Sabtu, 21 Maret 2009

Etnis Cina, dari Tukang Gorengan, Chris John Sampai Agnes Monica

Dua minggu yang lalu, Qien Mattane Lao, anakku yang biasa kupanggil si Matahari Kecil mengikuti lomba mewarnai dan lomba menghias donat yang diadakan di Carrefour yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahku.

Aku dan istriku sering mengikutkan Matahari Kecil lomba-lomba seperti ini supaya dia terbiasa merasakan karyanya diapresiasi orang lain. Kami tidak pernah mengajarkan si Matahari Kecil untuk mengutamakan hasil dari semua kegiatan yang dia lakukan, tapi yang selalu kami ajarkan dan juga yang diajarkan di Montessori sekolahnya adalah bagaimana menikmati setiap proses dari kegiatan apapun yang dia lakukan. Dan itulah yang terjadi pada perlombaan itu, si Matahari Kecil benar-benar menikmati setiap detail kegiatannya dan selalu tersenyum dengan menunjukkan wajah gembira, aku dan istriku tidak pernah dia izinkan untuk membantunya sedikitpun.

Tapi tidak semua orangtua dari anak-anak yang mengikuti lomba tersebut yang berpikiran sama dengan kami berdua. Contohnya seorang anak keturunan Tionghoa yang pada saat lomba mewarnai posisinya ada di kanan si Matahari Kecil. Anak bermata sipit ini terus diteriaki dan kadang dibentak oleh ibunya yang juga bermata sipit yang tidak pernah beranjak dari sampingnya sepanjang lomba. Bagi ibu anak ini sepertinya 'hasil' yang dalam lomba ini berarti kemenangan adalah segala-galanya. Kekalahan akibat kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh si anak tampaknya tidak bisa ditolerir oleh ibu si anak ini. Beberapa kali ketika panitia lengah si ibu ini diam-diam membantu anaknya untuk mengerjakan pekerjaan yang dalam aturannya hanya boleh dilakukan oleh si anak tanpa dibantu orang tua.

Saat lomba selesai, semua peserta menyerahkan hasil pekerjaannya kepada panitia untuk dinilai.

Ketika pemenang diumumkan, aku, istriku dan si Matahari Kecil sama sekali tidak ambil peduli dia menang atau tidak. Kami bertiga bertepuk tangan setiap kali nama pemenang disebutkan oleh pembawa acara. Sebaliknya dengan ibu dari si anak yang tadi membantu anaknya untuk melakukan pekerjaannya. Si Ibu ini menunggu setiap nama pemenang yang disebutkan oleh pembawa acara dengan wajah tegang. Dan ketika di antara nama-nama yang disebutkan itu dia tidak mendapati nama anaknya, di depan semua orang si ibu ini marah besar pada anaknya. Si anak sendiri dengan wajah tertunduk sekalipun tidak berani membantah kata-kata si ibu. "Nanti di lomba menghias donat, ibu nggak mau tahu pokoknya kamu harus menang", kata si Ibu kemudian mengancam ketika lomba menghias donat yang juga diikuti anaknya akan segera dimulai.

Sama seperti lomba pertama, kali inipun si Matahari Kecil menikmati setiap detail kegiatannya, selalu tersenyum dan selalu menunjukkan wajah gembira. Dan anak yang disampingnya tadi, juga sama seperti saat lomba mewarnai, terus diteriaki oleh ibunya. Saat lomba menghias donat, anak tersebut posisinya jauh dari si Matahari kecil, tapi sesekali aku memperhatikannya dan kulihat seperti tadi, kali inipun ibunya sesekali membantu mengarahkan menunjukkan warna apa yang harus diberikan ke atas donat yang sedang dihias oleh anaknya.

Saat hasil lomba menghias donat diumumkan, tidak seperti lomba pertama, kali ini anak tersebut dinobatkan sebagai juara pertama. Aku melihat ada rona kelegaan di wajah si anak dan ada rona perasaan puas yang luar biasa di wajah ibunya.

Setiap keluarga Tionghoa, baik yang kukenal secara langsung, yang kudengar dari cerita orang maupun yang kubaca di buku atau yang kusaksikan di film-film, dalam mendidik anaknya kurang lebih semuanya memang bersikap seperti Ibu si anak yang mengikuti lomba mewarnai dan menghias donat di Carrefour ini. Mereka selalu memacu anaknya dengan keras untuk menjadi nomer satu di setiap aktivitas yang mereka ikuti, mereka tidak suka melihat anak mereka kalah, mereka selalu ingin anak mereka jadi pemenang apapun caranya.

Tentang hal ini digambarkan dengan sempurna dalam film karya Doug Atchinson yang berjudul "Akeelah and The Bee". Sebuah film yang menceritakan tentang lomba mengeja untuk anak-anak yang sangat populer beberapa tahun belakangan ini di Amerika.

Dalam film itu digambarkan bagaimana pertarungan untuk menjadi juara "Spelling Bee" se-Amerika antara seorang anak perempuan kulit hitam dan seorang anak laki-laki keturunan cina. Dalam salah satu adegan film tersebut digambarkan bagaimana bapak dari si anak cina tersebut memaksa anaknya yang telah dua kali secara berturut-turut menjadi juara nasional "Spelling Bee" untuk mempelajari ejaan berbagai kata-kata yang tidak umum. Si Bapak ini mengajari anaknya dengan keras diiringi bentakan bahkan kadang sambitan. Aku teringat pada adegan ini ketika menyaksikan ibu dari anak cina yang mengikuti lomba mewarnai di Carrefour tadi memarahi anaknya yang dianggapnya salah dalam melakukan pekerjaannya.

Apa yang ditunjukkan oleh si Ibu di Carrefour dan si bapak dalam film "Akeelah and The Bee" adalah gambaran umum dari sikap para orang tua Huaqiao alias etnis cina perantauan dalam membentuk anak mereka. Bentukan seperti ini kemudian tercermin dari sikap para Huaqiao setelah mereka dewasa. Mereka selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik di setiap aktivitas apapun yang mereka ikuti. Beberapa dari mereka mencapainya dengan cara yang tidak jujur seperti yang ditunjukkan oleh si Ibu di Carrefour tersebut, tapi tidak sedikit yang mendapatkannya melalui usaha keras yang jauh melebihi usaha yang dilakukan oleh orang-orang non Cina.

Ketika aku masih SD, waktu naik ke kelas IV, mengikuti orangtuaku yang pindah ke Takengen, aku juga pindah sekolah dari SD Inpres Karang Jadi yang terletak di sebuah desa kecil di kaki Burni Telong di kecamatan Timang Gajah, ke SD negeri No. 1 Takengon.

Jika di sekolah lamaku, teman-temanku hanya ada satu orang etnis Aceh dan sisanya etnis Gayo dan etnis Jawa, di sekolah baruku ini aku mendapati selain dari etnis-etnis tersebut, ada teman baruku yang beretnis Minang dan juga banyak yang beretnis Cina. Dari 40 orang anak di kelas baruku itu ada 7 anak etnis Cina.

Meskipun ketujuh anak beretnis Cina di kelasku tersebut tidak pernah menjadi murid terbaik peraih rangking I sampai III, tapi aku bisa menyaksikan betapa keras usaha mereka untuk menjadi yang terbaik di kelas kami. Mereka gagal menjadi yang terbaik di kelas kami semata hanya karena faktor sial saja, karena entah apa penyebabnya, di angkatanku dulu, banyak sekali anak Gayo dan pribumi-pribumi lainnya yang dianugerahi oleh Tuhan kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga khusus di angkatanku anak-anak Gayo inilah yang menjadi pemegang Rangking dari I sampai III di kelas, meskipun aku tahu persis usahaku dan teman-temanku anak-anak Gayo dalam belajar tidak pernah sekeras usaha teman-temanku beretnis Cina. Tapi setahun di atas kami, yang menjadi juara kelas tidak pernah lepas dari seorang anak etnis Cina bernama Julius.

Tapi, karena sejak kecil mereka memang sudah terbiasa berusaha dengan keras, sekarang, ketika kami semua sudah dewasa. Ke-7 teman-teman sekelasku yang beretnis Cina itu secara umum jauh lebih sukses dari kami, termasuk anak-anak pemegang rangking di saat kami masih SD dulu. Salah seorang teman sekelasku yang beretnis Cina di SD negeri No. 1 Takengon itu kabarnya sekarang ada yang menjadi seorang arsitek dengan reputasi Internasional.

Saat SMP, aku selalu menghadiri pengajian yang diselenggarakan di Mesjid Raya Ruhama. Pengajian tersebut diselenggarakan setiap habis Shalat maghrib sebelum Isya. Pengajian ini diasuh oleh seorang ulama aliran pembaharuan yang di Gayo dikenal sebagai 'Kaum Mude', bernama Tgk Abdul Jalil Bahagia atau lebih dikenal dengan nama Tengku Murni, yang diambil dari nama anak pertama beliau. Beliau ini merupakan penerus Tengku Abdul Jalil, tokoh ulama Gayo yang memperkenalkan aliran Islam pembaharuan (kaum mude) di Tanoh Gayo.

Salah seorang jamaah tetap pengajian ini adalah seorang muallaf etnis Tionghoa yang biasa kupanggil Bang Apuk. Bang Apuk ini adalah pemilik sebuah warung kopi di terminal labi-labi Takengen. Di sela-sela saat jeda pengajian, kami biasa mongobrol sambil minum kopi dan makanan penganan yang disumbangkan oleh jamaah (Bang Apuk sendiri adalah penyumbang tetap), waktu mengobrol seperti itu, Bang Apuk pernah menceritakan kepadaku alasan kenapa dia masuk islam.

Menurut Bang Apuk, salah satu alasan kenapa dia memilih masuk Islam adalah karena dia tidak kuat hidup sebagai Cina. Kata Bang Apuk, dalam masyarakat Tionghoa, hanya orang sukses yang dihargai. Almarhum Bapak Bang Apuk adalah salah seorang dari beberapa orang etnis Cina warga Takengen yang dikenal sebagai Cina Miskin. Oleh masyarakat etnis Cina di Takengen, orang-orang seperti orang tua Bang Apuk dianggap sebagai pembawa sial dalam komunitas mereka di kota kecil ini. Saat Bapak Bang Apuk meninggal dunia, menurut Bang Apuk bahkan mayatnyapun tidak boleh disentuh oleh orang Cina lainnya, karena dianggap akan menularkan kesialannya pada siapa saja yang menyentuhnya.

Kalau kita melihat dari kacamata moralitas yang kita anut berdasarkan tata nilai dalam adat dan kebiasaan kita, mungkin kita menyebut apa yang dilakukan oleh komunitas Cina di Takengen itu kejam. Tapi mari kita mencoba memahami situasi yang mereka hadapi di negara ini yang segala kebijakannya penuh tekanan terhadap etnis mereka. Di negara ini mereka tidak boleh memiliki tanah untuk dijadikan lahan pertanian, mereka tidak boleh menjadi pegawai negeri, mereka tidak boleh menjadi tentara dan polisi, bahkan bagi mereka untuk mendapatkan surat kewarganegaraan Indonesiapun begitu sulitnya dan ditambah berbagai tidak boleh lainnya, sudah begitu merekapun masih juga kita cemburui bahkan kita musuhi karena berbagai kesuksesan yang mereka raih.

Melihat dengan kacamata seperti itu, kita bisa memahami kalau apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah mekanisme pertahanan diri orang etnis Cina untuk bisa bertahan hidup dalam situasi faktual yang mereka hadapi di negara ini, apa yang mereka hadapi di sini mirip seperti situasi faktual yang dihadapi oleh kaum yahudi di masa lalu, di negara-negara tempat mereka tinggal.

Hasil nyata dari mekanisme pertahanan diri semacam ini terhadap orang etnis Cina bisa kita saksikan dan kita nilai dengan jelas. Kalau kita mau menilai dengan jujur, kita harus mengakui kalau dari semua etnis yang menghuni negara ini, secara kolektif bisa dikatakan etnis cina adalah yang paling unggul, baik secara ekonomi, pendidikan, olah raga, profesionalitas, dan lain-lain.

Ekonomi misalnya, di semua kota besar di Indonesia ini. Pertokoan di lokasi-lokasi strategis hampir semuanya dimiliki oleh Huaqiao. Di kota manapun yang aku kunjungi, wiraswastawan pribumi selalu menjadi kelas pariah yang jangankan mengalahkan, bersaing dengan etnis Cinapun mereka terkaing-kaing. Di Banyak kota di negara ini aku menyaksikan bagaimana becak-becak dayung milik kaum pribumi berjejeran di depan pertokoan milik etnis Cina di sela-sela lapak dagangan pribumi lain yang menumpang berjualan sayur di kaki lima pertokoan milik etnis Cina tersebut.

Bahkan ketika berjualan pisang goreng dan es krim ding dong pun, pisang goreng dan es krim ding dong buatan orang Cina kualitasnya lebih baik daripada buatan pribumi, sehingga dagangan mereka jauh lebih banyak pembelinya daripada dagangan yang sama milik pribumi.

Dari yang aku amati di kota-kota besar di Indonesia yang sudah pernah aku datangi, aku menemukan hanya ada tiga kota, yaitu Banda Aceh, Padang dan Denpasar yang pribuminya bisa mengimbangi etnis Cina, bersaing dalam segi ekonomi.

Prestasi di sekolah, kita bisa saksikan utusan Indonesia dalam berbagai olimpiade keilmuan, rata-rata anak etnis Cina, kita saksikan pula di sekolah-sekolah terbaik di negara ini, murid etnis apa yang menjadi mayoritas di sekolah-sekolah tersebut, jawabnya jelas CINA.

Olah raga, di setiap cabang olah raga yang ditekuni para Huaqiao di negara ini, kita bisa melihat atlet beretnis Cina terlihat jauh lebih menonjol dibandingkan pribumi, padahal jumlah mereka hanya kurang dari 5% dari penduduk negara ini. Lihat cabang Bulu Tangkis, kita tentu familiar dengan nama-nama para Huaqiao, mulai dari Rudi hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Susi Susanti, Alan Budi Kusuma dan lain-lain. Diantara mereka menyelip nama-nama atlet Pribumi seperti Icuk Sugiarto dan Taufik Hidayat. Tapi mayoritas atlet Bulu Tangkis ternama berkelas dunia dari negeri ini adalah Huaqiao. Demikian juga di cabang tenis bahkan ketika Huaqiao menggeluti Tinju, kita mengenal Chris John sebagai juara dunia sekaligus petinju terbesar yang pernah dipunyai negara ini. Sayang para Huaqiao kurang tertarik menggeluti sepak bola, sehingga jadilah pemain sepak bola di negara ini berkelas di bawah rata-rata.

Dalam hal musik juga demikian, jika kita amati pemusik yang menggeluti musik klasik, anak-anak yang belajar biola dan piano maka kita akan menemukan fenomena yang sama, kebanyakan dari mereka adalah etnis Cina.

Di tataran Pop, mungkin pribumi lebih banyak berperan. Tapi di bidang musik pop inipun saksikanlah seorang penyanyi perempuan etnis Cina bernama Agnes Monica, lihat bagaimana serius dan kerasnya artis muda ini menempa dirinya untuk menjadi seorang artis yang profesional. Aku tidak pernah melihat ada artis lain di negara ini yang menempa dirinya sekeras dan seserius Agnes (bandingkan dengan artis seangkatannya, Dhea Ananda atau Eno Lerian, atau kalau mau lebih ektrim bandingkan dengan Sarah Azhari atau Julia Perez misalnya).

Selain karena wajahnya yang memang asli sangat cantik, sepertinya karakter dan profesionalitasnya yang membuatnya memancarkan aura kebintangan secara alami inilah yang membuat aku mengidolai Agnes Monica sejak dia masih menjadi penyanyi cilik dan menjadi host acara Tralala-Trilili dulu sampai dia dewasa seperti sekarang.

Dengan karakter yang dibentuk dan terbentuk seperti itu, tidak heran kalau Huaqiao, etnis cina yang minoritas ini bisa menguasai hampir 90% ekonomi negara berpenduduk hampir seperempat milyar yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

2 komentar:

n-Ry mengatakan...

bahasan yg bagus n menarik.
saya org cina keturunan.
ga semua cina dididik sekeras itu,spt saya.tp rata2,kita emang punya motivasi keras utk hidup lbh baik.
saya sdr punya cita2 yg tinggi n gila spt idola saya agnes monica...hehe...

mandarin bridge mengatakan...

hmmm sumbang komen

biasanya yg di didik sekeras itu adalah chinese kalangan totok atau yang bener2 asli..klo yang sudah peranakan setau saya sudah lebih demokratis..
saya dibersarkan dengan didikan militer keras, dari makan, belajar, peroleh ranking dll...tapi kelak klo punya anak, akan berusaha lebih demokratis ke anak-anak