenaga ahli.

Begitulah, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya adalah sebuah rangkaian yang tidak terputus, sama sekali bukan satu penemuan besar yang berdiri sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam sebuah peradaban yang memiliki jumlah populasi “intelektual” yang cukup besar.

Populasi “intelektual” yang cukup besar ini hanya bisa dicapai kalau sebuah negeri cukup makmur dan tidak lagi pusing memikirkan makanan.

Faktor kedua yang juga sangat penting untuk berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pertukaran ilmu antar peradaban yang hanya dimungkin dengan adanya kontak antar peradaban. Inilah yang menjelaskan kenapa daerah yang banyak berhubungan dengan peradaban luar selalu lebih maju dibandingkan dengan daerah yang terisolasi. Ini pula yang menjawab kenapa orang-orang yang tinggal di perkotaan cenderung lebih berpengetahuan ketimbang yang tinggal di pedesaan.

Pertukaran ilmu antar peradaban inilah yang menjelaskan kenapa bagian peradaban yang paling maju dari planet ini ada di UTARA tepatnya di daerah eurasia. Ini terjadi karena Eurasia memiliki daratan yang luas dan besar tanpa isolasi geografis yang berarti. Kondisi seperti ini memberikan peluang besar untuk melakukan kontak antar peradaban.

Bandingkan situasi ini misalnya dengan peradaban Mesoamerika (Aztec) yang salah satunya adalah suku Maya peradabannya sedemikian tinggi tapi karena terisolasi dari Eurasia mereka tidak pernah mengenal roda dan teknologi logam yang berkembang di Eurasia sehingga teknologi mereka tidak bisa berkembang lebih jauh.

Tidak terlalu jauh dari tempat orang Mesoamerika (Aztec) hidup juga berkembang peradaban Inca yang dikembangkan oleh suku Quechua di Andes, sebuah peradaban tinggi yang lain yang juga terisolasi. Jika peradaban Mesoamerika (Aztec) tidak terisolasi dari peradaban Inca di Andes, mungkin ceritanya akan berbeda. Jarak keduanya hanya sekitar 2000 km, tapi dataran rendah yang panas dan bergurun di Amerika Tengah, telah secara efektif memisahkan kedua peradaban ini dengan sempurna. Padahal dengan adanya ternak besar seperti llama yang dikembangkan di Andes yang sebenarnya cocok sekali dikembangkan di Mexico, tidak mustahil, peradaban Aztec akan mampu mencapai peradaban semaju di Eurasia. Hal yang sama seperti yang dialami oleh peradaban Aztec dan Inca ini terjadi pada peradaban di Sahel dan peradaban di Afrika bagian selatan yang terisolasi dengan sempurna oleh Gurun Sahara.

Jarak antara peradaban Mesoamerika (Aztec) dan peradaban Inca di Andes ini kurang lebih sama dengan jarak antara Balkan dan Mesopotamia. Tapi karena tidak ada hambatan geografis yang berarti, dalam jangka waktu 2000 tahun Balkan telah mengadopsi pertanian dan peternakan dari Mesopotamia. Alih teknologi dan pertukaran peradaban ini menyebar sampai ke negeri kita ini. Jauh sebelumnya, pada masa awal mencairnya es bahkan sangat mungkin di tempat kita inilah peradaban lebih dulu berkembang, karena memang di sinilah di daerah khatulistiwa ini terdapat tanah subur dan sinar matahari untuk bisa mengembangkan pertanian dan segala teknologi yang mengikutinya. Dasar inilah yang membuat beberapa peneliti modern percaya kalau peradaban Atlantis dalam legenda itu sebenarnya ada di negeri kita ini.

Karena hampir tidak memiliki isolasi geografis yang berarti, dalam waktu tak lama hampir seluruh Eurasia telah mengenal bertani dan beternak dengan ciri khas daerahnya masing-masing.

Penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu melalui jalan damai, tapi sangat sering juga melalui PENAKLUKAN. Melalui perdagangan atau penaklukan (konflik), teknik-teknik bertani dan beternak itu pun makin disempurnakan dan kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan terus menerus disempurnakan seiring dengan perubahan, suasana dan konflik dan persaingan terbaru.

Saat ini misalnya ketika umat manusia di planet ini sudah mencapai 6,5 milyar lebih. Model pertanian konvensional yang sepenuhnya mengandalkan kebaikan alam sama sekali tidak lagi memadai untuk memberi makan ke 6,5 milyar manusia itu. Situasi ini menuntut perluasan lahan pertanian dan dikembangkannya teknik-teknik pertanian baru, entah itu teknologi persilangan benih, pupuk kimia, pestisida dan berbagai teknologi alat pertanian dan juga tidak kalah penting moda transportasi untuk mendistribusikan bahan pangan.

Begitulah keadaan manusia modern saat ini, setiap peradaban manapun tidak lagi mampu berdiri sendiri. Seluruh planet ini sekarang telah terhubung dan saling bergantung satu sama lain. Situasi seperti inilah yang memunculkan kesadaran pada manusia modern akan pentingnya kebersamaan, tapi sepanjang manusia ada di bumi konflik jelas akan terus terjadi dan melalui konflik ini pun pasti akan muncul berbagai teknologi yang saat ini belum bisa kita bayangkan (seperti orang zaman dulu yang tidak bisa membayangkan internet, HP dan Pesawat terbang).

