Sabtu, 04 Oktober 2008

Bali, Pariwisata dan Ritual Kelahiran di Gayo

Ketika saya mempost tulisan saya yang saya beri judul 'Antara Gayo dan Bordeaux', saya mendapat sebuah tanggapan menarik di media online Super Koran, dari seorang pengamat budaya yang juga kontributor superkoran bernama Iwan Piliang.

Menanggapi tulisan saya dalam kaitannya dengan Pariwisata Bali, Iwan mengatakan kalau pariwisata Bali sudah jenuh dalam artian Bali sudah tidak mampu lagi menampung kedatangan wisatawan mancanegara akibat kekurangan infrastruktur pendukung, karenanya Iwan menyarankan agar daerah lain di Indonesia juga mengembangkan pariwisatanya dengan mengeksplorasi keunikan adat daerah masing-masing termasuk Gayo, karena secara alam menurut Iwan daerah lain tidak kalah indahnya.

Saya setuju dengan pendapat Iwan pertama, pariwisata Bali sudah jenuh secara kuantitas dalam artian Bali sudah tidak mampu menampung kunjungan wisatawan dengan jumlah yang lebih banyak lagi, saat inipun sudah sering terjadi kemacetan saat kita mengunjungi situs-situs wisata populer seperti Tanah Lot misalnya, apakah itu karena Bali kekurangan infrastruktur jalan?...saya pikir tidak. Infrastruktur jalan di Bali adalah salah satu kalau tidak bisa dikatakan yang terbaik di Indonesia, saking baiknya infrastruktur jalan di Bali, saat ini perusahaan travel yang mengkhususkan diri menjual jasa Jeep 4x4 untuk Tour ke pedalaman Bali banyak yang sudah gulung tikar, akibat tidak ada lagi jalanan rusak yang hanya bisa dilewati Jeep. Masalah sebenarnya dari jenuhnya kuantitas kunjungan wisatawan ke Bali adalah Ukuran Pulau Bali yang memang cuma sebegitu dan dengan ukuran sebegitu daya tampung pulau Bali atas kunjungan wisatawan memang sudah maksimal, kalau ditingkatkan lagi malah hanya akan merusak Bali sendiri. Jadi saat ini kunjungan wisatawan ke Bali sebaiknya sudah harus mulai dibatasi, bukan ditingkatkan dengan cara dipromosikan secara massif seperti yang dilakukan Malaysia (dengan catatan tidak ada Bom lagi).

Dengan begitu apakah berarti kita bisa menciptakan 'Bali' lain di daerah lain di Indonesia seperti usul Iwan?...saya pikir tidak!, alasannya adalah seperti Bumi yang diciptakan Tuhan secara unik pas sebagai satu-satunya tempat untuk tinggal berbagai makhluk hidup diantara milyaran benda angkasa, Bali juga demikian, pulau ini memang sepertinya sengaja diciptakan Tuhan untuk menjadi surga Pariwisata, dan tidak ada lagi satu pulau lainpun seperti itu di dunia.

Pulau ini memiliki ukuran yang sempurna, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, komposisi alamnya lengkap, ada sungai, gunung , danau, sawah, pantai, lokasi penyelaman dan hutan. Kondisi seperti ini membuat wisatawan yang berkunjung dalam satu hari yang sama di pulau ini bisa berada di puncak Gunung berapi, di tepi Danau yang sejuk dan dan berjemur sinar matahari sambil menunggu sunset di tepi pantai. Di sepanjang perjalanan kita bisa mengunjungi dan menyaksikan keindahan berbagai hasil karya manusia entah itu kerajinan atau bangunan-bangunan Pura yang eksotik, kadang masih diselingi bonus melewati rombongan orang yang sedang melakukan upacara adat atau agama. Pendeknya di pulau yang panjangnya dari Barat ke Timur sekitar 150 Km dan Lebarnya dari Utara ke Selatan sekitar 80 km ini, kita bisa menemukan seluruh aspek eksotisnya ASIA komplit dalam satu paket. Jadi bohong kalau orang Malaysia bilang MalaysiaTruly Asia, karena sebenarnya Balilah yang benar-benar alias TRULY ASIA. Malaysia hanya mampu menjual wisata artifisial, mereka tidak memiliki alam, budaya dan karya seni yang eksotis, sesuatu yang pertama kali terlintas di benak turis eropa atau amerika ketika membayangkan wisata di ASIA.

Karakter khas yang dimiliki Bali ini yang tidak mungkin bisa didapatkan di tempat lain, bandingkan dengan pulau Jawa misalnya. Setelah mengunjungi Borobudur dan Prambanan untuk ke Gedong Songo kita harus menghabiskan waktu sehari penuh pulang pergi dan tidak ada sesuatu yang istimewa yang bisa kita saksikan di jalan. Apalagi jika kemudian kita melanjutkan ke Bromo, kita harus menghabiskan waktu seharian penuh di jalan, baru hari berikutnya bisa menikmati keindahan Bromo.

Apalagi kalau kita bicara Sumatera, katakanlah Sumatera Utara, sehabis mengunjungi Danau Toba di Prapat, untuk bisa ke Bukit Lawang di Langkat, seharian penuh kita harus menghabiskan waktu dalam perjalanan yang membosankan. Mau diajak ke pantai?...pantai mana?..Belawan yang penuh kapal dan airnya tercemar tumpahan minyak itu?. Melihat peristiwa Budaya?...Memang benar Sumatera Utara juga punya budaya khas yang bisa kita saksikan setiap hari sebagaimana halnya budaya khas Bali yang juga bisa kita saksikan setiap hari. Budaya khas Sumatera Utara yang bisa kita saksikan setiap hari itu adalah budaya premanisme yang telanjang di setiap sudut kota Medan, sayangnya budaya khas seperti ini kurang begitu menarik untuk dijual sebagai tontonan wisata.

Sebenarnya jika kita ingin mencari daerah yang jika ditilik dari kondisi alamnya pariwisatanya bisa dikembangkan mendekati Bali maka daerah itu adalah Aceh. Meski secara wilayah Aceh lebih luas, tapi karakteristik alam Aceh mirip Bali, ada danau, ada gunung, ada pantai, ada lokasi penyelaman dalam satu paket. Meski jarak antar lokasinya agak lebih jauh dibandingkan jarak antar lokasi di Bali tapi itu bisa disiasati. Katakanlah untuk mencapai Danau Laut Tawar dari pantai Iboih yang asri atau dari pantai Lhoknga yang mirip pantai Kuta, kita bisa menggunakan pesawat untuk menghemat waktu. Infrastrukturnya sudah ada.

Masalahnya selama konflik berkepanjangan antara Aceh dengan RI, pemerintah Indonesia saat itu telah sukses mencitrakan pada dunia, bahwa penduduk Aceh adalah sekumpulan muslim fanatik dan fundamentalis, sesuatu yang sangat ditakuti oleh warga di pasar terbesar pariwisata, Eropa, Jepang dan negara-negara berpenduduk mayoritas non-muslim lainnya. Apalagi sekarang di Aceh sudah diterapkan Syariat Islam, orang Arab aja malas berwisata ke Aceh dan lebih memilih Bali untuk tempat berlibur di Indonesia (disamping Puncak dengan daya tarik wisata kawin kontrak jangka pendeknya tentunya). Jadi saat ini omongan soal urusan pariwisata Aceh yang menargetkan kunjungan wisatawan yang berasal dari pasar potensial itu seharusnya sudah ditutup rapat.

Soal saran Iwan untuk mengembangkan adat atau budaya setempat termasuk Gayo untuk pengembangan pariwisata juga tidak mungkin dilakukan, karena terkendala dengan Agama.

Bali bisa tetap melestarikan adat warisan nenek moyang mereka yang telah berusia ribuan tahun adalah karena mereka menganut agama Hindu Dharma, agama yang sebenarnya tidak dapat dikatakan Agama Hindu jika kita mengasosiasikan Hindu itu dengan agama yang dianut oleh penduduk yang tinggal di wilayah Hindustan alias India.

Hindu Dharma, agama yang dianut orang Bali memang mengandung komposisi Hindu sebagaimana halnya dalam ajaran agama orang Hindustan. Tapi sebenarnya porsi terbesar dalam kepercayaan agama orang Bali adalah ajaran nenek moyang mereka yang oleh para ahli dikategorikan sebagai animisme dan dinamisme. Ini bisa dilihat dari prosesi upacara Agama di Bali, satu-satunya upacara agama di Bali yang dihitung dengan kalender Hindu (saka) hanyalah nyepi, sisanya upacara besar lainnya, Galungan, Kuningan, Melasti, Pager Wesi, Odalan dan lain-lain dilaksanakan berdasarkan perhitungan kalender Bali yang setahunnya hanya berisi 6 bulan dan masing-masing bulan berisi 35 hari. Agama orang Bali juga mengandung porsi kecil ajaran Buddha. Karena alasan inilah setiap usaha atau gerakan pemurnian Agama Hindu di Bali kurang begitu kencang gaungnya, usaha ini pernah dilakukan aliran Hare Krishna yang berusaha memurnikan ajaran Hindu Bali dengan Kiblat India, atau Arya Weda intelektual muda Bali yang sekarang menjadi ketua DPD PNI Marhanenisme pimpian Sukmawati dengan organisasi pemuda Hindu Internasionalnya yang juga berkiblat ke India, organisasi ini dulu memprotes film opera Jawanya Garin karena menggambarkan kisah ramayana tidak sesuai versi India, tapi kedua jenis usaha itu hanya kencang bersuara di koran saja tanpa pernah bisa menyentuh kepercayaan orang Bali di akar rumput.

Saya melihat agama orang Bali disebut Hindu hanyalah karena kategorisasi dari pemerintah yang hanya mengakui adanya lima agama. Dan agama menurut kategori pemerintah Indonesia ini adalah agama dengan cara pandang penganut agama Ibrahim yang lahir di timur tengah, ciri khas agama-agama Ibrahim adalah memiliki kitab suci. Ciri inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia dalam pengkategorisasian sebuah kepercayaan untuk bisa disebut agama atau bukan. Dengan kategorisasi seperti ini dalam agama Bali tentu saja yang ada kitabnya adalah bagian Hindunya, bagian terbesar dari Agama Bali yaitu animisme dan dinamisme tidak memiliki kitab, karena itulah agama orang Bali disebut Hindu.

Cerita yang hampir sama juga dialami oleh orang Tengger yang sebelum tahun 1976 agama mereka sempat disebut Buddha Tengger, tapi setelah departemen agama menurunkan ahli dari dirjen Hindu-Buddha ditemukan kalau dalam kitab-kitab orang Tengger dan praktek upacara dan mantra-mantra yang digunakan dalam ritual keagamaan mereka banyak memiliki kesamaan dengan Hindu Bali. Maka sejak saat itu agama orang Tengger secara resmi disebut Hindu. Dan sejak saat itu pula pemerintah mulai mengirimkan guru-guru agama Hindu yang berasal dari Bali untuk mengajar pelajaran agama Hindu kepada anak-anak Tengger di sekolah. Bahkan sejak saat itu yang menjadi camat di Tenggerpun digilir antara orang islam penduduk setempat dengan camat beragama Hindu asal Bali (orang Hindu Tengger sendiri belum pernah menjadi camat di daerahnya sendiri) dan sejak saat itu pula orang Tengger merasa bahwa mereka adalah Hindu dan merekapun mulai meniru adat dan cara hidup orang Bali, karena menurut mereka Hindu itu ya seperti di Bali. Ketika saya beberapa kali mengunjungi Tengger, saya saksikan hasil tiru-meniru itu seringkali terlihat lucu. Salah satu hasil tiru meniru yang tampak lucu ini adalah ketika orang Tengger mulai meniru orang Bali dengan membuat gerbang khas Bali (candi bentar) di depan rumah mereka, ini menjadi lucu karena bangunan gerbang hasil tiruan itu tidak menyatu dengan arsitektur keseluruhan rumah, berbeda dengan arsitektur rumah Bali yang terintegarasi penuh dalam setiap detailnya.

Dengan cara pandang pemerintah dalam mengkategorisasikan sebuah kepercayaan untuk bisa disebut agama seperti inilah yang membuat Pelbegu (agama asli orang Batak) dan Kaharingan (agama asli orang Dayak), secara resmi tidak diakui sebagai AGAMA, karenanya di KTP, orang Batak penganut Pelbegu dan Orang Dayak penganut Kaharingan harus memilih salah satu dari lima agama resmi.

Soal daya tarik ritual keagamaan dan adat, sebenarnya selain Bali setiap daerah di Indonesia juga memiliki ritual adat dan budaya yang sangat menarik, seperti Bali yang memiliki ritual kelahiran dan kematian, daerah lainpun begitu, Gayo suku saya misalnya.

Seperti Bali yang punya ritual khusus saat pemberian nama Bayi yang dinamakan upacara 'telu bulanan' , kamipun di Gayo memiliki ritual semacam itu, 'Turun Mani' namanya, seperti di Bali, di kampung sayapun bayi dipercaya lemah dan rawan terserang roh jahat saat baru lahir, karena itu sebelum si Bayi dianggap cukup kuat Bayi dilarang untuk dibawa keluar rumah. Dulu saat saya masih kecil kepercayaan seperti ini masih hidup di Gayo. Ritual 'turun mani' seperti yang saya sebutkan sering saya saksikan di kampung saya di Isaq. Bedanya jika di Bali bayi baru boleh keluar rumah saat sudah berumur 105 hari, maka di tempat saya cukup 7 hari saja.

Seperti ritual 'telu bulanan' di Bali yang sangat menarik buat disaksikan, ritual 'turun mani' di kampung saya juga menarik. 'Turun Mani' secara harfiah bisa diartikan turun untuk dimandikan, dan dulu*, Bayi berumur 7 hari itu dimandikan di sungai.

*Sebenarnya dibandingkan menggunakan bahasa Melayu, saya lebih suka menggunakan bahasa asli saya untuk menyebut kata 'dulu', karena makna kata ini dalam bahasa Gayo lebih detail dan presisi tidak seperti dalam bahasa Melayu yang kita pakai dalam berkomunikasi ini, dimana makna kata 'dulu' terlalu luas dan kurang bisa diandalkan untuk menjelaskan rentang waktu. Dalam bahasa Gayo kata 'dulu' dibagi tiga :

1. Inia artinya 'dulu' dalam waktu yang tidak terlalu lama, biasanya masih dalam tahun yang sama
2. Tengaha atau Tengahna artinya 'dulu' dalam waktu yang agak lama, beberapa tahun atau puluh tahun yang lalu dan
3. Pudaha atau Pudahna artinya 'dulu' dalam pengertian beberapa generasi yang lalu.

'dulu' yang saya maksud dalam tulisan saya di atas adalah Tengaha atau kadang juga disebut Tengahna, tergantung selera si pengucap.

Karena itu supaya penggambaran saya lebih mudah dipahami detailnya berdasarkan rentang waktu, selanjutnya dalam tulisan ini dalam penggunaan terminologi kata 'dulu' saya akan menggunakan istilah dalam bahasa asli saya*.

Ide 'turun mani' dalam budaya Gayo adalah untuk memperkenalkan realitas dunia nyata kepada bayi yang baru lahir. Dalam acara ritual 'turun mani' ada dua hal yang akan diperkenalkan kepada bayi. Pertama memperkenalkan Bayi pada empat unsur (angin, air, api dan tanah) dan membiasakan bayi terhadap rasa dingin dan suara bising.

Supaya bisa dibayangkan seperti apa prosesi 'turun mani' di kampung saya 'tengaha', di bawah ini saya gambarkan prosesi selama ritual 'turun mani' di kampung saya.

'Tengaha' dan juga 'Pudaha', dalam setiap ritual 'turun mani' di kampung saya selalu kaum wanitalah yang berperan penting dalam ritual itu. Biasanya dalam ritual turun mani ada tiga wanita yang berperan penting dalam prosesi ditambah beberapa orang wanita lain yang bertugas memainkan alat musik. Perempuan pertama bertugas untuk melaksanakan setiap prosesi ritual 'turun mani' biasanya adalah keluarga dekat yang sudah agak berumur yang juga tinggal di kampung yang sama dengan si bayi. Wanita kedua bertugas menggendong bayi yang sedang di 'turun mani'kan (iturun manin dalam bahasa Gayo), membuai si Bayi dalam gendongannya sepanjang ritual 'turun mani'. Wanita ketiga bertugas membawa beras yang nantinya akan diberikan kepada wanita yang menggendong bayi, sedangkan wanita-wanita lainnya memainkan alat musik berupa canang yang dipukul bertalu-talu selama prosesi 'turun mani'.

'Tengaha', orang di kampung saya menganggap perjalanan membawa bayi dari rumah menuju ke sungai, berpotensi membahayakan keselamatan si bayi. Karena alasan rawannya keselamatan si bayi itulah sejak 7 hari sebelumnya si bayi selalu ditempatkan di dekat ibunya. Tidak jarang dalam rumah yang memiliki bayi yang baru lahir diletakkan beragam jimat untuk menolak roh jahat, jimat-jimat itu digantungkan di setiap penjuru rumah. Sebab itulah perjalanan menuju ke sungai benar-benar harus dipersiapkan dengan baik, karena dalam perjalan itu bayi masih rawan diserang roh jahat maka dari itu persiapan untuk membawa bayi ke sungai harus benar-benar matang.

Ketika akan berangkat, wanita yang bertugas menggendong bayi akan mengambil sejumput kapas lalu menjepitnya dengan alat pembelah pinang yang kami sebut 'kelati' lalu membakarnya. Menurut apa yang dipercaya orang kampung saya pada saat itu, 'kelati' yang terbuat dari besi itu memberikan unsur logam yang bersifat keras sehingga bisa menahan gangguan roh jahat. Api yang membakar kapas membuat takut roh jahat yang ingin mendekat. Lalu canang yang dipukul bertalu-talu akan menjauhkan roh jahat dari si bayi. Kemudian sepanjang ritual 'turun mani' banyak sekali dipakai tanaman yang kami sebut 'batang teguh'. Dalam kebudayaan kami tanaman ini dipercaya sebagai tanaman pertama yang tumbuh di planet ini. Penggunaan tanaman ini dalam ritual 'turun mani' dipercaya akan menguatkan si bayi. Karena itulah ketika akan keluar dari rumah di depan pintu wanita pertama yang akan melakukan semua prosesi dan wanita kedua yang menggendong bayi sama-sama menginjakkan kakinya ke atas seikat tanaman batang teguh yang diletakkan di depan pintu rumah si bayi. Lalu wanita yang menggendong bayi akan memegang payung untuk melindungi si bayi dari rumah sampai ke tepi sungai.

Setibanya di sungai, para wanita yang terlibat dalam ritual ini menghamparkan tikar berwarna-warni yang terbuat dari sejenis tanaman rawa yang kami sebut 'kertan' di atas batu. Kemudian wanita pertama yang bertugas untuk melaksanakan setiap prosesi ritual 'turun mani' menaburkan beras empat warna dengan bentuk lingkaran di atas selembar daun pisang. Di bagian tengah lingkaran diletakkan empat buah dari apa yang kami sebut 'selensung' yaitu lembaran daun sirih yang dibentuk menjadi bungkusan kecil berisi buah kemiri dan jeruk nipis. Daun pisang tersebut kemudian diangkat ke atas kepala si bayi, wanita pertama kemudian menyebutkan nama roh penunggu sungai lalu memutar daun pisang berisi beras dan 'selengsung' itu dengan arah berlawanan jarum jam di atas kepala si bayi dan menghitung dari satu sampai tujuh. Prosesi ini gunanya untuk menjauhkan si bayi dari segala penyakit dan nasib buruk yang disebabkan oleh empat unsur yang saya sebutkan sebelumnya, dalam bahasa gayo empat unsur itu kami sebut 'anasir opat'.

Nama-nama roh yang disebutkan wanita pertama yang bertugas untuk melaksanakan setiap prosesi ritual 'turun mani' saat melakukan prosesi ini bisa bermacam-macam, tergantung siapa orangnya yang melakukan ritual itu. Kadang dalam ritual ini si wanita pertama menyebutkan nama-nama roh penjaga sungai. Dalam prosesi 'turun mani' yang lain yang disebut adalah nama empat roh yang mewakili empat unsur (anasir opat), satu di hulu, satu di hilir dan masing-masing satu di setiap tepi sungai. Dalam prosesi yang lain yang disebut dalam prosesi itu adalah nama nabi-nabi yang oleh orang kampung saya masa itu dipercaya merupakan penguasa unsur-unsur alam, mereka adalah Nabiolah Nuh penguasa kayu, Nabiolah Yakub penguasa batu, Nabiolah Yati penguasa air dan Nabiolah Kedemat penguasa tanah.

Kemudian daun pisang berisi beras empat warna dan empat 'selensung' itu dihanyutkan di sungai sambil mengatakan pada roh penjaga sungai "Ini anak kami, jangan ganggu dia atau kami akan menjewer kupingmu".

Setelah prosesi itu selesai barulah sekarang giliran si bayi yang menjadi sasaran ritual. Si Wanita pertama mula-mula beberapa kali melumuri tubuh si bayi dengan tepung, lalu juga beberapa kali menyiramnya dengan air jeruk purut dan kemudian dengan air sungai. Lalu wanita itu akan membelah buah kelapa di atas kepala si bayi maksud ritual ini supaya nantinya si bayi tidak takut mendengar suara petir, lalu membiarkan air kelapa membasahi wajah si bayi, maksud ritual ini supaya nantinya si bayi nantinya tidak takut pada hujan. Kemudian si wanita pertama tadi memegang cermin di depan wajah si bayi, maksudnya untuk menunjukkan kepada si bayi NUR nya sendiri. Di Gayo pada masa itu (dan sekarangpun diantara beberapa orang tua di kampung-kampung) kami percaya bahwa manusia itu berasal dari NUR Allah dan NUR Muhammad. Cermin juga masa itu dipercaya akan memantulkan empat warna yang membentuk tubuh si bayi. Cermin yang diletakkan di depan wajah si bayi juga berguna untuk memberi kesempatan kepada empat unsur (anasir opat) dalam tubuh si bayi untuk melihat seperti apa rupa makhluk baru ini, supaya keempat unsur itu tahu bahwa makhluk baru ini adalah manusia dan karenanya harus dilindungi. 'Pudaha' sebelum ada cermin, dalam prosesi ini bayi dipegang menghadap ke air sungai supaya dia bisa melihat pantulan bayangannya.

Acara 'turun mani' ini diakhiri dengan prosesi si wanita pertama yang bertindak mewakili ibu si bayi memberikan sejumlah beras yang tadinya dibawa oleh wanita ketiga kepada wanita kedua yang selama prosesi 'turun mani' menggendong si bayi, beras yang diberikan ini kadang juga ditambahi dengan gula dan kelapa. Maksud pemberian ini adalah untuk memisahkan si bayi secara spiritual dari si wanita yang menggendongnya sepanjang ritual 'turun mani'. Pemberian ini adalah sebagai kompensasi atas resiko yang ditanggung si wanita penggendong selama prosesi 'turun mani' dan yang paling penting adalah untuk memisahkan si bayi dari resiko serangan roh jahat yang bisa jadi harus dihadapi oleh wanita yang menggendongnya tadi karena telah melindungi si bayi selama ritual 'turun mani' itu.

Begitulah prosesi 'turun mani' di tempat kami yang terjadi 'TENGAHA', berbeda dengan di Bali yang prosesi 'telu bulanan' tetap bisa kita saksikan sekarang bahkan juga sampai nanti. Prosesi 'turun mani' seperti yang saya ceritakan di atas, sekarang sudah punah dan tidak dapat lagi kita temui di Tanoh Gayo. Penyebabnya seperti yang saya sebutkan sebelumnya adalah Agama.

Jika di Bali adat adalah unsur yang dominan dalam relasi antara adat dan agama sehingga agama Hindu yang diimpor dari India ketika berhadapan dengan adat Bali, prakteknya dibuat mengikuti adat Bali yang sudah lebih dulu eksis. Sebaliknya dengan di Gayo dalam relasi antara adat dan agama, di daerah kami agamalah yang lebih dominan. Sehingga di Gayo adat hanya bisa dijalankan sejauh jika adat itu tidak bertentangan dengan Islam, agama yang kami anut.

'Tengaha' ritual 'turun mani' seperti yang saya gambarkan bisa ada, karena pada zaman itu transformasi ide-ide agama kepada warga kampung saya belum begitu mudah seperti sekarang. Saat itu buku masih jadi barang langka, televisi belum ada, informasi agama yang sampai ke warga kampung saya pada masa itu banyak bercampur atau diinterpretasikan oleh warga kampung saya dengan cara pandang kepercayaan pra Islam yang sebelumnya dianut oleh nenek moyang kami.

Interpretasi Ide Islam berdasarkan cara pandang kepercayaan lama ini contohnya adalah seperti penyebutan nama-nama nabi penguasa empat unsur dalam prosesi 'turun mani' seperti yang saya ceritakan tadi. Ide tentang nabi penguasa empat unsur itu adalah hasil interpretasi orang Gayo 'Pudaha' atas ide-ide Islam tentang nabi-nabi Allah. Ketika menerima Ide-ide itu nenek moyang kami, orang Gayo 'Pudaha' yang alam pikirannya masih belum sepenuhnya lepas dari kepercayaan lama, lalu 'mengislamkan' ide-ide kepercayaan lama yang mereka anut dengan mengganti nama roh-roh yang dipercaya menguasai alam dengan mengganti namanya dengan nama nabi-nabi Islam. Dalam proses 'pengislaman' ide ini bahkan terkadang nama nabinyapun tidak kita temui dalam literatur Islam yang asli. Contohnya bisa dilihat dari nama-nama nabi penguasa empat unsur yang saya sebutkan di atas, di sana ada nama Nabiolah Yati dan Nabiolah Kedemat yang tidak kita temui dalam literatur Islam yang berasal dari Timur Tengah.

Sebagai gambaran sulitnya transformasi ide di masa yang saya ceritakan itu (sekitar akhir 1979 atau awal 1980-an, sebelum saya masuk SD), Isaq kampung saya yang merupakan ibukota kecamatan Linge, saat itu masih relatif terisolasi ide yang berkembang di Isaq lebih banyak ide-ide yang berkembang diantara orang Isaq sendiri. Orang luar seperti orang-orang Gayo yang tinggal di Takengon* (Ibukota kabutapen Aceh Tengah) misalnya masih b,anyak yang takut berkunjung ke kampung kami. Karena di Takengon banyak beredar kabar, yang juga banyak dipercaya oleh penduduk Takengon masa itu kalau penduduk kampung saya banyak yang memiliki ilmu gaib.

* Nama Kota Takengon ini sendiri, menurut analisa saya sebenarnya adalah pengindoseniaan dari nama asli kota ini yaitu TAKINGEN. Takingen disebut Takengon menurut saya adalah karena mode latah masa awal kemerdekaan, ketika orang Gayo ramai-ramai meninggalkan adat Gayo dan menggantinya dengan sesuatu yang dianggap modern dan keren di masa itu yaitu ide tentang Indonesia. Saat itu banyak nama tempat di Gayo yang di indonesiakan, Bebesen pernah diganti menjadi BOBASAN tapi tidak berlanjut, Kebet menjadi KOBAT, Kebayaken menjadi KEBAYAKAN, Janarata menjadi PONDOK BARU. Salah satu akibat atau bisa juga disebut korban dari mode latah ini adalah munculnya nama Sukur KOBAT (Maaf Cik Sukur) dan Abu TAKENGON. Meskipun pengindonesiaan itu telah dicoba dipas-paskan atau lebih tepat disebut dipaksakan dengan menciptakan cerita yang tidak jelas asal-usulnya yang menyebutkan kata TAKENGON itu berasal dari bahasa Gayo yang berbunyi beTA KuENGON, tapi yang jelas sampai hari ini saya tidak pernah mendengar ada orang Gayo yang menyebut nama kota ini dengan nama TAKENGON ketika sedang berbicara dalam bahasa Gayo. Saat berbicara dalam bahasa Gayo, orang Gayo pasti selalu menyebut nama kota ini TAKINGEN *

Zaman sekarang, ketika transformasi ide sudah demikian mudah, ide-ide keagamaan (islam) ditransformasikan demikian mudahnya, melalui buku, koran, radio bahkan televisi. Orang-orang di tanah Gayo semakin banyak yang menyadari kalau praktek-praktek ritual semacam yang saya ceritakan tadi banyak mengandung unsur bid'ah, khurafat bahkan syirik, sehingga praktek seperti itu semakin hari semakin ditinggalkan.

Saat ini saya yakin sekali kalau sudah tidak ada lagi wanita Gayo di generasi saya yang mampu melaksanakan prosesi turun mani seperti yang saya ceritakan di atas.

Wassalam

Win Wan Nur