Minggu, 26 Oktober 2008

Seba-Serbi Ubud Dan Nostalgia Masa Lalu

Dari sekian banyak festival dan acara budaya yang sering diselenggarakan di Bali, Ubud Writers & Readers Festival adalah favoritku. Kalau kesempatan memungkinkan, biasanya aku tidak akan pernah melewatkan festival ini. Sayangnya tahun ini aku cukup sibuk sehingga tidak memiliki waktu luang untuk hadir di acara yang dimulai sejak 14 September ini. Beruntungnya hari Jum'at tanggal 17 September kemarin, akhirnya waktu luang itu ada. Kalau aku berangkat hari itu juga, aku masih dapat menghadiri acara itu selama tiga hari, lumayan.

Repotnya anakku yang baru berumur 3 tahun 8 bulan yang selama 12 hari belakangan ini kutinggal bekerja pasti tidak senang kalau aku pergi lagi tepat di hari saat aku pulang, tapi aku juga sangat ingin pergi ke acara ini. Akhirnya daripada bingung, kuusulkan saja pada istri dan anakku bagaimana kalau kita berangkat saja sekeluarga. Sekalian berlibur pikirku, karena sudah lama sekali kami tidak pernah liburan sekeluarga. Anak dan istriku kegirangan mendengar usulku, terutama anakku yang sekarang sudah sangat mandiri sejak masuk sekolah 3 bulan yang lalu. Anakku meloncat-loncat kegirangan lalu mengambil tas liburannya dan langsung menuju ke lemari pakaiannya sendiri dan dengan bersemangat mengemasi pakaian-pakaian yang akan dia bawa ke Ubud.

Akhirnya kami sekeluarga berangkat, rencananya sebelum ke Ubud kami mampir ke Kuta Permai dulu untuk meminjam motor dari seorang teman yang tinggal di sana. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, aku tahu kalau kita berada di Ubud, alat transportasi pribadi sangat dibutuhkan. Ubud tidak memiliki Taksi seperti di Kuta. Dan di Ubud yang jalanannya rata-rata sempit, motor adalah alat transportasi paling praktis.

Jum'at jam 12 siang kami sudah ada di Kuta Permai yang cuma 10 menit dari Bandara Ngurah Rai. Di sana kami berbasa basi sebentar sambil berlebaran. Tidak berapa lama kemudian, dengan mengendarai Yamaha Vega warna merah milik temanku itu. Kami langsung berangkat ke Ubud, yang jauhnya sekitar satu jam perjalanan dari Kuta.

Di Ubud, kami menginap di Hotel Sahadewa tempat aku biasa menginap kalau sedang bekerja di bisnis travel yang baru kugeluti. Hotel Sahadewa yang terletak di jalan Pengosekan yang tidak terlalu jauh dari Monkey Forest ini, tempatnya cukup bagus dan tidak terlalu mahal serta terutama dan yang paling penting, lokasinya dekat dengan pusat kota Ubud dimana venue-venue kegiatan Ubud Writers & Readers Festival terkonsentrasi.

Hari pertama di Ubud kami menghadiri acara peluncuran buku Debra Yatim yang menceritakan tentang keadaan di Taman Nasional Gunung Leuser. Acara ini dilangsungkan di Restoran Tutmak yang terletak di jalan Dewi Sita. Oleh Debra, acaranya ini dipadukan dengan konser biola. Kami di sana sampai acara berakhir dan di akhir acara aku berbincang-bincang dan sedikit berbasa-basi dengan Debra, menanyakan pendapatnya soal ALA dan konsekwensinya terhadap TNGL itu jika calon provinsi sempalan Aceh itu jadi terbentuk. Setelah itu kami bertiga mampir ke Pondok Pekak, lokasi paling favorit anakku dibandingkan tempat apapun di seluruh Ubud.

Anakku menyukai tempat ini karena Pondok Pekak ini adalah warung sekaligus tempat berbagai kegiatan budaya dan juga perpustakaan yang sangat banyak memiliki koleksi buku anak-anak . Dalam acara Ubud Writers & Readers Festival 2008 ini Pondok Pekak yang terletak di belakang Tutmak, oleh panitia dipilih sebagai venue acara anak-anak yang kali ini disponsori oleh Freeport.

Dari Pondok Pekak, kami berkeliling-keliling, mampir ke 'Smile Shop', milik yayasan senyum yang banyak menjual barang-barang bagus dengan harga murah. Barang-barang yang dijual di 'Smile Shop' yang terletak di jalan Sriwedari ini bisa murah karena barang-barang itu adalah barang-barang bekas yang dihibahkan ke Yayasan Senyum oleh pemiliknya yang pulang ke luar negeri.

Kalau kebetulan sedang berada di Ubud dan memiliki sedikit waktu luang, aku sering kesana. Di 'Smile Shop' aku sering menemukan buku dan CD bagus.
Hari ini di 'Smile Shop', anakku yang sekarang sedang terobsesi menjadi 'princess' menemukan topi yang sangat bagus terbuat dari bahan rajutan berwarna ungu. Ketika menemukan topi itu, anakku langsung meminta uang pada istriku. Lalu membayar sendiri topi ungu pilihannya ke kasir yang dijaga oleh seorang ibu tua asal Irlandia yang berumur sekitar 60-an tahun dan berniat menghabiskan masa tuanya di Bali. Anakku membayar topi pilihannya itu seharga 3000 rupiah.

Setelah beberapa lama di Smile Shop kami mulai merasa lapar. Lalu kami semua pergi makan siang di restoran murah meriah bernama Mangga Madu yang terletak di jalan Gunung Sari, sekitar 1 kilometer ke arah timur 'Smile Shop'.

Malamnya kami mampir ke Nyuh Kuning, ke rumah Dandy Montgomery, teman lama sewaktu di Banda Aceh dulu. Sekalian berlebaran maksudnya. Tapi sayangnya saat kami datang Dandy sedang tidak di rumah. Waktu kutelpon katanya di sedang di Jakarta dan akan berangkat ke Berastagi untuk mengerjakan proyek film dokumenternya.

Tampaknya Dandy yang sekarang bekerja sebagai kameramen freelance, belakangan ini sibuk sekali. Sebelumnya, lebaran kemarin waktu aku di Banyuwangi aku juga menelpon Dandy. Waktu itu, katanya dia sedang jalan juga, disewa oleh Lonely Planet untuk membuat liputan di pulau Menjangan. Kemudian beberapa minggu yang lalu waktu aku menginap di Ubud untuk menemani grup turisku selama tour di Bali, dia kutelpon lagi. Kali ini katanya dia sedang ada proyek dengan Green Peace di Pontianak. Sekarang waktu aku sekeluarga mampir ke rumahnya, dia malah ada di Jakarta karena mau berangkat ke Medan untuk membuat film dokumenter tentang petani jeruk di Berastagi.

Meskipun Dandy tidak di rumah kami tetap pergi ke Nyuh Kuning. Di sana kami bertemu dengan Rayhan, istri Dandy yang juga teman lama yang juga dulu cukup akrab denganku. Saking akrabnya, tahun 2000 waktu banjir besar di Banda Aceh. Kepada Rayhan aku bahkan sempat menghibahkan beberapa potong pakaian milikku. Pakaian-pakaian yang berupa baju, jaket dan sarung itu kuberikan karena baju yang dipakai Rayhan basah dan dia tidak punya pakaian lagi akibat rumah kosnya di Peuniti, tepat diujung jembatan Simpang Surabaya terendam banjir sampai ke atap.

Pengalaman itu yang sering kuceritakan ke Dandy ketika sedang membicarakan istrinya dan pengalaman itu pula yang sering diceritakan Rayhan ke istriku ketika mereka berdua sedang membicarakanku.

Sejak kejadian banjir tahun 2000 itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Rayhan. Karena tidak lama setelahnya, aku berangkat ke Bangkok dan Rayhan ditarik oleh Detik.com ke Jakarta. Bahkan kami sempat lama hilang kontak akibat account e-mailku dan e-mail Rayhan di Eudoramail sama-sama hangus karena Eudoramail ditutup oleh Lycos. Waktu itu baik aku maupun Rayhan belum mengenal Dandy.

Dandy baru kukenal waktu dia mulai siaran di Flamboyant sekitar tahun 2001. Awalnya aku mulai kenal Dandy karena dia yang saat itu selain menjadi penyiar di Flamboyant, Radio FM paling Top se Banda Aceh. Juga sering bekerja sambilan sebagai penyanyi Cafe dan pengamen pinggir jalan. Untuk kepentingan dua pekerjaan sambilannya itu, Dandy memintaku untuk menerjemahkan arti lirik lagu 'Corazon Espinado' milik Santana. Rayhan sendiri baru kenal dengan Dandy setelah dia ditugaskan kembali ke Banda Aceh oleh detik.com tempatnya bekerja, sekitar tahun 2003 lalu.

Ketika kami hilang kontak, aku pernah beberapa kali membaca tulisan Rayhan di detik.com. Bahkan menjelang pemilu tahun 2004 lalu, di sebuah acara. Aku pernah menonton sebuah film dokumenter karya Rayhan bersama Dandy yang mereka beri judul 'Politik Tengku'. Tapi sejak kejadian banjir tahun 2000 itu, kami baru benar-benar bertemu kembali sekitar 5 bulan yang lalu, di rumah mereka di Nyuh Kuning, saat kami sama-sama sudah berkeluarga dan masing-masing sudah punya anak.

Di Nyuh Kuning, istriku langsung akrab dengan Rayhan. Mungkin karena otak mereka yang sama-sama mantan penyiar radio ini 'mengudara' di 'frekwensi' yang sama, obrolan mereka berdua langsung nyambung. Akibatnya aku yang jadi terisolasi.
Anakku juga begitu, langsung akrab dengan Hiawatha, anak tertua Rayhan dan Dandy. Anakku yang umurnya 9 bulan lebih tua, mengajari Hiawatha lagu-lagu kesukaannya, semacam 'Nu Nak Nu Kekulit Jantar Lumu', 'Incey Wincey Spider' dan 'Pate a Cake'.

Kami berada di rumah Rayhan sampai jam 9.00 malam, lalu kembali ke hotel. Sebelum pulang, Istriku membuat janji bertemu dengan Rayhan besok harinya di Pondok Pekak untuk menghadiri acara dongeng rimba yang dipandu oleh Butet Manurung. Seorang wanita Batak kelahiran Jakarta yang dikenal luas karena usaha kerasnya untuk memberantas buta aksara dan buta angka bagi penduduk asli hutan Jambi.