Selasa, 05 Mei 2009

Kisah Icarus dan Cara Pandang Manusia Modern Terhadap Sebuah Fenomena

Beberapa waktu yang lalu aku bersama grup turis yang aku tangani menginap di Margo Utomo sebuah perkebunan dan peternakan sapi perah di Kalibaru Kabupaten Banyuwangi. Pemilik tempat ini membangun kamar-kamar penginapan dan restoran yang kemudian dia tawarkan ke agen-agen perjalanan untuk dijadikan tempat penginapan bagi turis-turis asing yang melakukan perjalanan dari bagian barat pulau Jawa menuju Bali.

Karena tempat ini adalah perhentian terakhir kami di pulau jawa untuk selanjutnya menyeberang ke Bali. Mengingat di Bali juga kami akan menginap di Pemuteran yang jaraknya hanya setengah jam perjalanan dari Gilimanuk, aku sengaja memberikan kelonggaran waktu kepada para klienku untuk menikmati suasana perkebunan ini sekalian menikmati sarapan pagi dengan santai.

Saat sarapan pagi aku duduk dengan seorang klienku asal Bordeaux bernama Jean Panis. Monsieur Panis ini adalah seorang petani yang gila terbang. Sebagai gambaran betapa tergila-gilanya dia pada benda yang bisa terbang, waktu kami berrada di Bali, ketika para klienku yang lain sibuk membeli batik, patung dan perak sebagai kenang-kenangan, Jean panis membeli layangan.

Di masa mudanya, Jean Panis hobi main pesawat aero model, saat itu dia membuat sendiri pesawat terbang-pesawat terbang mainannya. Ketika dia sudah beranjak tua dan tanah pertanian miliknya dia serahkan pengelolaannya pada anaknya. Monsieur Panis semakin serius menekuni hobinya, kali ini bukan hanya peswat mainan, tapi dia membangun sendiri sebuah pesawat ringan betulan untuk dia terbangkan. Dengan biaya 52.000 Euro dia berhasil membuat sebuah pesawat yang sering dia terbangkan keliling Perancis.

Di samping hobinya menerbangkan pesawat buatannya sendiri, saat ini Jean Panis sangat gemar melakukan olah raga "para gliding". terbang dengan parasut yang didesain sedemikian rupa sehingga dengan alat itu manusia akhirnya bisa terbang bebas di udara seperti elang.

Dari cerita Jean, aku tahu betapa sekarang teknologi paragliding sudah demikian majunya, parasut yang dipakai dibuat dari material yang sangat kuat dan benar-benar ringan. Parasut yang digunakan untuk paragliding tersebut dilengkapi panel-panel udara yang digunakan sebagai pengendali oleh penerbang.
Selain instrumen yang dipakai untuk terbang, panerbang paragliding juga dibekali dengan pengetahuan tentang cuaca sehingga mereka mengetahui kapan waktu yang tepat untuk terbang dan kapan waktu yang berbahaya. Penerbang paragliding harus tahu membedakan mana angin yang disebabkan oleh iklim dan mana angin yang disebabkan oleh perbedaan tinggi rendah suhu udara.

Penerbang paragliding mengerti bahwa angin yang disebabkan oleh perbedaan tinggi rendah suhu udara itu adalah angin yang sangat bagus untuk membuat paraglider melayang. Angin yang sama dipakai oleh elang ketika burung ini melayang tanpa mengepakkan sayap di udara.

Begitulah, teknologi dan dan pengetahuan yang memadai di zaman sekarang telah membuat manusia bisa bertualang dan melayang bebas seperti elang di angkasa.

Tapi jauh sebelum teknologi dan pengetahuan manusia cukup memadai untuk memungkinkan hal ini terjadi seperti sekarang, sebenarnya keinginan manusia untuk terbang sudah dipendam sejak ribuan tahun yang lalu.

Cerita Jean mengingatkan saya pada salah satu kisah dalam mitologi Yunani 'Icarus dan Daedalus 'yang merupakan bukti bahwa obsesi manusia untuk bisa terbang di angkasa sudah ada sejak waktu yang sangat lama. Dalam kisah ini diceritakan Icarus dan Daedalus terbang melarikan diri dari kreta dengan sayap ciptaan Daedalus.

Kisah Icarus dan Daedalus ini menginspirasi paraglider masa sekarang, di perancis komunitas Paraglider membuat sebuah festival paragliding tahunan bernama 'Coupe D'Icare', artinya Piala Icarus.

Kisah manusia terbang dalam mitologi Yunani ini bercerita tentang Daedalus, seorang insinyur hebat di Athena yang bekerja untuk raja Minos 2 di Kreta, di Knossos istananya yang luar biasa.

Saat bekerja untuk raja Minos 2, Daedalus diceritakan membantu perselingkuhan Pasiphae (istri Minos 2) dengan Sapi jantan gagah hadiah dari Poseidon (raja laut) yang seharusnya dijadikan untuk kurban tapi diganti dengan sapi lain oleh Minos 2. Dalam kisah perselingkuhann ini, Daedalus menciptakan sebuah patung kayu yang bolong bagian tengahnya, yang digunakan oleh Pasiphae untuk jalan keluar ke padang rumput tempat sapi jantan hadiah Poseidon merumput. Kisah perselingkuhan Pasiphae dengan sapi Jantan hadiah Poseidon ini menyebabkan Pasiphae hamil dan kemudian melhirkan Minotour, monster setengah manusia dan setengah sapi.

Ketika Minotour lahir, Daedalus membuat labirin untuk mengurung monster ini . Bertahun-tahun minos meminta warga Kreta untuk menyediakan seorang gadis untuk memberi makan Minotour. Hal ini berakhir ketika seorang pahlawan bernama Theseus datang ke Kreta dan membunuh Minotour. Ariadne, anak Minos 2 dan Pasiphae jatuh cinta pada Theseus dan meminta Daedalus membantu mengeluarkan Theseus dari labirin. Daedalus setuju dan memberikan peta jalan keluar pada Theseus untuk keluar dari labirin dan kemudian melarikan diri dari Kreta bersama Ariadne. Minos yang kehilangan anaknya tanpa mengetahui Minotour telah dibunuh marah besar dan ketika mengetahui daedalus terlibat dalam hal ini, Minos 2 pun memrintahkan untuk mengurung Daedalus dan anaknya Icarus dalam labirin.

Karena Labirin adalah buatan Daedalus sendiri, dia dengan mudah bisa menemukan jalan keluar dan berencana melarikan diri dari kereta. Tapi karena darat dan laut telah diawasi dengan ketat oleh pasukan Minos 2, sehingga satu-satunya jalan melarikan diri adalah lewat udara. Di sinilah kisah tentang manusia terbang yang sangat terkenal itu bermula.

Mengenai hal ini, dikisahkan Daedalus yang insinyur ini membuat sayap untuk Icarus anaknya dan dirinya sendiri. Caranya dia mengumpulkan bulu sayap burung kemudian merekatkannya dengan menggunakan lilin. Setelah sayap ini jadi dan mereka bisa terbang, daedalus mengingatkan anaknya agar tidak terbang terlalu tinggi karena akan membuatnya terlalu dekat dengan matahari sehingga panasnya akan melelehkan lilin yang merekatkan sayapnya. Sebaliknya Daedalus juga mengingatkan Icarus untuk tidak terbang terlalu dekat dengan laut supaya uap air laut tidak membasahi sayapnya dan membuatnya menjadi berat untuk dikepakkan.

Mereka berdua berhasil terbang dari Kreta, tapi Icarus yang kesenangan dengan pengalaman terbang pertama yang dia dapatkan menjadi terlalu gembira dan kurang hati-hati. Icarus terbang terlalu tinggi dekat ke Matahari sehingga lilin yang melekatkan sayap-sayap milik Icarus meleleh dan diapun terjerembab jatuh dan tenggelam di laut. laut tempatnya jatuh itu sampai sekarang dinamakan Laut Icarus (Icarian Sea). Dalam kisah itu diceritakan hercules yang yang kebetulan lewat menemukan mayat Icarus dan menguburkannya. Daedalus yang terpukul melihat kematian anaknya, tetap melanjutkan terbang ke Sisilia dan tinggal di daerah Cocalus dan menetap di sebuah tempat bernama Camicus.

Dengan pengetahuan yang kita punya sekarang, banyak kemustahilan kita temukan dalam kisah dalam mitologi yunani ini. Misalnya kita sekarang dengan logika paling sederhanapun paham kalau Lilin tidak mungkin bisa merekatkan sayap burung hingga cukup kuat menahan tubuh manusia, atau kisah melelehnya Lilin karena Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari. Cerita ini dimungkinkan oleh terbatasnya pengetahuan manusia zaman itu tentang jarak yang hanya sebatas pandangan mata, jarak antara Bumi dan matahari yang jauhnya 150 juta kilometer itu sama sekali tidak bisa dibayangkan oleh manusia zaman itu. Sehingga Icarus yang terbang katakanlah 2 kilometer alias 0,000002 juta kilometer lebih tinggi ke jarak 150.000.000- kilometer itu dianggap sudah terlalu dekat dengan matahari. Ukuran matahari yang 1.4 juta km dan ukuran Bumi yang 12,700 km (=0.0127 juta km) tidak pernah bisa dibayangkan oleh mereka, ukuran yan g membuat skala matahari dan Bumi jika dikecilkan akan tampak seperti sebuah Bola Voli dan sebuah ketumbar dengan jarak 20 meter memisahkan keduanya.

