Senin, 07 Desember 2009

Kampus Teknik; PABRIK ROBOT, Bukan Tempat Mencetak Sarjana

Kemarin aku baru tahu kalau di facebook ada sebuah Group bernama SIKAT, kata yang sangat familiar bagiku karena kata ini adalah singkatan dari Silaturahmi Keakraban Aneuk teknik, yang merupakan sebuah acara penggojlogan alias Ospek di teknik saat kami baru memasuki fakultas ini. Istilah ini semakin terasa intim karena kamilah angkatan 92 yang merupakan angkatan pertama yang mengikuti kegiatan ini.

Yang cukup mengagetkan, setelah membuka Group ini ternyata aku sendiri adalah adminnya. Sepertinya Zulfan, teman seangkatanku di Teknik Sipil yang memasukkan aku sebagai admin di situs ini.

Kekagetan yang aku rasakan semakin bertubi-tubi, karena begitu membuka layar. Di wall group ini berisi hujatan dari seorang mahasiswa Teknik Arsitektur dengan nama facebook Dek Moens Ibn Ibrahim. Isinya hujatannya tidak tanggung-tanggung BUBARKAN GROUP INI.

Hujatan Dek Moens Ibn Ibrahim ini jelas membuat gerah anggota Group yang merasa jauh lebih senior, tanpa sama sekali menanyakan alasan kenapa Dek Moens Ibn Ibrahim mengeluarkan hujatan semacam ini.

Tapi hari ini Dek Moens Ibn Ibrahim menjelaskan alasannya. Alasan yang dia kemukakan saya paste di bawah ini :

Tabi' syara,tidak ada maksud saya untuk membubarkan SIKAT, saya salah satu diantara kawan2 yang sampai kedepan mempertahankan SIKAT.. Namun dimana 689 (ENAM RATUS DELAPAN PULUH SEMBILAN) orang anggota group ini ketika ada tekanan dari birokrasi kampus yang hampir MEMBUBARKAN SIKAT...????
ada yg bilang...
AKU BERSAMA KALIAN..
AKU DISAMPING KALIAN..
AKU DI BELAKANG KALIAN..... See More
ADA JUGA YANG NGAKU,, AKU SATU BARISAN SAMA KALIAN...

BAGIKU.......
"apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata :LAWAN"

Apa yang diungkapkan oleh Dek Moens Ibn Ibrahim ini adalah fakta yang terjadi di kampus teknik tercinta sekarang.

Banyak dari alumni Teknik yang berfikir kalau teknik masih seperti zaman dulu, kuliah begitu seru, penuh keakraban dan banyak kegiatan. Sesuai dengan motto Teknik "BUKU, CINTA DAN PESTA". Kenyataannya Teknik sekarang tidaklah demikian.

Tahun lalu ketika aku berkesempatan pulang ke Banda Aceh, aku menyempatkan diri mampir ke kampus. Suasana kampus yang aku bayangkan tentu saya seperti bayangan kampus saat aku masih kuliah dulu, suasana yang ceria dan penuh keakraban antar sesama mahasiswa. Dengan mahasiswa-mahasiswa yang tampil dengan pakaian santai dan cuek yang menganggap penampilan sebagai urusan nomer dua.

Tapi yang aku saksikan di kampus sangatlah berbeda, aku sama sekali tidak lagi mengenal Teknik. Saat masuk ke kampus fakultas ini aku merasa seperti alien yang berbeda sendiri. ROH Teknik yang membuat kampus ini disegani di Unsyiah bahkan di seantero banda Aceh seperti di saat aku kuliah dulu sama sekali tidak tersisau sedikitpun di kampus ini. Masuk ke kampus Teknik aku serasa seperti masuk ke kampus FKIP atau IAIN. Tidak ada mahasiswa dengan kaos dan Jins belel menenteng tas berisi kotak kalkir yang nongkrong di warung. Yang kulihat di Teknik adalah anak-anak manis berkemeja rapi yang sibuk dengan laptopnya.

Sebenarnya tidak ada masalah soal berpakaian ini, cuma yang menjadi masalah adalah tidak mungkin Teknik bisa menjadi ini seperti ini kalau tidak ada yang memaksa.

Saya menemukan masalahnya setelah saya mencoba berbicara dengan beberapoa adik yang berkemeja itu. Ternyata mereka berpakaian seperti itu karena memang dipaksa oleh dekanat.

Mendengar alasan si adik ini akupun maklum dan sangat memahami pola pikir orang dekanat ini. Aku maklum karena memang orang-orang dekanat di fakultas ini memang diisi oleh dosen-dosen yang diangkat dari mahasiswa yang dulunya berprestasi saat kuliah di kampus ini.

Masalah ini terjadi karena dosen-dosen yang dulunya mahasiswa berprestasi ini memang rata-rata adalah anak-anak gila belajar yang semasa kuliah dulu. Mereka rata-rata adalah para sarjana yang semasa kuliah sama sekali tidak pernah ikut merasakan dinamika mahasiswa. Bagi mereka kuliah itu hanya dan cuma BUKU saja, mereka sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya CINTA dan PESTA. Ke kampus, mereka tahunya cuma kuliah dan mendapat IP tinggi. Dunia yang mereka tahu ya cuma itu, sehingga mereka pun berpikir untuk hidup ya satu-satunya jalan hanya seperti itu.

Karena itulah ketika menjadi dosen dan mendapatkan hak membuat kebijakan di Teknik merekapun membuat teknik menjadi seperti satu-satunya dunia yang mereka ketahui itu. Dunia tanpa gejolak, statis dan membosankan.

