Jumat, 22 Januari 2010

Beraban-Bajera, Pelajaran Hidup 'Bersyari'at' Dari Orang Bali Bag 2

Tulisan ini adalah bagian kedua dari empat Tulisan dan merupakan sambungan dari http://winwannur.blogspot.com/2010/01/beraban-bajera-pelajaran-hidup.html

Kalau kita berbicara tentang kesucian. Dalam kultur Bali, semakin tinggi suatu tempat, semakin suci tempat itu. Bukan hanya tempat, tubuh Manusia pun bagi orang Bali terbagi dari bagian yang suci dan kurang suci. Kepala yang merupakan bagian tubuh paling tinggi adalah bagian tubuh yang paling suci, orang Bali, bahkan anak kecil sekalipuan akan sangat marah jika ada orang yang berani menyentuh bagian paling suci dari tubuh mereka ini. Sebaliknya, bagian yang dianggap paling tidak suci adalah telapak kaki, sehingga penghinaan paling besar bagi orang Bali adalah menginjak kepala. Alasan ini pula yang membuat rumah-rumah tradisional di Bali yang bisa kita temui di semua desa yang ada di Bali tidak ada yang bertingkat. Itu karena orang Bali tidak suka, ada kaki yang berada di atas kepala mereka.

Aurat bagi orang Bali adalah pinggang ke bawah, karena itulah saat memasuki pura dan bangunan suci. Siapapun itu baik beragama Hindu atau bukan harus melilitkan sehelai selendang di pinggang. Selendang ini fungsinya untuk memisahkan bagian suci dan bagian tidak suci dari tubuh manusia.

Dalam perjalanan ini tidak jarang aku menyaksikan perempuan-perempuan tua yang hanya mengenakan kain panjang dari pinggang ke bawah dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka, lalu dengan santai berjalan-jalan di jalanan desa tanpa rasa risih sama sekali.

Saat ini memang hanya perempuan berusia lanjut yang tidak risih berjalan di tengah keramaian dengan pakaian seperti itu, tapi orang yang berkunjung ke Bali sebelum tahun 60-an pasti terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Saat itu masih banyak perempuan, tua dan muda yang berpakaian seperti itu. Membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka tanpa ditutupi apapun. Bahkan pada masa penjajahan Belanda semua perempuan Bali, di desa, di pasar dan dijalan-jalan berpakaian seperti itu. Ini misalnya bisa kita lihat dalam foto-foto di bagian belakang buku Island of Bali, karangan Miguel Covarrubias. Foto-foto tersebut adalah hasil jepretan kamera Rose Covarrubias yang tidak lain istri Miguel sendiri. Foto-foto diambil sekitar tahun 1933.

Perempuan Bali mulai dibiasakan menutupi bagaian atas tubuhnya dengan pakaian oleh guru-guru sekolah Belanda yang mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Bali, mereka mengajarkan kepada para gadis Bali bahwa adalah aib memamerkan tubuh bagian atas. Akibat dari pengajaran semacam ini, pada masa itu tidak sedikit gadis Bali yang melakukan bunuh diri karena orang tuanya tidak bersedia membelikan baju.

Kemudian soal tinggi dan rendah ini, titik-titik yang ada di pulau Bali sendiri juga demikian. Orang Bali percaya bahwa titik yang paling suci di pulau ini adalah Puncak gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di pulau Bali. Orang Bali percaya di puncak Gunung Agung bersemayam para dewa dan roh-roh suci para nenek moyang yang telah meninggal. Para Dewa dan roh nenek moyang itu dipercaya akan turun, ikut serta dalam upacara yang diselenggarakan di Pura-pura oleh keturunan mereka. Pura Besakih, Pura paling suci, yang dipercaya sebagai IBU dari seluruh Pura yang ada di Bali juga terletak di kaki Gunung Agung.

Sebaliknya, bagi Orang Bali, Laut yang terletak di tempat yang rendah adalah tempat bersemayamnya banyak kekuatan negatif. Laut adalah rumah bagi Ratu Gede Mecaling, yang dipercaya merupakan kekuatan negatif yang suka mengganggu. Itulah sebabnya orang Bali tidak begitu menyukai laut, sehingga hampir tidak ada orang Bali yang berprofesi sebagai nelayan. Para nelayan yang ada di Jimbaran umumnya adalah suku Jawa dan suku Madura, yang menangkap ikan di jalur selat Bali, mulai dari Muncar di Banyuwangi sampai ke Jimbaran di Bali. Sedangkan nelayan yang ada di bagian Timur Bali di daerah Klungkung dan Karangasem umumnya berasal dari Lombok.

Ini pula sebabnya, meskipun pulau Bali dikelilingi laut dengan hasil ikan yang melimpah, dalam menu masakan Bali jarang sekali kita bisa menemui menu berbahan ikan. Menu masakan Bali rata-rata adalah masakan daging Babi, ayam dan bebek. Di mana-mana di Bali kita dengan mudah menemukan restoran di pinggir jalan yang menyajikan BABI GULING. Di restoran-restoran ini babi yang diguling tersebut diletakkan dalam lemari kaca agar para pelanggan yang ingin membeli bisa langsung melihat dan menilai kualitasnya. Di kota lain yang juga terdapat beberapa restoran yang menyediakan masakan daging Babi seperti di kota Medan misalnya yang tidak berani menyebut daging Babi secara terang-terangan, di Medan reestoran semacam itu biasanya memberi kode B2 untuk menyebut Babi. sementara di Bali tidak demikian, Babi disebut dengan terang-terangan. Restoran yang menjual Babi guling ya menulis SEDIA BABI GULING, untuk mempromosikan dagangan mereka.