Seperti yang saya jelaskan dalam tulisan ini, peradaban itu bisa maju ketika dia banyak berinteraksi dengan peradaban lain yang membuatnya mampu menyerap banyak informasi dan pengetahuan dari peradaban lain dan mensintesanya ke dalam peradabannya sendiri.

Situasi seperti inilah yang membuat saya begitu antusias mengetahui pemerintah Aceh saat ini mengirim sampai 1300 orang untuk ke luar negeri. Meski tidak semuanya, saya sangat yakin dari jumlah sebanyak itu pasti masih banyak tersisa manusia-manusia Aceh yang tercerahkan yang membawa pengetahuan dan pengalaman baru dari tempatnya belajar untuk kemudian saling didiskusikan, diperdebatkan dan dipertentangkan untuk membangun peradaban Aceh yang gemilang.

Alasan inilah yang membuat saya menolak keras ide membuat Gayo yang eksklusif dan mengisolasi diri dengan cara membuat provinsi sendiri, karena ide ini hanya akan membuat Gayo menjadi hebat dalam tempurung kecil buatan sendiri tapi langsung remuk begitu berhadapan dengan kekuatan luar. Gayo yang mengisolasi diri tidak akan memiliki cukup orang yang memiliki banyak ide semangat besar untuk mengembangkan sebuah budaya debat dan diskusi yang memunculkan iklim persaingan untuk menuju kemajuan sebuah peradaban.

Memang di Aceh sendiri sekarang berkembang populasi orang-orang TOLOL yang SOK JAGO yang karena sempit dan kerasnya batok kepala merasa mampu hidup sendiri dan mengharamkan perbedaan. Orang-orang yang karena mengalami korslet dalam otak ini kemudian merasa diri sebagai orang yang paling beriman, yang paling mengerti dan paling dekat dengan TUHAN. Mereka menyebut orang luar sebagai kafir yang harus dimusuhi dan menyebut orang sekaumnya sendiri yang berbeda pandangan sebagai kaum PENGACAU KEIMANAN ini mau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk dengan menyebar fitnah kemana-mana.

Keberadaan orang-orang ini adalah sebuah dinamika yang berfungsi untuk membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih tercerahkan, meskipun mereka sendiri jelas sampai kapanpun tidak akan pernah maju kemana-mana, sampai kapanpun mereka cuma bisa menghayal dan bersitegang urat leher sambil pamer bacot besar kemana-mana.

Kita bisa mengatakan nasib mereka akan tetap seperti ini sampai musnah sendiri ditelan kemajuan, karena sejarah selalu menunjukkan kalau manusia-manusia berbacot besar semacam ini selalu sama sekali tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan.

Contohnya sekarang saja kita lihat, mulut mereka berbuih-buih menghujat orang kafir tapi mereka sendiri menggunakan komputer dan berbagai teknologi buatan kafir untuk menyebarkan gagasan. Contoh yang lebih telak lagi yang menunjukkan kemunafikan kelompok ini adalah ketika salah seorang dari kelompok ini, seorang mantan caleg dari PKS dari daerah pemilihan Aceh Utara ( Matangkuli, blang jruen, nibong, pirak timu) dalam pemilu 2009 kemarin kan. Cuma malangnya dia tidak dipercaya oleh masyarakat sana untuk duduk di dewan.

Orang yang sekarang berstatus mahasiswa S2 di IAIN ARRANIRY pernah memfitnah pemerintah Aceh dalam tulisan http://www.facebook.com/note.php?rfa9692d4¬e_id=477156225511&comments dengan mengatakan "Jumlah pendudukan miskin naik dengan angka yang sangat fantastis " dan "mutu pendidikan yang sangat terbelakang" sementara dia sendiri hidup dari uang 1,2 juta sebulan yang merupakan beasiswa dari pemerintah yang difitnahnya. Dia menjadi Kabid sosial di lembaga bernama CADS yang berfiliasi dengan IPSA (Ikatan Penulis Santri Aceh) sebelumnya beraudiensi dengan si Nazar, wakil gubernur yang dia FITNAH itu, untuk meminta komputer dan biaya operasi lembaga tersebut. Tapi karena FITNAH-nya saya telanjangi, dia menghapus tulisan tersebut dan menggantinya dengan tulisan senada http://www.facebook.com/notes/teuku-zulkhairi/menatap-aceh-pasca-irna-catatan-harian-tgkteuku-zulkhairi/482475450511 dengan memasukkan informasi baru yang saya sampaikan.

Karena itulah ketika semakin banyak orang Aceh yang tercerahkan, saya yakin orang-orang ini akan punah dengan sendirinya, meskipun untuk sekarang kita memang harus melawan mereka, agar pondasi untuk kegemilangan peradaban Aceh di masa depan tidak dihancurkan oleh orang-orang PANTENGONG ini.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Aceh, Suku GAYO beragama ISLAM

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Notes : Lebih lanjut tentang sejarah evolusi peradaban silahkan dibaca di buku - Guns, Germs, and Steel - yang ditulis oleh Jared Diamond