Sabtu, 04 Oktober 2008

Banyuwangi Menjelang Lebaran

Sebagai konsekwensi dari bisnis yang baru kurintis, bulan Ramadhan tahun ini akhirnya benar-benar kuhabiskan di jalan. Setelah makan malam terakhir di pantai Jimbaran tanggal 24 September lalu, aku akhirnya menyelesaikan pekerjaanku menemani 15 orang anggota grup yang kujemput beberapa waktu yang lalu di Yogyakarta.

Tapi besok harinya sebelum sempat pulang ke rumah, aku harus langsung bekerja kembali karena aku mendapat kiriman klien baru dari Gilles yang harus kujemput di Bali untuk dibawa ke Jawa. Sejak tanggal 25 sampai hari ini aku masih terus bersama dua orang tamu ini, Jean-Marc dan Annick Jubault, suami istri berumur 50 tahunan yang berasal dari Paris.

Bersama Jean-Marc dan Annick aku memulai perjalanan dengan mengunjungi situs wisata di sekitar Ubud dan Kintamani, mulai dari mengunjungi Pura Gunung Kawi di Tampak Siring, Danau Batur di Kintamani, Pemahat Patung Kayu di Kemenuh, Pura Taman Ayun di Mengwi, Tanah Lot di Tabanan dan Pura Ulun Danu Bratan di Bedugul, selanjutnya kami menginap dua hari di Munduk, melakukan tracking di tengah sawah dengan pemandangan ke arah Singaraja, mengunjungi air terjun Munduk yang bertingkat-tingkat melalui kebun cengkeh yang sedang dipanen, lalu menginap semalam di Lovina untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyeberang kapal ke Banyuwangi.

Waktu akan meninggalkan Lovina tanggal 29 september pagi, sebenarnya Annick ingin terlebih dahulu melihat lumba-lumba dengan menyewa kapal nelayan setempat. Tapi Kadek, sopir bergaya modis berumur 26 tahun asal Bajera, Tabanan yang kusewa dalam perjalanan ini menyarankan agar kami berangkat ke Banyuwangi pagi-pagi sekali. Kami harus berangkat lebih awal supaya kami bisa mendapatkan antrian terdepan, soalnya seperti diberitakan di TV dan juga informasi yang diterima Kadek dari temannya sesama sopir angkutan pariwisata, sehari sebelumnya antrian pemudik yang ingin menyeberang dari Bali ke Jawa di pelabuhan Gilimanuk sangat panjang sampai mencapai 5 kilometer, sampai-sampai ada bayi yang meninggal akibat kepanasan karena terlalu lama menunggu dalam antrian.

Annick bisa mengerti alasan Kadek dan diapun mengakui kalau momen yang mereka pilih untuk berlibur kali ini agak kurang tepat dan tidak keberatan untuk berangkat pagi-pagi tanpa sempat melihat lumba-lumba. Setelah semua koper dan barang belanjaan dinaikkan ke mobil, Kadek lalu memacu Suzuki APV Arena warna hitamnya menuju arah Gilimanuk dan untungnya jalur yang kami lalui, jalur Singaraja yang terletak di bagian utara pulau ini, hari ini tidak terlalu banyak dilalui kendaraan. Mungkin sepinya jalur ini disebabkan karena perantau dari Jawa yang akan mudik ke pulau asalnya hampir seluruhnya tinggal di bagian selatan pulau Bali, lebih khusus lagi sekitar Denpasar dan Kuta. Situasi lengang ini lebih memudahkan Kadek untuk memacu mobil dengan kecepatan tinggi, kulihat speedo meter di depan setir menunjukkan angka di atas 100.

Hanya 1 jam 20 menit kami sudah sampai di Gilimanuk, dan setibanya di sana ternyata pelabuhan Gilimanukpun sepi. Rupanya kemarin, hari minggu tanggal 28 september yang merupakan H -2 Lebaran adalah puncak arus mudik dari Bali ke Jawa. Hari ini jumlah pemudik sudah sangat jauh menurun, karena tidak ada hambatan kami langsung masuk ke pelabuhan membayar karcis penyeberangan sebesar 96.000 rupiah dan langsung masuk ke kapal. Aku dan juga Kadek minta maaf pada Jean-Marc dan Annick karena telah salah perkiraan soal arus mudik, baik Jean-Marc maupun Annick sangat memahami situasi yang kami hadapi dan tidak menyalahkan Kadek atas gagalnya rencana Annick untuk melihat lumba-lumba.

Sampai di pelabuhan Ketapang waktu masih menunjukkan pukul 9.00 WIB, kami langsung menuju kota Banyuwangi, sesuai program yang aku buat, kami akan berkeliling kota Banyuwangi mengunjungi pasar tradisional dan selanjutnya mengunjungi kelenteng Hoo Tong Bio, tempat persembahyangan tiga agama Cina (Kong Hu Cu, Tao dan Buddha) dengan naik becak. Aku menyewa 3 buah becak masing-masing satu untukku, Annick dan Jean-Marc, Kadek langsung dengan mobil menunggu kami di Kelenteng.

Saat naik becak Annick sangat antusias, karena ini adalah pengalaman pertamanya naik becak. Dia tidak henti-hentinya menjepret kamera Canonnya saat becak yang kami tumpangi melewati jembatan, lalu melintasi alun-alun Kota di depan Kodim Banyuwangi yang memampang spanduk dengan gambar anggota TNI angkatan darat sedang latihan tempur berlatar belakang beberapa tempat dan pulau-pulau di Indonesia termasuk ada gambar Mesjid Raya Baiturrahman, disamping gambar itu tertulis ANGKATAN DARAT BENTENG TERAKHIR NKRI. Spanduk ini digantungkan di atas patung ABRI Manunggal yang terbuat dari beton, karakter patung-patung ini digambarkan dengan tentara yang memegang senjata berdampingan dengan petani bertelanjang dada yang mengenakan celana 4/5 warna hitam dan topi caping menutupi kepala sambil memegang cangkul, di samping patung petani ada patung ulama yang berpakaian putih-putih ala Pangeran Diponegoro, lengkap dengan jenggot putihnya memegang Al Qur'an di tangan kiri dengan tangan kanan dan jari telunjuk mengacung ke atas dengan mimik wajah yang mengingatkanku pada Rhoma Irama ketika sedang berkhotbah di sela-sela konser dangdut Soneta Grup. Jean-Marc suami Annick juga tidak henti-hentinya mengarahkan lensa handycam Sonynya ke segala arah sambil mulutnya berkomat-kamit menjelaskan apa yang dia rekam.

Becak yang kami tumpangi berhenti di depan pasar Banyuwangi, kami turun untuk melihat-lihat suasana pasar. suasana di pasar hari ini berbeda dengan biasanya, jika pada hari biasa jalanan di depan pasar yang menghubungkan Mesjid Agung Banyuwangi dengan Alun-alun meskipun dipinggirnya dipenuhi pedagang sayur, rempah-rempah, daging dan ikan tapi masih menyisakan ruang yang luas di tengahnya untuk dilalui mobil dan kendaraan lainnya, hari ini tidak. Jalanan yang membelah pasar sekarang dipenuhi tenda-tenda dadakan tempat orang berjualan kue lebaran, sehingga jalan itu hanya bisa dilewati sepeda motor, atau becak dengan sedikit memaksa. Jenis kue yang dijual di tenda-tenda itu seragam, bermacam kacang dan kue kering olahan berbahan dasar tepung terigu dan margarin. Kepada Annick dan Jean-Marc aku menjelaskan bahwa kue-kue itu adalah kue lebaran yang nantinya akan disajikan pada tamu-tamu yang berkunjung. Kepada mereka aku juga menjelaskan bahwa lusa yang merupakan hari lebaran adalah hari libur paling penting di Indonesia, saat itu setiap orang akan saling berkunjung ke tetangga, teman dan tentu saja keluarga. Mendengar penjelasanku mereka berdua manggut-manggut karena sebelumnya ketika berada dalam kapal saat menyeberang aku juga sudah menjelaskan betapa istimewanya hari ini bagi orang Indonesia.

Di belakang tenda itu seperti hari biasa dipenuhi deretan penjual sayur dan kebutuhan dapur lainnya, seperti bumbu , rempah-rempah dan tidak ketinggalan daging, ayam dan ikan dengan segala variannya, mulai dari ikan asin, ikan segar, kepiting, udang, cumi-cumi dan lain-lain, semuanya dijual di pinggir jalan tepat di depan toko-toko emas, toko elektronik, toko plastik dan toko kain milik pedagang keturunan Cina maupun Arab.
Kepada Jean-Marc dan Annick aku menjelaskan 'peta ekonomi' seperti yang mereka lihat ini bisa dilihat hampir di semua kota di Indonesia, dimana toko-toko di tempat strategis hampir pasti dimiliki pedagang keturunan Cina, sementara yang berjualan sayur dan hasil bumi kelas emperan hampir pasti pribumi alias PS (penduduk setempat), pengecualian antara lain ada di Kota Banda Aceh dan Kota Padang. Sayangnya kedua kota yang saya sebutkan itu terhitung kota kecil yang pengaruhnya kurang diperhitungkan dalam peta ekonomi nasional, sehingga tidak heran kalau perekonomian negara ini hampir 90% dikuasai oleh pengusaha keturunan Cina.

Toko-toko emas yang berjejer disepanjang jalan itu semuanya sesak dipenuhi pembeli. Di kota ini dan di kota-kota lain yang banyak penduduk suku Maduranya memang ada tradisi membeli emas di hari lebaran, biasa untuk pamer ke tetangga dan kerabat, untuk menunjukkan keberhasilan usaha selama setahun, biasanya sehabis lebaran toko emas kembali dipenuhi orang, tapi kali ini untuk menjual.

Setelah berkeliling di pasar, kami kembali naik ke becak untuk menuju klenteng Hoo Tong Bio, sambil melintasi kota aku memperhatikan depan, kanan dan kiri jalan. Ketika kuperhatikan baik-baik aku merasa hari ini suasana di Banyuwangi sangat religius karena di sepanjang jalan kulihat bertebaran spanduk dan umbul-umbul dari berbagai produk, banyaknya spanduk dan umbul-umbul itu kutemui bukan hanya di kota ini tapi sejak akan menyeberang di Gilimanuk tadi, di kiri kanan jalan di dalam pelabuhan dipenuhi oleh iklan berbagai produk untuk berpromosi, mulai dari kain sarung, mie instant, operator selular, motor, mobil, rokok sampai partai politik. Beberapa produk malah mendirikan posko khusus di pelabuhan, di pelabuhan Ketapang ada posko Pop Mie, Motor Suzuki, Toyota dan tentu saja operator selular.

Yang membuat suasana kota tampak religius adalah karena kata-kata yang tertulis dalam iklan produk-produk itu. Semuanya sangat indah, bijaksana, menyentuh dan menyejukkan hati. Menjelang lebaran ini kuperhatikan semua produk yang mengiklankan diri itu tiba-tiba menjadi sangat islami. Di Pelabuhan Ketapang dalam papan reklame berukuran besar milik kartu bebas dari operator selular XL, kulihat Luna Maya tersenyum manis seperti seorang gadis salihah lulusan pesantren yang tidak pernah mengenal pergaulan dengan lawan jenis, rambut indah Luna yang biasanya tergerai kali ini ditutupi dengan Jilbab oranye yang merupakan warna khas XL. Di pojok lain pelabuhan yang sama dalam papan iklan ukuran yang sama besarnya pula, Sandra Dewi gadis keturunan Cina asal Bangka yang sama sekali bukan penganut islam tampak anggun dengan kerudung dan baju kurung berwarna merah terlihat tertawa lepas dan dengan tangan mengembang terbuka saat mengiklankan produk Telkomsel, Kartu Simpati.