Para penjual Bakso asal Bali yang dikenal dengan Bakso Krama Bali pun, dengan terang-terangan menulis kalau mereka menjual BAKSO BABI.

Orang Bali pergi ke tepi pantai biasanya hanya untuk melakukan upacara, salah satu upacara yang dilakukan di tepi alut ini adalah upacara di Melasti, yaitu upacara yang dilakukan untuk membersihkan desa dari kekuatan-kekuatan negatif yang mengganggu, atau upacara yang merupakan akhir dari prosesi ngaben atau pembakaran mayat, laut di sini dipakai sebagai tempat pembuangan abu jenazah yang selesai dibakar.

Melintasi persawahan di Bali ini benar-benar pengalaman yang menakjubkan, menyatunya kehidupan orang Bali dengan tanah yang dipijaknya demikian terasa. Di sepanjang jalan yang kulewati, aku sering berpapasan dengan perempuan Bali yang menjunjung keranjang atau ember di atas kepalanya, entah itu berisi air, cucian, barang dagangan atau banten (sesajen untuk upacara).

Pemandangan di sawah-sawah di Bali juga menunjukkan dengan jelas kepada kita, betapa di Bali, kehidupan spiritual dan kehidupan material adalah satu hal yang tidak terpisahkan. Di tengah sawah-sawah itu, selalu ada sebuah pura kecil yang dibangun untuk menghormati Dewi Sri, sang Dewi Padi yang merupakan 'sakti' atau sering juga disebut istri dari Dewa Wisnu sang Dewa pemelihara. Dalam kepercayaan Hindu India, Dewi Sri juga dipanggil dengan nama Dewi Laksmi. Tiap bagian sawah yang dimiliki oleh satu orang, memiliki satu pura kecil dari bahan beton yang khusus didirikan untuk mengormati Dewi Sri ini. Setiap pemilik sawah, dengan penuh kesadaran meletakkan sesajen di Pura-pura itu. Semua pura untuk Dewi Sri ini mengarah ke puncak Gunung Agung.

Di bebera tempat kita menemui Pura Bedugul, yang merupakan Pura untuk lahan pertanian. Dalam perjalanan ini aku menemui sebuah upacara yang dilakukan di sebuah Pura itu. Upacara di Pura Bedugul ini dipimpin oleh seorang Pemangku berbaju putih, Pemangku ini adalah sebutan untuk seorang 'pendeta' atau 'ulama' desa yang dipilih dari seorang warga desa itu dari kasta yang juga biasanya sama dengan kasta warga desa itu untuk memimpin upacara-upacara seperti ini. Pemangku ini berbeda dengan 'Pedanda' yang juga biasa disebut 'Sulinggih', seorang 'pendeta' atau 'ulama' besar yang biasanya berasal dari kasta Brahmana, yang merupakan kasta tertinggi. Sulinggih ini biasanya memimpin upacara perkawinan, kelahiran dan ngaben (upacara pembakaran mayat). Pemangku bukanlah sebuah profesi, Pemangku hanyalah pekerjaan sosial, untuk menghidupi diri sendiri, seorang pemangku harus bekerja sebagaimana halnya orang biasa. Tapi sebaliknya, Sulinggih adalah status yang mengikat. Sulinggih artinya orang yang hidup melinggih, alias tinggal menetap di rumah. Seorang Sulinggih memiliki rakyat yang membutuhkan jasanya untuk memimpin upacara-upacara seperti yang saya sebutkan di atas. Pekerjaan seorang Sulinggih adalah tinggal di rumah menunggu rakyatnya memnaggilnya atau mendatanginya untuk meminta nasehat.

Seseorang yang menjadi Sulinggih dianggap telah mati dari kehidupan sebelumnya dan terlahir kembali menjadi Sulinggih, nama yang disandang sebelumnya juga dibuang dan diganti dengan nama baru. Upacara pengangkatan seorang Sulinggih, sama dengan upacara kematian. Setelah 'diwisuda' sebagai Sulinggih, seorang sulinggih dan juga pasangannya tidak diperkenankan lagi keluar dari rumah tanpa ditemani oleh seorang rakyatnya, seorang Sulinggih tidak diperkenankan bekerja atau memiliki bisnis alias usaha. Bahkan jika sebelum menjadi Sulinggih, mereka memiliki masalah Hukum di masa lalu, setelah menjadi Sulinggih semuanya menjaddi otomatis HILANG. Bahkan polisi pun tidak lagi berhak menahan atau memintanya menjadi saksi di pengadilan atas segala hal yang berkaitan dengan kehidupan sorang Sulinggih di masa lalu.

Semua fakta di atas yang sampai hari ini masih hidup dan akan tetap terus hidup di Bali sering membuat orang luar geleng-geleng kepala. Karena orang Bali berpegang sedemikian kuat pada akarnya. Derasnya informasi dari luar, kemajuan teknologi di zaman handphone dan facebook seperti sekarang ini. Kultur seperti yang saya ceritakan di atas masih melekat kuat dalam diri setiap orang Bali.

Bersambung....


Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?aid=2046218&id=1524941840

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Notes : Bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam tulisan ini, berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah.