Senin, 14 September 2009

Indonesia-Malaysia; Dialog Dengan Seorang Doktor Asal Malaysia

Tulisan ini berisi "pertukaran pendapat" antara saya dengan seorang warga Malaysia yang merasa tersinggung dengan tulisan saya http://winwannur.blog.com/2009/09/06/hubungan-indonesia-malaysia-tanggapan-kritis-untuk-franz-magnis-suseno/ yang saya post di sebuah milis Aceh.

Warga Malaysia yang menanggapi tulisan saya tersebut bernama Dr. Kamarulzaman Askandar, seorang pengajar di USM. Saya mengenalnya ketika kami berdua mengikuti sebuah konferensi di Banda Aceh hampir setahun yang lalu.

Dr.Kamarulzaman Askandar ini adalah pembimbing dari teman-teman saya yang saat ini mengelola Aceh Institute. Ketika teman-teman saya ini mengambil gelar pasca sarjana di Universitas tempat Dr.Kamarulzaman Askandar mengajar.

Warga Malaysia ini juga merupakan salah seorang pendiri Aceh Institute yang sekarang dikelola oleh teman-teman saya tersebut. Dalam balasan terhadap tulisan saya http://winwannur.blog.com/2009/09/14/hubungan-indonesia-malaysia-tanggapan-langsung-dari-malaysia/ Dr.Kamarulzaman Askandar dengan terus terang menyatakan kesal dan merasa tersinggung karena saya menuliskan opini yang menyudutkan Malaysia di Milis dari sebuah institusi yang dia bidani kelahirannya.

Karena itulah saya mem-post tulisan ini di berbagai milis, untuk dijadikan bahan diskusi.

Melalui tulisan ini pula saya ucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya pada para pengelola Aceh Institute atas kedewasaan Aceh Institute dalam berdemokrasi.

Saya sangat menghargai Institusi ini karena meskipun tulisan ini dikesalkan oleh salah seorang pendiri lembaga ini yang sangat dihormati oleh beberapa pengelola lembaga ini karena yang bersangkutan merupakan dosen pengasuh dari beberapa penggelola lembaga ini saat mengambil gelar pasca sarjana.

Bagi saya hal ini membuktikan bahwa Aceh Institute benar-benar didirikan dengan sebuah motivasi murni untuk mencerahkan Rakyat Aceh di Bumi Iskandar Muda yang saya cintai.

Inilah isi dialog saya dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, selamat membaca.


Walaikum Salam Saudara Kamarulzaman

Setelah hampir setahun tidak pernah berkomunikasi dengan anda, senang sekali rasanya melihat anda mau meluangkan waktu membaca bahkan dengan ikhlas mau menanggapi tulisan saya.

Dikarenakan kesibukan saya mencari nafkah untuk keluarga saya, saya mohon maaf kalau baru sekarang saya bisa membalas tulisan anda. Selama ini saya memang jarang sekali sempat membuka tiap milis yang saya ikuti satu persatu. Saya biasanya hanya menulis dan mem-postnya tulisan yang saya ketik di waktu luang ke berbagai milis tanpa sempat lagi membaca tanggapan yang masuk.

Saya juga senang sekali membaca 'nada' dalam tanggapan anda, karena dengan melihat nada dalam tulisan anda itu saya tahu bahwa apa yang saya maksud saat mem-post tulisan ini di milis AI tercapai adanya. Saya memang sengaja mem-post tulisan ini di AI karena saya tahu apa yang tertulis di milis ini juga akan dibaca di Malaysia negara anda.

Maaf kalau tangapan saya kali ini akan panjang sekali, itu karena akan banyak hal yang akan saya jelaskan dan saya pikir perlu anda dan bangsa anda ketahui.

Sebenarnya agak sulit bagi saya untuk memilih, memulai darimana untuk membalas tanggapan anda ini.

Tapi baiklah saya mulai saja dari soal budaya dan tari-tarian. Saya sangat maklum dengan ucapan anda yang menganggap soal tarian dan budaya adalah soal remeh adanya. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia. Di Malaysia negara anda, soal ini memang tidak memilliki arti apa-apa, tidak ada urusan dengan identitas dan keunikan lokal yang perlu dipertahankan dalam budaya. Jadi siapapun bisa mengklaim tarian ini dan budaya ini sebagai miliknya. Beda dengan di sini, bahkan orang Gayo pun tidak senang budayanya di klaim sebagai milik orang Aceh. Padahal kami sama-sama Aceh.

Soal itu tarian ditarikan oleh orang lain itu berbeda adanya, orang Gayo juga bangga tariannya ditarikan oleh orang Aceh atau orang Jawa selama yang menarikan itu mengakui bahwa tari yang mereka tarikan itu adalah tari Gayo. Seperti yang anda katakan "Malaysia akan salah kalau mengaku bahawa budaya yang pelbagai ini adalah ciptaan bumi Malaysia kerana mereka sebenarnya dibawa ke tanah ini oleh penduduk yang aslinya dari Jawa, Aceh, Cina, India atau dari mana saja". Tepat sekali inilah masalahnya.

Saudara Kamarulzaman, perlu anda tahu, orang di sini yang di negara anda dipanggil "indon" tidaklah sepicik yang anda sangka. "indon-indon" di sini bukanlah sekumpulan manusia xenophobic yang anti asing yang melarang dengan ketat budayanya di apresiasi oleh orang luar.

Soal pendet Bali misalnya, dari tulisan anda ini saya menangkap kesan seolah-olah anda beranggapan bahwa orang Bali itu demikian piciknya yang langsung emosi melihat tarian karya budaya mereka ditarikan orang asing. Padahal kenyataannya tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Orang Bali itu adalah salah satu suku yang paling toleran di dunia. Dua kali orang Islam dari Jawa mem-Bom tanah mereka karena alasan agama, tapi sampai hari ini tidak pernah terpikir oleh mereka untuk mengusir orang Islam dan orang Jawa dari tanah Bali.

Di Bali itu setiap tahunnya ada ribuan orang asing yang datang untuk mempelajari budaya mereka. Tari pendet yang bermasalah itu telah ditarikan oleh orang dari berbagai bangsa mulai dari Asia, Eropa, Amerika sampai Afrika. Bahkan di Jepang dan di Australia kadang itu tarian ditarikan untuk menarik minat wisatawan. Persis seperti yang anda katakan alih-alih marah, orang Bali justru bangga budayanya diapresiasi oleh orang asing. Orang Bali marah ketika tariannya ditarikan oleh orang asing, jika dan hanya jika tariannya itu ditarikan oleh orang MALAYSIA.

Beberapa waktu yang lalu Jawa Timur mendapat kunjungan rombongan ketoprak dari Suriname. Para pemainnya adalah keturunan Jawa yang dulu dibawa oleh Belanda ke negara itu. Orang Jawa Timur memenuhi gedung pertunjukan tempat Ketoprak Suriname itu dipentaskan. Saat datang ke gedung pertunjukan, wajah orang-orang Jawa itu dipenuhi antusiasme dan rasa penasaran bagaimana kiranya kesenian mereka dimainkan oleh orang Jawa yang berasal jauh dari seberang lautan. Ketika pulang dari menonton pertunjukan itu wajah-wajah mereka dipenuhi rasa bangga saat menyadari kalau budaya mereka masih tetap dilestarikan di Suriname, sebuah negeri yang terletak jauh di seberang lautan sana. Apalagi selepas menonton Ketoprak itu mereka mengetahui kalau ada banyak bahasa Jawa yang tidak dipakai lagi dalam perckapan sehari-hari mereka masih dilestarikan di Suriname sana.

Pada waktu hampir bersamaan, Reog Ponorogo, kesenian mereka yang lain ditarikan di Malaysia. Uniknya, reaksi orang Jawa Timur terhadap kejadian itu berbanding 180 derajat dengan reaksi terhadap Ketoprak yang dimainkan orang Suriname. Alih-alih merasa bangga, orang Jawa Timur marah besar saat Reog Ponorogo, tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Mereka tidak peduli dengan argumen Malaysia bahwa yang menarikan itu adalah keturunan Jawa yang telah turun-temurun menetap di negara anda.

Jadi saudara Kamarulzaman, dari dua ilustrasi di atas anda bisa melihat kalau yang memicu kemarahan orang sini, bukanlah karena "indon-indon" mengidap gejala Xenophobia yang marah karena budaya atau tarian mereka ditarikan oleh orang asing. Tapi mereka marah semata karena orang asing yang menarikannya adalah orang MALAYSIA.

Nah saudara Kamarulzaman, kenapa Malaysia demikian "istimewa" di mata orang Bali dan Orang Jawa?.

Itu karena Malaysia dalam kacamata orang Bali dan orang Jawa adalah Malaysia yang berbeda dengan Malaysia yang anda dan para mantan mahasiswa anda kenal. Malaysia dimata orang Jawa dan Orang Bali kebanyakan adalah sebuah bangsa yang arogan, yang dengan sombongnya memanggil "indon" kepada orang-orang Indonesia yang mencari nafkah di tempat anda.

Karena itulah saudara Kamarulzaman, orang Indonesia itu tidak senang jika tarian mereka ditarikan oleh orang Malaysia. Jika yang menarikan tarian itu adalah orang asing selain Malaysia, orang Indonesia merasa budayanya sedang diapresiasi. Tapi sama sekali tidak merasa seperti itu jika yang menarikannya adalah orang Malaysia. Dalam pikiran orang Indonesia, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang dengan penuh sikap menghina memanggil mereka "indon", yang menganggap mereka adalah orang-orang miskin pengganggu yang berkelas jongos dan babu, bisa mengapresiasi kesenian mereka?. Satu-satunya yang terpikir di benak orang Indonesia saat orang Malaysia menarikan tarian mereka adalah MALAYSIA, negaranya para MALING itu akan MENCURI tarian mereka untuk kepentingan komersial semata.

Maaf kalau apa yang saya katakan ini terdengar tidak nyaman di telinga anda, tapi faktanya saudara Kamarulzaman, begitulah cara pandang mayoritas orang sini terhadap negara dan bangsa anda.

Fakta itu tidak berubah meskipun kolega akademisi dan mahasiswa anda yang berasal dari negeri ini mengatakan orang yang berpandangan seperti itu hanyalah segelintir orang di negeri ini yang tidak berpendidikan dan yang tidak mengerti Malaysia yang sebenarnya.

Soal Milis AI yang membuat anda kesal karena anda katakan telah dipakai untuk membantai Malaysia. Kalau saya yang menjadi anda, saya justru akan bersikap sebaliknya. Saya justru akan bangga melihat milis yang ikut saya dirikan tetap mampu bersikap objektif dengan jujur menunjukkan fakta yang sebenarnya tentang pandangan orang sini terhadap negara anda. Saya justru akan merasa bangga karena milis yang ikut saya dirikan mampu menyumbangkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah antara negara saya dengan negara seberang. Saya akan bangga karena milis yang saya dirikan tidak hanya berisi puja-puji bernada penjilatan terhadap negara saya.

Karena apa saudara Kamarulzaman?. Sebagai seorang Doktor yang punya spesialisasi menganalisa konflik. Mustahil rasanya kalau anda tidak tahu bahwa setiap konflik hanya bisa diselesaikan secara baik-baik dan bermartabat kalau kedua pihak yang bertikai mau mengakui kelemahan masing-masing dan mampu menilai diri berdasarkan kacamata lawan konfliknya. Konflik tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling puja-puji antar diplomat atau akademisi kampus sambil mengesampingkan sentimen nyata yang berkembang di kalangan orang kebanyakan di lapangan.

