Minggu, 26 Oktober 2008

Tanggapan atas Laskar Pelangi

Di Milis Aceh Institute saya mendapat tanggapan atas tulisan saya yang mengkritisi Laskar Pelangi, intinya tanggapan itu todak sepakat dengan pandangan saya yang mengatakan pentingnya institusi sekolah itu adalah MITOS SESAT. Emir TEF demikian nama yang menanggapi ini menduga pandangan saya tersebut dipengaruhi 'pengalaman buruk' saya yang D.O dari Unsyiah. Penanggap ini juga mengatakan ukuran sukses itu banyak macamnya.

Karena tanggapannya ini disampaikan dengan cara yang sangat baik dan ada beberapa hal yang saya pikir bisa bermanfaat buat direnungkan, saya menjawab tanggapan itu dan membaginya kepada rekan-rekan semua di media ini.

Berikut tanggapan saya atas pandangan Pak Emir TEF.

Senang sekali membaca tanggapan Bapak Emir TEF terhadap tulisan saya yang mengkritisi Laskar Pelangi. Maaf saya baru membalas tanggapan anda sekarang karena belakangan ini saya sibuk sekali.

Saya senang melihat cara anda ketika mengemukakan pandangan yang berseberangan dengan perspektif saya. Anda tidak menunjukkan sikap permusuhan sama sekali. Dalam menganggapi perbedaan pendapat, politisi-politisi kita seharusnya belajar banyak kepada anda. Menurut saya orang-orang seperti anda inilah yang seharusnya menghuni senayan.

Pak Emir, melalui apa yang anda baca dalam tulisan saya sebelumnya. Mungkin terbaca oleh anda di sana bahwa saya ini adalah orang yang sangat membenci institusi sekolah. Padahal faktanya tidaklah demikian. Karena seperti anda, sayapun sebenarnya terlahir dan besar di keluarga yang sangat menilai tinggi kadar kesuksesan dari tinggi rendahnya pendidikan.

Hanya saja, dalam perjalanannya saya melihat pengagungan terhadap pendidikan ini telah berubah menjadi pemujaan terhadap institusi yang bernama sekolah dan selembar kertas yang bernama IJAZAH. Menurut saya, ini sudah terlalu berlebihan. Karena pengagungan yang berlebihan terhadap institusi ini dalam perjalanannya justru malah mengesampingkan bagian paling penting dari pendidikan itu sendiri yaitu 'proses'. Lihatlah pendidikan di Indonesia sekarang yang pengajarannya semua terfokus pada HASIL yang ditandai dengan angka kelulusan UAN. Salah satu akibatnya nyata dari metode seperti ini. SASTRA di sekolah-sekolah diajarkan dengan metode hafalan, bukan apresiasi, karena apresiasi tidak bisa dinilai dengan angka pasti seperti yang dibutuhkan UAN. Hasil dari metode seperti inilah yang membuat apresiasi bangsa ini terhadap SASTRA sangat lemah. Inilah alasan kenapa Novel yang secara kualitas biasa-biasa saja tapi mengusung tema 'seksi' semacam Laskar Pelangi itu bisa laris manis di pasaran.

Pengagungan berlebihan terhadap Institusi bernama sekolah ini akhirnya membuat SEKOLAH menjadi BERHALA yang sangat merusak. Sekolah menghisap potensi ekonomi, mematikan kreatifitas dan membunuh keunikan dan kearifan lokal.

Oleh institusi bernama sekolah ini, isi kepala manusia dari Sabang sampai Merauke diseragamkan. Akibat kepercayaan dan pemujaan terhadap BERHALA bernama SEKOLAH ini banyak potensi yang kita punyai yang seharusnya bisa menjadi modal justru hancur. Salah satunya ya Orang tua yang menjual sawah dan ladang untuk menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Padahal hasilnya seringkali anak yang disekolahkan sampai tinggi dengan menghabiskan potensi ekonomi yang seharusnya bisa menghidupi keluarga itu hanya memiliki kemampuan sebagai seorang pengangguran terdidik. Ujung-ujungnya kembali mengolah kebun kopi, atau malah jadi tukang becak.

Maaf, ketika saya menyebut dua profesi ini dengan nada yang kurang layak, itu bukan karena saya merendahkan kedua profesi itu. Tapi maksud saya mengatakan itu adalah "untuk menjalani dua profesi yang saya sebutkan itu adalah MUBAZIR menghabiskan potensi ekonomi keluarga, karena untuk mengolah kebun kopi dan menjadi tukang becak sama sekali tidak dibutuhkan ijazah dan keahlian seorang Sarjana. Juga tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan mubazir di bangku kuliah, hanya untuk mendapatkan pengakuan resmi tentang keahlian kita dari BERHALA yang bernama sekolah itu.

Saya cukup gembira melihat perkembangan belakangan ini, sejak reformasi 1998. Banyak ide-ide brilian bermunculan. Salah satunya adalah tumbuh suburnya ide-ide tentang sekolah alternatif semacam Home Schooling yang secara perlahan telah mengembalikan pendidikan ke khitah sebenarnya. Yaitu menekankan pada PROSES bukan HASIL. Pendidikan alternatif semacam ini tidak membutuhkan BERHALA yang bernama sekolah dan pendeta-pendetanya yang bernama GURU yang tidak jarang sebenarnya bodoh tapi sok tau.

Contoh guru bodoh tapi sok tau ini ada di SMP Negeri 99, Sekolah Unggulan untuk wilayah Jakarta Timur yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Di sekolah ini guru bahasa Inggrisnya Killer dan songongnya bukan main, padahal bahasa inggrisnya sendiri hancur-hancuran.

Satu kali di tahun 2005, saya pernah masuk ke lingkungan sekolah itu untuk mengambil raport keponakan saya. Di sana saya melihat seluruh lorong gedung sekolahan itu di penuhi papan-papan gantung yang berisi kata-kata mutiara dalam dua bahasa. Bahasa Inggris dan bahasa Melayu.

Terjemahan bahasa Inggris di papan-papan itu dibuat oleh Guru Bahasa Inggris yang kata keponakan saya ini termasuk salah satu guru Killer. Terjemahan bikinan guru killer ini betul-betul membuat saya ngakak sampai sakit perut karena tidak bisa berhenti. Sampai-sampai keponakan saya itu tidak enak pada gurunya. Salah satu dari terjemahan Guru bodoh tapi Sok Tau ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika dia mengartikan 'Anak Durhaka Calon Penghuni Neraka' dengan REBEL SON TO BE HELL. Tulisan itu saya foto dan saya berniat akan mewariskan foto itu sampai ke anak cucu saya. Dan di sekolah unggulan itu ada puluhan papan berisi kata-kata mutiara dengan terjemahan bahasa Inggris ajaib semacam itu.

Selain terhindar dari guru-guru bodoh tapi Sok Tau semacam ini. Pendidikan yang benar semacam Home Schooling ini juga tidak terlalu banyak menguras potensi ekonomi keluarga.

Inilah dasar yang membuat saya merasa perlu mengkritisi Laskar Pelangi, karena saya melihat buku Andrea Hirata yang polanya sangat HC Andersen Complex khas sinetron-sinetron tanah air ini kembali menghidupkan PEMUJAAN terhadap BERHALA yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan orang itu.

Selanjutnya, saya sangat sependapat dengan anda yang mengatakan "pemahaman dan penilaian (konsep, sistem nilai) kita terhadap segala sesuatu amat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu". Tapi jika anda mengaitkan itu dengan keputusan yang saya ambil tahun 1999 dulu dan menurut perkiraan dan pengalaman anda bahwa pemahaman dan penilaian 'miring'/negatif saya terhadap lembaga formal pendidikan/sekolah, tidak terlepas dari 'pengalaman buruk' saya yang DO dari Unsyiah. Maka perlu saya jelaskan bahwa perkiraan anda itu sangat salah. Karena sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya.

Anggapan anda ini salah, pertama karena saya sama sekali tidak menganggap DO itu sebagai pengalaman buruk. Kedua, bukannya pemahaman dan penilaian 'miring'/negatif saya terhadap lembaga formal pendidikan/sekolah itu dipengaruhi oleh DO-nya saya dari Unsyiah. Tapi sebaliknya, justru keputusan yang saya ambil pada tahun 1999 lalu untuk DO dari Jurusan Teknik Sipil Unsyiah (bukan Unsyah, seperti anda dan banyak orang di pulau Jawa menyebut Universitas tempat saya kuliah itu) karena saya tidak terlalu menghargai Institusi sekolah dan segala macam kertas sertifikasinya yang bernama Ijazah, sebagai mana anda menghargainya.

Waktu itu, untuk bisa mendapatkan ijazah dan diakui sebagai 'tukang insinyur' saya harus menjalani banyak ritual yang saya anggap tidak perlu. Ritual yang saya anggap tidak perlu itu diantaranya adalah keharusan untuk menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah satu SKS-an semacam Rancangan Baja, Rancangan Kayu dan Rancangan Beton. Padahal saya sudah sangat fasih menguasai materi kesemua jenis rancangan itu, bahkan mungkin sudah sama fasihnya dengan dosen yang akan menguji saya.

Tapi agar kemampuan saya itu bisa secara resmi diakui, setiap menyelesaikan satu bab rancangan, saya harus pontang-panting menjumpai dosen-dosen saya yang mengasuh mata kuliah itu untuk melakukan asistensi dan mendapatkan tanda tangannya. Sebagai syarat agar saya bisa mengerjakan bab selanjutnya. Padahal dosen-dosen saya itu luar biasa sibuknya. Proyek mereka dimana-mana. Seringkali pagi-pagi buta saya disuruh menghadap ke rumah mereka untuk asistensi (HP belum umum waktu itu, saya baru punya HP tahun 2000). Lebih sering lagi janji yang sudah dibuat beberapa minggu sebelumnya dengan seenak perutnya dibatalkan oleh dosen-dosen saya itu.

Sementara pada saat itu saya sedang sangat sibuk dengan usaha kopi yang baru saya bangun. Saat itu saya sedang sering-seringnya mendapat tawaran berbicara di berbagai forum dan konferensi kopi baik di dalam maupun di luar negeri.

Jadi berdasarkan situasi yang saya alami saat itu. Saya menilai, PENGAKUAN itu sama sekali tidak saya butuhkan. Karena kemungkinan besar saya tidak akan bekerja di bidang yang saya pelajari di bangku kuliah itu.
Kalaupun akhirnya nanti saya harus bekerja di bidang yang saya pelajari di bangku kuliah itu, maka saya hanya berminat menjadi pemilik perusahaannya bukan pekerja yang digaji. Tidak seperti pekerja yang membutuhkan sertifikasi untuk meyakinkan orang yang akan membayarnya, pemilik perusahaan sama sekali tidak memerlukan selembar kertas itu. Toh secara kapasitas keilmuan dalam bidang Teknik Sipil, saat itu saya sudah setara dengan insinyur-insinyur lulusan S1.

Jadi ketiadaan waktu untuk menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah ber SKS kecil tapi sangat menggangu itu. Ditambah ketiadaan waktu saya untuk melakukan KP, Penelitian dan KKN. Akumulasi dri semua alasan itulah yang membuat saya secara resmi tidak diakui oleh institusi UNSYIAH sebagai tukang Insinyur.

Menurut catatan resmi, saat ini ijazah terakhir saya hanya SMA yang itupun sekarang mungkin sudah tidak diakui lagi. Karena Ijazah SMA itu bersama ijazah beserta raport saya sejak SD sampai lulus SMA semua saya tinggal di rumah bibi saya di Mon Singet. Sekarang semuanya sudah hanyut semua dibawa Tsunami bersama rumah-rumahnya. Untuk dibuat ijazah penggantipun sepertinya sudah sulit, karena sekolah saya SMA Negeri 2 Banda Aceh juga habis hanyut dibawa tsunami lengkap dengan sebagian guru-gurunya. Jadi artinya secara teknis, sekarang saya sama sekali tidak memiliki pendidikan formal apapun, bahkan SD sekalipun.

Tapi apakah dengan tidak adanya pengakuan itu lalu berarti otomatis saya tidak memiliki kemampuan di bidang Teknik sipil dan kemampuan intelektual saya jadi lebih rendah dibandingkan teman-teman saya yang secara resmi diakui sebagai tukang insinyur?...ya tidak!. Kemampuan saya di bidang Teknik Sipil maupun kapasitas intelektual saya ya sama saja dengan teman-teman seangkatan saya yang mendapatkan Ijazah. Kapasitas intelektual sayapun ya 'imbang-imbang lah' sama teman-teman seangkatan saya itu. Toh sewaktu kuliah mereka juga sering mencontek pekerjaan saya dan sebaliknya sayapun sering mencontek pekerjaan mereka.

