Rabu, 06 Januari 2010

Bukan Off Roader, Aceh Butuh Pemimpin Handal

Menjelang tahun baru kemarin, The Globe Journal, sebuah media online yang banyak menurunkan berita tentang segala permasalahan di bumi Gayo menurunkan beberapa berita tentang kegiatan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang berkunjung tiba-tiba ke daerah ini.

Salah satu berita yang paling menarik perhatian adalah berita tentang kunjungan mendadak Gubernur ke Samarkilang, sebuah daerah terpencil di kabupaten Bener Meriah yang terisolasi sejak zaman Belanda tanpa pernah memiliki infrastruktur jalan yang baik.

Yang ditonjolkan dari berita ini adalah bagaimana sang gubernur mengendarai sendiri Jeep-nya menembus jalanan berlumpur untuk menuju ke Samarkilang. Aksi ini diabadikan dengan sebuah foto yang menggambarkan dengan jelas bagaimana Jeep hitam yang dikendarai sang Gubernur terperangkap di jalanan berlumpur.

Berita yang dimuat TGJ ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi di masa awal pemerintahan Irwandi, ketika sang gubernur dengan gagahnya menyetir sendiri mobilnya mendatangi panglong-panglong dan pabrik pengolahan kayu hasil pembalakan liar untuk mengetahui sendiri apa yang terjadi tanpa ditutup-tutupi. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh gubernur-gubernur sebelumnya.

Dalam menjalankan peran barunya, Irwandi mengabaikan segala aturan protokoler yang tidak perlu yang menghalangi kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya. Misalnya dalam perjalanan itu, Irwandi melarang para petugas yang mengawalnya untuk bertindak over acting di jalanan hanya karena dirinya lewat.

Waktu itu, banyak orang, termasuk saya mendapat kesan bahwa gubernur yang baru terpilih ini benar-benar seorang gubernur dari rakyat untuk rakyat yang berkuasa semata untuk kepentingan rakyat, bukan kelompok atau kerabat dekatnya. Ini mengingatkan saya pada sikap almarhum Gus Dur selama dirinya menjabat presiden.

Waktu berlalu, rakyat Aceh pun dengan penuh rasa optimis menunggu hasil gebrakan Irwandi, satu-satunya Gubernur di Indonesia yang terpilih melalui jalur independen untuk mensejahterakan rakyat di provinsi yang lelah didera konflik dan bencana ini.

Setahun dua tahun tidak ada gebrakan yang signifikan. Yang kita lihat dan rasakan, selama masa kepemimpinannya yang sudah memasuki masa tiga tahun ini. Kegiatan mencolok yang dilakukan Irwandi adalah aktifitas jalan-jalan, yang menurut sang gubernur adalah kegiatan mencari investor.

***
Pasca Irwandi menyetir sendiri mobilnya ketika melakukan sidak terhadap para pembalak liar tersebut, dengan bantuan dari para penasehatnya, Irwandi mengeluarkan sebuah gagasan yang dia namakan Green Aceh, sebagai sebuah gerakan untuk penyelamatan lingkungan.

Konsep Green Aceh yang diluncurkannya ini terkesan menjiplak konsep yang penyelamatan hutan yang dilakukan negara-negara eropa, yang tidak memiliki masalah kehutanan yang berhubungan dengan hajat hidup masyarakat tradisional yang tinggal di kampung-kampung yang berbatasan dengan hutan tersebut.

Ide luar biasa ini ternyata bergaung sedemikian kencang sampai ke luar negeri, sehingga Irwandi pun diundang oleh Gubernur California, Arnold Schwarzenegger yang terkenal itu untuk mengikuti sebuah konferensi lingkungan yang dia selenggarakan di sana.

Selain Irwandi, acara yang digagas Arnold ini juga dihadiri beberapa gubernur koleganya, baik dari Amerika sendiri maupun negara-negara kacung Amerika yang kebijakan lingkungannya didikte oleh negara Paman Sam itu.

Hasilnya?. Pasca acara di California itu, salah seorang Gubernur yang mengahadiri acara tersebut, yaitu gubernur negara bagian Illinois ditangkap karena korupsi.

Irwandi sendiri, sekembalinya ke Aceh, melalui tim humasnya dia mempublikasikan kegiatannya selama di California itu secara besar-besaran. Tim Humas Irwandi memblok satu tempat di halaman depan Serambi Indonesia, koran dengan oplag terbesar di Aceh untuk menginformasikan apa saja yang dilakuklan Irwandi saat menghadiri acara itu.

Melalui berbagai informasi yang disampaikan oleh tim Humas Irwandi ini kita menangkap kesan bahwa konsep Green Aceh-nya Irwandi ini begitu luar biasa dan benar-benar telah menjadi solusi mengatasi perusakan lingkungan di Aceh.

Tapi lain di kertas, lain pula di lapangan. Green Aceh yang dicanangkan Irwandi ternyata hanya konsep yang indah di kertas dan di panggung-panggung berbagai forum seminar. Sementara di lapangan, sama sekali tidak ada perubahan, sebagaimana hari ini kita saksikan, perusakan lingkungan yang terjadi di Aceh jangankan bisa dihentikan, malah intensitasnya sama sekali tidak berkurang.

Kebijakan tidak membumi yang diterapkan oleh Irwandi pada masalah lingkungan ini, sebentuk sebangun dengan kebijakannya terhadap semua aspek yang menjadi tanggung jawab pemerintahannya.

Kebijakan yang paling ironis yang dikeluarkan Irwandi adalah di bidang peternakan. Secara profesional, Irwandi adalah dokter hewan yang aktivitasnya adalah mengurusi masalah ternak. Latar belakang Profesional ini didukung pula dengan sumber daya alam yang menjanjikan. Aceh memiliki padang rumput yang luas yang dengan jelas kita lihat misalnya di Aceh Besar , Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Bener Meriah.

Dengan potensi sebesar itu, aneh rasanya mengetahui bahwa Aceh termasuk daerah yang sangat kekurangan produksi daging. Harga daging di provinsi ini termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan fakta ini, tidak heran banyak yang berharap akan ada perbaikan positif di sektor ini di bawah kepemimpinan Irwandi.

Tapi apa yang terjadi?.

Untuk mengatasi masalah mahalnya harga daging ini, Irwandi malah mengeluarkan kebijakan jalan pintas, yaitu MENGIMPOR SAPI.

Jadi kalau untuk menangani masalah yang merupakan keahlian profesionalnya saja Irwandi kewalahan, apatah lagi kita berbicara masalah lain soal strategi pengelolaan dan dan pembangunan infrastruktur dan lain-lain, tentu lebih kacau lagi.

Itulah sebabnya belakangan ini nada-nada tidak puas terhadap kepemimpinan Irwandi pun mulai bermunculan.

Nada-nada tidak puas itu mencuat dari berbagai kelas sosial dan kalangan. Di level bawah para pengungsi korban tsunami yang belum mendapatkan haknya mulai merasa kesal dan merasa telah salah pilih saat memilih Irwandi sebagai gubernur. Di level lain, para kontraktor pelaksana berbagai proyek mulai mengeluh ketika mereka kesulitan untuk meyelesaikan proyek yang mereka kerjakan karena rumitnya birokrasi untuk mencairkan uang untuk membiayai proyek yang mereka kerjakan. Di level birokrasi, para pegawai dan birokrat yang sudah lama malang-melintang dalam birokrasi pemerintahan Aceh mengeluhkan gaya kepemimpinan Irwandi yang hanya bisa marah-marah dan mencurigai bawahan tanpa bisa memberikan solusi nyata apa yang harus dilakukan. Sehingga mereka menjadi serba salah terhadap setiap langkah yang akan mereka lakukan.

Menanggapi berbagai ketidak puasan ini, dulu, pembelaan yang jamak kita dengar dari Irwandi dan orang-orangnya adalah, itu karena parlemen dikuasai oleh orang-orang pro Jakarta yang tidak ingin Aceh sejahtera.

Tapi ketika di akhir tahun 2009 ini muncul informasi yang menghentak kesadaran, bahwa dari 9,7 Trilyun APBA kurang dari 50% yang bisa disalurkan. Seperti biasa Irwandi dan orang-orangnya tidak secara taktis dan terstruktur menjawab kenapa hal itu bisa terjadi. Mereka ter lihat kelimpungan, Jakarta tidak bisa lagi dijadikan kambing hitam, karena sekarang parlemen sekarang dikuasai oleh partai lokal yang kita tahu persis memiliki komitmen sangat tinggi untuk mensejahterakan rakyat Aceh.

Hebatnya, fakta itu tidak membuat orang-orang pro Irwandi kehilangan akal. Meski Irwandi sendiri tidak pernah berkomentar terang-terangan, tapi orang-orang pro Irwandi dengan kreatif segera menemukan KAMBING HITAM baru. Mereka mengatakan bahwa orang yang menghembuskan berita ini adalah orang-orang yang dulu pernah bekerja menikmati gaji besar di berbagai lembaga asing yang berebutan datang ke Aceh pasca tsunami , untuk menyalurkan ‘uang darah’. Orang-orang yang sekarang sama sekali tidak mendapat jatah di pemerintahan. Sementara itu inti persoalan kenapa kegagalan penyaluran APBA itu bisa terjadi. Sebagaimana biasanya, tetap kabur tanpa penjelasan.

Ketika pertanyaan tentang kegagalan penyaluran APBA ini semakin kencang mengemuka, muncullah berita di TGJ seperti yang saya kutip di atas.

Ketika berita dan foto ini dipost ke facebook, dibumbui dengan pernyataan Irwandi bahwa dia sengaja melakukan itu tanpa berkoordinasi dengan bupati agar dia dapat merasakan sendiri apa yang terjadi di lapangan. Banyak terpukau dengan aksi 'heroik' sang Gubernur ini. Salah satunya berkomentar kalau Gubernur Aceh sepertinya sedang menerapkan gaya kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz, seorang khalifah legendaris di masa-masa awal penyebaran Islam.

Tapi saya dan orang yang sedikit lebih baik daya ingatnya segera menyadari bahwa aktifitas 'heroik' yang dilakukan Irwandi itu sama sekali tidak ada korelasinya dengan penyelesaian masalah yang ada. Sebagaimana yang terjadi terhadap konsep Green Aceh-nya.

Gaya pemerintahan Irwandi ini mengingatkan saya pada Lech Walesa yang menjadi presiden Polandia pasca kemenangan Solidarnosc. Saat itu dia begitu populer, di pundaknya dibebani berjuta harapan rakyat Polandia yang menggantung tinggi di langit. Gaya pemerintahan yang sangat pintar menarik hati masyarakat, tapi sangat lemah dalam manajemen dan tata kelola.

Sejarah menunjukkan kalau gaya pemerintahan seperti ini membuat Lech Walesa ditinggalkan rakyat Polandia dan Solidarnosc partai pendukungnya yang secara heroik menumbangkan kekuasaan komunis di negeri itu pun sampai hari ini tidak pernah lagi memenangi Pemilu.

Melihat situasi Aceh saat ini, sulit bagi saya untuk tidak meyakini kalau apa yang dialami oleh Lech Walesa akan juga dialami oleh Irwandi.

Hal ini mungkin bisa dihindari jika mulai sekarang pemerintahan Irwandi mulai mau membenahi diri. Dengan mulai menerapkan kebijakan yang memang bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat, bukan hanya dengan meng copy-paste masukan-masukan yang diberikan para penasehat asingnya yang tanpa sadar memberikan masukan yang sebenarnya hanya cocok untuk diterapkan di negeri asal mereka.

Caranya mungkin Irwandi bisa memulai dengan merangkul orang-orang yang memiliki banyak ide besar yang mengerti kebutuhan orang Aceh, yang sekarang menjadi para pengkritik pemerintahan Irwandi-Nazar.

Hal itu menurut saya perlu dilakukan oleh Irwandi, karena memang saat ini yang dibutuhkan oleh rakyat Aceh adalah seorang pemimpin handal yang mengerti permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Pemimpin yang bisa memberikan solusi nyata, bukan seorang Off Roader yang tampak macho di belakang stir mobilnya.

Wassalam

Win Wan Nur

Orang Aceh suku Gayo

Tidak ada komentar: