Rabu, 23 Desember 2009

BAHAN BAKAR AIR, Solusi Pengurangan Emisi

"...saya percaya suatu saat nanti, air dapat menjadi bahan bakar masa depan" -Jules Verne, L'Île mystérieuse.

Sepulang dari Kopenhagen beberapa waktu yang lalu, kening SBY mengkerut. SBY dan para pemimpin negara berkembang dituntut untuk mengurangi emisi karbon di negara masing-masing. Masalahnya, jika emisi diturunkan, itu juga berarti produksi akan turun dan kemiskinan akan naik. Ini adalah masalah bersama seluruh umat manusia saat ini.

Sebenarnya, masalah itu tidak perlu terjadi seandainya kita bisa menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan yang dalam proses pembakarannya tidak menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya bagi keselamatan manusia dan banyak makhluk hidup lainnya.

Bahan bakar apakah yang bisa seramah itu?...jawabannya adalah AIR.

Bagi sebagian kita ini terdengar sangat janggal, karena selama ini air kita kenal alih-alih sebagai bahan bakar tapi malah lebih dikenal sebagai alat pemadam api. Tapi apakah karena sifatnya yang sekilas berlawanan itu air kemudian tidak bisa digunakan untuk menyalakan api?. Jawabannya adalah tidak. Mengenai pandangan tentang mustahilnya air menjadi bahan bakar, hal ini sama saja dengan pikiran orang jaman dulu yang mengatakan mustahil besi bisa mengapung dilautan. Orang pada zaman itu pasti akan melongo keheranan melihat besi sebesar Kapal Oasis of The sea mengambang di lautan. Bukan hanya mengambang di lautan, kini bahkan besi bisa terbang mengangkut ratusan orang.

Jules Verne (8 Februari 1828 - 24 Maret 1905) adalah seorang pengarang novel berkebangsaan Perancis yang oleh banyak penggemar sastra dianggap sebagai bapak pengarang aliran fiksi ilmiah.

Dalam novelnya L'Île mystérieuse yang ditulis antara tahun 1873-1875, Verne sudah memperkirakan kalau suatu hari nanti air akan menjadi bahan bakar.

Di dunia nyata, tahun 1897 Luther Wattles dikabarkan menggunakan air sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mobilnya. Terus selanjutnya tahun 1930 Rudolf A. Erren berhasil melakukan eksperimen penggunaan air sebagai pengganti bahan bakar fosil. Kemudian tahun 1932 Henry "Dad" Garret asal texas Amerika Serikat menemukan sistem karburator untuk bahan bakar air. Hasil penemuannya itu kemudian dibeli oleh perusahaan minyak dan tidak ada kabarnya lagi sampai hari ini.

Setelah itu bisa dikatakan inovasi baru terhadap teknologi ini mati suri sampai pada tahun 1974 seorang warga Australia yang tinggal di Sidney bernama Yull Brown yang terinspirasi buku-bukunya Jules Verne dan kisah-kisah penemuan bahan bakar air menemukan gas hasil elektrolisa dari air yang berupa campuran hidrogen dan oksigen (HHO) yang secara sempurna mampu dijadikan bahan bakar yang menggerakkan mesin. Oleh Yull Brown gas ini dipatenkan dengan namanya sendiri sebagai BROWN GAS.

Setelah penemuan Yull Brown itu selanjutnya ada beberapa penemuan penting tentang bahan bakar air ini, tapi yang paling fenomenal adalah Stanley Meyer yang berhasil dengan sempurna menemukan sistem elektrolisa air. Kemudian oleh Stanley Meyer gas hasil elektrolisa itu dia pakai untuk menjalankan mobilnya, tanpa tangki hidrogen dan tanpa bahan bakar fosil. Hasilnya, pada tahun 1995 mobil VW Kodok miliknya berhasil berjalan sejauh 160 Km hanya dengan menggunakan 3 liter air.

Seperti penemuan cemerlang sebelumnya, penemuan Stanley Meyer ini pun langsung mengundang minat perusahaan minyak untuk membelinya. Tapi berbeda dengan Henry "Dad" Garret yang bersedia menjual hasil penemuannya, Stanley Meyer menolak tawaran miliaran dollar dari perusahaan minyak. Karena dia bertekad memberikan penelitian ini bagi masyarakat. Malam 21 maret 1998, pada usia 57 tahun, selesai makan malam, Stanley Meyer meninggal di halaman parkir sebuah restoran di Grove City Ohio. Sebelum meninggal, Stanley Meyer berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya "aku diracun", katanya.

Tapi ternyata kematian Meyer bukanlah akhir bagi inovasi yang menjadi solusi bagi pengurangan emisi tanpa perlu mengurangi produksi ini. Setelah kematian Meyer, teknologi elektrolisa air menjadi gas HHO yang dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar tanpa memerlukan tangki hidrogen ini berkembang di berbagai belahan dunia dan menjadi teknologi "open source" tanpa paten, jadi siapapun bisa mengembangkannya.

Hasilnya tahun-tahun belakangan di abad ke 21 ini, kita pun menemukan banyak ragam penemuan alat yang berkaitan dengan teknologi ini. Mulai dari Amerika sampai ke Malaysia orang-orang telah mengembangkan teknologi ini dan menerapkannya pada kendaraan pribadi masing-masing. Salah satu di antaranya adalah mobil Hummer yang gambarnya saya post di artikel ini.

Prinsip elektrolisa air ini sebenarnya sederhana saja, yaitu menggunakan listrik dan memasukkan bahan kimia yang bersifat asam ke dalam air. Lalu dengan bantuan arus listrik bahan kimia dalam air tersebut akan bereaksi memisahkan molekul air (H2O) menjadi HHO yang mudah terbakar.

Bahan kimia yang bersifat asam tersebut bisa apa saja, mulai dari bahan kimia rumit semacam NaOH, KOH sampai air jeruk, air belimbing, air kelapa bahkan air kencing pun bisa digunakan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan gas HHO. Masalahnya adalah; bahan kimia yang bersifat asam ini juga memakan pelat yang diperlukan sebagai anoda dan katoda dalam proses elektrolisa air. Jadi saat ini orang-orang yang mengembangkan alat ini semuanya sedang berusaha menyempurnakan alatnya masing-masing. Baik itu dari segi kecocokan bahan kimia ataupun dari segi kepraktisan.

Sampai sejauh ini, penemuan di berbagai negara itu semuanya masih tetap menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama, bahan bakar air dipakai sebagai bahan bakar penunjang untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (HIBRIDA).

Pada beberapa eksperimen konsep hibrida ini terbukti bisa membantu pengurangan emisi sampai 30 %. Bahkan dua peneliti Indonesia bernama Poempida Hidayatullah dan F Mustari (sebagian informasi dalam artikel ini saya kutip dari buku karangan mereka berdua) dalam sebuah ujicoba berhasil menghemat penggunaan bahan bakar Mitsubishi L 300 sampai 94%. Jadi dengan adanya alat seperti ini dan seandainya alat semacam ini bisa diproduksi secara massal, segala perdebatan di Kopenhagen tentang pengurangan emisi sebagai mana terjadi beberapa hari yang lalu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena dengan adanya alat seperti ini penurunan emisi tidak perlu diikuti dengan penurunan produktivitas.

Saat ini satu-satunya masalah yang menghalangi pemakaian bahan bakar air secara massal adalah; belum adanya industri yang memproduksi alat ini secara massal. Beberapa orang beranggapan kalau hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan minyak yang mencoba menghalangi. Tapi karena semakin lama harga minyak semakin melambung dan pencemaran udara semakin lama semakin mengkhawatirkan penduduk bumi, maka kebutuhan untuk pemakaian teknologi bahan bakar air ini semakin tidak bisa ditunggu lebih lama lagi.

Karena itulah saat ini saya sangat yakin kalau secara diam-diam banyak perusahaan di dunia yang sedang berlomba dalam diam untuk mengembangkan teknologi ini untuk bisa diproduksi secara massal. Bahkan saya yakin sekali kalau sepuluh tahun dari sekarang semua mobil baru yang diproduksi akan dilengkapi dengan alat elektrolisa air yang menghasilkan HHO alias bahan bakar air ini.

Wassalam

Win Wan Nur

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

2 komentar:

Onny Mulyono mengatakan...

hahahaha....bravo mr.brown...bravo mr.meyer....finaly..every body know about it...10 years ego..people tell me that i am creazy...but to day...every body need it...

Onny Mulyono mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.