Benar dan saya sangat setuju jika anda katakan sukses itu ada beragam warna. Misalnya anda yang hanya memiliki sebuah rumah mungil di pedesaan Kabupaten Bogor (itupun diperoleh melalui kredit BTN) dan tidak pernah punya mobil (milik) sendiri seperti si Udin teman saya. Secara ekonomi anda jelas kurang sukses jika dibandingkan Udin teman saya. Tapi jika kesuksesan dilihat dalam cara pandang dan warna lain, anda lebih sukses dari Udin teman saya. Misalnya kalau dilihat dari segi wawasan. Wawasan anda jauh lebih luas dibandingkan Udin, anda mengerti Internet, Udin teman saya itu tidak. Saya bisa berdiskusi seperti ini dengan anda tapi tidak dengan Udin. Di lihat dari segi ini anda jelas lebih sukses dari Udin teman saya.

Tapi jika dibandingkan teman-teman saya yang lain yang menjadi sarjana dengan menghabiskan nyaris seluruh potensi ekonomi keluarga untuk kuliah di IAIN, FKIP, Ekonomi atau Hukum lalu menjadi sarjana hanya untuk kemudian jadi tukang becak dan berencana membuat organisasi bernama 'Ikatan Sarjana Penganggur'. UDIN teman saya yang tidak tamat SD itu tentu beribu kali lebih sukses. Mau sukses itu dinilai dari sudut pandang dan warna apapun.

Senang berdiskusi dengan anda.

Wassalam

Win Wan Nur
Di Milis Aceh Institute saya mendapat tanggapan atas tulisan saya yang mengkritisi Laskar Pelangi, intinya tanggapan itu todak sepakat dengan pandangan saya yang mengatakan pentingnya institusi sekolah itu adalah MITOS SESAT. Emir TEF demikian nama yang menanggapi ini menduga pandangan saya tersebut dipengaruhi 'pengalaman buruk' saya yang D.O dari Unsyiah. Penanggap ini juga mengatakan ukuran sukses itu banyak macamnya.

Karena tanggapannya ini disampaikan dengan cara yang sangat baik dan ada beberapa hal yang saya pikir bisa bermanfaat buat direnungkan, saya menjawab tanggapan itu dan membaginya kepada rekan-rekan semua di media ini.

Berikut tanggapan saya atas pandangan Pak Emir TEF.

Senang sekali membaca tanggapan Bapak Emir TEF terhadap tulisan saya yang mengkritisi Laskar Pelangi. Maaf saya baru membalas tanggapan anda sekarang karena belakangan ini saya sibuk sekali.

Saya senang melihat cara anda ketika mengemukakan pandangan yang berseberangan dengan perspektif saya. Anda tidak menunjukkan sikap permusuhan sama sekali. Dalam menganggapi perbedaan pendapat, politisi-politisi kita seharusnya belajar banyak kepada anda. Menurut saya orang-orang seperti anda inilah yang seharusnya menghuni senayan.

Pak Emir, melalui apa yang anda baca dalam tulisan saya sebelumnya. Mungkin terbaca oleh anda di sana bahwa saya ini adalah orang yang sangat membenci institusi sekolah. Padahal faktanya tidaklah demikian. Karena seperti anda, sayapun sebenarnya terlahir dan besar di keluarga yang sangat menilai tinggi kadar kesuksesan dari tinggi rendahnya pendidikan.

Hanya saja, dalam perjalanannya saya melihat pengagungan terhadap pendidikan ini telah berubah menjadi pemujaan terhadap institusi yang bernama sekolah dan selembar kertas yang bernama IJAZAH. Menurut saya, ini sudah terlalu berlebihan. Karena pengagungan yang berlebihan terhadap institusi ini dalam perjalanannya justru malah mengesampingkan bagian paling penting dari pendidikan itu sendiri yaitu 'proses'. Lihatlah pendidikan di Indonesia sekarang yang pengajarannya semua terfokus pada HASIL yang ditandai dengan angka kelulusan UAN. Salah satu akibatnya nyata dari metode seperti ini. SASTRA di sekolah-sekolah diajarkan dengan metode hafalan, bukan apresiasi, karena apresiasi tidak bisa dinilai dengan angka pasti seperti yang dibutuhkan UAN. Hasil dari metode seperti inilah yang membuat apresiasi bangsa ini terhadap SASTRA sangat lemah. Inilah alasan kenapa Novel yang secara kualitas biasa-biasa saja tapi mengusung tema 'seksi' semacam Laskar Pelangi itu bisa laris manis di pasaran.

Pengagungan berlebihan terhadap Institusi bernama sekolah ini akhirnya membuat SEKOLAH menjadi BERHALA yang sangat merusak. Sekolah menghisap potensi ekonomi, mematikan kreatifitas dan membunuh keunikan dan kearifan lokal.

Oleh institusi bernama sekolah ini, isi kepala manusia dari Sabang sampai Merauke diseragamkan. Akibat kepercayaan dan pemujaan terhadap BERHALA bernama SEKOLAH ini banyak potensi yang kita punyai yang seharusnya bisa menjadi modal justru hancur. Salah satunya ya Orang tua yang menjual sawah dan ladang untuk menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Padahal hasilnya seringkali anak yang disekolahkan sampai tinggi dengan menghabiskan potensi ekonomi yang seharusnya bisa menghidupi keluarga itu hanya memiliki kemampuan sebagai seorang pengangguran terdidik. Ujung-ujungnya kembali mengolah kebun kopi, atau malah jadi tukang becak.

Maaf, ketika saya menyebut dua profesi ini dengan nada yang kurang layak, itu bukan karena saya merendahkan kedua profesi itu. Tapi maksud saya mengatakan itu adalah "untuk menjalani dua profesi yang saya sebutkan itu adalah MUBAZIR menghabiskan potensi ekonomi keluarga, karena untuk mengolah kebun kopi dan menjadi tukang becak sama sekali tidak dibutuhkan ijazah dan keahlian seorang Sarjana. Juga tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan mubazir di bangku kuliah, hanya untuk mendapatkan pengakuan resmi tentang keahlian kita dari BERHALA yang bernama sekolah itu.

Saya cukup gembira melihat perkembangan belakangan ini, sejak reformasi 1998. Banyak ide-ide brilian bermunculan. Salah satunya adalah tumbuh suburnya ide-ide tentang sekolah alternatif semacam Home Schooling yang secara perlahan telah mengembalikan pendidikan ke khitah sebenarnya. Yaitu menekankan pada PROSES bukan HASIL. Pendidikan alternatif semacam ini tidak membutuhkan BERHALA yang bernama sekolah dan pendeta-pendetanya yang bernama GURU yang tidak jarang sebenarnya bodoh tapi sok tau.

Contoh guru bodoh tapi sok tau ini ada di SMP Negeri 99, Sekolah Unggulan untuk wilayah Jakarta Timur yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Di sekolah ini guru bahasa Inggrisnya Killer dan songongnya bukan main, padahal bahasa inggrisnya sendiri hancur-hancuran.

Satu kali di tahun 2005, saya pernah masuk ke lingkungan sekolah itu untuk mengambil raport keponakan saya. Di sana saya melihat seluruh lorong gedung sekolahan itu di penuhi papan-papan gantung yang berisi kata-kata mutiara dalam dua bahasa. Bahasa Inggris dan bahasa Melayu.

Terjemahan bahasa Inggris di papan-papan itu dibuat oleh Guru Bahasa Inggris yang kata keponakan saya ini termasuk salah satu guru Killer. Terjemahan bikinan guru killer ini betul-betul membuat saya ngakak sampai sakit perut karena tidak bisa berhenti. Sampai-sampai keponakan saya itu tidak enak pada gurunya. Salah satu dari terjemahan Guru bodoh tapi Sok Tau ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika dia mengartikan 'Anak Durhaka Calon Penghuni Neraka' dengan REBEL SON TO BE HELL. Tulisan itu saya foto dan saya berniat akan mewariskan foto itu sampai ke anak cucu saya. Dan di sekolah unggulan itu ada puluhan papan berisi kata-kata mutiara dengan terjemahan bahasa Inggris ajaib semacam itu.

Selain terhindar dari guru-guru bodoh tapi Sok Tau semacam ini. Pendidikan yang benar semacam Home Schooling ini juga tidak terlalu banyak menguras potensi ekonomi keluarga.

Inilah dasar yang membuat saya merasa perlu mengkritisi Laskar Pelangi, karena saya melihat buku Andrea Hirata yang polanya sangat HC Andersen Complex khas sinetron-sinetron tanah air ini kembali menghidupkan PEMUJAAN terhadap BERHALA yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan orang itu.

Selanjutnya, saya sangat sependapat dengan anda yang mengatakan "pemahaman dan penilaian (konsep, sistem nilai) kita terhadap segala sesuatu amat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu". Tapi jika anda mengaitkan itu dengan keputusan yang saya ambil tahun 1999 dulu dan menurut perkiraan dan pengalaman anda bahwa pemahaman dan penilaian 'miring'/negatif saya terhadap lembaga formal pendidikan/sekolah, tidak terlepas dari 'pengalaman buruk' saya yang DO dari Unsyiah. Maka perlu saya jelaskan bahwa perkiraan anda itu sangat salah. Karena sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya.

Anggapan anda ini salah, pertama karena saya sama sekali tidak menganggap DO itu sebagai pengalaman buruk. Kedua, bukannya pemahaman dan penilaian 'miring'/negatif saya terhadap lembaga formal pendidikan/sekolah itu dipengaruhi oleh DO-nya saya dari Unsyiah. Tapi sebaliknya, justru keputusan yang saya ambil pada tahun 1999 lalu untuk DO dari Jurusan Teknik Sipil Unsyiah (bukan Unsyah, seperti anda dan banyak orang di pulau Jawa menyebut Universitas tempat saya kuliah itu) karena saya tidak terlalu menghargai Institusi sekolah dan segala macam kertas sertifikasinya yang bernama Ijazah, sebagai mana anda menghargainya.

Waktu itu, untuk bisa mendapatkan ijazah dan diakui sebagai 'tukang insinyur' saya harus menjalani banyak ritual yang saya anggap tidak perlu. Ritual yang saya anggap tidak perlu itu diantaranya adalah keharusan untuk menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah satu SKS-an semacam Rancangan Baja, Rancangan Kayu dan Rancangan Beton. Padahal saya sudah sangat fasih menguasai materi kesemua jenis rancangan itu, bahkan mungkin sudah sama fasihnya dengan dosen yang akan menguji saya.

Tapi agar kemampuan saya itu bisa secara resmi diakui, setiap menyelesaikan satu bab rancangan, saya harus pontang-panting menjumpai dosen-dosen saya yang mengasuh mata kuliah itu untuk melakukan asistensi dan mendapatkan tanda tangannya. Sebagai syarat agar saya bisa mengerjakan bab selanjutnya. Padahal dosen-dosen saya itu luar biasa sibuknya. Proyek mereka dimana-mana. Seringkali pagi-pagi buta saya disuruh menghadap ke rumah mereka untuk asistensi (HP belum umum waktu itu, saya baru punya HP tahun 2000). Lebih sering lagi janji yang sudah dibuat beberapa minggu sebelumnya dengan seenak perutnya dibatalkan oleh dosen-dosen saya itu.

Sementara pada saat itu saya sedang sangat sibuk dengan usaha kopi yang baru saya bangun. Saat itu saya sedang sering-seringnya mendapat tawaran berbicara di berbagai forum dan konferensi kopi baik di dalam maupun di luar negeri.

Jadi berdasarkan situasi yang saya alami saat itu. Saya menilai, PENGAKUAN itu sama sekali tidak saya butuhkan. Karena kemungkinan besar saya tidak akan bekerja di bidang yang saya pelajari di bangku kuliah itu.
Kalaupun akhirnya nanti saya harus bekerja di bidang yang saya pelajari di bangku kuliah itu, maka saya hanya berminat menjadi pemilik perusahaannya bukan pekerja yang digaji. Tidak seperti pekerja yang membutuhkan sertifikasi untuk meyakinkan orang yang akan membayarnya, pemilik perusahaan sama sekali tidak memerlukan selembar kertas itu. Toh secara kapasitas keilmuan dalam bidang Teknik Sipil, saat itu saya sudah setara dengan insinyur-insinyur lulusan S1.

Jadi ketiadaan waktu untuk menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah ber SKS kecil tapi sangat menggangu itu. Ditambah ketiadaan waktu saya untuk melakukan KP, Penelitian dan KKN. Akumulasi dri semua alasan itulah yang membuat saya secara resmi tidak diakui oleh institusi UNSYIAH sebagai tukang Insinyur.

Menurut catatan resmi, saat ini ijazah terakhir saya hanya SMA yang itupun sekarang mungkin sudah tidak diakui lagi. Karena Ijazah SMA itu bersama ijazah beserta raport saya sejak SD sampai lulus SMA semua saya tinggal di rumah bibi saya di Mon Singet. Sekarang semuanya sudah hanyut semua dibawa Tsunami bersama rumah-rumahnya. Untuk dibuat ijazah penggantipun sepertinya sudah sulit, karena sekolah saya SMA Negeri 2 Banda Aceh juga habis hanyut dibawa tsunami lengkap dengan sebagian guru-gurunya. Jadi artinya secara teknis, sekarang saya sama sekali tidak memiliki pendidikan formal apapun, bahkan SD sekalipun.

Tapi apakah dengan tidak adanya pengakuan itu lalu berarti otomatis saya tidak memiliki kemampuan di bidang Teknik sipil dan kemampuan intelektual saya jadi lebih rendah dibandingkan teman-teman saya yang secara resmi diakui sebagai tukang insinyur?...ya tidak!. Kemampuan saya di bidang Teknik Sipil maupun kapasitas intelektual saya ya sama saja dengan teman-teman seangkatan saya yang mendapatkan Ijazah. Kapasitas intelektual sayapun ya 'imbang-imbang lah' sama teman-teman seangkatan saya itu. Toh sewaktu kuliah mereka juga sering mencontek pekerjaan saya dan sebaliknya sayapun sering mencontek pekerjaan mereka.

Benar dan saya sangat setuju jika anda katakan sukses itu ada beragam warna. Misalnya anda yang hanya memiliki sebuah rumah mungil di pedesaan Kabupaten Bogor (itupun diperoleh melalui kredit BTN) dan tidak pernah punya mobil (milik) sendiri seperti si Udin teman saya. Secara ekonomi anda jelas kurang sukses jika dibandingkan Udin teman saya. Tapi jika kesuksesan dilihat dalam cara pandang dan warna lain, anda lebih sukses dari Udin teman saya. Misalnya kalau dilihat dari segi wawasan. Wawasan anda jauh lebih luas dibandingkan Udin, anda mengerti Internet, Udin teman saya itu tidak. Saya bisa berdiskusi seperti ini dengan anda tapi tidak dengan Udin. Di lihat dari segi ini anda jelas lebih sukses dari Udin teman saya.

Tapi jika dibandingkan teman-teman saya yang lain yang menjadi sarjana dengan menghabiskan nyaris seluruh potensi ekonomi keluarga untuk kuliah di IAIN, FKIP, Ekonomi atau Hukum lalu menjadi sarjana hanya untuk kemudian jadi tukang becak dan berencana membuat organisasi bernama 'Ikatan Sarjana Penganggur'. UDIN teman saya yang tidak tamat SD itu tentu beribu kali lebih sukses. Mau sukses itu dinilai dari sudut pandang dan warna apapun.

Senang berdiskusi dengan anda.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

2 komentar:

rasi mengatakan...

Satu kalimat buat anda :" Orang iri tanda tak mampu." lagian kalo kita tidak sekolah dari mana kita tau huruf dan kalimat sehingga kita bisa membaca dan menulis. Guru adalah pahlawan. tapi jangan karena kita kecewa dengan oknum guru, lalu kita memvonis guru dan sekolah itu sebagai berhala. bertoubatlah. mati itu pasti singgah di setiap yang bernyawa. jadi yang dibawah selain anak yang sholeh dan amal, ilmu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. wassalam

Arai Aisyah mengatakan...

justru orang orang seperti win wan nur inilah yang cocok mengisi senayan. bercelotehlah semampu dan sepuas yang anda mau, celotehan omong kosong. karena setitik nila, jangan anggap rusak susu sebelanga.