Dengan pikiran dan pandangan seperti itu, mereka pun dengan semena-mena mengambil HAK Mahasiswa Teknik untuk mengekspresikan diri. Menghambat perkembangan Mahasiswa teknik untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Akibat dari kebijakan dari dosen-dosen berkacamata kuda, kaku dan membosankan ini. Fakultas Teknik jadi lebih mirip PABRIK ROBOT dibanding tempat mencetak sarjana.

Sebenarnya cara pandang para dosen kuper ini tidak salah, kalau cuma mereka dan pengalaman hidup mereka yang membosankan itu yang dijadikan referensi. Tapi kalau para alumni lain yang sudah sukses sekarang juga kita tanyai apakah hanya IP tinggi itu yang menjadi modal utama untuk hidup setelah tidak lagi kuliah, ternyata jawabannya sangat berbeda.

Karena setelah kita meninggalkan teknik, ternyata pengalaman kita ikut berbagai kegiatan ekstra kurikuler, pengalaman kita berinteraksi dengan berbagai kalangan dan berbagai lapisan sosial masyarakat waktu kita mengadakan kegiatanlah yang paling banyak membantu waktu kita saat sudah selesai kuliah dan terjun ke masyarakat.

Buktinya katakanlah di angkatan saya saja sekarang, teman-teman seangkatan saya yang sudah bekerja sekarang. Di antara teman-teman seangkatan saya, rata-rata yang sukses justru adalah "hantu-hantu" jaman dulu, yang selalu dipandang sebelah mata oleh dosen-dosen sombong yang hidupnya membosankan itu. Teman-teman yang aku tau persis dulu membuat bersama-sama denganku main batu atau main truf di kantin Barret, yang membuat PR di kantin, yang waktu ujian suka mencontek pekerjaanku dan sering kucontek pekerjaannya, yang IP di KHS-nya jarang beranjak dari angka satu koma.

Untuk aku sendiri, aku malah sama sekali tidak punya ijazah, bukan cuma Ijazah sarjana tapi ijazah dari SD sampe SMA juga aku nggak punya. Tapi tanpa itu semua pun, alhamdulillah sampai hari ini, aku sama sekali tidak pernah merasakan kesulitan untuk menemukan pekerjaan. Malah yang terjadi sebaliknya, aku bisa memilih pekerjaan sesuai mauku, yang sesuai dengan kesenangan dan hobiku.

Selama ini yang kujadikan modal dalam bekerja cuma mentalitas dan cara pikir dan cara mengambil keputusan ala teknik, yang kudapat dari bergaul dengan banag-abang, kawan seangkatan dan adik-adik di teknik dulu. Dan dengan itu, meskipun tidak teramat sangat kaya, tapi paling tidak aku masih bisa hidup dan menghidupi keluargaku dengan perasaan senang dan bahagia dan mampu memberi mereka tingkat penghidupan di atas rata-rata.

Sementara kawan-kawan yang ber-IP tinggi tapi tidak mengerti cara bersosialisasi malah kesulitan dalam meniti karir apalagi membuat usaha.

Tahun lalu saat sedang boarding di Bandara, aku pernah bertemu dengan teman seangkatan saya yang seperti ini, dia berinisisal "S" yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Singkil. Teman ini menamatkan kuliahnya dalam waktu 5 setengah tahun saja dan mendapat IP di atas tiga. Saat bertemu saya, saya sangat kaget melihat teman saya ini. Saya kaget karena saya lihat wajah teman saya ini terlihat sangat tua dan penuh kerutan. Istri saya sama sekali tidak percaya waktu aku katakan kami satu angkatan. teman ini sebagaimana anak-anak pintar di angkatan saya yang hidupnya membosankan, tetap sangat pintar dalam ilmu keteknikan, tapi dia kesulitan dalam menjalin hubungan antar manusia dan akibatnya dia pun selalu tertekan dalam karirnya.

Apa yang dialami oleh "s" teman saya ini terjadi karena sebagaimana yang terjadi semasa kuliah, ternyata semasa bekerja pun ketidak mampuannya dalam bersosialisasi dengan lingkungan tetap terbawa. Akibatnya dalam lingkungan kerja pun dia jadi terisolasi dan karirnya mentok.

Memang tidak salah memiliki IP tinggi, karena ada juga beberapa teman Ber IP tinggi yang hdiupnya sukses. Tapi teman-teman ini adalah mahasiswa yang meskipun memiliki IP tinggi tapi tetap tidak melepaskan diri sepenuhnya dari dinamika kemahasiswaan yang ada di kampus.

Karena itulah melalui tulisan ini aku ingin mengajak teman-teman para alumni teknik untuk sedikit menekan para dosen kuper yang hidupnya membosankan itu agar sedikit mengubah cara pandangnya. Supaya mereka tidak mengubah fakultas teknik menjadi PABRIK ROBOT yang cuma bisa menghasilkan manusia-manusia menjemukan seperti mereka.

Mari kita bantu adik-adik seperti Dek Moens Ibn Ibrahim untuk mendapatkan haknya sebagai mahasiswa.

Karena kupikir inilah makna dari SIKAT yang sebenarnya.

Wassalam

Win Wan Nur
Mantan Mahasiswa Teknik Sipil Unsyiah angkatan 92

2 komentar:

aidil ghostre mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
aidil ghostre mengatakan...

sumpah aku merinding bacanya bang..
aku doa aja untuk teknik kedepan..
supaya gak pasif kayak gini lagi..
BUKU CINTA PESTA