Tapi sayapun maklum kalau anda tetap kesal mendapati milis yang anda bentuk ini ternyata tidak dipakai untuk memuja-muji dan menjilat bangsa anda. Saya maklum karena anda berasal dari Malaysia, sebuah negara yang tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat yang tajam karena negara anda memang masih gagap berdemokrasi. Saya maklum karena anda berasal dari negara yang orang berbeda pendapat dengan pemerintah saja bisa langsung ditangkap lalu dengan ajaibnya bisa dituduh melakukan sodomi.

Kemudian saudara Kamarulzaman, yang membuat orang sini membenci negara anda adalah karena masih kental dan masifnya sikap pandang remeh dalam alam bawah sadar setiap unsur anak bangsa anda terhadap kami. Karena namanya di alam bawah sadar, siapapun anak bangsa anda dan sebaik apapun pandangannya terhadap bangsa kami, tetap saja orang tersebut di lubuk hatinya yang terdalam memandang rendah kami.

Sebagai gambaran betapa akut dan berurat berakarnya arogansi dan pandangan anggap remeh bangsa anda terhadap para 'indon" ini. Anda bisa melihatnya pada sikap anda sendiri. Jangankan orang biasa, bahkan seorang Doktor sekaliber anda yang sudah malang melintang bolak-balik ke Indonesia pun masih berpikiran sama seperti melayu-melayu kemaruk tipikal di negara anda sana. Anda yang pernah bersama-sama dengan saya mengikuti sebuah konferensi internasional bahkan kita duduk berdampingan pula, masih bisa berpikir kalau saat saya menuliskan perasaan saya terhadap Malaysia ini karena saya adalah "Indon" bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang negara anda.

Saudara Kamarulzaman, saya bukanlah seorang pengidap autis yang tidak pernah bergaul. Saya kenal baik para mantan mahasiswa anda dan saya tahu persis 'kebaikan' Malaysia seperti yang anda sebutkan dalam tulisan anda, meski tidak sampai detail ke angka-angkanya. Tapi pengetahuan saya itu sama sekali tidak bisa menghilangkan RASA SAKIT yang saya rasakan saat saya dihina oleh aparat resmi negara anda.

Perlu Saudara Kamarulzaman tahu, Malaysia seperti yang anda sebutkan itu hanyalah Malaysia yang hanya bisa dipahami dan dikenal oleh para akademisi kampus yang memiliki hubungan emosional dengan Malaysia. Contohnya adalah anda dan para kolega saya yang pernah menjadi mahasiswa anda. Apa yang anda sebutkan dalam tanggapan anda terhadap tulisan saya itu adalah Malaysia yang ada di awang-awang, bukan Malaysia yang nyata yang ada dalam pikiran orang kebanyakan di negara ini.

Sama seperti sikap orang Indonesia yang anda kenal dari teman-teman saya pun, itu bukanlah sikap nyata dari kebanyakan orang sini terhadap Malaysia.

Saudara Kamarulzaman, dalam pandangan orang kebanyakan di negeri ini, dunia anda dan teman-teman saya yang merupakan mantan mahasiswa anda itu adalah dunia fantasi, bukan dunia nyata. Itu dunianya kaum eksklusif yang berbicara berbasis logika dan angka-angka. Dalam pandangan orang kebanyakan, dunia akademis dan dunia kampus itu adalah dunia yang penuh petita-petiti yang hanya mengenal objektifitas dan rasionalitas. Banyak akademisi yang saya kenal yang sama sekali sudah kehilangan subjektifitas yang merupakan syarat menjadi manusia. Para akademis dan orang kampus banyak yang sudah kehilangan sensitifitas dan tidak mampu lagi merasakan RASA SAKIT. Mereka jadi tidak bisa lagi memahami kenapa orang-orang di akar rumput merasa sakit saat dihina. Ketika mayoritas anak bangsa di sini merasa terhina oleh sikap bangsa anda, banyak akademisi kampus (terutama yang lulusan Malaysia) yang saya kenal yang bersikap seperti Marie Antoinette yang mengatakan "pourquoi Ils ne mangent pas de gâteaux" saat pelayannya mengatakan rakyatnya tak mampu membeli roti.

Lucunya kadang karena saking logisnya para akademisi kampus ini, sikap logisnya itu malah terlihat konyol jadinya. Contohnya seperti yang ditunjukkan oleh teman saya yang bernama Taufan Damanik. Taufan Damanik ini, saat kepalanya diinjak pun yang pertama terpikir di kepalanya adalah kemana mencari cermin untuk berkaca, bukan bagaimana cara menyingkirkan kaki kurang ajar itu dari kepalanya.

Khusus untuk para lulusan Malaysia, tidak sedikit di antara mereka yang saya temui yang sepulang dari negara anda yang bukan hanya menjadi kagum tapi menjadi silau dengan negara anda. Sepulang ke sini, tidak sedikit dari mereka yang jadi bersikap layaknya melayu-melayu kemaruk di negara anda, ikut-ikutan memandang rendah para "indon" yang tidak lain adalah saudara sebangsanya.

Sementara dunia nyata, dunia akar rumput tidak begitu adanya saudara Kamarulzaman. Malaysia dalam kacamata mayoritas orang di negeri ini adalah Malaysia yang sangat berbeda dari yang anda gambarkan dan dimengerti oleh para mahasiswa anda.

Sebagai seorang akademisi bergelar Doktor tentu Saudara Kamarulzaman tidak cukup naif untuk berpikir dan berharap bahwa informasi tentang Malaysia seperti yang anda katakan itu bisa dengan mudah secara masif dipahami oleh orang Indonesia kebanyakan yang bukan akademisi kampus, yang tinggal di kawasan pertanian di Bromo sana, yang tinggal di pelosok pulau Lombok dan Sumba atau yang tinggal di Bali atau Jakarta.

Malaysia dalam kacamata kebanyakan orang sini adalah Malaysia yang diceritakan oleh kerabatnya yang kebetulan berkunjung atau bekerja di negara anda. Malaysia yang mereka kenal adalah petugas imigrasi negara anda yang demikian rendah memandang orang yang berasal dari negeri ini, yang tanpa sikap sopan santun sedikitpun menghardik orang Indonesia yang mengunjungi negara anda supaya menunjukkan sejumlah uang sebagai bukti bahwa kami mampu membayar kebutuhan hidup di negara anda.

Malaysia dalam kacamata mereka adalah askar yang sengaja dibentuk oleh pemerintah anda untuk mengejar 'indon-indon' haram. Askar yang tanpa belas kasihan memukuli pelatih Karate yang merupakan duta bangsa mereka yang sengaja diundang oleh bangsa anda kesana, hanya karena askar bentukan pemerintah anda itu menyangka pelatih karate itu datang ke negara anda untuk mencari kerja.

Malaysia yang mereka kenal adalah sekumpulan Melayu arogan yang berkunjung ke sini sebagai turis yang kalau sikapnya membuat orang Indonesia tersinggung, selalu berpikir bahwa itu tidak lain adalah karena "indon-indon" tersebut merasa cemburu melihat kemajuan ekonomi negara anda atau karena "indon-indon" bodoh itu tidak mengerti apa-apa tentang negara anda.

Kemudian perlu pula saudara Kamarulzaman ketahui, saya sendiri bukanlah seorang akademisi kampus apalagi seorang diplomat yang penuh perhitungan dan petita-petiti atas setiap kata dan kalimat yang diucapkannya karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya akan mempengaruhi hubungan dua negara.

Dunia akademis dan dunia kampus adalah dunia yang telah lama saya tinggalkan dan sama sekali tidak pernah terpikir untuk kembali saya geluti. Sejak beberapa tahun yang lalu saya telah dengan sadar memilih menjadi orang kebanyakan yang tidak perlu berpura-pura bermanis muka, menundukkan wajah sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh takzim di hadapan bangsa asing hanya untuk sekedar mendapatkan beasiswa.

Saya adalah orang kebanyakan yang memandang dunia dengan cara orang kebanyakan, berbicara dengan cara berbicara orang kebanyakan, merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dirasakan orang kebanyakan, menyuarakan perasaan saya seperti cara orang biasa menyuarakan persasaan, menyalurkan emosi dan kemarahan juga dengan cara orang kebanyakan menyalurkan emosi dan kemarahan.

Jadi yang saudara Kamarulzaman baca dalam tulisan saya itu adalah emosi dan kemarahan orang kebanyakan di negeri ini. Bukan emosi dan kemarahan para akademisi kampus, atau diplomat apalagi kemarahan mantan mahasiswa anda yang setengah mati memuja Malaysia sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan rasa sakit yang dirasakan saudara sebangsanya.

Kemudian, izinkanlah saya tertawa menanggapi soal kesediaan anda ke Banda Aceh selepas bulan Ramadhan ini untuk saya pukuli seperti "anjing kampong". Saya tertawa karena tiga alasan. Pertama, ini bukanlah urusan pribadi antara Win Wan Nur dengan Dr. Kamarulzaman Askandar, sehingga kalauppun anda babak belur saya pukuli, itu sama sekali tidak akan merubah cara pandang bangsa anda terhadap orang-orang di negara ini. Kedua, saya merasa sangat lucu mendapati kenyataan bahwa sebagai seorang DOKTOR yang menjadi pengajar di sebuah Universitas terkemuka masih menanggapi ucapan saya ini secara harfiah adanya. Tapi yang paling lucu dari semuanya adalah ketika saya membayangkan diri saya memegang linggis berbahan besi ulir sebesar jempol kaki sambil memukuli seorang DOKTOR ternama dari sebuah Universitas terkemuka di Malaysia.

Saya memang mampu bertindak kejam terhadap anjing kampung. Tapi meskipun saya menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung", saya tidaklah sebiadab askar bentukan pemerintah anda yang tanpa ampun memukuli manusia "indon" yang berstatus pelatih Karate yang sengaja diundang oleh negara anda. Seperti yang saya jelaskan, saya menyebut bangsa anda dengan istilah sekasar itu tidak lain adalah semata supaya anda dan Melayu-melayu yang sebangsa dengan anda tahu seperti apa kiranya RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon" saat bangsanya dihina. Dari nada tanggapan anda terhadap tulisan saya, saya tahu kalau RASA SAKIT itu sudah anda rasakan.

Tapi bagaimanapun, meski saya menolak memenuhi niat tulus anda. Saya tetap mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan dan keikhlasan anda untuk saya pukuli seperti "anjing kampong" sehabis ramadhan.

Dr. Kamarulzaman Askandar, perlu anda tahu kalau sebenarnya saya sengaja membuat anda sakit hati karena dengan adanya anda mengalami RASA SAKIT itu saya ingin menunjukkan kepada anda dan orang Malaysia lainnya, bahwa persis seperti itulah RASA SAKIT yang dirasakan oleh "indon-indon", saat bangsa mereka dihina oleh aparat dan orang kebanyakan di negara anda.

Dengan mem-post tulisan ini di milis AI saya berharap anda mengerti kalau RASA SAKIT yang anda rasakan akibat hinaan saya tidak serta merta hilang RASA SAKIT nya meskipun anda mendapati kenyataan bahwa saya hanyalah satu dari segelintir orang di milis ini yang menista bangsa anda. Saya mem-post tulisan itu karena saya ingin anda dan orang Malaysia lain yang membacanya bisa merasakan sendiri kalau RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya mengenal begitu banyak orang di negeri ini yang memandang bangsa anda denikian bersahabatnya, bahkan kadang berlebihan sampai memuja Malaysia. RASA SAKIT akibat penghinaan saya itu tidak hilang, meskipun secara statistik dan analisa logis anda mendapati bahwa orang seperti saya itu jumlahnya tidak seberapa.

Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda bisa mengerti bahwa tepat seperti itulah yang saya rasakan ketika saya dihina oleh aparat resmi negara anda hanya karena paspor saya menunjukkan bahwa saya berasal dari negaranya para "indon" yang dipandang oleh bangsa anda dengan pandangan sebelah mata. Dengan mengalami sendiri RASA SAKIT itu, saya berharap anda mengerti RASA SAKIT yang saya rasakan itu tidak hilang meskipun saya tahu persis bahwa di Malaysia juga ada orang seperti anda yang membimbing teman-teman saya dalam pendidikan mereka tanpa mengira kulit atau kerakyatan. Dengan merasakan RASA SAKIT itu saya berharap anda bisa bercerita kepada kolega anda bahwa ternyata bangsa anda itu bukanlah bangsa para dewa, karena ternyata andapun merasakan RASA SAKIT yang sama seperti yang dirasakan oleh para"indon" itu ketika bangsa anda dihina.

Saya mem-post tulisan tersebut saudara Kamarulzaman, karena saya ingin mengajak anda dan teman-teman saya yang selama ini sibuk di dunia akademis di kampus untuk kembali belajar memandang dunia dengan cara pandang orang kebanyakan. Bukan hanya memandang dunia berdasarkan argumen logis, rasionalitas dan angka-angka. Karena semua itu bukanlah sesuatu yang nyata. Yang nyata itu adalah RASA SAKIT seperti yang anda rasakan yang muncul saat bangsa anda saya hina.

Alasan lain yang membuat saya menuliskan tulisan sekasar ini tentang bangsa anda, adalah karena saya ingin bangsa anda yang arogan itu faham tentang ETIKA PALING DASAR dalam hubungan antar manusia. Etika dasar yang bersifat Universal, yaitu etika yang selalu dimulai dari "pengakuan reflektif" yang sifatnya timbal balik, alias resiprokal. Maksudnya "kalau aku begitu, aku juga harus mau dibegitukan ".

Etika dasar seperti ini sangat perlu kita pahami dan kita terima bersama, karena kalau kita menolak etika dasar berdasarkan premis di atas maka kita akan jatuh ke dalam situasi IMMORAL. Saya katakan IMMORAL karena siapapun pasti tidak bisa menerima premis seperti ini, "benar = anda menginjak kepala saya; tapi, salah = saya balik menginjak kepala anda".

Contoh dari situasi IMMORAL ini dapat saya gambarkan seperti ini:

Anda mengenal dengan baik begitu banyak orang negeri ini yang sangat menghormati Malaysia negara anda, anda kenal baik mahasiswa anda yang begitu memuja Malaysia, sehingga anda merasa seperti itulah pandangan mayoritas orang sini terhadap bangsa anda. Lalu, ada satu orang bernama Win Wan Nur, bukan segelintir tapi CUMA SATU ORANG SAJA. Yang melalui sebuah tulisan di milis yang anda dirikan, terang-terangan menghina bangsa anda. Menanggapi hinaan terhadap bangsa anda yang bukan dilakukan oleh APARAT RESMI tapi HANYA oleh satu orang yang sama sekali tidak memiliki posisi penting apapun di negara ini. Anda sakit hati, emosi dan marah sejadi-jadinya sampai bersedia dipukuli seperti anjing kampung segala.

Orang yang menghina bangsa anda tersebut melakukan itu karena pernah merasa dihina oleh aparat resmi negara anda dan juga merasa terhina karena sikap kebanyakan bangsa anda yang melecehkan orang yang berasal dari negara yang sama dengannya. Tapi ajaibnya dalam tulisan yang sama anda meminta orang yang menghina bangsa anda tersebut untuk tidak emosi dan marah-marah terhadap apa yang dilakukan aparat resmi dan kebanyakan bangsa anda. Anda memintanya menahan diri dan memaklumi apa yang dilakukan oleh bangsa anda dan menuntutnya untuk melihat Malaysia melalui kacamata anda. Menurut anda orang itu tidak selayaknya marah, sakit hati dan merasa terhina. Karena menurut anda yang melakukan penghinaan itu hanyalah segelintir anak bangsa anda.

Anda bisa melihat sendiri bahwa kejadian di atas adalah situasi yang PERSIS SAMA yang dihadapi oleh dua orang berbeda bangsa. Tapi dalam pandangan anda, untuk kasus (kes dalam bahasa anda) yang PERSIS SAMA ini, Melayu Malaysia (anda) boleh marah dan sakit hati sementara "Indon" harus menahan diri.

Perilaku seperti yang anda tunjukkan ini (hanya saya yang boleh begini) tidak lain adalah perilaku manusia yang merasa bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain. Ini adalah ciri dari manusia yang merasa diri Über Alles. Perilaku seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan inilah yang menjadi dasar bagi saya untuk mencap bangsa anda sebagai "Malaysia Über Alles".

Sebagai warga dari negara yang saya tuduh tersebut, anda tentu tidak bisa menerima tuduhan saya itu. Jadi Dr. Kamarulzaman Askandar, tolong beri saya sebuah jawaban yang logis dan masuk akal. Sebagai Manusia, kualitas lebih apa yang dimiliki oleh bangsa anda dibanding kami dan hak istimewa apa yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa anda sehingga anda merasa hanya bangsa anda yang boleh marah dan sakit hati ketika dihina?.

Saudara Kamarulzaman Askandar, dengan tulisan yang sangat kasar terhadap bangsa anda ini. Sebenarnya saya ingin agar perilaku bangsa anda yang merasa "bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain" seperti yang anda tunjukkan dalam tulisan ini bisa dikurangi. Supaya ETIKA yang sangat mendasar seperti yang saya sebutkan di atas bisa kita bicarakan. Karena kalau ETIKA PALING DASAR ini saja sudah tidak bisa dibicarakan, maka kita sama sekali tidak perlu lagi membicarakan moralitas. Tidak perlu lagi berbicara masalah benar-salah secara etika, apalagi hubungan persaudaraan antar bangsa seperti yang anda terangkan di awal tulisan anda.

Dalam situasi IMMORAL seperti perilaku yang anda tunjukkan dalam tulisan anda ini, yang diperlukan tinggal kuat-kuatan otot saja sehingga kemudian yang terjadi adalah HUKUM RIMBA.

Harapan saya, dengan memahami etika dasar ini anda akan mengerti, bahwa ketika anda membiarkan segelintir anak bangsa anda menghina bangsa lain. Itu artinya anda telah mengundang bangsa lain untuk menghina bangsa anda pula. Ketika segelintir anak bangsa anda menyebut bangsa lain dengan panggilan 'indon" yang merendahkan, maka tidak lain apa yang sedang dilakukan oleh segelintir anak bangsa anda tersebut adalah mengundang bangsa lain untuk menyebut bangsa anda sebagai "Melayu Gila","Melayu Kemaruk" "Melayu Pengecut Bermental Anjing Kampung" dan berbagai sebutan buruk lainnya.

Selanjutnya, melalui tulisan saya yang sangat kasar ini, saya hanya ingin mengajak anda dan orang-orang Malaysia lain yang membacanya untuk sedikit menunjukkan empati saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu hadir dalam diri kami. Saat RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu datang, bukan berbagai alasan akademis, analisa logis dan pemaparan berbagai budi baik bangsa anda yang kami butuhkan. Yang kami butuhkan dari bangsa anda hanya secuil maaf yang diucapkan dengan penuh rasa empati.

Dengan merasakan sendiri RASA SAKIT itu, saya harap anda dan bangsa anda bisa melakukan introspeksi. Bukan seperti yang selama ini terjadi, setiap kami merasakan RASA SAKIT seperti yang anda rasakan itu, kamilah yang selau dituntut (entah itu oleh segelintir anak bangsa kami atau dari bangsa anda sendiri) untuk mengerti dan melakukan introspeksi, seolah bangsa anda itu adalah bangsa para dewa yang tidak pernah bersalah dan selalu suci.

Akhirnya saya berharap supaya Tuhan memberi anda kesehatan supaya suatu saat kita bisa mendapat kesempatan untuk bertemu kembali, supaya kita bisa berdiskusi sambil bertatap muka. Bukan hanya melalui perbincangan di milis semacam AI ini.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Tidak ada komentar: