Kamis, 06 November 2008

Fakultas Teknik Unsyiah dan Impian Anak SMA di Banda Aceh

Ketika aku masih SMA, reputasi Fakultas Teknik Unsyiah dan mahasiswanya yang sangat aktif membuat berbagai kegiatan sangatlah mentereng. Kami para cowok jurusan A1 ini bisa dikatakan semuanya bermimpi untuk bisa kuliah di fakultas itu, sementara yang cewek agak terbagi. Cewek yang menonjol kemampuan otaknya juga sama seperti kami para cowok, berharap nantinya setamat SMA bisa kuliah di Fakultas Teknik Unsyiah. Sementara para cewek yang menonjol di segi penampilan, keindahan wajah dan estetika bentuk, bermimpi untuk punya pacar mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah.

Suatu hari, waktu guru yang mengajar di kelasku berhalangan masuk. Aku pernah mengobrol dengan Wirna, teman cewek yang duduk tepat di depanku dan tidak pernah absen mencontek pekerjaanku disetiap ulangan, terutama ulangan bahasa Inggris. Pada waktu itu kami sudah di semester akhir di kelas tiga menjelang Ebtanas jadi kamipun saling bertukar pendapat tentang kemana kami akan melanjutkan setelah SMA. Aku jelas tanpa ragu sedikitpun mengatakan akan melanjutkan ke fakultas teknik, kepada Wirna kukatakan aku akan mengambil jurusan teknik sipil, ITB pilihan pertama dan Unsyiah pilihan kedua.

Wirna, cewek paling cantik di kelasku atau bahkan mungkin di seluruh SMA negeri 2 Banda Aceh yang selalu membawa sisir besar di tasnya dan disetiap waktu luang jeda antar pelajaran selalu menyisir rambut lurusnya yang hitam berkilau panjang sampai ke punggung, sangat mendukung pilihanku. Meskipun Wirna dan juga aku sendiri tidak begitu yakin kalau aku bisa diterima di fakultas itu.

Kalau aku sudah sangat mantap dengan pilihanku, Wirna sendiri cukup tahu diri. Dia sama sekali tidak berniat masuk ke fakultas teknik karena sadar kalau dia sangat lemah di penguasaan ilmu-ilmu eksak, dan sebenarnya dia sendiripun sama sekali tidak berminat pada ilmu-ilmu eksak semacam fisika dan kimia. Dulu ketika kelas satu dia memilih jurusan A1 atau fisika, adalah karena dia sangat yakin tidak akan diterima di jurusan ini. Harapannya kalau tidak diterima di jurusan ini dia akan dibuang ke A2 atau biologi. Tapi saat naik ke kelas dua, ketika siswa dipisahkan sesuai jurusan. Dalam pembagian jurusan, Wirna malah benar-benar diterima di jurusan A1.

Aku ingat waktu kami naik ke kelas dua dulu saat aku dan beberapa teman yang lain memeriksa daftar nama siswa yang sekelas dengan kami. Kami sama sekali tidak melihat daftar nama cowok, tapi hanya fokus pada nama cewek yang ternyata cuma 6 orang dari seluruh 42 siswa di kelas kami, 2 fisik 2. Kami agak sedikit kecewa tapi langsung bersorak kegirangan ketika melihat ada nama Safdwirna Yudiani Putri diantara 6 orang cewek di daftar siswa di kelas kami.

Sejak kelas satu saat pertama kali masuk sekolah, Wirna yang duduk di kelas 1.2 selalu menjadi pembicaraan seluruh cowok di SMA 2 mulai dari kelas satu sampai kelas tiga. Bahkan kalau kami berkenalan dengan cowok-cowok SMA lainpun, saat kami mengatakan kami bersekolah di SMA 2, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah "kenal sama Wirna?". Kelas 1.2 sendiri secara ajaib merupakan tempat berkumpulnya hampir seluruh makhluk cantik yang masuk ke SMA 2 pada tahun 1989. Cewek-cewek tercantik angkatan kami, mulai dari Cut Keumala Sari, Lulu dan juga Wirna sendiri berkumpul di kelas itu. Saat naik ke kelas dua, semua makhluk cantik di kelas 1.2 itu masuk ke kelas 2 bio1, kecuali Wirna sendiri yang terdampar di kelas kami.

Kalau kami kegirangan melihat kenyataan itu tidak demikian dengan Wirna, saat itu dia sangat kecewa dan sempat menghadap ke kepala sekolah agar dia bisa dipindahkan ke kelas 2 bio 1. Keinginan Wirna ini langsung mendapat tantangan keras dari kami, seluruh cowok kelas 2 fisik 2, alasan kami, kalau Wirna pindah, komposisi kelas kami akan menjadi sangat tidak seimbang, sehingga kelas kami akan sulit menjalankan tugas sebagai pelaksana upacara bendera, karena tanpa Wirna di kelas kami hanya akan ada 5 cewek. Lagipula kalau Wirna pindah jumlah ceweknya akan ganjil sehingga akan ada satu cewek yang tidak punya teman sebangku, begitu argumen kami. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya kami rela-rela saja kalau semua cewek di kelas kami itu pindah ke kelas lain asal Wirna tetap di kelas kami.

Wirna tertunduk lesu ketika kepala sekolah tidak mengabulkan permintaannya, sementara kami semua bersorak kegirangan seperti habis memenangkan Tx 2 Cup. Turnamen sepakbola tidak resmi antar kelas di SMA 2 yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh klas 2 fisik 2. Sejak itu kami selalu bisa jumawa kepada anak kelas lain di SMA 2, "bio 1 boleh paling banyak cewek cantiknya, tapi yang paling cantik di SMA 2 ada di kelas kami", FISIK 2... begitu yang sering kami katakan kepada anak-anak kelas lain saat duduk nongkrong sambil akan mie di kantin kak Anik waktu jam istirahat. Ironisnya meskipun kami selalu berkoar-koar seperti itu, dari seluruh cowok kelas kami yang dikenal bandel dan berangasan yang bisa dikatakan seluruhnya merupakan fans berat Wirna. Sampai kami tamat dari SMA 2, tidak ada satupun yang punya nyali (termasuk aku) untuk bilang suka pada Wirna.

Kembali ke obrolan kami, aku dan juga teman-teman sekelasku dan juga termasuk guru-guru kami sebenarnya tidak begitu yakin kalau banyak anak-anak kelas kami akan bisa lulus UMPTN apalagi kalau jurusan yang diambil adalah di Fakultas Teknik Unsyiah. Alasannya masuk ke fakultas favorit itu sangat sulit, saingan kami banyak. Yang paling berat tentu anak-anak dari SMA Negeri 3 Banda Aceh, setiap tahun mereka seolah pindah kelas ke fakultas-fakultas favorit di Unsyiah semacam Kedokteran, Teknik dan Ekonomi. Di fakultas-fakultas yang kurang favorit seperti pertanian, FKH, MIPA dan Hukum pun mereka tetap dominan. Dari seluruh fakultas di Unsyiah, hanya FKIP yang tidak didominasi oleh anak-anak SMA 3. FKIP yang kependekan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini didominasi oleh anak-anak daerah.

Selain SMA 3, dalam UMPTN kami juga harus bersaing dengan anak-anak dari SMA 1 dan SMA 5 yang juga secara kualitas dianggap lebih tinggi dibandingkan sekolah kami, SMA 2 yang di Banda Aceh lebih dikenal jago dalam bidang olah raga, kebut-kebutan dan tawuran dengan STM.

Selain SMA-SMA yang saya sebutkan, masih ada anak-anak dari SMA di Lhokseumawe, kota yang merupakan lokasi perusahaan-perusahaan multinasional yang kalau ikut memilih fakultas teknik akan merupakan saingan berat kami. Untungnya anak-anak SMA Lhokseumawe yang pintar-pintar yang kebanyakan adalah anak-anak dari pekerja di perusahaan-perusahaan besar itu, kurang begitu berminat kuliah di Banda Aceh. Biasanya mereka lebih memilih kuliah di Medan, Jakarta, Bandung atau Jogjakarta. Anak-anak dari daerah lain meskipun pasti ada beberapa orang yang juga pintar, tapi secara umum anak-aak dari daerah ini tidak begitu kami perhitungkan sebagai saingan dalam UMPTN. Sedangkan SMA 4 dan SMA 6 dianggap kualitasnya masih dibawah atau paling jauh setara dengan kami.

Di SMA 2 sendiri, kualitas siswa-siswa kelas kami dianggap kalah dibandingkan anak-anak 3 fisik 1. Anak kelas kami dikenal bandel seperti anak Sos 2. Kami sekelas pernah diskors dilarang masuk kelas selama dua hari gara-gara sehari sebelumnya kami bolos massal sehabis jam istirahat pertama. Kami sekelas bolos karena ingin menonton film Dono di TPI, stasiun televisi baru yang menanyangkan banyak acara menarik. Kami terpaksa bolos karena TPI hanya tayang di pagi hari di saat jam sekolah, sore dan malam harinya seluruh acara kembali diborong oleh TVRI, satu-satunya stasiun TV yang kami kenal selama ini yang sekarang jadi terlihat membosankan sejak adanya TPI.

Dengan latar belakang seperti itulah, meskipun sangat menginginkan kuliah di Fakultas Teknik Unsyiah aku sendiri sebenarnya tidak yakin bisa diterima, memang dalam daftarku Unsyiah hanya pilihan kedua setelah ITB. Tapi ITB yang pilihan pertama sebenarnya hanya formalitas saja, karena jelas mustahil aku bisa diterima di sana. ITB tetap kujadikan pilihan pertama karena siapa tahu ada mukjizat waktu UMPTN, siapa tahu tiba-tiba berada satu ruangan dengan anak-anak pintar dari SMA 3 dan bisa mendapatan contekan.

Dari seluruh 42 siswa di kelas kami, 3 fisik 2, hanya satu orang yang kami yakini akan lulus UMPTN dan diterima di Fakultas Teknik Unsyiah. Namanya Syahrial yang akrab kami panggil 'Syeh' yang secara fisik dan penampilan terlihat sangat tidak meyakinkan, kurus, lusuh dan sama sekali tidak ada ganteng-gantengnya. Tapi teman sekelas kami yang berasal dari Kluet Utara dan tinggal ngekos di Lam Pulo ini entah kenapa sangat pintar di bidang fisika, kimia dan matematika. Belakangan setelah kuliah, menilik penampilan fisiknya ini, untuk Syahrial aku aku mempopulerkan panggilan 'Levi's' sebagai pengganti panggilan akrab sebelumnya 'Syeh'. Nama baru buatanku ini merupakan kependekan dari 'lemah visik dan syahwat'. (kalo kee baca tulisan ini jangan marah ya vis...he he he).

Menyadari sulitnya persaingan untuk masuk ke Fakultas Teknik Unsyiah, aku sendiri sejujurnya tidak yakin akan lulus, aku katakan ke Wirna kalau seandainya aku tidak lulus, aku akan ke Bandung dan di sana aku akan mengambil kursus intensif persiapan UMPTN selama setahun.

Wirna sendiri, katanya berminat masuk PDPK yang merupakan D3 kesekretariaan di bawah fakultas ekonomi yang penerimaan mahasiswanya di luar jalur UMPTN. Di Unsyiah anak-anak PDPK yang rata-rata cantik ini dikenal sebagai incaran anak-anak teknik. Di Teknik sendiri ada ungkapan "Di Unsyiah Teknik adalah rajanya dan PDPK ratunya". Jadi tanpa dia jelaskanpun, aku jelas paham maksud Wirna memilih masuk ke jurusan itu. Aku makin meyakini alasan ini karena sebelumnya Wirna yang sampai saat kami mengobrol itu belum punya pacar, pernah bilang kalau saat mendengar kata anak teknik dia merasa kesannya orang itu macho sekaligus intelek. Itu kata Wirna, tapi kupikir ada satu alasan lagi yang tidak Wirna katakan, kuliah di Fakultas Teknik Unsyiah artinya masa depan terjamin.

Cewek-cewek dari kebudayaan manapun di muka bumi ini, sebagaimana juga hampir semua makhluk berkelamin betina secara instingtif selalu mencari pejantan yang mampu memberi perlindungan. Bagi manusia modern yang hidup di zaman sekarang, perlindungan yang paling sempurna adalah mapan secara ekonomi. Oleh cewek-cewek seperti Wirna teman saya ini, mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah dianggap akan mampu memberikan perlindungan seperti itu di masa depan.

Dasar dari anggapan bahwa mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah akan mampu memberikan perlindungan seperti itu di masa depan adalah kenyataan yang kami saksikan sendiri pada waktu itu. Di Banda Aceh pada awal tahun 1990-an, tidak ada sejarahnya lulusan Fakultas Teknik Unsyiah khususnya jurusan Teknik Sipil yang menganggur. Sarjana teknik sipil yang baru tamat pada waktu itu biasanya langsung mendapat tawaran kerja dari berbagai pemilik perusahaan konstruksi yang biasanya juga adalah alumni Unsyiah untuk bekerja di tempat mereka. Biasanya dalam waktu kurang setahun si sarjana baru ini sudah bisa membeli mobil dan beberapa tahun kemudian sudah bisa membangun rumah.

Begitulah sejarahnya kenapa aku memilih dan akhirnya benar-benar kuliah di jurusan Teknik Sipil Unsyiah.

Wassalam

Win Wan Nur

Tidak ada komentar: