Senin, 19 April 2010

Nasaruddin, Mentalitas Kekuasaan Golkar dan Politisi Tuna Nurani

http://www.theglobejournal.com/kategori/politik/nasaruddin-mentalitas-kekuasaan-golkar-dan-politisi-tuna-nurani.php

Nasaruddin, Mentalitas Kekuasaan Golkar dan Politisi Tuna Nurani
Win Wan Nur I OPINI | Jum`at, 16 April 2010

Takengen - Setelah melalui beberapa manuver politik yang agak sulit diterima oleh akal sehat kaum non politisi Musyawarah Daerah (Musda) VIII Partai Golkar yang digalar di Bale Pendari, Takengon, Minggu (11/4) akhirnya berhasil memilih Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Aceh Tengah periode 2010-2015.

Pemilihan Ketua DPD Golkar Aceh Tengah pada Musda VIII ini diikuti oleh tiga kandidat dengan latar belakang beragam.

Kandidat pertama adalah Ir. Sukur Kobat, politisi senior yang sudah kenyang makan asam garam dunia perpolitikan Aceh Tengah ini sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Gajah Putih. Sebagai seorang kader Golkar, diantara ketiga kandidat ini Sukur Kobat adalah kandidat yang memiliki karir politik paling panjang di Golkar. Bersama Golkar Sukur Kobat telah mengalami berbagai pasang surut perpolitikan negeri ini, termasuk saat melewati masa-masa sulit pasca runtuhnya Orde Baru.

Secara pribadi bisa dikatakan, Sukur Kobat yang mantan ketua DPRD Aceh Tengah periode lalu ini adalah kandidat yang memiliki wawasan yang paling luas, paling mengerti seluk-beluk Golkar di Aceh Tengah serta memiliki tingkat intelektual paling tinggi kalau dibandingkan dengan kedua pesaingnya.

Kandidat kedua, Taqwa Wahab adalah politikus muda Golkar yang sudah cukup lama berkecimpung dan aktif di Golkar tapi baru belakangan ini benar-benar fokus dan serius membangun karir politiknya di Aceh Tengah. Taqwa, politikus dari trah Wahab ini memiliki latar belakang sebagai seorang pengusaha yang bergerak dibidang produksi dan penjualan bahan kimia pembersih yang digunakan di hotel-hotel, restoran sampai bandara.

Usaha yang dikelola Taqwa bersama keluarganya ini terbilang sukses. Produk mereka sempat menjadi leader dalam persaingan diantara produk-produk sejenis di berbagai kota penting di Indonesia mulai dari Jakarta, Medan, Batam sampai Bali. Tapi usaha yang terbilang sukses ini ditinggalkan oleh Taqwa untuk mengejar karir politiknya di Aceh Tengah.

Keputusan Taqwa untuk fokus kepada karir politik ini berbuah manis ketika pada Pemilu 2009 lalu, Taqwa yang oleh Golkar ditempatkan sebagai Caleg nomer urut 5 untuk daerah pemilihannya berhasil menduduki kursi DPRK Aceh Tengah periode tahun ini, dengan mengungguli caleg Golkar yang bernomor urut di atasnya sekaligus juga rival dari partai lain. Dalam pemilihan kali ini, Taqwa jelas menawarkan semangat muda yang segar dan ide-ide pembaharuan.

Kandidat ketiga adalah Ir. H Nasaruddin MM, yang sekarang menjabat sebagai Bupati Kabupaten Aceh Tengah. Dibandingkan kedua pesaingnya, kandidat ketiga ini terbilang yang paling cetek pengalaman organisasi Golkar. Nasaruddin maju ke pemilihan ketua DPD Partai Golkar Aceh Tengah ini dengan bermodalkan pengakuannya sendiri bahwa dia pernah menjadi pengurus Partai Golkar saat bertugas di Aceh Barat, tapi pengakuannya ini banyak diragukan oleh beberapa kalangan.

Keraguan beberapa kalangan ini cukup masuk akal karena Nasaruddin memiliki latar belakanga karir sebagai PNS, tanpa banyak terlibat di organisasi. Dalam waktu cukup lama Nasruddin hanyalah seorang PNS biasa yang memulai karir dari bawah sampai kemudian meningkat menjadi asisten I Pemkab Aceh Tengah.

Terjunnya Nasaruddin ke dunia politik pun bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan, dimulai dari titik balik perjalanan karir Nasaruddin yang terjadi pada tahun 2002, di masa pemerintahan Bupati Mustafa M Tamy. Oleh Mustafa Tamy saat itu, Nasaruddin diangkat menjadi Sekdakab Aceh Tengah menggantikan Ibnu Hajar Lauttawar. Jabatan ini diduduki oleh Nasaruddin sampai 2004, ketika masa jabatan Mustafa Tamy habis. Saat masa jabatan Mustafa M Tamy habis, Nasaruddin naik menggantikan posisinya meski hanya berstatus pejabat bupati. Inilah yang menjadi titik balik bagi Nasruddin untuk menggeluti dunia politik.

Berakhirnya masa jabatan Nasaruddin sebagai pejabat bupati ditandai dengan perubahan fundamental sistem pemilihan bupati di Aceh Tengah, yang sebelumnya melalui penunjukan langsung, kini memasuki babak baru dengan pemilihan langsung. Situasi ini membuat Nasaruddin yang ingin melanjutkan jabatan sebagai bupati secara permanen mau tidak mau harus mendekati partai-partai politik sebagai kendaraan untuk mencalonkan dirinya sebagai bupati pada Pilkada 2006 lalu.

Saat itu Nasaruddin yang tidak pernah punya latar belakang aktivitas politik praktis ini gagal mendekati Golkar dan PPP yang menjadi kekuatan politik utama di Aceh Tengah waktu itu. Tapi Nasaruddin berhasil mendekati empat partai gurem yaitu PBR, PAN, PKPI, Partai Patriot Pancasila untuk menjadi kendaraan politik untuk maju sebagai calon bupati Aceh Tengah dengan menggandeng Drs.H.Djauhar, putra dari seorang ulama berpengaruh di Takengen.

Golkar, pada pemilu tahun 2006 tersebut menetapkan Mahreje Wahab sebagai calon bupati. Mahreje adalah abang kandung dari Taqwa Wahab yang juga merupakan salah satu kandidat dalam pemilihan Ketua DPD Golkar Aceh Tengah pada Musyawarah Daerah (Musda) VIII ini.

Di dalam Golkar sendiri, penunjukan Mahreje sendiri ternyata menimbulkan gejolak di dalam tubuh partai yang meraih kursi terbanyak untuk DPRD Aceh Tengah pada pemilu legislatif sebelumnya. Di internal Golkar sendiri, dalam proses pengajuan untuk menjadi calon bupati yang mewakili Golkar, Mahreje Wahab menyingkirkan Sukur Kobath, salah satu tokoh sentral di tubuh Golkar Aceh Tengah yang juga salah satu kandidat yang bertarung dalam dalam pemilihan Ketua DPD Golkar Aceh Tengah pada Musda VIII ini.

Tersingkir dari persaingan di internal partai Golkar ini ternyata tidak membuat pudar ambisi Sukur Kobath yang saat itu menjabat ketua DPRD untuk menjadi bupati Aceh Tengah. Gagal naik dari Golkar, Sukur Kobath kemudian bergerilya dan akhirnya berhasil menggandeng partai demokrat untuk menjadikan dirinya sebagai calon bupati untuk bertarung di Pilkada 2006.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Pilkada 2006 ini kemudian dimenangi oleh Nasaruddin.

Pasca memenangi pilkada, tidak serta merta membuat jalan Nasaruddin menuju kursi bupati menjadi mulus. Setelah Nasaruddin dipastikan memenangi pilkada 2006, di Takengen terjadi gejolak yang berpunca pada tuduhan bahwa kemenangan yang diraih Nasaruddin selama pilkada tidak didapat dengan cara-cara jujur.

Dengan membawa bukti-bukti, partai pendukung dan para calon bupati yang kalah pada Pilkada 2006 tersebut menuduh Nasaruddin melakukan banyak kecurangan. Salah satu yang paling sengit melancarkan tuduhan kecurangan ke arah Nasaruddin waktu itu tentu saja Golkar yang perolehan suaranya paling mendekati perolehan suara Nasaruddin.

Suasana semakin tidak menentu ketika tuduhan melakukan kecurangan yang diarahkan kepada Nasaruddin tersebut semakin memuncak, tiba-tiba secara ajaib kantor KIP Aceh Tengah terbakar. Kebakaran yang terjadi sekitar jam 4 subuh di kantor KIP yang terletak di belakang kediaman Kapolres Aceh Tengah itu, meludeskan seluruh dokumen pilkada yang bisa digunakan untuk menjadi bukti kecurangan Nasaruddin.

Kejadian ini jelas membuat gusar para calon yang kalah yang merasa dicurangi oleh Nasaruddin dalam pilkada 2006 tersebut. Kegusaran para calon yang kalah atas kejadian itu diberitakan secara lugas oleh koran online Kapanlagi.com

"Kami merasa dirugikan dengan terbakarnya kantor KIP. Kami minta Bapak Kapolres menuntaskan persoalan ini," tutur Sukur Kobath kepada media ini.

"Patut diduga ini dibakar, karena selain dijaga petugas dari kepolisian dan pamong praja, di kantor KIP tersimpan sejumlah dokumen yang akan sama-sama diteliti tentang adanya kecurangan dalam Pilkada. Dari dulu aman, kenapa ketika kami mau menegakkan kebenaran justru kantor ini terbakar atau dibakar," sebut Sukur di Kapanlagi.com

"Bagaimana mau duduk, kantornya sudah dibakar. Kami akan melakukan aksi turut berduka cita, atas matinya demokrasi dan kejujuran di Aceh Tengah," sebut Mahreje.

Peristiwa ini membuat penolakan terhadap kemenangan Nasaruddin semakin membesar, sehingga pelantikannya sebagai bupati terus tertunda dan semakin berlarut-larut. Para calon yang kalah dan partai politik yang menaunginya dengan didukung oleh masyarakat yang menjadi konstituen mereka menuntut pemilihan ulang. Pada 24 Desember massa bahkan sempat menyandera beberapa anggota KIP Aceh Tengah, mendesak mereka untuk menandatangani pernyataan bahwa KIP Aceh menyetujui Pilkada ulang.

Tapi, ketua KIP Aceh Tengah, Abdullah Ahmad yang menghubungi KIP Aceh tentang masalah tuntutan masyarakat tersebut mengatakan bahwa pilkada ulang tidak bisa dilakukan, menurutnya meskipun dokumen di Kantor KIP Aceh Tengah sudah ludes terbakar namun dokumen hasil penghitungan suara masih ada, karena dibawa oleh Ketua KIP Aceh Tengah ke Banda Aceh.

Keadaan seperti ini membuat situasi perpolitikan di Aceh Tengah tidak menentu dan penuh ketidak pastian, keadaan seperti ini terus berlangsung sampai lebih dari tiga bulan. Dalam masa ini Nasaruddin dan para pendukungnya juga tidak tinggal diam, mereka mulai mendekati para mantan anggota GAM yang memiliki akses ke gubernur Aceh yang baru yaitu Irwandi Yusuf, dan ternyata pendekatan itu berhasil.

Akhirnya di tengah berbagai ketidak pastian politik tersebut untuk mengakhiri polemik, pada 3 april 2007 dalam sebuah Sidang Paripurna Istimewa di itu Gubernur NAD, drh Irwandi Yusuf melantik Nasaruddin sebagai bupati Kabupaten Aceh Tengah yang baru.

Melihat latar belakang politik Nasaruddin ditambah dengan apa yang telah dia lakukan yang pernah sangat menyakitkan partai Golkar. Maka, pada pemilihan Ketua DPD Golkar Aceh Tengah pada Musyawarah Daerah (Musda) VIII, siapapun yang berpikir dengan logika dan etika normal di dunia beradab, pasti langsung memperkirakan kalau Sukur Kobath dan Taqwa Wahab lah yang akan bersaing ketat dalam usaha menduduki kursi ketua.

Di antara ketiga calon ini, Sukur Kobath jelas yang paling berpengalaman dan tahu segala detail kecil urusan Golkar di Aceh Tengah, Taqwa Wahab sendiri dikenal sebagai pendukung setia Akbar Tanjung yang sempat agak tersisih saat Jusuf Kalla menjadi ketua, tapi sekarang ketika Aburizal Bakri yang adalah orangnya Akbar Tanjung berkuasa, maka logikanya para kader Golkar tentu akan melihat ini sebagai nilai plus Taqwa.

Tapi, dunia politik di Indonesia ini logika dan etika normal di dunia beradab itu sama sekali tidak berlaku. Di negeri ini, atas nama politik pelecehan terhadap logika, akal sehat apalagi logika menjadi sah. Dalam dunia politik indonesia kepentingan jangka pendek nan pragmatis ada di atas segalanya.

Apalagi kali ini kita berbicara tentang partai Golkar, partai penyokong utama Orde Baru yang memang tidak didesain untuk menjadi sebuah partai oposisi, menjadi penguasa sudah menjadi DNA partai ini. Elite Golkar tidak bisa melepaskan diri dari mentalitas dan tradisi sebagai penguasa karena sejak awal kelahirannya, Partai Golkar memang didesain sebagai partai negara (state party) yang dibangun dengan semangat dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Golkar memang didesain untuk menjadi partai yang menyuarakan kehendak penguasa untuk didengarkan oleh rakyat, bukan sebaliknya.

Seorang tokoh di Golkar hanya dihargai kalau si tokoh tersebut memiliki kekuasaan, sebesar apapun jasanya terhadap partai di masa lalu, jika si tokoh tidak memiliki kekuasaan, maka di mata para kader Golkar nilainya adalah 'Nol Besar'. Akbar Tanjung, tokoh yang paling berjasa di Golkar pasca jatuhnya Orde Baru pernah merasakan ini.

Ketika Golkar dihujat habis-habisan oleh segala penjuru angin, ketika semua orang Golkar menghilang karena takut, Akbar membuktikan diri sebagai nahkoda yang handal. Sendirian Akbar menghadapi serangan-serangan itu dan Golkar terbukti selamat, malah pada Pemilu pertama Pasca Orde Baru, Golkar masih mampu menduduki posisi kedua. Bahkan lebih hebat lagi, Pemilihan Umum 2004, kepemimpinan AKbar berhasil membawa Golkar menjadi pemenang. Meskipun kemudian kalah di pemilihan Presiden yang kita ketahui bersama saat itu dimenangi oleh SBY dengan wakilnya Jusuf Kalla, seorang kader Golkar yang membelot bergabung dengan SBY dan bertarung melawan Wiranto yang merupakan kandidat pilihan Golkar.

Pasca terpilihnya SBY-Kalla, Golkar sempat menjadi partai oposisi bersama PDIP yang merupakan pemenang kedua dalam Pemilu 2004. Koaliasi kedua Partai ini benar-benar kuat, koalisi ini menyapu bersih semua jabatan yang ada di DPR.

Lalu diselenggarakanlah Musyawarah Nasional VII Partai Golkar di Bali, Jusuf Kalla yang secara resmi masih merupakan anggota Golkar ikut mencalonkan diri menjadi ketua. Saat itu, siapapun yang berpikir dengan logika dan etika normal di dunia beradab, pasti langsung memperkirakan kalau Jusuf Kalla tidak akan berkutik di pemilihan ini menghadapi Akbar Tanjung yang telah begitu banyak memberikan jasa kepada Golkar.

Tapi sekali lagi, elite Golkar tidak bisa melepaskan diri dari mentalitas dan tradisi sebagai penguasa. Sosok Akbar Tanjung yang saat itu tidak memiliki jabatan apa-apa, menjadi terlihat sama sekali tidak menarik di mata para elite Golkar. Sebaliknya Jusuf Kalla yang saat itu menjabat wakil presiden, jelas memancarkan sinar yang begitu kemilau. Kemudian politisi Golkar sendiri rata-rata adalah manusia tuna nurani.

Sehingga ketika pemilihan ketua umum partai Golkar dalam Musyawarah Nasional VII Partai Golkar di Bali itu berakhir, Akbar terpelanting dengan mengenaskan, lawannya Jusuf Kalla terpilih secara telak.

Dalam Munas VII Partai Golkar di Bali waktu itu, bukan hanya orang yang anti Akbar yang memilih Kalla, bahkan orang seperti Syamsul Mu�arif yang dikenal sebagai "orang dekat" Akbar, yang menjadikannya Ketua Fraksi Golkar di DPR. Lalu oleh Akbar bahkan namanya disodorkan kepada Presiden Megawati untuk diangkat sebagai Menteri Negara Komunikasi dan Informasi. Di Munas Golkar ini, membelot ke kubu Jusuf Kalla.

Maka tidak heranlah ketika pasca terpilihnya Jusuf Kalla waktu itu Akbar Tandjung dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi dengan lemas berkata "Saya seperti dikepung dari delapan penjuru angin!"

Hal seperti ini pula terjadi di Takengen pada saat Musyawarah Daerah (Musda) VIII Partai Golkar Aceh Tengah kemarin. Sukur Kobath boleh telah berjasa banyak buat Golkar, boleh memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Taqwa Wahab boleh punya masa depan cemerlang dan memiliki kedekatan dengan pengurus pusat partai Golkar. Tapi di mata para kader partai berlambang beringin, tiada cahaya yang lebih kemilau dibanding kemilau cahaya kekuasaan.

Sehingga ketika, Nasaruddin yang berstatus sebagai orang nomor satu di kabupaten ini maju sebagai calon ketua, mudah ditebak segala kelebihan alias nilai plus yang dimiliki oleh Sukur Kobath dan Taqwa Wahab langsung terlihat tidak memiliki nilai apa-apa di mata sebagian besar kader Golkar yang memilik hak suara. Sehingga tanpa banyak kesulitan Nasaruddin mempecundangi dengan telak kedua calon ini sekaligus.

Bagi Sukur Kobath yang telah banyak makan asam dan garam dan telah terbiasa dengan kalah dan menang, kekalahan ini mungkin sakit tapi pasti sudah dia perkirakan dari awal. Tapi bagi Taqwa Wahab, kekalahan ini adalah tamparan keras di wajah, kekalahannya dalam pemilihan ketua Golkar kali ini adalah bukti Nasaruddin sekaligus bukti ketidak berdayaan trah Wahab saat berhadapan dengannya. Dalam pemilihan kali ini, Taqwa seolah menapak tilasi jejak abangnya Mahreje Wahab yang dipecundangi oleh orang yang sama pada pilkada Bupati Aceh Tengah yang lalu.

Kemudian karena kultur "jilat" dan "ABS" selama puluhan tahun memang sangat mencolok dalam tubuh Golkar, terpilihnya Nasaruddin ini sudah pasti akan menumbuh suburkan kultur itu. Contoh nyata tumbuh suburnya kultur ini langsung bisa kita saksikan beberapa saat setelah Nasaruddin terpilih.

Begitu Nasaruddin telah terpilih secara resmi di facebook langsung muncul ucapan selamat terhadap Nasaruddin. Dalam status ini Nasaruddin yang tidak pernah memberi kontribusi apa-apa kepada Golkar ini disebut sebagai "seorang kader terbaik partai", dan penulis status ini adalah seorang anak muda yang selama ini dikenal sebagai demonstran yang sering menyerang kebijakan pemerintah, bernama Hendra Budian.

Lalu, kalau sudah begini keadaannya, buat kita rakyat jelata yang menyaksikan, apa yang bisa kita dapat dari peristiwa ini?. Ya tidak ada apa-apa, karena dunia politik ini memang bukan dunia rakyat jelata.

Seperti kata Iwan Fals di lagu "Asik Nggak Asik"

Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong colongan
Seperti orang nyolong mangga
Kalau nggak nyolong nggak asik

Rakyat lugu kena getahnya
Buah mangga entah kemana
Tinggal biji tinggal kulitnya
Tinggal mimpi ambil hikmahnya

Dunia politik dunia bintang
Dunia pesta pora para binatang

Wassalam

Win Wan Nur