Senin, 19 April 2010

SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami

Pada awal dekade 80-an, aku tinggal di desa Fajar Harapan, sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Bur Ni Telong yang saat itu berada dalam Kecamatan Timang Gajah, kabupaten Aceh Tengah. Tapi sekarang desa ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Bener Meriah.

Aku bersekolah di SD Negeri Karang Jadi, sebuah SD Inpres yang saat itu merupakan satu-satunya sekolah Dasar dalam radius 10 kilometer (antara Lampahan dan Simpang Balik). Saat aku masuk di kelas I, kelas tertinggi di sekolah ini baru sampai kelas IV, kelas V dan kelas VI masih kosong.

Rumahku cuma terpisah jarak 200 meter dari sekolahku ini, jadi aku tidak poernah terlambat masuk sekolah, dan oleh guruku aku sering dititipi kunci ruangan kelas dan membuka ruangan itu setiap pagi. Sementara banyak teman-teman sekelasku tidak seberuntung aku, beberapa dari mereka tinggal di kebun-kebun kopi di daerah Bur Lah yang jaraknya sekitar 6 atau 7 kilometer dari sekolah kami. Jadi teman-temanku itu, agar tidak terlambat harus bangun lebih pagi dan berjalan kaki ke sekolah kami. Seringkali mereka terpaksa menenteng sepatu yang dikenakan, karena jalan setapak yang mereka lalui becek diguyur hujan.

Secara etnisitas, teman-teman sekelasku cuma terdiri dari dua suku, yaitu suku Gayo dan suku Jawa yang semuanya memiliki orang tua yang berprofesi sebagai petani.

Pada waktu itu, profesi petani bukanlah sebuah profesi yang menghasilkan banyak uang meskipun tidak sampai membuat orang kelaparan. Meskipun tidak kekurangan makan, tapi rata-rata teman sekalasku bahkan tidak memiliki cukup uang untuk sekedar membeli sabun mandi, aku tahu itu karena tidak satupun rumah di desa tempatku tinggal itu yang memiliki kamar mandi. Kami semua mandi di tempat pemandian umum, dan setiap kali mandi kulihat, cuma aku satu-satunya yang memiliki sabun mandi (merk Camay) dan shampo bubuk (merk Tancho) dalam kotak perlengkapan mandi. Teman-temanku yang lain semuanya menggunakan sabun cuci Cap Sampan untuk mandi dan air perasan jeruk yang biasa digunakan untuk bumbu sayuran sebagai pengganti Shampo untuk membersihkan kulit kepala.

Karena situasinya seperti ini, saat guru kami mengajarkan cara menjaga kesehatan mulut, kami tidak diajari untuk menggunakan sikat gigi yang benar dengan pasta gigi berfluoride. Dalam ruangan kelas, guru kami mengajari kami untuk menjaga kebersihan mulut dengan cara menggosok gigi menggunakan sejenis rumput yang dalam bahasa Gayo disebut 'tetusuk'atau yang agak lebih elit menggunakan arang.

Teman-teman sekelasku jarang sekali yang memiliki uang jajan. Saat itu teman-teman saya termasuk saya sendiri hanya diberikan uang oleh orang tua sebatas untuk keperluan sekolah saja, seperti untuk membeli buku dan alat tulis. Bagi kami bahkan memiliki banyak buku tulis pun sudah terhitung sebuah kemewahan, tidak sedikit teman sekelasku yang hanya memiliki satu buah buku tulis yang digunakan untuk mencatat semua pelajaran.

Mainan juga demikian, kami sama sekali tidak memiliki mainan plastik apalagi mainan elektronik. Satu-satunya anak yang memiliki mainan elektronik di kampung kami ini cuma aku sendiri. Waktu itu aku punya mainan semacam video tanpa suara yang dijalankan dengan tenaga baterai dan ditonton dengan cara diintip. Aku punya tiga buah kaset untuk alat ini, yang satu ceritanya tikus dan kucing yang kejar-kejaran, satu lagi orang berkostum aneh yang berloncat-loncatan di gedung-gedung, kata ayahku namanya Spiderman, satu lagi aku lupa.

Teman-temanku selalu berebutan untuk melihat mainanku ini, tapi ayahku bilang satu hari mainanku ini cuma bisa dipakai sekali. Karena mainan ini harus dijalankan dengan menggunakan baterai yang harganya mahal. Karena itulah aku membuat giliran untuk teman-temankku yang ingin melihat film dalam mainanku ini, yang sudah pernah menonton tidak boleh menonton lagi sampai gilirannya datang lagi.

Aku mendapat mainan ini dari seorang teman keluargaku yang biasa kupanggil Cik Jon, yang kukenal pada tahun 1979, saat aku masih tinggal bersama dengan kakekku di Isaq.

Cik Jon, sahabat keluarga kami ini memiliki ciri fisik yang sangat berbeda dengan semua orang yang pernah kukenal. Misalnya, secara ukuran tubuh saja Cik Jon benar-benar berbeda dengan orang yang pernah kulihat. Cik Jon bahkan lebih tinggi dari ayahku, padahal sebelum bertemu Cik Jon, aku belum pernah melihat ada satu orangpun yang lebih tinggi dari ayahku. Ciri fisik lain yang sangat berbeda dari Cik Jon adalah hidungnya yang sangat mancung, jauh lebih mancung dibanding hidung semua orang yang pernah kukenal.

Hal aneh lain yang kulihat dari fisik Cik Jon adalah kulitnya yang berwarna merah jambu, padahal selama ini kebanyakan orang yang kulihat memiliki kulit berwarna hitam seperti kulit ayahku, coklat seperti kulitku atau putih seperti kulit ibuku. Rambut dan semua bulu di tangan dan kaki Cik Jon berwarna kuning, tidak hitam seperti milikku dan hampir semua orang yang kukenal.

Warna kulit dan warna rambut Cik Jon ini mirip seperti warna kulit dan warna rambut Cina bisu yang bekerja sebagai pengayuh becak barang yang selalu lewat di depan rumah bibiku di Jalan Mersa Takengen. Yang selalu kuingat dari Cina bisu ini adalah dia selalu memicingkan mata setiap kali matahari bersinar terik.

Dulu waktu pertama kali melihat cina bisu pengayuh becak itu, aku pernah menunjukkan keherananku. Oleh bibiku yang bekerja sebagai perawat, aku dijelaskan kalau si Cina bisu itu kulitnya seperti itu karena satu kelainan (waktu menjelaskan padaku bibiku mengatakan kelainan itu sebagai "penyakit" )yang dia dapat sejak lahir, bukan cuma kulitnya, tapi matanya juga tidak tahan kena matahari langsung, karena itulah dia selalu memicingkan mata, kata bibiku itu.

Aku tidak begitu mengerti penjelasan bibiku ini, tapi aku tahu cina bisu terlihat berbeda dengan kami karena dia sakit, dia yang tidak bisa berbicara juga kupikir pasti karena sakitnya ini.

Karena itulah dulu waktu pertama bertemu Cik Jon aku menyimpulkan kalau Cik Jon juga sakit seperti Cina Bisu yang biasa kulihat lewat mengayuh becaknya di depan rumah bibiku. Tapi aku benar-benar kaget ketika mengetahui Cik Jon ternyata bisa bicara, lalu setelah kuperhatikan lagi Cik Jon tidak pernah memicingkan mata di bawah matahari yang bersinar terik.

Aku sempat merasa bingung dan penasaran melihat keanehan Cik Jon ini. Tapi karena kulihat Cik Jon sangat dihargai oleh orang-orang dewasa di keluargaku, aku takut untuk menanyakan kepada mereka kenapa Cik Jon bisa seperti itu. Belakangan ketika sudah ada televisi dan di televisi sering diputar film-film Amerika, baru aku tahu kalau di dunia ini ada banyak orang seperti Cik Jon di negara yang namanya Amerika itu, negara tempat Cik Jon berasal yang kutahu sangat jauh letaknya tapi tidak aku tahu persis dimana.

Waktu aku tinggal di Isaq itu, setiap malam sehabis shalat Isya, Cik Jon yang pulang shalat dari mesjid bersama kakekku, yang juga seperti kakekku masih mengenakan kain sarung selalu berbincang-bincang dengan kakekku di bale-bale dapur kami. Saat mereka berbincang-bincang, biasanya aku selalu berada di sana untuk mendengarkan, tapi meskipun Cik Jon dan Kakekku berbincang dalam bahasa Gayo, tidak satupun kalimat yang mereka bicarakan yang aku mengerti. Aku sendiri cukup akrab dengan Cik Jon, dia sering menggendongku dan pernah sekali memberiku uang jajan tapi dilarang oleh kakekku dan sejak itu dia tidak pernah lagi memberiku uang jajan.

Satu hari tiba-tiba Cik Jon menghilang dari kampung kami, aku tidak tahu dia kemana dan aku juga tidak pernah menanyakannya kepada kakekku. Hampir bersamaan dengan menghilangnya Cik Jon, aku juga kembali tinggal dengan orang tuaku untuk bersekolah. Aku bertemu kembali dengan Cik Jon di Medan, pada sekitar tahun 1981 ketika aku mengantarkan kakekku naik haji. Ketika itulah dia memberikan mainan kebanggaanku itu yang katanya dia beli di Hongkong yang tidak kutahu di mana letaknya itu.

Belakangan ketika aku dewasa aku tahu kalau Cik Jon ini memiliki nama lengkap John Richard Bowen, seorang profesor Antropologi yang banyak menulis karya antropologi tentang Gayo, diantaranya Sumateran Politics and Poetics, Muslim Through Discourse, Islam and The Equality in Indonesia dan lain-lain, beliau sekarang mengajar di University Of Washington di St. Louis, Missouri di Amerika sana. Belakangan pula aku ketahui kalau perbincangannya dengan kakekku yang dulu tidak kumengerti itu adalah wawancara yang Cik Jon lakukan sebagai bahan untuk menyelesaikan disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor.

Perbincangan antara Cik Jon dan kakekku di bale-bale dapur rumah kami itu, yang dulu sama tidak kumengerti itu sekarang tercatat di dalam dua buku karya Cik Jon yang dia beri judul, Sumateran Politics and Poetics Gayo History 1900-1989 yang diterbitkan oleh Yale University Press pada tahun 1991 dan Muslim Through Discourse.

Sekarang aku masih sering berhubungan dengan Cik Jon via E-mail, dari cerita-cerita di E-Mail aku meminta Cik Jon mengirimiku buku-bukunya dan dalam buku itu aku membaca kembali dialog Cik Jon dengan Kakekku yang sekarang sudah almarhum setiap malam sehabis shalat Isya pada tahun 1979 lalu.

Seperti dulu aku yang selalu mendengarkan dialog Cik Jon dengan almarhum kakekku dengan khusuk, sekarang pun aku menyimak dialog itu dengan penuh rasa ingin tahu, tapi bedanya dengan tahun 1979 lalu, sekarang aku sudah sangat paham apa yang mereka perbincangkan. Meskipun perbincangan yang mereka lakukan dalam bahasa Gayo itu, dalam buku ini sudah diterjemahkan oleh Cik Jon ke dalam bahasa Inggris.

Wassalam

Win Wan Nur