Produk rokok seperti Jarum milik keluarga Cina kristen taat dan Sampoerna yang sekarang dimiliki oleh Raksasa rokok Philip Morris asal Amerika, yang sekarang produknya sedang jadi kontroversi soal Fatwa haram dari MUI, setelah kemunculan sajak Taufik Ismail yang membandingkan bahaya rokok dengan bahaya daging babi memenuhi jalanan dengan berbagai umbul-umbul dan spanduk yang berisi kata-kata sejuk yang menenangkan hati, kata-kata yang tertulis di situ mirip isi khotbah AA Gym atau Ustadz Jeffry, alias UJE yang mencitrakan dirinya sebagai seorang Ustadz Gaul. Di bawah tulisan-tulisan yang penuh hikmah dan menenangkan jiwa itu tertulis MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN, semuanya ditulis dalam huruf kapital.

Iklan produk partai politik juga bertebaran di mana-mana, misalnya iklan dari PKS yang sekarang tampaknya sedang mengalami masa puber, kuperhatikan sekarang PKS sedang gemar berpantun mengikuti tren gaul anak muda sekarang yang banyak terpengaruh pergaulan ala sinetron. Tapi dari sekian banyak iklan produk partai politik di kota ini, yang kulihat paling menonjol adalah ucapan selamat Idul Fitri dari Abdullah Azwar Anas, yang di bagian kanan spanduk ucapan selamatnya terpampang foto dirinya mengenakan kopiah hitam sedang tersenyum manis, di bawah foto itu tertulis, Abdullah Azwar Anas, Anggota Komisi (saya lupa nomornya) DPR RI Fraksi Kebangkitan Bangsa dari Dapil VII Jawa Timur. Saya tidak tahu apakah Abdullah Azwar Anas yang mewakili PKB dari daerah pilihan Banyuwangi ini ada hubungannya dengan Azwar Anas seorang Soehartois dedengkot Golkar yang mantan gubernur Sumbar dan mantan ketua umum PSSI itu.

Iklan lain dari produk partai politik yang kulihat juga terlihat menonjol di kota ini adalah ucapan selamat hari raya dari dua pasang calon gubernur Jawa Timur yang memenangkan pemilihan geubernur dan wakil gubernur Jatim pada putaran pertama dulu, pasangan Soekarwo dan Syaifullah Yusuf yang menyingkat panggilannya dengan Karsa yang diusung oleh PAN dan Khofifah Indar Parawansa dan Mayjend (pur) Mudjiono yang menyingkat panggilan mereka dengan KaJi yang diusung oleh PPP.

Di antara lautan spanduk ucapan klise selamat Idul Fitri, mohon ma'af lahir batin lainnya yang biasa kulihat di mana-mana ada beberapa spanduk yang menarik perhatianku. Spanduk-spanduk itu adalah spanduk milik pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Soekarwo dan Syaifullah Yusuf, meskipun isi spanduknya juga klise mengucapkan selamat hari raya dengan berbagai pilihan kata-kata indah yang tampaknya oleh si pemilik spanduk ucapan itu diucapkan dengan tulus dari lubuk hati mereka yang terdalam, sebagai mana tulusnya perusahaan rokok, otomotif dan operator selular ketika mengucapkan selamat hari raya hanya sayangnya dari sekian banyak ucapan indah dan tulus di spanduk itu tidak satupun yang kuingat persis isinya. Justru yang menarik perhatianku dan yang paling kuingat adalah sebuah tulisan di bawah foto pasangan calon gubernur yang disingkat Karsa itu, dalam foto itu terlihat calon Gubernur dan Wakilnya ini sedang tersenyum ramah keduanya berkumis (Soekarwo berkumis tebal ala Pak Raden sedangkan Gus Ipul berkumis tipis). Tulisan yang menarik perhatianku itu berbunyi Ojo Lali Coblos Brengose Rek!...Brengos adalah kumis dalam bahasa Jawa Timuran.

Demikianlah suasana menjelang lebaran di Banyuwangi, tempat aku merayakan hari kemenangan Umat Islam sedunia pada tahun ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah, mohon maaf lahir dan bathin.


Win Wan Nur