Cerita melelehnya lilin karena terlalu dekat ke matahari ini semakin tidak masuk akal lagi kalau kita membandingkan dengan pengetahuan zaman sekarang dimana kita ketahui semakin tinggi tempat di permukaan bumi ini, justru suhunya semakin turun.

Kisah Icarus dan Daedalus ini dipercaya ditulis oleh Hesiodos atau dikenal juga sebagai Hesiod yang kira-kira sezaman dengan Homer, sastrawan lain yang menciptakan cerita Illiad dan yang keduanya dipercaya hidup sekitar abad ke-8 Sebelum masehi.

Meskipun banyak kekonyolan dalam cerita ini jika dipandang dari sudut pandang zaman sekarang, tapi melalui cerita yang ditulis hampir 3000 tahun yang lalu ini, kita bisa mengamati kalau manusia zaman itu sudah mengamati fenomena terbangnya seekor burung dengan penuh rasa penasaran dan mereka telah bisa menyimpulkan bahwa elemen terpenting yang membuat burung bisa terbang adalah SAYAP.

Cuma dengan segala keterbatasan pengetahuan manusia pada zaman itu, mereka menyangka bahwa elemen terpenting yang membuat sayap bisa dijadikan alat untuk terbang adalah MATERIALNYA yaitu BULU.

Berbeda dengan manusia sekarang yang telah menguasai ilmu pasti, baik itu fisika, kimia maupun biologi sehingga keempat ilmu murni itu dibantu dengan logika tertinggi Matematika. Dengan pengetahuan itu manusia bisa memahami ide dibalik sayap sehingga mampu membuat burung terbang, dengan pengetahuan itu muncullah teknologi yang salah satunya adalah teknologi paragliding yang membuat manusia bisa terbang. Manusia sekarang tahu kalau fungsi sayap terutama adalah untuk menahan beban dan menangkap udara untuk menahan grafitasi. Manusia zaman sekarng tahu, materi pembuat sayap itu tidak harus bulu, yang paling penting dari materi pembuat sayap adalah materi itu ringan dan kuat. Dengan pengetahuan ini terciptalah PARAGLIDING.

Tapi hal ajaib tentang manusia modern terutama yang tinggal di negara ini adalah; dengan limpahan pengetahuan yang dikuasai oleh manusia zaman sekarang. Ketika teknologi yang sudah sedemikian maju yang memungkinkan manusia untuk memahami ide dibalik sebuah fenomena, banyak sekali manusia-manusia di negara ini yang masih berpikir dengan cara pandang orang-orang yang hidup pada masa 3000 tahun yang lalu.

Di negara ini banyak orang yang mengamati sebuah fenomena berdasarkan penampilan fisik yang terlihat kasat mata, bukan ide yang ada dibaliknya.

Sialnya banyak sekali diantara orang-orang seperti ini yang merupakan pengambil keputusan dalam bernegara.

Banyak pengambil keputusan di negara ini yang masih berpikir dengan pola pikir seperti yang dimiliki Hesiod yang hidup di abad ke-8 sebelum masehi, yang menyangka burung bisa terbang karena BULU-nya bukan kekuatan bulu yang memberi keseimbangan dan kekuatan menahan berat burung di udara.

Akibatnya, di negara ini termasuk di Aceh tempat kelahiran saya, banyak sekali aturan perundang-undangan yang mendasarkan asumsinya pada fenomena fisik yang tampak kasat mata, bukan pada ide yang ada di baliknya.

Di Aceh tempat kelahiran saya, banyak peraturan yang dibuat asumsi seperti yang dibuat Hesiod. Burung terbang karena bulunya.

Akibatnya di Aceh banyak sekali bermunculan aturan konyol yang tidak masuk akal, yang dipercaya oleh pembuatnya yang terobsesi membuat 'manusia terbang', padahal pengetahuan si pembuat aturan ini tentang 'terbang' baru sebatas yang membuat seekor burung bisa terbang adalah BULU yang melekat di tubuhnya. Dengan berbekal pengetahuan yang mereka miliki ini, mereka percaya dengan melekatkan 'BULU-BULU' pada tubuh manusia, seperti burung, manusiapun akan bisa terbang seperti elang di angkasa.

Lalu merekapun dengan kekuasaan yang mereka punya memaksa orang-orang yang hidup di Aceh untuk melekatkan 'BULU' di tubuh-tubuh mereka.

Wassalam

Win wan Nur

Tidak ada komentar: