Selasa, 04 Agustus 2009

Roman Picisan Bag II...Penataran P4 dan Sikat 92

Lulus di Fakultas Teknik tidak banyak mengubah cara pandangku terhadap diriku sendiri, dalam memandang kualitas diriku, aku masih saja sama seperti sebelumnya. Tapi pada semester pertama kuliah, aku mulai secara serius menyukai seorang perempuan teman seangkatanku di Teknik Sipil.


Aku mengenal teman ini sudah cukup lama, pada waktu aku masih SMA. Waktu itu saat akan naik ke kelas dua, kelas kami, kelas I. 1 mengadakan acara pesta perpisahan di rumah seorang temanku bernama
Irwansyah di daerah Lam Dingin. Saat itu Mimi, seorang cewek teman sekelasku yang tinggal di Ajun mengajak tetangganya yang juga cewek yang seumuran dengan kami tapi bersekolah di SMA negeri 1, SMA yang statusnya lebih favorit dibanding SMA kami tapi masih kurang favorit dibandingkan SMA Negeri 3.

Waktu itu kami masih sekumpulan cowok ABG norak. Mendapati seorang perempuan seumuran yang secara fisik tampak menarik, tanpa ampun si cewek inipun langsung menjadi sasaran kerubutan cowok-cowok sekelasku, termasuk aku (kalau rame-rame aku berani). Tapi ceritanya saat itu hanya berakhir sampai di situ tanpa ada kelanjutan. Ceritanya baru berlanjut ketika aku bertemu kembali dengan cewek yang kami kerubuti di perpisahan kelas satu dulu dalam ruangan yang sama dan maksud yang sama pula, untuk penataran P4. Karena ternyata dia juga diterima di jurusan yang sama denganku.

Waktu pertama ketemu di ruang penataran P4, aku merasa mendapat sebuah kejutan yang menyenangkan melihat dia ada di sana. Saat itu aku sudah lupa namanya tapi masih ingat persis wajahnya. Aku lupa namanya karena memang aku cuma pernah bertemu dia sekali, dua tahun sebelumnya. Setelah itu aku sama sekali tidak pernah tahu lagi keberadaannya. Apalagi Mimi tetangganya yang teman sekelasku waktu kelas satu, saat naik kelas dua sudah tidak sekelas lagi denganku dan kamipun jadi sangat jarang berkomunikasi, paling hanya saling sapa saat bertemu. Tapi ingatan kalau dia adalah tetangga teman sekelasku di kelas satu dulu, cukup untuk kujadikan sebagai alasan untuk membuka percakapan.

Seperti kesanku saat pertama kali mengenalnya dulu, seakarangpun aku melihat dia tetap menarik, tapi bedanya meskipun menarik, saat itu dia bukanlah perempuan yang paling menarik perhatianku diantara teman-teman seangkatanku waktu itu. Saat itu perempuan yang paling menarik perhatianku adalah anak Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama dengan nama panggilanku.
Penataran P4 yang kami ikuti diselenggarakan dalam ruangan Aula Lama Fakultas Teknik Unsyiah yang dalam tulisanku beberapa waktu yang lalu pernah kusebut kondisinya lebih mirip ruangan besar untuk pemerahan susu di dalam lokasi peternakan sapi perah daripada ruang kuliah.

Dalam ruangan besar itu ditempatkan bangku-bangku dan meja kuliah yang dibagi dalam tiga kelompok yang tiap kelompoknya diisi oleh peserta penataran yang berasal dari tiap jurusan di Fakultas Teknik. Saat itu ada tiga jurusan di Fakultas Teknik Unsyiah, Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Kimia.
Dalam pembagian tempat duduk dalam ruang penataran itu, mahasiswa Teknik Sipil ditempatkan di bagian kiri ruangan, Teknik Kimia di tengah dan Teknik Mesin di sisi kanan. Karena mahasiswa Teknik Sipil jumlahnya paling banyak dibanding dua jurusan lainnya, bangku di bagian Teknik Sipil tidak mampu menampung semuanya, sehingga ada beberapa anak Teknik Sipil yang terpaksa diselipkan di dalam kelompok Teknik Kimia atau Teknik Mesin.

Pembagian kelompok tempat duduk seperti itu membuat kami anak Teknik Sipil banyak berinteraksi dengan anak Teknik Kimia dan agak kurang berinteraksi dengan anak Teknik Mesin yang di angkatan kami seluruhnya laki-laki.

Satu deretan bangku di tiap kelompok itu berisi lima orang, aku duduk di bagian tengah deretan. Dari lima orang dalam deretan bangkuku 4 orang di antaranya (termasuk aku) adalah anak-anak lulusan SMA 2. Sepasang anak Bio 5 yang kukenal saat kami sama-sama mengelola ‘Gemasmadua’ majalah sekolah kami. Kedua anak Bio 5 ini sudah berpacaran sejak kami kelas satu yang entah kebetulan atau sama-sama mengikuti UMPTN dengan ‘gacok’ (sebutan untuk Joki di Aceh) atau memang benar-benar kebetulan keduanya lulus di Teknik Sipil sampai hari ini aku tidak pernah tahu dengan jelas. Yang jelas saat itu keduanya diterima di Fakultas dan Jurusan yang sama. Seorang lagi namanya Syahrial juara kelas kami di 3 Fisik 2 yang saat di kelas tiga namanya kami ‘Inggris-kan’ menjadi ‘Syeh’. Satu-satunya yang bukan lulusan SMA 2 di deretan bangku kami adalah seorang perempuan yang biasa dipanggil Dina, lulusan sebuah SMA swasta di Bandung. Di Bandung dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Nike Ardilla penyanyi papan atas waktu itu. Kupikir Dina memilih duduk di deretan bangku yang sama dengan kami karena kemungkinan dia adalah teman dari dua anak bio 5 temanku itu, kemungkinan mereka kenal saat SMP ketika Dina masih bersekolah di Banda Aceh.

Dina yang berkulit putih dan memiliki bahasa tubuh dan gaya bicara yang ‘sophisticated’ ini bisa jadi adalah perempuan yang paling menarik perhatian di angkatan kami. Aku tahu, banyak laki-laki dari ketiga jurusan di angkatanku yang diam-diam menyukai Dina dan berusaha menarik perhatiannya. Tapi dari semua ‘pengagumnya’ itu kebanyakan sudah minder duluan dengan penampilan dan latar belakang Dina, apalagi kemudian kami mengetahui bahwa orang tua Dina adalah pemilik salah satu Supermarket terbesar di Banda Aceh waktu itu.

Dari semua pengagumnya, ada satu orang yang terlihat paling mencolok ingin menarik perhatian Dina. Seorang cowok lulusan SMA 3 yang berkacamata, berpenampilan perlente dan gaya berbicara yang berwibawa dan terlihat dewasa. Selama penataran, dia duduk tepat di belakang kami. Teman kami yang memiliki nama depan ‘ Teuku’ yang merupakan gelar kebangsawanan di Aceh ini, datang ke kampus dengan mengendarai ‘kereta’ GL-Pro dan menghisap rokok Dji Sam Soe , merk rokok paling prestisius saat itu. Dari gayanya berbicara serta pakaian yang dia pakai, teman kami ini tampaknya setara dengan Dina, baik pengalaman, strata sosial maupun status ekonomi. Dari ceritanya aku tahu kalau Medan dan Jakarta yang merupakan tempat liburan elit bagi sebagian besar kami anak Aceh, bukanlah tempat asing baginya. Dia biasa berlibur ke sana.

Aku sendiri tidak termasuk dalam kelompok BPD (Barisan Pengagum Dina) karena seperti kukatakan sebelumnya, sejak awal penataran aku sudah sangat tertarik pada perempuan dari Jurusan Teknik Kimia yang memiliki nama panggilan yang sama denganku.

Saat itu aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukai temanku yang anak Teknik Kimia ini, tapi sekarang setelah kupikir-pikir dan kubandingkan dengan semua perempuan yang pernah aku suka. Sepertinya saat itu aku menyukai dia karena aku melihat sikap dan penampilan dan caranya berbicara yang bersahaja apa adanya, dan tentu saja yang paling membuatnya tampak begitu menarik dalam pandanganku adalah wajahnya yang terbilang lumayan yang dibiarkan tanpa make-up berlebihan tapi sama sekali tidak murahan dan kampungan. Sampai hari ini aku masih bisa membayangkan dengan jelas rambutnya yang tergerai sebahu dan diikat hanya pada bagian poni-nya, jejeran giginya yang kecil-kecil yang salah satunya melesak ke dalam yang kulihat saat dia tersenyum dan sampai saat ini juga aku masih bisa membayangkan dengan jelas suaranya yang agak sengau ketika dia bicara.

Sepanjang penataran, kami diwajibkan memakai seragam putih hitam dan memakai badge nama. Sementara itu kegiatan penataran P4 itu sendiri yang diselenggarakan setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 7 sore adalah sebuah kegiatan yang luar biasa membosankan. Sehingga untuk membuang suntuk kami para peserta terpaksa harus kreatif mencari kegiatan yang bis amembunuh kebosanan.

Sebagian peserta menjadikan badge nama yang kosong di bagian belakang menjadi sasaran kreatifitas peserta penataran, ditulisi nama-nama yang dianggap keren, misalnya seorang temanku di Teknik Sipil yang sekarang sudah almarhum menulis nama Escobar di belakang badge namanya, nama itu kemudian melekat menjadi nama panggilannya sampai akhir hayat. Anak-anak Teknik Mesin juga unjuk kreatifitas di bagian kosong badge nama tersebut, tapi mungkin karena seluruhnya laki-laki, kreatifitas anak Teknik Mesin terlihat aneh. Misalnya sekelompok anak teknik mesin yang duduk di bagian belakang, menulisi bagian kosong badge-nya dengan nama keluarga kelelawar, ada Batman, Kelelawar, Kalong, Kampret dan sejenisnya.

Sementara untuk aku sendiri, aku tidak perlu pusing-pusing mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan karena saat mengikuti penataran, Dina yang lulusan SMA swasta di Bandung itu setiap hari membawa buku bacaan yang cukup langka bagi kami di Banda Aceh. Novel-novel karya pengarang Sidney Seldon dan komik manga Kungfu Boy. Lalu dengan begitu baik hatinya Dina meminjamkan buku-buku itu kepada kami.

Yang paling diuntungkan dengan itu tentu saja kami yang duduk satu deretan dengan Dina, dua temanku anak Bio 5 dan aku sendiri. Sementara peminat lain harus rela antri menunggu giliran setelah kami selesai membaca. Hampir sepanjang waktu penataran kami bertiga dan berempat dengan Dina menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku itu, aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan dosen yang berbicara dengan mulut berbuih-buih di depan ruangan. Syeh yang sejak masih SMA aku tahu sangat serius belajar tidak ikut-ikutan. Di deretan bangku kami hanya dia sendirilah yang serius mengikuti penataran dan menjadi andalan kami setiap kali ada quiz atau ujian.

Buku milik Dina dengan cepat beredar di kalangan terbatas di antara para peserta penataran yang duduk di dekat kami. Salah seorang yang juga menikmati keuntungan dari posisi duduk dekat Dina dan ikut mendapat manfaat dari informasi penting yang ada dalam buku-buku yang dibawa Dina. Salah satu peserta penataran yang mengambil manfaat itu adalah anak Teknik Kimia yang menarik perhatianku.

Hal ini membuat kami jadi lebih sering berinteraksi. Kami berdua bergiliran membaca komik Kung Fu Boy yang terbagi dalam beberapa seri yang sambung menyambung dan tiap seri tersebar di beberapa teman yang duduk di sekeliling kami. Anak Teknik Kimia yang kusuka itu membaca seri yang berurutan denganku, kadang dia sudah menyelesaikan seri yang dia baca tapi aku belum selesai. Saat seperti itulah kami sering berkomunikasi dan komunikasi itu menjadi lebih intens saat jeda waktu penataran. Yang kami diskusikan biasanya adalah jurus-jurus baru yang ditemukan Chinmi di sepanjang pengembaraan yang dia lakukan.

Perempuan yang kusuka ini seperti kebanyakan teman-teman seangkatanku adalah lulusan SMA Negeri 3 Banda Aceh, sekolah favorit di kota kami. Dia juga teman baik dari cowok yang menyukai Dina yang duduk di belakang kami. Temanku yang menyukai Dina ini sama sekali tidak tahu kalau aku menyukai temannya yang anak Teknik Kimia itu sering menceritakan keakrabannya dengan anak Teknik Kimia yang aku suka. Cerita dari temanku yang ‘high class’ dan bergelar ‘Teuku’ yang tinggal di Lamprit ini cukup membuatku nyaliku ciut, ceritanya membuat aku berpikir kalau anak Teknik Kimia yang aku suka ini tentu berada di strata sosial yang sama dengannya.
***

Selesai penataran, seperti biasa anak baru jadi jatah para senior untuk ‘dibina’. Ada berbagai nama untuk menyebut kegiatan itu, ada yang menyebutnya OSPEK, MAPRAS dan lain sebagainya. Di Teknik kami menyebutnya SIKAT yang merupakan singkatan dari ‘SIlaturahmi Keakraban Aneuk Teknik’. Untuk angkatan kami yang menjadi panitianya adalah anak angkatan 88. Yang diketuai oleh Bang Wawan dari jurusan arsitektur. Khusus angkatan 88 memang ada jurusan asrsitektur yang dulunya diseleksi dari mahasiswa yang lulus di teknik Sipil yang jumlahnya kalau tidak salah ada 18 orang, kabarnya mereka dipersiapkan untuk menjadi Dosen di jurusan Teknik Arsitektur yang akan dibuka di Unsyiah.

Ketika mengikuti SIKAT, kami semua diberi perlengkapan berupa ikat kepala kain berwarna oranye bertuliskan SIKAT 92. Kami juga mendapat hadiah nama baru bikinan para senior sebagai ungkapan ‘rasa sayang’ mereka kepada kami. Beberapa nama pemberian senior itu melekat menjadi nama panggilan yang bersangkutan selama kuliah, salah satu nama pemberian senior yang melekat menjadi nama panggilan adalah ‘Abua’. Nama yang diberikan oleh senior kami kepada salah seorang anak Teknik Sipil lulusan SMA negeri 3. Seorang lagi cewek anak Teknik Kimia yang diberi nama ‘Leler’, sampai hari ini hanya nama itu yang kuingat tiap kali membayangkan wajah temanku yang tidak bisa dibilang jelek itu, aku sama sekali tidak ingat lagi nama aslinya.

Hari pertama SIKAT 92 di selenggarakan dalam gedung Aula Lama tempat kami melaksanakan penataran, saat acara tersebut berlangsung seluruh kursi dan meja dalam tuangan dikosongkan. Kami para peserta dibagi ke dalam beberapa regu dengan masing-masing regu berisi 10 orang dengan anggota yang dicampur dari semua jurusan, aku sendiri memimpin salah satu regu itu. Seluruh kelompok dipimpin oleh seorang komandan batalyon bernama ‘Wan Teleng’ (nama aslinya aku tidak pernah tahu), anak Teknik Mesin yang sampai hari ini masih aku ragukan kesehatan syaraf-sarafnya (sori Wan he he he).

Sepanjang acara itu para senior mendoktrin kami kalau di Unsyiah Teknik adalah Raja. Kakak-kakak senior cewek juga tidak kalah garangnya, salah satu yang paling garang namanya kak Wina dari Teknik Kimia angkatan 87. Kak Wina ini mendoktrin para mahasiswi Teknik supaya tidak cengeng . “Kalau cengeng, jangan masuk Teknik, Pindah sana ke PDPK” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Kak Wina. (PDPK adalah Pendidikan D3 Kesekretariatan di bawah naungan Fakultas Ekonomi)

Hari kedua SIKAT, semua rencana para senior itu terhadap kami berantakan karena untuk tahun 1992 pihak rektorat melarang segala kegiatan yang berbau perloncoan . Pada hari kedua saat kami semua sudah berkumpul di kampus, Fakultas Teknik didatangi pihak rektorat karena mereka mendapat informasi bahwa di teknik ada acara perploncoan. Acara SIKAT pun mau tidak mau terpaksa dibubarkan.
Mendapati situasi seperti itu para senior kami tidak kehilangan akal, kami mahasiswa baru yang masih lugu dan polos didoktrin dengan variasi sedikit ancaman supaya mau melanjutkan SIKAT di tempat lain. Sempat terjadi sedikit perdebatan di antara kami, tapi akhirnya sebagian besar dari kami memutuskan untuk tetap melanjutkan SIKAT di luar kampus, di tempat yang ditentukan senior.

Acara sikat dilanjutkan di Ujong Batee, di sebuah pantai yang letaknya 30 Kilometer di luar Kota Banda Aceh. Untuk menuju ke sana kami semua diangkut dengan Truk yang entah darimana didapat para senior itu.

Di sana kami semua ‘dikerjai’ tapi tidak berlebihan seperti yang dilakukan para senior STPDN yang sering ditampilkan di TV. ‘Leler’ anak Teknik Kimia yang tidak kuingat lagi nama aslinya bersama May cewek Teknik Sipil asal Riau yang oleh senior diberi nama baru ‘Per Obat Nyamuk’ tampak paling menderita. Mereka berdua ketiban sial mendapat ‘pengasuh’ bernama Bang Fadhil, anak Teknik Mesin angkatan 86 yang juga anggota Leuser, yang tidak pernah kekurangan ide untuk mengerjai mereka. “Nangis ko Leler”…”air matako itu Leler”, adalah dua kalimat Bang Fadhil yang paling kuingat.

Kejadian seru lain adalah ketika Dina dan Cewek anak bio 5 temanku yang keduanya mengaku sakit disuruh mengangkat tas anyaman pandannya berjalan mengelilingi kami sambil mengatakan “saya penyakitan…saya penyakitan”. Kemudian mata mereka berdua ditutup dan disuruh meraba wajah temannya dan menebak itu wajah siapa. Kami semua tidak dapat menahan tawa ketika Dina meraba wajah yang dia kira teman cewek, tapi sebenarnya posisi teman kami itu telah digantikan oleh bang Joel Jazz anak mesin 86, anak teknik paling konyol dan paling gila yang pernah aku kenal sepanjang aku kuliah di teknik.

Menjelang sore, kami dikumpulkan dan panitia dan para mentor meminta maaf. Beberapa orang dari kami dipilih untuk melakukan pembalasan, lalu setelah semua kembali normal kami semua diguyur air satu persatu oleh para senior, sebagai tanda bahwa kami telah resmi diterima sebagai warga teknik.

Acara sikat diakhiri dengan salam-salaman dan bertangis-tangisan yang belakangan aku tahu ternyata memang telah sengaja diskenariokan oleh para senior.

Setelah itu semua menjadi tidak terkendali, senior memburu junior, junior memburu senior untuk diceburkan ke laut.

Bersambung ke Bag III…Peusijuek Wisudawan.

Notes : Dalam bagian ini banyak nama sengaja tidak kusebut karena mungkin cerita ini bisa merusak keharmonisan status pribadi dan profesi yang bersangkutan saat ini. Tapi nama-nama itu akan tertulis dengan jelas di lanjutan cerita ini kalau yang bersangkutan memberi izin.

Tidak ada komentar: